← Hari ke-731

Chapter Thirty Two

Berhenti Bilang Baik

— Haikal —

Serah terima MV Margaret di galangan Batam selesai hari Rabu siang.

Aku menandatangani berita acara serah terima di kantor galangan yang ber-AC terlalu dingin, berjabat tangan dengan kepala galangan, lalu berdiri di dermaga galangan dan menatap Margaret untuk terakhir kalinya sebelum dia diangkat ke dry dock. Kapal tua bercat hijau dengan buritan yang mengelupas, sekarang diikat ke bolder-bolder raksasa, menunggu dibongkar.

Kapten Lukas berdiri di sebelahku. Alis kirinya sudah tumbuh setengah. Matanya merah.

“Empat bulan,” katanya dengan suara serak. “Empat bulan dia di sini sendirian.”

“Dia nggak sendirian, Kapten. Ada dua ratus pekerja galangan.”

“Bukan itu maksudku, Pak Hal.” Kapten Lukas menyeka matanya dengan punggung tangan yang besar. “Dia nggak punya kru. Kapal tanpa kru itu sendirian, walaupun dikelilingi seribu orang.”

Aku menatap Margaret.

Aku tidak tahu kenapa kalimat itu menempel di kepalaku sepanjang penerbangan pulang ke Surabaya.


Pesawat mendarat di Juanda jam lima sore. Aku menyalakan ponselku di landasan, sementara pesawat masih meluncur ke terminal.

Notifikasi masuk satu per satu.

Grup Dermaga Ceria: seratus dua belas pesan. Grup Direksi & Manajer Willmore: tiga belas pesan, sebagian besar dari Mr Jake soal dry dock, satu dari Ucup yang masih belum dikeluarkan dari grup, berisi foto dirinya dengan ponsel yang masih diikat tali rafia di leher dan caption HARI KE-12 TANPA MAIN HP. SAYA KUAT.

Surel dari Bu Endang: Pak Hal, sisa cuti Bapak sekarang 64 hari. Mohon jangan dipakai untuk kerja lagi.

Aku menggulir semuanya.

Lalu aku membuka percakapan dengan Kayla.

Pesan terakhir darinya masuk hari Minggu malam. Kak, udah makan? Aku membalasnya Senin pagi, setelah sinyal kembali di dekat Pulau Lingga: Sudah. Makasih, Kay.

Setelah itu, tidak ada apa-apa.

Senin malam, tidak ada pesan. Selasa pagi, tidak ada. Selasa siang, tidak ada. Selasa malam, tidak ada. Rabu pagi, tidak ada.

Hampir tiga minggu, setiap hari, setidaknya tiga kali sehari. Kak, udah sarapan? Kak, udah makan siang? Kak, udah makan malam? Pernah sekali jam dua pagi. Aku tidak pernah sekali pun tidak menerimanya.

Dua hari ini, tidak ada.

Aku menatap layar ponselku. Pesawat berhenti di depan garbarata. Lampu sabuk pengaman padam. Orang-orang berdiri, membuka bagasi kabin, menyalakan ponsel, menelepon keluarga yang menjemput.

Aku masih duduk, menatap percakapan dengan Kayla.

Aku menggulirnya ke atas. Ke bawah. Ke atas lagi. Mencari pesan yang mungkin terlewat. Tidak ada.

Aku keluar dari percakapan itu. Lalu aku membukanya lagi. Tidak ada.

Pramugari menyentuh bahuku. “Pak? Sudah sampai, Pak.”

Aku berdiri.

Di garbarata, aku membuka ponsel lagi. Tidak ada.

Di ban berjalan pengambilan bagasi, aku membuka ponsel lagi. Tidak ada.

Aku tidak tahu kenapa aku terus membukanya. Aku tidak pernah memeriksa ponselku lebih dari sekali setiap jam. Aku tidak pernah menunggu pesan dari siapa pun.

Aku berhenti menunggu bertahun-tahun lalu.

Di pintu kedatangan, di depan pilar yang sama tempat aku berdiri waktu menjemput Elena dua bulan lalu, ponselku bergetar.

Aku membukanya dengan cepat. Terlalu cepat.

Bukan dari Kayla.

Mbak Safrina: Kal. Aku harus ketemu kamu. Ada satu lagi.

