Chapter Twenty Six
Bangku Warung
— Safrina —
Aku menyewa mobil dengan sopir dari sebuah agen travel di dekat hotel. Avanza abu-abu, sopirnya laki-laki lima puluhan bernama Pak Slamet, dengan kumis tipis, kopiah hitam, dan selera musik yang sangat kuat.
Jam lima pagi hari Sabtu, waktu mobil itu meninggalkan Surabaya menuju Semarang lewat jalan tol, Pak Slamet menyalakan pemutar musik. Dangdut koplo. Volume tiga puluh dua dari empat puluh. Kendang dan suling memenuhi seluruh kabin mobil seperti pesta pernikahan di kampung.
“Pak,” kataku dari kursi belakang.
“Nggih, Bu?”
“Bisa dimatikan?”
Pak Slamet menatapku dari kaca spion. Wajahnya terluka. Dia memutar kenop volume dengan sangat pelan, dari tiga puluh dua ke satu. Musiknya hampir tidak terdengar. Tapi Pak Slamet mulai bersenandung. Pelan, mengikuti irama, sambil mengetuk-ngetukkan jari di setir.
Kayla, yang duduk di sebelahku, menyandarkan kepala ke jendela dan memejamkan mata. Dia tidak tidur semalaman. Dia tidak bicara sejak kami naik mobil. Dia hanya memeluk tas ranselnya dan menatap ke luar jendela, ke sawah-sawah yang masih gelap di pinggir tol.
Aku juga tidak tidur.
Kemarin sore, setelah keluar dari klinik pelabuhan, aku duduk di bangku taman kecil di dekat gerbang Tanjung Perak selama dua jam. Aku tidak menangis. Aku tidak bergerak. Aku hanya duduk, menatap aspal, dan melihat punggung itu di kepalaku. Garis-garis pucat yang sejajar. Bekas berbentuk persegi panjang kecil di ujungnya.
Aku sudah melihat ratusan punggung seperti itu. Di foto-foto bukti, di ruang pemeriksaan visum, di ruang sidang. Punggung Liam. Punggung empat puluh dua anak lainnya.
Aku tidak pernah melihat punggung seperti itu pada orang dewasa. Karena anak-anak yang punggungnya seperti itu biasanya diselamatkan sebelum mereka dewasa. Atau tidak sempat dewasa.
Ikal dewasa.
Ikal dewasa sendirian.
Aku memutuskan untuk ke Semarang di bangku taman itu. Bukan karena ingin. Karena aku pengacara, dan pengacara mengumpulkan bukti sebelum bicara. Aku sudah berjanji pada Ikal: ada yang mau aku omongin. Aku sudah berjanji pada Kayla: besok, kita ngomong. Tapi aku belum bisa bicara. Aku harus tahu dulu. Aku harus tahu seberapa besar yang tidak kuketahui, sebelum aku mengakui apa yang kuketahui.
Kayla bersikeras ikut. Aku tidak bisa melarangnya.
Kami tidak memberi tahu Ikal.
Kami sampai di Semarang jam sembilan lewat.
Kota itu berubah. Tentu saja berubah. Tujuh belas tahun. Ada jalan layang baru, mal baru, gedung-gedung tinggi yang tidak kukenal. Tapi waktu mobil masuk ke daerah dekat Kali Banger, dan Pak Slamet harus memperlambat mobil karena jalannya menyempit, aku mulai mengenali.
Bau sungai yang sedikit amis. Rumah-rumah petak yang berdempetan dengan atap seng berkarat. Jemuran yang dibentangkan di atas gang. Anak-anak kecil bermain kelereng di tanah.
Lalu gang itu.
Gang sempit, cukup untuk satu motor. Selokan kecil di satu sisi, airnya hitam. Kami turun dari mobil di mulut gang, dan Pak Slamet bilang dia akan menunggu di warung kopi di seberang jalan.
Kayla menggenggam tanganku. Tangannya dingin.
Kami berjalan masuk.
Rumah lama kami ada di tengah gang. Dulu catnya kuning pucat, dengan pagar besi yang berkarat. Sekarang catnya biru muda. Pagarnya sudah diganti pagar besi baru bercat hitam. Di depannya ada papan kayu kecil bertuliskan LAUNDRY KILOAN — CUCI SETRIKA — 1 HARI JADI, dan di terasnya, teras tempat dulu kami bermain bekel, sekarang ada tumpukan karung plastik berisi pakaian kotor.
