Chapter Thirteen
Sabar Ya
— Haikal —
Di depan warung Bu Warsih ada sebuah bangku kayu panjang.
Catnya hijau, sudah mengelupas di banyak tempat sampai kayu cokelat di bawahnya terlihat seperti kulit yang terluka. Kakinya yang kiri lebih pendek, jadi bangku itu selalu sedikit miring, dan kalau diduduki di ujung yang salah, ia akan berderit seperti engsel tua. Bangku itu menghadap ke jalan gang yang sempit, ke selokan kecil yang airnya hitam, dan ke rumah lama kami di seberangnya, rumah bercat kuning pucat dengan pagar besi yang berkarat.
Dari bangku itu, kalau duduk di ujung kanan, kita bisa melihat ke dalam warung. Ke etalase kaca berisi rokok batangan dan permen, ke rak berisi mi instan dan sabun cuci, dan ke meja kecil di sudut tempat pesawat telepon putih dengan argo kecil itu berada.
Aku duduk di ujung kanan bangku itu setiap sore selama hampir setahun.
Hari keempat ratus. Kira-kira. Aku masih menghitung waktu itu. Aku menulisnya setiap malam di buku tulis bersampul cokelat.
Aku dua belas tahun. Ayah sudah tidak pulang jam lima sore lagi. Dia pulang kapan saja, kadang jam dua siang, kadang jam dua pagi, kadang tidak pulang sama sekali. Uang di rumah tidak pernah cukup. Lauk tidak pernah ada. Pipi kiriku sudah dua kali bengkak bulan itu, dan aku sudah mulai memakai baju lengan panjang ke sekolah meskipun Semarang sedang panas-panasnya.
Malam itu Ayah pulang jam sepuluh. Dia tidak bicara. Dia hanya duduk di kursi plastik di ruang depan dengan botol di tangan, menatap televisi yang tidak menyala, dan aku tahu dari bahunya, dari cara dia menggenggam botol, dari bau yang sudah memenuhi rumah sebelum dia sempat menutup pintu, bahwa malam ini akan jadi malam yang buruk.
Malam itu memang buruk. Aku tidak akan menceritakannya.
Yang bisa kuceritakan adalah apa yang terjadi sesudahnya.
Jam sebelas lewat, Ayah tertidur di kursi plastik itu dengan mulut terbuka dan botol kosong tergeletak di lantai. Aku keluar dari kamar mandi tempat aku bersembunyi selama satu jam, berjalan tanpa suara melewatinya, dan berhenti di depan meja kecil di dekat pintu tempat telepon rumah kami berada.
Telepon rumah itu masih tersambung waktu itu. Ayah belum mencabutnya.
Aku mengangkat gagangnya. Tanganku gemetar. Bukan karena takut ketahuan. Tanganku memang sudah gemetar sejak satu jam sebelumnya dan tidak mau berhenti.
Aku memutar dua belas digit itu. Pelan, supaya bunyi tutsnya tidak membangunkan Ayah.
Di Semarang jam sebelas malam. Di Melbourne, aku tahu, jam dua pagi.
Bunyi sambungan internasional. Panjang, bergema. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Lalu sebuah suara, serak karena tidur, dalam bahasa Inggris. “Hello?”
Kak Safrina.
Suara Kak Safrina. Serak dan bingung, enam belas tahun, dengan sedikit logat asing yang belum pernah kudengar sebelumnya di suaranya.
“Kak,” bisikku. Aku menempelkan mulut ke gagang telepon dan menutupinya dengan tangan supaya suaraku tidak terdengar ke ruang depan. “Kak. Ini Ikal.”
Jeda. Lalu suaranya berubah, langsung terjaga.
“Ikal? Ya ampun, Kal, ini jam dua pagi! Kenapa? Kamu kenapa?”
Aku membuka mulut. Aku ingin bilang semuanya. Aku ingin bilang soal pipi kiriku. Soal ikat pinggang. Soal kamar mandi tempat aku bersembunyi satu jam tadi, soal botol, soal bau, soal pintu kamarku yang tidak bisa dikunci karena Ayah mencopot kuncinya. Aku ingin bilang semuanya, satu per satu, sampai tidak ada yang tersisa di dadaku.
