← Hari ke-731

Chapter Thirty Eight

Kapan Nyusul

— Haikal —

Selotipnya sudah tidak lengket lagi.

Tujuh belas tahun. Selotip bening yang dulu ditempelkan tangan anak sepuluh tahun di sebuah rumah di Box Hill, Melbourne, sekarang kuning seperti kertas tua dan kehilangan semua daya rekatnya. Waktu ujung jariku menyentuh salah satu sudutnya, selotip itu terlepas sendiri, tanpa ditarik, seperti daun kering yang jatuh dari ranting.

Kertas kado bermotif robot biru itu terbuka sedikit di sudutnya.

Aku menatapnya.

Lalu aku membukanya. Pelan. Hati-hati. Aku tidak merobeknya. Aku membuka setiap lipatannya satu per satu, seperti Kayla dulu melipatnya, dengan sudut-sudut yang tidak lancip dan bagian yang menggembung seperti bantal. Bungkusannya jelek. Dia memang tidak pernah bisa membungkus kado dengan rapi.

Di dalamnya, kotak kardus berwarna kuning dan biru dengan tulisan bahasa Inggris. Gambar robot di depannya. Robot mainan plastik berwarna biru dan perak, setinggi telapak tangan, dengan lengan yang bisa diputar dan dada yang bisa dibuka.

Robot itu masih di dalam kotaknya. Masih terikat kawat plastik di pergelangan tangan dan kakinya. Tidak pernah dikeluarkan. Tidak pernah dimainkan.

Di atas kotak itu, ditempel dengan selotip yang juga sudah menguning, sebuah kertas yang dilipat dua.

Aku membukanya.


Kak Ikal!!!

Selamat ulang tahun yang ke-12!!!

Ini robot paling keren di toko mainan di Box Hill. Aku pilihnya lama banget. Ada yang merah, ada yang ijo, ada yang biru. Aku pilih yang biru soalnya Kakak suka biru. Kakak masih suka biru kan?

Lengannya bisa diputer! Dadanya bisa dibuka! Di dalemnya ada jantung kecil warna merah! Lucu!

Ibu bilang ongkos kirimnya mahal jadi kadonya aku simpen dulu. Nanti Kakak buka pas Kakak ke sini ya. Atau pas aku ke sana pas liburan.

Aku udah bisa renang lho Kak. Di sekolah ada kolam renang. Airnya dingin banget tapi aku berani.

Kak Ikal kapan nyusul?

Aku kangen.

Kay (10 tahun)

P.S. Bobo bilang selamat ulang tahun juga. Guk guk!


Aku membaca surat itu.

Tulisan tangan anak sepuluh tahun. Huruf-huruf besar yang miring ke kanan. Huruf a yang bulat sempurna, seperti yang diajarkan guru TK. Tanda seru di mana-mana. Di pojok kanan bawah kertas, gambar kecil bunga matahari dengan krayon kuning yang sudah pudar.

Kak Ikal kapan nyusul?

Aku melipat surat itu kembali dan meletakkannya di atas lantai, di sebelah kotak robot.

Aku menatap robot di balik plastik bening jendela kotaknya. Lengannya yang bisa diputar. Dadanya yang bisa dibuka. Di dalemnya ada jantung kecil warna merah.

Aku tidak membuka kotaknya. Aku tidak mengeluarkan robotnya.

Aku menarik kotak kedua.


Kertas kado bermotif dinosaurus. Hijau dan cokelat. Selotipnya juga sudah kuning.

Untuk Kak Ikal, ulang tahun ke-13.

Ulang tahunku yang ketiga belas. Hari aku mengumpulkan uang receh dari botol plastik bekas selama tiga minggu dan menelepon ke Melbourne dari telepon putih di warung Bu Warsih. Tiga kali. Mesin penjawab. Satu menit sisa di argo yang tidak pernah kupakai.

Di Melbourne, di hari yang sama, adikku membungkus kotak ini.

Isinya jam tangan. Jam tangan digital anak-anak, dengan tali karet berwarna biru tua dan layar kecil berbentuk persegi. Ada gambar kapal laut kecil di pinggir layarnya.

Layarnya mati. Baterainya sudah habis bertahun-tahun lalu.

Suratnya lebih pendek dari yang pertama.


Kak Ikal,

Selamat ulang tahun ke-13!

Ini jam tangan. Ada gambar kapalnya! Aku setel jamnya ke jam Melbourne. Biar Kakak tahu kalau di Semarang jam 3 sore, di sini udah jam 6 sore. Jadi Kakak tahu aku lagi ngapain. Jam 6 sore aku lagi makan malem. Jam 9 malem aku lagi tidur. Jam 7 pagi aku lagi berangkat sekolah.