Kayla berhenti di depan rumah itu. Dia menatapnya lama.
“Ini rumah kita, Kak?”
“Iya.”
“Nggak kayak yang aku inget.”
“Kamu sembilan tahun waktu pergi, Kay.”
Dia diam. Lalu menatap ke seberang gang. Ke rumah kecil bercat hijau dengan teras yang dijadikan warung. Ke etalase kaca yang sudah buram, berisi rokok batangan dan permen. Ke rak berisi mi instan dan sabun cuci.
Dan ke bangku kayu panjang di depan warung itu.
Catnya hijau. Sudah mengelupas di banyak tempat, sampai kayu cokelat di bawahnya terlihat. Kakinya yang kiri lebih pendek, jadi bangku itu sedikit miring.
Aku tahu bangku itu. Aku ingat bangku itu. Dulu tetangga-tetangga duduk di sana sore-sore, minum kopi, merokok, mengobrol soal harga cabai.
Aku tidak tahu, waktu itu, bahwa bangku itu akan menjadi bukti.
Bu Warsih masih hidup.
Dia muncul dari dalam warung waktu kami berdiri di depan etalasenya. Perempuan tua, mungkin tujuh puluh tahun, bertubuh kecil, kurus, membungkuk sedikit. Rambutnya sudah putih semua, digelung kecil di belakang kepala. Dia memakai daster batik yang warnanya sudah pudar dan sandal jepit hijau.
Dia menatap kami dari balik etalase. Matanya menyipit di balik kacamata tebal yang tergantung di ujung hidung.
“Pados napa, Mbak?” tanyanya.
(Cari apa, Mbak?)
Kayla membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar.
Bu Warsih menatap Kayla lebih lama. Matanya menyipit lebih dalam. Lalu, pelan, sesuatu berubah di wajahnya yang keriput. Mulutnya terbuka sedikit. Tangannya yang kurus terangkat dan memegang pinggiran etalase.
“Iki…” Suaranya bergetar. “Iki anake Mbak Ratna, to? Sing cilik? Sing seneng nyolong kerupuk?”
(Ini… anaknya Mbak Ratna, kan? Yang kecil? Yang suka nyolong kerupuk?)
Kayla mulai menangis. Diam-diam. Air mata mengalir begitu saja, tanpa suara.
“Iya, Bu,” bisiknya. “Saya Kayla.”
Bu Warsih menatapku. “Lha, iki sing gedhe? Sing pinter? Sing saben sore sinau neng teras?”
(Lha, ini yang besar? Yang pintar? Yang tiap sore belajar di teras?)
“Iya, Bu,” kataku. “Saya Safrina.”
Bu Warsih keluar dari balik etalase. Dia berjalan ke arah kami dengan langkah kecil-kecil yang goyah. Dia mengangkat dua tangannya yang keriput dan menangkup wajah Kayla. Lalu wajahku. Tangannya kasar dan hangat dan berbau bawang merah.
“Ya Allah,” katanya. “Ya Allah, Nduk. Wis gedhe kabeh.”
(Ya Allah, Nak. Sudah besar semua.)
Lalu matanya berubah. Dia melihat ke belakang kami, ke arah mulut gang, seperti mencari seseorang.
“Ikal endi?” tanyanya. “Ikal melu?”
(Ikal mana? Ikal ikut?)
Bu Warsih membuatkan kami teh manis.
Teh tubruk dengan gula batu, disajikan di gelas kaca bening yang sudah berembun di bagian luarnya. Dia meletakkan dua gelas itu di atas bangku hijau, lalu duduk di ujung kiri bangku dan menepuk-nepuk tempat di sebelahnya, menyuruh kami duduk.
Seekor kucing belang tiga yang gemuk melompat ke pangkuan Bu Warsih dan melingkar di sana.
“Iki Londo,” kata Bu Warsih sambil mengelus kepala kucing itu. “Diarani Londo mergo putih-putih ngene. Kaya bule.”
(Ini Londo. Dinamai Londo karena putih-putih begini. Kayak bule.)
Kucing itu tidak putih. Kucing itu belang tiga, oranye-hitam-putih, dengan bagian putih yang hanya sedikit di perut. Kayla menatap kucing itu, lalu menatap Bu Warsih, lalu, di tengah tangisnya, tertawa kecil.