Tapi Ayah tidur tiga meter dariku. Napasnya berat dan basah. Kalau dia bangun dan mendengarku…
Kalau kamu ngadu, Ibumu yang Ayah datangi.
“Kak,” bisikku. “Jemput aku.”
Hening di seberang.
“Kak, jemput aku. Aku mau ke sana. Aku mau ke Melbourne. Tolong.”
“Kal…” Suara Kak Safrina pelan. Bingung. Aku bisa membayangkannya sedang duduk di ranjang di kamar yang gelap, dengan rambut berantakan dan mata yang masih setengah terpejam. “Kal, Kakak nggak bisa jemput kamu sekarang. Kakak di Melbourne. Ini jam dua pagi.”
“Aku tahu. Tapi nanti. Kapan bisa?”
“Nanti, Kal. Ibu lagi ngumpulin uang buat tiket kamu. Nanti liburan musim panas, ya. Kita ketemu.” Dia menguap. Aku mendengarnya menguap. “Kakak besok ujian, Kal. Ujian kimia. Kakak harus tidur.”
“Kak…”
“Kamu kenapa sih? Kamu kangen, ya?”
Aku diam.
Bilang. Bilang sekarang. Bilang kenapa.
Di ruang depan, Ayah mendengkur. Botol kosong di lantai berguling sedikit karena angin dari pintu yang tidak tertutup rapat.
“Iya,” kataku. “Aku kangen.”
Kak Safrina tertawa pelan. Tawa lega, tawa sayang, tawa kakak yang mengira adiknya cuma rindu rumah.
“Sabar ya, Kal,” katanya lembut. “Kamu jagoan, kan? Sabar sedikit lagi. Nanti liburan kita ketemu. Oke?”
Sabar ya.
“Oke,” bisikku.
“Udah, tidur. Kakak juga mau tidur. Jangan bilang Ibu kamu nelepon jam segini, nanti Ibu khawatir. Ibu lagi capek banget, banyak shift malam.”
“Kak,” kataku cepat, sebelum dia menutup telepon. “Kalau telepon rumah nggak bisa, telepon ke warung Bu Warsih, ya. Nomornya…”
Aku menyebutkan nomor itu. Tujuh digit, kode area Semarang. Aku mengulangnya dua kali.
“Iya, iya. Kakak catat.” Suara kertas. Suara pulpen. Atau mungkin hanya suara selimut. Aku tidak tahu. “Udah, tidur. Dah, Kal.”
Klik.
Aku berdiri di sana dengan gagang telepon di tangan, mendengarkan nada sambung yang panjang dan datar, sampai Ayah bergerak dalam tidurnya dan menggumamkan sesuatu. Lalu aku menaruh gagangnya pelan-pelan dan kembali ke kamar.
Malam itu, di buku tulis bersampul cokelat, aku menulis: Hari ke-400. Kak Safrina bilang sabar. Nanti liburan.
Besok sorenya, aku mulai duduk di bangku hijau di depan warung Bu Warsih.
Ujung kanan. Menghadap ke telepon putih.
Aku duduk di sana setiap sore setelah sekolah. Satu jam, dua jam, kadang sampai magrib. Setiap kali telepon putih itu berdering, aku menoleh. Setiap kali Bu Warsih mengangkatnya dan bilang halo, aku menahan napas. Setiap kali ternyata itu telepon untuk orang lain, tukang galon atau pemasok rokok atau anak tetangga yang menelepon ibunya, aku menghembuskan napas dan kembali menatap jalan.
Bu Warsih tidak pernah bertanya kenapa aku duduk di sana. Kadang dia memberiku segelas teh manis. Kadang sepotong pisang goreng yang tidak laku. Kadang dia hanya menatapku dari balik etalase, lama, dengan mata yang sedih.
Liburan musim panas Australia datang. Desember, Januari, Februari.
Tidak ada telepon.
Liburan itu lewat.
Aku tetap duduk di bangku itu sampai berbulan-bulan kemudian, sampai suatu sore aku sadar bahwa aku sudah tidak benar-benar menunggu lagi. Aku hanya duduk di sana karena sudah terbiasa, seperti orang yang terus berjalan ke halte bus yang rutenya sudah lama dihapus.
Lalu suatu sore aku tidak duduk di sana lagi.
“Kak Hal! Kak Hal, sini!”
