Chapter Sixteen
Kue Tiga Tingkat
— Haikal —
Warnet itu namanya Galaxy Net, di lantai dua sebuah ruko dekat Pasar Johar, Semarang.
Tangganya sempit dan curam, dinding di sebelahnya penuh coretan spidol dan bekas permen karet. Di dalam ada dua belas bilik kayu yang disekat tripleks, masing-masing dengan satu komputer tabung yang layarnya cembung, kipas angin kecil yang berderit, dan kursi plastik yang sandarannya sudah retak. Udaranya bau rokok, keringat, dan mi instan rasa kari ayam yang dijual penjaga warnet di meja depan. Satu jam tiga ribu rupiah.
Aku dua belas tahun. Hari keempat ratus dua puluh, atau sekitar itu. Tiga minggu setelah Kak Safrina bilang sabar.
Aku punya akun Facebook. Teman sekelasku, Doni, yang membuatkannya di lab komputer sekolah, karena semua orang udah punya, Kal, masa kamu belum. Aku tidak pernah memakainya. Aku tidak punya teman untuk ditambahkan, tidak punya foto untuk diunggah, tidak punya apa pun untuk ditulis di kolom Apa yang Anda pikirkan?
Tapi aku punya tiga ribu rupiah hari itu, hasil membantu Bu Warsih mengangkat galon air ke rumah-rumah pelanggan. Dan aku tahu satu hal tentang Facebook: semua orang punya akun di sana, bahkan orang-orang di Australia.
Aku mengetik nama di kolom pencarian dengan dua jari, pelan-pelan, satu huruf demi satu huruf.
Kayla Anindya
Hasil pertama. Foto profil seorang anak perempuan berpipi tembam dengan bando bunga matahari, tersenyum lebar sampai matanya hilang. Lives in Melbourne, Victoria.
Aku menatap foto itu lama. Lalu aku mengekliknya.
Akunnya tidak dikunci. Waktu itu belum banyak yang tahu cara mengunci akun Facebook, apalagi anak sebelas tahun.
Album pertama di halamannya berjudul Kayla’s 11th Birthday!!! 🎂🎉
Aku membukanya.
Empat puluh tujuh foto.
Halaman belakang sebuah rumah bercat putih dengan rumput hijau yang dipangkas rapi. Balon-balon warna pink dan kuning diikat di pagar kayu. Meja panjang dengan taplak bermotif bunga, penuh piring berisi sosis, roti, kue kering, dan buah-buahan yang tidak semuanya kukenal namanya. Dua puluh anak dengan topi kerucut kertas, sebagian berambut pirang, sebagian berambut hitam, semua tertawa.
Di tengah meja, sebuah kue.
Kue tiga tingkat. Tingkat paling bawah berwarna pink pucat, tingkat tengah berwarna putih, tingkat paling atas berwarna kuning cerah, dengan hiasan bunga matahari dari gula di puncaknya. Sebelas lilin kecil berwarna-warni menyala di sekelilingnya.
Kayla berdiri di depan kue itu dengan gaun kuning dan mahkota plastik di kepala. Dia menutup mata, menangkupkan tangan, membuat permintaan. Di sebelah kirinya, Ibu, dengan rambut yang lebih pendek dari yang kuingat, tersenyum sambil memegang pisau kue. Di sebelah kanannya, Kak Safrina, enam belas, dengan rambut panjang diikat ke belakang, tertawa ke arah seseorang di luar kamera.
Di kaki Kayla, seekor anjing berbulu emas duduk dengan lidah terjulur, memakai topi kerucut kertas juga.
Aku menatap foto-foto itu satu per satu. Keempat puluh tujuhnya. Kayla meniup lilin. Kayla membuka kado. Kayla memeluk anjing berbulu emas itu. Kayla dan Kak Safrina saling mengolesi krim kue ke pipi. Ibu memeluk mereka berdua dari belakang, wajahnya menempel di rambut Kayla, matanya terpejam, bahagia.
Satu jam habis. Penjaga warnet mengetuk tripleks bilikku. Dek, nambah nggak?
Aku tidak punya uang lagi. Aku menutup halaman itu dan turun ke jalan.
Waktu aku sampai di rumah, sudah hampir jam sepuluh malam. Pintu depan terkunci dari dalam. Lampu ruang depan menyala, dan dari jendela aku bisa melihat Ayah tertidur di kursi plastik dengan botol di pangkuan.
Aku mengetuk pintu. Pelan dulu. Lalu lebih keras.
Ayah tidak bangun. Atau bangun, dan memilih tidak membuka.
