Chapter Four
Kontainer
— Haikal —
Pasal dua belas selesai dalam empat puluh menit.
Jam enam pagi aku menelepon kantor perwakilan perusahaan charter di Guangzhou. Yang mengangkat seorang manajer bernama Tuan Lin, yang menurut Elena sudah “final” dan “nggak bisa diajak ngomong”. Kami bicara dalam bahasa Mandarin. Aku tidak mengancam dan tidak membujuk. Aku hanya membacakan data cuaca Laut Cina Selatan sepuluh tahun terakhir: berapa kali topan memaksa kapal berlindung, berapa hari keterlambatannya, dan berapa kerugian yang ditanggung pemilik kapal yang klausul force majeure-nya sempit. Lalu aku bertanya apakah Tuan Lin ingin bekerja sama dengan perusahaan yang akan bangkrut di topan berikutnya, atau dengan perusahaan yang akan tetap ada untuk mengangkut barangnya sepuluh tahun lagi.
Tuan Lin diam lama. Lalu dia tertawa dan bilang aku orang yang sangat menyebalkan. Lalu dia setuju.
Aku mengirim kontrak yang sudah direvisi ke surel Elena jam tujuh kurang lima. Balasannya datang dua menit kemudian, satu kata saja:
Elena: Gimana???
Aku: Saya bacakan data cuaca.
Elena: Itu doang?
Aku: Sama saya bilang perusahaannya bisa bangkrut.
Elena: Pak Hal. Anda ngancam klien kita.
Aku: Saya menginformasikan, Bu.
Tiga titik muncul dan hilang beberapa kali di layar, seperti orang yang mengetik lalu menghapus lalu mengetik lagi. Akhirnya:
Elena: Oke. Saya akui. Itu keren.
Aku memasukkan ponsel ke saku dan naik ke kapal.
MV Margaret berangkat dari dermaga Jamrud jam sembilan pagi dengan muatan tiga ratus dua belas kontainer: tekstil, kopi, ban mobil, dan suku cadang mesin. Ini pelayaran terakhirnya sebelum masuk dry dock di Batam bulan depan. Mr Jake bersikeras ikut.
“For the sea air,” katanya di tangga kapal, sambil membawa termos teh, topi pet wol yang terlalu panas untuk cuaca Surabaya, dan sebuah radio kecil bertenaga baterai. “Dokter bilang udara laut bagus untuk pinggang.”
“Dokter yang mana, Pak?”
“Dokter Google.”
Kapten Lukas Simanjuntak menyambut kami di anjungan. Lima puluh tahun, berbadan besar, berkumis lebat, dengan suara yang bisa didengar dari ujung haluan sampai buritan tanpa pengeras suara. Dia sudah berlayar sejak umur delapan belas, sudah melintasi Samudra Hindia, Laut Arab, dan Selat Malaka ratusan kali, dan pernah, menurut cerita yang ia sendiri ulang setiap kali mabuk tuak, bertarung dengan bajak laut Somalia hanya dengan kunci inggris.
“Pak Hal! Mr Jake!” serunya sambil menjabat tangan kami dengan cengkeraman yang hampir meremukkan tulang. “Cuaca cerah! Ombak tenang! Ini bakal jadi pelayaran paling mulus sedunia!”
Dua jam kemudian, saat MV Margaret keluar dari alur pelayaran Selat Madura dan mulai disambut ombak Laut Jawa yang memang tenang, Kapten Lukas muntah di ember kuning di sudut anjungan.
“INI BUKAN MABUK LAUT!” teriaknya di sela-sela muntahan. “Tiga puluh tahun aku berlayar, Pak Hal! Tiga puluh tahun! Aku nggak pernah mabuk laut! Ini, ini gara-gara sarapan! Bininya Ucup kasih aku nasi bungkus! Pasti basi itu!”
