← Hari ke-731

Chapter Forty

Telat Nyusul

— Kayla —

Koperku udah masuk bagasi.

Dua koper abu-abu yang dulu kubawa dari Melbourne dua tahun lalu, yang dulu isinya enam belas kotak kado, sekarang isinya baju, buku, dan buku catatan bunga matahari. Petugas check-in di konter maskapai nempelin label bagasi di pegangannya, terus koper-koper itu jalan pelan di atas ban berjalan, masuk ke lubang di dinding, dan hilang.

Aku ngeliatin lubang di dinding itu lama.

“Kay,” kata Kak Safrina. “Ayo.”

Bandara Juanda hari Minggu sore rame banget. Keluarga-keluarga dengan koper gede dan kardus diiket tali rafia. Rombongan umroh dengan seragam putih. Anak-anak kecil lari-larian di antara troli. Pengumuman di pengeras suara, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Indonesia lagi.

Kami jalan ke arah pintu keberangkatan internasional. Pintu kaca gede, otomatis, yang di baliknya ada pemeriksaan imigrasi, terus ruang tunggu, terus garbarata, terus pesawat.

Aku belum mau masuk.

Aku berhenti di depan pintu kaca itu. Tiga meter sebelum pintunya. Di tempat orang-orang biasanya berdiri buat pamitan sama yang nganter.

Nggak ada yang nganter kami.

Pak Jake sebenernya mau nganter. Kemarin malam dia nelepon dan bilang I’ll drive you, sweetheart. Tapi tadi pagi dia nelepon lagi dan bilang dia nggak bisa. Ada urusan. Suaranya aneh. Serak, kayak orang yang nggak tidur semalaman. Dia bilang maaf tiga kali, terus dia bilang wait for a bit before you go in, okay? Just a bit. Terus dia nutup telepon.

Elena juga nggak bales pesanku dari tadi pagi.

Aku ngecek ponsel. Jam tiga lewat empat menit. Boarding jam tiga empat puluh.

Nggak ada pesan.

Dari Kak Ikal juga nggak ada. Tentu aja nggak ada. Kak Ikal nggak suka bandara. Dia udah bilang.

Hati-hati. Aku baik.

Aku megang bebek karet kuning di kantong jaketku. Yang dari Ucup. Paruh oranye, mata item yang dicat. Aku remes pelan. Bebek itu bunyi cuit kecil.

“Kay.” Kak Safrina berdiri di sebelahku. Dia pakai blazer item lagi. Rambutnya diiket rapi lagi. Tapi matanya nggak rapi. Matanya merah, dan ada sesuatu di sana yang belum pernah aku liat sebelum dua minggu terakhir ini. Sesuatu yang retak dan nggak bisa disembunyiin lagi. “Kita harus masuk. Antrian imigrasinya panjang.”

“Sebentar lagi, Kak.”

“Kay.”

“Pak Jake bilang tunggu sebentar.”

Kak Safrina ngeliatin aku. Terus dia ngeliatin pintu kaca di depan kami. Terus dia ngeliatin ke belakang, ke arah pintu masuk terminal, ke arah orang-orang yang lalu lalang.

Dia nggak bilang apa-apa. Tapi dia nggak maksa aku masuk.

Kami berdiri di sana. Berdua. Tiga meter di depan pintu keberangkatan.

Tujuh belas tahun lalu, di bandara yang lain, di kota yang lain, kami berdiri di depan pintu keberangkatan juga. Bertiga. Ibu, Kak Safrina, aku. Dan di belakang kami, ada yang nganter.

Hari ini nggak ada.


Jam tiga lewat sebelas.

Aku nengok ke belakang untuk keseratus kalinya. Orang-orang. Koper. Troli. Rombongan umroh. Petugas kebersihan dengan pel. Bapak-bapak jualan roti.

Nggak ada siapa-siapa.

“Kay,” kata Kak Safrina pelan. “Dia nggak dateng.”

“Aku tahu.”

“Kita harus masuk.”

“Aku tahu, Kak.”

