Chapter Fifteen
Haikal Ramadhan
— Elena —
Lilin angka dua dan delapan.
Sudah empat hari, dan aku masih melihatnya setiap kali memejamkan mata. Dua batang lilin kecil dengan sumbu menghitam dan pangkal belepotan krim cokelat, digenggam di telapak tangan laki-laki yang tidak pernah menyimpan apa pun.
Dan kue di mejanya. Tulisan krim putih yang terpotong di tengah oleh pisau plastik, sehingga yang tersisa hanya Selamat Ulang di satu sisi dan Ikal di sisi lain.
Dua puluh delapan. Kayla bilang di kafe, kakaknya dua tahun lebih tua darinya. Kayla dua puluh enam.
Aku pulang dari Batam hari Kamis itu dengan kepala penuh angka galangan kapal, dan aku pulang dari ruang kerjanya lima menit kemudian dengan kepala yang kosong sama sekali, seperti seseorang menekan tombol delete di semua file sekaligus.
Aku tidak bilang apa-apa kepadanya. Aku tidak bertanya. Aku menarik koperku sepanjang lorong, naik lift, menyetir pulang, masuk kamar, dan duduk di lantai sampai jam dua pagi.
Aku butuh satu bukti lagi. Aku sudah bilang begitu pada diriku sendiri di lampu merah Jalan Raya Darmo seminggu lalu. Satu bukti yang tidak bisa dibantah.
Hari Selasa, bukti itu datang dengan cara yang sangat membosankan. Lewat dokumen administrasi.
Kontrak dengan galangan kapal di Batam membutuhkan fotokopi KTP kedua penandatangan dari pihak Willmore. Kedua penandatangannya adalah anggota Komite Margaret: aku dan dia.
Aku punya KTP-ku sendiri. Untuk KTP-nya, aku harus minta ke HRD.
Ini prosedur biasa. Aku sudah ratusan kali minta fotokopi KTP karyawan untuk keperluan kontrak, asuransi, perizinan. Tidak ada yang aneh soal itu.
Tapi waktu aku berdiri di depan meja Bu Endang di ruang HRD lantai dua, tanganku dingin.
“Fotokopi KTP Pak Hal?” Bu Endang mengulangi permintaanku sambil menatapku dari balik kacamata bacanya yang dipasangi rantai manik-manik. “Buat apa, Bu?”
“Kontrak galangan Batam, Bu. Penandatangan dua orang.”
“Oh. Komite Margaret.” Bu Endang mengangguk penuh arti, dan di sudut bibirnya muncul senyum yang sangat tidak profesional. Seluruh gedung sudah tahu soal Komite Margaret. Seluruh gedung sudah tahu soal papan taruhan Ucup. Aku curiga Bu Endang sendiri ikut bertaruh. “Sebentar ya, Bu. Saya cari di arsip.”
Dia berdiri, berjalan ke lemari arsip besi di pojok ruangan, membuka laci ketiga, dan mulai membuka-buka map.
“Bu Elena,” katanya tanpa menoleh, dengan nada orang yang sedang membicarakan cuaca, “mau sekalian saya catatkan tanggal lahirnya Pak Hal?”
“Buat apa, Bu?”
“Ya buat dicek wetonnya.” Bu Endang menoleh dengan wajah polos. “Saya dulu juga cek weton suami saya sebelum nikah, Bu. Saya Selasa Kliwon, dia Jumat Legi. Cocok katanya. Sekarang sudah tiga puluh dua tahun.”
“Bu Endang,” kataku dengan sangat tenang. “Ini buat kontrak.”
“Iya, Bu, iya. Kontrak.” Bu Endang mengangguk-angguk sambil tersenyum. “Kontrak seumur hidup.”
Aku memejamkan mata dan menghitung sampai sepuluh di dalam kepala.
Bu Endang kembali dengan selembar kertas fotokopi dan meletakkannya di atas meja, di depanku, menghadap ke arahku.
Aku membuka mata.
PROVINSI JAWA TIMUR KOTA SURABAYA
NIK: 3578……
Nama: HAIKAL RAMADHAN Tempat/Tgl Lahir: SEMARANG, 24-08-1998
Aku membaca nama itu.
