Chapter Forty One
Ibu
— Safrina —
Kami menelepon Ibu hari Minggu malam, jam sembilan, dari apartemen Kayla di Darmo.
Kami bertiga duduk berdempetan di sofa Kayla, di depan laptop yang diletakkan di atas meja kopi. Kayla di kiri. Ikal di tengah. Aku di kanan.
Ikal masih memakai jaket biru dongker yang kekecilan itu. Dia belum melepasnya sejak bandara. Syalnya sudah dilepas karena kepanasan, sekarang terlipat di pangkuannya, dan tangannya terus memegangnya.
Di dinding gabus di belakang kami, foto anak sebelas tahun berkaus putih kebesaran menatap ke samping. Di bawahnya, kertas-kertas tempel kuning. MUNGKIN. 9 Juli — Kak Ikal lupa. Tapi dia nyimpen lilinnya. Semua orang tahu. Kecuali aku.
Dan satu yang baru, yang Kayla tempel tadi sore setelah kami pulang dari bandara, dengan tulisan tangan yang gemetar:
Dia nyusul.
Di Melbourne jam dua belas malam. Ibu baru pulang shift sore. Aku sudah meneleponnya tadi siang, dari kamar mandi bandara, setelah membatalkan penerbangan, dan bilang, Bu, nanti malam jangan tidur dulu. Kami mau video call. Penting.
Ibu bertanya apa. Aku bilang nanti.
Kayla menekan tombol panggil.
Nada sambung. Satu kali. Dua kali.
Ikal duduk di tengah, tegak, dengan tangan memegang syal di pangkuannya. Aku bisa merasakan bahunya di sebelah bahuku. Kaku.
Aku tahu apa yang dia pikirkan. Aku tahu, karena Kayla menceritakannya kepadaku semalam, di antara tangis dan tawa. Video call terakhir yang pernah dilakukan Ikal dengan keluarga ini adalah video call lewat Skype di warnet Semarang, enam belas tahun lalu. Pipi kiri biru. Dua puluh menit tentang Bobo.
Ini video call pertamanya sejak itu.
Nada sambung ketiga. Layar berkedip.
Ibu.
Wajah Ibu di layar laptop. Di dapur rumah kami di Box Hill. Masih memakai seragam perawat biru muda dengan kartu nama tergantung di leher. Rambutnya yang dulu hitam sekarang hampir semuanya abu-abu, diikat ke belakang dengan karet gelang. Kacamata baca di ujung hidung. Kerut-kerut di sudut mata yang tidak ada tujuh belas tahun lalu.
Ibu lima puluh enam tahun.
“Halo, Saf? Kay? Kok rame? Kalian lagi di mana, sih…”
Ibu berhenti.
Matanya berhenti. Di tengah layar. Di wajah laki-laki yang duduk di antara kedua anak perempuannya. Laki-laki dengan jaket biru dongker yang terlalu kecil dan bekas luka di alis kiri.
Ibu tidak bicara.
Ibu menurunkan kacamata bacanya. Pelan. Lalu menaikkannya lagi. Lalu menurunkannya lagi. Seperti orang yang tidak percaya pada matanya sendiri dan terus mencoba mengganti lensa.
Satu tangannya terangkat ke mulut.
Ikal tidak bergerak di sebelahku. Aku merasakan napasnya berhenti.
“Bu,” kata Ikal.
Suaranya pelan. Serak. Seperti suara yang dikeluarkan dari tempat yang sudah sangat lama tidak dipakai.
“Ini Ikal, Bu.”
Aku tidak bisa menceritakan apa yang terjadi di layar laptop itu dengan benar. Aku pengacara. Aku bisa menceritakan apa saja dengan kronologis, terstruktur, dengan bukti nomor satu, dua, tiga.
Tapi aku tidak bisa menceritakan ini.
Aku hanya bisa bilang bahwa Ibu menangis dengan cara yang belum pernah kulihat. Tidak di pemakaman Eyang. Tidak di malam perceraian. Tidak di bandara Ahmad Yani. Ibu menangis dengan seluruh tubuhnya, dengan wajah yang hancur, dengan tangan yang menyentuh layar laptopnya di Melbourne, ke tempat wajah Ikal berada. Jari-jarinya meraba layar itu seperti mencoba menyentuh pipinya, dan yang disentuhnya hanya kaca yang dingin.
Dan Ikal mengangkat tangannya juga. Pelan. Ke layar laptop Kayla. Ke tempat tangan Ibu berada.