Suaraku pecah dikit. Aku nunduk. Aku ngeliatin sepatu ketsku. Sepatu kets putih yang udah aku cuci dari lumpur dermaga, tapi masih ada bekas cokelatnya di jahitan.

Aku narik napas. Aku nyimpen bebek karet di kantong. Aku ngangkat tas ransel dari lantai ke bahu.

“Oke,” kataku. “Ayo.”

Kami jalan ke arah pintu kaca. Satu langkah. Dua langkah. Pintu kacanya kebuka otomatis, whoosh, nunggu kami masuk.

“KAY!”

Aku berhenti.

Suara itu dari belakang. Keras. Pecah. Kayak suara orang yang nggak biasa teriak dan nggak tahu caranya teriak, jadi suaranya keluar terlalu keras dan terlalu serak sekaligus.

Seluruh area depan pintu keberangkatan berhenti. Orang-orang nengok. Rombongan umroh nengok. Petugas kebersihan berhenti ngepel.

Aku nengok.


Kak Ikal lari.

Dari arah pintu masuk terminal. Lari di antara troli dan koper dan orang-orang, nabrak bahu bapak-bapak yang jualan roti dan minta maaf tanpa berhenti, belok tajam di depan rombongan umroh.

Dia pakai kemeja putih, kayak biasa. Celana kain item, kayak biasa.

Dan di atas kemeja putihnya, jaket biru dongker.

Jaket anak-anak. Yang kebesaran di badan anak lima belas tahun, dan kekecilan di badan laki-laki dua puluh delapan tahun. Lengannya cuma sampai tengah lengan bawah. Resletingnya nggak bisa ditutup. Bahunya ketarik ketat. Di dada kirinya, bordiran kapal layar putih.

Jaket yang aku beli pakai tabungan uang jajan tiga bulan, waktu aku tiga belas tahun.

Dan di lehernya, di tengah panas Surabaya yang tiga puluh empat derajat, di dalam terminal bandara yang AC-nya nggak pernah cukup dingin, syal.

Syal rajutan abu-abu dan biru, bergaris-garis nggak rata. Dengan tiga lubang.

Syal yang aku rajut empat bulan, waktu aku empat belas.

Dia lari ke arah kami dengan jaket kekecilan dan syal berlubang, dan mukanya merah, dan napasnya ngos-ngosan, dan rambutnya berantakan.

Di belakangnya, jauh di belakang, Elena lari juga. Pakai jaket windbreaker biru tua yang kebesaran. Dan di belakang Elena, lebih jauh lagi, Pak Jake. Nggak lari. Jalan cepet, dengan satu tangan megang pinggang dan satu tangan megang topi pet, mukanya merah kayak udang rebus.

“Pinggang!” teriaknya ke siapa aja yang mau dengerin. “My pinggang! Go on without me!”

Kak Ikal berhenti di depanku.

Dua meter. Satu meter. Dia berhenti, ngos-ngosan, dadanya naik-turun di bawah jaket biru dongker yang nggak bisa diresleting.

Pintu kaca di belakangku masih kebuka. Whoosh, nutup. Whoosh, kebuka lagi, karena aku masih berdiri di depan sensornya.

Aku nggak bisa ngomong.

Aku cuma ngeliatin dia. Ngeliatin jaketnya. Ngeliatin syalnya. Ngeliatin mukanya.

Mukanya.

Matanya merah. Bengkak. Kayak orang yang nangis lama banget, berjam-jam, dan belum sempet pulih. Ada bekas basah di bulu matanya.

Kak Ikal nangis.

Kak Ikal pernah nangis. Semalem. Aku tahu dari matanya. Aku tahu, karena itu mata yang sama kayak mataku tiap kali aku bangun pagi setelah nangis semalaman.

Dia ngeliatin aku. Lama. Napasnya masih tersengal.

Terus dia ngangkat tangan kanannya.

Kelingking.


“Kay,” katanya.

Suaranya serak. Pecah. Bukan suara datar kayak biasanya. Bukan data cuaca. Bukan nomor kontainer.

