Chapter Thirty
Dilihat 23.47
— Safrina —
Aku sudah bilang semuanya kepada Kayla hari Senin.
Di apartemennya di Darmo, di lantai ruang tengah, di depan dinding gabus yang sekarang fotonya tidak lagi ditutupi handuk. Aku menceritakan semua yang kuceritakan kepada Ikal sehari sebelumnya. Ancaman Ayah di dapur. Kamar jam setengah dua pagi. Ayah sedih, Kal. Kamu jagoan. Bandara. Nanti Kakak jemput. Telepon jam dua pagi. Nomor warung yang kutulis di sudut buku catatan kimia dan tidak pernah kuputar.
Kayla mendengarkan tanpa bicara.
Dia tidak menangis. Itu yang paling membuatku takut. Kayla, yang menangis kalau menonton iklan asuransi, yang menangis waktu Bobo mati, yang menangis di pesawat dari Semarang sampai Denpasar, tidak menangis sama sekali waktu aku menceritakan semuanya.
Dia hanya menatapku. Lama. Dengan mata Ibu.
Lalu dia berdiri, berjalan ke dapur, menuangkan air putih ke dalam gelas, dan meletakkannya di lantai di depanku.
“Minum, Kak,” katanya. “Kakak dari tadi ngomong. Tenggorokan Kakak pasti kering.”
Lalu dia masuk ke kamarnya dan menutup pintu.
Aku duduk di lantai ruang tengah itu dengan segelas air di depanku selama satu jam. Dia tidak keluar. Aku tidak mengetuk.
Waktu aku akhirnya pulang ke hotel, aku sadar: aku belum menceritakan semuanya.
Aku menceritakan semua yang kuingat dengan sadar. Semua yang kuizinkan diriku ingat.
Tapi ada satu hal yang tidak kuizinkan.
Minggu malam, jam sepuluh, aku membuka buku tulis bersampul cokelat itu.
Aku sudah menundanya sembilan hari. Sejak Bu Warsih memberikannya di bangku hijau. Sejak halaman pertama yang kubuka di rest area Ngawi, di depan Kayla, lalu kututup lagi dengan keras.
Malam itu aku duduk di meja kecil di sudut kamar hotel. Lampu baca kuning menyala. AC berdengung pelan. Di luar jendela, lampu-lampu kota Surabaya berkelip.
Aku membuka sampulnya.
Kertas bergaris. Kuning kecokelatan karena usia. Di beberapa tempat ada bercak-bercak kecil kecokelatan. Mungkin air, mungkin teh, mungkin sesuatu yang lain. Ditulis pakai pensil. Ditekan keras-keras sampai di beberapa tempat kertasnya hampir sobek.
Hari ke-1 nunggu Kak Safrina jemput.
Hari ke-2 nunggu Kak Safrina jemput.
Hari ke-3 nunggu Kak Safrina jemput.
Satu baris per hari. Kalimat yang sama. Hanya angkanya yang berubah.
Satu halaman berisi dua puluh tiga baris. Aku membalik halaman.
Hari ke-24 nunggu Kak Safrina jemput.
Hari ke-25 nunggu Kak Safrina jemput.
Aku membaca setiap baris. Aku tidak melewatkan satu pun. Aku membacanya dengan jari telunjuk menelusuri setiap kata, dari kiri ke kanan, seperti anak kecil yang baru belajar membaca. Seperti aku sedang membaca berkas kasus yang paling penting dalam hidupku, dan satu kata yang terlewat bisa membuatku kalah.
Hari ke-30. Hari ke-45. Hari ke-58.
Hari ke-60.
Hari ke-60 nunggu Kak Safrina jemput. Ayah minta maaf.
Aku berhenti.
Ayah minta maaf.
Tiga kata tambahan. Tidak ada penjelasan. Tidak ada cerita. Hanya Ayah minta maaf, ditulis dengan pensil yang ditekan lebih keras dari baris-baris lain, sampai garis pensilnya mengilap di bawah lampu baca.
Aku tahu apa artinya. Aku pengacara perlindungan anak. Aku tahu kenapa seorang ayah minta maaf kepada anak sebelas tahun di hari keenam puluh.
Aku membalik halaman.
