Chapter Twenty Two
Mbak Safrina
— Safrina —
Anak itu namanya Liam. Tujuh tahun.
Di ruang sidang Pengadilan Anak Melbourne, hari Kamis, aku menunjukkan foto rontgen tulang lengan kirinya kepada hakim. Dua retakan lama yang sudah menyambung sendiri, tanpa pernah dibawa ke dokter. Satu retakan baru. Aku menunjukkan catatan guru kelasnya: Liam selalu memakai jaket bahkan di bulan Januari, saat Melbourne sedang tiga puluh lima derajat. Liam selalu duduk di kursi paling dekat pintu. Liam tidak pernah menoleh ke belakang kalau ada suara keras.
Aku menunjukkan semua itu dengan suara datar dan urutan yang rapi. Bukti satu, bukti dua, bukti tiga. Tidak ada emosi. Emosi tidak memenangkan kasus. Bukti yang memenangkan kasus.
Ayah Liam duduk di kursi terdakwa dengan setelan yang terlalu besar dan wajah yang terlalu tenang. Dia bilang Liam anak yang ceroboh. Suka jatuh. Suka main kasar dengan teman-temannya.
He’s a clumsy kid, katanya. Always falling off his bike.
Aku menunjukkan bukti nomor empat: Liam tidak punya sepeda.
Kami menang. Hak asuh Liam dipindahkan sepenuhnya ke ibunya. Ayahnya dilarang mendekat dalam radius lima ratus meter.
Di lorong pengadilan, ibu Liam memelukku sambil menangis. Liam berdiri di belakangnya, memegang ujung jaketnya sendiri, menatapku dengan mata cokelat yang besar dan waspada. Mata anak yang sudah belajar membaca ruangan sebelum belajar membaca buku.
Aku tersenyum kepadanya. Aku bilang dia anak yang berani.
Lalu aku berjalan ke parkiran, masuk ke mobil, menutup pintu, dan duduk di sana selama dua puluh menit tanpa menyalakan mesin.
Aku selalu melakukan itu setelah menang. Rekan-rekan kerjaku mengira aku sedang menenangkan diri dari adrenalin persidangan. Mereka bilang aku ice queen. Pengacara yang tidak pernah berkeringat, tidak pernah gugup, tidak pernah menangis.
Mereka tidak tahu bahwa setiap kali aku menang kasus seperti itu, aku tidak sedang menenangkan diri.
Aku sedang menghitung.
Liam adalah anak keempat puluh tiga yang kuselamatkan dalam delapan tahun karierku.
Empat puluh tiga anak. Dan satu yang tidak.
Ulang tahunku dua puluh satu Agustus. Tiga hari sebelum ulang tahun adikku.
Aku tidak pernah merayakannya. Sudah tujuh belas tahun. Kalau orang bertanya kenapa, aku bilang tanggalnya terlalu dekat dengan ulang tahun adikku, jadi lebih praktis dirayakan sekali saja. Orang-orang mengangguk. Itu masuk akal. Pengacara selalu punya jawaban yang masuk akal.
Itu bohong.
Tahun ini, seorang paralegal baru di kantorku, yang belum tahu aturannya, membawakan satu cupcake dengan lilin kecil di atasnya ke mejaku jam sembilan pagi. Dia tersenyum lebar dan menyanyikan Happy Birthday dengan suara sumbang.
Aku berterima kasih. Aku tersenyum. Setelah dia pergi, aku membuang cupcake itu ke tempat sampah di bawah mejaku tanpa menyentuhnya.
Lilinnya tidak kutiup. Aku tidak meniup lilin ulang tahun. Aku tidak berhak.
Pesawat dari Denpasar mendarat di Juanda hari Sabtu jam sembilan lewat empat puluh dua menit pagi. Dua menit terlambat. Aku menghitungnya.
Selama penerbangan Melbourne–Denpasar yang enam jam, aku membuka berkas kasus berikutnya di laptop dan membaca halaman pertama sebelas kali. Aku tidak ingat satu kata pun. Selama transit tiga jam di Ngurah Rai, aku memutar pesan suara Kayla dari hari Rabu itu sembilan kali.
Kak, angkat. Tolong telepon balik. Aku… aku nemu Kak Ikal. Kayaknya aku nemu Kak Ikal. Dia di sini, Kak. Dia di sini dari awal. Dia…
Lalu suara isakan, dan bunyi klik.