Dua telapak tangan. Satu di Melbourne, satu di Surabaya. Dipisahkan enam ribu kilometer, satu layar kaca, dan tujuh belas tahun.
“Ikal,” kata Ibu. Hanya itu. Berkali-kali. “Ikal. Ikal. Ikal.”
“Iya, Bu.”
“Ini beneran kamu?”
“Iya, Bu.”
“Kamu… kamu udah makan, Nak?”
Ikal diam sebentar. Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku bertemu dengannya lagi, dia tertawa. Tawa kecil, basah, pecah, yang keluar bersamaan dengan air mata.
“Udah, Bu,” katanya. “Barusan. Nasi Padang.”
Ibu tertawa juga. Di tengah tangisnya. Tawa yang sama persis. Basah, pecah, bersamaan dengan air mata.
Kayla, di sebelah kiri Ikal, sudah tidak bisa bicara sama sekali. Dia menutup wajahnya dengan dua tangan, dan bahunya berguncang.
Aku duduk di sebelah kanan Ikal dan menatap Ibu di layar.
Ibu tidak tahu.
Ibu belum tahu apa pun. Ibu tidak tahu soal malam sebelum perceraian. Soal kamar jam setengah dua pagi. Soal Ayah sedih, Kal. Soal telepon jam dua pagi dan nomor warung dan sabar ya. Soal hari ke-731.
Ibu hanya tahu anaknya yang hilang muncul di layar laptopnya, memakai jaket yang terlalu kecil, dan bilang dia sudah makan nasi Padang.
Aku harus memberitahunya.
Bukan sekarang. Bukan lewat layar.
Ibu berhenti menangis cukup lama untuk bicara. Dia menyeka matanya dengan lengan seragam perawatnya. Dia menarik napas. Lalu dia bilang tiga kata, dengan nada yang sama persis dengan nada yang kupakai di telepon dua minggu lalu, dari parkiran pengadilan di Melbourne.
“Ibu ke sana.”
Ibu mendarat di Juanda hari Rabu pagi.
Kayla dan aku menjemputnya. Ikal tidak ikut.
Aku nggak suka bandara, katanya. Tapi bukan dengan nada datar seperti dulu. Dengan nada yang setengah bercanda, setengah jujur. Lalu dia menambahkan: Lagian, Ibu harus liat rumahku. Aku mau beresin dulu.
Kayla membuat karton lagi. Karton putih, spidol warna-warni, bunga matahari di pojoknya.
IBU 🌻 (KAMI BERTIGA NUNGGU)
Ibu keluar dari pintu kedatangan internasional dengan satu koper kecil, kardigan abu-abu, dan wajah yang tidak tidur selama penerbangan sebelas jam. Dia melihat karton itu. Dia membaca tulisannya. Kata bertiga.
Dia berhenti berjalan di tengah lorong kedatangan, dan orang-orang di belakangnya harus memutar.
Kayla berlari dan memeluknya.
Aku tidak berlari. Aku berjalan pelan. Aku berdiri di depan Ibu waktu Kayla akhirnya melepaskan pelukannya.
Ibu menatapku. Dia mengulurkan tangan dan menyentuh pipiku.
“Saf,” katanya. “Kamu kurus.”
“Ibu juga.”
Aku memberitahunya di mobil.
Di jok belakang Avanza abu-abu yang disetir Pak Slamet. Aku sengaja menyewa Pak Slamet lagi. Kayla duduk di depan, di sebelah Pak Slamet, dan mengobrol dengannya soal dangdut koplo dengan suara yang sengaja dikeraskan, supaya aku dan Ibu punya ruang di belakang.
Aku menceritakan semuanya.
Malam sebelum perceraian. Aku yang bangun jam satu pagi untuk minum air. Ayah dan Ibu di dapur. Kalau Ikal tinggal, aku tanda tangan. Kamar jam setengah dua pagi. Ayah sedih, Kal. Kamu jagoan. Nanti Kakak jemput. Pagi itu, waktu Ikal datang ke dapur dan bilang dia mau tinggal.
Telepon jam dua pagi. Kak, jemput aku. Sabar ya. Jangan bilang Ibu. Nomor warung di sudut buku catatan kimia.
Hari ke-731. Kak, Ayah mukul aku. Tolong. Aku nggak bohong. Dua puluh menit. Hapus Percakapan. Tidur.
