← Hari ke-731

Chapter Thirty Five

Tabungan ke Melbourne

— Elena —

Lima hari sejak aku meninggalkan kunci itu di lantai.

Lima hari aku tidak menyiram apa pun. Lima hari aku bangun jam enam pagi dengan pikiran pertama yang sama: hari ini Senin, hari ini jadwal siram. Lalu: bukan urusanku lagi. Lalu aku berbaring lagi, menatap langit-langit, dan menghitung berapa lama sirih gading bisa bertahan tanpa air di apartemen yang AC-nya selalu menyala.

Tiga minggu, kata Google. Kalau tanahnya lembap. Kalau tidak kena matahari langsung.

Dia akan baik-baik saja. Tanamannya, maksudku.

Hari Kamis, aku menyetir melewati tower itu dua kali dalam perjalanan pulang dari kantor. Bukan karena sengaja. Karena macet di Jalan Pemuda, dan Google Maps menyuruhku memutar. Dua kali.

Hari Jumat, aku melewatinya tiga kali.

Hari Sabtu, aku tidak keluar rumah sama sekali, karena aku tahu kalau aku keluar, aku akan melewatinya empat kali.


“Bu,” kata Dinda hari Senin pagi, berdiri di depan mejaku dengan wajah penuh tekad. “Saya punya rencana.”

“Aku nggak mau dengar.”

“Saya bisa curi tanamannya, Bu.”

Aku mengangkat wajah dari laptop.

“Saya bisa curi,” ulang Dinda, menurunkan suaranya. “Saya kenal satpam tower itu. Pak Narto. Dia sepupu suami kakak ipar saya. Saya bisa minta dia buka pintu 2307 pas Pak Hal ke kantor. Saya ambil tanamannya. Saya siram. Saya balikin sebelum Pak Hal pulang. Pak Hal nggak bakal tahu.”

“Dinda.”

“Atau saya bisa tukar sama tanaman yang sama persis, Bu. Saya udah cari di Tokopedia. Sirih gading, pot keramik putih, ukuran sedang. Dua puluh tiga ribu. Bisa dikirim besok.”

“Dinda, itu masuk rumah orang tanpa izin.”

“Itu penyelamatan, Bu.”

Aku menatapnya. Dia menatapku dengan mata berkaca-kaca, seperti anak kecil yang menawarkan permen satu-satunya miliknya kepada teman yang sedang menangis.

“Makasih, Din,” kataku pelan. “Tapi nggak usah.”

Dinda mengangguk sedih. Lalu dia berbalik dan berjalan ke pintu. Di ambang pintu, dia berhenti.

“Bu Elena,” katanya tanpa menoleh. “Ucup bilang Pak Hal belum duduk di sofanya. Udah empat hari.”

Dia keluar.

Aku menatap pintu yang tertutup. Lalu aku menatap laptopku. Lalu aku menutup wajahku dengan dua tangan.

Sofa.

Papa.


Kayla datang jam sebelas.

Aku tidak tahu dia akan datang. Tidak ada pesan. Tidak ada telepon. Sejak malam itu, malam aku menjatuhkan semua kebohonganku di atas karpet bunga mataharinya dan dia bilang pulang, El, kami tidak bicara sama sekali.

Pintu ruanganku diketuk dua kali. Lalu terbuka.

Dia berdiri di sana dengan kaus kuning, rambut dikuncir, mata yang masih sedikit bengkak tapi tidak lagi merah. Di tangannya ada kotak kardus. Martabak manis.

“Hai,” katanya.

“Hai.”

Dia masuk, menutup pintu, dan meletakkan kotak martabak itu di atas mejaku, di atas laporan anggaran galangan Batam.

“Keju cokelat,” katanya. “Pakai kacang.”

Aku menatap kotak itu.

“Kamu suka kacang, kan?” lanjut Kayla. “Aku liat. Pas kamu misahin kacang dari punyaku pakai tusuk gigi. Kamu makanin kacangnya satu-satu dari tisu. Diem-diem. Kamu kira aku nggak liat.”

