← Hari ke-731

Chapter Twelve

Foto di Ponsel

— Elena —

Dia tersenyum.

Aku sudah dua tahun bekerja satu gedung dengan laki-laki itu. Dua tahun rapat bersama, berdebat soal anggaran, adu argumen soal konsumsi solar, saling kirim surel jam sebelas malam soal klausul kontrak. Selama dua tahun itu, aku belum pernah sekali pun melihatnya tersenyum. Bukan senyum yang sungguhan.

Senyum sopan ke klien, pernah. Sudut bibir yang naik dua milimeter selama satu detik waktu Ucup jatuh ke kolam ikan di depan kantor syahbandar, pernah. Riak kecil di wajahnya waktu aku bilang kalau mati, saya audit, pernah. Itu pun aku tidak yakin benar-benar melihatnya.

Tapi semalam, di balik dinding kaca ruang rapat Komite Margaret, setelah aku menempelkan kertas bodoh di depan kamera CCTV Papa, dia tersenyum dengan seluruh wajahnya.

Matanya ikut tersenyum. Sudut-sudutnya berkerut. Wajahnya, yang biasanya datar seperti permukaan kolam di malam tanpa angin, tiba-tiba berubah menjadi wajah orang lain. Wajah yang lebih muda, lebih hangat, dan begitu manusiawi sampai napasku tertahan di tenggorokan.

Lalu hilang. Dalam satu detik. Seperti lampu yang dinyalakan lalu langsung dimatikan lagi.

Aku tidak bisa tidur semalaman karena itu.

Aku berbaring di ranjangku menatap langit-langit, memutar ulang wajah itu di kepalaku seperti video yang diputar berulang-ulang. Jam satu. Jam dua. Jam tiga. Aku mencoba menulis audit internal lagi di kepala. Temuan nomor tujuh: Auditor tidak bisa tidur karena senyum subjek audit. Kolom kesimpulan: kosong. Kosong melompong. Tidak ada kalimat di dunia ini yang bisa menjelaskan temuan nomor tujuh dengan cara yang bisa diterima akal sehat.

Aku akhirnya tertidur jam empat pagi dan bangun jam enam dengan mata bengkak.


Jam sembilan, Papa masuk ke ruanganku dengan wajah seperti orang yang baru pulang dari pemakaman.

Dia duduk di kursi tamu tanpa bicara. Dia tidak membawa nasi bebek. Dia tidak membawa small favor. Dia hanya duduk, menatap jendela, dan menghela napas panjang setiap sepuluh detik.

“Papa kenapa?”

“Nothing.”

Hela napas.

“Papa.”

“I’m fine, sweetheart.”

Hela napas yang lebih panjang.

Aku menutup laptopku. “Papa, kalau Papa nggak ngomong, aku panggil Bu Sum dan bilang Papa makan sambal di Warung Bu Yati.”

Papa menoleh dengan wajah dikhianati. “How do you know about the sambal?”

“Semua orang di gedung ini tahu soal sambal, Pa. Ucup bikin stiker WhatsApp-nya. Muka Papa warna ungu.”

Papa menutup wajahnya dengan dua tangan. Lalu, dari balik tangannya, dengan suara yang sangat menderita, dia berkata:

“He gave his egg to the Melbourne girl.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

Papa menurunkan tangannya. Matanya berkaca-kaca. Papa selalu berkaca-kaca untuk hal-hal yang tidak penting, dan tidak pernah untuk hal-hal yang penting. Aku tidak pernah melihat Papa menangis di pemakaman Mama. Tapi aku pernah melihatnya menangis karena tim sepak bola Liverpool kalah adu penalti.

“Hal,” kata Papa. “At Bu Yati. Last Thursday. Twelve years he eats rawon, every single day, same table, same rawon. Then the girl from Melbourne comes, and he orders telur dadar. And then…” Papa mengangkat tangannya dengan dramatis, menirukan gerakan menyendok. “He gives the whole egg. To her plate. Without saying anything. Just like that.”

Aku diam.

“And then,” lanjut Papa, menurunkan suaranya seperti sedang menceritakan skandal kerajaan, “yesterday, when it rained, he drove her home. In the rain. Two hours, because of the traffic. Ucup saw them leave together.”

Sesuatu yang dingin dan kecil menggelinding di dalam perutku. Seperti kelereng es.

“Itu… mungkin cuma sopan santun, Pa.”