Aku menoleh dari layar komputerku. Hari Kamis, jam empat sore, tanggal dua puluh empat Agustus.
Kayla berdiri di ambang pintu ruang kerjaku di lantai tiga dengan sebuah kotak kue kecil berwarna putih di tangan dan wajah yang campuran antara malu dan bersemangat. Dia datang siang tadi untuk rapat finalisasi draf kontrak dengan tim legal. Rapat itu sudah selesai satu jam yang lalu. Aku kira dia sudah pulang.
“Kamu belum pulang?”
“Belum. Aku nungguin Kak Hal selesai kerja.” Dia masuk dan menaruh kotak kue itu di atas mejaku, di atas tumpukan manifes kapal. “Boleh minta waktu lima menit? Ini agak aneh. Kamu boleh nolak. Tapi aku pengin minta tolong.”
“Minta tolong apa?”
Kayla membuka kotak kue itu.
Di dalamnya ada kue tar kecil, mungkin diameter lima belas senti, berlapis krim cokelat dengan taburan meses di pinggirnya. Di atasnya, tulisan dari krim putih yang sedikit belepotan:
Selamat Ulang Tahun Kak Ikal
Di sebelah tulisan itu ada dua lilin berbentuk angka. Angka 8 dan angka 2.
Delapan puluh dua.
“Hari ini Kak Ikal ulang tahun,” kata Kayla pelan. Dia tidak menatapku. Dia menatap kue itu. “Yang ke-28. Tiap tahun, sejak aku sepuluh tahun, aku beli kue kecil di hari ini, terus aku tiup lilinnya. Buat dia. Kayak… kayak wakilin dia, gitu. Biar ada yang tiupin lilinnya, di mana pun dia berada.”
Dia tertawa kecil, gugup.
“Biasanya aku tiup sendiri di apartemen. Tapi tahun ini aku… nggak tahu. Aku nggak mau sendirian. Dan aku belum punya banyak temen di Surabaya. Elena lagi ke Batam sama tim galangan. Pak Bonar lagi di Semarang.” Dia akhirnya menatapku. Matanya berkaca-kaca, tapi dia tersenyum. “Kak Hal mau nemenin aku tiup lilin? Lima menit aja. Habis itu aku pulang, janji.”
Aku menatap kue itu.
Selamat Ulang Tahun Kak Ikal.
Aku tidak merayakan ulang tahunku. Sudah tujuh belas tahun. Tidak ada yang tahu tanggalnya di kantor ini kecuali Bu Endang dari HRD, yang menyimpannya di arsip dan tidak pernah membacanya. Mr Jake tidak tahu. Elena tidak tahu. Ucup tidak tahu. Cak Tarno tidak tahu.
Kayla tahu.
Kayla tahu, dan setiap tahun, selama tujuh belas tahun, di sebuah apartemen di Melbourne lalu di Surabaya, dia meniup lilin untukku.
“Boleh,” kataku.
Suaraku terdengar normal. Datar. Seperti biasa.
“Makasih, Kak!” Kayla tersenyum lebar, menyeka sudut matanya dengan punggung tangan. Dia merogoh tasnya dan mengeluarkan korek api gas. Lalu dia menatap kue itu dan membeku.
“Oh, nggak,” katanya. “Oh, nggak, nggak, nggak.”
“Kenapa?”
“Lilinnya kebalik.” Dia menunjuk dua lilin angka itu dengan ekspresi ngeri. “Delapan puluh dua. Aku tulis ke-28 di pesanan, tapi mbak tokonya pasang kebalik. Kak Ikal jadi kakek-kakek.”
Aku menatap angka 8 dan 2 di atas kue.
Lalu aku mengulurkan tangan, mencabut kedua lilin itu dari krim dengan hati-hati, dan menancapkannya kembali dengan urutan yang benar. Angka 2 di kiri, angka 8 di kanan.
28.
Kayla menatap tanganku. Lalu menatapku. Lalu tertawa, tawa yang pecah di tengah-tengah dan hampir berubah jadi sesuatu yang lain.
“Makasih,” katanya. “Ya ampun. Kamu bahkan benerin lilin orang yang nggak kamu kenal.”
Aku tidak menjawab.
Dia menyalakan korek gas. Dua api kecil menyala di ujung lilin angka 2 dan 8, bergoyang pelan karena angin dari AC.