Hari ke-61. Hari ke-80. Hari ke-100. Kalimat yang sama. Tulisan tangan yang mulai berubah. Lebih kecil. Lebih rapat. Seperti anak yang belajar untuk tidak memakan terlalu banyak tempat.
Hari ke-200.
Hari ke-200 nunggu Kak Safrina jemput. Kayla punya anjing. Namanya Bobo. Lucu.
Aku menutup mulut dengan tangan.
Hari ke-200. Hari video call itu. Kayla menceritakannya kepadaku di telepon hari Kamis malam, dengan suara yang hancur. Pipi kiri yang biru. Jatuh dari sepeda. Dua puluh menit tentang Bobo.
Dan malam itu, di buku ini, dia hanya menulis: Kayla punya anjing. Namanya Bobo. Lucu.
Tidak ada kata tentang pipinya.
Aku membalik halaman lagi.
Hari ke-249.
Lalu, di baris berikutnya, dengan tulisan yang sedikit berbeda, pensil yang sedikit lebih tumpul, ditekan lebih pelan:
Hari ke-250 dan 251 nunggu Kak Safrina jemput.
Dua angka dalam satu baris.
Aku tidak tahu kenapa. Aku menatap baris itu lama. Lalu aku ingat cerita Kayla dari Ibu, bertahun-tahun lalu. Hari Minggu sore itu. Telepon terakhir. Ibu jangan telepon lagi. Aku mau sama Ayah.
Hari ke-250.
Malam itu dia tidak menulis apa pun. Untuk pertama kalinya. Dan besoknya, dia menulis dua angka sekaligus, seperti seseorang yang terlambat datang ke kantor dan mengisi absen dua kali, malu karena ketahuan bolos.
Aku membalik halaman. Tanganku mulai gemetar.
Hari ke-300. Hari ke-350. Hari ke-399.
Hari ke-400.
Hari ke-400 nunggu Kak Safrina jemput. Kak Safrina bilang sabar. Nanti liburan.
Aku membaca baris itu.
Lalu aku membacanya lagi.
Kak Safrina bilang sabar.
Telepon jam dua pagi. Suaraku yang serak karena tidur. Kakak besok ujian kimia, Kal. Kakak harus tidur. Sabar ya, Kal. Kamu jagoan, kan?
Dia menulisnya. Dia menulisnya dengan pensil di buku tulis bersampul cokelat, malam itu, setelah aku menutup telepon dan kembali tidur di ranjangku yang hangat di Box Hill.
Kak Safrina bilang sabar. Nanti liburan.
Dan dia percaya.
Aku terus membaca. Aku tidak bisa berhenti.
Hari ke-401 nunggu Kak Safrina jemput. Aku duduk di bangku Bu Warsih.
Hari ke-402 nunggu Kak Safrina jemput. Bangku Bu Warsih.
Hari ke-403 nunggu Kak Safrina jemput. Bangku.
Setiap hari. Bangku. Bangku. Bangku. Kadang ditambah satu kata lagi. Bangku. Hujan. Bangku. Teh manis. Bangku. Telepon bunyi. Tukang galon.
Bangku. Telepon bunyi. Salah sambung.
Bangku. Telepon nggak bunyi.
Hari ke-421.
Hari ke-421 nunggu Kak Safrina jemput. Kayla ulang tahun ke-11. Kuenya tiga tingkat. Ada anjing. Aku senang.
Aku senang.
Aku melepaskan buku itu dan menutup wajahku dengan dua tangan.
Pesta ulang tahun Kayla yang kesebelas. Aku ingat pesta itu. Halaman belakang rumah di Box Hill. Balon pink dan kuning. Kue tiga tingkat yang Ibu pesan dari toko kue di Doncaster, mahal sekali, dibayar dengan gaji lembur tiga minggu. Aku ingat aku mengolesi krim kue ke pipi Kayla dan Kayla mengolesi balik ke pipiku, dan kami tertawa sampai perut sakit.
Aku ingat aku bahagia hari itu.
Dan di hari yang sama, dua puluh satu hari setelah aku bilang sabar ya di telepon jam dua pagi, di Semarang, di bangku hijau yang miring di depan warung Bu Warsih, adikku melihat foto pesta itu di warnet, lalu tidur di teras rumah yang dikunci, dan besok paginya menulis aku senang.
Aku menurunkan tangan. Aku mengambil buku itu lagi.