Mbak Safrina: Aku udah baca buku kamu.

Aku berhenti berjalan.

Orang-orang melewatiku dari kiri dan kanan, menarik koper, mendorong troli. Seseorang menabrak bahuku dan minta maaf. Aku tidak mendengarnya. Dia datang dari kiri.

Buku kamu.

Aku hanya punya satu buku.

Buku tulis bersampul cokelat. Yang kutinggalkan di bawah kasur di rumah kontrakan di Semarang, malam aku kabur, dua belas tahun lalu. Yang kukira sudah dibuang, atau dibakar, atau dipakai bungkus gorengan.

Bu Warsih.

Mereka ke Semarang. Kayla dan Mbak Safrina. Mereka ke gang dekat Kali Banger. Ke bangku hijau di depan warung.

Dan Bu Warsih menyimpannya.

Aku berdiri di tengah pintu kedatangan Juanda dengan ponsel di tangan. Untuk pertama kalinya sejak dermaga, sejak kabel crane, sejak empat puluh tiga jahitan, aku merasakan sesuatu yang bisa kuberi nama.

Takut.

Bukan takut kepada Mbak Safrina. Takut kepada halaman terakhir buku itu. Kepada angka yang tidak pernah kusebut. Kepada satu kata kecil berwarna abu-abu.

Dia sudah membacanya. Dia sudah sampai di sana.

Ada satu lagi.


Aku tidak langsung pulang. Aku menyetir ke Darmo.

Aku tidak tahu apa yang akan kukatakan. Aku hanya tahu bahwa dua hari Kayla tidak mengirim pesan, dan Mbak Safrina sudah membaca buku itu, dan entah bagaimana dua hal itu pasti berhubungan. Dan aku harus memperbaikinya. Aku harus memperbaikinya, seperti aku memperbaiki tiket MNT yang salah jadwal, seperti aku memperbaiki HS code yang salah ketik, seperti aku memperbaiki lilin yang terpasang terbalik.

Aku orang yang memperbaiki hal-hal. Itu satu-satunya hal yang aku tahu cara melakukannya.

Pak Sutris menatapku dari balik meja satpam waktu aku masuk ke lobi tower Kayla. Dia tidak menyapa. Dia menatapku dengan mata menyipit penuh curiga, sama seperti terakhir kali. Lalu, setelah lama, dia menekan tombol interkom.

“Mbak Bule. Ada tamu. Yang… itu.”

Aku naik lift ke lantai sembilan. Aku mengetuk pintu.

Pintu terbuka sedikit. Hanya selebar satu kepala. Rantai pengamannya masih terpasang.

Kayla.

Matanya bengkak. Wajahnya pucat. Rambutnya dikuncir asal, dan dia memakai kaus kuning yang sama dengan yang kulihat di barbekyu, yang sekarang kusut dan bernoda.

Dia menatapku dari celah pintu. Dia tidak membukanya lebih lebar.

“Kak,” katanya.

“Kay.”

Hening.

“Kamu nggak kirim pesan,” kataku.

Dia menatapku lama. Matanya berkedip, sekali, pelan, seperti orang yang mendengar sesuatu yang aneh dan tidak yakin apakah dia salah dengar.

“Kakak… nyadar?”

Aku tidak menjawab. Aku tidak tahu jawabannya.

Kayla menatapku dari celah pintu. Lalu dia menunduk.

“Kak Safrina cerita,” katanya pelan. “Semuanya. Malam itu. Bandara. Telepon jam dua pagi. Nomor warung.” Dia berhenti. “Dan Senin kemarin, dia cerita yang satu lagi. Dia bawa buku Kakak. Aku liat halamannya. Aku liat yang terakhir.”

Aku diam.

“Hari ke-731,” bisik Kayla.

Angka itu.

Angka yang tidak pernah kusebut, bahkan di dalam kepalaku sendiri. Angka yang duduk di dasar laut seperti jangkar, yang tidak pernah diangkat.

Kayla mengucapkannya. Lewat celah pintu. Dengan suara Ibu.

Aku tidak bergerak.

