Chapter Ten
Telur Dadar
— Haikal —
Hari Kamis, Kayla datang ke Tanjung Perak untuk kunjungan lapangan.
Kunjungan lapangan adalah prosedur standar untuk calon mitra baru. Mereka melihat dermaga, gudang, sistem bongkar muat, dan alur dokumen bea cukai, supaya tahu barang mereka akan ditangani oleh perusahaan yang benar-benar ada, bukan perusahaan yang hanya hidup di website. Biasanya kunjungan seperti ini dipandu oleh Mbak Rini dari tim operasional. Biasanya aku hanya muncul sepuluh menit di akhir untuk berjabat tangan.
Hari Kamis itu, aku memandu sendiri.
Mbak Rini menatapku dengan alis terangkat waktu aku bilang begitu di rapat pagi. Dia tidak bertanya. Tapi lima menit kemudian, ponselku bergetar karena grup Dermaga Ceria tiba-tiba ramai, dan aku tidak perlu membukanya untuk tahu kenapa.
Kayla datang jam sembilan, memakai kemeja lengan panjang biru muda, celana jins, sepatu kets putih, dan topi bisbol berwarna krem. Rambutnya dikuncir kuda. Di tangannya ada buku catatan kecil bersampul bunga matahari dan sebuah pulpen, yang dalam lima menit pertama sudah jatuh satu kali ke atas aspal dermaga.
“Pemanasan,” katanya sambil memungutnya. “Hari ini aku nggak bakal jatuhin lebih dari lima kali. Itu target.”
“Targetnya realistis.”
Dia tertawa. “Kak Hal ngeledek?”
“Nggak. Itu penilaian objektif.”
Mr Jake sudah menunggu di depan gudang tiga. Dia memakai topi pet wol yang sama, kemeja kotak-kotak, dan senyum yang terlalu lebar. Dia menjabat tangan Kayla dengan dua tangan, seperti menyambut cucu yang baru pulang dari luar negeri.
“Welcome! Welcome to Willmore! You’re the lovely girl from Melbourne!” Dia menoleh ke arahku dengan mata berbinar. “Hal told me everything about you.”
Aku tidak menceritakan apa pun tentang Kayla kepada Mr Jake.
“Oh ya?” Kayla menatapku dengan alis terangkat dan senyum geli. “Kak Hal cerita apa?”
“That you are very… very…” Mr Jake menjentikkan jari, mencari kata. “Very punctual.”
“Aku telat dua menit hari Senin.”
“Very punctual for a Melbournian,” ralat Mr Jake tanpa ragu. “Melbourne people are always late. I lived there for one year in 1979. Nobody was ever on time. The trams were late. The pubs opened late. My landlord was late to his own funeral.”
“Telat ke pemakamannya sendiri?”
“The hearse broke down.” Mr Jake menggeleng dengan ekspresi duka mendalam. “Very sad. Very Melbourne.”
Kayla tertawa sampai topinya miring. Mr Jake terlihat sangat puas dengan dirinya sendiri.
Aku memperhatikan mereka berdua. Bos yang menemukanku di kontainer dua belas tahun lalu, dan adik yang kutinggalkan di bandara tujuh belas tahun lalu, tertawa bersama di depan gudang tiga, di bawah terik matahari jam sembilan pagi.
Aku tidak merasakan apa-apa tentang itu. Aku hanya mencatatnya. Seperti mencatat nomor kontainer.
Tur dermaga berlangsung dua jam.
Aku menunjukkan semuanya. Dermaga Jamrud dengan enam crane yang berjajar. Lapangan penumpukan peti kemas dengan sistem penomoran blok. Gudang tiga, gudang lima, gudang tujuh, masing-masing dengan fungsi berbeda. Kantor dokumen tempat Pak Darto dari bea cukai sedang makan pisang goreng sambil membaca koran, dan langsung berdiri tegak saat melihat Mr Jake.