Aku menceritakannya tanpa berhenti. Tanpa menangis. Dengan suara datar seperti saksi di ruang sidang. Karena kalau aku berhenti, kalau aku menangis, aku tidak akan bisa menyelesaikannya.
Ibu tidak menyela sekali pun.
Waktu aku selesai, mobil sudah keluar dari tol dan masuk ke jalanan kota. Pak Slamet sudah mematikan musik. Kayla sudah berhenti bicara. Mobil itu sunyi.
Ibu menatap ke luar jendela.
Lama.
Aku menunggu. Aku menunggu dia marah. Aku menunggu dia menamparku. Aku menunggu dia bilang kamu bukan anak Ibu lagi. Aku sudah bersiap untuk semua itu. Aku sudah bersiap tujuh belas tahun.
Ibu menoleh.
Dia tidak menamparku. Dia tidak marah.
Dia mengulurkan tangan dan mengambil tanganku di atas jok mobil. Tangannya kecil. Kasar. Tangan perawat yang sudah tiga puluh tahun mencuci tangan dengan sabun antiseptik lima puluh kali sehari.
“Kamu lima belas, Nak,” katanya.
Tiga kata.
Tiga kata yang sama. Yang Ikal bilang di atas tikar pandannya. Mbak lima belas.
Aku tidak bisa bernapas.
“Kamu lima belas,” ulang Ibu, suaranya bergetar. “Kamu anak-anak. Kamu dengar sesuatu yang nggak seharusnya didengar anak-anak, dan kamu takut, dan kamu ngelakuin apa yang menurut kamu bisa nyelametin Ibu.”
Matanya basah.
“Ibu yang harusnya tahu, Saf. Ibu yang di dapur malam itu. Ibu yang harusnya dengar Ayah ngancem, dan Ibu yang harusnya bilang nggak. Ibu yang harusnya berani ngelawan tiga tahun, lima tahun, berapa pun lamanya. Ibu yang harusnya curiga waktu Ikal tiba-tiba bilang mau tinggal. Anak sebelas tahun mana yang mau tinggal sama ayah yang mabuk?” Suaranya pecah. “Ibu yang harusnya tahu waktu dia bilang aku baik tiap Minggu. Ibu perawat, Saf. Ibu tahu suara anak-anak yang bohong. Ibu denger tiap hari di rumah sakit. Dan Ibu nggak denger suara anak Ibu sendiri.”
Dia menggenggam tanganku lebih erat.
“Ibu nggak bisa nyalahin kamu, Nak. Ibu nggak mau. Kamu udah nyalahin diri kamu sendiri tujuh belas tahun. Itu udah cukup.”
Aku menangis.
Di jok belakang Avanza abu-abu, dengan tangan Ibu di tanganku, aku menangis seperti anak kecil. Seperti anak lima belas tahun yang tidak pernah boleh menangis karena dia harus jadi kakak, harus jadi yang kuat, harus jadi yang memegang tangan Kayla di pesawat dari Semarang sampai Denpasar.
Ibu menarik kepalaku ke bahunya. Seperti dulu, waktu aku kecil dan takut petir.
Di depan, Kayla menutup mulutnya dengan tangan dan menatap lurus ke kaca depan.
Pak Slamet, tanpa bilang apa-apa, menyalakan musik lagi. Volume satu. Hampir tidak terdengar. Dangdut koplo yang pelan, yang mengisi keheningan di mobil itu seperti selimut.
Ikal membuka pintu apartemennya sebelum kami sempat mengetuk.
Dia pasti mendengar kami dari lorong. Langkah kaki Kayla yang tuk, srek. Roda koper Ibu.
Dia berdiri di ambang pintu. Dia tidak memakai jaket biru dongker itu lagi. Dia memakai kemeja putih yang disetrika rapi. Rambutnya disisir. Wajahnya bersih.
Tapi matanya merah. Dia sudah menangis lagi pagi ini. Aku tahu.
Ibu berhenti di depannya.
Ibu lebih pendek dari yang kuingat. Atau Ikal yang lebih tinggi. Kepala Ibu hanya sampai di dada anaknya.
Mereka saling menatap.
Ibu mengangkat dua tangannya. Pelan. Gemetar. Dan menangkup wajah Ikal. Satu tangan di pipi kiri, satu di pipi kanan. Jempolnya mengusap bekas luka kecil di alis kirinya.
“Ikal,” bisiknya.
“Bu.”