Aku tidak bisa bicara.

“Kak Ikal bilang dia yang minta kamu janji,” kata Kayla. Suaranya pelan. “Hari Sabtu. Aku ke apartemennya. Dia bilang, itu salahku, Kay, bukan salah dia. Aku yang minta.” Dia menarik napas. “Jadi aku marahnya salah alamat. Maaf, El.”

“Kamu nggak salah alamat,” kataku. Suaraku keluar serak. “Aku memang bohong ke kamu.”

“Iya.” Kayla mengangguk. “Tapi kamu bohong karena dia minta. Dan dia minta karena dia takut aku liat lemarinya kosong.” Dia tersenyum. Senyum kecil yang lelah. “Semua orang bohong karena sayang. Aku udah capek marah sama orang-orang yang sayang sama aku.”

Aku berdiri dari kursiku. Aku berjalan memutari meja. Aku memeluknya.

Dia memelukku balik. Kencang. Kepalanya di bahuku. Rambutnya bau sampo stroberi.

Kami berdiri di tengah ruanganku seperti itu lama sekali, di antara tumpukan laporan keuangan dan kotak martabak yang belum dibuka.


Kami makan martabak di lantai ruanganku, karena entah kenapa sekarang semua orang di sekitar Hal makan di lantai.

Kayla menceritakan hari Sabtu.

Ucup dengan ponsel di leher. Rantang Bu Yati. Sofa yang masih ada plastiknya. Dua gelas di rak pengering. Kunci di lantai.

Lalu dia menceritakan Bobo. Namanya Bobo, kan?

Lalu dia menceritakan telinga. Yang kanan, Kay.

Lalu dia menceritakan pintu kedatangan bandara Melbourne. Tujuh belas tahun. Karton bertuliskan KAK IKAL dengan bunga matahari di pojoknya.

Lalu suaranya. Kay. Pecah. Seperti ranting kering.

Lalu telur dadar. Kakak nggak pernah kenyang, kan? …Nggak.

Lalu, terakhir: Kemarin belum.

Waktu Kayla selesai, aku menangis. Bukan tangis yang tertahan. Tangis yang terbuka, dengan bahu berguncang dan martabak setengah dimakan di tanganku.

Kayla mengulurkan tisu.

“Dia ngomong yang sebenernya, El,” katanya pelan. “Kemarin belum. Kamu tahu artinya apa? Dia nggak bilang sudah, makasih, Kay. Dia bilang yang sebenernya.”

Aku mengangguk. Aku tidak bisa bicara.

“Dan dia liatin kunci kamu,” lanjut Kayla. “Pas aku lagi beresin nasi yang tumpah, dia liatin kunci di lantai itu lama banget. Dia nggak ngambil. Dia nggak mindahin. Dia cuma liatin.”

Aku menyeka mataku dengan tisu. Maskaraku pasti luntur ke mana-mana. Aku tidak peduli.

“Kakakmu itu,” kataku, dan suaraku pecah di tengah, “nyebelin.”

Kayla menatapku.

“Nyebelin banget,” lanjutku. “Dia keras kepala. Dia bilang baik terus. Dia nyuruh orang pergi biar orangnya nggak kena. Dia tidur di lantai. Dia nggak duduk di sofa. Dia…”

Aku berhenti. Aku menarik napas.

“Aku sayang banget sama dia, Kay.”

Hening.

Lalu Kayla menjerit.

Bukan jeritan sedih. Jeritan yang tinggi, nyaring, dan sangat tidak pantas di dalam gedung kantor perusahaan pelayaran. Jeritan yang biasanya dikeluarkan remaja perempuan waktu idol favoritnya muncul di panggung.

Dia menutup mulutnya dengan dua tangan. Matanya membulat. Dia menatapku dengan ekspresi yang campuran antara terkejut, girang, dan terharu.

“ELENA!”

“Sst! Kay! Ini kantor!”

“Kamu bilang sayang banget!”