Kayla mencatat semuanya di buku bunga mataharinya. Dia bertanya banyak sekali. Pertanyaan yang bagus, tajam, yang menunjukkan dia benar-benar mengerti bisnis ini. Berapa lama waktu tunggu rata-rata kapal di alur? Bagaimana prosedur kalau ada kontainer rusak di tengah perjalanan? Apa sistem asuransi muatan yang dipakai Willmore?
Dia menjatuhkan pulpennya empat kali selama tur. Aku mengambilkannya empat kali.
Di dekat crane nomor tiga, Cak Tarno melambai dari kabinnya. Kayla melambai balik dengan sangat bersemangat, dan Cak Tarno, yang tidak pernah melambai kepada siapa pun kecuali aku, tersenyum begitu lebar sampai kumisnya naik.
Di dekat ruang istirahat kru, Ucup muncul entah dari mana dengan rompi oranye yang, untuk pertama kalinya dalam sejarah, dikancingkan dengan rapi. Rambutnya disisir ke samping dengan minyak rambut yang terlalu banyak sampai berkilau di bawah matahari.
“Selamat pagi, Mbak,” katanya kepada Kayla dengan suara yang tiba-tiba sangat berat dan sangat dalam, seperti penyiar radio malam. “Nama saya Yusuf. Tapi teman-teman panggil saya Ucup. Mbak boleh panggil saya apa aja.”
“Halo, Ucup!” Kayla menjabat tangannya. “Aku Kayla.”
“Kayla.” Ucup mengulangi nama itu seperti mengucapkan nama bunga langka. “Nama yang indah. Mbak Kayla sudah…”
Sebuah tangan besar mendarat di belakang kepala Ucup dengan bunyi plak. Kapten Lukas, yang entah sejak kapan berdiri di belakangnya, menarik kerah rompi Ucup dan menyeretnya mundur.
“Maaf, Nona,” kata Kapten Lukas dengan suara yang menggelegar. “Anak ini kurang gizi. Otaknya belum berkembang sempurna. Silakan dilanjut turnya.”
“KAPTEN, SAYA BELUM SELESAI NGOMONG…”
“Kau sudah selesai, Ucup. Kau sudah selesai sejak lahir.”
Kayla tertawa sampai harus berpegangan pada lenganku supaya tidak jatuh.
Tangannya di lenganku. Ringan, hangat, hanya dua detik.
Lalu dia melepaskannya, menyeka air mata tawa di sudut matanya, dan kembali mencatat di buku bunga mataharinya.
Jam dua belas, Mr Jake mengajak makan siang.
“Ada warung enak di dekat sini,” katanya. “Warung Bu Yati. Hal makan di sana setiap hari. Twelve years. Same warung. Same table. Very boring man.”
Warung Bu Yati adalah warung nasi sederhana di gang kecil di belakang kantor dokumen pelabuhan. Atapnya seng, lantainya semen, mejanya kayu panjang dengan bangku tanpa sandaran. Di etalase kacanya berjajar wadah-wadah berisi lauk: ayam goreng, ikan tongkol balado, tempe orek, sayur lodeh, perkedel, dan tumpukan telur dadar yang tebal dan kecokelatan di pinggirnya.
Aku memang makan di sini setiap hari, di meja yang sama, di pojok dekat kipas angin. Biasanya aku memesan nasi rawon, karena rawon Bu Yati enak dan karena aku tidak suka memikirkan pilihan makanan. Rawon setiap hari berarti satu keputusan yang tidak perlu kubuat lagi.
Kayla berdiri di depan etalase kaca dengan mata berbinar seperti anak kecil di toko mainan.
“Ya ampun, ada telur dadar.” Dia menunjuk tumpukan telur di pojok etalase. “Bu, nasi telur dadar satu, ya. Sama sambal. Sambalnya yang banyak.”
Bu Yati mengangguk dan menyendokkan nasi.
“Nasi telur dadar,” kataku kepada Bu Yati.
Bu Yati berhenti menyendok. Dia menatapku dengan wajah orang yang baru saja melihat kambing bicara bahasa Prancis.
“Mas Hal? Nggak rawon?”