Aku tidur di teras malam itu. Di atas kardus bekas mi instan yang kuambil dari tempat sampah warung Bu Warsih. Nyamuk-nyamuk berdengung di telingaku sepanjang malam. Lantai teras keras dan dingin dan masih menyimpan sisa hujan sore tadi. Aku meringkuk dengan lutut ditekuk ke dada dan tangan di atas kepala, seperti biasa.
Aku tidak menangis. Aku memikirkan kue tiga tingkat itu.
Pink, putih, kuning. Bunga matahari dari gula. Sebelas lilin.
Aku ingat dengan jelas apa yang kurasakan malam itu, di atas kardus di teras yang dingin, dengan nyamuk di telinga dan perut yang lapar.
Aku senang.
Aku senang Kayla punya kue tiga tingkat. Aku senang dia punya gaun kuning dan mahkota plastik dan anjing berbulu emas. Aku senang Ibu memeluknya dengan mata terpejam. Aku senang Kak Safrina tertawa.
Aku senang mereka bahagia.
Besok paginya, di buku tulis bersampul cokelat, aku menulis: Hari ke-421. Kayla ulang tahun ke-11. Kuenya tiga tingkat. Ada anjing. Aku senang.
Sepuluh bulan kemudian, aku kembali ke Galaxy Net. Bilik yang sama. Komputer yang sama.
Hari itu aku tidak membuka album foto siapa pun. Hari itu aku mengetik sebuah pesan.
Aku tidak akan menceritakan isinya sekarang. Yang bisa kuceritakan: setelah aku menekan kirim, aku duduk di bilik itu selama satu jam penuh, menatap layar, menunggu. Dan di bawah pesanku, di pojok kanan bawah, dengan huruf kecil berwarna abu-abu, akhirnya muncul satu kata.
Hanya satu kata.
Aku tidak pernah menceritakan kata itu kepada siapa pun.
Itu terakhir kalinya aku membuka Facebook.
“KEBAKARAN! KEBAKARAN! YA ALLAH, YA TUHAN, KEBAKARAN!”
Alarm asap di langit-langit apartemen Kayla meraung dengan bunyi yang menusuk telinga kananku, satu-satunya telinga yang masih bisa disakiti. Asap abu-abu tebal mengepul dari panci di atas kompor. Baunya campuran santan gosong, daging hangus, dan rempah-rempah yang sudah melewati titik terbaiknya sejak empat puluh menit lalu.
Kayla berdiri di depan kompor sambil mengibas-ngibaskan handuk ke arah alarm di langit-langit, melompat-lompat karena tidak sampai. Elena membuka semua jendela dengan gerakan cepat dan efisien, seperti orang yang sudah pernah menghadapi situasi serupa. Mungkin memang pernah. Margaret, kata Mr Jake, tidak bisa masak.
Aku mematikan kompor, mengangkat panci rendang itu dengan dua lap, dan membawanya ke balkon.
Tiga menit kemudian, bel pintu berbunyi. Seorang satpam berseragam biru berdiri di sana dengan alat pemadam api di tangan dan wajah panik.
“Mbak Bule! Mbak Bule nggak apa-apa?!”
“Nggak apa-apa, Pak Sutris!” Kayla muncul di pintu dengan rambut berantakan, wajah berjelaga di pipi kanan, dan handuk di tangan. “Cuma rendang!”
Pak Sutris menatap Kayla. Lalu menatap asap yang masih mengepul dari balkon. Lalu menatap Kayla lagi.
“Mbak,” katanya pelan, dengan nada orang yang sudah terlalu sering naik ke lantai sembilan, “ini sudah yang keempat kali bulan ini.”
“Ketiga, Pak.”
“Keempat, Mbak. Yang tumis kangkung minggu lalu itu juga dihitung.”
“Kangkung itu nggak kebakaran, Pak. Cuma… gosong dikit.”
“Alarm satu tower bunyi, Mbak.”
Elena, yang berdiri di sebelahku di ruang tengah, menutup mulut dengan tangan. Bahunya berguncang. Aku menatapnya. Dia menatapku balik dengan mata berair karena menahan tawa, lalu mengalihkan pandangan cepat-cepat ke langit-langit.
Pak Sutris pergi setelah Kayla berjanji tidak akan masak santan lagi bulan ini. Kayla menutup pintu, bersandar di sana, dan menatap kami berdua dengan wajah berjelaga dan mata berkaca-kaca.
“Rendangnya gagal,” katanya.
“Kami tahu,” kata Elena.
“Aku udah masak dari jam dua siang.”
“Kami tahu.”
“Aku pakai resep nenekku. Aku telepon Ibu di Melbourne dua kali buat nanya takarannya.”
“Kayla,” kata Elena lembut, “kita pesen nasi Padang aja, ya?”
Kayla menatapnya. Lalu menatapku. Lalu menghela napas panjang.
