Chapter Twenty Four
Jatuh dari Sepeda
— Kayla —
Kontraknya ditandatangani hari Kamis, jam sepuluh pagi, di ruang rapat besar lantai empat Willmore Maritime.
Mr Jake bikin acaranya kayak pernikahan.
Aku nggak bercanda. Ada tumpeng nasi kuning setinggi setengah meter di tengah meja, dikelilingi ayam goreng, telur balado, perkedel, dan urap. Ada spanduk kain putih di dinding bertuliskan SELAMAT ATAS KERJA SAMA WILLMORE MARITIME & ARUNIKA LOGISTICS — JALUR SURABAYA–MELBOURNE dengan huruf biru dan gambar jangkar di dua sisinya. Ada bunga-bunga di vas, mawar putih dan anggrek ungu, yang menurut Dinda dipesan Mr Jake dari toko bunga yang biasa ngurus dekorasi kawinan.
Dan ada Mr Jake sendiri, pakai jas abu-abu, dasi kupu-kupu merah, dan senyum seorang ayah yang anak perempuannya baru dilamar.
“Ladies and gentlemen!” katanya sambil berdiri di depan spanduk, megang mikrofon yang nggak perlu karena ruangannya cuma diisi dua puluh orang. “Today is a historic day!”
Kak Safrina duduk di sebelahku. Dia pakai blazer hitam lagi. Dia selalu pakai blazer hitam. Dia nyondongin badan ke arahku dan berbisik.
“Ini acara tanda tangan kontrak atau akad nikah?”
“Aku juga nggak tahu, Kak.”
Pidato Mr Jake empat puluh menit.
Dia cerita soal sejarah Willmore Maritime dari tahun 1991. Dia cerita soal kapal pertamanya, yang tenggelam di Selat Makassar tahun 1994 tanpa korban jiwa tapi dengan kerugian astronomical. Dia cerita soal Margaret, istrinya, yang katanya pasti bangga banget hari ini. Dia cerita soal Melbourne tahun 1979, soal landlord-nya yang telat ke pemakamannya sendiri, soal trem yang selalu telat.
Di menit ketiga puluh, Kapten Lukas yang duduk di barisan belakang mulai ngorok. Alis kirinya masih digambar pakai spidol. Ucup nyubit lengannya. Kapten Lukas bangun, teriak SIAP, KAPTEN, terus sadar dia sendiri kaptennya, terus duduk lagi dengan muka merah.
Di menit ketiga puluh lima, Elena berdiri dari kursinya, jalan ke depan, ngambil mikrofon dari tangan ayahnya dengan senyum manis yang mematikan, dan bilang, “Terima kasih, Papa. Sekarang kita mulai tanda tangan, ya.”
Seluruh ruangan tepuk tangan. Kayaknya lebih karena lega daripada karena terharu.
Penandatanganannya cepet. Lima menit.
Aku duduk di satu sisi meja, mewakili Arunika. Kak Ikal duduk di sisi lain, mewakili Willmore, di sebelah Mr Jake. Ada dua salinan kontrak, masing-masing setebal buku telepon. Kami tanda tangan di halaman terakhir, tukeran berkas, tanda tangan lagi.
Pulpenku nggak jatuh. Sekali pun. Aku nunjukin pulpen itu ke Kak Ikal setelah selesai, kayak nunjukin piala.
“Nggak jatuh,” bisikku.
Dia ngeliatin pulpen itu. Terus ngeliatin aku.
“Rekor,” katanya.
Satu kata. Datar. Tapi aku seneng banget sampai pipiku panas.
Terus sesi foto.
Dinda yang jadi fotografernya. Dia bawa kamera DSLR gede yang lensanya panjang kayak teropong, dan dia ngatur posisi kami kayak lagi foto prewedding.
“Mbak Kayla, geser kiri dikit. Pak Hal, geser kanan dikit. Mr Jake, jangan di tengah, Mr Jake, ya ampun, Mr Jake di belakang aja. Oke. Salaman. Senyum. Pak Hal, senyum, Pak. Pak Hal… itu senyum, Pak? Oke. Oke, nggak apa-apa. Satu, dua…”
Cekrek.