Aku diam. Aku tidak tahu kenapa aku memesan itu. Kata-kata itu keluar sendiri.
“Telur dadar, Bu,” ulangku.
Bu Yati menatapku dua detik lagi, lalu menyendokkan nasi tanpa berkomentar. Tapi aku melihatnya melirik ke arah Kayla, lalu ke arahku lagi, dan aku tahu bahwa besok pagi seluruh gang ini akan tahu Mas Hal pesan telur dadar untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun, waktu makan bersama seorang perempuan dari Melbourne.
Mr Jake memesan ayam goreng. “Dan sambal,” tambahnya dengan nada orang yang sedang mengambil keputusan besar dalam hidupnya.
Aku menoleh. “Bapak nggak makan sambal, Pak.”
“Today, I eat sambal.”
“Bapak sudah tiga puluh lima tahun di Surabaya dan belum pernah makan sambal.”
“Margaret didn’t allow it,” katanya dengan penuh harga diri. “She said my stomach was too English. But Margaret isn’t here, and today I am brave. Today I am Indonesian.”
Kami duduk di meja kayu panjang di pojok dekat kipas angin. Kayla duduk di seberangku, dan Mr Jake di sebelahnya, sisi kanannya menghadap ke arahku. Kipas angin di dinding berderit pelan setiap kali berputar ke kiri.
Kayla makan dengan cara yang sama seperti dulu. Dia memisahkan telur dadarnya dulu dari nasi, memotongnya jadi beberapa bagian kecil dengan sendok, lalu memakannya satu per satu sebelum menyentuh nasinya. Bagian terbaik dimakan duluan, biar nggak keburu dicuri orang, katanya dulu. Padahal tidak ada yang pernah mencuri telurnya.
Kecuali aku. Dan aku tidak pernah mencurinya. Aku malah selalu memberinya.
Mr Jake menyendok sambal dalam jumlah yang sangat berani, mencampurnya dengan nasi dan ayam, lalu memasukkannya ke mulut dengan ekspresi heroik.
Selama tiga detik, tidak ada yang terjadi.
Lalu wajah Mr Jake berubah warna. Dari putih kemerahan menjadi merah, dari merah menjadi merah tua, dan dari merah tua menjadi warna yang hanya bisa digambarkan sebagai ungu terong. Matanya membelalak. Telinganya, sungguh, telinganya memerah. Keringat muncul di dahinya seperti embun pagi.
“Bloody hell,” bisiknya dengan suara serak. “Bloody, bloody hell.”
Dia meraih gelas es teh di depannya dan meminumnya habis dalam satu tegukan. Lalu dia meraih gelas es teh milikku dan meminumnya juga. Lalu dia menatap gelas es teh milik Kayla dengan tatapan memohon.
Kayla, yang sudah menangis karena tertawa, mendorong gelasnya ke arah Mr Jake. Mr Jake meminumnya juga.
“Margaret,” kata Mr Jake terengah-engah, menatap langit-langit warung yang beratap seng, “you were right. You were so right. I’m sorry I ever doubted you.”
Bu Yati datang dari balik etalase dengan tiga gelas es teh baru dan sepiring timun iris tanpa diminta. Dia meletakkannya di depan Mr Jake dengan senyum penuh pengertian, seperti perawat yang merawat korban perang.
“Timun, Pak Jake. Biar adem.”
“Bu Yati, you are an angel. I will put you in my will.”
Kayla tertawa sampai menunduk, memegang perutnya, kuncir kudanya bergoyang-goyang.
Di tengah tawanya itu, sendoknya mengambil potongan terakhir telur dadarnya. Dia mengunyahnya pelan-pelan, menikmatinya, lalu menatap nasinya yang masih utuh dengan ekspresi sedikit sedih, seperti orang yang baru saja menghabiskan bagian terbaik dari film dan sekarang harus menonton sisanya yang membosankan.
Dan tanganku bergerak.
Aku tidak menyuruhnya. Aku tidak memikirkannya. Tanganku mengambil sendok, memotong telur dadar di piringku yang belum kusentuh sama sekali, lalu memindahkan seluruh telur itu, utuh, ke atas nasi di piring Kayla.
