Chapter Thirty Four
Namanya Bobo
— Kayla —
Kak Safrina ngirim pesan ke aku hari Kamis malam.
Bukan telepon. Pesan. Kak Safrina nggak pernah ngirim pesan panjang. Pesannya biasanya cuma tiga kata. Udah makan, Kay? Tidur, Kay. Aku ke sana.
Tapi malam itu, pesannya panjang. Dikirim jam dua pagi. Tanpa huruf kapital di awal kalimat. Tanpa titik di akhir. Kayak orang yang ngetik sambil gemeteran.
Kak Safrina: kay aku tadi ke apartemen ikal. aku bawa bukunya. aku tunjukin hari ke-731
Kak Safrina: aku minta dia mukul aku. aku pegang tangannya terus aku tempelin ke pipiku. dia narik tangannya kenceng banget sampai punggungnya kebentur tembok. jahitannya. dia teriak kay. ikal teriak. dia bilang jangan pernah minta dia mukul orang
Kak Safrina: terus aku minta dia marahin aku. dia nyoba kay. aku liat dia nyoba. dia merem lama banget. kayak lagi nyari sesuatu di dalem. terus dia buka mata dan bilang nggak ada yang keluar. udah lama kosong
Kak Safrina: aku jatuh. aku nggak tahu kenapa. aku tiduran di tikarnya kayak orang bego
Kak Safrina: dia naruh bantalnya di bawah kepalaku kay. satu-satunya bantal dia
Kak Safrina: terus dia nyentuh punggungku. sebentar. dua detik. terus dia narik lagi tangannya kayak kena api. tapi dia nyentuh
Kak Safrina: aku nggak minta kamu maafin aku. aku cuma mau kamu tahu. dia nyoba
Aku baca pesan-pesan itu di kegelapan kamarku, berkali-kali, sampai jam tiga pagi.
Dia naruh bantalnya di bawah kepalaku.
Dia nyentuh punggungku. Dua detik.
Dia nyoba.
Aku nggak bales Kak Safrina. Belum. Aku masih belum bisa.
Tapi hari Sabtu pagi, aku bangun jam enam, mandi, pakai kaus kuning yang paling bersih, dan nyuruh ojek nganterin aku ke tower apartemen deket Tunjungan.
Di lobi tower itu, aku hampir nabrak Ucup.
Dia lagi keluar dari lift dengan rantang hijau empat susun di tangan, rompi oranye, dan… ponsel yang digantung di leher pakai tali rafia merah. Ponselnya berayun-ayun kayak bandul jam.
Kami berdua berhenti. Saling ngeliatin.
“Mbak Kayla!” Ucup langsung membungkuk dalam-dalam, terlalu dalam, sampai ponselnya membentur rantang. “Selamat pagi, Mbak!”
“Pagi, Ucup.” Aku ngeliatin ponselnya. “Itu… kenapa digantung?”
“Sumpah, Mbak.” Ucup menegakkan badan dengan bangga. “Nggak main HP sampai jahitan Pak Hal kering. Hari ini hari ke-lima belas.”
“Jahitannya udah kering?”
“Belum, Mbak. Kata dr. Hendra masih seminggu lagi.” Ucup nyengir. “Leher saya pegel, Mbak. Tapi saya kuat.”
Aku nggak tahu harus ketawa atau nangis. Jadi aku ketawa. Sedikit.
“Itu rantang dari Bu Yati?”
“Iya, Mbak. Tiap hari Bu Yati suruh saya anter. Rawon, sayur asem, tempe.” Ucup nurunin suaranya kayak lagi ngasih tahu rahasia negara. “Tapi Pak Hal nggak makan banyak, Mbak. Tiap sore pas saya ambil rantangnya, isinya masih setengah. Bu Yati sampai nangis kemarin. Katanya, Mas Hal kok kurus.”
Dia nyodorin rantang itu ke aku.
“Mbak Kayla mau ke atas, kan? Titip, ya, Mbak. Biar Pak Hal makan. Kalau Mbak yang kasih, mungkin dia mau makan.”
Aku nerima rantang itu. Berat. Masih anget.
