Chapter Forty Three
Epilog: Yang Kanan
— Haikal —
Kayla yang memilih tanggalnya.
“Empat belas Mei,” katanya, di lantai ruang tamu apartemenku, dengan kalender di pangkuan dan spidol merah di tangan. “Hari kita pergi dari Semarang.”
Elena menatapnya. Aku menatapnya. Kak Safrina, yang sedang video call dari Melbourne lewat laptop di atas meja, menatapnya dari layar.
“Kay,” kata Kak Safrina pelan. “Itu… tanggal itu…”
“Aku tahu.” Kayla melingkari angka empat belas dengan spidol merah. Dua kali. Tebal. “Tujuh belas tahun aku berdiri di pintu kedatangan bandara di tanggal itu. Tujuh belas tahun tanggal itu artinya Kak Ikal ditinggal.” Dia mengangkat wajah. Matanya basah, tapi dia tersenyum. “Aku mau tanggal itu punya cerita baru.”
Hening.
Lalu Elena mengulurkan tangan, mengambil spidol merah dari tangan Kayla, dan menggambar bunga matahari kecil di sebelah lingkaran itu.
“Empat belas Mei,” kata Elena.
Akad nikahnya di masjid kecil di dekat gerbang Tanjung Perak, jam delapan pagi. Masjid tempat buruh-buruh pelabuhan salat Jumat. Tempat aku dulu, di umur enam belas, tidur di terasnya dua malam sebelum menemukan kontainer hijau berkarat milik Mr Jake.
Yang hadir sedikit. Ibu. Kak Safrina. Kayla. Mr Jake, dengan kemeja batik yang terlalu besar dan peci yang terus melorot karena kepalanya terlalu bulat untuk ukuran peci mana pun. Penghulu. Dua saksi: Kapten Lukas dan Cak Tarno, yang berdua sudah menangis bahkan sebelum ijab dibacakan.
Elena memakai kebaya putih sederhana, rambut disanggul, tanpa banyak perhiasan. Hanya anting mutiara kecil di kedua telinga dan, di jari manis kirinya, cincin emas putih dengan satu batu kecil.
Dia cantik. Itu fakta. Seperti pasang surut terjadi dua kali sehari.
Tapi hari itu, untuk pertama kalinya, fakta itu tidak hanya kunyatakan.
Hari itu, fakta itu kurasakan.
Resepsinya di dermaga Jamrud. Sore. Waktu matahari mulai turun dan Selat Madura berubah warna dari biru ke emas.
Mr Jake yang mengatur semuanya. Dia menyewa tenda putih panjang yang dipasang di sepanjang dermaga, dari gudang tiga sampai ujung bolder tempat aku dulu berdiri menatap kapal ke Fremantle. Dia menggelar karpet merah di atas aspal. Dia memesan lampu-lampu kecil berwarna kuning yang digantung dari crane nomor tiga sampai crane nomor lima, seperti untaian bintang.
Dan MV Margaret, dengan cat hijau tua yang masih baru, bersandar di dermaga dengan bendera-bendera semboyan berwarna-warni yang dipasang dari haluan sampai buritan. Bendera yang dalam kode internasional pelayaran, kata Kapten Lukas, artinya selamat datang di rumah.
Bu Yati yang memasak. Semua. Dibantu ibu-ibu dari gang belakang kantor dokumen. Rawon, tentu saja. Nasi kuning. Sambal goreng ati. Lumpia, yang diajarkan Ibu kepada Bu Yati tiga hari sebelumnya. Rendang. Sate ayam, tiga puluh tusuk per meja, karena Mr Jake bersikeras.
Dan telur dadar. Tumpukan tinggi telur dadar tebal yang kecokelatan di pinggirnya, di wadah besar di tengah meja prasmanan.
Yang datang banyak.
Kru dermaga dengan kemeja batik yang disetrika rapi, rompi oranye dilepas untuk pertama kalinya. Ucup, dengan rambut yang disisir pakai minyak rambut terlalu banyak sampai berkilau seperti kaca. Dinda, dengan kamera DSLR berlensa panjang, berlari ke sana kemari. Mbak Rini. Bu Endang dan suaminya yang Jumat Legi. Pak Darto dari bea cukai. Dr. Hendra dari klinik pelabuhan, yang menatap punggungku waktu aku lewat dan mengangguk pelan, seperti dokter yang melihat pasiennya sembuh.