Suara Kak Ikal. Suara yang dulu bisikin iya, Kay, Kakak simpen di ranjang deket jendela.

“Kakak telat nyusul ya, Kay,” katanya.

Kelingkingnya gemeteran di udara. Di antara kami.

“Tujuh belas tahun.”


Aku nggak inget apa yang terjadi sama badanku.

Aku cuma tahu ransel jatuh dari bahuku. Aku cuma tahu tanganku ngangkat, gemeteran banget, lebih gemeteran dari tangan dia. Aku cuma tahu kelingkingku, dengan cat kuku ijo mint yang sekarang udah hampir habis terkelupas, nyentuh kelingkingnya.

Dan ngait.

Kelingking ketemu kelingking. Kayak di Ahmad Yani. Kayak tujuh belas tahun lalu, waktu kelingkingku masih lengket karena permen dan kelingking dia masih kecil dan kurus.

Sekarang kelingkingnya gede. Kasar. Ada bekas luka kecil di buku jarinya.

Tapi itu kelingking yang sama.

“Kakak janji,” bisikku. Suaraku nggak ada. Cuma napas. “Kakak janji nyusul.”

“Iya.”

“Kakak telat.”

“Iya, Kay. Telat banget.”

“Tujuh belas tahun, Kak.”

“Iya.”

“Aku nunggu di pintu kedatangan. Tiap tahun.”

“Aku tahu,” bisiknya. “Maaf, Kay. Maaf aku keluarnya dari pintu yang salah.”

Aku ketawa.

Aku ketawa dan nangis bareng-bareng, keras banget, di depan pintu keberangkatan internasional Bandara Juanda, di depan rombongan umroh dan bapak-bapak jualan roti dan petugas kebersihan yang berhenti ngepel. Dan aku narik kelingkingnya, narik tangannya, narik seluruh badannya ke arahku, dan aku meluk dia.

Dan dia meluk aku balik.

Bukan tiga detik. Bukan dua detik. Bukan lima senti dari punggung yang nggak bisa disentuh.

Dua tangan. Penuh. Kencang. Melingkar di punggungku dan narik aku ke dadanya, ke bordiran kapal layar putih di jaket biru dongker yang kekecilan. Dagunya di atas kepalaku. Syal rajutan dengan tiga lubang nempel di pipiku.

Aku denger jantungnya. Cepet banget. Kenceng banget.

Aku denger napasnya tersendat. Sekali. Dua kali.

Dan aku ngerasain sesuatu yang anget dan basah jatuh di rambutku.

Kak Ikal nangis.

Di bandara. Di depan semua orang. Dia nangis di atas kepalaku, sambil meluk aku, dan dia nggak berhenti.


Aku nggak tahu berapa lama kami pelukan.

Aku cuma tahu waktu Kak Ikal akhirnya ngelepasin pelukannya, pelan-pelan, rombongan umroh udah pergi, dan bapak-bapak jualan roti lagi nyeka matanya pakai lengan baju.

Kak Ikal ngelepasin aku. Dia nyeka mataku pakai jempolnya. Pelan. Kayak dulu dia nyeka ingus di atas bibirku waktu aku sembilan tahun.

Terus dia nengok.

Ke Kak Safrina.


Kak Safrina berdiri dua meter di belakangku. Di depan pintu kaca yang masih kebuka-ketutup. Tas kulit cokelatnya jatuh di lantai di sebelah kakinya, entah kapan. Dia nggak mungut.

Dia berdiri tegak. Kayak di ruang sidang. Kayak terdakwa yang lagi nunggu vonis.

Mukanya putih banget.

Kak Ikal jalan ke arah dia. Pelan. Satu langkah. Dua langkah. Berhenti di depannya.

Mereka saling tatap.

Aku liat tangan Kak Safrina. Di samping badannya. Gemeteran.

Kak Ikal buka mulut.

Dan yang keluar bukan Mbak Safrina. Bukan aku baik. Bukan nggak apa-apa. Bukan aku nggak marah.

