Chapter Thirty Three
Nggak Ada yang Keluar
— Haikal —
Jam delapan pagi, aku turun ke minimarket di lantai dasar tower.
Aku berjalan di antara rak-rak yang terang. Mi instan, sabun cuci, kopi sachet, roti tawar. Aku tidak tahu apa yang kucari sampai aku menemukannya di rak paling ujung, di bagian peralatan dapur, di antara spons cuci piring dan sendok plastik.
Gelas.
Gelas kaca bening, polos, murah, dijual satuan. Delapan ribu lima ratus rupiah.
Aku mengambil satu. Aku membawanya ke kasir. Kasirnya perempuan muda berkerudung biru yang setiap pagi melihatku membeli air mineral dan roti tawar, dan tidak pernah sekali pun melihatku membeli yang lain. Dia menatap gelas itu, lalu menatapku, lalu memindai barcode-nya tanpa bilang apa-apa.
Di lift naik ke lantai dua puluh tiga, aku menatap gelas itu di tanganku.
Aku tidak tahu kenapa aku membelinya. Aku punya satu gelas. Satu gelas sudah cukup selama enam tahun.
Tapi kemarin Mbak Safrina minum dari satu-satunya gelasku, dan aku melihatnya sadar bahwa kalau dia minum dari gelas itu, aku tidak punya gelas. Aku melihatnya di wajahnya. Sesuatu yang retak, sebentar, waktu dia menatap gelas di tangannya lalu menatap rak pengering yang kosong.
Aku tidak mau dia melihat itu lagi.
Aku mencuci gelas baru itu di wastafel. Aku mengeringkannya dengan kain. Aku meletakkannya di rak pengering, di sebelah gelas yang lama.
Dua gelas.
Aku berdiri di dapur dan menatap dua gelas itu cukup lama.
Mbak Safrina datang jam sepuluh tepat. Dia selalu tepat waktu. Pengacara.
Tapi waktu aku membuka pintu, aku hampir tidak mengenalinya.
Bukan blazer hitam. Bukan kemeja putih yang disetrika rapi. Bukan rambut yang diikat ke belakang tanpa satu helai pun lepas. Dia memakai kaus putih yang kusut dan celana training abu-abu yang lututnya sudah melar. Rambutnya digerai, berantakan, sebagian menempel di pipinya yang pucat. Matanya merah dan bengkak, dengan lingkaran hitam yang dalam di bawahnya, seperti orang yang tidak tidur berhari-hari.
Dia tidak memakai riasan apa pun. Tanpa riasan, tanpa blazer, tanpa rambut yang rapi, dia terlihat lebih muda. Jauh lebih muda. Hampir seperti anak perempuan lima belas tahun berjaket abu-abu dengan resleting yang macet di tengah.
Di dadanya, dipeluk dengan dua tangan, buku tulis bersampul cokelat.
Aku menatap buku itu.
Dua belas tahun. Aku meninggalkannya di bawah kasur di rumah kontrakan di ujung gang, malam aku kabur. Sampulnya masih sama. Cokelat, lusuh, sudut-sudutnya menggulung. Di pojok kanan bawah sampulnya masih ada bekas noda bulat dari gelas teh manis Bu Warsih yang dulu kutaruh di atasnya waktu menunggu di bangku hijau.
“Kal,” kata Mbak Safrina. Suaranya serak. Habis.
“Masuk, Mbak.”
Dia tidak duduk di lantai ruang tamu. Dia berjalan melewati ruang tamu, melewati tujuh belas kotak di pojok, langsung ke pintu kamar yang terbuka. Dia berhenti di ambang pintu dan menatap tikar pandan di lantai. Satu bantal.
Lalu dia masuk ke kamar dan berlutut di atas tikar.
Aku berdiri di ambang pintu. Aku tidak tahu harus berbuat apa.
“Sini, Kal,” katanya tanpa menoleh. “Duduk. Tolong.”
Aku masuk. Aku menurunkan tubuhku ke lantai dengan pelan, satu tangan di dinding, karena jahitan di punggungku. Aku duduk bersila di atas tikar, di depannya. Dia bergeser sedikit, ke sebelah kananku. Dia sudah tahu.
Kami berdua di atas tikar pandan yang kubeli di Pasar Johar dua belas tahun lalu, seminggu sebelum aku kabur, dengan uang hasil mengangkat galon untuk Bu Warsih. Aku membawanya tergulung di dalam tas sekolah. Di kontainer hijau aku tidak berani menggelarnya; aku baru menggelarnya setelah punya kamar sendiri di mes buruh gudang tiga. Lalu di kamar kos di Perak Barat. Lalu di sini.