Pak Sutris datang dengan seragam satpam yang disetrika, karena, katanya, itu baju paling bagus yang saya punya, Mas. Pak Bonar datang dari Medan dengan suara yang masih terlalu keras dan menjabat tanganku begitu kuat sampai jariku sakit. Kau yang paling susah kucari seumur karierku, Dek. Dua belas tahun di bawah hidungku.
Pak Slamet datang dengan kopiah hitam dan membawa speaker kecil untuk dangdut koplo, yang langsung disita Kapten Lukas.
Dan Bu Warsih.
Dia datang dari Semarang naik bus malam. Sendirian. Dengan tas plastik berisi wingko babat dan daster batik yang paling bagus, warna biru tua dengan motif kawung. Dia berjalan pelan di atas karpet merah dengan sandal jepit hijau, dan waktu dia melihatku, dia berhenti dan menangis.
Aku memeluknya. Dia kecil sekali. Kepalanya hanya sampai di dadaku.
“Le,” bisiknya. “Wis rabi. Ya Allah. Ikal wis rabi.”
(Nak. Udah nikah. Ya Allah. Ikal udah nikah.)
“Nggih, Bu.”
“Bangkunya masih ada,” katanya, di dadaku. “Nek mulih, lungguhana.”
(Kalau pulang, dudukin.)
Mr Jake mengantar Elena di atas karpet merah.
Dari ujung dermaga dekat gudang tiga, sampai ke ujung yang lain, di depan MV Margaret, tempat aku berdiri menunggu.
Mr Jake memakai jas abu-abu, dasi kupu-kupu merah, dan topi pet wol yang Elena sudah melarangnya pakai tiga kali dan tetap dia pakai. Dia menggandeng lengan Elena dengan tangan yang gemetar.
Dia menangis sejak langkah pertama.
Bukan menangis diam-diam. Menangis dengan suara. Dengan isakan. Dengan bahu yang berguncang dan hidung yang memerah dan topi pet yang miring. Setiap tiga langkah dia berhenti, mengeluarkan saputangan dari saku jas, menyeka matanya, membuang ingus dengan bunyi seperti klakson kapal, lalu melanjutkan berjalan.
Elena, di sebelahnya, tertawa dan menangis bersamaan.
Seluruh dermaga tertawa dan menangis bersamaan.
Waktu mereka akhirnya sampai di depanku, Mr Jake tidak langsung melepaskan lengan Elena. Dia menatapku lama dengan mata merah dan basah.
“Hal,” katanya dengan suara yang hancur.
“Ya, Pak.”
“I found you in a box.”
“Iya, Pak.”
“Twelve years ago. In a box. Skinny as a rake.”
“Iya, Pak.”
Dia menatap Elena. Lalu menatapku lagi.
“Margaret would’ve…” Dia berhenti. Dia menggeleng. “No. No more Margaret would’ve. Today it’s me.” Dia menarik napas dalam-dalam. “I am proud of you, son. Me. Jake. Not Margaret. Me.”
Lalu dia meletakkan tangan Elena di tanganku.
Dan dia menoleh ke arah kerumunan tamu, mengangkat dua tangannya ke udara, dan berteriak dengan suara paling keras yang dia punya:
“AND I WON THE BET!”
Di sebelah meja prasmanan, Ucup mengangkat papan tulis putih dari ruang istirahat kru tinggi-tinggi. Papan tulis dengan tulisan spidol merah:
TARUHAN RESMI DERMAGA CERIA (EDISI TERAKHIR) “KAPAN PAK HAL NIKAH?”
Dan di baris paling bawah, dicentang tiga kali dengan spidol hijau:
Mr Jake — 14 Mei — Rp5.000.000 ✓✓✓
“Tuan Jake tahu tanggalnya dari Mbak Kayla!” teriak Kapten Lukas dari barisan tamu. “Itu curang!”
“ALL’S FAIR IN LOVE AND BETTING, LUKAS!”
Kak Safrina membacakan surat.
