Chapter Nineteen
Aku ke Sana
— Kayla —
Aku nggak inget perjalanan pulangnya.
Aku inget payung biru tua di atas kepalaku. Aku inget tangan Elena di punggungku, hangat, nggak berhenti ngusap. Aku inget jok kulit mobil Elena yang dingin dan langsung basah begitu aku duduk. Aku inget AC mobilnya dimatiin, kipasnya dikecilin, dan Elena ngelepas kardigan abu-abunya terus nutupin kakiku.
Aku inget jas hujan hitam masih nempel di bahuku. Jas hujan Kak Ikal. Baunya hujan, solar, dan sesuatu yang lain, sabun batangan murah yang wanginya kayak kayu. Aku nggak ngelepasnya. Aku meluk jas hujan itu di jok penumpang kayak anak kecil meluk boneka.
Elena nggak ngomong apa-apa sepanjang jalan. Sesekali dia ngelirik aku. Sesekali tangannya ngelepas setir dan nepuk lututku, sebentar, terus balik lagi ke setir.
Aku nangis terus. Nggak keras lagi. Tangis yang pelan, yang keluar sendiri kayak keran bocor, yang nggak bisa dihentiin walaupun kamu udah capek.
Kontraknya jadi kita tanda tangan Kamis?
Di lampu merah Jalan Indrapura, aku ketawa. Tiba-tiba aja. Ketawa yang keluar dari hidung, terus berubah jadi isakan di tengah-tengah.
Elena nengok. “Kay?”
“Kontrak,” kataku. “Dia nanya soal kontrak, El. Aku bilang Kak Ikal, terus dia nanya soal kontrak.”
Elena nggak jawab. Dia ngeliatin aku dengan mata yang aneh. Mata yang nggak bisa kubaca. Sedih, tapi bukan cuma sedih. Ada sesuatu lagi di bawahnya. Sesuatu yang kayak… bersalah?
Lampunya ijo. Elena balik ngeliat jalan.
Aku nggak mikirin itu lagi. Waktu itu aku nggak bisa mikirin apa pun.
Pak Sutris berdiri di lobi tower apartemenku waktu mobil Elena berhenti di depan pintu kaca.
Dia ngeliat aku keluar dari mobil. Basah kuyup, rambut nempel di muka, mata bengkak, jas hujan hitam laki-laki kebesaran di bahu, sepatu kets cokelat berlumpur. Dia nggak ngomong apa-apa. Dia cuma buka pintu kaca lebar-lebar dan nunggu sampai aku lewat.
Lima belas menit kemudian, waktu aku baru keluar dari kamar mandi dengan rambut dibungkus handuk dan badan dibungkus selimut, bel apartemenku bunyi.
Pak Sutris. Dengan gelas plastik berisi cairan cokelat keemasan yang masih ngepul.
“Wedang jahe, Mbak,” katanya sambil nyodorin gelas itu ke Elena yang buka pintu. “Dari pos satpam. Bikinan istri saya. Mbak Bule tadi pulang basah kuyup kayak kucing kecemplung got. Nanti masuk angin.”
Elena nerima gelas itu. “Makasih banyak, Pak.”
Pak Sutris ngelirik ke dalam apartemen, ke arahku yang lagi duduk di sofa kayak kepompong selimut. Matanya lembut. Dia nggak nanya apa-apa.
“Mbak Bule,” katanya, cukup keras buat kedengeran dari pintu. “Saya nggak tahu Mbak kenapa. Tapi kalau ada yang nyakitin Mbak, bilang saya. Saya mantan Linmas.”
Aku ketawa. Ketawa beneran, kali ini, walaupun cuma sebentar dan langsung berubah jadi isak lagi.
“Makasih, Pak Sutris.”
Dia ngangguk, terus pergi.
Elena nutup pintu dan nyodorin wedang jahe itu ke aku. Gelasnya anget di tanganku yang masih dingin. Aku nyesep pelan-pelan. Pedes, manis, panas, ngalir ke tenggorokan sampai ke perut.
“Aku beliin martabak juga,” kata Elena, ngeluarin kotak kardus dari tas belanjaan yang entah kapan dia beli. “Tadi pas kamu mandi aku turun bentar ke depan. Martabak manis. Keju cokelat kacang.”
Aku ngeliatin kotak itu.
“Aku nggak suka kacang,” kataku pelan.
Elena berhenti. “Oh.”
“Kak Ikal tahu aku nggak suka kacang,” lanjutku, dan suaraku mulai goyah lagi. “Waktu kecil, tiap Ibu beliin martabak, Kak Ikal yang misahin kacangnya satu-satu dari bagianku. Pakai tusuk gigi. Satu-satu. Lama banget. Kak Safrina ngetawain dia. Tapi dia tetep misahin.”