Mbak Safrina meletakkan buku tulis itu di atas tikar, di antara kami.
“Ini punya kamu,” katanya.
Aku tidak mengambilnya.
Dia menatapku sebentar. Lalu dia membuka buku itu sendiri. Tangannya gemetar begitu hebat sampai dia butuh tiga kali untuk membalik sampulnya. Dia tidak membuka halaman pertama. Dia langsung membalik ke belakang, ke halaman yang sudah jelas sering dibuka, karena kertasnya sudah melengkung di sana dan sudutnya sudah lecek.
Dia meletakkan buku yang terbuka itu di atas tikar, menghadap ke arahku.
Aku menatapnya.
Tulisan tanganku sendiri. Tiga belas tahun.
Pensil yang ditekan sangat keras sampai patah di tengah kata. Huruf k di kata kirim setengah jadi, garisnya terputus, lalu dilanjutkan dengan ujung pensil yang tumpul dan kasar yang meninggalkan goresan abu-abu tebal.
Hari ke-731. Aku kirim pesan ke Kak Safrina. Facebook. Galaxy Net.
Di bawahnya, lebih kecil.
Dilihat 23.47.
Di bawahnya lagi, kosong.
Aku mengenali tulisan itu. Aku mengenali tekanan pensilnya. Aku mengenali goresan kasar di tempat pensilnya patah.
Aku ingat malam itu.
Aku ingat Galaxy Net. Bilik nomor tujuh, yang kipas anginnya paling berisik. Aku sengaja memilihnya, karena bunyinya bisa menutupi napasku yang tersengal-sengal.
Aku ingat aku harus menunggu sampai jam sebelas malam. Ayah pulang jam sembilan dan langsung tidur. Aku menunggu dua jam di kasur, pura-pura tidur, sampai dengkurannya stabil. Lalu aku keluar lewat jendela kamar mandi yang engselnya sudah longgar.
Aku ingat aku punya tiga ribu rupiah. Satu jam.
Aku ingat aku mengetik pesannya dengan dua jari, pelan-pelan, satu huruf demi satu huruf, seperti waktu aku pertama kali mengetik nama Kayla di kolom pencarian. Aku menghapus dan mengetik ulang empat kali. Aku tidak tahu harus menulis apa. Aku ingin menulis semuanya. Pipi. Ikat pinggang. Telinga yang mulai berdengung. Kamar mandi. Teras. Nyamuk.
Tapi aku hanya punya satu jam. Dan aku takut, kalau aku menulis terlalu banyak, Kak Safrina tidak akan percaya. Dia akan mengira aku melebih-lebihkan. Dia akan mengira aku drama, seperti waktu aku menangis seharian karena ikan cupangku mati.
Jadi aku menulis yang paling pendek. Yang paling jelas. Yang tidak bisa disalahartikan.
Kak, Ayah mukul aku. Tolong.
Lalu, karena aku takut dia tidak percaya, aku menambahkan satu baris lagi.
Aku nggak bohong.
Aku menekan kirim jam sebelas lewat dua puluh.
Lalu aku menunggu.
Kipas angin berderit di atas kepalaku. Di bilik sebelah, dua anak SMP bermain game perang dan berteriak-teriak. Penjaga warnet di meja depan makan mi instan rasa kari ayam. Baunya memenuhi seluruh ruangan.
Jam sebelas lewat empat puluh tujuh, di bawah pesanku, sebuah kata kecil berwarna abu-abu muncul.
Dilihat.
Aku ingat napasku berhenti.
Dia membacanya. Kak Safrina membacanya. Sekarang. Di Melbourne. Di depan layarnya. Dia sedang membaca Ayah mukul aku. Tolong.
Aku menatap layar. Aku menunggu tanda bahwa dia sedang mengetik balasan. Titik-titik kecil yang bergerak.
Tidak ada.
Satu menit. Lima menit. Sepuluh menit.
Aku menatap kata kecil berwarna abu-abu itu. Dilihat. Aku menunggu.
Dua puluh menit. Tiga puluh menit.
Penjaga warnet mengetuk tripleks bilikku. Dek, sepuluh menit lagi habis.
Empat puluh menit. Lima puluh menit.
Tidak ada titik-titik yang bergerak. Tidak ada balasan. Hanya Dilihat, kecil, abu-abu, di bawah pesanku. Seperti batu nisan.