“Aku… itu… aku cuma…”

Pintu ruanganku terbuka. Dinda berdiri di sana dengan map di tangan dan wajah panik.

“Bu?! Ada apa, Bu?! Saya denger jeritan…”

Dia melihat kami berdua duduk di lantai. Martabak di antara kami. Mataku yang bengkak dan maskara yang luntur. Kayla dengan dua tangan menutup mulut dan mata yang berbinar seperti lampu natal.

Dinda menatap kami lama. Lalu, pelan-pelan, matanya ikut membulat.

“Ya Allah,” bisiknya. “Ya Allah, Bu. Ibu udah ngaku?”

“DINDA. KELUAR.”

Dinda keluar. Tiga detik kemudian, aku mendengar langkah kakinya berlari di lorong, ke arah lift, dan aku tahu dalam lima menit seluruh gedung akan tahu.

Kayla jatuh ke samping di lantai dan tertawa sampai menangis.


Jam tujuh malam, Papa mengirim pesan ke grup yang baru dia buat sore itu. Grup tiga orang. Namanya Hal’s Family.

Anggotanya aku, Kayla, dan Mbak Safrina.

Papa: My study. 8 pm. All three of you. I have something to tell you.

Papa: It’s about the tin.


Mbak Safrina datang naik taksi. Kayla datang naik ojek. Aku sudah ada di rumah.

Mereka berdua bertemu di teras depan rumah Papa. Aku melihatnya dari jendela ruang tamu. Mereka berdiri berhadapan di bawah lampu teras, dua meter jarak di antara mereka. Kayla dengan kaus kuning. Mbak Safrina dengan kaus putih yang sama kusutnya dengan yang dia pakai, kata Kayla, ke apartemen Hal hari Kamis.

Mereka tidak bicara.

Lalu Mbak Safrina bilang sesuatu. Aku tidak bisa mendengarnya dari dalam. Tapi aku melihat bibirnya bergerak, dan aku melihat Kayla menunduk.

Lalu Kayla melangkah satu langkah ke depan. Hanya satu. Dan berhenti.

Mereka masuk ke rumah bersama-sama, tapi tidak bergandengan tangan.


Ruang kerja Papa ada di lantai dua. Ruangan kecil dengan rak buku dari lantai sampai langit-langit, berisi buku-buku pelayaran, atlas tua, dan novel-novel detektif Inggris dengan sampul yang sudah lusuh. Di dindingnya tergantung peta laut Selat Malaka tahun 1920 dalam bingkai kayu, foto Mama tersenyum di dek kapal, dan foto pernikahan mereka dengan tanggal di pojoknya.

Papa duduk di kursi kulit di belakang meja kayu jati. Kami bertiga duduk di sofa di depannya. Aku di tengah, Kayla di kiriku, Mbak Safrina di kananku. Mereka berdua tidak saling menatap.

Papa tidak bicara lama. Dia menatap kami satu per satu. Lalu dia membuka laci meja paling bawah dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat besar.

“Dua belas tahun lalu,” katanya, “saya nemu anak laki-laki di kontainer saya.”

Kami sudah tahu cerita ini. Semua orang tahu cerita ini. Papa menceritakannya di setiap jamuan makan malam, dengan gelas anggur di tangan dan mata berbinar, dan selalu diakhiri dengan that’s my boy.

Tapi malam itu Papa tidak memegang gelas anggur. Matanya tidak berbinar.

“Enam belas tahun,” lanjutnya. “Kurus kayak lidi. Bau oli, dan bau takut. Waktu saya buka pintunya, dia langsung meringkuk di pojok dan tutup kepalanya pakai dua tangan.” Papa mengangkat dua tangannya ke atas kepalanya sendiri, menirukan gerakan itu. “Kayak gini. Sebelum dia lihat muka saya. Sebelum saya ngomong satu kata pun.”

Mbak Safrina menutup mata.