“Dan Elena,” lanjut Kayla, suaranya bergetar sekarang. “Elena udah tahu dari Agustus. Dia liat kaleng kerupuk di lemari Kakak. Dia liat KTP Kakak. Kakak minta dia janji nggak bilang ke aku.”

“Itu salahku, Kay. Bukan salah dia.”

“Aku tahu.”

“Aku yang minta dia janji.”

“Aku tahu, Kak.” Suaranya naik, lalu turun lagi. “Aku tahu semuanya sekarang. Semua orang bohong sama aku. Semua orang. Karena semua orang sayang sama aku. Ibu, Kak Safrina, Kakak, Elena. Semua orang bohong karena sayang.”

Aku menatapnya lewat celah pintu. Aku harus memperbaikinya. Aku harus mengatakan sesuatu yang memperbaikinya.

“Kay,” kataku. “Kamu nggak usah ngerasa bersalah. Mbak Safrina juga nggak usah. Elena juga nggak usah. Semua itu udah lama. Udah lewat.” Aku menarik napas. “Aku baik.”

Hening.

Kayla menatapku. Lama. Matanya yang bengkak dan merah itu tidak berkedip.

“Kakak masih bilang baik,” katanya.

Itu bukan pertanyaan.

“Setelah semua itu,” lanjutnya, sangat pelan. “Setelah ikat pinggang. Setelah telinga. Setelah bangku. Setelah buku. Setelah hari ke-731. Kakak dateng ke sini dan bilang aku baik.”

Dia menggeleng.

“Kak, aku sayang Kakak. Aku sayang Kakak banget. Tapi aku nggak bisa dengerin Kakak bilang baik lagi. Nggak sekarang.”

“Kay…”

“Aku butuh waktu, Kak,” katanya. Dan dia tersenyum. Senyum yang paling sedih yang pernah kulihat di wajahnya. “Kayak Kakak dulu. Kakak juga butuh waktu, kan? Buat nyari sesuatu di lemari?”

Dia menutup pintu.

Pelan. Sangat pelan. Tidak dibanting. Hanya ditutup, seperti orang menutup pintu kamar anak yang sedang tidur.

Bunyi rantai pengaman yang dilepas, lalu bunyi kunci yang diputar.

Aku berdiri di lorong lantai sembilan di depan pintu yang tertutup, dan tidak tahu apa yang harus diperbaiki.


Waktu aku sampai di apartemenku, lampunya menyala.

Aku tidak meninggalkan lampu menyala. Aku tidak pernah meninggalkan lampu menyala.

Aku membuka pintu.

Elena berdiri di dekat jendela besar, dengan gembor plastik kecil berwarna hijau di tangan, menyiram sirih gading. Dia memakai kemeja putih dan rok panjang abu-abu. Rambutnya digerai. Di pergelangan tangannya, gelang tali kapal biru putih dari Kapten Lukas.

Dia menoleh waktu mendengar pintu terbuka. Matanya merah. Bukan karena baru menangis. Karena sudah menangis berkali-kali selama dua hari dan matanya belum sempat pulih.

“Aku cuma nyiram,” katanya. “Kamu pergi seminggu. Aku takut dia mati.”

“Makasih, El.”

Dia menaruh gembor itu di lantai, di sebelah pot, di sebelah dua lilin angka 2 dan 8. Lalu dia berdiri di sana dengan tangan terlipat di dada, menatapku.

“Kamu udah ke Kayla,” katanya. Bukan pertanyaan.

“Iya.”

“Dia buka pintunya?”

“Setengah.”

Elena mengangguk pelan. “Itu lebih dari yang dia kasih ke aku.”

Aku menatapnya.

“Dia tahu,” kata Elena. “Senin. Aku keceplosan. Soal ruang arsip, soal lemari, soal gelas IKEA.” Dia tertawa kecil. Pahit. “Dia teriak ke aku. Kayla teriak. Kamu bisa bayangin? Kayla, yang minta maaf ke pelayan kalau pelayannya salah anter pesanan.”

“Maaf, El,” kataku. “Itu salahku. Aku yang minta kamu janji.”

“Aku tahu.”

“Aku nggak seharusnya minta itu.”