“Makasih, Cup.”
Ucup ngangguk, membungkuk lagi, terus jalan ke pintu keluar dengan ponsel berayun di leher. Di ambang pintu kaca, dia berhenti dan nengok.
“Mbak,” katanya. Mukanya tiba-tiba serius. “Pak Hal itu orang paling baik yang saya kenal. Dia dorong saya dari bawah generator tiga puluh dua ton, Mbak. Dia nggak mikir. Langsung dorong.”
Dia diem sebentar.
“Jangan sampai dia sendirian lagi, ya, Mbak.”
Dia keluar.
Kak Ikal buka pintu di ketukan ketiga.
Dia pakai kaus abu-abu longgar dan celana training hitam. Rambutnya agak berantakan. Mukanya pucat, lebih pucat dari minggu lalu. Dan dia kelihatan… kaget.
Bukan kaget yang keliatan banget. Kak Ikal nggak pernah kaget yang keliatan banget. Tapi matanya melebar sedikit. Sedikit aja. Waktu dia liat aku berdiri di depan pintunya.
“Kay,” katanya.
“Kak.” Aku ngangkat rantang. “Dari Bu Yati. Ucup titip. Katanya Kakak nggak makan.”
Dia ngeliatin rantang itu. Terus ngeliatin aku.
Terus dia mundur satu langkah dan buka pintunya lebar-lebar.
Apartemennya beda.
Masih kosong. Masih putih. Tapi beda.
Ada sofa. Sofa abu-abu tiga dudukan yang masih ada plastik pembungkus di sandaran tangannya, di tengah ruang tamu, kelihatan sangat asing kayak tamu yang salah masuk rumah.
“Pak Jake,” kata Kak Ikal waktu dia liat aku ngeliatin sofa itu. “Dateng kemarin. Nggak ada yang pesen. Kurirnya bilang dari Pak Jake. Katanya, Margaret would’ve wanted him to have a sofa.”
Aku ketawa. Pertama kali dalam seminggu, ketawa yang beneran.
“Kakak udah duduk di situ?”
“Belum.”
“Kenapa?”
Dia diem. “Belum biasa.”
Di rak pengering di dapur, ada dua gelas. Bukan satu. Dua.
Di deket jendela, sirih gading. Daunnya lebih banyak dari terakhir kali aku liat. Ada gembor plastik ijo di sebelahnya. Dua lilin angka. Dan sebuah kunci perak kecil, dengan gantungan plastik bertuliskan 2307, tergeletak di lantai.
Kunci Elena.
Aku tahu, karena Elena pernah nunjukin gantungan kuncinya ke aku di kafe di Gubeng. Aku nggak perhatiin waktu itu. Tapi sekarang aku inget.
Kunci itu di lantai. Di sebelah pot.
Aku nggak nanya. Bukan urusanku. Belum.
Kami duduk di lantai. Bukan di sofa. Kak Ikal duduk dulu, pelan, satu tangan di dinding, punggung tegak. Terus dia nunjuk lantai di sebelah kanannya.
“Di sini, Kay.”
Aku duduk di sana. Di sebelah kanannya.
Aku buka rantang Bu Yati. Susun pertama, rawon. Susun kedua, sayur asem. Susun ketiga, tempe goreng. Susun keempat, nasi.
Aku ngambil dua piring dari rak pengering. Ada dua. Aku nyendokin nasi, rawon, tempe. Aku naruh satu piring di depan Kak Ikal.
“Makan, Kak.”
Dia ngeliatin piring itu.
Aku nyuap nasiku sendiri, pelan-pelan, sambil ngeliatin dia dari ujung mata. Dia ngambil sendok. Dia nyuap. Pelan. Satu suap. Dua suap.
Aku nunggu sampai dia nyuap kelima. Terus aku ngomong.
Aku udah nyiapin kalimat ini dari tadi pagi. Dari waktu aku bangun jam enam. Dari dua minggu lalu, malem waktu aku duduk di lantai ruang tengah di antara butiran nasi kuning yang berserakan dan inget soal Skype dan pipi biru dan Bobo.