Lampu flash-nya meledak putih di depan mataku.
Aku kedip-kedip. Di sebelahku, Kak Ikal juga kedip. Tapi bukan kedip biasa. Seluruh badannya kayak tersentak sedikit. Bahunya naik. Kepalanya mundur satu senti. Kayak orang yang kaget dipukul dari depan.
Cuma sedetik. Terus dia normal lagi.
Aku liat. Kak Safrina, yang berdiri di belakang Dinda, juga liat. Aku tahu dia liat, karena tangannya yang lagi megang tas kulitnya tiba-tiba mencengkeram lebih erat.
“Sekali lagi!” kata Dinda. “Yang tadi Pak Hal merem.”
Cekrek.
Kali ini Kak Ikal nggak tersentak. Tapi aku ngeliat rahangnya ngeras.
Setelah foto, semua orang nyerbu tumpeng. Ucup ngambil tiga potong ayam sekaligus dan langsung ditegur Bu Endang dari HRD. Mr Jake motong puncak tumpeng dan nyodorin ke Kak Ikal, sambil bilang ini tradisi, orang paling penting harus dapat puncaknya. Kak Ikal nyodorin balik ke Mr Jake. Mr Jake nyodorin lagi. Kak Ikal nyodorin lagi. Mereka bolak-balik nyodorin puncak tumpeng kayak main ping-pong, sampai Bu Yati, yang ternyata juga diundang, ngambil puncak tumpeng itu dan naruhnya di piring Kapten Lukas.
“Biar alisnya cepet tumbuh,” kata Bu Yati.
Kapten Lukas nggak tahu harus terharu atau tersinggung.
Aku berdiri di deket jendela sama piring nasi kuning. Kak Ikal dateng dan berdiri di sebelahku. Di sebelah kananku. Dia selalu berdiri di sebelah kanan orang. Aku baru sadar itu sekarang.
Matahari pagi masuk lewat jendela, jatuh tepat di wajahnya.
Dan aku liat bekas luka itu lagi.
Garis kecil di alis kirinya. Pucat, tipis, sepanjang satu ruas jari. Ngebelah alisnya jadi dua bagian yang nggak sama gede. Udah sebulan lebih aku liat bekas luka itu. Di ruang rapat, di dermaga, di Warung Bu Yati, di mobil pas hujan. Aku nggak pernah nanya.
Tapi sekarang aku tahu dia Kak Ikal. Dan Kak Ikal sebelas tahun di fotoku nggak punya bekas luka itu.
“Kak,” kataku. “Itu kenapa?”
Aku nunjuk alisnya pakai garpu plastik.
Dia nengok ke arahku. “Apa?”
“Bekas luka di alis Kakak. Dulu nggak ada. Waktu kita kecil nggak ada.”
Dia diem sebentar. Cuma sebentar.
“Jatuh dari sepeda,” katanya.
Kalimat itu keluar lancar banget. Cepet banget. Kayak air keran yang dibuka.
Dan kalimat itu kena sesuatu di kepalaku.
Bukan kena. Lebih kayak… ngebuka sesuatu. Kayak kunci yang pas masuk ke lubang gembok yang udah karatan. Gemboknya nggak langsung kebuka. Tapi aku denger bunyinya. Klik.
Jatuh dari sepeda.
Aku pernah denger kalimat itu.
Dari mulut dia. Persis kayak gitu. Dengan nada yang sama. Dengan kecepatan yang sama.
Aku nggak inget kapan. Aku nggak inget di mana. Tapi aku tahu aku pernah denger. Kayak lagu yang kamu yakin pernah denger, tapi kamu nggak bisa inget di mana.
“Kak Hal! Pak Hal! Sini, Pak!” Mr Jake manggil dari seberang ruangan, ngelambai-lambai pakai garpu. “Pak Darto from bea cukai wants to talk to you!”
Kak Ikal ngangguk ke arahku, sopan, terus jalan ke arah Mr Jake.
Aku berdiri di deket jendela dengan piring nasi kuning yang udah dingin.
Jatuh dari sepeda.
Klik.
Aku baru inget malam itu.
