Chapter Twenty One
Tanggal
— Kayla —
Senin pagi, jam enam lewat tiga menit, aku ngirim pesan ke Kak Ikal.
Aku: Kak, udah sarapan?
Balasannya dateng jam enam lewat tiga menit juga. Belum sampai satu menit.
Kak Ikal: Sudah. Makasih, Kay.
Aku ngeliatin layar ponselku. Sudah. Makasih, Kay. Pakai titik di akhir kalimat. Pakai huruf kapital di awal. Rapi, kayak surat dinas.
Jam dua belas siang, aku ngirim lagi.
Aku: Kak, udah makan siang?
Kak Ikal: Sudah. Makasih, Kay.
Jam tujuh malam.
Aku: Kak, udah makan malam?
Kak Ikal: Sudah. Makasih, Kay.
Selasa, aku ngetes. Aku ngirim pesan jam dua pagi. Aku pasang alarm khusus buat itu, bangun dengan mata setengah merem, ngetik pakai satu jempol.
Aku: Kak, udah tidur?
Aku kira dia nggak bakal bales. Orang normal jam dua pagi udah tidur. Orang normal nggak bales pesan jam dua pagi.
Balasannya dateng empat puluh detik kemudian.
Kak Ikal: Belum. Kamu kenapa belum tidur, Kay?
Aku ngeliatin pesan itu di kegelapan kamarku.
Itu pertama kalinya dia nanya balik. Pertama kalinya, sejak dermaga, dia ngirim kalimat yang bukan sudah, makasih, Kay.
Aku nggak tahu harus bales apa. Aku nulis nggak bisa tidur, terus aku hapus. Aku nulis kangen Kakak, terus aku hapus. Aku nulis Kakak sendiri kenapa belum tidur, terus aku hapus.
Akhirnya aku nulis:
Aku: Ngetes doang. Kakak kayak bot.
Kak Ikal: Maaf.
Aku: Bot yang minta maaf.
Nggak ada balasan lagi. Aku nunggu sepuluh menit. Dua puluh menit. Terus aku ketiduran dengan ponsel di dada.
Paginya, di layar ada satu pesan baru, dikirim jam dua lewat empat puluh tujuh menit.
Kak Ikal: Tidur, Kay.
Rabu, aku makan siang di Warung Bu Yati.
Aku sengaja. Aku tahu Kak Ikal makan di sana tiap hari, di meja pojok deket kipas angin, jam dua belas tepat. Pak Bonar yang bilang, dan Bu Yati yang konfirmasi waktu aku telepon ke warungnya pura-pura nanya menu.
Aku dateng jam dua belas kurang lima. Kak Ikal udah duduk di sana. Kemeja putih, lengan digulung, helm proyek di bangku sebelahnya. Dia ngeliat aku masuk. Mukanya nggak berubah. Tapi dia geser helmnya dari bangku, terus naruh di lantai, biar aku bisa duduk.
Aku duduk di seberangnya.
“Kak.”
“Kay.”
Bu Yati dateng dari balik etalase. Dia ngeliatin aku, terus ngeliatin Kak Ikal, terus ngeliatin aku lagi. Mukanya kayak orang yang lagi nonton sinetron dan udah tahu plotnya dari tetangga.
“Mas Hal, rawon?” tanyanya.
“Rawon, Bu.”
Aku nunggu. Aku nggak tahu nunggu apa. Mungkin nunggu dia pesen telur dadar kayak minggu lalu.
Dia nggak pesen telur dadar.
“Mbak Kayla?”
“Telur dadar, Bu,” kataku. “Sama sambal.”
Bu Yati ngangguk dan pergi. Aku ngeliatin Kak Ikal. Dia lagi ngeliatin taplak meja.
“Kakak nggak pesen telur lagi,” kataku.
“Rawon.”
“Minggu lalu Kakak pesen telur.”
“Minggu lalu…” Dia berhenti. Kayak lagi nyari kata. “Minggu lalu aku nggak tahu kenapa aku pesen itu.”
Aku nggak ngerti maksudnya. Waktu itu aku kira itu cuma cara lain buat bilang itu nggak penting. Rasanya kayak ditolak lagi. Kecil, tapi tetep sakit, kayak kesandung kaki meja di tengah malam.
Bu Yati dateng lagi bawa dua piring. Rawon buat Kak Ikal. Nasi telur dadar buat aku.