Elena nggak bilang apa-apa. Dia duduk di lantai di depan sofa, buka kotak martabak itu, ngambil tusuk gigi dari laci dapur, dan mulai misahin kacang dari potongan martabak paling pinggir. Satu-satu. Pelan-pelan.
Aku ngeliatin dia ngelakuin itu dan nangis lagi.
Jam delapan malam, ponselku bunyi.
Kak Safrina.
Di Melbourne jam sebelas. Kak Safrina pasti baru keluar dari pengadilan, atau baru selesai baca berkas, atau baru denger pesan suaraku yang kutinggalin jam tiga sore tadi dengan suara yang pecah.
Aku ngeliatin layar itu. Elena ngeliatin aku.
“Mau aku keluar dulu?” tanyanya pelan.
Aku geleng. “Di sini aja. Tolong.”
Aku angkat teleponnya.
“Kay.” Suara Kak Safrina. Cepet, tegang, nggak kayak biasanya. “Kay, aku baru denger pesanmu. Aku di sidang dari siang. Kamu di mana? Kamu nggak apa-apa? Kamu bilang kamu nemu…”
“Aku nemu Kak Ikal.”
Hening.
Hening yang panjang banget. Aku bisa denger suara mobil lewat di belakang Kak Safrina. Dia pasti lagi di parkiran gedung pengadilan, berdiri di samping mobilnya, dengan berkas di satu tangan dan ponsel di tangan lain.
“Di mana?” Suaranya sekarang kecil. Kecil banget.
“Di sini. Di Surabaya. Kak, dia… dia di sini dari awal.” Kata-kata itu mulai keluar sendiri, tumpah-tumpah, nggak berurutan. “Dia kerja di Willmore. Perusahaan yang jadi klienku. Dia direktur operasionalnya. Namanya Hal. Semua orang manggil dia Hal. Aku udah ketemu dia sebulan, Kak. Sebulan. Dia duduk di depan aku di ruang rapat. Dia anterin aku pulang. Dia… dia niup lilin ulang tahunnya sendiri di depan aku dan aku nggak tahu. Aku nggak tahu, Kak. Aku nggak ngenalin dia.”
“Kay…”
“Tapi dia tahu.” Suaraku naik. Elena ngulurin tangan dan megang lututku. “Dia tahu dari awal, Kak. Dari email pertama. Dia tahu aku adiknya, dan dia diem aja. Sebulan. Dan tadi, waktu aku dateng ke dia, waktu aku manggil dia Kak Ikal, dia bilang oh, iya, aku tahu. Kayak… kayak aku cuma nanya nomor kontainer. Terus dia nanya soal kontrak. Kontrak, Kak.”
Kak Safrina nggak ngomong apa-apa. Aku cuma denger napasnya. Napasnya aneh. Pendek-pendek. Kayak orang yang lagi nahan sesuatu.
“Aku tunjukin kelingking,” lanjutku, sekarang sambil nangis lagi. “Aku bilang Kakak janji. Dia ngeliatin kelingking aku. Lama. Terus dia nggak ngapa-ngapain. Dia nggak ngaitin. Aku bisikin dia di telinga kiri minggu lalu, kayak dulu, dan dia pura-pura nggak denger. Aku tanya dia benci aku? Dia bilang nggak. Aku tanya dia marah? Nggak. Terus kenapa? Dia bilang dia nggak punya apa-apa buat dikasih ke aku.”
Aku narik napas. Napasku goyah.
“Terus dia ngelepas jas hujannya, Kak. Dia pakein ke aku. Soalnya aku kedinginan.” Aku ketawa lagi, ketawa yang jelek. “Dia masih inget aku gampang kedinginan. Dia masih inget. Tapi dia nggak mau jadi kakakku.”
Hening.
Lalu, dari jarak enam ribu kilometer, dari parkiran gedung pengadilan di Melbourne, aku denger suara yang belum pernah kudenger seumur hidupku.
Kak Safrina nangis.
Bukan nangis keras. Kak Safrina nggak pernah nangis keras. Dia nangis kayak dia ngelakuin semua hal lain: rapi, tertahan, dengan gigi dikatupin. Tapi aku denger. Napas yang tersendat-sendat. Satu isakan kecil yang lolos sebelum dia sempet nutup mulutnya.
“Kak?”
“Aku di sini.” Suaranya serak. “Aku di sini, Kay.”
“Kakak bilang dia nggak mau dicari.” Kalimat itu keluar sebelum aku bisa nahan. Kalimat yang jahat. Kalimat yang udah nunggu dari tadi di ujung lidahku. “Kakak bilang dia udah nggak mau dicari. Kakak bener. Kakak bener, Kak. Puas?”
