Chapter Thirty One
Kamu Juga Tahu?
— Kayla —
Seminggu aku nggak keluar kamar.
Bukan beneran nggak keluar. Aku keluar buat ke kamar mandi. Buat ngambil air. Hari Selasa aku malah sempet ke kantor, duduk di depan laptop delapan jam, bales email Kostas soal jadwal kontainer kedua, ikut video call sama tim Melbourne sambil senyum dan ngangguk-ngangguk. Nggak ada yang curiga. Aku jago senyum. Aku dapet itu dari Kak Ikal, kayaknya.
Tapi di dalam, aku nggak keluar kamar. Di dalam, aku masih duduk di lantai ruang tengah hari Senin, ngeliatin Kak Safrina ngomong.
Aku masuk ke kamar kamu. Jam setengah dua pagi.
Ayah sedih, Kal. Kamu jagoan.
Umurku lima belas, dan aku milih.
Aku nggak nangis waktu itu. Aku sendiri kaget. Aku, yang nangis nonton iklan asuransi, yang nangis waktu Pak Sutris bawain wedang jahe. Aku nggak nangis sama sekali waktu kakakku sendiri cerita bahwa dia yang bikin kakakku yang lain ketinggalan di rumah neraka itu.
Aku cuma ngerasa… kosong. Dan rasa kosong itu nggak pergi-pergi, seminggu penuh.
Mungkin begitu rasanya jadi Kak Ikal. Mungkin itu sebabnya dia bisa ngomong kontraknya jadi kita tanda tangan Kamis dengan suara yang datar. Mungkin begitu rasanya kalau sesuatu terlalu besar buat ditanggung. Dadamu nggak meledak. Dadamu cuma… mati lampu.
Senin malam, seminggu setelah Kak Safrina cerita, Elena dateng.
Jam tujuh, bawa martabak manis. Keju cokelat. Tanpa kacang. Dia udah inget.
“Aku nggak nanya boleh dateng atau nggak,” katanya di pintu. “Soalnya kalau aku nanya, kamu pasti bilang nggak usah.”
Aku nyingkir dari pintu dan biarin dia masuk.
Elena baru pulang dari Batam kemarin. Naik pesawat, katanya, karena Margaret masih harus nunggu beberapa hari lagi di galangan buat serah terima, dan Kak Ikal yang tinggal buat ngurus itu. Kulitnya agak gosong. Rambutnya dikepang satu. Di pergelangan tangannya ada gelang dari tali kapal yang dianyam, warna biru putih.
“Dari Kapten Lukas,” katanya waktu dia liat aku ngeliatin gelangnya. “Dia bikinin buat semua orang di kapal. Katanya biar kita inget pelayaran terakhir Margaret. Kak Ikal juga dapet satu.”
Aku nggak nanya soal Kak Ikal. Aku belum siap.
Kami duduk di lantai ruang tengah, di atas karpet bunga matahari, dengan martabak di antara kami. Elena nggak ngomong apa-apa soal Kak Safrina. Dia pasti udah tahu. Dia pasti udah denger dari Kak Ikal di kapal. Tapi dia nggak ngomong.
Dia cerita soal kapal. Soal Kapten Lukas yang masak nasi goreng terlalu asin. Soal bunga plastik curian dari meja resepsionis syahbandar. Soal topinya yang terbang ke laut dan Rizal yang terjun pakai pelampung buat ngambilnya jam sepuluh malam. Soal rasi bintang yang mereka berdua salah tebak.
Aku ketawa. Sedikit. Pertama kali sejak Kak Safrina cerita.
Terus aku nanya. Aku nggak tahu kenapa aku nanya. Mungkin karena ketawanya bikin dinding di dadaku retak dikit, dan sesuatu yang dari tadi aku tahan mulai bocor keluar.
“El,” kataku. “Aku nggak ngerti. Aku beneran nggak ngerti kenapa Kak Ikal nggak bilang dari awal. Dari email pertama. Dia tahu aku nyari dia. Dia tahu aku pindah negara. Kenapa dia nunggu sampai aku sendiri yang nemu?”
Elena nggak langsung jawab. Dia ngeliatin potongan martabak di tangannya.
“Dia bilang dia butuh waktu,” katanya pelan. “Buat nyari sesuatu di lemari. Sebelum kamu buka.”
Aku berhenti ngunyah.
“Lemari?”