“Kak,” kataku. “Waktu itu pipi Kakak biru, kan?”
Sendoknya berhenti di udara.
“Waktu video call,” kataku. Suaraku udah mulai goyah. “Aku sepuluh tahun. Kakak di warnet. Pipi kiri Kakak biru. Dari sini…” Aku nunjuk tulang pipiku sendiri. “…sampai sini.” Rahangku. “Kakak bilang jatuh dari sepeda. Dan aku ketawa. Aku bilang Kakak ceroboh.”
Kak Ikal naruh sendoknya di piring. Pelan.
“Terus aku ngomongin anjing,” kataku. Air mataku mulai ngalir. Aku nggak nyekanya. “Dua puluh menit, Kak. Pipi Kakak biru, dan aku ngomongin anjing dua puluh menit.”
Hening.
Aku nunggu. Aku nggak tahu nunggu apa. Mungkin nunggu dia marah. Mungkin nunggu dia bilang iya, Kay, kamu jahat. Mungkin nunggu dia diem aja kayak biasa.
Kak Ikal nengok ke arahku.
Dan dia ngomong, dengan suara yang pelan, tenang, tanpa satu tetes pun sindiran. Tanpa satu tetes pun kepahitan. Dengan suara yang tulus banget sampai rasanya kayak pisau.
“Nggak apa-apa, Kay,” katanya. “Anjingnya lucu kok.”
Dia diem sebentar.
“Namanya Bobo, kan?”
Aku nggak tahu apa yang terjadi sama badanku.
Aku cuma tahu piring di pangkuanku jatuh ke lantai. Nasi dan rawon tumpah di atas keramik putih. Dan aku nutup muka pakai dua tangan dan bunyi yang keluar dari mulutku itu bunyi yang aku nggak pernah denger dari diriku sendiri.
Namanya Bobo, kan?
Dia inget.
Enam belas tahun. Pipi biru dari tulang pipi sampai rahang. Kamar mandi. Ikat pinggang. Teras. Nyamuk. Kontainer. Dan dia inget nama anak anjing yang aku pamerin dua puluh menit di layar laptop yang buram.
Dan dia nggak marah.
Dia nggak nyindir. Dia nggak ngebales. Dia nggak bilang kamu tahu nggak aku lagi sakit waktu itu. Dia cuma bilang anjingnya lucu kok, karena buat dia, anjingnya memang lucu. Karena buat dia, yang penting waktu itu, adiknya seneng.
Itu lebih parah dari semua teriakan di dunia.
“Kak…” Suaraku pecah di balik tanganku. “Kak, maaf. Maafin aku. Maafin aku. Aku nggak tahu. Aku nggak tahu, Kak…”
“Kamu sepuluh tahun, Kay.”
“Aku harusnya tahu!”
“Kamu sepuluh tahun,” ulangnya pelan. Persis kayak dia bilang ke Kak Safrina, Mbak lima belas. Tiga kata. Nggak nuduh. Nggak ngebela. Cuma fakta.
Aku nurunin tanganku. Mukaku basah. Aku ngeliatin dia.
Dan aku inget sesuatu yang lain.
Aku inget dermaga.
Dermaga Jamrud Utara. Crane nomor lima. Kontainer biruku naik pelan-pelan ke udara. Aku jinjit, nempelin mulutku ke telinga kirinya, dan bisikin rahasia. Kayak dulu.
Dia nggak gerak. Dia nggak nengok. Dia nggak jawab.
Aku pulang dan nulis di buku bunga matahariku: Kayaknya Kak Hal nggak suka aku.
Terus di dermaga yang lain, di bawah hujan, aku manggil dia Kak Ikal tiga kali dari belakang. Dari sebelah kiri. Dia nggak nengok. Dia baru nengok waktu aku pegang lengannya.
Dan Kak Safrina, di klinik, waktu aku nanya kenapa dia nanya soal telinga, dia cuma bilang nanti, Kay.
Telinga.
Aku ngeliatin telinga kiri Kak Ikal.
Kelihatan biasa. Bentuknya sama kayak telinga kanannya. Warnanya sama. Nggak ada bekas apa pun.