“Aku tahu, Hal.” Suaranya lelah. “Dan aku nggak seharusnya janji. Tapi aku janji. Dan sekarang Kayla nggak mau ngomong sama aku, dan dia nggak mau ngomong sama kakaknya, dan dia nggak mau ngomong sama kamu. Dan kamu…”

Dia berhenti. Dia menatap ruang tamu. Tujuh belas kotak di pojok, masih belum dibuka. Tikar di kamar. Satu piring di rak.

“Dan kamu masih di sini,” katanya pelan. “Di apartemen kosong ini. Kayak nggak ada apa-apa.”


Aku tahu apa yang harus kulakukan.

Aku tahu, karena aku sudah melakukannya sepanjang hidupku. Ini satu-satunya cara memperbaiki sesuatu yang tidak bisa diperbaiki: menjauhkannya sebelum rusak lebih parah.

Pergi duluan. Sebelum ditinggal.

“El,” kataku.

“Hm?”

“Kamu nggak usah ke sini lagi.”

Elena menatapku.

“Kuncinya,” lanjutku, “kamu simpen nggak apa-apa. Tapi nggak usah ke sini lagi. Nggak usah siram tanaman. Nggak usah tempel kertas di kulkas. Nggak usah isi apartemen ini.”

“Kenapa?”

Aku menatap lantai.

“Semua orang yang deket sama aku akhirnya kena,” kataku. “Kayla kena. Dia pindah negara, dan dia nemu aku, dan sekarang dia nggak bisa tidur. Mbak Safrina kena. Dia ke sini, dan dia baca buku itu, dan sekarang…” Aku berhenti. “Kamu kena. Kamu janji ke aku, dan sekarang Kayla benci kamu. Ucup kena. Dia hampir mati di bawah generator gara-gara crane yang aku laporin tapi nggak aku pastiin.”

“Itu bukan salah kamu.”

“Pak Jake kena. Dia nangis di apartemen ini. Pak Jake nggak pernah nangis.”

“Hal…”

“Jadi kamu jauh-jauh aja, El,” kataku. “Biar kamu nggak kena. Aku baik sendiri. Aku udah baik sendiri dua belas tahun. Aku baik.”

Hening.

Hening yang panjang. Hening yang terasa seperti udara sebelum petir menyambar.

Lalu Elena meledak.

“Berhenti bilang baik!”

Suaranya menggema di ruang tamu yang kosong. Memantul dari dinding putih, dari lantai keramik, dari jendela besar. Tidak ada sofa, tidak ada karpet, tidak ada gorden untuk meredamnya. Suaranya memenuhi seluruh ruangan, keras dan pecah dan mentah.

Aku tidak pernah mendengar Elena berteriak. Dua tahun, dia tidak pernah berteriak. Dia memotong anggaran dengan suara pelan. Dia mengalahkan vendor dengan senyum. Dia memecahkan gelas IKEA dengan sengaja tanpa mengubah ekspresi.

Dia berteriak sekarang. Wajahnya merah. Matanya basah. Tangannya terkepal di samping tubuhnya.

“Berhenti bilang baik, Hal! Berhenti!” Air mata mengalir di pipinya. Dia tidak menyekanya. “Kamu nggak baik! Kamu nggak pernah baik! Punggung kamu kayak peta! Telinga kamu nggak bisa denger! Kamu tidur di lantai! Kamu punya tujuh belas kado di pojok yang nggak pernah kamu buka! Kamu nyimpen lilin ulang tahun kamu sendiri kayak itu barang paling berharga di dunia! Kamu nggak baik!”

Dia berhenti, tersengal.

“Dan sekarang kamu nyuruh aku pergi,” lanjutnya, lebih pelan, suaranya pecah di setiap kata. “Biar aku nggak kena. Kamu pikir aku nggak tahu apa yang kamu lakuin? Aku tumbuh di panti, Hal. Aku tahu. Kamu ngusir orang duluan, sebelum mereka sempet ninggalin kamu. Biar kamu yang milih. Biar nggak sakit.”

Aku diam.

“Tapi itu tetep sakit,” bisiknya. “Kamu cuma nggak ngerasain. Orang lain yang ngerasain buat kamu.”


Dia mengambil tasnya dari lantai dekat pintu.

Dia merogoh saku tasnya, mengeluarkan gantungan kunci, dan melepaskan satu kunci dari ringnya. Kunci perak kecil dengan gantungan plastik bertuliskan 2307.