“Aku marah, Mbak,” kata Kak Ikal.

Suaranya pecah di tengah kalimat. Gemeteran. Nggak rata. Kayak orang yang baru belajar ngomong pakai bahasa yang udah lama banget dia lupa.

“Ternyata masih ada,” katanya. “Aku nemu semalem. Aku kira udah nggak ada. Aku udah nyari ke mana-mana. Ternyata masih ada.”

Kak Safrina nggak bergerak.

“Aku marah Mbak nggak pernah balik,” kata Kak Ikal. Suaranya naik. Keras. Pecah. Air matanya ngalir lagi. “Mbak bilang nanti Kakak jemput. Mbak bilang sabar ya. Aku nunggu. Aku nunggu di bangku itu setahun. Aku nunggu di warnet itu satu jam. Aku nunggu dua tahun nulis di buku itu tiap hari, tiap hari, tiap hari, dan Mbak nggak pernah balik. Mbak nggak pernah balik!”

Teriakan itu menggema di area depan pintu keberangkatan. Orang-orang nengok lagi. Petugas keamanan bandara di deket konter mulai jalan ke arah kami, terus berhenti waktu Pak Jake, yang baru sampai dengan napas ngos-ngosan dan tangan di pinggang, ngangkat tangan ke arahnya dan geleng-geleng kepala.

Kak Ikal berdiri di depan Kak Safrina. Napasnya tersengal. Matanya basah. Tangannya kekepal di samping badan.

Dan dia marah. Aku bisa liat. Untuk pertama kalinya sejak aku ketemu dia lagi, aku bisa liat sesuatu di mukanya yang bukan kosong. Merah. Panas. Hidup.

“Aku marah, Mbak,” bisiknya sekarang. Lebih pelan. Habis. “Aku marah banget.”

Kak Safrina mulai nangis.

Bukan nangis kayak di parkiran pengadilan di Melbourne yang dia bilang itu cuma angin. Bukan nangis diem-diem kayak di apartemenku. Nangis yang pecah. Nangis yang mukanya hancur. Nangis anak lima belas tahun yang udah tujuh belas tahun nahan sesuatu yang terlalu berat buat ditanggung sendirian.

“Marahin terus,” katanya di sela-sela tangisnya. “Marahin terus, Kal. Aku di sini. Aku nggak ke mana-mana. Aku di sini.”

Kak Ikal ngeliatin dia.

Terus kepalannya kebuka.

Dan dia narik Kak Safrina ke pelukannya.

Kak Safrina nangis di bahunya. Di jaket biru dongker yang kekecilan. Di syal rajutan dengan tiga lubang. Bahunya goyang keras banget sampai Kak Ikal harus nahan badannya supaya nggak jatuh.

Kak Ikal meluk dia. Dua tangan. Kencang. Kepalanya nunduk di atas bahu Kak Safrina.

Dan aku denger dia ngomong sesuatu. Pelan banget. Di telinga Kak Safrina. Aku nggak denger kata-katanya.

Belakangan, Kak Safrina cerita ke aku apa yang dia bilang.

Dua kata.

Kak Safrina.

Bukan Mbak.

Kak.


Aku nggak tahan. Aku jalan ke mereka berdua dan aku meluk mereka. Dari samping. Tanganku melingkar di punggung Kak Safrina dan di punggung Kak Ikal sekaligus.

Kami bertiga. Pelukan. Di depan pintu keberangkatan internasional Bandara Juanda.

Pintu kaca di belakang kami kebuka. Whoosh. Nutup. Whoosh. Kebuka lagi.

Kami nggak masuk.


“Excuse me. Excuse me, sir.”

Seorang petugas maskapai, perempuan muda dengan seragam merah dan name tag bertuliskan MAYA, berdiri di sebelah kami dengan papan klip dan muka yang campuran antara simpati dan panik.

“Mohon maaf, Ibu Safrina Pratiwi dan Ibu Kayla Anindya Putri? Penerbangan ke Denpasar sudah final call. Ibu-ibu harus segera masuk.”