Mualim satu, Rizal, yang sedang memegang kemudi, berbisik kepadaku tanpa menoleh. “Tiap kali naik Margaret begini terus, Pak. Kapal lain nggak. Cuma Margaret. Kapten bilang kapal ini goyangnya beda.”
“Beda gimana?”
“Katanya kayak dielus mantan.”
Di sudut anjungan, Kapten Lukas mengangkat wajahnya yang pucat kehijauan dari ember dan menunjuk ke arah Rizal dengan jari gemetar.
“Kudengar itu, Rizal.”
“Siap, Kapten.”
“Aku masih Kaptenmu.”
“Siap, Kapten.”
“Kapten yang lagi muntah tetap Kapten.”
“Siap, Kapten.”
Mr Jake, yang sedang duduk di kursi lipat dekat jendela anjungan sambil menyesap teh dari termosnya, tertawa sampai topi petnya miring. Radio kecilnya memutar lagu The Beatles dengan suara yang timbul tenggelam karena sinyal. Di luar jendela, Laut Jawa terhampar biru dan luas dan datar sampai ke cakrawala, seperti selembar kain sutra yang tidak pernah kusut.
Pelayaran ke Guangzhou butuh enam hari.
Aku menghabiskan sebagian besar waktuku bekerja: memeriksa manifes muatan, berkoordinasi dengan agen di Guangzhou, membalas surel dari kantor lewat sambungan internet satelit yang lambat dan sering putus. Di waktu senggang, aku membantu kru memeriksa ikatan kontainer, mengecek suhu ruang mesin, atau berdiri di dek sambil menatap laut.
Kru MV Margaret sudah terbiasa denganku. Mereka tidak lagi mencoba mengajakku main kartu atau minum kopi tubruk di dapur tengah malam. Mereka bilang aku pendiam. Mereka bilang aku nggak asyik, tapi baik. Itu deskripsi yang adil.
Malam ketiga, langit di atas Laut Cina Selatan bersih tanpa awan, dan bintang-bintang terlihat begitu banyak sampai langit lebih mirip debu perak daripada kegelapan.
Aku berdiri di dek utama, di antara tumpukan kontainer yang diikat rantai dan kabel baja. Kontainer-kontainer itu menjulang di sekitarku setinggi gedung lima lantai, membentuk lorong-lorong sempit berwarna merah, biru, hijau, dan oranye. Di malam hari, di bawah lampu kuning kapal, lorong-lorong itu terlihat seperti kota kecil tanpa penghuni.
Aku meletakkan telapak tanganku di dinding sebuah kontainer biru. Besinya dingin dan sedikit lembap karena embun laut.
Aku pernah tinggal di dalam salah satu dari benda ini.
Aku enam belas tahun.
Aku tidak akan menceritakan malam terakhirku di rumah Ayah. Bukan karena aku tidak ingat. Aku ingat semuanya, sampai bunyi ikat pinggangnya dan bau anggur murahnya. Aku hanya tidak menceritakannya. Ada hal-hal yang, kalau diceritakan, berubah jadi sesuatu yang nyata lagi, dan aku sudah bekerja sangat keras supaya hal-hal itu berhenti jadi nyata.
Yang bisa kuceritakan adalah ini: aku keluar dari rumah jam dua pagi dengan tas sekolah berisi dua kaus, satu celana, dan uang tujuh puluh ribu rupiah hasil menjual sepatu sekolahku ke anak tetangga. Aku tidak membawa buku tulis bersampul cokelat yang kusimpan di bawah kasur. Aku tidak lupa. Aku sengaja meninggalkannya.
Aku berjalan ke Pelabuhan Tanjung Emas dalam gelap. Di sana, aku menyelinap ke sebuah kapal barang kecil yang sedang memuat kardus mi instan dan karung beras, lalu bersembunyi di antara tumpukan karung di palka. Kapal itu berangkat sebelum subuh. Aku tidak tahu tujuannya. Aku tidak peduli tujuannya. Yang penting jauh.