Aku ngangkat badanku. Pelan. Aku geser dari sebelah kanannya ke sebelah kirinya. Dia ngeliatin aku geser. Dia nggak ngomong apa-apa.
Aku jinjit. Eh, nggak jinjit, kami lagi duduk. Aku nyondongin badan ke arahnya. Aku nempelin mulutku deket ke telinga kirinya. Deket banget. Sama kayak di dermaga.
Dan aku bisikin.
“Kak.”
Dia nggak gerak.
“Kak Ikal.”
Dia nggak gerak. Matanya ngeliatin lurus ke depan, ke sofa abu-abu yang masih ada plastiknya.
Aku narik badanku. Jantungku berdetak keras banget sampai aku bisa ngerasain di tenggorokan.
Terus Kak Ikal nengok. Pelan. Bukan ke arahku. Dia muter seluruh badannya, pelan-pelan, karena jahitan di punggungnya, sampai sisi kanannya ngadep ke aku.
“Yang kanan, Kay,” katanya.
Suaranya pelan. Tenang. Kayak lagi ngasih tahu arah jalan.
“Yang kiri udah nggak bisa dari aku umur empat belas.”
Dunia berhenti.
Aku nggak tahu berapa lama. Mungkin satu detik. Mungkin satu menit. Aku cuma tahu bahwa selama waktu itu, semua hal di kepalaku jatuh ke tempatnya masing-masing, satu per satu, kayak puzzle yang potongan-potongannya disusun sama tangan yang nggak keliatan.
Kepalanya yang selalu miring ke kanan. Dia selalu muter badan kalau ada yang ngomong dari kiri. Dia selalu nunjuk lantai di sebelah kanannya. Dia selalu berdiri di sebelah kanan orang.
Dermaga. Crane nomor lima. Bisikanku.
Dia nggak cuekin aku.
Dia nggak denger.
Kayaknya Kak Hal nggak suka aku.
Dia nggak pernah denger.
“Jadi Kakak nggak cuekin aku,” bisikku. Suaraku keluar kayak suara anak kecil. “Di dermaga. Pas aku bisikin. Kakak nggak cuekin aku. Kakak… nggak denger.”
“Nggak denger,” katanya.
“Aku kira Kakak benci aku.”
“Aku tahu.”
“Kakak tahu?” Aku ngeliatin dia. “Kakak tahu aku mikir gitu? Dan Kakak nggak bilang?”
Dia diem sebentar. “Kalau aku bilang telingaku nggak bisa denger, kamu bakal nanya kenapa.”
Aku ngerti.
Aku ngerti sekarang.
Dia biarin aku ngira dia benci aku. Dia biarin aku nulis kayaknya Kak Hal nggak suka aku di buku bunga matahariku. Dia biarin aku nangis di dermaga dan bilang Kakak denger dan Kakak diem aja. Semuanya, cuma biar aku nggak nanya kenapa telinganya nggak bisa denger.
Biar aku nggak tahu soal Ayah.
Biar aku nggak sakit.
Dia lebih milih aku benci dia daripada aku tahu.
Dan terus aku inget.
Bukan dermaga. Lebih jauh. Lebih dalem.
Kamar di Semarang. Dua ranjang. Jendela dengan tirai bermotif bintang. Aku turun dari ranjangku tengah malam, jalan jinjit pakai kaus kaki, manjat ke ranjang Kak Ikal. Tidur di sebelah kirinya. Selalu di sebelah kiri.
Nempelin mulut ke telinga kirinya.
Sst. Rahasia, ya, Kak. Cuma telinga kiri Kakak yang boleh tahu.
Telinga kiri Kak Ikal nyimpen semua rahasiaku. Semua. Kerupuk yang aku curi. Anak laki-laki dengan tas Power Rangers. Boneka porselen Eyang. Aku sayang Kak Ikal lebih dari Kak Safrina, tapi jangan bilang Kak Safrina.
Semua rahasiaku tinggal di telinga itu.
Dan telinga itu dirusak Ayah waktu Kak Ikal empat belas tahun.