Satu jam habis. Layar komputer terkunci otomatis.
Aku duduk di bilik nomor tujuh menatap layar yang terkunci, sampai penjaga warnet mengetuk lagi dan bilang aku harus keluar atau bayar lagi.
Aku keluar.
Aku berjalan pulang dalam gelap. Aku masuk lewat jendela kamar mandi. Ayah masih mendengkur. Aku mengeluarkan buku tulis bersampul cokelat dari bawah kasur, membuka halaman terakhir yang sudah terisi, dan menulis.
Aku menekan pensilnya sangat keras. Aku tidak tahu kenapa. Pensilnya patah di tengah kata kirim. Aku melanjutkannya dengan ujung yang tumpul.
Hari ke-731. Aku kirim pesan ke Kak Safrina. Facebook. Galaxy Net.
Dilihat 23.47.
Lalu aku menatap baris di bawahnya. Baris yang biasanya kuisi dengan nunggu.
Aku tidak menulis apa pun.
Aku menutup buku itu dan menaruhnya kembali di bawah kasur. Aku berbaring. Aku menatap langit-langit yang gelap.
Dan aku merasakan sesuatu terjadi di dadaku. Sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang tidak pernah terjadi lagi sesudahnya.
Seperti lampu terakhir di rumah besar yang dimatikan. Klik. Pelan. Tidak dramatis. Tidak ada ledakan. Tidak ada jeritan. Hanya bunyi saklar kecil, lalu gelap.
Besok paginya aku bangun, berangkat sekolah, pulang, dipukul, tidur. Lusa juga. Minggu depannya juga. Dua tahun kemudian aku kabur.
Tapi aku tidak pernah menulis di buku itu lagi. Dan aku tidak pernah menunggu apa pun lagi.
“Ini aku,” kata Mbak Safrina.
Suaranya membawaku kembali. Ke kamar dengan tikar pandan. Ke lantai dua puluh tiga. Ke sinar matahari jam sepuluh pagi yang masuk lewat jendela.
Dia menunjuk baris itu dengan jari telunjuk yang gemetar. Dilihat 23.47.
“Hari ini aku,” bisiknya. “Hari ke-731 itu aku, Kal.”
Aku menatapnya.
Dia menceritakannya. Terpotong-potong, tidak berurutan, tidak seperti pengacara sama sekali. Kamarnya di Box Hill. Lampu meja berbentuk jamur. Buku kimia. Jam 2:47 AM. Dua puluh menit. Kal, kamu serius? Diketik, lalu dihapus. Ikon roda gigi. Hapus Percakapan. Selimut tebal karena bulan Mei sudah dingin. Tidur.
Tidur.
Ujian kimia besok paginya. Nilai A.
Aku mendengarkan semuanya. Aku tidak menyela.
Waktu dia selesai, dia menatapku. Matanya merah, basah, memohon.
“Kamu nunggu satu jam,” katanya. “Di warnet. Kamu nunggu aku bales. Dan aku…”
Suaranya pecah. Dia tidak bisa melanjutkan.
“Aku tahu, Mbak,” kataku.
Dia tersentak.
“Aku tahu Mbak baca,” lanjutku pelan. “Aku liat tulisannya. Dilihat. Aku tahu Mbak baca, dan aku tahu Mbak nggak bales.”
“Kenapa kamu nggak kirim lagi?” tanyanya, suaranya hancur. “Kenapa kamu nggak kirim pesan kedua? Ketiga? Kenapa kamu nggak…”
“Karena Mbak udah baca,” kataku.
Hening.
“Kalau Mbak nggak baca,” kataku, “aku bakal kirim lagi. Besoknya. Lusanya. Aku bakal kirim terus. Mungkin Mbak nggak liat. Mungkin internet Mbak rusak. Mungkin Mbak lagi sibuk.”
Aku menatap tulisan tanganku di halaman itu.
“Tapi Mbak baca. Aku liat sendiri. Jam sebelas empat puluh tujuh.” Suaraku tetap datar. Tetap tenang. “Jadi aku tahu. Bukan karena Mbak nggak liat. Mbak liat. Dan Mbak milih nggak bales.”
Aku menutup buku itu. Pelan.
“Hari itu aku nggak marah, Mbak,” kataku. “Hari itu aku… berhenti.”
Mbak Safrina menatapku dengan wajah yang belum pernah kulihat pada siapa pun. Wajah orang yang sedang tenggelam dan baru sadar tidak ada yang akan datang menolong.
Lalu dia bergerak.