Dua hari kemudian, kapal itu berlabuh di Tanjung Perak. Aku merangkak keluar dari palka dalam keadaan lapar, haus, dan berbau karung goni, lalu menghilang di antara keramaian buruh pelabuhan sebelum ada yang bertanya.
Di sudut lapangan penumpukan peti kemas, ada deretan kontainer kosong yang sudah lama tidak dipakai, menunggu diperbaiki atau dijual sebagai besi tua. Salah satunya pintunya tidak terkunci, berwarna hijau tua, berkarat di sudut-sudutnya. Di dalamnya gelap, pengap, dan berbau oli. Lantainya dari papan kayu yang sudah lapuk.
Aku tidur di sana selama sembilan hari.
Siang hari, aku berkeliling pelabuhan menawarkan diri mengangkat barang kepada siapa saja yang mau membayar: lima ribu untuk satu truk, sepuluh ribu kalau barangnya berat. Malam hari, aku kembali ke kontainer hijau itu, menutup pintunya dari dalam, dan tidur meringkuk di atas kardus bekas dengan tas sekolah sebagai bantal.
Di kontainer itu, untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku tidur tanpa takut pintunya dibuka.
Aku tidak menangis selama sembilan hari itu. Aku sudah berhenti menangis jauh sebelumnya. Aku tidak marah. Aku tidak sedih. Aku hanya lapar, lalu kenyang, lalu lapar lagi. Hidup menjadi sangat sederhana. Bangun, angkat barang, makan, tidur. Sangat sederhana, dan sangat sunyi.
Malam kesepuluh, pintu kontainer itu terbuka dari luar.
Cahaya senter menusuk mataku. Aku terbangun dan langsung meringkuk ke sudut, menutup kepala dengan kedua lengan. Itu gerakan otomatis, yang sudah dilatih lima tahun. Tubuhku bergerak sebelum pikiranku sempat bangun.
Tidak ada pukulan yang datang.
Yang datang adalah suara laki-laki dengan logat aneh. Bahasa Indonesia yang terlalu bulat di huruf R dan terlalu datar di huruf A.
“Hey. Hey, hey, hey. It’s okay. Saya tidak pukul. Saya tidak pukul kamu, okay?”
Aku menurunkan lenganku perlahan.
Di ambang pintu kontainer berdiri seorang bule tua, tinggi, berambut putih, dengan kemeja lengan pendek bermotif kotak-kotak dan senter di tangan. Dia mengarahkan senternya ke bawah, ke lantai, supaya tidak menyilaukan mataku.
“What are you doing in my box, son?” tanyanya pelan.
Belakangan aku tahu, seluruh deretan kontainer tua itu miliknya. Dia sedang berkeliling memeriksanya malam itu karena satpam melaporkan ada “tikus besar” yang keluar-masuk salah satu kontainer setiap hari.
Aku menatapnya. Dia menatapku: anak enam belas tahun yang kurus, berbau oli dan keringat, meringkuk di sudut kontainer kosong.
Dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan selembar uang seratus ribuan.
Aku tidak mengambilnya.
Aku mengatakan sesuatu kepadanya malam itu. Kalimat pendek. Belakangan Mr Jake sering menceritakannya kepada orang lain di jamuan makan malam, sambil tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala, sambil bilang that’s my boy. Aku tidak pernah mengulangi kalimat itu sendiri. Aku bahkan tidak suka mendengarnya diceritakan.
Yang kuingat, setelah aku mengatakannya, Mr Jake memasukkan kembali uang itu ke sakunya, berdiri lama di ambang pintu kontainer, lalu bilang, “Okay. Besok jam enam pagi. Gudang tiga. Jangan telat.”
Aku tidak telat. Sudah dua belas tahun, dan aku tidak pernah telat sekali pun.
“Couldn’t sleep?”