Biar Kakak nggak ngerasa jauh.

Hari ini aku tiup lilin buat Kakak. Lilinnya angka 1 sama 3. Aku tiup dua kali soalnya yang pertama nggak mati semua.

Tadi telepon rumah bunyi tiga kali pas aku lagi nginep di rumah temen. Ibu bilang mungkin salah sambung. Kak Ikal ya? Kalau Kak Ikal, maaf aku nggak angkat. Aku nggak tahu. Nanti telepon lagi ya.

Kak Ikal kapan nyusul?

Kay (11 tahun)


Aku membaca baris itu.

Tadi telepon rumah bunyi tiga kali pas aku lagi nginep di rumah temen.

Dia tahu.

Atau tidak tahu. Dia menduga. Anak sebelas tahun di Melbourne yang pulang dari menginap di rumah temannya, mendengar dari Ibu bahwa telepon berdering tiga kali di rumah yang kosong, dan bertanya-tanya. Kak Ikal ya?

Nanti telepon lagi ya.

Aku tidak menelepon lagi. Malam itu, setelah Bu Warsih memuji Ayah di jalan, adalah malam yang paling buruk. Aku tidak pernah menelepon Melbourne lagi.

Dan di Melbourne, adikku menulis nanti telepon lagi ya di surat yang dia simpan di lemari bersama kado yang tidak pernah dikirim.

Aku memegang jam tangan biru tua dengan layar yang mati itu di telapak tanganku. Jam yang disetel ke waktu Melbourne. Supaya aku tahu jam berapa adikku makan malam. Jam berapa dia tidur.

Biar Kakak nggak ngerasa jauh.

Sesuatu terjadi di belakang mataku.

Bukan air mata. Belum. Seperti panas. Seperti ada yang menyalakan api kecil di belakang bola mataku, dan panasnya merambat pelan-pelan ke depan, ke kelopak, ke bulu mata.

Aku berkedip. Panasnya tidak hilang.

Aku meletakkan jam tangan itu di lantai, di sebelah robot. Aku menarik kotak ketiga.


Kertas kado bermotif bola sepak. Hitam dan putih.

Untuk Kak Ikal, ulang tahun ke-14.

Empat belas.

Tahun telingaku.

Isinya senter. Senter kecil berwarna kuning, seukuran jempol orang dewasa, dengan tali gantungan berbentuk bintang. Aku menekan tombolnya. Tidak menyala. Baterainya sudah lama mati, dan waktu aku membuka penutup belakangnya, ada bubuk putih yang keluar. Bocor.

Suratnya.


Kak Ikal,

Selamat ulang tahun ke-14.

Kak Safrina bilang dulu Kakak takut gelap. Waktu kecil Kakak selalu tidur dengan lampu kamar nyala. Aku nggak inget. Tapi Kak Safrina inget.

Jadi ini senter. Biar Kakak nggak takut kalau lampunya mati. Senternya kecil, bisa dikalungin.

Nanti kalau Kakak ke sini, aku tunjukin bintang di Melbourne. Beda lho sama di Semarang! Ada bintang yang bentuknya salib. Namanya Southern Cross. Guru IPA aku yang ngajarin.

Ibu bilang Kakak nggak mau dihubungi lagi. Ibu bilang Kakak yang minta sendiri.

Aku tetep beli kado. Nggak apa-apa kan?

Kalau Kakak marah sama aku, nggak apa-apa. Tapi jangan lupa sama aku.

Kak Ikal kapan nyusul?

Kay (12 tahun)

P.S. Aku janji nggak nyolong kerupuk lagi. Beneran.


Ada bintang yang bentuknya salib. Namanya Southern Cross.

Salib Selatan.

Di dek MV Margaret, di Laut Jawa, dua minggu lalu, Elena menunjuk sekelompok bintang dan bertanya itu apa. Aku bilang Biduk. Dia bilang bukan. Kami berdua tidak tahu. Rizal yang memberi tahu kami besok paginya: Salib Selatan, Pak. Southern Cross.

Adikku sudah tahu namanya waktu dia dua belas tahun. Dia ingin menunjukkannya kepadaku. Di langit Melbourne.

Dan aku melihatnya untuk pertama kalinya di Laut Jawa, di sebelah perempuan yang tidak tahu namanya juga, dan aku salah menyebutnya.

Jangan lupa sama aku.