“Sopan santun?” Papa menatapku. “Sweetheart. Has Hal ever given you his egg?”

Aku membuka mulut. Lalu menutupnya.

Tidak. Dia belum pernah memberiku telurnya. Aku belum pernah makan siang dengannya di Warung Bu Yati. Aku bahkan tidak tahu dia makan rawon setiap hari di meja yang sama selama dua belas tahun.

Aku tidak tahu banyak hal tentang dia, ternyata.

“I’ve been building this for two years,” gumam Papa ke jendela, lebih kepada dirinya sendiri. “Two years. The committee. The blanket. The water heater. The plant, Elena. Do you know how hard it was to get Dinda to tell you that plants are good for apartments? I had to give her a raise.”

“Papa ngasih Dinda kenaikan gaji buat…”

“Forget I said that.”


Setelah Papa pergi, Dinda masuk ke ruanganku tanpa mengetuk, membawa secangkir teh hangat yang tidak kuminta, dan menaruhnya di mejaku dengan ekspresi penuh simpati, seperti perawat di bangsal kanker.

“Bu,” katanya lembut. “Ibu nggak apa-apa?”

“Aku baik-baik aja.”

“Bu Elena yang sabar, ya.” Dinda menepuk punggung tanganku. “Kalau Ibu mau labrak Mbak Kayla, saya siap nemenin. Saya pernah ikut taekwondo waktu SMP. Sabuk kuning, Bu.”

“Aku nggak mau labrak siapa-siapa, Dinda.”

“Atau Ibu mau saya bikinin surat kaleng? Saya bisa bikin surat kaleng. Saya punya font yang mirip potongan huruf koran.”

“Dinda. Keluar.”

Dinda keluar dengan wajah prihatin, meninggalkan teh yang tidak kuminta. Lima menit kemudian, dari jendela, aku melihat Ucup berlari dari ruang istirahat kru ke arah papan tulis dengan spidol merah. Aku tidak perlu mendengar teriakannya untuk tahu bahwa odds-nya baru saja naik lagi.

Aku menatap teh di mejaku.

Lalu aku mengambil selembar kertas dan menulis temuan nomor delapan.

Auditor merasakan sesuatu di perut waktu mendengar subjek audit memberikan telur dadar kepada perempuan lain.

Kolom kesimpulan: Lapar. Auditor belum sarapan.

Aku meremas kertas itu dan melemparnya ke tempat sampah. Meleset.


Kayla menelepon jam dua siang.

“Elena! Hai! Ini Kayla, dari Arunika. Inget aku, kan? Yang jatuhin pulpen tiga kali.”

“Inget,” kataku. Suaraku terdengar lebih kaku dari yang kumaksud. “Hai, Kayla.”

“Aku mau nanya sesuatu, tapi jangan ketawa, ya.” Dia tertawa sendiri sebelum aku sempat menjawab. “Kamu Sabtu ini ada acara? Aku pengin ngajak ngopi. Bukan soal kerjaan. Soalnya… duh, ini memalukan. Aku udah dua tahun di Surabaya dan aku belum punya temen cewek sama sekali. Temenku cuma Pak Bonar, detektif umur lima puluh delapan tahun, sama satpam apartemen. Terus kemarin pas ketemu kamu, aku mikir, wah, kayaknya aku bisa temenan sama orang ini.” Jeda. “Kecuali kamu sibuk. Atau nggak mau. Nggak apa-apa kok kalau nggak mau, beneran.”

Aku menatap tempat sampah. Kertas yang kuremas tadi masih tergeletak di lantai di sebelahnya.

Aku punya dua pilihan. Menolak dengan sopan dan menghindari perempuan ini sampai kontrak selesai. Atau menerima, dan melihat sendiri.

Kecurigaan profesional, kataku pada diri sendiri. Audit lapangan.

“Boleh,” kataku. “Sabtu jam berapa?”


Kafe yang dipilih Kayla ada di daerah Gubeng, di sebuah rumah tua bergaya kolonial yang disulap jadi kedai kopi, dengan jendela-jendela tinggi, lantai tegel bermotif, dan pohon mangga besar di halaman depannya. Kayla sudah duduk di meja dekat jendela waktu aku datang, memakai kaus kuning dan rok jins, rambutnya digerai, dengan jepit rambut kecil berbentuk bunga matahari di sisi kiri.