Di penerbangan Denpasar–Surabaya yang satu jam, aku menatap ke luar jendela, ke laut biru di bawah sana. Selat Bali. Lalu daratan Jawa Timur yang hijau dan cokelat, dengan sawah-sawah kotak-kotak seperti papan catur.
Tujuh belas tahun. Aku belum pernah kembali ke Jawa sejak hari itu.
Pintu kedatangan Juanda penuh orang. Aku menarik koper kabinku melewati pintu kaca otomatis, dan hal pertama yang kulihat adalah sebuah karton putih besar diangkat tinggi-tinggi di atas kerumunan, bertuliskan spidol warna-warni:
KAK SAFRINA (YANG GALAK) 🌻
Di bawah karton itu, Kayla.
Dia melompat-lompat. Rambutnya dikuncir dua. Dia memakai kaus kuning yang kebesaran dan celana jins yang sobek di lutut. Matanya bengkak. Bukan bengkak karena kurang tidur. Bengkak karena menangis. Aku tahu bedanya. Aku sudah melihat terlalu banyak mata seperti itu di ruang sidang.
Dia menurunkan karton itu waktu melihatku. Dia berhenti melompat.
Untuk sesaat, kami hanya saling menatap. Adikku yang dua puluh enam tahun. Aku yang tiga puluh dua. Di pintu kedatangan bandara, di Jawa, tujuh belas tahun setelah kami terakhir kali berdiri bersama di pintu bandara di Jawa.
Lalu Kayla berlari, dan memelukku begitu keras sampai aku mundur dua langkah dan koper kabinku jatuh.
“Kak,” katanya di bahuku. “Kak. Kakak dateng.”
“Aku bilang aku dateng.”
“Kakak nggak pernah dateng ke mana-mana. Kakak nggak dateng ke wisudaku. Kakak nggak dateng ke ulang tahun Ibu yang ke-50.”
“Aku ada sidang.”
“Kakak selalu ada sidang.” Dia melepaskan pelukannya dan menatapku dengan mata basah. “Tapi sekarang Kakak dateng.”
Aku tidak menjawab. Aku mengambil karton yang jatuh di lantai dan membaca tulisannya sekali lagi.
“Yang galak,” kataku.
“Kakak memang galak.”
“Kenapa ada bunga matahari?”
“Biar Kakak keliatan lebih ramah.”
Aku melipat karton itu menjadi dua dan menyelipkannya di bawah lengan. Aku tidak membuangnya. Aku tidak tahu kenapa.
Aku tidak menginap di apartemen Kayla.
Dia sudah menyiapkan kamar. Dia sudah mengganti sprei, membeli bunga matahari, membeli teh Earl Grey. Aku melihat semua itu waktu dia mengajakku mampir ke apartemennya dari bandara. Aku melihat juga dinding gabus di ruang tengahnya, penuh peta dan benang wol merah dan kertas tempel kuning, dengan sebuah handuk putih menutupi sesuatu di bagian tengahnya.
Aku tidak bertanya apa yang ada di balik handuk itu. Aku sudah tahu.
“Aku udah booking hotel,” kataku. “Di dekat Tunjungan.”
Wajah Kayla jatuh. “Kenapa? Aku udah ganti sprei.”
“Aku butuh ruang buat kerja, Kay. Aku bawa berkas tiga kasus.”
Itu setengah benar. Aku memang membawa berkas tiga kasus.
Setengah yang lain: aku tidak bisa tidur di ruangan yang dindingnya penuh pencarian yang seharusnya tidak pernah perlu dilakukan. Aku tidak bisa tidur di bawah foto yang ditutupi handuk.
“Oke,” kata Kayla pelan. Dia mencoba tersenyum. “Oke. Nggak apa-apa. Kakak memang butuh ruang. Kakak selalu butuh ruang.”
Dia tidak bermaksud menyakitiku dengan kalimat itu. Aku tahu dia tidak bermaksud.
Tapi kalimat itu menyakitiku juga.
Hari Senin, Kayla mengajakku ke Tanjung Perak.
“Kontraknya ditandatangani hari Kamis,” katanya di taksi. “Tapi hari ini aku ada rapat sama tim legal Willmore buat revisi terakhir. Kakak ikut, ya. Kakak kan pengacara. Kakak bisa liat kontraknya.”