Aku lagi duduk di lantai ruang tengah apartemenku, di depan dinding gabus. Foto Kak Ikal sebelas tahun masih ketutup handuk putih. Aku lagi makan sisa nasi kuning yang dibungkusin Bu Yati, dan aku lagi mikirin pulpenku yang nggak jatuh, dan aku lagi mikirin kenapa Kak Ikal tersentak waktu lampu flash nyala.
Terus tiba-tiba, kayak film yang diputar dari tengah, aku inget.
Aku sepuluh tahun. Di Melbourne. Ruang tengah rumah kami di Box Hill, yang karpetnya warna krem dan jendelanya gede ngadep ke halaman belakang. Ibu baru beliin laptop bekas dari temennya di rumah sakit, dan kami baru belajar cara video call pakai Skype.
Ibu yang ngatur. Ibu udah janjian sama Ayah lewat telepon. Ayah bawa Kak Ikal ke warnet di Semarang, biar kami bisa video call. Pertama kali sejak pisah. Pertama kali aku bisa liat Kak Ikal, bukan cuma denger suaranya di telepon tiap Minggu.
Aku seneng banget. Aku udah nunggu dari pagi. Aku pakai baju paling bagus, kaus kuning yang ada gambar bunga mataharinya. Dan aku udah nyiapin sesuatu buat ditunjukin ke Kak Ikal.
Bobo. Anak anjing golden retriever yang baru dibeliin Ibu dua minggu sebelumnya. Bulunya kuning emas, kakinya gede, kupingnya lembek.
Layarnya nyala. Gambarnya buram, patah-patah, suaranya putus-putus. Tapi itu Kak Ikal. Duduk di kursi plastik di bilik warnet yang sempit, pakai kaus abu-abu lengan panjang.
Dan pipinya.
Pipi kirinya biru.
Bukan biru kayak cat. Biru kebiruan, keunguan, dengan pinggiran kuning kehijauan. Dari tulang pipi sampai ke rahang. Di layar laptop yang buram, warnanya kelihatan kayak bayangan. Tapi itu bukan bayangan.
“Kak Ikal! Pipi Kakak kenapa?!”
Aku inget aku nanya itu. Aku inget aku nunjuk ke layar.
Dan aku inget Kak Ikal ketawa. Ketawa kecil. Terus dia bilang:
“Jatuh dari sepeda, Kay.”
Lancar. Cepet. Kayak air keran.
Dan aku…
Aku ketawa.
Aku ketawa dan bilang, “Ih, Kakak ceroboh! Kakak yang dulu marahin aku jatuh-jatuhan terus, sekarang Kakak sendiri yang jatuh!”
Terus aku ngangkat Bobo ke depan kamera. “Kak, liat! Liat! Ini Bobo! Lucu, kan?! Liat kupingnya! Liat kakinya! Kak, dia tadi pagi pipis di sepatu Kak Safrina!”
Dan aku ngomongin Bobo. Terus-terusan. Kuping Bobo, kaki Bobo, ekor Bobo, Bobo yang takut sama kucing tetangga, Bobo yang pipis di sepatu Kak Safrina, Bobo yang tidur di kaki ranjangku. Aku ngomong dan ngomong dan ngomong. Dua puluh menit.
Dan Kak Ikal dengerin.
Dia nggak motong. Dia nggak bilang apa-apa selain wah dan iya dan lucu, Kay. Dia cuma duduk di kursi plastik di bilik warnet yang sempit, dengan pipi kiri yang biru dari tulang pipi sampai ke rahang, dan dengerin aku ngomongin anak anjing selama dua puluh menit.
Waktu video call-nya selesai, aku bilang ke Ibu, Kak Ikal jatuh dari sepeda, Bu. Pipinya biru. Ibu bilang, aduh, anak itu, harus lebih hati-hati. Terus Ibu nyiapin makan malam, dan aku main sama Bobo di halaman belakang, dan aku lupa.
Aku lupa selama enam belas tahun.
Nasi kuning di pangkuanku jatuh ke karpet.
Aku nggak mungut. Aku duduk di lantai, ngeliatin dinding gabus, dan napasku mulai aneh. Pendek-pendek. Cepet-cepet. Kayak orang yang abis lari.