Cepat. Tiba-tiba. Dia meraih tangan kananku, yang tergeletak di atas lutut, yang masih gemetar. Dia menggenggamnya dengan dua tangan, mengangkatnya, dan menempelkan telapak tanganku ke pipinya sendiri.
“Pukul aku,” katanya.
Seluruh tubuhku membeku.
“Pukul aku, Kal,” ulangnya, matanya basah, suaranya gemetar. “Tolong. Kamu berhak. Pukul aku. Satu kali aja. Aku pantes. Aku lebih kuat dipukul daripada…”
Aku menarik tanganku.
Bukan menarik. Merenggut. Tanganku tersentak lepas dari genggamannya begitu keras sampai aku hampir terjungkal ke belakang di atas tikar, dan punggungku yang berjahit menghantam dinding. Rasa sakit menjalar dari bahu sampai ke pinggang. Aku tidak peduli.
Tanganku. Tangan kananku. Aku memeluknya ke dadaku dengan tangan kiri, seperti memeluk sesuatu yang baru saja terbakar.
Gemetarnya bukan lagi halus. Gemetarnya keras. Seluruh lenganku berguncang, dari jari sampai bahu.
Dan untuk pertama kalinya dalam tujuh belas tahun, sesuatu keluar dari mulutku yang bukan datar. Bukan tenang. Bukan data cuaca.
“Jangan.”
Suaraku pecah. Serak. Keras.
“Jangan, Mbak. Jangan pernah minta itu. Jangan pernah. Jangan pernah minta aku mukul orang.”
Mbak Safrina menatapku dengan mata membelalak.
Aku bernapas. Pendek-pendek. Cepat. Seperti orang yang baru keluar dari air.
Aku tidak bisa. Aku tidak akan pernah bisa. Telapak tangan di pipi. Itu bentuk yang sama. Itu gerakan yang sama. Itu awal dari semua malam di rumah kontrakan di ujung gang. Telapak tangan yang terangkat. Bunyi seperti handuk basah dipukulkan ke lantai kamar mandi. Dengungan panjang di telinga kiri yang tidak pernah berhenti.
Aku tidak akan pernah jadi Ayah. Tidak sekali pun. Tidak kepada siapa pun. Bahkan kalau orangnya sendiri yang meminta.
Terutama kalau orangnya sendiri yang meminta.
Lama tidak ada yang bicara.
Mbak Safrina duduk di atas tikar dengan dua tangan menutup mulutnya. Air mata mengalir di pipinya, di atas jari-jarinya.
Aku duduk bersandar ke dinding, memeluk tangan kananku yang gemetar. Napasku perlahan kembali normal.
“Maaf,” bisiknya dari balik tangannya. “Maaf, Kal. Maaf. Aku nggak mikir. Aku nggak…”
“Nggak apa-apa.”
“Itu bukan nggak apa-apa.”
“Mbak nggak tahu.”
“Aku harusnya tahu.” Suaranya hancur. “Aku pengacara perlindungan anak. Aku tahu soal trigger. Aku tahu soal trauma. Aku ngajarin polisi soal itu. Dan aku… aku…”
Dia tidak bisa melanjutkan.
Lalu, pelan, dia menurunkan tangannya dari mulut. Dia menatapku. Matanya merah dan basah dan memohon, dengan cara yang membuatku ingin mengalihkan pandangan.
“Kalau gitu marahin aku,” katanya. “Nggak usah pukul. Marahin aja. Teriakin aku. Kayak Kayla teriakin aku kemarin. Bilang aku jahat. Bilang aku egois. Bilang aku pembunuh. Apa aja.”
Dia meraih buku tulis di atas tikar dan menekannya ke dadanya.
“Aku lebih kuat dimarahin, Kal. Aku bisa ngadepin kamu yang marah. Aku udah siapin diri buat itu. Tapi aku nggak bisa…” Suaranya pecah sepenuhnya. “Aku nggak bisa ngadepin kamu yang kayak gini. Yang nggak apa-apa. Yang bilang nggak marah. Tolong. Tolong, Kal. Marahin aku.”
Aku mencoba.
Aku ingin dia tahu itu. Aku ingin siapa pun yang membaca ini tahu itu.
Aku benar-benar mencoba.
Aku menutup mata dan masuk ke dalam diriku sendiri, seperti masuk ke rumah besar yang gelap dengan senter di tangan. Aku mencari kemarahan. Di mana pun dia bersembunyi.