Aku langsung nyesel. Begitu kalimat itu keluar, aku langsung nyesel.
Tapi Kak Safrina nggak marah. Kak Safrina nggak bales. Kak Safrina cuma diem lama banget, terus ngomong dengan suara yang paling pelan yang pernah kudenger dari dia.
“Aku nggak pernah pengin bener soal ini, Kay,” katanya. “Nggak pernah.”
Aku nutup mataku. Air mata ngalir dari ujung-ujungnya.
“Maaf, Kak,” bisikku. “Maaf. Aku nggak maksud.”
“Nggak apa-apa.” Suara Kak Safrina pelan. “Kay. Dengerin aku.”
“Iya.”
“Aku ke sana.”
Aku buka mata.
“Apa?”
“Aku ke sana. Ke Surabaya.” Suaranya sekarang lebih tegas. Suara pengacara. Suara orang yang udah ambil keputusan dan nggak bisa diganggu gugat. “Aku cek penerbangan malam ini. Aku minta cuti ke kantor besok pagi. Aku ke sana secepatnya.”
“Kak, kerjaan Kakak…”
“Kerjaanku bisa nunggu.”
“Kakak nggak pernah cuti. Kakak bilang ada tiga kasus yang…”
“Kay.” Dia motong. “Kerjaanku bisa nunggu. Ikal udah nunggu cukup lama.”
Aku nggak ngerti maksudnya waktu itu. Ikal udah nunggu cukup lama. Aku kira dia ngomongin aku, yang nyari Kak Ikal sembilan tahun. Aku kira dia salah ngomong karena capek.
Aku baru ngerti jauh, jauh kemudian.
“Jangan bilang Ibu dulu,” kata Kak Safrina. “Ibu lagi banyak shift. Ibu udah capek. Kalau Ibu tahu sekarang, Ibu bakal langsung terbang, dan Ibu nggak boleh terbang kalau tekanan darahnya lagi naik. Kita urus dulu. Kita berdua. Nanti baru kita bilang Ibu. Oke?”
“Oke,” bisikku.
“Kamu udah makan?”
Aku ngeliatin martabak di lantai, yang kacangnya udah dipisahin sebagian sama Elena pakai tusuk gigi.
“Udah,” kataku. “Ada temen di sini.”
“Siapa?”
“Elena. Dari Willmore. Temenku.”
“Oke.” Kak Safrina diem sebentar. “Bilang makasih ke dia dari aku.”
“Iya.”
“Tidur, Kay. Aku kabarin jadwal penerbanganku.”
“Kak.”
“Hm?”
“Kakak tadi nangis.”
Hening.
“Nggak,” kata Kak Safrina. “Itu cuma angin. Di parkiran sini anginnya kenceng.”
Klik.
Aku taruh ponsel di sofa. Elena masih duduk di lantai di depanku, dengan tusuk gigi di tangan dan tumpukan kecil kacang tanah di atas tisu di sebelahnya.
“Kakakku mau ke sini,” kataku.
“Aku denger.” Elena senyum. Senyumnya tipis, capek. “Kakak kamu kayaknya keren.”
“Kak Safrina itu…” Aku nyari kata. “Kak Safrina itu kayak tembok. Tinggi, keras, nggak bisa ditembus. Dia nggak pernah nangis. Aku nggak pernah liat dia nangis, sejak di pesawat ke Melbourne waktu aku sembilan tahun. Dia nggak nangis waktu Bobo mati. Dia nggak nangis waktu Ayah meninggal. Dia nggak nangis waktu wisuda S2. Dia nggak pernah nangis.”
“Tapi tadi dia nangis.”
“Tadi dia nangis.” Aku ngeliatin ponselku. “Dan dia bilang itu angin.”
Elena ketawa pelan. Terus berhenti. Terus ngeliatin tumpukan kacang di tisu dengan ekspresi yang lagi-lagi nggak bisa kubaca.
“Kay,” katanya.
“Hm?”
Dia buka mulut. Nutup lagi. Kayak orang yang mau ngomong sesuatu yang penting, terus berubah pikiran di detik terakhir.
“Nggak,” katanya akhirnya. “Nggak apa-apa. Habisin martabaknya. Kacangnya udah aku pisahin.”
Aku ngambil sepotong martabak dari pinggir. Bersih. Nggak ada kacang sama sekali. Keju, cokelat, dan bekas-bekas kecil tempat kacangnya dulu ada.
Aku makan pelan-pelan.
Rasanya kayak martabak waktu aku delapan tahun.