Lalu aku membacanya lagi.
Lalu aku membaca tanggal lahirnya. Dua puluh empat Agustus. Kamis kemarin. Hari aku pulang dari Batam dan menemukannya di ruang kerjanya dengan kue cokelat bertuliskan Kak Ikal dan dua lilin angka di telapak tangannya.
Di foto KTP itu dia lebih muda. Mungkin dua puluh tiga, dua puluh empat. Rambutnya sedikit lebih panjang. Wajahnya sama datarnya, menatap lurus ke kamera tanpa ekspresi apa pun, seperti foto narapidana di film. Bekas luka kecil di alis kirinya terlihat jelas bahkan di fotokopi hitam putih yang buram.
Jatuh dari sepeda. Umur dua belas. Merah.
Haikal Ramadhan.
Aku sudah dua tahun memegang laporan penggajian perusahaan ini. Setiap bulan, aku memeriksa daftar nama dua ratus empat puluh karyawan Willmore Maritime satu per satu, memastikan tidak ada yang salah transfer. Setiap bulan, di urutan nomor tujuh puluh tiga, ada nama Haikal R., Director of Operations. Setiap bulan, aku membaca nama itu dan memeriksa angkanya dan memberi centang hijau di sebelahnya.
Dua tahun. Dua puluh empat kali. Dan aku tidak pernah sekali pun berhenti untuk bertanya siapa Haikal R., karena semua orang memanggilnya Hal. Papa memanggilnya Hal. Ucup memanggilnya Pak Hal. Kartu namanya bertuliskan Hal. Surelnya bertanda tangan Hal.
Tidak ada yang memanggilnya Haikal.
Tidak ada yang memanggilnya Ikal.
“Bu Elena?” Bu Endang menatapku dengan dahi berkerut. “Ibu kenapa? Pucat.”
“Nggak apa-apa, Bu.” Aku mengambil fotokopi itu. Kertasnya bergetar sedikit di tanganku. “AC-nya dingin.”
“AC ruangan saya rusak dari minggu lalu, Bu.”
Aku tidak menjawab. Aku berbalik dan berjalan keluar dengan kertas itu di tangan.
Dia ada di ruang arsip di basement.
Ruang arsip Willmore adalah ruangan panjang tanpa jendela di bawah tanah, penuh rak besi yang berderet sampai ke ujung, berisi ribuan map manifes kapal, dokumen bea cukai, dan laporan pelayaran sejak tahun 1991. Lampunya neon putih yang berdengung pelan. Udaranya pengap dan berbau kertas tua. Tidak ada yang suka turun ke sana kecuali kalau terpaksa.
Dia suka. Mbak Rini pernah cerita, Pak Hal sering turun ke ruang arsip di jam makan siang dan duduk sendirian membaca manifes-manifes lama. Tidak ada yang tahu kenapa.
Aku menemukannya di lorong rak paling ujung, berdiri dengan map tebal terbuka di tangannya, kepala sedikit miring ke kanan, membaca.
Aku menutup pintu ruang arsip di belakangku. Bunyi kliknya bergema di antara rak-rak besi.
Dia menoleh.
Aku berjalan ke arahnya. Lantai beton dingin di bawah sepatuku. Lampu neon berdengung di atas kepala. Aku berhenti dua meter di depannya, di sebelah kanannya, dan mengangkat fotokopi KTP itu.
Dia menatap kertas itu.
Dia tidak bergerak. Wajahnya tidak berubah. Tidak ada yang terkejut, tidak ada yang panik. Hanya matanya yang turun ke kertas di tanganku, membaca, lalu naik lagi ke wajahku. Pelan. Sangat pelan.
“Haikal Ramadhan,” kataku.
Suaraku terdengar aneh di ruangan sepi itu. Terlalu keras dan terlalu pelan sekaligus.
Dia diam.
“Lahir di Semarang,” lanjutku. “Dua puluh empat Agustus. Kamis kemarin.”
Dia diam.
“Kayla adikmu.”
Lampu neon berdengung. Di suatu tempat di ujung ruangan, sebuah map tua jatuh dari rak dengan bunyi pelan.