Aku membuka pintu pertama. Malam di dapur, hari keenam puluh. Nasi gosong. Bunyi handuk basah. Maafin Ayah, Kal. Aku mencari kemarahan di sana. Tidak ada. Hanya nasi gosong dan lantai dapur.
Aku membuka pintu kedua. Kamar jam setengah dua pagi. Kak Safrina dengan mata merah. Ayah sedih, Kal. Kamu jagoan. Kebohongan pertama. Aku mencari kemarahan di sana. Tidak ada. Hanya tirai bermotif bintang yang sudah pudar dan Kayla yang mendengkur memeluk guling.
Aku membuka pintu ketiga. Telepon jam dua pagi. Sabar ya, Kal. Aku mencari kemarahan di sana. Tidak ada. Hanya suara yang serak karena tidur dan bunyi selimut.
Aku membuka pintu keempat. Bangku hijau. Telepon putih. Setahun. Aku mencari kemarahan di sana. Tidak ada. Hanya teh manis Bu Warsih dan pisang goreng yang tidak laku.
Aku membuka pintu kelima. Galaxy Net. Bilik nomor tujuh. Dilihat 23.47. Satu jam menunggu. Aku mencari kemarahan di sana. Di tempat yang paling mungkin. Di tempat yang paling berhak.
Tidak ada.
Hanya kipas angin yang berderit, bau mi instan rasa kari ayam, dan sebuah kata kecil berwarna abu-abu.
Aku membuka semua pintu. Semua lemari. Semua laci. Aku menyorotkan senter ke setiap sudut, ke bawah setiap papan lantai yang lapuk, ke balik setiap tirai yang berdebu. Aku mencari seperti aku mencari kontainer Kayla di lapangan penumpukan, blok demi blok, baris demi baris, dengan seluruh sistem yang kuhafal.
Rumah itu kosong.
Bukan berantakan. Bukan rusak. Kosong. Bersih. Seperti apartemen ini. Lantai keramik putih tanpa apa pun di atasnya. Dinding putih tanpa satu paku pun.
Aku membuka mata.
Mbak Safrina menatapku. Menunggu. Dengan buku tulis bersampul cokelat ditekan ke dadanya dan wajah yang sudah tidak punya pertahanan sama sekali.
“Aku udah coba, Mbak,” kataku pelan.
Dia menatapku.
“Nggak ada yang keluar,” kataku. “Udah lama kosong.”
Ada sesuatu yang terjadi pada seseorang waktu dia mendengar vonis terakhir. Aku pernah melihatnya di televisi, di berita-berita pengadilan. Terdakwa yang berdiri tegak selama berbulan-bulan sidang, yang tidak pernah menunduk, yang tidak pernah menangis. Lalu hakim membacakan putusan terakhir. Dan tubuh itu, yang tegak selama berbulan-bulan, tiba-tiba kehilangan semua tulangnya.
Itu yang terjadi pada Mbak Safrina.
Dia tidak menjerit. Dia tidak meraung. Tubuhnya hanya… runtuh. Perlahan. Bahunya turun. Punggungnya membungkuk. Kepalanya jatuh ke depan. Dia rebah ke samping di atas tikar pandan, masih memeluk buku tulis bersampul cokelat itu di dadanya.
Dan dia meringkuk.
Lutut ditekuk ke dada. Kepala menunduk. Dan dua tangannya, yang tidak lagi memeluk buku itu, terangkat ke atas kepalanya. Menutupinya. Seperti melindungi diri dari sesuatu yang akan jatuh dari atas.
Aku menatapnya.
Aku menatap kakakku yang meringkuk di atas tikar pandanku dengan tangan di atas kepala.
Aku tahu posisi itu. Aku tahu posisi itu lebih baik dari siapa pun. Aku tidur dalam posisi itu di teras rumah yang dikunci. Di kardus bekas mi instan. Di palka kapal barang di antara karung beras. Di kontainer hijau berkarat. Pak Karyo, ABK tua di Tanjung Emas, mengingatnya dua belas tahun kemudian. Kayak anak yang biasa dipukul.
Kak Safrina tidak pernah dipukul. Tapi tubuhnya, entah bagaimana, tahu bentuk itu.
Mungkin semua tubuh tahu. Mungkin itu bentuk yang diambil tubuh siapa pun kalau sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan.
Aku bergerak.
Aku tidak menyuruh diriku bergerak. Aku hanya bergerak. Aku mengambil bantal dari ujung tikar. Satu-satunya bantalku. Aku menyelipkannya pelan-pelan di bawah kepalanya, di antara rambutnya yang berantakan dan tikar pandan yang kasar. Dia tidak membuka mata. Tapi kepalanya bergerak sedikit, menekan ke dalam bantal itu.
