Chapter Seventeen
Laporan Detektif
— Kayla —
Hari Rabu, jam tiga sore, Pak Bonar nelepon.
Aku lagi di kantor, di tengah video call sama bos Yunaniku di Melbourne yang lagi teriak-teriak soal tarif bea masuk kayu olahan. Ponselku getar di meja. Aku lirik layarnya: Pak Bonar. Aku tekan tombol tolak. Pak Bonar nelepon lagi. Aku tolak lagi. Pak Bonar nelepon untuk ketiga kalinya.
Pak Bonar nggak pernah nelepon tiga kali berturut-turut.
“Kostas, sorry, can I call you back in five minutes? Family emergency.”
Bosku berhenti teriak. “Family? Your mother okay?”
“Yes. I think. I’ll call you back.”
Aku matiin video call, ngangkat telepon Pak Bonar, dan untuk pertama kalinya sejak aku kenal dia, Pak Bonar nggak langsung teriak.
“Dek Kayla.” Suaranya pelan. Hati-hati. Suara yang belum pernah kudengar dari dia. “Dek lagi di mana?”
“Di kantor, Pak. Kenapa?”
“Dek lagi duduk?”
Jantungku langsung berdetak lebih cepet.
“Pak. Kenapa?”
“Duduk dulu, Dek.”
Aku duduk. Aku udah duduk dari tadi, tapi aku duduk lebih dalem, kayak kursiku bisa nahan sesuatu yang bakal jatuh.
“Saya ketemu dia, Dek,” kata Pak Bonar.
Aku nggak inget urutan persisnya. Aku nggak inget kalimat-kalimat Pak Bonar satu per satu. Yang kuingat cuma potongan-potongan, kayak foto-foto yang jatuh dari album dan berserakan di lantai.
Pak Bonar nyisir daftar empat belas perusahaan pelayaran itu dari perusahaan yang paling kecil. Nggak ada hasil. Hari ini dia sampai di daftar nomor sembilan: Willmore Maritime. Dia nggak masuk ke kantornya. Dia nongkrong di warung-warung sekitar pelabuhan, kayak biasa, ngobrol sama buruh-buruh tua, pura-pura jadi pensiunan polisi yang lagi nostalgia.
Di sebuah warung nasi kecil di gang belakang kantor dokumen pelabuhan, pemiliknya, ibu-ibu namanya Bu Yati, inget.
Anak kontainer? Ya inget, Pak. Siapa yang nggak inget. Dipungut Pak Jake, bule yang punya Willmore. Ditemuin tidur di kontainer bekas. Kurus kayak lidi. Waktu pertama kali makan di sini, dia makan tiga piring, Pak. Tiga. Terus dia minta maaf karena makannya kebanyakan.
Sekarang di mana, Bu?
Lho, ya masih di sini, Pak. Tiap hari makan di sini. Meja itu, pojok deket kipas angin. Dua belas tahun. Pesennya rawon terus. Kecuali minggu lalu, tumben, pesen telur dadar, pas makan bareng mbak-mbak cantik dari Australia.
Namanya siapa, Bu?
Mas Hal. Orang-orang manggil Mas Hal. Sekarang udah jadi orang penting di Willmore. Direktur.
Pak Bonar diam sebentar di telepon.
“Dek,” katanya. “Bu Yati punya foto. Ditempel di dinding warungnya. Foto acara tujuh belasan Willmore tahun 2015. Saya fotoin. Saya kirim, ya.”
Ponselku getar.
Aku buka pesannya.
Foto dari foto. Agak buram, ada pantulan lampu neon di permukaannya. Foto lama yang ditempel di dinding warung yang catnya kuning, dengan pinggiran yang udah keriting kena uap kuah rawon bertahun-tahun.
Di foto itu, ada sekelompok orang berdiri di depan gudang. Laki-laki berompi oranye, ibu-ibu berkebaya, anak-anak kecil pegang bendera merah putih kertas. Di tengah, seorang bule tua berambut putih dengan topi pet. Mr Jake. Aku langsung kenal.
Di sebelah Mr Jake, berdiri anak laki-laki.
Tujuh belas tahun, mungkin. Kurus, tinggi, rompi oranyenya kebesaran. Rambut cepak. Muka datar, nggak senyum ke kamera kayak yang lain. Tangan Mr Jake ada di bahunya.
Aku memperbesar foto itu pakai dua jari. Pikselnya pecah. Tapi aku tetep bisa liat.