“Iya. Dia bilang dadanya kayak lemari kosong. Dia tahu dulu ada barang di situ, tapi sekarang kosong. Dia mau coba nyari dulu. Apa aja. Sebelum kamu buka lemarinya dan liat kosongnya.” Elena senyum tipis. “Dia bilang kalau kamu liat kosongnya, itu lebih jahat daripada kalau kamu nggak pernah tahu.”
Aku ngeliatin dia.
“Kapan dia bilang itu?”
Elena berhenti. Senyumnya membeku di tengah jalan.
“Kapan, El?” ulangku. “Di kapal?”
Hening.
Aku liat sesuatu terjadi di mukanya. Cepet. Kayak orang yang ngelangkah di tangga dan sadar anak tangganya nggak ada. Matanya melebar sedikit. Bibirnya kebuka. Tangannya yang megang martabak berhenti di udara.
“Bukan di kapal,” katanya. Suaranya kecil.
“Terus?”
“Di ruang arsip.”
“Ruang arsip di kantor Willmore?”
“Iya.”
“Kapan?”
Elena naruh martabaknya di atas kotak. Pelan. Hati-hati. Kayak orang yang naruh barang pecah belah.
“Sebelum makan malam di apartemen kamu,” katanya. “Yang rendangnya gosong.”
Aku nggak bisa napas.
Bukan kiasan. Beneran nggak bisa napas. Dadaku kayak ditekan dari dalam, paru-paruku nggak mau ngembang, dan aku harus buka mulut lebar-lebar buat narik udara.
“Sebelum makan malam,” ulangku. “Kamu tahu sebelum makan malam.”
“Kay…”
“Kamu tahu Kak Hal itu Kak Ikal. Sebelum kamu dateng ke apartemen aku. Sebelum kamu duduk di karpet ini.”
“Kay, aku…”
“Dari kapan?” Suaraku naik. “Dari kapan kamu tahu, El?”
Elena ngeliatin aku. Matanya merah sekarang. Dia nggak mengalihkan pandangan. Aku harus kasih dia itu. Dia nggak mengalihkan pandangan.
“Dari kafe di Gubeng,” katanya. “Waktu kamu nunjukin foto kalian di HP. Kaleng kerupuk merah. Stiker bunga matahari. Aku pernah liat kaleng itu. Di lemari apartemennya. Bulan Agustus.”
“Di lemari apartemennya,” ulangku. “Kamu udah pernah ke apartemennya. Bulan Agustus.”
“Papa nyuruh aku nganter dokumen.”
“Dan kamu liat kaleng aku. Kaleng kerupuk aku. Di lemari kakak aku.” Aku ketawa. Ketawa yang jelek. Ketawa yang sama kayak di mobil pas lampu merah Jalan Indrapura. “Dan kamu duduk di depan aku di kafe, dan kamu bilang kebanyakan kopi pas muka kamu pucet.”
“Aku belum yakin waktu itu, Kay. Aku nggak mau ngomong sesuatu yang belum…”
“Terus kapan kamu yakin?”
Elena diem. Lama.
“Waktu aku liat KTP-nya. Di HRD. Terus aku nemuin dia di ruang arsip. Dia ngaku. Dia minta aku janji nggak bilang ke kamu. Dia bilang dia yang mau bilang sendiri. Dia minta waktu.”
“Dan kamu janji.”
“Aku janji.”
Aku ngeliatin dia. Ngeliatin perempuan cantik yang duduk di karpet bunga matahariku, dengan gelang tali kapal di pergelangan tangannya dan mata yang merah.
Terus aku inget.
“Gelasnya,” kataku pelan.
Elena nutup mata.
“Gelas IKEA,” kataku. “Pas aku nanya Kak Ikal soal anak di kontainer Willmore. Pas Kak Ikal udah mau jawab. Kamu jatuhin gelas.”
Elena buka mata. Dia nggak bohong. Dia nggak nyari alasan.
“Iya,” katanya. “Aku sengaja.”
Aku berdiri.
Aku nggak tahu kenapa. Kakiku yang mutusin, kayak waktu di Warung Bu Yati. Aku berdiri dan mundur dua langkah dari Elena, dari martabak, dari karpet.
“Kamu duduk di sini,” kataku. Suaraku gemeteran. “Kamu duduk di karpet ini dan dengerin aku ngomongin Bobo dua puluh menit. Kamu ketawa. Kamu ketawa pas aku cerita Bobo muntah di sepatu Kak Safrina. Dan kamu tahu.”