Panas di belakang mataku semakin terasa. Tenggorokanku terasa sempit, seperti ada sesuatu yang tersangkut di sana, lebih besar dari duri ikan, lebih besar dari apa pun yang pernah tersangkut di sana sebelumnya.

Aku menelan. Tidak bisa.

Aku menelan lagi.

Aku memegang senter kecil kuning dengan tali gantungan berbentuk bintang di tangan kananku yang gemetar.

Aku tidak takut gelap. Aku tidak ingat pernah takut gelap. Tapi Kak Safrina ingat. Dan Kayla, dua belas tahun, membelikanku senter supaya aku tidak takut.

Malam aku umur empat belas, malam telinga kiriku pecah, lampu kamar di rumah kontrakan di ujung gang memang mati. Ayah mencopot bohlamnya dua bulan sebelumnya, waktu dia butuh bohlam untuk kamar mandinya sendiri dan tidak punya uang untuk membeli yang baru.

Aku berbaring di kamar yang gelap malam itu, dengan dengungan panjang di telinga kiri yang tidak mau berhenti, dan darah kering di dalam lubang telingaku.

Di Melbourne, di hari yang sama atau di hari yang tidak jauh dari itu, adikku membungkus senter kecil kuning.

Biar Kakak nggak takut kalau lampunya mati.

Aku meletakkan senter itu di lantai. Tanganku gemetar begitu hebat sampai senter itu jatuh dari jari-jariku dan menggelinding beberapa senti di atas keramik putih sebelum berhenti di sebelah jam tangan.


Kotak keempat.

Kertas kado bermotif bintang-bintang. Biru tua dengan bintang-bintang kecil warna emas yang sebagian sudah luntur.

Untuk Kak Ikal, ulang tahun ke-15.

Kotak ini lebih besar dari yang lain. Lebih ringan. Lunak waktu ditekan.

Aku membukanya.

Jaket.

Jaket anak laki-laki berwarna biru dongker, berbahan katun tebal, dengan tudung kepala dan resleting di depan. Di dada kirinya ada bordiran kecil berbentuk kapal layar putih. Ukurannya kecil. Ukuran anak lima belas tahun yang kurus.

Aku mengangkatnya dari kotaknya. Aku memegangnya di depanku.

Waktu umur lima belas, aku tidak punya jaket. Aku punya dua kaus lengan panjang yang kupakai bergantian setiap hari, bahkan di bulan Agustus, untuk menutupi lenganku. Kalau hujan, aku basah. Kalau dingin di malam hari, aku memeluk lututku sendiri.

Ibu mengirim uang untuk jaket. Kayla menceritakannya, sambil menangis, dari surat-surat di kardus Bu Warsih. Ibu selipin seratus dolar. Buat beli jaket. Semarang kan kadang hujan. Amplop kosong.

Dan Kayla, tiga belas tahun, membeli jaket dengan uangnya sendiri.

Suratnya.


Kak Ikal,

Selamat ulang tahun ke-15.

Ini jaket. Aku beli pakai uang tabunganku sendiri. Aku nabung dari uang jajan tiga bulan. Kak Safrina mau bantuin bayar tapi aku nggak mau. Aku mau beli sendiri.

Ada gambar kapalnya. Soalnya Kakak dulu suka gambar kapal di buku tulis. Inget nggak? Kapal-kapal kecil di pinggir halaman buku matematika. Bu guru marah tapi Kakak tetep gambar.

Semarang kalau hujan dingin kan Kak. Aku inget. Pakai jaket ya.

Aku nggak tahu Kakak udah segede apa sekarang. Aku kira-kira aja ukurannya. Kalau kekecilan maaf ya. Kalau kegedean, nanti Kakak tumbuh lagi.

Ibu udah nggak pernah ngomongin Kakak lagi. Kak Safrina juga. Kalau aku nanya, mereka diem. Jadi aku nggak nanya lagi. Tapi aku masih inget.

Aku masih inget kelingking di bandara.

Kak Ikal kapan nyusul?

Kak Ikal masih inget aku nggak?

Kay (13 tahun)


Kak Ikal masih inget aku nggak?

Aku memegang jaket biru dongker itu di depanku.

Kalau kekecilan maaf ya.

Aku memakainya.

Aku tidak tahu kenapa. Tanganku yang melakukannya. Aku memasukkan lengan kananku ke lengan jaket itu. Kainnya kaku karena tujuh belas tahun terlipat di dalam kotak. Lengannya hanya sampai di pertengahan lengan bawahku. Aku memasukkan lengan kiri. Sama. Jaket itu menggantung di bahuku, terlalu sempit, tidak bisa diresleting, bahunya tertarik ketat, ujung lengannya berhenti jauh di atas pergelangan tangan.