Dan di piring Kak Ikal, di sebelah mangkuk rawonnya, ada satu potong telur dadar tebal. Di piringku, di atas telur dadarku, ada satu potong telur dadar lagi.
Kak Ikal ngeliatin telur di piringnya. Aku ngeliatin dua telur di piringku.
“Bu,” kataku. “Ini kebanyakan.”
“Bonus,” kata Bu Yati tanpa senyum, sambil naruh dua gelas es teh. “Dari Bu Yati. Biar akur.”
Dia balik ke etalase. Dari situ dia terus ngeliatin kami sambil pura-pura ngelap gelas yang udah bersih.
Aku ketawa. Pertama kali aku ketawa beneran dalam seminggu. Kak Ikal nggak ketawa, tapi aku liat sudut bibirnya bergerak dikit. Dikiiit banget. Kayak riak di air.
Terus dia ngambil telur di piringnya, dan mindahin ke piringku.
Lagi.
Aku ngeliatin tiga telur dadar di piringku sekarang. Terus aku ngeliatin dia.
“Kak.”
“Kamu suka telur.”
“Kakak juga harus makan.”
“Udah kenyang.”
Udah kenyang.
Sesuatu ngetuk di belakang kepalaku. Kayak ada yang ngetok pintu dari jauh. Aku nggak tahu apa. Kalimat itu kayak pernah kudengar. Di suatu tempat. Dulu banget.
Tapi ketukannya hilang sebelum aku bisa nemuin pintunya.
Di meja sebelah, Kapten Lukas lagi makan nasi rames. Alis kirinya, yang setengahnya hangus di barbekyu Mr Jake hari Minggu, sekarang digambar ulang pakai spidol hitam. Tebel banget. Lurus banget. Kayak alis tokoh kartun.
Ucup duduk di depannya. Ucup lagi berusaha keras banget buat nggak ngeliatin alis itu. Dia makan sambil nunduk, bahunya gemeteran.
“Ucup,” kata Kapten Lukas tanpa ngangkat muka dari piringnya. “Kalau kau ketawa, aku lempar kau ke laut.”
“Saya nggak ketawa, Kapten.”
“Bahumu goyang.”
“Saya kedinginan, Kapten.”
“Ini Surabaya, Ucup. Tiga puluh empat derajat.”
“Kedinginan… emosional, Kapten.”
Aku nutup mulut pakai punggung tangan. Kak Ikal ngeliatin aku ngelakuin itu. Lama. Kayak dia lagi ngeliat sesuatu yang dia kenal.
Aku pengin nanya kenapa ngeliatin. Tapi aku nggak nanya.
Setelah makan, aku nanya sesuatu yang lain. Sesuatu yang udah nunggu di ujung lidahku dari hari Minggu.
“Kak,” kataku. “Kakak marah sama aku?”
Dia ngeliatin aku. “Nggak.”
“Bener?”
“Bener.”
“Kakak nggak marah aku pergi? Ke Melbourne? Ninggalin Kakak sama Ayah?”
“Kamu sembilan tahun, Kay. Kamu nggak milih.”
“Kakak nggak marah aku nggak nyari Kakak lebih cepet?”
“Kamu nyari sembilan tahun.”
“Kakak nggak marah aku… aku nggak tahu, aku nggak telepon lebih sering? Nggak kirim surat lebih banyak? Nggak…”
“Aku nggak marah, Kay.”
Dia ngomong itu pelan. Tenang. Jujur. Aku tahu dia jujur. Kak Ikal nggak pernah bohong.
Kecuali waktu dia bilang nggak punya saudara di mobil pas hujan. Dan mungkin dia udah lupa.
Tapi soal ini, dia jujur. Aku bisa liat dari matanya. Dia beneran nggak marah.
Dan entah kenapa, itu yang paling sakit.
“Marahin aku, Kak,” kataku.
Dia ngeliatin aku.
“Marahin aku,” ulangku. Suaraku mulai goyah. “Tolong. Bilang aku jahat karena pergi. Bilang aku lupa sama Kakak. Bilang Kakak benci aku karena aku punya kue tiga tingkat dan Kakak nggak. Bilang apa aja. Teriakin aku. Aku lebih kuat kalau dimarahin, Kak. Aku bisa ngadepin Kakak yang marah. Aku udah siapin diri buat itu sembilan tahun.”
Aku ngelap mataku pakai tisu warung yang kasar.
“Yang aku nggak bisa,” bisikku, “itu Kakak yang kayak gini. Yang nggak marah. Yang nggak apa-apa. Yang kayak… kayak aku cuma orang yang lewat.”