Ada garis kecil di alis kirinya.
Bekas luka.
Aku liat bekas luka itu hampir tiap hari selama tiga minggu terakhir. Di ruang rapat, di dermaga, di Warung Bu Yati, di mobil pas hujan. Di depan kue cokelat dengan lilin angka 2 dan 8.
Dan kepalanya.
Anak di foto itu, dengan tangan Mr Jake di bahunya, kepalanya sedikit miring ke kanan.
“Dek? Dek Kayla? Masih di situ?”
“Pak,” kataku. Suaraku nggak kayak suaraku sendiri. “Pak, itu salah. Itu bukan Kak Ikal. Itu Kak Hal.”
“Dek…”
“Kak Hal itu klienku, Pak. Aku kenal dia. Aku udah ketemu dia tiap minggu. Dia direktur operasional Willmore. Dia orangnya kaku banget, Pak. Dia nggak kayak Kak Ikal. Kak Ikal itu… Kak Ikal itu…”
Aku berhenti.
Kak Ikal itu apa?
Kak Ikal itu anak sebelas tahun di foto di dinding gabus. Kak Ikal itu anak yang ngasih aku telurnya. Anak yang ngajarin aku naik sepeda dan ikut lecet-lecet. Anak yang ngusir kecoak dari kamar mandi padahal dia sendiri takut. Anak yang dengerin semua rahasiaku di telinga kirinya dan bisikin balik iya, Kay, Kakak simpen.
Aku nggak tahu Kak Ikal dua puluh delapan tahun itu kayak apa.
Aku nggak pernah tahu.
“Dek,” kata Pak Bonar pelan. “Nama aslinya, kata Bu Yati, Haikal. Bu Yati pernah liat di amplop gaji yang ketinggalan di mejanya. Haikal. Mas Hal itu singkatan.”
Hal.
Haikal.
Ha-i-kal. Hal.
Aku nggak bisa napas.
Pak Bonar masih ngomong di telepon. Soal Bu Yati, soal amplop gaji, soal Mr Jake yang katanya ngangkat anak itu kayak anak sendiri. Aku nggak denger. Aku bilang makasih, Pak, entah dengan suara apa, terus aku nutup telepon.
Aku duduk di kursiku. Di depanku, layar laptop masih nunjukin muka Kostas yang membeku di tengah kalimat, dengan mulut terbuka dan alis terangkat.
Di sebelah laptop, ada buku catatan bunga matahariku, terbuka di halaman yang kutulis Senin malam.
Tanya Kak Hal: dua belas tahun lalu, ada anak laki-laki umur 16 tidur di kontainer Willmore?
Di sebelahnya, tanda tanya besar. Dan hati kecil yang kugambar tanpa alasan.
Aku ngeliatin halaman itu lama banget. Terus aku ketawa. Ketawa yang aneh, pendek, yang keluar dari hidung, kayak orang yang baru denger lelucon paling jahat sedunia.
Aku mau nanya ke dia. Aku mau nanya ke dia apakah dia pernah liat anak itu.
Aku buka kontak di ponselku. Kak Hal — Willmore. Jempolku ngambang di atas tombol telepon. Satu detik. Lima detik. Sepuluh.
Aku nggak bisa. Aku nggak tahu harus ngomong apa kalau dia ngangkat. Halo, Kak Hal, kamu kakakku, ya? Kayak orang gila. Atau lebih parah: gimana kalau dia ngangkat, terus suaranya tetep datar kayak biasa, terus dia bilang iya, Kay, kayak dia lagi ngonfirmasi nomor kontainer?
Aku nggak sanggup denger itu lewat telepon.
Aku teken kontak lain. Kak Safrina. Di Melbourne jam tujuh malam. Nada sambung. Sekali. Dua kali. Lima kali. Kotak suara.
Hi, you’ve reached Safrina Pratiwi. Please leave a message.
“Kak,” kataku setelah bunyi beep. Suaraku gemetar. “Kak, angkat. Tolong telepon balik. Aku… aku nemu Kak Ikal. Kayaknya aku nemu Kak Ikal. Dia di sini, Kak. Dia di sini dari awal. Dia…”
Suaraku pecah. Aku tutup telepon sebelum aku nangis di kotak suara kakakku.
Aku ninggalin kantor tanpa pamit siapa pun. Tanpa matiin laptop. Tanpa bawa tas. Aku cuma bawa ponsel dan dompet, dan aku lari keluar lewat pintu darurat karena lift-nya kelamaan.