Semua rahasiaku, dipukul sampai diem.
Aku nggak bisa napas. Aku nutup mulut pakai dua tangan. Badanku gemeteran.
Kak Ikal ngeliatin aku. Matanya, matanya yang biasanya kosong kayak jendela rumah yang lampunya udah lama dimatiin, sekarang ada sesuatu di sana. Kecil. Samar. Kayak cahaya lilin di ujung lorong yang panjang banget.
“Kay,” katanya.
Aku nurunin tanganku.
Terus aku geser lagi. Dari sebelah kirinya, balik ke sebelah kanannya. Pelan-pelan. Aku nyondongin badan. Aku nempelin mulutku deket ke telinga kanannya.
Telinga yang masih bisa denger.
“Kak,” bisikku. “Aku punya satu rahasia lagi. Yang belum pernah aku bilang ke siapa-siapa. Tujuh belas tahun.”
Dia nggak gerak. Tapi aku tahu dia denger. Kali ini, aku tahu dia denger.
“Tiap tahun,” bisikku, “tanggal empat belas Mei. Hari kita pergi dari Semarang. Aku ke bandara Melbourne. Ke pintu kedatangan internasional.”
Napasku tersendat. Aku narik napas lagi.
“Aku bawa karton. Aku tulis pakai spidol. KAK IKAL. Gede-gede. Aku gambar bunga matahari di pojoknya. Terus aku berdiri di depan pintu kedatangan. Satu jam. Kadang dua jam. Aku liatin semua orang yang keluar dari pintu kaca itu. Satu-satu.”
Air mataku jatuh ke bahunya. Ke kaus abu-abunya yang longgar.
“Pas aku sepuluh, Ibu yang nganter. Pas aku dua belas, aku naik bus sendiri. Pas aku enam belas, aku bolos sekolah. Pas aku dua puluh, temen-temenku bilang aku gila. Daniel pernah nemenin sekali, terus dia bilang aku harus berhenti, dan aku nggak ngomong sama dia dua minggu.”
Aku narik napas.
“Tujuh belas tahun, Kak. Aku nggak pernah absen. Bahkan pas aku udah pindah ke Surabaya, tanggal empat belas Mei kemarin, aku terbang ke Melbourne cuma buat berdiri di pintu kedatangan satu jam, terus terbang balik ke Surabaya besoknya.”
Aku diem.
“Aku tahu Kakak nggak bakal keluar dari pintu itu. Aku tahu. Tapi aku tetep berdiri di situ. Soalnya kalau suatu hari Kakak beneran keluar dari pintu itu, dan nggak ada yang nungguin…”
Suaraku habis.
“…aku nggak mau Kakak keluar dan nggak ada yang nungguin.”
Kak Ikal nggak bergerak.
Lama. Lama banget.
Aku narik badanku. Aku ngeliatin mukanya.
Dan aku liat sesuatu yang belum pernah aku liat di wajah Kak Ikal. Nggak di ruang rapat. Nggak di dermaga. Nggak di klinik. Nggak di mana pun.
Napasnya.
Napasnya tersendat. Satu kali. Kayak orang yang lagi napas biasa, terus tiba-tiba ada sesuatu yang nyangkut di tenggorokannya, dan dia harus berhenti di tengah-tengah dan nyoba lagi.
Dadanya naik. Turun. Naik. Tersendat lagi.
Matanya nggak basah. Dia nggak nangis. Tapi dia ngeliatin lantai di depannya, ke nasi dan rawon yang tumpah dari piringku, dan bibirnya kebuka sedikit, kayak orang yang mau ngomong sesuatu tapi nggak tahu kata-katanya.
“Kay,” katanya. Cuma itu. Suaranya pecah di tengah. Kecil banget. Kayak bunyi ranting kering yang patah di bawah kaki.
“Kay.”
Aku nggak tahu apa yang dia mau bilang. Mungkin dia sendiri nggak tahu.
Tapi aku denger suaranya pecah. Untuk pertama kalinya, aku denger suara Kak Ikal pecah.