Lalu Kayla bernyanyi.
Pelan. Hampir berbisik. Dengan suara yang sedikit sumbang di nada tinggi dan huruf R yang sedikit cadel.
“Selamat ulang tahun, kami ucapkan… Selamat panjang umur, kita kan doakan…”
Aku duduk di kursiku. Aku tidak bergerak.
“Selamat sejahtera, sehat sentosa… Selamat panjang umur, dan bahagia…”
Di ruang kerjaku di lantai tiga, di tengah tumpukan manifes kapal dan laporan bea cukai, dengan jendela yang menghadap ke dermaga Jamrud dan crane-crane yang bergerak lambat di bawah langit sore, adikku menyanyikan lagu ulang tahun untukku tanpa tahu bahwa aku duduk di depannya.
“Kak Hal yang tiup, ya,” katanya setelah lagunya selesai. Dia mendorong kue itu ke arahku. “Soalnya Kak Ikal nggak di sini. Kamu wakilin dia hari ini. Make a wish dulu.”
Aku menatap dua api kecil itu.
Make a wish.
Aku tidak tahu harus meminta apa. Aku sudah lama tidak meminta apa pun. Tidak kepada Tuhan, tidak kepada bintang, tidak kepada lilin.
Aku mencondongkan badan dan meniup.
Dua api kecil itu padam. Asap tipis naik dari sumbu, meliuk, lalu menghilang.
Kayla bertepuk tangan pelan. “Yeay. Selamat ulang tahun, Kak Ikal,” bisiknya, ke arah langit-langit, ke arah jendela, ke arah mana pun selain ke arahku. “Di mana pun Kakak sekarang. Semoga Kakak sehat. Semoga Kakak udah makan. Semoga Kakak nggak sendirian.”
Aku menatap sumbu lilin yang menghitam.
Semoga Kakak nggak sendirian.
Pintu ruang kerjaku terbuka tanpa diketuk.
“Pak Hal, laporan muatan MV Sinar… EH?”
Ucup berdiri di ambang pintu dengan map biru di tangan dan mata yang membulat seperti piring melihat kue di mejaku, lilin angka 28 yang masih berasap, dan Kayla yang sedang menyeka matanya.
“PAK HAL ULANG TAHUN?!”
Suaranya menggelegar ke seluruh lantai tiga. Dua kepala langsung muncul dari balik partisi kubikel di luar.
“Bukan,” kataku.
“Tapi itu kue! Itu lilin! Angka dua puluh delapan! Pak Hal umurnya berapa? Pak Hal nggak pernah bilang umur! PAK HAL ULANG…”
“Bukan aku, Cup,” kataku dengan nada yang lebih tegas dari biasanya. “Itu buat kakaknya Mbak Kayla.”
Ucup menatapku. Lalu menatap Kayla. Lalu menatap kue yang bertuliskan Kak Ikal. Ekspresinya berubah dari kegembiraan menjadi kebingungan, lalu, perlahan, menjadi sesuatu yang lebih pelan dan hati-hati waktu dia melihat mata Kayla yang merah.
“Oh,” kata Ucup. “Maaf, Mbak. Maaf, Pak.”
Dia menaruh map biru di meja dekat pintu dan mundur keluar tanpa suara. Kepala-kepala di balik partisi menghilang satu per satu.
Kayla tertawa lagi, kali ini lebih tenang. “Ucup lucu, ya.”
“Kadang.”
“Kak Hal kapan ulang tahunnya?”
Pertanyaan itu lagi. Ditanyakan dua kali dalam sebulan, oleh dua orang berbeda, untuk pertama kalinya dalam tujuh belas tahun.
“Aku nggak ngerayain,” kataku.
Kayla menatapku dengan dahi berkerut. Lalu dia mengangguk pelan, seolah mengerti sesuatu yang tidak dia katakan.
“Kalau gitu,” katanya, sambil memotong kue dengan pisau plastik yang dibawanya, “anggep aja hari ini ulang tahun kamu juga. Biar kamu nggak sia-sia niup lilinnya.”
Dia menyodorkan sepotong kue cokelat di atas tisu.
Aku menerimanya.