Kak Safrina ngangkat mukanya dari bahu Kak Ikal. Matanya merah, mukanya basah, maskaranya luntur ke mana-mana.

Dia ngeliatin petugas itu.

Terus dia ngeliatin aku.

Terus dia ngeliatin Kak Ikal.

“Kami nggak jadi terbang,” katanya.

Petugas itu kedip. “Maaf, Bu?”

“Kami nggak jadi terbang,” ulang Kak Safrina. Suaranya sekarang suara pengacara lagi. Tegas, jelas, nggak bisa dibantah. Meskipun mukanya kayak orang yang abis kecelakaan. “Batalin.”

“Tapi Bu, bagasi Ibu sudah masuk…”

“Family emergency,” kata Pak Jake, yang tiba-tiba udah berdiri di sebelah petugas itu, masih ngos-ngosan, masih megang pinggang, topinya miring. Dia ngeluarin dompet dari saku jaketnya. “Very serious emergency. A good emergency. The best emergency. I’ll pay for the bags to be offloaded. I’ll pay for anything. How much?”

Petugas itu ngeliatin Pak Jake. Ngeliatin dompetnya. Ngeliatin kami bertiga yang masih pelukan dengan muka basah. Ngeliatin Elena yang berdiri tiga meter di belakang dengan dua tangan nutup mulut dan air mata ngalir di pipinya.

Mukanya berubah. Dari panik jadi sesuatu yang lain. Lebih lembut.

“Sebentar, Pak,” katanya. “Saya urus.”

Dia pergi.

Pak Jake masukin dompetnya lagi. Dia ngeliatin kami bertiga. Matanya merah. Bibirnya gemeteran.

“Bloody hell,” bisiknya. “Margaret, are you seeing this?”


Kami keluar dari terminal jam empat lewat dua puluh. Pesawat ke Denpasar udah terbang tanpa kami. Bagasi kami nyusul satu jam kemudian, diangkut petugas bandara dengan troli, dan Pak Jake ngasih tip yang terlalu gede.

Di parkiran, matahari sore jatuh miring dan oranye.

Kami jalan ke mobil Pak Jake. Kak Safrina di sebelah kanan Kak Ikal, ngegandeng lengannya, kepalanya masih sesekali nyender di bahu adiknya. Elena di belakang, di sebelah Pak Jake, yang nggak berhenti ngomong soal how much it cost to offload two bags dan worth every bloody rupiah.

Dan aku di sebelah kiri Kak Ikal.

Aku sadar, waktu kami jalan, bahwa aku jalan di sebelah kirinya. Sebelah telinga yang nggak bisa denger.

Aku mau pindah ke kanan. Tapi di kanan udah ada Kak Safrina.

Jadi aku tetep di kiri. Dan aku nggak ngomong apa-apa. Aku cuma megang tangan kirinya. Tangan yang gede, kasar, ada bekas luka kecil di buku jarinya.

Dia ngegenggam tanganku balik.

Kami jalan. Kak Safrina di kanan, aku di kiri, Kak Ikal di tengah.

Dan aku denger sesuatu. Langkah kaki kami di atas aspal parkiran.

Tuk, srek. Tuk, srek.

Itu langkahku. Kaki kiriku yang keseret. Kayak biasa.

Tapi di sebelahku, langkah Kak Ikal. Dia jalan pelan. Nyamain langkahku. Dan tiap kali kaki kiriku keseret, srek, dia nunggu. Setengah detik. Sampai kakiku nyusul.

Dia nggak ngomong apa-apa soal itu.

Dia cuma nunggu.

Kayak dulu, waktu aku tujuh tahun, waktu kakiku lecet karena jatuh dari sepeda pink, dan dia jalan pelan-pelan di sebelahku sepanjang gang supaya aku nggak ketinggalan.

Tuk, srek. Tuk, srek.

Kami jalan ke mobil bareng-bareng. Di bawah matahari sore Surabaya.

Kak Ikal nyusul.

Telat tujuh belas tahun.

Tapi dia nyusul.