Jaket anak lima belas tahun. Di badan laki-laki dua puluh delapan tahun.

Aku duduk di lantai ruang tamu, jam dua belas lewat empat puluh malam, memakai jaket biru dongker yang kekecilan dengan bordiran kapal layar putih di dada, dikelilingi kertas kado robot dan dinosaurus dan bola sepak dan bintang-bintang, dengan robot yang masih di dalam kotaknya dan jam tangan yang layarnya mati dan senter yang baterainya bocor.

Dan empat surat. Dari empat tahun. Dengan pertanyaan yang sama di setiap surat.

Kak Ikal kapan nyusul?


Ada sesuatu yang retak.

Aku merasakannya. Bukan di kepala. Bukan di tangan. Di dada. Di tempat yang selama tujuh belas tahun kukira kosong.

Bukan pecah. Belum. Retak. Seperti lapisan es tipis di permukaan kolam yang sudah membeku sangat lama, dan seseorang meletakkan sesuatu yang hangat di atasnya. Sebuah batu kecil yang sudah dijemur di bawah matahari. Lalu satu lagi. Lalu satu lagi. Empat batu kecil. Robot, jam tangan, senter, jaket.

Esnya tidak pecah. Tapi aku mendengar bunyinya. Bunyi kecil, tajam, nyaris tidak terdengar, seperti bunyi gelas tipis yang diketuk dengan kuku.

Krek.

Aku meletakkan tangan di dadaku. Di atas bordiran kapal layar putih.

Panas di belakang mataku sekarang sudah sampai ke bulu mata. Aku bisa merasakannya. Basah. Sangat sedikit. Hanya di sudut mata kiri. Satu titik kecil yang tidak jatuh.

Aku tidak menyekanya. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengannya. Aku sudah dua belas tahun tidak merasakannya. Aku sudah lupa caranya.

Titik basah itu tetap di sana. Tidak jatuh. Tidak kering.


Aku menatap tiga belas kotak yang tersisa.

Kotak kelima, paling atas di tumpukan yang tadi kuturunkan. Kertas kado polos, warna biru tua. Kartunya ditulis dengan tulisan tangan yang sudah lebih rapi, lebih kecil, lebih dewasa.

Untuk Kak Ikal, ulang tahun ke-16.

Enam belas.

Tahun aku kabur.

Aku mengulurkan tangan ke arah kotak itu. Lengan jaket biru dongker yang kekecilan tertarik ke atas, memperlihatkan pergelangan tanganku dan garis-garis tipis yang sejajar di lengan bawah.

Ujung jariku menyentuh kertas kado biru tua itu.

Dan berhenti.

Lima senti. Tidak, bukan lima senti. Ujung jariku sudah menyentuhnya. Tapi tanganku berhenti di sana, menempel di atas kertas kado, gemetar, dan tidak mau bergerak lebih jauh.

Aku tahu, entah bagaimana, bahwa kotak ini berbeda.

Kotak ini dibeli di tahun yang sama aku meringkuk di dalam kontainer hijau berkarat, menutup kepala dengan dua tangan. Kotak ini dibungkus di Melbourne di hari ulang tahunku yang keenam belas, hari ketujuh aku tidur di kontainer itu, di hari aku makan satu bungkus nasi kucing yang kubeli dengan upah mengangkat dua truk semen.

Aku tidak tahu apa yang ada di dalamnya.

Tapi aku tahu, dengan cara yang tidak bisa kujelaskan, bahwa kalau aku membukanya, es di dadaku tidak akan hanya retak.

Jam di layar ponselku: dua belas lewat lima puluh delapan.

Jam satu kurang dua menit.

Aku menarik tanganku dari kotak itu. Pelan. Aku meletakkannya di atas lututku.

Aku duduk di sana, di lantai ruang tamu, dengan jaket biru dongker yang kekecilan dan satu titik basah di sudut mata kiri yang tidak mau jatuh, menatap kotak biru tua bertuliskan ke-16.

Aku belum siap.

Aku tidak tahu apakah aku akan pernah siap.

Di dekat jendela, sirih gading bergoyang pelan karena embusan AC. Di sebelahnya, dua lilin angka. 2 dan 8. Di sebelahnya lagi, kunci perak kecil dengan gantungan 2307.

Dan bebek karet kuning yang kuletakkan di sana tadi sore, menghadap ke arahku dengan mata hitam yang dicat.

Lima belas jam lagi, pesawat ke Melbourne berangkat dari Juanda.