Lalu aku duduk di sebelahnya. Di belakang punggungnya.
Aku mengangkat tangan kananku. Tangan yang gemetar. Tangan yang tadi direnggut dari pipinya.
Pelan. Ke arah punggungnya. Ke arah bahunya yang berguncang di bawah kaus putih yang kusut.
Tanganku berhenti lima senti dari punggungnya.
Seperti di dermaga. Seperti waktu Kayla berlutut di aspal yang basah. Lima senti. Menggantung di udara. Gemetar. Tidak bisa menempuh jarak itu.
Aku menatap tanganku.
Lima senti.
Aku menunggu.
Lalu, pelan sekali, dengan seluruh tenaga yang kupunya, aku menurunkannya.
Telapak tanganku menyentuh punggung Kak Safrina. Di antara tulang belikatnya. Ringan. Begitu ringan sampai mungkin dia tidak merasakannya.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu tanganku terangkat lagi, sendiri, cepat, seperti menyentuh sesuatu yang panas.
Tapi tadi menyentuh.
Dua detik. Tadi menyentuh.
Ponselku bergetar di lantai di sebelah pintu kamar.
Aku tidak mengambilnya. Tapi layarnya menyala, menghadap ke atas, dan aku bisa membaca pesannya dari tempatku duduk.
Mr Jake: Hal. Is this how you send a picture?
Lalu sebuah foto. Seekor kucing belang tiga yang gemuk, sedang tidur di atas kap mobil.
Mr Jake: Wait. That’s not my cat. I don’t have a cat. Whose cat is this.
Mr Jake: I was trying to send you a photo of the new turbocharger from Batam.
Mr Jake: Hal?
Mr Jake: Ignore the cat.
Di atas tikar pandan, Kak Safrina masih meringkuk dengan kepala di atas bantalku, dengan buku tulis bersampul cokelat terjepit di antara lututnya dan dadanya. Bahunya masih berguncang. Tapi pelan sekarang. Lebih pelan.
Aku duduk di belakangnya, bersandar ke dinding, dengan punggung yang berdenyut karena jahitan yang tadi menghantam tembok.
Aku tidak bilang apa-apa. Dia tidak bilang apa-apa.
Matahari bergerak pelan di lantai kamar. Dari kaki tikar ke tengah tikar. Dari tengah tikar ke kepala tikar. Ke rambut Kak Safrina yang berantakan di atas bantalku.
Aku duduk di sana sampai matahari pindah ke dinding.
Lemari di dadaku masih kosong. Aku sudah memeriksanya. Aku sudah membuka semua pintunya.
Tapi tanganku. Tangan kananku. Masih bisa merasakan bentuk punggung kakakku di telapaknya. Hangat. Bergetar. Dua detik.
Dan aku tidak tahu, sungguh tidak tahu, di bagian mana dari rumah kosong ini rasa itu disimpan.
- 1 Aku Baik
- 2 Mesin Fotokopi
- 3 Biar Ada yang Hidup di Sini
- 4 Kontainer
- 5 Ulang Tahun Palsu
- 6 Kayla Anindya Putri
- 7 Audit Perasaan
- 8 Kak Hal
- 9 Papan Pencarian
- 10 Telur Dadar
- 11 Kelingking
- 12 Foto di Ponsel
- 13 Sabar Ya
- 14 Bisikan
- 15 Haikal Ramadhan
- 16 Kue Tiga Tingkat
- 17 Laporan Detektif
- 18 Oh. Iya, Aku Tahu
- 19 Aku ke Sana
- 20 Tujuh Belas Kotak
- 21 Tanggal
- 22 Mbak Safrina
- 23 Jangan Telepon Lagi
- 24 Jatuh dari Sepeda
- 25 Punggung
- 26 Bangku Warung
- 27 Surat yang Dibuka
- 28 Aku yang Milih
- 29 Rasi Bintang
- 30 Dilihat 23.47
- 31 Kamu Juga Tahu?
- 32 Berhenti Bilang Baik
- 33 Nggak Ada yang Keluar reading
- 34 Namanya Bobo
- 35 Tabungan ke Melbourne
- 36 Hati-Hati
- 37 Don’t Be Me
- 38 Kapan Nyusul
- 39 Asal Kakak Masih Hidup
- 40 Telat Nyusul
- 41 Ibu
- 42 Hari ke-1
- 43 Epilog: Yang Kanan