Dia tidak berdiri di podium. Tidak ada podium. Dia berdiri di depan meja tempat aku dan Elena duduk, di bawah lampu-lampu kecil yang digantung dari crane, dengan selembar kertas di tangan yang gemetar.
Dia memakai kebaya biru muda. Rambutnya digerai. Wajahnya tanpa riasan tebal. Hanya bedak tipis dan lipstik yang sudah luntur karena dia menggigit bibirnya terus sejak pagi.
Dia membuka kertasnya. Dia menarik napas.
“Aku pengacara,” katanya. “Aku biasa ngomong di depan orang banyak. Aku udah pidato di depan seribu orang pas wisuda.” Suaranya sudah bergetar di kalimat pertama. “Tapi ini lebih susah.”
Seluruh dermaga sunyi.
“Kal,” katanya, menatap kertasnya. “Dulu aku bilang kamu jagoan.”
Dia berhenti.
“Di bandara. Di Ahmad Yani. Aku peluk kamu, dan aku bilang, kamu jagoan, Kal. Jagain Ayah ya.” Dia menelan ludah. “Itu kalimat paling jahat yang pernah aku bilang seumur hidupku. Karena aku nyuruh anak sebelas tahun jadi jagoan. Dan kamu jadi. Kamu jadi jagoan tujuh belas tahun. Kamu jagain semua orang. Ibu. Aku. Kayla. Kamu jagain kami semua, dengan bohong aku baik tiap Minggu sore.”
Suaranya pecah. Dia berhenti. Dia menarik napas lagi.
“Jadi hari ini aku mau tarik kalimat itu,” katanya. “Kamu bukan jagoan, Kal. Kamu nggak perlu jadi jagoan. Kamu boleh capek. Kamu boleh nangis. Kamu boleh marah. Kamu boleh bilang nggak tahu kalau kamu nggak tahu. Kamu boleh minta tolong.”
Dia menatapku. Air matanya mengalir.
“Kamu boleh jadi adik.”
Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Mataku terlalu basah.
“Aku janji jemput kamu,” lanjutnya, suaranya sekarang hampir berbisik. “Aku telat. Telat banget. Tujuh belas tahun.” Dia melipat kertasnya. Dia tidak membacanya lagi. “Tapi mulai hari ini, Kal. Tiap kamu pulang. Ke mana pun. Dari mana pun. Aku ada di pintu.”
Dia tersenyum. Senyum yang pecah, basah, dan sangat, sangat lega.
“Aku jemput. Selalu.”
Dermaga Jamrud tidak bersuara untuk waktu yang lama.
Lalu Ucup yang pertama bertepuk tangan, sambil menangis begitu keras sampai Cak Tarno harus menepuk-nepuk punggungnya. Lalu semua orang.
Kak Safrina berjalan ke arahku. Aku berdiri. Dia memelukku.
“Makasih, Kak,” bisikku di rambutnya.
“Makasih udah hidup, Kal,” bisiknya balik.
Kami makan. Aku dan Elena di meja utama, dengan Ibu, Kak Safrina, Kayla, dan Mr Jake.
Dan Daniel.
Daniel yang cuma temen, yang terbang dari Melbourne dua hari sebelumnya dan sekarang duduk di sebelah Kayla dengan kemeja batik yang terbalik bagian depan dan belakangnya. Tidak ada yang memberitahunya. Kayla menatapnya dengan pipi merah setiap kali Daniel tertawa, dan Daniel menatap Kayla dengan cara yang sama seperti Mr Jake menatap foto Margaret.
Bu Yati sendiri yang mengantar piring ke meja kami. Rawon. Nasi kuning. Lumpia. Sambal goreng ati.
Dan di setiap piring, sepotong telur dadar.
Kayla, di seberangku, memakan telur dadarnya duluan. Seperti biasa. Bagian terbaik dulu, biar nggak keburu dicuri orang. Dia memotongnya jadi bagian-bagian kecil dengan sendok, lalu memakannya satu per satu.
Lalu dia menatap nasinya yang masih utuh.
Lalu dia mengangkat wajah dan menatapku.
Lalu, pelan, dengan sangat sengaja, dia mengulurkan tangan melintasi meja, mengambil telur dadar dari piringnya sendiri yang baru dia potong setengah, setengahnya yang tersisa, dan memindahkannya ke piringku.