Aku duduk di ujung kanan bangku.
Bangku itu berderit di bawahku. Miring sedikit, karena kaki kirinya lebih pendek.
Aku menceritakan semuanya kepada Bu Warsih. Bahwa kami menemukan Ikal. Bahwa dia di Surabaya, kerja di pelabuhan, sudah jadi orang penting. Bahwa dia sehat. Bahwa kemarin dia terluka karena kecelakaan kerja, tapi sudah dijahit dan baik-baik saja.
Aku tidak menceritakan punggungnya.
Bu Warsih mendengarkan. Matanya berkaca-kaca. Dia mengangguk-angguk. Dia mengucap alhamdulillah tiga kali.
“Bu,” kataku. “Saya mau tanya soal Ikal. Waktu dia masih di sini. Setelah kami pergi.”
Bu Warsih berhenti mengelus kucingnya.
Dia diam lama. Menatap ke seberang gang. Ke rumah bercat biru muda dengan papan laundry kiloan.
“Mbak,” katanya akhirnya, pelan, sekarang dalam bahasa Indonesia, seperti dia ingin memastikan setiap katanya dimengerti. “Mbak mau tahu yang mana?”
“Semuanya, Bu.”
Bu Warsih menghela napas panjang.
Dia menceritakannya dengan cara orang tua bercerita. Tidak berurutan. Melompat-lompat. Kadang berhenti di tengah kalimat untuk mengelus kucing atau menyesap teh. Kadang mengulang hal yang sama dua kali. Kadang beralih ke bahasa Jawa, lalu kembali ke bahasa Indonesia.
Dia menceritakan hal-hal kecil. Hal-hal biasa.
Bahwa setelah kami pergi, Ikal sering membeli mi instan di warungnya dengan uang receh. Kadang tidak cukup, dan Bu Warsih bilang besok aja bayarnya, dan besoknya Ikal selalu bayar, meskipun Bu Warsih sudah lupa.
Bahwa Ikal mulai memakai baju lengan panjang. Di bulan Agustus. Di bulan Oktober, waktu Semarang panasnya seperti oven.
Bahwa suatu hari Ikal datang dengan pipi kiri yang biru dan bengkak, dan waktu Bu Warsih bertanya, dia bilang jatuh dari sepeda, Bu.
“Padahal Ikal ora nduwe sepedha,” kata Bu Warsih pelan. “Sepedhane Mbak Kayla wis didol bapake. Seminggu sakwise kalian lunga.”
(Padahal Ikal nggak punya sepeda. Sepedanya Mbak Kayla sudah dijual bapaknya. Seminggu setelah kalian pergi.)
Kayla menutup mulut dengan tangan.
Lalu Bu Warsih menceritakan bangku ini.
“Saben sore,” katanya, mengetuk-ngetuk kayu bangku hijau itu dengan jari keriputnya, “Ikal lungguh neng kene. Neng pojok tengen. Persis sing sampeyan lungguhi saiki, Mbak.”
(Tiap sore, Ikal duduk di sini. Di pojok kanan. Persis yang Mbak duduki sekarang.)
Aku tidak bergerak. Kayu di bawahku tiba-tiba terasa sangat keras.
“Saya tanya, nunggu opo, Le? Dia bilang nunggu telepon.” Bu Warsih menunjuk ke dalam warung. Ke meja kecil di sudut. “Telepon itu.”
Aku menoleh.
Di sudut warung, di atas meja kayu kecil yang taplaknya sudah kekuningan, ada sebuah pesawat telepon putih. Model lama, dengan gagang yang tersambung kabel spiral dan tombol-tombol angka yang besar. Di sebelahnya ada sebuah kotak kecil berwarna abu-abu dengan layar digital mati. Argo.
Telepon itu masih di sana.
Berdebu. Kabelnya menggantung longgar. Tapi masih di sana.
“Katanya kakaknya mau nelepon ke sini,” lanjut Bu Warsih. Suaranya pelan sekarang, hampir berbisik. “Katanya udah dikasih nomornya. Nomor warung ini. Katanya kakaknya udah nyatet. Jadi dia nunggu.”
Kayla menoleh ke arahku. Cepat.