“Saya keluarin seratus ribu. Saya sodorin ke dia. Saya kira dia anak jalanan. Anak kabur. Saya kira dia mau uang.” Papa menurunkan tangannya. “Dia nggak ambil.”

Papa diam sebentar.

“Dia lihat saya. Terus dia bilang, Saya nggak mau dikasih, Pak. Saya mau kerja.”

Kayla mengeluarkan suara kecil. Seperti isak yang ditahan.

“Cerita ini udah saya ceritain seratus kali,” kata Papa pelan. “Di makan malam. Ke klien. Ke Margaret, God rest her soul. Selalu saya ceritain kayak cerita lucu. Cerita bangga. That’s my boy.” Dia menggeleng. “Ini bukan cerita lucu. Nggak pernah lucu. Anak enam belas tahun yang nggak mau dikasih apa-apa, karena tiap kali dia dikasih sesuatu, selalu ada harga yang nggak bisa dia bayar.”


Papa membuka amplop cokelat itu. Dia mengeluarkan selembar foto. Foto polaroid lama, warnanya sudah pudar.

Dia meletakkannya di atas meja, menghadap ke kami.

Seorang anak laki-laki kurus berompi oranye kebesaran, duduk di atas peti kayu di dalam gudang. Di pangkuannya, sebuah kaleng biskuit merah. Berkarat di pinggirnya. Dengan stiker bunga matahari setengah terkelupas di sisinya.

Anak itu sedang memasukkan lembaran uang ke dalam kaleng itu. Uang kertas lusuh, lima puluh ribuan dan dua puluh ribuan.

“Margaret yang foto,” kata Papa. “Dia dateng ke gudang waktu gajian, bawain saya makan siang. Dia lihat anak itu di pojok, dan dia nggak nanya. Dia cuma foto.” Papa menyentuh pinggir foto itu dengan ujung jarinya. “Dia bilang, Jake, anak itu lagi nabung buat sesuatu yang penting. Don’t you dare ask him what.”

Kayla menatap kaleng di foto itu. Tangannya gemetar.

“Itu kaleng kerupuk kami,” bisiknya. “Itu… itu kaleng yang aku peluk di foto. Stiker bunga mataharinya aku yang tempel.”

“Dia bawa dari Semarang,” kata Papa. “Di tas sekolahnya. Cuma itu barang dari rumah yang dia bawa, selain dua kaus dan satu tikar yang digulung.”

Hening.

“Tiap gajian,” lanjut Papa, “dua tahun, dia masukin uang ke kaleng itu. Setengah gajinya. Kadang lebih. Sehari dia cuma makan sekali. Bu Yati yang cerita ke saya. Katanya dia cuma pesen nasi putih. Nasi putih, Bu. Pakai kuah aja. Dua tahun.” Suara Papa bergetar. “Suatu hari saya tanya kenapa dia nggak makan lebih banyak. Dia tunjukin kalengnya. Tutupnya dia tulisin pakai spidol hitam.”

Papa menatap Kayla. Lalu Mbak Safrina.

“Tabungan ke Melbourne.”


Mbak Safrina tidak bergerak. Wajahnya putih seperti kertas.

“Saya tanya uangnya buat apa,” kata Papa. “Dia bilang…” Papa berhenti. Dia menarik napas, panjang dan bergetar. “Dia bilang, buat jemput adik, Pak.”

Jemput.

Aku mendengar Kayla menarik napas tajam di sebelah kiriku. Aku mendengar Mbak Safrina tidak menarik napas sama sekali di sebelah kananku.

Hari ke-1 nunggu Kak Safrina jemput.

Anak yang dulu menunggu dijemput. Anak yang berhenti menunggu di hari ke-731.

Lalu, tiga tahun kemudian, di gudang tiga Willmore Maritime, dengan rompi oranye kebesaran dan nasi putih pakai kuah, memutuskan untuk menjemput.