Gerakan itu sangat lancar. Sangat otomatis. Seperti gerakan tanganku menutup kepala saat pintu kontainer dibuka dua belas tahun lalu. Sebuah gerakan yang tidak lahir dari pikiran, tapi dari sesuatu yang lebih tua dan lebih dalam dari pikiran.
Kayla menatap telur di piringnya. Lalu menatapku.
“Eh?” Matanya membulat. “Kak Hal nggak suka telur?”
Kak Ikal nggak suka telur?
Aku sembilan, dia tujuh. Dapur rumah kami di Semarang, pagi hari sebelum sekolah. Ibu menggoreng telur di wajan kecil yang pegangannya sudah longgar dan harus dipegang pakai lap. Uang sedang sulit bulan itu. Ayah baru di-PHK, dan Ibu belum dapat kerja di klinik. Satu telur untuk satu anak, dipotong tiga dari satu telur dadar besar. Kak Safrina dapat satu potong, aku satu, Kayla satu.
Kayla selalu menghabiskan telurnya duluan. Lalu dia akan menatap nasinya dengan sedih.
Lalu aku akan memindahkan telurku ke piringnya.
Dan dia akan bertanya, dengan mulut penuh, mata bulat, Kak Ikal nggak suka telur?
Dan aku akan menjawab…
“Udah kenyang,” kataku.
Kayla tersenyum lebar. Senyum yang sama persis. Dengan saus sambal di sudut bibir yang sama persis.
“Ih, Kak Hal baik banget,” katanya. “Makasih, ya!”
Dan dia memakan telur itu dengan bahagia, satu potong demi satu potong, tanpa tahu, tanpa curiga, tanpa mengingat apa pun. Karena untuk Kayla, telur itu cuma kebaikan kecil dari rekan bisnis yang sopan. Pertanyaan itu cuma basa-basi. Jawaban itu cuma jawaban.
Dia tidak ingat.
Tentu saja dia tidak ingat. Dia tujuh tahun waktu itu. Ingatan anak tujuh tahun tentang sarapan pagi tidak bertahan dua puluh tahun. Hanya aku yang ingat, karena hanya aku yang memberikan.
Di sebelahnya, Mr Jake berhenti mengunyah timun. Matanya berpindah dari piring Kayla ke wajahku, lalu kembali ke piring Kayla. Alisnya terangkat begitu tinggi sampai hampir menyentuh topi petnya.
Aku menunduk dan makan nasiku. Nasi putih, dengan sedikit sambal, tanpa lauk.
Waktu di rumah Ayah, setelah Ibu dan mereka pergi, tidak ada telur.
Uang Ayah habis untuk botol. Kadang beras pun tidak ada. Hari-hari seperti itu, aku makan di warung Bu Warsih kalau ada uang receh, atau tidak makan sama sekali kalau tidak ada. Pernah tiga hari berturut-turut aku hanya minum air keran dan mengunyah daun jambu di belakang rumah supaya perutku berhenti berbunyi di kelas.
Di hari-hari seperti itu, aku memikirkan Kayla.
Aku membayangkan Kayla di Melbourne, di dapur yang bersih dan hangat, di depan piring besar penuh makanan. Telur dadar yang tebal dan utuh, satu telur untuk dia sendiri, tidak dipotong tiga. Mungkin dua telur. Mungkin dengan roti panggang dan susu cokelat dan sosis seperti di iklan-iklan sarapan di televisi.
Aku tidak iri. Aku ingat itu dengan jelas. Di tengah lapar yang membuat kepalaku pusing, aku tidak iri.
Aku senang.
Aku senang dia makan telur. Aku senang setidaknya satu dari kami tidak lapar.
Itu, kurasa, adalah hal terakhir yang benar-benar kurasakan untuk Kayla sebelum semua rasa itu mulai pergi, pelan-pelan, satu per satu, seperti lampu-lampu rumah yang dimatikan satu demi satu menjelang tengah malam.