Aku harus menyelesaikannya.
Hari ke-460.
Hari ke-460 nunggu Kak Safrina jemput. Aku ulang tahun. Nggak diangkat.
Hari ke-461. Hari ke-500.
Lalu tulisannya berubah lagi.
Hari ke-512 nunggu Kak Safrina.
Kata jemput hilang. Hanya nunggu Kak Safrina.
Hari ke-550. Nunggu Kak Safrina.
Hari ke-600. Nunggu.
Hanya nunggu. Satu kata. Setelah angka.
Hari ke-601. Nunggu.
Hari ke-602. Nunggu.
Hari ke-650. Nunggu.
Hari ke-700. Nunggu.
Aku membalik halaman demi halaman. Nunggu. Nunggu. Nunggu. Tulisan tangannya makin kecil. Makin pelan. Pensilnya tidak lagi ditekan keras. Garis-garisnya tipis, abu-abu pucat, hampir hilang, seperti tulisan seseorang yang sudah tidak punya tenaga untuk menekan pensil.
Hari ke-728. Nunggu.
Hari ke-729. Nunggu.
Hari ke-730. Nunggu.
Aku membalik halaman.
Satu baris di bagian paling atas halaman.
Tulisannya berbeda dari semua tulisan sebelumnya. Tidak kecil. Tidak pelan. Tidak tipis. Ditekan sangat keras sampai pensilnya patah di tengah kata, dan sisanya ditulis dengan ujung pensil yang tumpul dan kasar.
Hari ke-731. Aku kirim pesan ke Kak Safrina. Facebook. Galaxy Net.
Di baris bawahnya. Lebih kecil. Hampir tidak terbaca.
Dilihat 23.47.
Di baris bawahnya lagi.
Kosong.
Aku membalik halaman.
Kosong.
Aku membalik halaman lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Kosong. Kosong. Kosong.
Garis-garis biru pucat di atas kertas kuning kecokelatan, tanpa satu huruf pun. Tanpa angka. Tanpa nunggu. Tanpa apa pun. Halaman demi halaman demi halaman, sampai ke sampul belakang.
Aku menghitungnya. Aku tidak tahu kenapa aku menghitungnya. Kebiasaan. Pengacara selalu menghitung.
Empat puluh tujuh halaman kosong.
Hitungan itu berhenti di hari ke-731. Dan setelah itu, tidak ada apa-apa lagi.
Aku duduk di meja kecil di sudut kamar hotel dengan buku tulis itu terbuka di halaman yang bertuliskan Hari ke-731.
Aku kirim pesan ke Kak Safrina. Facebook.
Dilihat 23.47.
Aku pengacara.
Aku tahu cara menghitung tanggal.
Aku tahu tanggal keberangkatan kami dari Ahmad Yani. Aku tidak pernah lupa. Empat belas Mei dua ribu sepuluh. Tanggal yang tertera di boarding pass yang masih kusimpan di kotak sepatu di lemari apartemenku di Carlton, bersama foto-foto lama yang tidak pernah kulihat.
Hari ke-1: 14 Mei 2010.
Aku membuka kalkulator di ponselku. Tanganku gemetar begitu hebat sampai aku salah ketik tiga kali.
Empat belas Mei dua ribu sepuluh, ditambah tujuh ratus tiga puluh hari.
Dua ribu dua belas adalah tahun kabisat. Februari punya dua puluh sembilan hari.
Hari ke-731: 13 Mei 2012.
Tiga belas Mei dua ribu dua belas.
Malam sebelum ujian akhir kimiaku.
Aku tidak mengizinkan diriku mengingatnya selama empat belas tahun. Tapi ingatan tidak pernah benar-benar hilang. Ingatan hanya menunggu, seperti berkas kasus di laci paling bawah, sampai seseorang menemukan nomor registernya dan menariknya keluar.
Nomor registernya: Hari ke-731.
Dan berkas itu keluar. Utuh. Lengkap. Setiap detailnya.
Kamarku di rumah Box Hill. Meja belajar di dekat jendela. Lampu meja berbentuk jamur. Buku kimia terbuka di halaman tentang reaksi redoks. Jam di sudut layar laptopku: 2:47 AM. Aku belum tidur. Aku tidak bisa tidur sebelum ujian. Aku tidak pernah bisa tidur sebelum ujian.