“Iya,” katanya.
Satu kata. Datar. Seperti dia sedang mengonfirmasi nomor kontainer.
Aku sudah tahu. Aku sudah tahu sejak kafe di Gubeng, sejak stiker bunga matahari, sejak lilin angka dua dan delapan. Tapi mendengarnya diucapkan dengan suaranya sendiri, dengan nada yang sama yang ia pakai untuk bilang halaman tujuh, membuat lututku hampir lemas.
“Sejak kapan kamu tahu?”
“Dari surel pertama.”
“Surel pertama.” Aku menatapnya. “Itu tiga minggu lalu.”
“Iya.”
“Kamu duduk di seberang dia di ruang rapat. Kamu ajak dia keliling dermaga. Kamu kasih dia telur dadar kamu. Kamu anterin dia pulang pas hujan. Kamu tiupin lilin ulang tahun kamu sendiri di depan dia, dan dia nyanyiin lagu ulang tahun buat kamu, dan dia nggak tahu…” Suaraku pecah. Aku menelan ludah. “Dan kamu nggak bilang apa-apa.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Dia menatapku. Lama. Lampu neon memantulkan cahaya putih di matanya yang gelap.
“Buat apa, El?”
El.
Dia belum pernah memanggilku begitu. Dua tahun, dan dia selalu memanggilku Bu. Bu Elena. Bahkan setelah aku memanggilnya kamu, dia tetap memanggilku Bu.
Sekarang, di ruang arsip di bawah tanah, di depan fotokopi KTP yang membuka semua rahasianya, dia memanggilku El. Seperti orang yang terlalu lelah untuk memasang pagar lagi.
“Buat apa?” ulangku. “Dia adikmu! Dia nyari kamu sembilan tahun! Dia pindah negara buat nyari kamu! Dia nyewa detektif. Dia nyimpen foto kamu waktu kecil di HP-nya, di album yang dikasih nama kamu pakai gambar hati. Dia beliin kue ulang tahun buat kamu! Dan kamu tanya buat apa?”
“Aku tahu,” katanya.
“Terus?”
Dia menutup map di tangannya. Dia menaruhnya kembali ke rak, di tempatnya semula, dengan rapi, meluruskan ujungnya supaya sejajar dengan map-map lain. Lalu dia menatapku lagi.
“Aku nggak marah sama dia, El,” katanya pelan. “Aku nggak benci dia. Aku nggak dendam.”
“Terus kenapa…”
“Aku cuma…” Dia berhenti. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia terlihat seperti sedang mencari kata, dan tidak menemukannya. “Nggak ada apa-apa.”
“Nggak ada apa-apa itu maksudnya apa?”
Dia diam lama. Lampu neon berdengung.
“Kamu tahu rasanya buka lemari,” katanya akhirnya, “terus kamu tahu dulu di situ ada barang? Kamu inget barangnya apa. Kamu inget warnanya, bentuknya, di rak yang mana. Tapi sekarang lemarinya kosong. Dan kamu berdiri di depan lemari itu, nunggu ngerasa sedih karena barangnya hilang. Kamu nunggu lama.” Dia menatap rak besi di sebelahnya. “Dan nggak ada apa-apa. Cuma lemari kosong. Kamu nggak sedih. Kamu nggak marah. Kamu cuma… berdiri di sana.”
Aku menatapnya. Tanganku yang memegang fotokopi KTP itu turun pelan-pelan ke samping tubuhku.
“Aku lihat Kayla,” lanjutnya dengan suara yang sama datarnya, “dan aku inget semuanya. Aku inget dia suka kerupuk bawang. Aku inget dia takut boneka porselen. Aku inget kaki kirinya diseret kalau jalan. Aku inget semuanya, El. Tapi waktu aku lihat dia, waktu dia bilang Kak Ikal, waktu dia nyanyi lagu ulang tahun… nggak ada yang gerak di sini.”
Dia menyentuh dadanya dengan dua jari. Sekali. Pelan.