Dia melambai begitu bersemangat sampai menyenggol gelas air di mejanya. Gelasnya bergoyang tapi tidak jatuh. Dia menangkapnya dengan dua tangan, menatapku, dan nyengir.

“Hampir,” katanya bangga.

Aku tidak bisa menahan senyum.

Itu masalahnya. Itu masalah terbesarku dengan perempuan ini. Aku datang dengan niat untuk tidak menyukainya, dan dalam dua menit pertama, niat itu sudah retak.

Kayla bercerita banyak sekali. Tentang Melbourne: musim dinginnya yang abu-abu, trem yang selalu telat, kopi yang katanya jauh lebih enak dari kopi di mana pun, maaf ya Indonesia. Tentang kantornya, bosnya yang orang Yunani dan suka teriak tapi baik hati, temannya Daniel yang katanya cuma temen tapi diucapkan dengan pipi memerah. Tentang Surabaya: panasnya yang bikin dia mandi tiga kali sehari, rujak cingur yang dia coba pertama kali dan bikin dia trauma, dan satpam apartemennya yang selalu memanggilnya Mbak Bule padahal dia lahir di Semarang.

Aku mendengarkan. Aku tertawa di tempat-tempat yang lucu, dan tempat-tempat yang lucu itu banyak sekali.

Di balik semua itu, aku menunggu kesempatan untuk bertanya.

Kesempatan itu datang waktu pelayan mengantar croissant kedua dan Kayla sedang menyobeknya jadi dua.

“Kamu sama Hal,” kataku, sebiasa mungkin, “udah lama kenal?”

Kayla berhenti menyobek croissant. Dia menatapku. Lalu matanya menyipit, pelan, seperti kucing yang mencium sesuatu yang menarik.

“Kak Hal?”

“Iya.”

“Baru seminggu.” Matanya makin menyipit. “Kenapa?”

“Nggak. Cuma nanya.”

“Elena.”

“Apa?”

“Kamu nanya kayak orang yang nggak cuma nanya.” Kayla menaruh croissant-nya di piring, melipat tangan di atas meja, mencondongkan badan ke arahku dengan senyum yang perlahan melebar seperti matahari terbit. “Ya ampun. Ya ampun, Elena.”

“Apa?”

“Kamu kira aku naksir Kak Hal?”

Wajahku panas. “Aku nggak bilang gitu.”

“Ih, nggak!” Kayla tertawa begitu keras sampai pasangan di meja sebelah menoleh. “Nggak, nggak, nggak. Sumpah. Kak Hal itu…” Dia mengibaskan tangan, mencari kata. “Kak Hal itu kayak kakak. Aneh, ya? Aku juga bilang gitu ke dia kemarin. Nggak tahu kenapa, rasanya kayak kakak. Bukan kayak cowok.”

Kelereng es di perutku meleleh.

“Lagian,” kata Kayla sambil mengambil croissant-nya lagi, nada suaranya berubah jadi licik, “kayaknya Kak Hal suka sama kamu deh.”

Aku tersedak kopi.

“Dia nggak,” kataku sambil terbatuk-batuk.

“Dia suka.” Kayla mengunyah croissant dengan santai. “Pas kamu masuk ruang rapat hari Senin, dia berhenti nulis. Pena dia berhenti di tengah kata. Terus pas kamu duduk, dia geser kursinya sedikit biar kamu ada di kanannya. Aku liat. Aku orangnya ceroboh, tapi aku merhatiin.”

Aku menatapnya. Wajahku pasti merah seperti kepiting rebus.

“Kamu,” kataku, “baru kenal dia seminggu.”

“Seminggu cukup.” Kayla nyengir. “Lagian, aku punya radar. Radar adik bungsu. Kami adik bungsu bisa ngerasain kalau ada yang naksir-naksiran. Itu satu-satunya kekuatan super kami.”


Di jendela kafe di belakang Kayla, aku melihat sesuatu bergerak di balik pohon mangga di halaman depan.

Seseorang berdiri di sana. Memakai kacamata hitam besar, topi bucket berwarna cokelat, dan masker kain bermotif bunga. Dia berpura-pura membaca menu yang tertempel di papan kapur di depan pintu kafe. Dia sudah berpura-pura membaca menu itu selama dua puluh menit.

Topi bucket cokelat itu milik Dinda. Aku tahu karena Dinda memakainya ke kantor setiap Jumat.

Aku mengeluarkan ponselku dan mengetik pesan.

Aku: Dinda. Aku lihat kamu di balik pohon mangga.