Jatuh dari sepeda.
Kak Ikal nggak punya sepeda.
Aku tahu itu. Aku tahu itu. Waktu kecil, di Semarang, cuma ada satu sepeda di rumah kami. Sepeda mini warna pink dengan keranjang putih di depan dan pita-pita plastik di stangnya. Punyaku. Hadiah ulang tahunku yang ketujuh. Kak Ikal yang ngajarin aku naik sepeda itu, di gang depan rumah, sambil megangin sadel dari belakang dan lari-lari ngikutin aku. Aku jatuh dua puluh kali. Dia ikut lecet-lecet.
Kak Ikal nggak pernah punya sepeda sendiri. Ayah bilang nggak ada uang. Kak Ikal bilang nggak apa-apa, dia lebih suka jalan kaki.
Waktu kami pindah ke Melbourne, sepeda pink itu ditinggal di Semarang. Nggak muat di koper.
Jadi Kak Ikal jatuh dari sepeda apa?
Sepeda pinkku? Sepeda mini dengan keranjang putih, yang terlalu kecil buat anak dua belas tahun?
Atau…
Aku berdiri.
Kakiku gemeteran. Aku jalan ke dinding gabus. Aku nyari satu kertas tempel kuning, yang kutulis berminggu-minggu lalu, di sebelah peta Tanjung Perak.
Pak Karyo (ABK): anak itu tidur meringkuk, tangan nutupin kepala. “Kayak anak yang biasa dipukul.” — NGGAK MUNGKIN. Kak Ikal nggak pernah dipukul. Kak Ikal sendiri yang bilang.
Kak Ikal sendiri yang bilang.
Kak Ikal sendiri juga yang bilang jatuh dari sepeda.
Waktu dia sebelas tahun. Waktu pipinya biru di layar laptop.
Dan hari ini. Waktu bekas luka di alisnya kena sinar matahari.
Dua kali. Dengan kalimat yang sama, nada yang sama, kecepatan yang sama. Kalimat yang udah diucapin terlalu sering sampai jadi lancar kayak air keran.
Aku inget Kak Ikal tersentak tadi pagi waktu lampu flash nyala. Badannya mundur. Bahunya naik. Kayak orang yang kaget mau dipukul dari depan.
Aku inget dia selalu duduk ngadep pintu. Di Warung Bu Yati. Di Rumah Makan Semarangan. Di ruang rapat.
Aku inget dia selalu pakai lengan panjang. Atau kalau digulung, dia turunin lagi pas ada orang lewat.
Aku inget Kak Safrina nanya, kamu pernah periksa telinga?
Kenapa telinga?
Kenapa Kak Safrina nanya soal telinga?
Aku ngambil spidol hitam dari meja.
Tanganku gemeteran banget sampai tutup spidolnya jatuh dua kali ke lantai. Aku pungut. Aku buka. Aku berdiri di depan kertas tempel kuning itu.
NGGAK MUNGKIN.
Aku nulis kalimat itu dengan huruf kapital, berminggu-minggu lalu, dan nggarisbawahinya dua kali. Aku nulis itu karena aku percaya. Karena Kak Ikal sendiri yang bilang. Karena Kak Ikal nggak pernah bohong.
Aku nyoret kata NGGAK.
Satu garis. Dua garis. Tiga garis. Sampai kata itu nggak kebaca lagi, cuma jadi blok hitam tebal di atas kertas kuning.
Yang tersisa cuma satu kata.
MUNGKIN.
Aku mundur satu langkah. Aku ngeliatin kata itu.
Terus aku jinjit di atas kursi dan narik handuk putih dari foto Kak Ikal sebelas tahun di tengah dinding.
Anak itu masih di sana. Kurus. Rambut cepak. Kaus putih kebesaran. Nengok ke samping, ke arah anak perempuan kecil yang lagi nyolong kerupuk dari kaleng merah.
Belum ada bekas luka di alisnya.
“Kak,” bisikku ke foto itu. Suaraku pecah. “Kak, maaf. Maafin aku. Aku ngomongin anjing. Pipi Kakak biru, dan aku ngomongin anjing.”
Foto itu tetep nengok ke samping.