“Kay…”
“Kamu misahin kacang dari martabak aku. Pakai tusuk gigi. Satu-satu. Pas aku nangis abis dari dermaga. Kamu misahin kacang kayak Kak Ikal dulu misahin kacang. Dan kamu tahu. Kamu tahu dia ada di sini, di Surabaya, di gedung kantor kamu, dan kamu misahin kacang buat aku kayak kamu lagi gantiin dia.”
Elena berdiri juga. “Bukan gitu, Kay. Aku…”
“Kamu bilang telepon aku kapan aja, jam berapa aja.” Air mataku mulai keluar sekarang. Akhirnya. Seminggu kering, dan sekarang keluar semua. “Kamu bilang gitu di pintu. Kamu peluk aku. Dan kamu tahu dari Agustus, El. Dari Agustus. Itu dua bulan. Dua bulan aku ngomong ke foto di dinding, dan kamu tahu orangnya ada empat kilometer dari sini.”
“Dia minta aku janji…”
“Semua orang minta janji!” Suaraku pecah jadi teriakan. Aku nggak pernah teriak. Aku nggak pernah teriak ke siapa pun, seumur hidupku. “Kak Ikal minta kamu janji. Kak Safrina minta aku janji jangan bilang Ibu. Ayah minta Kak Ikal janji bilang aku baik di telepon. Semua orang janji ke semua orang buat nggak bilang apa-apa ke siapa-siapa!”
Aku narik napas. Napasku tersengal-sengal.
“Dan semua orang mikir mereka ngelindungin aku,” kataku. Lebih pelan sekarang. Lebih capek. “Kak Safrina nggak bilang ke Ibu biar Ibu nggak sedih. Kak Ikal nggak bilang soal Ayah biar Ibu nggak khawatir. Kak Ikal nggak bilang dia kakakku biar aku nggak liat lemarinya kosong. Kamu nggak bilang ke aku biar kamu bisa nepatin janji ke dia.”
Aku ngeliatin Elena. Dia nangis sekarang. Diem-diem. Air matanya ngalir tanpa suara.
“Nggak ada yang nanya aku,” bisikku. “Nggak ada satu pun yang nanya aku mau dilindungin atau nggak.”
Interkom di dinding deket pintu bunyi.
Bzzzt.
Kami berdua nengok.
Aku jalan ke interkom dan neken tombolnya. “Halo?”
“Mbak Bule?” Suara Pak Sutris, kresek-kresek. “Mbak Bule nggak apa-apa? Tetangga sebelah nelepon pos satpam, katanya ada yang teriak-teriak di unit Mbak.”
Aku nutup mata.
“Nggak apa-apa, Pak.”
“Beneran, Mbak? Saya bisa naik. Saya mantan Linmas.”
“Beneran, Pak. Nggak apa-apa.”
Hening sebentar.
“Mbak,” kata Pak Sutris, lebih pelan. “Tamunya banyak bener belakangan. Kalau ada yang mau saya usir, bilang aja. Saya usir.”
Aku hampir ketawa. Hampir.
“Makasih, Pak Sutris. Nggak usah.”
Aku lepas tombol interkom. Aku nengok ke Elena.
Elena udah ngambil tasnya. Dia berdiri di tengah ruang tengah dengan tas di bahu dan muka basah, nunggu.
“Pulang, El,” kataku.
Elena ngangguk. Dia nggak ngebela diri lagi. Dia nggak minta maaf lagi. Dia jalan ke pintu, buka pintunya, terus berhenti di ambang pintu tanpa nengok.
“Kay,” katanya. “Aku nggak gantiin dia. Aku nggak pernah nyoba gantiin dia.”
Dia diem sebentar.
“Aku cuma nggak mau kalian berdua sendirian.”
Pintu nutup.
Aku duduk di lantai.
Martabak masih di kotaknya. Keju cokelat. Tanpa kacang. Masih anget.
Aku nggak nyentuh.
Jam sebelas malam, bel pintu bunyi lagi.
Aku kira Elena balik. Atau Pak Sutris naik bawa wedang jahe. Aku buka pintu dengan muka bengkak, rambut acak-acakan, siap bilang aku mau sendiri.
Kak Safrina.
Dia berdiri di depan pintu, dan aku hampir nggak ngenalin dia.