Elena pulang jam sepuluh. Dia meluk aku di pintu, lama, terus bilang telepon aku kapan aja, jam berapa aja. Aku bilang iya. Dia pergi.
Aku sendirian di apartemen.
Aku berdiri di depan dinding gabus.
Peta-peta. Pin-pin warna-warni. Benang wol merah. Kertas-kertas tempel kuning dengan tulisan tanganku. Dan di tengah-tengah, di titik paling tinggi, foto Kak Ikal sebelas tahun yang nengok ke samping, ngeliatin aku.
Dan pin merah kecil di peta Tanjung Perak. Willmore?
Aku ngambil spidol merah. Aku coret tanda tanyanya.
Willmore.
Terus aku nulis di bawahnya, kecil-kecil:
Ketemu. Dia di sini dari awal.
Aku ngeliatin tulisan itu. Terus aku ngeliatin kertas tempel lain, yang ada di sebelahnya, yang kutulis berminggu-minggu lalu pas Pak Bonar nelepon soal Pak Karyo.
Kayak anak yang biasa dipukul. — NGGAK MUNGKIN. Kak Ikal nggak pernah dipukul. Kak Ikal sendiri yang bilang.
Aku ngeliatin kertas itu lama.
Untuk pertama kalinya, kalimat NGGAK MUNGKIN itu kerasa… goyah. Kayak papan yang dipaku miring. Kayak ada yang salah sama kalimat itu, tapi aku nggak tahu apa.
Aku nggak nyabut kertas itu. Aku juga nggak nambahin apa-apa.
Aku ambil handuk kecil dari kamar mandi, terus aku jinjit di atas kursi, dan aku tutupin foto Kak Ikal sebelas tahun di tengah dinding itu pakai handuk.
Aku nggak bisa ngeliat matanya malam ini.
Aku nggak bisa ngeliat anak sebelas tahun yang nengok ke arahku, sementara laki-laki dua puluh delapan tahun di dermaga tadi bahkan nggak bisa ngaitin kelingkingnya.
Aku turun dari kursi. Aku duduk di lantai di depan dinding gabus yang fotonya sekarang ketutup handuk putih. Aku masih pakai jas hujan hitam itu. Aku belum ngelepasnya dari tadi, bahkan setelah mandi. Aku pakai di atas piyama.
Baunya hujan, solar, dan sabun batangan murah yang wanginya kayak kayu.
Ponselku getar. Pesan dari Kak Safrina.
Kak Safrina: Penerbangan Melbourne–Denpasar–Surabaya. Jumat minggu depan, malam. Sampai Juanda Sabtu pagi jam 9.40.
Kak Safrina: Itu paling cepet yang bisa. Ada satu sidang yang nggak bisa ditinggal. Maaf, Kay.
Kak Safrina: Tidur, Kay.
Kak Safrina: Aku ke sana.
Aku meluk lutut di atas lantai, di dalam jas hujan Kak Ikal, dan baca tiga pesan itu berulang-ulang sampai layar ponselku redup sendiri.
Aku ke sana.
Tujuh belas tahun lalu, Kak Ikal janji nyusul.
Malam ini, yang nyusul justru Kak Safrina.
- 1 Aku Baik
- 2 Mesin Fotokopi
- 3 Biar Ada yang Hidup di Sini
- 4 Kontainer
- 5 Ulang Tahun Palsu
- 6 Kayla Anindya Putri
- 7 Audit Perasaan
- 8 Kak Hal
- 9 Papan Pencarian
- 10 Telur Dadar
- 11 Kelingking
- 12 Foto di Ponsel
- 13 Sabar Ya
- 14 Bisikan
- 15 Haikal Ramadhan
- 16 Kue Tiga Tingkat
- 17 Laporan Detektif
- 18 Oh. Iya, Aku Tahu
- 19 Aku ke Sana reading
- 20 Tujuh Belas Kotak
- 21 Tanggal
- 22 Mbak Safrina
- 23 Jangan Telepon Lagi
- 24 Jatuh dari Sepeda
- 25 Punggung
- 26 Bangku Warung
- 27 Surat yang Dibuka
- 28 Aku yang Milih
- 29 Rasi Bintang
- 30 Dilihat 23.47
- 31 Kamu Juga Tahu?
- 32 Berhenti Bilang Baik
- 33 Nggak Ada yang Keluar
- 34 Namanya Bobo
- 35 Tabungan ke Melbourne
- 36 Hati-Hati
- 37 Don’t Be Me
- 38 Kapan Nyusul
- 39 Asal Kakak Masih Hidup
- 40 Telat Nyusul
- 41 Ibu
- 42 Hari ke-1
- 43 Epilog: Yang Kanan