Aku menoleh. Mr Jake berjalan ke arahku di antara lorong kontainer, dengan jaket windbreaker biru tua di atas piyama bergaris dan termos teh yang tidak pernah lepas dari tangannya. Langkahnya pelan dan hati-hati di atas dek yang sedikit bergoyang.
“Sudah biasa, Pak.”
Dia berdiri di sebelahku, di sisi kanan. Dia selalu berdiri di sisi kananku. Dia tidak pernah bertanya kenapa, dan aku tidak pernah memberitahunya, tapi sejak hari-hari pertamaku di gudang tiga, dia selalu memilih sisi kanan, seolah tahu.
Mungkin memang tahu. Mr Jake tahu banyak hal yang tidak pernah dia katakan.
Kami berdiri diam sebentar, mendengarkan bunyi mesin kapal yang dalam dan berirama di bawah kaki kami, dan desir ombak yang dibelah lambung kapal.
“Bu Endang dari HRD complain lagi,” kata Mr Jake akhirnya. “Tujuh puluh empat hari cuti.”
“Saya tahu, Pak.”
“Saya yang buat aturan baru itu. Khusus untuk kamu.”
“Saya juga tahu, Pak.”
Mr Jake membuka tutup termosnya, menuang teh ke dalam tutup itu, dan menyodorkannya kepadaku. Aku menerimanya. Teh Earl Grey, sudah suam-suam kuku, dengan terlalu banyak gula.
“You never take leave, Hal,” katanya pelan, sambil menatap laut gelap di depan kami. “Twelve years. Not once. Where would you even go?”
Aku memegang tutup termos yang hangat itu dengan dua tangan.
“Nggak ada, Pak.”
Itu bukan jawaban yang sedih. Aku tidak mengatakannya dengan sedih. Aku mengatakannya seperti melaporkan data cuaca: tidak ada tempat. Tidak ada rumah yang menunggu, tidak ada kota yang memanggil, tidak ada orang yang akan membukakan pintu. Itu fakta, seperti pasal dua belas dan konsumsi solar MV Margaret.
Mr Jake tidak menjawab. Dia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan dompet kulit yang sudah lusuh. Dari dalamnya, dia menarik sebuah foto kecil yang warnanya sudah pudar: dua anak laki-laki bule berambut pirang, mungkin sepuluh dan tujuh tahun, berdiri di depan sebuah pelabuhan kelabu dengan kapal-kapal besar di belakang mereka. Yang lebih besar merangkul yang lebih kecil. Keduanya tertawa ke arah kamera dengan gigi ompong.
“Liverpool,” katanya. “Nineteen sixty-seven. Me, and my little brother. Thomas.”
Aku menatap foto itu. Mr Jake tidak pernah bercerita bahwa dia punya adik.
“Dia di mana sekarang, Pak?”
Mr Jake diam lama sekali. Dia menatap foto itu dengan ekspresi yang belum pernah kulihat di wajahnya: bukan sedih, bukan marah, tapi sesuatu yang lebih tua dari keduanya.
“Another time, Hal,” katanya akhirnya, dan memasukkan foto itu kembali ke dompet. “Another time.”
Aku tidak bertanya lagi. Aku tahu rasanya punya cerita yang belum mau diceritakan.
Setelah Mr Jake kembali ke kabinnya, aku masih berdiri di dek, menatap laut.
Kadang, di malam-malam seperti ini, aku memikirkan buku tulis bersampul cokelat itu.
Aku meninggalkannya di bawah kasur di rumah Semarang malam aku kabur. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya setelah itu. Mungkin dibuang. Mungkin dibakar. Mungkin dipakai bungkus gorengan oleh siapa pun yang membersihkan rumah itu setelah Ayah meninggal.
Aku menulis di buku itu setiap hari selama dua tahun. Satu baris per hari. Selalu kalimat yang sama, hanya angkanya yang berubah.
Lalu suatu hari aku berhenti.