Kak Safrina, yang selalu pakai blazer hitam, yang selalu rapi, yang rambutnya selalu diikat ke belakang tanpa satu helai pun yang lepas. Kak Safrina berdiri di depan pintu apartemenku pakai kaus putih kusut dan celana training. Rambutnya lepas, berantakan. Matanya merah, bengkak, dengan lingkaran hitam di bawahnya kayak orang yang nggak tidur tiga hari.
Di dadanya, dipeluk pakai dua tangan, buku tulis bersampul cokelat.
“Kay,” katanya. Suaranya serak. Habis. “Ada satu lagi.”
Dia cerita sambil duduk di lantai ruang tengah, di tempat yang sama dia cerita minggu lalu. Di depan dinding gabus. Di bawah foto Kak Ikal sebelas tahun.
Dia buka buku tulis itu. Dia nunjukin halaman-halamannya ke aku. Satu-satu. Pelan-pelan.
Hari ke-1 nunggu Kak Safrina jemput.
Hari ke-60. Ayah minta maaf.
Hari ke-200. Kayla punya anjing. Namanya Bobo. Lucu.
Aku baca semuanya. Tangan Kak Safrina gemeteran tiap kali dia balik halaman.
Hari ke-400. Kak Safrina bilang sabar. Nanti liburan.
Bangku. Bangku. Bangku.
Hari ke-421. Kayla ulang tahun ke-11. Kuenya tiga tingkat. Ada anjing. Aku senang.
Aku nutup mulut pakai dua tangan.
Aku senang.
Aku inget pesta itu. Aku inget kue tiga tingkat itu. Aku pakai gaun kuning dan mahkota plastik. Aku inget aku bahagia banget hari itu.
Nunggu Kak Safrina. Nunggu. Nunggu. Nunggu.
Tulisannya makin kecil. Makin tipis. Makin nggak bertenaga.
Terus Kak Safrina balik halaman terakhir yang ada tulisannya.
Hari ke-731. Aku kirim pesan ke Kak Safrina. Facebook. Galaxy Net.
Dilihat 23.47.
Dan setelah itu, kosong. Kak Safrina balik halaman demi halaman demi halaman, dan semuanya kosong.
Dia cerita. Laptop di kamarnya di Box Hill. Jam 2:47 AM. Malam sebelum ujian kimia. Pesan dua baris. Kak, Ayah mukul aku. Tolong. Aku nggak bohong.
Dua puluh menit.
Hapus Percakapan.
Dia tidur.
Aku ngeliatin kakakku.
Aku ngeliatin perempuan yang dulu ngajarin aku cara ngiket tali sepatu. Yang dulu nemenin aku di kamar mandi tengah malam karena aku takut gelap. Yang di pesawat ke Melbourne, waktu aku nangis dari Semarang sampai Denpasar, megangin tanganku terus dan nggak ngelepas sedetik pun.
Kakakku.
“Kakak baca,” kataku.
Suaraku keluar datar. Aneh. Kayak bukan suaraku.
“Iya,” kata Kak Safrina.
“Kakak baca pesannya. Ayah mukul aku. Tolong.”
“Iya.”
“Kakak liat dia nulis aku nggak bohong.”
“Iya.”
“Dan Kakak diem?!”
Suaraku meledak. Kedua kalinya malam ini aku teriak, dan kali ini lebih keras, lebih pecah, lebih mentah. Kayak sesuatu yang robek dari dalam.
“Kakak baca dan Kakak diem?! Kakak hapus?! Kakak hapus dia, Kak! Kakak hapus Kak Ikal kayak hapus spam! Terus Kakak tidur! Terus besoknya Kakak ujian dan dapet A!”
Kak Safrina nggak bergerak. Dia duduk di lantai, meluk buku tulis itu, dan nerima semuanya. Tiap kata. Tiap teriakan. Dia nggak ngebela diri. Dia nggak nangis. Dia cuma duduk dan nerima, kayak terdakwa yang udah tahu vonisnya dan udah berhenti berharap.
“Empat puluh tujuh halaman kosong, Kak,” kataku. Air mataku ngalir, panas, nggak berhenti. “Dia berhenti nulis. Dia berhenti nunggu. Di malam Kakak hapus pesannya. Dan Kakak nggak pernah tahu. Empat belas tahun Kakak nggak pernah tahu, karena Kakak nggak pernah mau tahu.”
“Iya,” bisik Kak Safrina.