Di balik pohon mangga, sosok bertopi bucket itu mengeluarkan ponselnya dari saku, membaca layarnya, lalu membeku. Perlahan dia menoleh ke arah jendela kafe. Dia melihatku menatapnya. Dia menurunkan kacamata hitamnya dua senti.

Lalu dia berbalik dan berjalan cepat sekali ke arah jalan raya, hampir berlari, topi bucketnya hampir terbang.

Ponselku bergetar.

Dinda: Itu bukan saya Bu. Saya di rumah. Lagi nyuci.

Dinda: Btw Mbak Kayla orangnya baik ya Bu. Nggak usah dilabrak.

Aku menutup ponsel dan menatap Kayla, yang sama sekali tidak menyadari apa pun dan sedang menyendok krim dari kopinya.

“Kenapa?” tanyanya.

“Nggak apa-apa. Asistenku.”

“Asisten kamu di sini?”

“Lagi nyuci, katanya.”


Mungkin karena kopi kedua. Mungkin karena kafe tua itu terasa hangat dan teduh. Mungkin karena aku sudah berhenti mencurigainya. Yang jelas, setengah jam kemudian, Kayla mulai bercerita tentang kakaknya.

Dia menceritakannya dengan nada yang berbeda dari semua ceritanya yang lain. Lebih pelan. Lebih hati-hati. Seperti seseorang yang membawa nampan berisi gelas kristal yang penuh air sampai ke bibirnya.

Kakak laki-lakinya. Dua tahun lebih tua. Ditinggal bersama ayah mereka di Semarang waktu orang tua mereka bercerai. Dia sembilan tahun, kakaknya sebelas. Kakaknya bilang di telepon tiap minggu bahwa dia baik-baik saja, lalu suatu hari menelepon dan bilang jangan hubungi lagi. Ayah mereka meninggal tahun 2015. Tetangga bilang kakaknya sudah kabur dari rumah setengah tahun sebelumnya. Enam belas tahun.

“Detektifku nemu jejak terakhirnya di Pelabuhan Tanjung Perak,” katanya. “Tahun 2014. Ada ABK yang inget pernah ngangkut anak laki-laki numpang gelap dari Semarang. Anak itu kabur pas kapalnya nyandar di sini. Habis itu nggak ada jejak lagi.”

Aku menurunkan cangkir kopiku pelan-pelan.

Tanjung Perak. 2014. Anak laki-laki enam belas tahun.

Twelve years ago, Papa suka bercerita di jamuan makan malam, dengan gelas anggur di tangan dan mata berbinar, I found a boy sleeping in one of my old containers. Sixteen years old. Skinny as a rake. Smelled like engine oil. Lalu Papa akan tertawa dan menceritakan apa yang dikatakan anak itu, kalimat yang membuat Papa memasukkan kembali uangnya ke saku. Lalu Papa akan menunjuk ke arah Pak Hal di ujung meja, yang selalu menunduk dan pura-pura tidak mendengar, dan bilang dengan bangga, That’s my boy.

Dua belas tahun lalu adalah tahun 2014.

“Kamu mau lihat fotonya?” tanya Kayla.

Aku mengangguk. Leherku terasa kaku.

Kayla mengeluarkan ponselnya, membuka galeri, menggulir ke sebuah album bernama Kak Ikal ♡, dan menyodorkan layarnya kepadaku.

Foto lama yang dipindai ke ponsel. Warnanya kekuningan, sudutnya sedikit lecek. Dapur sempit dengan dinding keramik putih. Seorang anak laki-laki kurus berambut cepak, dengan kaus putih yang kebesaran, tidak tersenyum ke kamera. Dia sedang menoleh ke samping, ke arah anak perempuan kecil berpipi tembam yang mulutnya penuh kerupuk, yang sedang memeluk sebuah kaleng biskuit berwarna merah.

“Itu aku,” kata Kayla sambil menunjuk anak perempuan itu dan tertawa malu. “Jelek banget, ya. Lagi nyolong kerupuk. Itu kaleng kerupuk kami. Aku tempelin stiker bunga matahari di sampingnya, soalnya aku suka banget bunga matahari dari kecil.” Dia menyentuh jepit rambut bunga matahari di kepalanya. “Sampai sekarang.”

Aku memperbesar foto itu dengan dua jari.