“Aku udah nunggu. Tiga minggu. Aku nunggu ada yang gerak. Nggak ada.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Aku sudah menyiapkan seribu kata sepanjang tangga dari lantai dua ke basement. Kemarahan, tuntutan, pertanyaan. Kamu jahat. Kamu egois. Kamu nggak punya hati. Tapi berdiri di depannya sekarang, mendengar suaranya yang datar menjelaskan kehampaan seperti menjelaskan data cuaca, semua kata itu hilang.
Karena dia tidak jahat. Dia tidak egois.
Dia kosong. Dan dia sendiri tidak tahu harus berbuat apa dengan kekosongan itu.
“Kenapa kamu kabur?” tanyaku pelan. “Waktu enam belas tahun. Kenapa kamu tidur di kontainer Papa?”
Dia tidak menjawab.
“Bekas luka di lengan kamu,” kataku. “Aku lihat waktu itu. Garis-garis tipis. Sejajar.”
Dia tidak menjawab.
“Sepedanya,” kataku, dan suaraku bergetar sekarang, aku tidak bisa menahannya, “sepedanya bukan warna merah, kan?”
Dia menatapku untuk waktu yang sangat lama.
“Aku nggak pernah punya sepeda, El,” katanya.
Lampu neon berdengung. Rak-rak besi berdiri diam di sekeliling kami seperti saksi yang tidak bisa bicara.
Aku tidak menangis. Aku menahannya dengan seluruh tenaga yang kupunya. Aku mengatupkan rahang begitu keras sampai gigiku sakit. Aku tidak mau menangis di depannya. Rasanya tidak adil. Dia yang terluka, tapi dia yang tidak bisa menangis, dan aku tidak mau mengambil sesuatu yang seharusnya miliknya.
“Dia berhak tahu,” kataku akhirnya. “Kayla. Dia berhak tahu.”
“Aku tahu.”
“Kalau kamu nggak bilang, aku yang bilang.”
Untuk pertama kalinya, sesuatu bergerak di wajahnya. Bukan banyak. Sedikit kerutan di antara alisnya. Seperti riak di permukaan air yang tenang.
“Jangan,” katanya. “Tolong.”
Tolong. Dia tidak pernah bilang tolong. Dia selalu bilang baik, Bu, saya perbaiki, Bu, saya yang telepon, Bu. Dia tidak pernah meminta apa pun kepada siapa pun.
“Kenapa?”
“Kalau dia tahu,” katanya, “dia bakal nunggu sesuatu dari aku. Dia bakal nunggu aku meluk dia. Nangis. Bilang kangen. Bilang maaf karena nggak nyusul.” Dia menatap lantai beton. “Aku nggak punya apa-apa buat dikasih ke dia, El. Lemarinya kosong. Kalau dia tahu, dia bakal buka lemari itu, dan dia bakal lihat kosongnya. Dan itu lebih jahat daripada kalau dia nggak pernah tahu.”
“Itu bukan keputusan kamu.”
“Aku tahu.”
“Itu keputusan dia.”
“Aku tahu, El.” Dia mengangkat wajah. Matanya, untuk sedetik, terlihat sangat lelah. Bukan lelah karena kurang tidur. Lelah yang lebih tua dari itu. “Aku cuma butuh waktu. Sedikit lagi. Aku mau coba… cari sesuatu di lemari itu. Apa aja. Sebelum dia buka.”
Aku menatapnya.
Aku tahu ini salah. Aku tahu Kayla berhak tahu. Aku tahu setiap hari yang lewat tanpa Kayla tahu adalah satu hari lagi dia menyanyikan lagu ulang tahun untuk orang yang duduk di depannya, satu hari lagi dia membisikkan rahasia ke telinga yang…
Telinga.
Aku menatap telinga kirinya. Lalu kepalanya yang selalu miring ke kanan.
Aku tidak bertanya. Aku tidak sanggup bertanya lagi hari ini.
“Oke,” kataku.
Dia menatapku.
“Oke,” ulangku, lebih pelan. “Aku nggak bilang. Tapi kamu yang harus bilang. Bukan aku. Kamu. Dan jangan kelamaan, Hal. Jangan sampai dia tahu dari orang lain.”