“Kakak pengacara anak. Kakak nyelametin empat puluh tiga anak. Kakak cerita ke aku soal Liam. Soal anak-anak yang dipukul bapaknya. Kakak bangga. Dan adik Kakak sendiri…” Suaraku habis. Aku harus narik napas. “Adik Kakak sendiri minta tolong ke Kakak. Langsung. Pakai nama Kakak. Dan Kakak tidur.”
Kak Safrina nunduk. Rambutnya yang lepas jatuh nutupin mukanya.
“Keluar, Kak,” kataku.
Dia ngangkat muka.
“Keluar,” ulangku. “Tolong. Aku nggak bisa liat Kakak sekarang.”
Kak Safrina ngeliatin aku lama. Terus dia ngangguk. Sekali. Pelan.
Dia berdiri. Dia masih meluk buku tulis itu ke dadanya.
Dia jalan ke pintu. Di ambang pintu, persis kayak Elena tadi, dia berhenti tanpa nengok.
“Kay,” katanya. “Aku harus kasih buku ini ke dia. Ini punya dia. Dia harus tahu aku udah baca. Dia harus tahu aku tahu.”
Aku nggak jawab.
“Terus habis itu,” lanjutnya, pelan banget, “aku mau dia marahin aku. Aku mau dia benci aku. Aku mau dia teriakin aku kayak kamu barusan. Aku butuh itu, Kay. Aku butuh dihukum.”
Dia buka pintu.
“Tapi dia nggak bakal bisa,” bisiknya. “Dan itu hukuman yang paling berat.”
Pintu nutup.
Aku sendirian.
Martabak di lantai udah dingin. Buku tulis udah pergi bareng Kak Safrina. Elena udah pergi. Pak Sutris udah balik ke pos satpam.
Aku duduk di depan dinding gabus.
Peta-peta. Pin-pin. Benang wol merah. Kertas-kertas tempel kuning.
Ketemu. Dia di sini dari awal.
MUNGKIN.
9 Juli — Kak Ikal lupa.
Tapi dia nyimpen lilinnya.
Aku ngambil satu kertas tempel baru. Aku nulis, pakai spidol hitam, dengan tangan yang gemeteran banget:
Semua orang tahu. Kecuali aku.
Aku tempel di tengah-tengah, di bawah foto Kak Ikal sebelas tahun.
Terus aku ngambil ponselku.
Jam sebelas lewat empat puluh malam. Udah hampir tiga minggu, tiap malam sebelum tidur, aku ngirim pesan yang sama ke Kak Ikal. Kadang dia bales cepet. Kadang dia bales besok paginya. Tapi aku selalu ngirim.
Aku buka percakapan kami. Aku ngetik.
Kak, udah makan?
Aku ngeliatin tiga kata itu.
Terus aku hapus. Huruf demi huruf. Dari belakang ke depan.
Malam itu, untuk pertama kalinya, aku nggak ngirim apa-apa.
- 1 Aku Baik
- 2 Mesin Fotokopi
- 3 Biar Ada yang Hidup di Sini
- 4 Kontainer
- 5 Ulang Tahun Palsu
- 6 Kayla Anindya Putri
- 7 Audit Perasaan
- 8 Kak Hal
- 9 Papan Pencarian
- 10 Telur Dadar
- 11 Kelingking
- 12 Foto di Ponsel
- 13 Sabar Ya
- 14 Bisikan
- 15 Haikal Ramadhan
- 16 Kue Tiga Tingkat
- 17 Laporan Detektif
- 18 Oh. Iya, Aku Tahu
- 19 Aku ke Sana
- 20 Tujuh Belas Kotak
- 21 Tanggal
- 22 Mbak Safrina
- 23 Jangan Telepon Lagi
- 24 Jatuh dari Sepeda
- 25 Punggung
- 26 Bangku Warung
- 27 Surat yang Dibuka
- 28 Aku yang Milih
- 29 Rasi Bintang
- 30 Dilihat 23.47
- 31 Kamu Juga Tahu? reading
- 32 Berhenti Bilang Baik
- 33 Nggak Ada yang Keluar
- 34 Namanya Bobo
- 35 Tabungan ke Melbourne
- 36 Hati-Hati
- 37 Don’t Be Me
- 38 Kapan Nyusul
- 39 Asal Kakak Masih Hidup
- 40 Telat Nyusul
- 41 Ibu
- 42 Hari ke-1
- 43 Epilog: Yang Kanan