Di luar, hujan.
Bukan hujan deras kayak hujan pertama minggu lalu. Hujan yang tipis tapi rapat, kayak tirai abu-abu yang digantung dari langit sampai ke aspal. Langit Surabaya warnanya kayak timah.
Aku nggak bawa payung. Mobilku masih di bengkel. Aku buka aplikasi ojek online pakai tangan yang gemetar banget sampai aku salah ketik tujuan tiga kali. Tanjung Perak. Tanjung Perak Willmore. Pelabuhan Tanjung Perak Jamrud.
Ojeknya dateng lima menit kemudian. Bapak-bapak berjas hujan kuning, motor bebek yang knalpotnya berisik.
“Mbak, nggak bawa jas hujan?”
“Nggak, Pak. Nggak apa-apa. Cepet aja, Pak.”
“Basah lho, Mbak.”
“Nggak apa-apa, Pak. Tolong.”
Bapak itu ngeliatin aku sebentar. Mungkin dia liat sesuatu di mukaku. Mungkin mataku udah merah. Dia nggak nanya lagi. Dia ngasih aku helm, terus ngelepas jas hujan kuningnya sendiri dan nyodorin ke aku.
“Pakai, Mbak. Saya udah biasa basah.”
Aku pakai jas hujan itu. Kebesaran, bau keringat dan bensin. Aku nggak peduli.
Motor itu melaju di bawah hujan. Air nyiprat dari genangan di jalan. Di lampu merah Jalan Indrapura, motornya masuk lubang dan airnya nyiprat sampai ke mukaku. Bapaknya minta maaf berkali-kali. Aku bilang nggak apa-apa berkali-kali. Aku bilang nanti aku kasih bintang lima. Aku bilang nanti aku kasih tip. Aku nggak tahu aku ngomong apa.
Di kepalaku, semuanya muter terus, kayak kaset yang kusut.
AC dua puluh enam derajat di ruang rapat. Kamu kedinginan. Kamu meluk lengan dari tadi. Pulpen yang dia ambilin tiga kali tanpa ketawa. Lilin angka yang dia benerin pelan-pelan, kayak itu hal paling penting sedunia.
Kak Hal punya saudara?
Nggak.
Mungkin dia udah lupa.
Dia bilang begitu. Di mobil itu. Pas hujan. Pas aku cerita soal Kak Ikal dan nunjukin kelingkingku dan bilang dia janji. Dia nyetir dengan muka datar dan bilang, mungkin dia udah lupa.
Dia duduk di sebelahku, ngedengerin aku cerita soal dirinya sendiri, dan bilang mungkin dia udah lupa.
Dan bisikan itu. Di dermaga. Aku jinjit dan bisikin makasih di telinga kirinya, persis kayak dulu, persis kayak tiap malam di ranjang di deket jendela waktu aku sembilan tahun.
Dia nggak nengok. Dia nggak gerak. Dia nggak jawab.
Dia denger. Pasti dia denger. Aku bisikin deket banget.
Dia denger, dan dia diem aja.
Dadaku sakit. Sakit yang aneh, bukan di kulit, bukan di tulang, tapi di bagian dalam, di tempat yang aku nggak tahu namanya. Kayak ada yang meremas sesuatu di sana pakai dua tangan.
Kenapa?
Kenapa dia diem?
Kenapa dia duduk di seberangku, makan telur dadar di depanku, nganterin aku pulang, niup lilin ulang tahunnya sendiri di depanku waktu aku nyanyi buat dia, dengerin aku cerita soal Bobo dua puluh menit di lantai ruang tengahku, ngeliatin fotonya sendiri di dinding gabusku…
Dan nggak bilang apa-apa?
Apa dia benci aku?
Apa Kak Safrina bener? Apa dia memang nggak mau dicari? Apa dia udah lupa, beneran lupa, dan aku cuma… aku cuma orang asing yang kebetulan tahu nama kecilnya?
Hujan masuk ke celah helmku, ngalir di pipiku. Aku nggak tahu mana yang air hujan dan mana yang bukan.
Motor berhenti di depan gerbang Pelabuhan Tanjung Perak jam empat kurang sepuluh. Aku turun, ngelepas jas hujan kuning, dan nyodorin balik ke bapak ojek bareng uang lima puluh ribu.
“Mbak, kembaliannya…”
“Nggak usah, Pak. Makasih jas hujannya. Makasih banyak.”