Ibu menatap wajah anaknya lama sekali. Matanya bergerak ke mana-mana. Ke bekas luka di alis. Ke garis rahang. Ke mata. Ke telinga kiri. Seperti perawat yang memeriksa pasien. Seperti ibu yang menghitung jari-jari bayinya yang baru lahir.
“Kamu bilang kamu baik, Kal,” kata Ibu.
Suaranya bergetar hebat.
“Tiap Ibu telepon. Tiap Minggu sore. Kamu bilang kamu baik. Kamu bilang Ayah baik. Kamu bilang Ayah udah berhenti minum.”
Ikal menatapnya.
“Iya, Bu,” katanya pelan. “Aku bohong.”
Ibu memejamkan mata.
“Biar Ibu nggak disakitin Ayah,” lanjut Ikal. “Ayah bilang, kalau aku ngadu, Ibu yang didatangi. Jadi aku nggak ngadu.”
Ibu membuka mata. Air mata mengalir di pipinya.
“Kamu ngelindungin Ibu,” bisiknya. “Umur sebelas.”
Ikal tidak menjawab.
“Ibu nggak tahu, Nak,” kata Ibu. Suaranya hancur. “Ibu nggak tahu. Ibu nggak tahu. Maafin Ibu. Ibu nggak tahu.”
“Aku tahu, Bu,” kata Ikal.
Dia mengangkat tangannya dan meletakkannya di atas tangan Ibu, yang masih menangkup pipinya.
“Ibu nggak tahu,” katanya pelan. “Itu yang aku mau.”
Mereka tidak bicara lagi untuk waktu yang lama.
Ibu memeluk Ikal di ambang pintu. Kepala Ibu di dada anaknya. Tangan Ikal melingkar di punggung Ibu. Dua tangan. Penuh. Tidak ada lima senti.
Kayla berdiri di sebelahku di lorong, memegang lenganku, menangis tanpa suara.
Aku menatap mereka. Ibu dan Ikal. Di ambang pintu apartemen 2307, yang dulu kosong, yang sekarang punya sofa dan dua gelas dan tujuh belas kado yang sudah dibuka.
Aku menyadari sesuatu, sambil berdiri di lorong itu.
Ikal memaafkan Ibu dengan sangat mudah. Tanpa jeda. Tanpa ragu. Tanpa mencari di lemari mana pun. Aku tahu, Bu. Ibu nggak tahu. Itu yang aku mau.
Tidak ada kemarahan untuk Ibu. Tidak pernah ada.
Karena dia tidak pernah menunggu Ibu.
Di buku tulis bersampul cokelat, tujuh ratus tiga puluh satu baris. Hari ke-1 nunggu Kak Safrina jemput. Bukan nunggu Ibu. Bukan nunggu Kayla.
Nunggu Kak Safrina.
Ibu sudah lelah. Ibu bekerja shift malam. Ibu menabung untuk tiket. Ikal tahu itu, bahkan di umur sebelas. Dia tidak mau Ibu lebih lelah lagi.
Tapi aku yang bilang nanti Kakak jemput.
Aku yang dia tunggu.
Dan sekarang aku mengerti kenapa, di bandara, dia bilang aku marah kepadaku. Bukan kepada Ibu. Bukan kepada Kayla. Kepadaku.
Karena dia hanya bisa marah kepada orang yang dia tunggu.
Kemarahannya kepadaku adalah bukti bahwa dia pernah menunggu.
Dan itu, entah kenapa, terasa seperti hadiah yang paling berharga yang pernah kuterima seumur hidupku.
Sorenya, Mr Jake datang membawa sekantong belanjaan dari supermarket.
“English breakfast!” serunya di pintu. “For the reunion! Beans, sausages, eggs, toast, grilled tomatoes. Very British. Very healing.”
Ibu sudah berdiri di dapur Ikal dengan celemek pinjaman dari Bu Yati, memegang wajan, menggoreng bawang merah untuk nasi goreng.
Mereka saling menatap. Laki-laki Inggris enam puluh tujuh tahun dengan kantong belanjaan. Perempuan Jawa lima puluh enam tahun dengan wajan.
“Nasi goreng,” kata Ibu.
“Baked beans,” kata Mr Jake.
“Ini Indonesia, Pak.”
“This is a celebration, Madam.”
“Anak saya suka nasi goreng.”
“Your son eats rawon every day for twelve years. He has no preferences.”
“Dia suka nasi goreng waktu kecil. Telur dadarnya dikasih ke adiknya.”
Mr Jake berhenti. Dia menatap Ibu lama. Lalu dia menatap Ikal yang berdiri di dekat jendela, bersama Elena, pura-pura tidak mendengar.