Aku turun dari kursi. Aku duduk di lantai di bawah dinding gabus, di antara butir-butir nasi kuning yang berserakan di karpet. Aku meluk lututku.
Dan untuk pertama kalinya sejak dermaga, aku nggak nangis karena Kak Ikal nggak mau jadi kakakku.
Aku nangis karena aku mulai ngerti kenapa dia nggak bisa.
Jam sebelas malam, aku nelepon Kak Safrina.
Dia ngangkat di dering pertama. Dia belum tidur. Kak Safrina nggak pernah tidur.
“Kay?”
“Kak,” kataku. “Kenapa Kakak nanya soal telinga?”
Hening.
Hening yang panjang banget. Hening yang aku tahu artinya, karena aku udah dua puluh enam tahun jadi adiknya. Hening yang artinya Kak Safrina lagi mutusin, berapa banyak yang harus dia bilang.
“Kay,” katanya akhirnya. Suaranya pelan. Hati-hati. Suara yang dia pakai buat ngomong sama anak-anak di ruang sidang. “Kamu di mana sekarang?”
“Di apartemen.”
“Sendiri?”
“Iya.”
“Besok pagi aku ke situ. Kita ngomong.”
“Kak, aku mau tahu sekarang.”
“Besok, Kay.” Suara Kak Safrina goyah, sedikit. “Aku belum… aku belum yakin. Aku nggak mau ngomong sesuatu yang belum aku yakin.”
“Kak Ikal pernah video call sama aku. Waktu aku sepuluh tahun. Pipinya biru. Dia bilang jatuh dari sepeda.” Kata-kata itu keluar tumpah-tumpah. “Hari ini dia bilang lagi. Bekas luka di alisnya. Jatuh dari sepeda. Kalimatnya sama persis, Kak. Sama persis. Dan Kak Ikal nggak pernah punya sepeda.”
Hening lagi.
Lalu, dari ujung telepon, aku denger sesuatu. Napas Kak Safrina yang tersendat. Satu kali. Kayak orang yang ditinju di perut.
“Aku tahu, Kay,” bisiknya. “Aku tahu dia nggak pernah punya sepeda.”
“Terus kenapa Kakak nggak…”
“Besok,” potong Kak Safrina. Suaranya pecah sekarang. Kak Safrina, yang nggak pernah pecah. “Tolong, Kay. Besok. Aku janji besok.”
Klik.
Aku ngeliatin ponselku. Terus aku ngeliatin dinding gabus. Terus aku ngeliatin satu kata yang tersisa di kertas tempel kuning, di bawah blok hitam tebal.
MUNGKIN.
Malam itu aku nggak tidur sama sekali.
- 1 Aku Baik
- 2 Mesin Fotokopi
- 3 Biar Ada yang Hidup di Sini
- 4 Kontainer
- 5 Ulang Tahun Palsu
- 6 Kayla Anindya Putri
- 7 Audit Perasaan
- 8 Kak Hal
- 9 Papan Pencarian
- 10 Telur Dadar
- 11 Kelingking
- 12 Foto di Ponsel
- 13 Sabar Ya
- 14 Bisikan
- 15 Haikal Ramadhan
- 16 Kue Tiga Tingkat
- 17 Laporan Detektif
- 18 Oh. Iya, Aku Tahu
- 19 Aku ke Sana
- 20 Tujuh Belas Kotak
- 21 Tanggal
- 22 Mbak Safrina
- 23 Jangan Telepon Lagi
- 24 Jatuh dari Sepeda reading
- 25 Punggung
- 26 Bangku Warung
- 27 Surat yang Dibuka
- 28 Aku yang Milih
- 29 Rasi Bintang
- 30 Dilihat 23.47
- 31 Kamu Juga Tahu?
- 32 Berhenti Bilang Baik
- 33 Nggak Ada yang Keluar
- 34 Namanya Bobo
- 35 Tabungan ke Melbourne
- 36 Hati-Hati
- 37 Don’t Be Me
- 38 Kapan Nyusul
- 39 Asal Kakak Masih Hidup
- 40 Telat Nyusul
- 41 Ibu
- 42 Hari ke-1
- 43 Epilog: Yang Kanan