Aku tahu dia tidak benar-benar butuh aku melihat kontraknya. Kontrak itu sudah direvisi empat kali oleh dua tim legal. Dia hanya butuh alasan untuk membawaku ke sana.
Aku ikut.
Aku memakai setelan hitam. Blazer, celana panjang, kemeja putih, sepatu hak rendah. Tas kulit cokelat berisi laptop dan berkas. Seragamku. Baju yang kupakai ke pengadilan, ke kantor polisi, ke rumah-rumah tempat anak-anak duduk di sudut dengan lutut ditekuk ke dada.
Gedung kantor Willmore Maritime berlantai empat, bercat putih dengan logo jangkar biru di atas pintunya. Kayla menggandengku masuk ke lobi, naik lift ke lantai empat.
Pintu lift terbuka, dan seorang perempuan muda berkemeja pastel dengan map di tangan berdiri tepat di depan kami. Dia menatapku. Menatap setelanku. Menatap tas kulitku. Menatap wajahku yang, menurut Kayla, kalau lagi diem kayak mau nuntut orang.
Wajahnya pucat seketika.
“Selamat pagi, Bu,” katanya dengan suara tinggi yang tercekik. “Selamat datang. Ibu dari… Kantor Pajak, ya, Bu?”
Aku menatapnya. “Bukan.”
“Oh. Bukan.” Dia tidak terlihat lega. “Ibu dari… BPK?”
“Bukan.”
“OJK?”
“Saya kakaknya Kayla.”
Perempuan berkemeja pastel itu menatapku. Lalu menatap Kayla. Lalu menatapku lagi. Lalu wajahnya berubah lagi, dari pucat ketakutan menjadi sesuatu yang lain, yang lebih pelan dan lebih hati-hati.
“Oh,” katanya. “Oh. Kakak… yang dari Melbourne.”
Dia tahu. Seluruh gedung ini, ternyata, tahu.
“Saya Dinda, Bu.” Dia membungkuk sedikit. “Asisten Bu Elena. Maaf tadi saya kira Ibu orang pajak. Soalnya Ibu… ehm… auranya kayak mau periksa kuitansi.”
Kayla tertawa. Aku tidak.
“Silakan, Bu.” Dinda mundur dan menunjuk lorong. “Ruang rapatnya di ujung. Bu Elena sudah nunggu. Saya… saya permisi ke toilet sebentar.”
Dia berjalan cepat ke arah toilet sambil memeluk map. Di balik map itu, aku melihat tumpukan kuitansi taksi.
Rapat dengan tim legal Willmore berlangsung satu jam. Aku membaca kontraknya. Kontrak yang bagus, rapi, adil untuk kedua belah pihak. Aku memberi dua catatan kecil soal klausul arbitrase. Elena, perempuan yang menurut Kayla cantiknya bikin minder, menerimanya dengan anggukan dan menuliskannya dengan tulisan tangan yang tegak dan tajam.
Elena tidak banyak bicara kepadaku. Tapi setiap kali mata kami bertemu, dia mengalihkan pandangan lebih dulu.
Aku tahu tatapan itu. Aku sudah melihatnya di ruang sidang, di mata saksi yang tahu lebih banyak dari yang mereka katakan.
Aku tidak bertanya. Belum.
Setelah rapat, Kayla menarikku ke jendela besar di ujung lorong lantai empat. Jendela yang menghadap langsung ke dermaga.
“Itu,” katanya pelan, menunjuk ke bawah. “Itu dia, Kak.”
Aku melihat ke bawah.
Dermaga Jamrud di siang hari. Crane-crane bergerak lambat, mengangkat kontainer warna-warni dari dek kapal ke atas truk trailer. Orang-orang berompi oranye berjalan di antaranya seperti semut.
Dan di ujung dermaga, dekat sebuah bolder besi, seorang laki-laki berdiri dengan kemeja putih, helm proyek putih, dan tablet di tangan. Dia sedang bicara dengan seorang laki-laki berbadan besar berkumis tebal yang alis kirinya, entah kenapa, terlihat seperti digambar dengan spidol.
Aku tidak mengenalinya.
Maksudku, dari lantai empat, dari jarak seratus meter, dia hanya laki-laki tinggi berkemeja putih. Bisa siapa saja. Dia tidak terlihat seperti anak sebelas tahun berkaus putih kebesaran yang kupeluk terlalu erat di bandara Ahmad Yani.