Ke atas nasiku.
“Gantian,” katanya.
Aku menatap telur dadar di piringku. Lalu menatapnya.
“Kamu nggak suka telur, Kay?”
Kayla tersenyum lebar. Senyum yang sama persis. Dengan saus sambal di sudut bibir yang sama persis.
“Udah kenyang,” katanya.
Di sebelahnya, Kak Safrina tertawa dengan mata yang basah. Ibu menutup mulut dengan tangan. Mr Jake, yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi, ikut tertawa karena semua orang tertawa, lalu menangis karena semua orang menangis.
Aku makan telur dadar itu.
Pelan-pelan. Satu potong demi satu potong.
Aku kenyang.
Untuk pertama kalinya, aku benar-benar kenyang.
Malam turun di atas Selat Madura. Lampu-lampu kecil berwarna kuning yang digantung dari crane menyala, berkelip seperti untaian bintang di atas dermaga. Musik pelan dari speaker yang akhirnya dikembalikan Kapten Lukas kepada Pak Slamet. Bukan dangdut koplo. Lagu lama yang diminta Mr Jake. Lagu Inggris tahun tujuh puluhan yang dulu diputar di radio kecilnya di dek Margaret.
Dinda mengumpulkan kami semua untuk foto keluarga. Di depan MV Margaret, di bawah bendera-bendera semboyan berwarna-warni.
Elena di sebelahku. Mr Jake di sebelah Elena, topi petnya miring. Kak Safrina. Kayla, dengan Daniel yang canggung di belakangnya. Dan Ibu.
Ibu berdiri di sebelah kananku.
Dia sengaja. Aku melihatnya waktu Dinda mengatur posisi. Dinda menyuruh Ibu berdiri di sebelah kiriku, di dekat Kayla. Ibu menggeleng pelan, berjalan memutar di belakangku, dan berdiri di sebelah kanan.
Ibu perawat. Ibu tahu.
“Satu, dua…”
Kayla, di ujung, tiba-tiba bergerak. Dia keluar dari barisan, berjalan memutar di belakang semua orang, dan muncul di sebelah kiriku. Di antara aku dan Elena. Dia berjinjit. Dia menempelkan mulutnya ke telinga kiriku.
Dan dia berbisik.
Aku tidak mendengar apa pun.
Aku menoleh. Ke kanan. Seperti biasa. Aku memutar seluruh badanku sampai sisi kananku menghadap ke arahnya.
“Yang kanan, Kay,” kataku.
Kayla tertawa. Dia sudah tahu. Dia sengaja.
“Aku tahu,” katanya. “Aku cuma kangen bisikin telinga yang itu.”
Lalu dia pindah. Ke sebelah kananku. Di antara aku dan Ibu. Ibu bergeser sedikit untuk memberinya tempat.
Kayla berjinjit lagi. Dia menempelkan mulutnya ke telinga kananku. Telinga yang masih bisa mendengar.
“Kak,” bisiknya. “Bahagia, kan?”
Aku tidak langsung menjawab.
Aku menatap dermaga Jamrud di malam hari. Lampu-lampu kuning yang berkelip dari crane ke crane. Ucup yang sedang berdansa dengan Bu Yati di atas karpet merah. Kapten Lukas yang menangis di bahu Cak Tarno. Bu Warsih yang duduk di kursi plastik dekat meja prasmanan, menyuapkan wingko babat ke mulut Pak Bonar. Dr. Hendra yang mengobrol dengan Pak Sutris. Pak Slamet yang diam-diam mengganti lagu di speaker jadi dangdut koplo, dan Mr Jake yang, bukannya marah, malah mulai berjoget dengan topi pet di tangan.
MV Margaret di belakangku, dengan cat baru dan bendera-bendera yang berkibar pelan.
Elena di sebelah kiriku, dengan tangannya di tanganku. Kak Safrina. Ibu. Kayla, di telinga kananku.
Dua belas tahun lalu, aku berbaring di dalam kontainer hijau berkarat di ujung dermaga ini, dengan demam dan perut kosong, dan aku tidak keberatan kalau besok pagi aku tidak bangun lagi.
Tujuh belas tahun lalu, aku berdiri di depan pintu kaca keberangkatan bandara Ahmad Yani dan menulis hari ke-1 di buku tulis bersampul cokelat.