Notifikasi Facebook muncul di pojok layar. Ikon pesan berwarna merah.
Aku mengekliknya, dengan setengah pikiran masih di reaksi redoks.
Nama pengirimnya: Haikal Ramadhan.
Foto profilnya kosong. Siluet abu-abu default Facebook.
Pesannya pendek. Dua baris.
Kak, Ayah mukul aku. Tolong.
Aku nggak bohong.
Aku membacanya.
Jam di sudut layar menunjukkan 2:47 AM. Di Semarang, aku tahu, jam sebelas lewat empat puluh tujuh malam. Dan di layar komputer di sebuah warnet bernama Galaxy Net, di bawah pesan yang dia kirim, sebuah kata kecil berwarna abu-abu muncul.
Dilihat 23.47.
Aku duduk di depan laptop itu selama dua puluh menit.
Aku ingat setiap pikiran yang lewat di kepalaku selama dua puluh menit itu. Aku ingat semuanya sekarang, dengan kejernihan yang mengerikan.
Ikal sendiri yang bilang jangan telepon lagi. Ikal sendiri yang bilang mau sama Ayah.
Mungkin ini Ayah yang ngetik. Mungkin Ayah butuh uang. Mungkin ini cara Ayah supaya Ibu kirim uang lagi.
Mungkin Ikal cuma melebih-lebihkan. Dia selalu dramatis. Waktu kecil dia pernah nangis seharian karena ikan cupangnya mati.
Mungkin ini teman sekolahnya yang iseng. Membajak akunnya.
Dan di bawah semua pikiran itu, di dasarnya, satu pikiran yang tidak pernah kubiarkan naik ke permukaan:
Kalau ini benar, berarti aku yang menaruhnya di sana.
Kalau ini benar, aku harus bilang ke Ibu. Dan kalau aku bilang ke Ibu, aku harus bilang kenapa Ikal tinggal. Aku harus bilang soal malam itu. Soal kamar jam setengah dua pagi. Soal Ayah sedih, Kal. Aku harus bilang aku yang menukarnya.
Dan Ibu akan tahu. Dan Ibu akan menatapku dengan mata yang sama dengan mata yang dia pakai waktu menatap Ayah.
Aku tujuh belas tahun. Ujian kimiaku enam jam lagi.
Aku menggerakkan kursor ke kotak balasan. Aku mengetik: Kal, kamu serius?
Aku menatap tiga kata itu.
Lalu aku menghapusnya. Huruf demi huruf. Dari belakang ke depan.
Lalu aku menggerakkan kursor ke pojok kanan atas jendela percakapan. Ke ikon roda gigi kecil. Ke pilihan menu yang muncul di bawahnya.
Hapus Percakapan.
Apakah Anda yakin ingin menghapus seluruh percakapan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.
Hapus.
Aku menutup laptop. Aku mematikan lampu meja berbentuk jamur. Aku berbaring di ranjangku yang hangat di Box Hill, di bawah selimut tebal, karena bulan Mei di Melbourne sudah mulai dingin.
Aku tidur.
Aku tidur.
Besok paginya aku mengerjakan ujian kimia. Aku dapat nilai A. Nilai tertinggi di angkatanku.
Aku tidak pernah membuka profil Facebook Haikal Ramadhan lagi. Aku tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun. Aku mengubur malam itu begitu dalam sampai, setelah beberapa tahun, aku hampir yakin itu tidak pernah terjadi. Bahwa itu mimpi. Bahwa itu salah ingat.
Empat belas tahun.
Hari ke-731. Dilihat 23.47.
Lalu empat puluh tujuh halaman kosong.
Dia berhenti menunggu di malam aku menekan tombol hapus.
Bukan di malam aku bilang sabar ya. Bukan di hari-hari aku tidak memutar nomor warung itu. Bukan di malam dia tidur di teras yang dikunci. Dia masih menunggu setelah semua itu. Dia menulis nunggu setiap hari, makin kecil, makin tipis, makin tidak bertenaga, tapi dia tetap menulisnya.
Sampai hari ke-731.
Sampai dia mengirim satu pesan terakhir kepada kakaknya, dari bilik warnet yang sempit dengan kipas angin yang berderit, dan melihat kata kecil berwarna abu-abu muncul di bawahnya.