“Setahun, Mbak,” kata Bu Warsih. “Hampir setahun. Tiap sore, habis sekolah, dia duduk di sini. Satu jam, dua jam. Kadang sampai magrib. Tiap telepon itu bunyi, dia noleh. Tiap saya angkat, dia nahan napas. Saya bisa liat, Mbak, dia nahan napas. Terus kalau ternyata yang nelepon tukang galon atau orang salah sambung, dia buang napas pelan-pelan, terus balik ngeliatin jalan lagi.”
Bu Warsih mengelus kucingnya.
“Saya kasih dia teh manis. Kayak teh yang sampeyan minum itu. Kadang pisang goreng yang nggak laku. Dia selalu bilang makasih. Selalu. Anak itu nggak pernah lupa bilang makasih.”
Aku menatap gelas teh di tanganku. Teh tubruk dengan gula batu. Gelas kaca bening yang berembun.
Tanganku gemetar. Teh di dalam gelas itu bergoyang sedikit.
“Liburan Australia lewat,” kata Bu Warsih. “Telepon nggak pernah bunyi buat dia. Terus lama-lama dia nggak duduk di sini lagi. Saya kira dia udah ditelepon. Saya kira udah dijemput. Tapi dia masih di sini. Cuma… nggak duduk di bangku ini lagi.”
“Nomornya…”
Suaraku keluar sebelum aku memutuskannya. Pelan. Kering. Bukan suara pengacara.
Bu Warsih dan Kayla menoleh ke arahku.
“Nomornya dia kasih ke saya, Bu,” kataku.
Hening.
Di dalam warung, jam dinding berdetak. Di gang, seorang anak kecil berteriak memanggil temannya. Londo menguap di pangkuan Bu Warsih.
“Oh,” kata Bu Warsih pelan. Matanya yang tua menatapku dari balik kacamata tebal. “Terus kenapa…”
Dia berhenti. Dia tidak menyelesaikan kalimatnya.
“Saya nggak pernah nelepon,” kataku.
Kayla menatapku. Aku tidak berani menatapnya balik. Aku menatap gelas teh di tanganku. Aku mendengar napasnya berhenti. Aku mendengar dia tidak bilang apa-apa.
Bu Warsih juga tidak bilang apa-apa. Dia hanya menatapku lama, dengan mata tua yang sudah melihat terlalu banyak hal di gang sempit ini. Lalu dia mengulurkan tangannya yang keriput dan meletakkannya di atas tanganku yang memegang gelas.
Dia tidak menghakimi. Dia tidak bertanya kenapa. Dia hanya meletakkan tangannya di sana, seperti meletakkan tangan di atas kepala anak yang baru saja jatuh.
Itu lebih buruk dari dihakimi.
Bu Warsih bercerita lebih banyak.
Tentang malam-malam. Tentang suara-suara dari rumah kontrakan di ujung gang, tempat Ayah memindahkan Ikal setahun setelah kami pergi.
“Malem-malem, tetangga krungu bocah kuwi bengok-bengok,” katanya. Suaranya sekarang sangat pelan. “Ora nangis, Mbak. Bengok. Ampun, Yah. Ampun, Yah. Ping pirang-pirang.”
(Malam-malam, tetangga dengar anak itu teriak-teriak. Bukan nangis, Mbak. Teriak. Ampun, Yah. Ampun, Yah. Berkali-kali.)
Kayla mengeluarkan suara kecil. Seperti binatang yang terinjak. Dia menunduk dan menutup wajahnya dengan dua tangan.
“Saya lapor Pak RT sekali,” lanjut Bu Warsih. “Pak RT ngomong sama bapaknya. Bapaknya ramah, Mbak. Ramah banget. Minta maaf. Bilang anaknya nakal, suka bohong, suka kabur dari sekolah. Bilang dia cuma ngasih pelajaran.” Bu Warsih menggeleng. “Besok malemnya, lebih parah. Lebih lama. Saya nggak berani lapor lagi, Mbak. Saya takut. Saya takut kalau saya lapor lagi, anak itu yang kena.”
Dia mengelus kucingnya. Tangannya gemetar.
“Saya juga yang salah,” bisiknya. “Pas ulang tahunnya yang ketiga belas, dia ke sini bawa uang receh, mau nelepon adiknya ke Australia. Nggak diangkat. Tiga kali. Dia nyisain satu menit di argo. Katanya, simpen ya, Bu, buat lain kali.” Bu Warsih tersenyum. Senyum yang paling sedih yang pernah kulihat. “Terus sorenya, saya ketemu bapaknya di jalan, dan saya bilang, anakmu pinter, Mas, wis iso nelpon luar negeri dhewe.”