Hari ini, buku itu ada di rak di apartemenku, di sebelah robot biru dengan jantung merah kecil. Di halaman setelah hari ke-731, sekarang ada banyak baris. Dengan tinta hitam. Satu baris per hari. Tidak semuanya berisi hal yang baik. Ada hari-hari yang buruk. Ada hari-hari aku bangun dan dadaku terasa kosong lagi, dan aku harus duduk di sofa lama sekali sebelum bisa bergerak. Ada malam-malam aku terbangun dan mendengar bunyi gesper ikat pinggang yang tidak ada, dan Elena harus menyalakan lampu dan memegang tanganku sampai pagi.
Tapi setiap baris dimulai dengan kata yang sama.
Hari ke-.
Dan tidak satu pun berisi kata nunggu.
Aku menoleh ke arah Kayla. Ke kanan.
Aku tahu jawabannya. Aku sudah tahu sejak tadi pagi, di masjid kecil di dekat gerbang Tanjung Perak, waktu Elena menatapku dari balik kebaya putihnya. Aku sudah tahu sejak bandara Tullamarine, waktu Kak Safrina berlari. Aku sudah tahu sejak lantai ruang tamu apartemenku, jam satu malam, dengan syal rajutan berlubang tiga di pelukanku.
Aku hanya belum pernah mengatakannya dengan kata-kata yang benar.
Kalimat itu sudah kuucapkan ribuan kali dalam tujuh belas tahun. Kepada Ibu di telepon setiap Minggu sore, dengan Ayah berdiri di belakangku. Kepada guru. Kepada Bu Warsih. Kepada Mr Jake. Kepada Kayla di ambang pintu ruang rapat. Kepada Kak Safrina di Rumah Makan Semarangan. Kepada Elena di apartemen yang kosong.
Kalimat yang kokoh seperti tiang dermaga. Yang tidak pernah berubah. Yang tidak pernah benar.
“Aku baik, Kay,” kataku.
Kayla menatapku.
Dia tidak tersentak. Dia tidak tersenyum sedih. Dia menatap mataku lama, dari jarak yang sangat dekat, dengan mata Ibu, seperti seseorang yang sedang memeriksa apakah sebuah kalimat itu bohong atau tidak.
Lalu, pelan-pelan, wajahnya pecah. Dia tersenyum begitu lebar sampai matanya hilang. Air mata mengalir di pipinya.
Dia tahu.
Untuk pertama kalinya dalam tujuh belas tahun, kalimat itu benar.
“Satu, dua, tiga!”
Cekrek.
Lampu flash Dinda meledak putih di depan kami semua.
Dan aku tidak tersentak.
TAMAT
- 1 Aku Baik
- 2 Mesin Fotokopi
- 3 Biar Ada yang Hidup di Sini
- 4 Kontainer
- 5 Ulang Tahun Palsu
- 6 Kayla Anindya Putri
- 7 Audit Perasaan
- 8 Kak Hal
- 9 Papan Pencarian
- 10 Telur Dadar
- 11 Kelingking
- 12 Foto di Ponsel
- 13 Sabar Ya
- 14 Bisikan
- 15 Haikal Ramadhan
- 16 Kue Tiga Tingkat
- 17 Laporan Detektif
- 18 Oh. Iya, Aku Tahu
- 19 Aku ke Sana
- 20 Tujuh Belas Kotak
- 21 Tanggal
- 22 Mbak Safrina
- 23 Jangan Telepon Lagi
- 24 Jatuh dari Sepeda
- 25 Punggung
- 26 Bangku Warung
- 27 Surat yang Dibuka
- 28 Aku yang Milih
- 29 Rasi Bintang
- 30 Dilihat 23.47
- 31 Kamu Juga Tahu?
- 32 Berhenti Bilang Baik
- 33 Nggak Ada yang Keluar
- 34 Namanya Bobo
- 35 Tabungan ke Melbourne
- 36 Hati-Hati
- 37 Don’t Be Me
- 38 Kapan Nyusul
- 39 Asal Kakak Masih Hidup
- 40 Telat Nyusul
- 41 Ibu
- 42 Hari ke-1
- 43 Epilog: Yang Kanan reading