Di sisi kaleng biskuit merah itu, di bawah lengan kecil Kayla, ada stiker berbentuk bunga. Kuning cerah, dengan kelopak-kelopak yang mengembang dan lingkaran cokelat di tengahnya.

Aku pernah melihat stiker itu.

Aku tidak memperhatikannya waktu itu. Aku sedang sibuk berpura-pura tidak membaca tulisan spidol hitam di tutupnya. Tapi sekarang, di kafe tua di Gubeng, ingatan itu kembali dengan sangat jelas, seperti foto yang dicuci di kamar gelap dan perlahan muncul di atas kertas.

Lemari dinding. Rak paling bawah. Kaleng biskuit merah yang berkarat di pinggirnya. Dan di sisinya, setengah terkelupas, warnanya sudah pudar menjadi kuning pucat seperti kertas tua, sebuah stiker berbentuk bunga matahari.

TABUNGAN KE MELBOURNE.

“Namanya Haikal,” kata Kayla pelan, menatap foto itu dengan mata yang lembut. “Haikal Ramadhan. Tapi kami panggil Ikal.”

Haikal.

Hal.

Cangkir kopi di depanku bergetar sedikit di atas tatakannya. Aku sadar tanganku yang menyenggolnya. Tanganku gemetar.

“Elena?” Kayla menatapku dengan dahi berkerut. “Kamu kenapa? Pucat banget.”

“Nggak apa-apa.” Suaraku terdengar jauh, seperti dari dasar sumur. “Kayaknya… kebanyakan kopi.”

“Duh, iya, kita udah tiga cangkir.” Kayla mendorong gelas air putih ke arahku. “Minum, minum.”

Aku minum. Airnya dingin. Tidak membantu sama sekali.

Kayla menarik kembali ponselnya, menatap foto itu sekali lagi dengan senyum kecil, lalu mengunci layarnya.

“Aku yakin dia masih di Surabaya,” katanya. “Nggak tahu kenapa. Firasat aja. Kayak, dia deket. Kayak, kalau aku belok di tikungan yang tepat, aku bakal nabrak dia.”

Aku menatap perempuan di depanku. Pipi tembam, mata bulat yang selalu tampak tersenyum, jepit rambut bunga matahari, dan krim kopi di sudut bibir.

Dia sudah menabraknya. Dia sudah duduk di seberangnya di ruang rapat. Dia sudah makan telur dadar dari piringnya. Dia sudah diantar pulang olehnya di tengah hujan.

Dan dia tidak tahu.

Dan dia, laki-laki itu, tahu.

Dia pasti tahu. Dia memesan telur dadar untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun. Dia memberikannya tanpa bicara. Dia salah tulis angka tiga kali di hari surel Kayla masuk. Dia menunda rapat untuk pertama kalinya seumur hidupnya. Dia berdiri satu jam di ujung dermaga menatap kapal ke Australia.

Dia tahu. Dan dia duduk di seberang adiknya sendiri, dan tidak bilang apa-apa.

Kamu kenal dia sebelumnya? tanyaku Senin itu.

Nggak, Bu. Baru hari ini.


Aku menyetir pulang dari Gubeng dengan kedua tangan menggenggam setir terlalu erat.

Di lampu merah Jalan Raya Darmo, aku melirik gantungan kunci yang tergantung di kontak mobil. Ada kunci mobilku sendiri, kunci rumah Papa, kunci ruanganku di kantor.

Dan satu kunci perak kecil dengan gantungan plastik bertuliskan 2307.

Aku tidak bisa membuktikan apa-apa. Itu yang kukatakan pada diriku sendiri sepanjang perjalanan. Stiker bunga matahari ada jutaan di dunia. Kaleng biskuit merah ada jutaan. Haikal adalah nama yang umum. Hal bisa jadi singkatan dari apa saja. Halim. Halilintar. Halo-halo.

Aku tahu semua itu tidak masuk akal. Aku tahu.

Tapi aku butuh satu bukti lagi. Satu bukti yang tidak bisa dibantah. Sebelum aku melakukan apa pun, sebelum aku bilang apa pun kepada siapa pun, aku butuh kepastian.

Karena kalau aku benar, maka laki-laki yang tidur di atas tikar di apartemen kosong itu bukan hanya orang yang tidak punya rumah.

Dia orang yang punya rumah, dan rumah itu sedang mencarinya, dan dia memilih untuk tidak pulang.

Aku tidak tahu kenapa.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku sangat, sangat takut pada jawabannya.