Aku lari.
Satpam di gerbang manggil aku, minta kartu identitas. Aku nunjukin kartu nama Arunika sambil terus lari. Satpamnya teriak sesuatu soal Mbak, nggak boleh lari di area pelabuhan. Aku nggak berhenti.
Aku lari ngelewatin kantor dokumen. Ngelewatin gang kecil yang ujungnya ada warung Bu Yati. Ngelewatin gudang tiga, tempat empat ratus bebek karet kuning disimpen. Ngelewatin lapangan penumpukan dengan ribuan kontainer warna-warni yang basah dan berkilau kena hujan.
Kaki kiriku keseret di aspal yang basah. Tuk, srek, tuk, srek. Sepatu kets putihku udah cokelat kena lumpur. Rambutku nempel di muka. Kemeja biru mudaku basah sampai tembus ke kulit.
Aku kedinginan. Aku selalu kedinginan.
Aku nggak peduli.
Aku sampai di dermaga Jamrud jam empat lewat lima.
Hujan masih turun. Crane-crane berhenti beroperasi. Orang-orang berompi oranye neduh di bawah atap gudang. Dermaga itu sepi dan abu-abu, dengan genangan-genangan air yang mantulin langit timah.
Kecuali satu orang.
Dia berdiri di ujung dermaga, di deket bolder besi tempat tali kapal diikat. Pakai jas hujan hitam panjang dan helm proyek putih. Dia lagi ngeliatin sebuah kapal yang bersandar, dengan tablet di tangan yang dilindungin plastik bening. Kepalanya sedikit miring ke kanan.
Sendirian. Di tengah hujan.
Aku berhenti lari.
Napasku tersengal. Dadaku naik-turun. Air hujan ngalir dari rambut ke mataku, dan aku kedip-kedip buat ngeliat dia lebih jelas.
Bahunya. Cara dia berdiri. Tangan kirinya di saku jas hujan. Kepalanya yang miring.
Anak sebelas tahun di foto di dinding gabus, yang nengok ke samping, ke arahku.
Anak tujuh belas tahun di foto di dinding warung, dengan tangan Mr Jake di bahunya.
Laki-laki dua puluh delapan tahun di ujung dermaga, sendirian, di bawah hujan.
Satu orang. Selama ini, cuma satu orang.
Aku mulai jalan ke arahnya. Pelan. Satu langkah. Dua langkah. Kaki kiriku keseret. Tuk, srek.
Dia belum liat aku. Aku dateng dari sebelah kirinya.
Aku berhenti tiga meter di belakangnya. Aku buka mulut.
Suaraku keluar kecil banget. Hampir kalah sama suara hujan di atas aspal. Suara anak sembilan tahun yang berdiri di depan pintu kaca keberangkatan bandara, dengan kelingking lengket karena permen dan sandal kuning dengan tali kiri yang hampir putus.
“Kak Ikal?”
- 1 Aku Baik
- 2 Mesin Fotokopi
- 3 Biar Ada yang Hidup di Sini
- 4 Kontainer
- 5 Ulang Tahun Palsu
- 6 Kayla Anindya Putri
- 7 Audit Perasaan
- 8 Kak Hal
- 9 Papan Pencarian
- 10 Telur Dadar
- 11 Kelingking
- 12 Foto di Ponsel
- 13 Sabar Ya
- 14 Bisikan
- 15 Haikal Ramadhan
- 16 Kue Tiga Tingkat
- 17 Laporan Detektif reading
- 18 Oh. Iya, Aku Tahu
- 19 Aku ke Sana
- 20 Tujuh Belas Kotak
- 21 Tanggal
- 22 Mbak Safrina
- 23 Jangan Telepon Lagi
- 24 Jatuh dari Sepeda
- 25 Punggung
- 26 Bangku Warung
- 27 Surat yang Dibuka
- 28 Aku yang Milih
- 29 Rasi Bintang
- 30 Dilihat 23.47
- 31 Kamu Juga Tahu?
- 32 Berhenti Bilang Baik
- 33 Nggak Ada yang Keluar
- 34 Namanya Bobo
- 35 Tabungan ke Melbourne
- 36 Hati-Hati
- 37 Don’t Be Me
- 38 Kapan Nyusul
- 39 Asal Kakak Masih Hidup
- 40 Telat Nyusul
- 41 Ibu
- 42 Hari ke-1
- 43 Epilog: Yang Kanan