Kak Ikal nggak jawab lama.
“Maaf, Kay,” katanya akhirnya.
“Jangan minta maaf. Marah aja.”
“Aku nggak bisa.”
“Kenapa?”
Dia ngeliatin tangannya di atas meja. Tangan kanannya. Aku baru sadar tangan itu gemeteran. Pelan. Kayak daun kena angin.
“Aku udah coba,” katanya.
Aku nggak ngerti maksudnya. Aku nggak nanya. Aku kebanyakan nanya hari itu, dan semua jawabannya bikin aku makin nggak ngerti.
Terus aku ngelakuin sesuatu yang bodoh.
Aku nggak tahu kenapa aku ngelakuin itu. Mungkin karena aku butuh bukti. Bukti bahwa dia masih Kak Ikal. Bukti bahwa di dalam laki-laki dua puluh delapan tahun yang kaku dan datar dan nggak bisa marah ini, masih ada anak sebelas tahun yang inget kerupuk bawang dan boneka porselen.
“Kak,” kataku. “Aku mau tanya sesuatu. Gampang kok.”
“Apa?”
“Ulang tahunku tanggal berapa?”
Pertanyaan gampang. Pertanyaan yang semua kakak di dunia bisa jawab.
Kak Ikal diem.
Aku nunggu. Satu detik. Dua detik. Tiga.
Dia ngeliatin aku. Matanya nggak kosong. Aku liat sesuatu di sana. Kayak orang yang lagi buka laci di kepalanya, satu per satu, nyari sesuatu.
Lima detik. Sepuluh detik.
Kipas angin di dinding berderit tiap kali muter ke kiri.
“Maaf, Kay,” katanya akhirnya. Pelan. “Aku lupa.”
Aku pernah jatuh dari pohon jambu waktu tujuh tahun. Lututku sobek, darahnya ngucur ke kaki, dan aku nangis sampai suaraku habis. Kak Ikal gendong aku pulang, dan sepanjang jalan dia ngomel kamu harus diikat, Kay, biar nggak jatuh-jatuhan terus.
Rasanya kayak gitu. Tapi di dalam dada.
“Kakak lupa,” ulangku.
“Iya.”
“Kakak inget aku nggak suka kerupuk udang. Kakak inget aku takut boneka porselen Eyang. Kakak inget aku gampang kedinginan. Kakak inget aku suka telur. Kakak inget aku nyeret kaki kiri kalau jalan…”
“Iya.”
“Tapi Kakak lupa ulang tahunku.”
Dia ngeliatin aku. Ada sesuatu di matanya yang aku nggak bisa baca. Bukan bersalah. Bukan sedih. Sesuatu yang lebih jauh dari itu.
“Aku berhenti inget tanggal, Kay,” katanya. “Semua tanggal.”
“Maksudnya?”
“Aku inget barang. Aku inget suara. Aku inget bau. Aku inget kamu jalan nyeret kaki kiri.” Dia berhenti sebentar. “Tapi tanggal… aku berhenti ngitung. Dulu. Udah lama.”
“Sejak kapan?”
Dia nggak jawab.
Dia ngeliatin keluar jendela warung, ke gang sempit di depannya, ke tembok yang catnya ngelupas, ke langit Surabaya yang putih karena panas. Lama. Kayak dia lagi ngeliat sesuatu yang jauh banget, yang aku nggak bisa liat.
Dia nggak jawab sama sekali.
“Sembilan Juli,” kataku.
Dia nengok.
“Ulang tahunku. Sembilan Juli.” Suaraku pecah di tengah. Aku nggak peduli. “Aku nggak pernah lupa ulang tahun Kakak, Kak. Sekali pun. Dua puluh empat Agustus. Tujuh belas kali. Tujuh belas kali aku beli kue. Tujuh belas kali aku beli kado. Tujuh belas kali aku tiup lilin buat Kakak di mana pun aku ada. Di Melbourne, di Sydney pas study tour, di Bali pas liburan, di pesawat sekali, pakai lilin ulang tahun yang nggak dinyalain karena nggak boleh.”
Bu Yati udah berhenti ngelap gelas. Kapten Lukas dan Ucup udah berhenti makan. Seluruh warung diem.
“Sembilan Juli,” ulang Kak Ikal pelan.
Kayak dia lagi nyimpen kata-kata itu di suatu tempat. Kayak orang yang nyatet nomor kontainer.
“Sembilan Juli,” katanya lagi. “Maaf, Kay.”