Tapi aku terus melihat. Dan pelan-pelan, mataku, mata yang sudah delapan tahun dilatih untuk membaca anak-anak seperti Liam, mulai bekerja sendiri.
Cara dia berdiri. Punggungnya selalu menghadap ke laut, tidak pernah ke gudang. Tidak pernah membelakangi pintu.
Cara dia mendengarkan laki-laki berkumis itu. Kepalanya miring ke kanan. Setiap kali laki-laki itu bergeser ke kirinya, dia ikut bergeser, memutar seluruh badannya supaya sisi kanannya menghadap ke sumber suara.
Lengan kemejanya. Digulung sampai siku. Dari sini aku tidak bisa melihat lengan bawahnya. Tapi aku melihat dia menurunkan gulungan itu sedikit, setengah sadar, waktu seorang buruh lewat terlalu dekat.
Aku sudah melihat semua itu sebelumnya. Bukan pada orang dewasa. Pada anak-anak.
Anak-anak yang selalu duduk di kursi dekat pintu. Anak-anak yang memiringkan kepala karena salah satu gendang telinganya pernah pecah dan tidak pernah dibawa ke dokter. Anak-anak yang memakai jaket di bulan Januari.
Anak-anak seperti Liam.
Tanganku mencengkeram ambang jendela. Dinginnya kaca menempel di telapak tanganku.
Kak Ikal nggak pernah dipukul, kata Kayla dulu, berkali-kali, selama bertahun-tahun. Kak Ikal sendiri yang bilang.
Aku tidak menjawab Kayla waktu itu. Aku tidak pernah menjawabnya.
Karena aku tahu sesuatu yang Kayla tidak tahu. Aku tahu tentang beberapa hal yang tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun. Tentang sebuah malam sebelum perceraian. Tentang sebuah telepon jam dua pagi. Tentang sebuah nomor telepon tujuh digit dengan kode area Semarang yang kutulis di sudut buku catatan kimia waktu aku enam belas tahun.
Tujuh digit. Aku masih hafal sampai sekarang.
Aku tidak pernah memutarnya.
“Kak? Kakak kenapa?”
Suara Kayla. Jauh. Seperti dari bawah air.
“Nggak apa-apa,” kataku. Suaraku terdengar normal. Aku pengacara. Suaraku selalu terdengar normal.
“Kakak mau turun? Ketemu dia?”
Aku tidak bisa bergerak. Kakiku tidak mau. Aku berdiri di depan jendela itu dengan tangan menempel di kaca, menatap laki-laki di ujung dermaga, dan kakiku tidak mau bergerak satu senti pun.
Empat puluh tiga anak. Aku pernah masuk ke rumah seorang laki-laki yang memegang pisau dapur untuk menjemput anaknya. Aku pernah berdiri di depan hakim dan bilang Yang Mulia, ayah anak ini adalah monster tanpa gemetar sedikit pun.
Dan sekarang aku tidak bisa turun empat lantai untuk menemui adikku sendiri.
“Nanti,” kataku. “Nanti, Kay.”
Kayla menatapku. Lama. Lalu dia menggenggam tanganku yang dingin di atas kaca.
Di bawah sana, laki-laki berkemeja putih itu selesai bicara dengan laki-laki berkumis. Dia berbalik. Dan untuk sesaat, sangat singkat, wajahnya terangkat ke arah gedung kantor. Ke arah lantai empat. Ke arah jendela besar di ujung lorong.
Dia melihat kami.
Aku tahu dia melihat kami, karena dia berhenti berjalan.
Lalu dia mulai berjalan lagi. Ke arah gedung. Ke arah pintu masuk.
Dia muncul di ujung lorong lantai empat tiga menit kemudian. Helmnya sudah dilepas, dikepit di lengan kiri. Kemeja putihnya sedikit basah di bagian punggung karena keringat.
Dia berjalan ke arah kami. Langkahnya tenang. Teratur. Tidak cepat, tidak lambat.
Kayla meremas tanganku.
Dia berhenti dua meter di depanku.
Dari dekat, aku bisa melihatnya. Bekas luka kecil di alis kirinya. Garis rahang yang mirip Ayah. Hidung yang mirip Ibu. Dan matanya. Mata yang dulu menatapku dari bawah lenganku waktu aku memeluknya di bandara, waktu aku berbisik kamu jagoan.