Dia mengangguk. Sekali.
“Makasih, El.”
Aku berbalik dan berjalan ke pintu ruang arsip. Tanganku memegang gagang pintu. Aku berhenti.
“Hal,” kataku tanpa menoleh.
“Ya?”
“Lemari kosong itu,” kataku. “Aku nggak percaya kosong. Aku rasa barangnya masih di situ. Cuma ketutup debu. Tebel banget. Sampai kamu nggak bisa lihat lagi.”
Dia tidak menjawab.
Aku membuka pintu dan keluar.
Aku berhasil sampai ke mobilku di parkiran basement tanpa menangis. Aku berhasil membuka pintu, duduk di kursi pengemudi, menutup pintu, dan menaruh fotokopi KTP itu di jok penumpang dengan sangat rapi.
Lalu aku menangis.
Bukan tangis yang cantik. Tangis yang jelek, yang basah, yang membuat bahuku berguncang dan napasku tersengal-sengal dan maskaraku luntur ke pipi. Aku menangis dengan dahi menempel di setir, dengan dua tangan menutup mulut supaya tidak ada yang mendengar dari mobil-mobil lain di basement itu.
Aku menangis untuk anak dua belas tahun yang tidak pernah punya sepeda. Aku menangis untuk anak enam belas tahun yang tidur meringkuk di kontainer hijau berkarat milik Papa sambil menutup kepala dengan dua tangan. Aku menangis untuk laki-laki dua puluh delapan tahun yang meniup lilin ulang tahunnya sendiri di depan adiknya dan tidak merasakan apa-apa.
Aku menangis karena dia tidak bisa.
Seseorang harus menangis untuknya. Kalau dia tidak bisa, biar aku saja.
Di gantungan kunci di kontak mobilku, kunci perak kecil dengan gantungan plastik bertuliskan 2307 bergoyang pelan setiap kali bahuku berguncang.
Waktu aku akhirnya berhenti menangis, langit di luar basement sudah gelap. Ponselku menunjukkan satu pesan baru.
Kayla: Elenaaa! Hari Sabtu dinner di apartemenku yuk! Aku mau masak rendang (doain nggak gosong ya). Aku ajak Kak Hal juga. Biar rame. Bisa kan? 🥺🌻
Aku menatap pesan itu sangat lama.
Lalu aku mengetik balasan.
Aku: Bisa. 🌻
Aku tidak tahu apakah aku sedang melakukan hal yang benar.
Aku hanya tahu bahwa kalau Hal akan duduk di meja makan adiknya hari Sabtu nanti, aku tidak mau dia duduk di sana sendirian.
- 1 Aku Baik
- 2 Mesin Fotokopi
- 3 Biar Ada yang Hidup di Sini
- 4 Kontainer
- 5 Ulang Tahun Palsu
- 6 Kayla Anindya Putri
- 7 Audit Perasaan
- 8 Kak Hal
- 9 Papan Pencarian
- 10 Telur Dadar
- 11 Kelingking
- 12 Foto di Ponsel
- 13 Sabar Ya
- 14 Bisikan
- 15 Haikal Ramadhan reading
- 16 Kue Tiga Tingkat
- 17 Laporan Detektif
- 18 Oh. Iya, Aku Tahu
- 19 Aku ke Sana
- 20 Tujuh Belas Kotak
- 21 Tanggal
- 22 Mbak Safrina
- 23 Jangan Telepon Lagi
- 24 Jatuh dari Sepeda
- 25 Punggung
- 26 Bangku Warung
- 27 Surat yang Dibuka
- 28 Aku yang Milih
- 29 Rasi Bintang
- 30 Dilihat 23.47
- 31 Kamu Juga Tahu?
- 32 Berhenti Bilang Baik
- 33 Nggak Ada yang Keluar
- 34 Namanya Bobo
- 35 Tabungan ke Melbourne
- 36 Hati-Hati
- 37 Don’t Be Me
- 38 Kapan Nyusul
- 39 Asal Kakak Masih Hidup
- 40 Telat Nyusul
- 41 Ibu
- 42 Hari ke-1
- 43 Epilog: Yang Kanan