Mr Jake menurunkan kantong belanjaannya ke lantai.
“Nasi goreng,” katanya. “Tapi saya yang cuci piring.”
Ibu tersenyum. Untuk pertama kalinya hari itu, Ibu tersenyum tanpa air mata.
“Terima kasih, Pak Jake,” katanya pelan.
“For what?”
“Udah nemuin anak saya.”
Mr Jake membuka mulut, lalu menutupnya. Dia berbalik ke arah wastafel, menyalakan keran, dan mulai mencuci piring yang belum dipakai. Bahunya berguncang.
“Margaret,” gumamnya ke arah air keran. “Margaret, you would’ve loved this woman.”
Malam itu kami makan nasi goreng di lantai ruang tamu, di atas tikar pandan yang digelar Ikal dari kamarnya, karena sofa abu-abu hanya muat tiga orang dan kami bertujuh. Ibu, Ikal, Kayla, aku, Elena, Mr Jake, dan Ucup, yang muncul jam tujuh membawa rantang Bu Yati dan tidak bisa diusir.
Ikal duduk di tengah. Ibu di sebelah kirinya. Kayla di sebelah Ibu.
Aku di sebelah kanannya.
Di tengah makan, dia menoleh ke arahku. Dia menyodorkan mangkuk kecil berisi sambal goreng dari rantang Bu Yati.
“Kak, sambelnya mau?”
Aku menatapnya.
Kak.
Dia mengatakannya begitu saja. Tanpa jeda. Tanpa ragu. Sambil menyodorkan mangkuk sambal. Seperti dulu, waktu dia sembilan tahun dan aku tiga belas dan kami bertengkar soal siapa yang dapat kerupuk paling besar di meja makan.
Bukan Mbak. Bukan di bandara, di tengah tangis, di telingaku.
Di meja makan. Di hari biasa. Sambil menyodorkan sambal.
“Mau,” kataku. Suaraku serak. “Makasih, Kal.”
Dia mengangguk dan kembali makan.
Dia tidak tahu apa yang baru saja dia berikan kepadaku. Atau mungkin dia tahu. Aku tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa aku menyendok sambal goreng itu ke piringku dengan tangan yang gemetar, dan Kayla, dari seberang, menatapku dengan mata yang basah dan senyum yang sangat lebar.
Jam sepuluh malam, aku di dapur, membantu Mr Jake mengeringkan piring. Ibu duduk di sofa dengan Kayla, melihat-lihat foto di ponsel Kayla. Ucup sudah pulang.
Dari dapur, aku bisa melihat ruang tamu. Dan di ujung ruang tamu, di depan jendela besar, Ikal dan Elena berdiri berdampingan.
Mereka tidak tahu aku bisa melihat mereka. Atau mungkin tahu, dan tidak peduli.
Elena di sebelah kanannya, tentu saja. Mereka berdua menatap lampu-lampu kota di luar jendela. Di kaki mereka, sirih gading yang daunnya sekarang menjuntai sampai ke lantai. Dua lilin angka. Bebek karet kuning.
Kunci perak kecil dengan gantungan 2307 sudah tidak ada di lantai. Aku tidak tahu kapan diambil.
Ikal bicara. Pelan. Aku hampir tidak bisa mendengarnya dari dapur. Tapi apartemen itu masih setengah kosong, dan suara memantul dari dinding-dinding putih.
“El.”
“Hm?”
“Aku belum tahu caranya ngerasain lagi.”
Elena menoleh ke arahnya.
“Malam Minggu itu… terus di bandara… itu kayak bendungan jebol,” lanjut Ikal. “Semua keluar sekaligus. Tapi sekarang aku nggak tahu yang biasa itu kayak gimana. Ngerasa seneng yang biasa. Ngerasa sedih yang biasa. Ngerasa…” Dia berhenti. “Aku nggak tahu, El. Aku lupa caranya.”
Elena tidak menjawab. Dia menunggu.
“Tapi aku mau belajar,” kata Ikal. Suaranya sangat pelan sekarang. Hampir berbisik. “Sama kamu. Kalau kamu mau.”
Hening.
Di sebelahku, Mr Jake berhenti mengeringkan piring. Kain lap di tangannya membeku. Dia menatap ke arah jendela dengan mata yang membelalak dan mulut yang sedikit terbuka.
Elena menatap Ikal lama. Lalu dia tersenyum. Lesung pipi di sebelah kirinya muncul.