Kayla pulang jam lima. Dia meninggalkan sisa kuenya di mejaku, katanya buat Kak Hal sama Ucup, dan memelukku sebentar di ambang pintu. Pelukan cepat, canggung, dengan satu tangan, seperti memeluk rekan kerja di acara perpisahan kantor.
“Makasih, Kak Hal,” bisiknya. “Kamu baik banget.”
Lalu dia pergi. Tuk, srek, tuk, srek.
Aku duduk di kursiku. Kue di depanku tinggal separuh. Tulisan Selamat Ulang Tahun Kak Ikal sudah terpotong di tengah, jadi tinggal Selamat Ulang dan Ikal yang terpisah oleh irisan pisau plastik.
Aku mengambil lilin angka 2 dan 8 dari atas krim. Ujung sumbunya hitam. Pangkalnya belepotan krim cokelat.
Aku menggenggamnya di telapak tanganku.
Jam lima lewat seperempat, pintu ruang kerjaku diketuk dua kali, lalu terbuka.
Elena berdiri di sana. Dia baru pulang dari Batam. Aku bisa melihatnya dari koper kabin hijau tua yang masih dia tarik dan rambutnya yang kusut karena angin. Dia memakai kemeja linen putih yang kusut di bagian siku, dan matanya terlihat lelah.
Dia menatap kue di mejaku. Tulisan Ikal yang terpotong. Lalu matanya turun ke tanganku, ke dua lilin angka yang kugenggam.
2. 8.
Wajahnya tidak berubah. Sedikit pun. Tapi aku melihat sesuatu terjadi di matanya, sesuatu yang cepat dan dalam, seperti pintu yang menutup di ujung lorong yang panjang.
“Aku cuma mau ngabarin,” katanya, suaranya sangat tenang, “galangan di Batam setuju harga kita. Laporannya kukirim besok pagi.”
“Baik, Bu. Terima kasih.”
Dia mengangguk. Matanya masih di tanganku.
Lalu dia berbalik dan pergi, menarik koper hijaunya di sepanjang lorong. Rodanya berderak pelan di atas lantai.
Aku membuka telapak tanganku dan menatap dua lilin kecil itu.
Malam itu, di apartemenku, aku menaruh lilin angka 2 dan 8 di lantai, di sebelah pot sirih gading. Aku tidak tahu kenapa aku membawanya pulang. Aku tidak pernah menyimpan apa pun.
Aku berbaring di atas tikar dan menatapnya dalam gelap, dua bayangan kecil di bawah cahaya lampu kota yang masuk dari jendela.
Sabar ya, Kal.
Aku sudah sabar.
Tujuh belas tahun aku tidak meniup lilin ulang tahun.
Malam ini aku meniupnya, dan orang yang menyanyikan lagunya tidak tahu dia sedang menyanyikannya untukku.
- 1 Aku Baik
- 2 Mesin Fotokopi
- 3 Biar Ada yang Hidup di Sini
- 4 Kontainer
- 5 Ulang Tahun Palsu
- 6 Kayla Anindya Putri
- 7 Audit Perasaan
- 8 Kak Hal
- 9 Papan Pencarian
- 10 Telur Dadar
- 11 Kelingking
- 12 Foto di Ponsel
- 13 Sabar Ya reading
- 14 Bisikan
- 15 Haikal Ramadhan
- 16 Kue Tiga Tingkat
- 17 Laporan Detektif
- 18 Oh. Iya, Aku Tahu
- 19 Aku ke Sana
- 20 Tujuh Belas Kotak
- 21 Tanggal
- 22 Mbak Safrina
- 23 Jangan Telepon Lagi
- 24 Jatuh dari Sepeda
- 25 Punggung
- 26 Bangku Warung
- 27 Surat yang Dibuka
- 28 Aku yang Milih
- 29 Rasi Bintang
- 30 Dilihat 23.47
- 31 Kamu Juga Tahu?
- 32 Berhenti Bilang Baik
- 33 Nggak Ada yang Keluar
- 34 Namanya Bobo
- 35 Tabungan ke Melbourne
- 36 Hati-Hati
- 37 Don’t Be Me
- 38 Kapan Nyusul
- 39 Asal Kakak Masih Hidup
- 40 Telat Nyusul
- 41 Ibu
- 42 Hari ke-1
- 43 Epilog: Yang Kanan