Dia berjalan ke jendela besar, membungkuk, dan meletakkan kunci itu di lantai. Di sebelah pot sirih gading. Di sebelah gembor plastik hijau. Di sebelah dua lilin angka.

Lalu dia menegakkan badan dan menatapku.

“Tanamannya,” katanya, suaranya sekarang tenang, terlalu tenang. “Siram sendiri.”

Dia berjalan ke pintu. Dia membukanya. Dia tidak berhenti di ambang pintu. Dia tidak menoleh.

Pintu menutup.


Aku berdiri di tengah ruang tamu.

Lampu masih menyala. Elena yang menyalakannya. Aku tidak mematikannya.

Aku menatap kunci perak kecil di lantai di dekat jendela. Di sebelah pot. Di sebelah gembor. Di sebelah lilin.

Siram sendiri.

Grup Dermaga Ceria berbunyi di ponselku. Satu pesan baru, dari Ucup. Sebuah foto: papan tulis putih di ruang istirahat kru, yang dulu bertuliskan TARUHAN RESMI DERMAGA CERIA, lalu ditutup kain lap, sekarang sudah dihapus bersih sepenuhnya. Putih. Kosong. Hanya ada satu garis hitam tebal yang digambar melintang di tengahnya, seperti pita duka.

Di bawah foto itu, caption dari Ucup:

Papan taruhan resmi ditutup permanen. Semua uang taruhan dikembalikan. Kita berkabung sampai Pak Hal bahagia.

Lalu satu foto lagi: Ucup sendiri, berdiri di depan papan tulis kosong itu, dengan ponsel masih tergantung di leher dengan tali rafia, dan sehelai kain hitam diikatkan di lengan kirinya.

Lalu balasan dari Kapten Lukas: Ucup kau lebay.

Lalu balasan dari Kapten Lukas lagi, dua menit kemudian: Tapi aku ikut. Aku pakai kain hitam juga besok.

Lalu balasan dari Cak Tarno. Lalu dari Bu Yati. Lalu dari Mbak Rini. Lalu dari Dinda. Semuanya sama. Satu emoji. Pita hitam.

Aku menatap layar ponsel. Belasan pita hitam kecil berjajar di grup Dermaga Ceria.

Aku mematikan ponsel dan meletakkannya di lantai.


Aku berjalan ke jendela.

Aku membungkuk, pelan, karena jahitan di punggungku belum sepenuhnya kering, dan mengambil gembor plastik hijau dari lantai. Gembor itu masih berisi air setengah. Elena belum selesai menyiram.

Hari ini Rabu. Jadwal menyiramku Senin dan Kamis. Sesuai instruksi. Dua kali seminggu.

Aku menyiram sirih gading itu.

Pelan. Hati-hati. Air mengalir dari mulut gembor ke tanah di dalam pot, meresap, membasahi akar-akar yang tidak bisa kulihat. Beberapa tetes jatuh di daun-daun yang menjuntai, berkilau di bawah lampu ruang tamu.

Aku tidak tahu kenapa aku menyiramnya di hari Rabu. Bukan jadwalnya. Bukan instruksinya.

Aku hanya tidak mau dia mati.

Gembor itu kosong. Aku meletakkannya di lantai, di sebelah kunci perak kecil dengan gantungan 2307.

Ponselku bergetar di lantai. Aku menyalakannya.

Mbak Safrina: Besok. Aku dateng jam sepuluh.

Mbak Safrina: Aku bawa bukunya.

Aku membaca pesan itu.

Lalu aku duduk di lantai, di sebelah sirih gading yang baru disiram, bersandar ke jendela besar, dengan kota Surabaya berkelip di belakang punggungku. Punggung yang empat puluh tiga jahitannya belum kering, yang di bawahnya ada puluhan garis yang lebih tua.

Tanganku gemetar. Sudah hampir sebulan.

Besok jam sepuluh.

Besok aku akan melihat buku itu lagi. Untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun.

Dan Mbak Safrina akan duduk di depanku dan menunjukkan halaman terakhirnya, dan aku tidak tahu, sungguh tidak tahu, apa yang akan terjadi pada lemari kosong di dadaku waktu itu terjadi.