Aku berdiri. Aku nggak tahu kenapa. Kakiku yang mutusin. Aku ngambil tas, ngeluarin uang dua puluh ribu, naruh di meja buat bayar makananku.
Kak Ikal ngedorong uang itu balik ke arahku. “Aku yang bayar.”
“Nggak usah.”
“Kay.”
“Aku nggak suka utang, Kak.” Aku senyum. Senyum yang jelek, yang gemeteran. “Utang telur harus dibayar telur. Inget?”
Aku jalan keluar dari warung. Tuk, srek, tuk, srek.
Di belakangku, aku denger Bu Yati ngomong sesuatu pelan banget ke Kak Ikal dalam bahasa Jawa yang aku nggak ngerti. Dan aku denger Kak Ikal jawab, cuma satu kata, yang juga nggak kumengerti.
Belakangan aku tanya ke Bu Yati apa yang dia bilang. Dia bilang dia ngomong, Mas Hal, adikmu iku wis nunggu suwe. Ojo nganti telat maneh.
(Mas Hal, adikmu itu sudah nunggu lama. Jangan sampai telat lagi.)
Dan Kak Ikal jawab: Nggih.
(Iya.)
Jumat malam, aku beres-beres apartemen buat nyambut Kak Safrina besok pagi.
Aku ganti sprei kamar kedua. Aku pindahin lemari kayu besar yang dulu isinya tujuh belas kotak kado, yang sekarang kosong, ke pojok kamar biar ada tempat buat kasur lipat. Aku beli bunga matahari di pasar bunga Kayoon, taruh di vas di meja makan. Aku beli teh Earl Grey, karena Kak Safrina cuma minum Earl Grey.
Terus aku berdiri di depan dinding gabus.
Foto Kak Ikal sebelas tahun masih ketutup handuk putih. Udah sembilan hari.
Aku ambil satu kertas tempel kuning. Aku nulis:
9 Juli — Kak Ikal lupa.
Aku tempel di sebelah kertas Ketemu. Dia di sini dari awal.
Terus aku ngeliatin kertas itu lama. Lama banget. Sampai mataku perih.
Terus aku ambil kertas tempel lagi. Aku nulis sesuatu. Kali ini tulisan tanganku lebih kecil, lebih miring, kayak orang yang malu sama tulisannya sendiri.
Tapi dia nyimpen lilinnya.
Aku tempel di bawahnya.
Dua kertas kuning, satu di atas yang lain.
9 Juli — Kak Ikal lupa.
Tapi dia nyimpen lilinnya.
Aku nggak tahu mana yang lebih penting. Aku nggak tahu mana yang harus kupercaya.
Aku matiin lampu dan tidur. Besok pagi jam sembilan empat puluh, Kak Safrina mendarat di Juanda.
Dan untuk pertama kalinya sejak di pesawat ke Melbourne tujuh belas tahun lalu, kami bertiga bakal ada di kota yang sama.
- 1 Aku Baik
- 2 Mesin Fotokopi
- 3 Biar Ada yang Hidup di Sini
- 4 Kontainer
- 5 Ulang Tahun Palsu
- 6 Kayla Anindya Putri
- 7 Audit Perasaan
- 8 Kak Hal
- 9 Papan Pencarian
- 10 Telur Dadar
- 11 Kelingking
- 12 Foto di Ponsel
- 13 Sabar Ya
- 14 Bisikan
- 15 Haikal Ramadhan
- 16 Kue Tiga Tingkat
- 17 Laporan Detektif
- 18 Oh. Iya, Aku Tahu
- 19 Aku ke Sana
- 20 Tujuh Belas Kotak
- 21 Tanggal reading
- 22 Mbak Safrina
- 23 Jangan Telepon Lagi
- 24 Jatuh dari Sepeda
- 25 Punggung
- 26 Bangku Warung
- 27 Surat yang Dibuka
- 28 Aku yang Milih
- 29 Rasi Bintang
- 30 Dilihat 23.47
- 31 Kamu Juga Tahu?
- 32 Berhenti Bilang Baik
- 33 Nggak Ada yang Keluar
- 34 Namanya Bobo
- 35 Tabungan ke Melbourne
- 36 Hati-Hati
- 37 Don’t Be Me
- 38 Kapan Nyusul
- 39 Asal Kakak Masih Hidup
- 40 Telat Nyusul
- 41 Ibu
- 42 Hari ke-1
- 43 Epilog: Yang Kanan