(Anakmu pintar, Mas, sudah bisa nelepon luar negeri sendiri.)
“Saya kira saya muji, Mbak. Saya kira bapaknya bakal bangga.”
Dia diam lama.
“Malem itu yang paling parah,” katanya. “Saya denger dari warung.”
Setelah itu Bu Warsih masuk ke dalam rumahnya. Dia keluar lagi lima menit kemudian, membawa sebuah kardus.
Kardus bekas mi instan. Sudah lembek di sudut-sudutnya, kecokelatan karena usia, ditutup selotip yang sudah menguning dan kehilangan daya rekatnya.
“Habis bapaknya meninggal,” kata Bu Warsih sambil meletakkan kardus itu di atas bangku hijau, di antara kami, “yang punya kontrakan bersihin rumahnya. Barang-barang mau dibuang semua. Saya minta barang-barangnya Ikal. Siapa tahu anaknya balik.”
Dia menatap kardus itu.
“Nggak pernah balik. Tapi saya simpen. Sebelas tahun.”
Aku membuka kardus itu.
Buku-buku pelajaran SMP yang sampulnya sudah lepas. Seragam SD putih yang sudah menguning, dengan nama HAIKAL R. dijahit dengan benang merah di bagian dada. Itu jahitan tangan Ibu. Aku ingat Ibu menjahitnya di malam sebelum Ikal masuk SD.
Sebuah buku tulis bersampul cokelat. Tipis. Sampulnya sudah lusuh, sudut-sudutnya menggulung.
Dan di bawah semuanya, diikat dengan karet gelang yang sudah getas dan putus waktu kusentuh, setumpuk amplop.
Amplop putih, amplop biru muda, amplop bergambar bunga. Dengan perangko Australia. Perangko bergambar koala, kanguru, Opera House. Dengan tulisan tangan di depannya yang kukenal. Tulisan tangan Ibu yang rapi dan miring ke kanan. Dan tulisan tangan lain, besar-besar, bulat-bulat, huruf a yang berbentuk lingkaran sempurna.
Kepada: Haikal Ramadhan.
Semuanya sudah dibuka. Disobek di bagian atas, kasar, tidak rapi. Beberapa ada noda. Noda cokelat keunguan, seperti cairan yang tumpah dan mengering.
“Ketemu di lemari bapaknya,” kata Bu Warsih. “Udah kebuka semua. Saya nggak baca, Mbak. Saya nggak bisa bahasa Inggris. Alamatnya bahasa Inggris semua.”
Kayla mengangkat salah satu amplop. Amplop bergambar bunga matahari. Alamat pengirimnya ditulis dengan huruf besar-besar yang miring: Kayla, Box Hill, Melbourne, Australia.
Dia menatap amplop itu. Lalu menatapku.
“Ini surat aku,” bisiknya. “Ini surat aku buat Kak Ikal. Aku tulis pas aku sebelas. Aku kira… aku kira dia nggak bales karena dia nggak mau bales.”
Dia membalik amplop itu. Di bagian belakangnya ada noda cokelat keunguan yang besar.
“Dia nggak pernah baca,” kata Kayla. Suaranya pecah. “Kak Ikal nggak pernah baca surat aku. Ayah yang baca. Ayah yang baca semuanya.”
Sebelum pulang, aku berdiri di depan telepon putih di sudut warung.
Bu Warsih berdiri di sebelahku. “Udah mati, Mbak,” katanya pelan. “Sejak 2016. Udah nggak ada yang pakai. Semua orang udah punya HP. Tapi saya nggak tega buang.”
Aku mengangkat gagangnya.
Berat. Plastiknya dingin dan sedikit lengket karena debu dan usia. Aku menempelkannya ke telinga.
Hening. Tidak ada nada sambung. Tidak ada apa-apa. Hanya keheningan panjang yang kosong, seperti suara dari dasar sumur yang sudah kering.
Tujuh digit. Dengan kode area Semarang. Aku masih hafal.
Ini nomornya. Telepon ini. Gagang ini, yang sekarang menempel di telingaku.
Dulu, di sebuah malam jam dua pagi, seorang anak dua belas tahun mengucapkan nomor telepon ini dua kali supaya aku tidak salah catat. Lalu dia duduk di bangku hijau di depan warung ini setiap sore selama hampir setahun, menatap telepon ini, menahan napas setiap kali telepon ini berdering.