“Kamu tahu nggak,” katanya, “aku udah nunggu kamu ngomong itu dari kamu nyelimutin aku pakai selimut Mama di balkon.”
Lalu dia berjinjit sedikit, dan menciumnya.
Pelan. Sebentar. Di depan jendela besar dengan lampu-lampu kota Surabaya berkelip di belakang mereka.
Mr Jake menarik napas begitu keras sampai terdengar seperti peluit kapal.
Aku bergerak sebelum berpikir. Aku mengangkat kain lap dari tanganku dan menutupkannya ke wajah Mr Jake. Ke matanya. Dengan dua tangan.
“Pak,” bisikku. “Jangan diliat.”
“That’s my daughter,” bisik Mr Jake dari balik kain lap, suaranya bergetar, setengah tersedak. “That’s my daughter and my boy. Margaret. MARGARET.”
“Ssst!”
Dari sofa, Ibu menoleh ke arah dapur. Lalu ke arah jendela. Lalu kembali ke arah dapur, ke aku yang sedang menutup mata Mr Jake dengan kain lap.
“Saf,” bisik Ibu. “Itu siapa?”
“Pacarnya Ikal, Bu.”
Ibu menatap ke arah jendela lagi. Lama. Lalu dia menutup mulutnya dengan dua tangan, persis seperti Kayla, dan matanya berkaca-kaca untuk kesekian kalinya hari itu.
Kayla, di sebelah Ibu, mengeluarkan suara yang sangat tinggi dan sangat tertahan dari balik bantal sofa yang dia tekan ke mukanya sendiri.
Di depan jendela, Ikal dan Elena sudah tidak berciuman. Mereka berdiri berdampingan lagi. Tangan Elena di tangan Ikal.
Ikal menoleh ke arah dapur.
Dia melihatku dengan kain lap di tangan, menutup mata Mr Jake yang bahunya berguncang. Dia melihat Ibu yang menutup mulut. Dia melihat Kayla yang menenggelamkan wajahnya ke bantal sofa.
Dan dia tersenyum.
Bukan riak kecil di permukaan air. Bukan sudut bibir yang naik dua milimeter selama satu detik.
Senyum. Penuh. Sampai ke mata. Sampai sudut-sudutnya berkerut. Senyum yang membuat wajahnya terlihat sepuluh tahun lebih muda.
Senyum anak sebelas tahun di foto di dinding gabus Kayla, yang menoleh ke samping, ke arah adiknya yang mencuri kerupuk.
Aku belum pernah melihat senyum itu sejak bandara Ahmad Yani.
Aku menurunkan kain lap dari wajah Mr Jake.
“Udah boleh liat, Pak,” kataku.
Mr Jake melihat. Dan dia menangis begitu keras sampai Ibu harus berdiri dari sofa, berjalan ke dapur, dan memberinya segelas air putih.
Dari salah satu dari dua gelas di rak pengering.
- 1 Aku Baik
- 2 Mesin Fotokopi
- 3 Biar Ada yang Hidup di Sini
- 4 Kontainer
- 5 Ulang Tahun Palsu
- 6 Kayla Anindya Putri
- 7 Audit Perasaan
- 8 Kak Hal
- 9 Papan Pencarian
- 10 Telur Dadar
- 11 Kelingking
- 12 Foto di Ponsel
- 13 Sabar Ya
- 14 Bisikan
- 15 Haikal Ramadhan
- 16 Kue Tiga Tingkat
- 17 Laporan Detektif
- 18 Oh. Iya, Aku Tahu
- 19 Aku ke Sana
- 20 Tujuh Belas Kotak
- 21 Tanggal
- 22 Mbak Safrina
- 23 Jangan Telepon Lagi
- 24 Jatuh dari Sepeda
- 25 Punggung
- 26 Bangku Warung
- 27 Surat yang Dibuka
- 28 Aku yang Milih
- 29 Rasi Bintang
- 30 Dilihat 23.47
- 31 Kamu Juga Tahu?
- 32 Berhenti Bilang Baik
- 33 Nggak Ada yang Keluar
- 34 Namanya Bobo
- 35 Tabungan ke Melbourne
- 36 Hati-Hati
- 37 Don’t Be Me
- 38 Kapan Nyusul
- 39 Asal Kakak Masih Hidup
- 40 Telat Nyusul
- 41 Ibu reading
- 42 Hari ke-1
- 43 Epilog: Yang Kanan