Aku ingat angkanya. Aku tidak pernah lupa. Aku hanya tidak pernah menyebutnya, bahkan di dalam kepalaku sendiri. Angka itu duduk di tempat yang sangat dalam, di bawah semua hal lain, seperti jangkar yang tenggelam di dasar laut dan tidak pernah diangkat lagi.
Kapal tidak perlu memikirkan jangkarnya setiap saat. Kapal hanya perlu tahu jangkar itu ada, dan bahwa selama jangkar itu ada, kapal tidak akan ke mana-mana.
Pagi hari keempat, saat MV Margaret melewati perairan dekat Kepulauan Natuna, sinyal internet satelit kembali sebentar, dan ponselku bergetar beberapa kali berturut-turut.
Grup Dermaga Ceria: delapan puluh tiga pesan baru. Pesan teratas dari Ucup, berupa foto papan tulis di ruang istirahat kru. Odds-nya sudah berubah lagi. Update: Pak Hal titip kunci apartemen ke Bu Elena buat siram tanaman. ODDS TURUN JADI 2 BANDING 1. Kapten Lukas, mau tarik taruhan?
Di bawahnya ada balasan dari Kapten Lukas, yang dikirim dari kabin sebelah: AKU LAGI MUNTAH, UCUP. JANGAN GANGGU.
Aku menutup grup itu.
Ada satu pesan lagi. Dari Elena. Dikirim tadi malam, baru masuk pagi ini.
Isinya sebuah foto: pot keramik putih berisi sirih gading di dekat jendela besar apartemenku, di ruang tamu yang kosong. Daun-daunnya basah, masih ada butiran air yang menetes di ujungnya. Cahaya lampu kota di luar jendela memantul di permukaan daun itu, membuatnya terlihat seperti berkilau.
Di bawah foto itu ada satu baris tulisan:
Elena: Udah kusiram. Kamu utang satu kali siram ke aku.
Kamu. Bukan Bapak. Bukan Pak Hal.
Aku membaca pesan itu.
Lalu, tanpa tahu kenapa, aku membacanya sekali lagi.
Aku tidak merasakan apa-apa. Tentu saja tidak. Itu cuma foto tanaman dan satu kalimat tentang utang menyiram.
Tapi aku membacanya dua kali, dan aku tidak ingat kapan terakhir kali aku membaca sesuatu dua kali.
Di depanku, matahari pagi naik dari balik cakrawala Laut Cina Selatan, merah dan besar dan pelan, seperti sesuatu yang bangun dari tidur yang sangat panjang.
- 1 Aku Baik
- 2 Mesin Fotokopi
- 3 Biar Ada yang Hidup di Sini
- 4 Kontainer reading
- 5 Ulang Tahun Palsu
- 6 Kayla Anindya Putri
- 7 Audit Perasaan
- 8 Kak Hal
- 9 Papan Pencarian
- 10 Telur Dadar
- 11 Kelingking
- 12 Foto di Ponsel
- 13 Sabar Ya
- 14 Bisikan
- 15 Haikal Ramadhan
- 16 Kue Tiga Tingkat
- 17 Laporan Detektif
- 18 Oh. Iya, Aku Tahu
- 19 Aku ke Sana
- 20 Tujuh Belas Kotak
- 21 Tanggal
- 22 Mbak Safrina
- 23 Jangan Telepon Lagi
- 24 Jatuh dari Sepeda
- 25 Punggung
- 26 Bangku Warung
- 27 Surat yang Dibuka
- 28 Aku yang Milih
- 29 Rasi Bintang
- 30 Dilihat 23.47
- 31 Kamu Juga Tahu?
- 32 Berhenti Bilang Baik
- 33 Nggak Ada yang Keluar
- 34 Namanya Bobo
- 35 Tabungan ke Melbourne
- 36 Hati-Hati
- 37 Don’t Be Me
- 38 Kapan Nyusul
- 39 Asal Kakak Masih Hidup
- 40 Telat Nyusul
- 41 Ibu
- 42 Hari ke-1
- 43 Epilog: Yang Kanan