Dilihat.
Dia tahu aku membacanya. Dia duduk di sana dan menunggu balasan. Lima menit. Sepuluh menit. Satu jam. Dia tahu aku membacanya, dan dia tahu aku tidak membalas.
Dan malam itu dia pulang, membuka buku tulis bersampul cokelat ini, mematahkan pensilnya di tengah kata, dan menulis baris terakhir.
Lalu dia tidak pernah menulis lagi.
Aku tidak ingat bagaimana aku sampai di kamar mandi.
Aku ingat lantainya. Keramik putih yang dingin di bawah lututku. Bak mandi di belakang punggungku. Lampu yang kumatikan, sehingga satu-satunya cahaya datang dari celah di bawah pintu.
Aku ingat buku tulis bersampul cokelat itu di pelukanku. Aku memeluknya ke dada. Erat. Seperti memeluk sesuatu yang bisa diambil orang.
Aku ingat suara yang keluar dari mulutku. Bukan tangisan. Bukan kata-kata. Suara yang belum pernah kudengar keluar dari tubuh manusia mana pun. Bukan di ruang sidang, bukan di ruang visum, bukan di rumah-rumah tempat anak-anak duduk di sudut dengan lutut ditekuk ke dada.
Suara binatang yang terluka di tempat yang tidak bisa dijangkau.
Aku ingat aku bilang sesuatu ke lantai kamar mandi. Berkali-kali. Aku tidak tahu kepada siapa.
Itu aku.
Hari itu aku.
Hari ke-731 itu aku.
Empat puluh tiga anak.
Empat puluh tiga anak yang kuselamatkan. Yang kubela di depan hakim. Yang kupindahkan dari rumah ayah-ayah yang memukul mereka. Yang kupeluk di lorong pengadilan dan kubilang mereka anak-anak yang berani.
Dan satu anak yang mengirim pesan langsung kepadaku. Yang menyebut namaku. Yang bilang tolong. Yang bilang aku nggak bohong.
Dan aku membacanya.
Dan aku menghapusnya.
Dan aku tidur.
Di lantai kamar mandi hotel di dekat Tunjungan, jam tiga pagi, aku memeluk buku tulis bersampul cokelat dengan empat puluh tujuh halaman kosong. Untuk pertama kalinya, aku mengerti apa yang Ikal maksud waktu dia bilang aku nggak marah, Mbak.
Dia tidak marah karena kemarahan butuh harapan. Kemarahan butuh percaya bahwa orang yang menyakitimu bisa berbuat lebih baik.
Dan dia berhenti percaya itu di hari ke-731.
Pukul dua lewat empat puluh tujuh pagi, waktu Melbourne. Waktu aku membacanya.
Dua puluh menit sebelum aku menekan tombol hapus.
- 1 Aku Baik
- 2 Mesin Fotokopi
- 3 Biar Ada yang Hidup di Sini
- 4 Kontainer
- 5 Ulang Tahun Palsu
- 6 Kayla Anindya Putri
- 7 Audit Perasaan
- 8 Kak Hal
- 9 Papan Pencarian
- 10 Telur Dadar
- 11 Kelingking
- 12 Foto di Ponsel
- 13 Sabar Ya
- 14 Bisikan
- 15 Haikal Ramadhan
- 16 Kue Tiga Tingkat
- 17 Laporan Detektif
- 18 Oh. Iya, Aku Tahu
- 19 Aku ke Sana
- 20 Tujuh Belas Kotak
- 21 Tanggal
- 22 Mbak Safrina
- 23 Jangan Telepon Lagi
- 24 Jatuh dari Sepeda
- 25 Punggung
- 26 Bangku Warung
- 27 Surat yang Dibuka
- 28 Aku yang Milih
- 29 Rasi Bintang
- 30 Dilihat 23.47 reading
- 31 Kamu Juga Tahu?
- 32 Berhenti Bilang Baik
- 33 Nggak Ada yang Keluar
- 34 Namanya Bobo
- 35 Tabungan ke Melbourne
- 36 Hati-Hati
- 37 Don’t Be Me
- 38 Kapan Nyusul
- 39 Asal Kakak Masih Hidup
- 40 Telat Nyusul
- 41 Ibu
- 42 Hari ke-1
- 43 Epilog: Yang Kanan