Dan telepon ini tidak pernah berdering untuknya.
Karena aku tidak pernah memutar nomornya.
Aku meletakkan gagang telepon itu kembali ke tempatnya. Pelan. Dengan sangat hati-hati. Seperti meletakkan sesuatu yang bisa pecah.
“Bu,” kataku tanpa menoleh. “Satu menit di argo itu.”
“Ya, Mbak?”
“Masih ada?”
Bu Warsih diam lama.
“Argonya udah mati, Mbak,” katanya. “Tapi saya nggak pernah nagih semenit itu.” Dia tersenyum. Senyum tua yang lembut. “Buat saya, anak itu masih punya semenit di sini.”
Kami pulang jam tiga sore.
Di mulut gang, sebelum masuk ke mobil, Bu Warsih memeluk kami berdua. Bergantian. Lama. Tubuhnya kecil dan rapuh, dan berbau bawang merah dan minyak kayu putih.
“Nduk,” katanya kepada Kayla. Lalu kepadaku. “Nduk.”
Lalu dia memegang tanganku. Erat. Lebih erat dari yang kukira bisa dilakukan tangan setua itu.
“Mbak Safrina,” katanya. “Saya kira kalian udah tahu.”
Aku menatapnya.
“Saya kira ibunya tahu,” lanjutnya, pelan. “Saya kira kalian semua tahu, dan nggak bisa dateng. Saya kira kalian sibuk, atau nggak punya uang, atau… nggak tahu. Saya nggak tahu, Mbak. Tapi saya kira kalian tahu.”
Matanya basah di balik kacamata tebal.
“Kok nggak ada yang jemput?”
Aku tidak bisa menjawab.
Bu Warsih melepaskan tanganku. Dia menepuk pipiku, sekali, pelan, seperti menepuk pipi anak kecil.
“Kalau ketemu Ikal,” katanya, “bilang bangkunya masih ada. Bu Warsih nggak pernah ganti.”
Pak Slamet menyalakan mesin. Musik dangdut koplo kembali menyala di volume satu.
Aku duduk di kursi belakang dengan kardus mi instan di pangkuan. Kayla duduk di sebelahku, memeluk setumpuk amplop dengan perangko Australia. Dia tidak menatapku. Dia menatap ke luar jendela, ke gang sempit yang mengecil di belakang kami, ke bangku hijau yang sedikit miring di depan warung kecil.
Mobil berbelok. Gang itu hilang.
Aku menatap buku tulis bersampul cokelat di dalam kardus di pangkuanku.
Tipis. Lusuh. Sudut-sudutnya menggulung.
Aku belum membukanya.
Aku tahu, entah bagaimana, bahwa kalau aku membukanya, aku tidak akan pernah bisa menutupnya lagi.
- 1 Aku Baik
- 2 Mesin Fotokopi
- 3 Biar Ada yang Hidup di Sini
- 4 Kontainer
- 5 Ulang Tahun Palsu
- 6 Kayla Anindya Putri
- 7 Audit Perasaan
- 8 Kak Hal
- 9 Papan Pencarian
- 10 Telur Dadar
- 11 Kelingking
- 12 Foto di Ponsel
- 13 Sabar Ya
- 14 Bisikan
- 15 Haikal Ramadhan
- 16 Kue Tiga Tingkat
- 17 Laporan Detektif
- 18 Oh. Iya, Aku Tahu
- 19 Aku ke Sana
- 20 Tujuh Belas Kotak
- 21 Tanggal
- 22 Mbak Safrina
- 23 Jangan Telepon Lagi
- 24 Jatuh dari Sepeda
- 25 Punggung
- 26 Bangku Warung reading
- 27 Surat yang Dibuka
- 28 Aku yang Milih
- 29 Rasi Bintang
- 30 Dilihat 23.47
- 31 Kamu Juga Tahu?
- 32 Berhenti Bilang Baik
- 33 Nggak Ada yang Keluar
- 34 Namanya Bobo
- 35 Tabungan ke Melbourne
- 36 Hati-Hati
- 37 Don’t Be Me
- 38 Kapan Nyusul
- 39 Asal Kakak Masih Hidup
- 40 Telat Nyusul
- 41 Ibu
- 42 Hari ke-1
- 43 Epilog: Yang Kanan