Setelah makan siang, Kayla pamit dengan buku bunga mataharinya penuh catatan. Dia menjabat tangan Mr Jake, yang wajahnya masih merah. Dia melambai ke Bu Yati. Dia menjatuhkan pulpennya untuk kelima kali di depan pintu warung. Dia mengumumkan bahwa dia mencapai target, lalu tertawa, lalu menjabat tanganku.
“Makasih buat hari ini, Kak Hal. Sama makasih buat telurnya.” Dia nyengir. “Nanti gantian, ya. Aku traktir.”
“Nggak usah.”
“Harus. Aku nggak suka utang.” Dia menunjukku dengan pulpen yang baru dipungutnya. “Utang telur harus dibayar telur.”
Tuk, srek, tuk, srek. Dia berjalan ke parkiran.
Mr Jake berdiri di sebelahku, di sisi kanan, mengipasi wajahnya dengan topi pet. Dia menatap punggung Kayla yang menjauh, lalu menatapku dengan ekspresi yang sangat serius. Ekspresi yang biasanya ia pakai saat membaca laporan kerugian.
“Hal,” katanya pelan.
“Ya, Pak?”
“Twelve years. Twelve years you eat rawon. Every single day. Same warung, same table, same rawon.” Dia berhenti mengipas. “Today you order telur dadar. And then you give it away to a girl you met four days ago.”
Aku diam.
“Hal,” kata Mr Jake, dengan nada yang sangat dalam dan sangat tidak setuju, “what about Elena?”
Aku menatapnya.
Dia menatapku.
Lalu dia memakai lagi topi petnya, menggeleng-geleng kepala dengan kecewa, dan berjalan ke kantor sambil bergumam sendiri dalam bahasa Inggris. Two years, I’ve been building this. Two years. The plant, the blanket, the water heater. And he gives his egg to the Melbourne girl.
Aku berdiri di depan Warung Bu Yati sendirian.
Perutku berbunyi. Pelan.
Aku lapar. Aku hanya makan nasi putih dengan sedikit sambal. Telurnya kuberikan.
Aku berdiri di sana, di bawah matahari jam satu siang, dengan perut lapar dan dada kosong. Untuk sesaat yang sangat singkat, aku sembilan tahun lagi, di dapur yang sempit di Semarang, dan Ibu sedang memegang wajan yang pegangannya longgar, dan Kayla sedang tersenyum dengan sambal di sudut bibir.
Udah kenyang.
Aku selalu berbohong soal itu.
Aku tidak pernah benar-benar kenyang.
- 1 Aku Baik
- 2 Mesin Fotokopi
- 3 Biar Ada yang Hidup di Sini
- 4 Kontainer
- 5 Ulang Tahun Palsu
- 6 Kayla Anindya Putri
- 7 Audit Perasaan
- 8 Kak Hal
- 9 Papan Pencarian
- 10 Telur Dadar reading
- 11 Kelingking
- 12 Foto di Ponsel
- 13 Sabar Ya
- 14 Bisikan
- 15 Haikal Ramadhan
- 16 Kue Tiga Tingkat
- 17 Laporan Detektif
- 18 Oh. Iya, Aku Tahu
- 19 Aku ke Sana
- 20 Tujuh Belas Kotak
- 21 Tanggal
- 22 Mbak Safrina
- 23 Jangan Telepon Lagi
- 24 Jatuh dari Sepeda
- 25 Punggung
- 26 Bangku Warung
- 27 Surat yang Dibuka
- 28 Aku yang Milih
- 29 Rasi Bintang
- 30 Dilihat 23.47
- 31 Kamu Juga Tahu?
- 32 Berhenti Bilang Baik
- 33 Nggak Ada yang Keluar
- 34 Namanya Bobo
- 35 Tabungan ke Melbourne
- 36 Hati-Hati
- 37 Don’t Be Me
- 38 Kapan Nyusul
- 39 Asal Kakak Masih Hidup
- 40 Telat Nyusul
- 41 Ibu
- 42 Hari ke-1
- 43 Epilog: Yang Kanan