Kami beresin nasi yang tumpah bareng-bareng. Pakai tisu. Pakai lap dapur. Kak Ikal nggak bisa nunduk terlalu dalem karena jahitannya, jadi aku yang ngelap lantai, dan dia yang nyodorin tisu.
Waktu semua udah bersih, aku ngambil piring baru dari rak pengering. Aku nyendokin nasi lagi. Rawon lagi. Tempe lagi.
Dan ada satu lagi di susun paling bawah rantang Bu Yati, yang tadi belum aku liat.
Telur dadar. Satu potong. Tebel. Kecokelatan di pinggirnya.
Aku ngeliatin telur itu.
Terus aku inget Warung Bu Yati. Meja pojok deket kipas angin. Kak Hal nggak suka telur? Udah kenyang.
Dan aku inget lebih jauh lagi. Dapur di Semarang. Wajan kecil yang pegangannya longgar. Ibu megang wajan itu pakai lap. Satu telur dadar besar dipotong tiga. Kak Safrina satu. Kak Ikal satu. Aku satu.
Aku selalu habisin telurku duluan.
Dan Kak Ikal selalu mindahin telurnya ke piringku.
Kak Ikal nggak suka telur?
Udah kenyang.
Aku nengok ke Kak Ikal.
“Kak,” kataku pelan. “Dulu. Telur dadar. Kakak selalu kasih telur Kakak ke aku. Kakak bilang udah kenyang.”
Dia ngeliatin aku.
“Kakak nggak pernah kenyang, kan?”
Hening.
Lama.
“…Nggak,” katanya.
Aku ngambil telur dadar dari susun paling bawah rantang. Aku naruh di piringnya. Utuh. Satu potong. Di atas nasinya.
“Makan,” kataku. “Itu punya Kakak.”
Dia ngeliatin telur itu lama banget. Terus dia ngambil sendok, motong ujungnya, dan makan. Pelan.
Aku ngeliatin dia makan telur dadar itu sampai habis.
Terus aku nanya, kayak tiap hari selama tiga minggu, kayak sebelum aku berhenti.
“Kak, udah makan?”
Dia ngeliatin piringnya yang kosong. Terus ngeliatin aku.
“Udah,” katanya. “Barusan.”
Dia diem sebentar.
“Kemarin belum.”
Aku ketawa. Ketawa sambil nangis, nangis sambil ketawa, kayak orang gila, di lantai apartemen kosong di lantai dua puluh tiga dengan sofa yang masih ada plastiknya.
Itu pertama kalinya, sejak aku ketemu lagi sama dia, Kak Ikal bilang yang sebenernya.
Kemarin belum.
- 1 Aku Baik
- 2 Mesin Fotokopi
- 3 Biar Ada yang Hidup di Sini
- 4 Kontainer
- 5 Ulang Tahun Palsu
- 6 Kayla Anindya Putri
- 7 Audit Perasaan
- 8 Kak Hal
- 9 Papan Pencarian
- 10 Telur Dadar
- 11 Kelingking
- 12 Foto di Ponsel
- 13 Sabar Ya
- 14 Bisikan
- 15 Haikal Ramadhan
- 16 Kue Tiga Tingkat
- 17 Laporan Detektif
- 18 Oh. Iya, Aku Tahu
- 19 Aku ke Sana
- 20 Tujuh Belas Kotak
- 21 Tanggal
- 22 Mbak Safrina
- 23 Jangan Telepon Lagi
- 24 Jatuh dari Sepeda
- 25 Punggung
- 26 Bangku Warung
- 27 Surat yang Dibuka
- 28 Aku yang Milih
- 29 Rasi Bintang
- 30 Dilihat 23.47
- 31 Kamu Juga Tahu?
- 32 Berhenti Bilang Baik
- 33 Nggak Ada yang Keluar
- 34 Namanya Bobo reading
- 35 Tabungan ke Melbourne
- 36 Hati-Hati
- 37 Don’t Be Me
- 38 Kapan Nyusul
- 39 Asal Kakak Masih Hidup
- 40 Telat Nyusul
- 41 Ibu
- 42 Hari ke-1
- 43 Epilog: Yang Kanan