“Dia pernah cerita sesuatu,” kata Papa pelan. “Jauh setelahnya. Waktu dia dua puluh. Malam-malam, di dek Margaret. Dia bilang dia berhenti nungguin kalian waktu umur tiga belas. Dua tahun dia nunggu, terus satu malam dia berhenti.” Papa menatap Mbak Safrina. Dia tidak tahu. Papa tidak tahu soal hari ke-731. Tapi dia menatapnya, seolah tahu sesuatu. “Jadi dia mutusin, dia yang dateng ke kalian. Itu hal terakhir yang dia pengin. The very last thing.”


Papa mengeluarkan sesuatu yang lain dari amplop cokelat. Sehelai kertas koran yang sudah kuning, dilipat empat, dengan pinggiran yang rapuh.

“Waktu dia delapan belas,” kata Papa, “isi kalengnya udah cukup. Buat tiket. Buat paspor. Buat sebulan di Melbourne. Saya sendiri yang anter dia ke kantor imigrasi Surabaya. Saya nunggu di ruang tunggu sama termos teh saya.”

Dia membuka lipatan koran itu, pelan-pelan, hati-hati, seperti membuka sesuatu yang bisa hancur.

“Dia masuk buat foto paspor. Pas keluar, dia harus nunggu loket. Di ruang tunggu ada rak koran. Koran-koran lokal. Dia ambil satu sambil nunggu. Koran Semarang. Halaman tujuh.”

Papa meletakkan koran itu di atas meja, di sebelah foto polaroid.

Halaman tujuh. Kolom kanan atas. Judul berita dengan huruf tebal:

PUTRI SEMARANG RAIH PREDIKAT LULUSAN TERBAIK FAKULTAS HUKUM DI MELBOURNE

Di bawahnya, foto. Seorang perempuan muda bertoga hitam dan topi wisuda, memegang ijazah, tersenyum lebar ke kamera. Di sebelah kirinya, seorang perempuan paruh baya berkebaya, menangis bahagia. Di sebelah kanannya, seorang remaja perempuan berpipi tembam dengan jepit rambut bunga matahari, tertawa sampai matanya hilang, mengacungkan dua jari ke kamera.

Aku menatap foto itu.

Lalu aku menoleh ke kananku.

Mbak Safrina menatap koran itu. Wajahnya. Aku tidak bisa menggambarkan wajahnya. Tidak ada kata-kata yang cukup.

“Dia duduk di ruang tunggu itu,” kata Papa, suaranya sekarang hampir berbisik, “dan dia lihatin foto itu lama banget. Terus dia lipat korannya. Dia masukin ke saku. Dia jalan keluar dari kantor imigrasi dengan formulir masih di tangan. Nggak pernah diserahin.”

Papa menatap koran itu.

“Dia duduk di mobil saya. Lama nggak ngomong. Terus dia bilang, Pak, mereka udah bahagia. Saya nggak usah ke sana.” Papa menutup mata. “Nanti saya cuma ngerusak.”

Kayla menangis. Keras. Wajahnya di telapak tangannya.

“Dia kasih korannya ke saya,” kata Papa. “Dia bilang, buang aja, Pak. Saya nggak buang. Saya nggak tahu kenapa. Sepuluh tahun saya simpen di laci ini.”

Dia membuka matanya. Matanya basah.

“Dua tahun dia nabung buat jemput kalian,” katanya pelan. “Terus dia lihat kalian bahagia. Dan dia… berhenti.”

Dia menatap kaleng di foto polaroid.

“Kaleng itu nggak pernah dia buka lagi. Masih di apartemennya. Uangnya masih di dalam semua.”


“Itu wisudaku,” kata Mbak Safrina.

Suaranya keluar sangat pelan. Datar. Seperti suara orang yang membacakan bukti di ruang sidang.

“Lulusan terbaik. Aku pidato.” Dia menatap koran itu. “Aku pidato soal… soal tanggung jawab hukum untuk melindungi orang-orang yang tidak bisa bersuara.”

Dia tertawa. Tawa yang paling mengerikan yang pernah kudengar.