Mata itu sekarang menatapku tanpa apa pun di dalamnya.
Bukan benci. Bukan marah. Bukan sedih. Tidak ada apa pun. Seperti jendela rumah yang lampunya sudah dimatikan dari lama.
Dia mengangguk sopan. Sedikit. Seperti mengangguk kepada klien yang baru datang dari luar kota.
“Mbak Safrina,” katanya.
Mbak.
Dulu dia memanggilku Kak. Selalu Kak. Kak Safrina, ajarin PR matematika. Kak Safrina, Kayla nyolong kerupuk lagi. Kak Safrina, jemput aku.
Sekarang Mbak. Panggilan untuk perempuan yang lebih tua yang tidak dikenal. Panggilan untuk pegawai bank, untuk penjual di pasar, untuk klien.
“Kal,” kataku.
Suaraku keluar kecil. Tidak normal. Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, suaraku tidak normal.
Dia mengulurkan tangan kanannya. Untuk dijabat.
Aku menatap tangan itu. Lalu, pelan, aku menjabatnya.
Tangannya hangat. Kering. Dan gemetar. Pelan, halus, nyaris tidak terasa. Tapi gemetar.
Aku pengacara perlindungan anak. Aku tahu tangan seperti itu.
“Selamat datang di Surabaya, Mbak,” katanya.
Dia melepaskan tanganku.
Malam itu, di kamar hotel di dekat Tunjungan, aku duduk di lantai kamar mandi dengan punggung bersandar ke bak mandi.
Lampunya kumatikan. Hanya ada cahaya dari ponsel di tanganku.
Di layar ponsel, di aplikasi telepon, aku sudah mengetik tujuh digit. Dengan kode area Semarang di depannya. Nomor telepon warung kecil di depan rumah lama kami, yang mungkin sudah tidak ada lagi. Yang mungkin sudah berganti pemilik, atau sudah tutup, atau sudah dirobohkan dan diganti minimarket.
Tujuh digit yang kutulis di sudut buku catatan kimia jam dua pagi waktu aku enam belas tahun, sambil setengah tertidur, sambil memikirkan ujian besok pagi.
Jempolku melayang di atas tombol hijau.
Satu detik. Lima detik. Satu menit.
Aku tidak menekannya.
Tujuh belas tahun. Aku tidak pernah sekali pun menekan tombol hijau itu.
Aku menghapus angka-angka itu satu per satu, dari belakang ke depan. Lalu aku meletakkan ponsel di lantai kamar mandi, layarnya menghadap ke bawah, dan duduk dalam gelap sampai jam tiga pagi.
Aku tidak menangis.
Pengacara yang tidak pernah berkeringat, tidak pernah gugup, tidak pernah menangis.
Aku hanya menghitung.
Empat puluh tiga anak.
Dan satu yang tidak.
- 1 Aku Baik
- 2 Mesin Fotokopi
- 3 Biar Ada yang Hidup di Sini
- 4 Kontainer
- 5 Ulang Tahun Palsu
- 6 Kayla Anindya Putri
- 7 Audit Perasaan
- 8 Kak Hal
- 9 Papan Pencarian
- 10 Telur Dadar
- 11 Kelingking
- 12 Foto di Ponsel
- 13 Sabar Ya
- 14 Bisikan
- 15 Haikal Ramadhan
- 16 Kue Tiga Tingkat
- 17 Laporan Detektif
- 18 Oh. Iya, Aku Tahu
- 19 Aku ke Sana
- 20 Tujuh Belas Kotak
- 21 Tanggal
- 22 Mbak Safrina reading
- 23 Jangan Telepon Lagi
- 24 Jatuh dari Sepeda
- 25 Punggung
- 26 Bangku Warung
- 27 Surat yang Dibuka
- 28 Aku yang Milih
- 29 Rasi Bintang
- 30 Dilihat 23.47
- 31 Kamu Juga Tahu?
- 32 Berhenti Bilang Baik
- 33 Nggak Ada yang Keluar
- 34 Namanya Bobo
- 35 Tabungan ke Melbourne
- 36 Hati-Hati
- 37 Don’t Be Me
- 38 Kapan Nyusul
- 39 Asal Kakak Masih Hidup
- 40 Telat Nyusul
- 41 Ibu
- 42 Hari ke-1
- 43 Epilog: Yang Kanan