“Aku berdiri di podium. Di depan seribu orang. Dan aku bilang, kita harus mendengarkan mereka yang berbisik, karena merekalah yang paling butuh didengar.”

Dia menatap foto adiknya yang tertawa dengan jepit bunga matahari.

“Dan di hari yang sama, di ruang tunggu kantor imigrasi di Surabaya, adikku yang lain…”

Dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.

Lalu sesuatu terjadi.

Kayla menurunkan tangan dari wajahnya. Dia menatap kakaknya. Lama. Dengan mata yang merah dan basah.

Lalu dia mengulurkan tangan, melewati pangkuanku, dan mengambil tangan Mbak Safrina.

Mbak Safrina tersentak. Dia menatap tangan Kayla di tangannya. Lalu menatap Kayla.

Kayla tidak bilang apa-apa. Dia hanya menggenggam. Kencang. Jari-jarinya, dengan cat kuku hijau mint yang sekarang hampir habis terkelupas, melingkari jari-jari kakaknya.

Aku duduk di antara mereka, dengan tangan dua saudari itu bertautan di atas pangkuanku, dan menangis.


Mereka pulang jam sepuluh. Bersama-sama. Satu taksi. Papa menyerahkan amplop cokelat itu kepada Mbak Safrina di pintu depan. Foto polaroid dan koran halaman tujuh.

Setelah taksi itu pergi, Papa memanggilku ke ruang kerjanya lagi.

Dia duduk di kursinya. Dia tidak bicara lama. Lalu dia mengeluarkan ponselnya, membuka sesuatu, dan menyodorkannya kepadaku.

Sebuah pesan WhatsApp. Dari Hal. Dikirim kemarin malam, jam sebelas lewat empat puluh tujuh.

Tidak ada teks. Hanya sebuah foto.

Foto lantai keramik putih. Di dekat jendela besar, dengan lampu kota yang samar di latar belakang. Pot keramik putih berisi sirih gading. Gembor plastik hijau. Dua lilin angka, 2 dan 8.

Dan di sebelah semua itu, sebuah kunci perak kecil dengan gantungan plastik bertuliskan 2307.

Tidak ada teks. Tidak ada keterangan. Hanya foto itu.

“Dia nggak pernah kirim foto ke Papa,” kata Papa pelan. “Sekali pun nggak. Dua belas tahun. Foto kontainer pun nggak.”

Aku menatap foto itu. Kuncinya. Kunciku. Di lantai. Di tempat yang sama persis di mana aku meninggalkannya lima hari lalu.

Dia tidak memindahkannya.

“Papa nggak ngerti artinya apa,” kata Papa. “Papa udah tua. Papa nggak ngerti pesan-pesan anak muda. Tapi Papa udah kenal anak itu dua belas tahun, sweetheart, dan dia nggak pernah kirim apa pun yang nggak dia butuh seseorang lihat.”

Aku menatap jam pengiriman pesan itu.

23.47.

Aku tidak tahu kenapa angka itu membuat dadaku sakit. Aku belum tahu, waktu itu, tentang hari ke-731. Kayla belum menceritakannya kepadaku. Aku hanya tahu bahwa laki-laki yang tidur di lantai apartemen kosong itu memotret kunciku di lantai, di tengah malam, dan mengirimkannya kepada satu-satunya orang yang menurutnya tidak akan bertanya.

Dan aku tahu, entah bagaimana, bahwa itu adalah cara Hal minta tolong.

“Oh,” kata Papa, tiba-tiba, dengan nada orang yang baru ingat sesuatu yang sangat tidak penting. “Sofanya ide Papa, by the way. Kalau kamu penasaran. Kata Ucup dia belum duduk di situ.”

Aku tertawa. Di tengah tangisku, aku tertawa.

“Papa nggak bisa beliin orang sofa tanpa nanya, Pa.”

“Papa ini laki-laki Inggris umur enam puluh tujuh yang pinggangnya bermasalah, sweetheart,” kata Papa dengan sangat bermartabat. “Papa boleh ngapain aja.”