“Iya,” katanya. “Nasi Padang. Yang ada rendangnya. Biar aku bisa pura-pura itu buatanku.”
Sambil menunggu pesanan datang, aku melihatnya.
Aku sudah melihatnya sejak masuk. Tidak mungkin tidak melihatnya. Dinding itu menghadap langsung ke pintu masuk, menutupi hampir seluruh sisi kiri ruang tengah, dari lantai sampai hampir menyentuh langit-langit.
Tapi tadi ada asap dan alarm dan Pak Sutris. Sekarang tidak ada apa-apa lagi, dan aku berdiri di depannya.
Papan gabus. Dua belas lembar, disusun rapat. Peta Pulau Jawa. Peta Semarang. Peta Surabaya. Peta Tanjung Emas dan Tanjung Perak. Pin warna-warni. Benang wol merah yang menghubungkan titik-titik itu, menyilang dan bersambung seperti urat-urat di punggung tangan.
Kertas-kertas tempel kuning dengan tulisan tangan Kayla. Hurufnya besar, miring ke kanan, huruf a-nya selalu berbentuk lingkaran sempurna seperti yang diajarkan guru TK. Tulisan tangan yang sama dengan yang dulu menulis surat Hari Ibu empat halaman.
Tanya ABK kapal barang 2014??
Cek data Dinsos Semarang.
Pak Bonar bilang coba gudang-gudang tua.
Dan di salah satu kertas tempel, dengan spidol hitam dan garis bawah dua kali:
Pak Karyo (ABK): anak itu tidur meringkuk, tangan nutupin kepala. “Kayak anak yang biasa dipukul.” — NGGAK MUNGKIN. Kak Ikal nggak pernah dipukul. Kak Ikal sendiri yang bilang.
Aku membaca kalimat itu.
Kak Ikal sendiri yang bilang.
Di tengah-tengah dinding, di titik paling tinggi, ada sebuah foto.
Aku tahu foto itu. Aku ingat hari foto itu diambil. Ibu baru membeli kamera saku bekas dari tetangga, dan dia memotret apa saja: dapur, jemuran, kucing tetangga, kami. Kayla sedang mencuri kerupuk dari kaleng merah berstiker bunga matahari. Aku menoleh ke arahnya karena aku mau bilang Kay, nanti dimarahin Ibu, tapi aku tidak sempat bilang apa-apa karena Ibu keburu menekan tombol kamera.
Anak laki-laki di foto itu sebelas tahun. Kurus. Rambut cepak. Kaus putih yang kebesaran, bekas Kak Safrina. Belum ada bekas luka di alis kirinya. Belum ada yang salah dengan telinga kirinya.
Aku menatapnya. Dia menoleh ke samping, menatap adiknya.
Aku tidak mengenali anak itu.
Maksudku, aku tahu itu aku. Aku ingat wajah itu dari cermin kamar mandi rumah lama. Tapi anak itu terasa asing. Seperti foto anak orang lain yang kebetulan mirip denganku. Anak di foto itu belum tahu tentang bangku hijau di depan warung Bu Warsih. Belum tahu tentang teras dan kardus dan nyamuk. Belum tahu tentang kontainer hijau berkarat.
Anak itu masih bisa merasakan sesuatu.
“Itu papan pencarian Kak Ikal.”
Suara Kayla di belakangku. Aku tidak menoleh.
“Serem, ya?” Dia tertawa kecil, malu. “Kayak dindingnya psikopat di film. Temen-temen kantor yang pernah ke sini langsung diem semua. Pak Sutris juga. Dia kira aku detektif swasta.”
“Nggak serem,” kataku.
Kayla berdiri di sebelahku. Di sebelah kanan. Dia menatap foto di tengah dinding itu dengan mata yang lembut.
“Itu Kak Ikal,” katanya. “Itu aku. Lagi nyolong kerupuk. Jelek banget, ya, aku.”
Aku diam.
“Kak Hal,” katanya tiba-tiba, menoleh ke arahku. “Oh iya! Aku mau nanya sesuatu. Dari kemarin aku mau nanya, tapi lupa terus.”
Dia menunjuk sebuah pin merah di peta Tanjung Perak. Di sebelahnya ada kertas tempel kecil bertuliskan: Willmore?
“Detektifku lagi nyisir perusahaan-perusahaan pelayaran yang dulu punya lapangan kontainer tua di Tanjung Perak. Willmore salah satunya.” Dia menatapku dengan mata penuh harap. “Kak Hal kan udah lama di Willmore. Kak Hal tahu nggak, dua belas tahun lalu, ada anak laki-laki umur enam belasan yang tidur di kontainer Willmore? Gelandangan gitu. Kurus. Dari Semarang.”
Ruang tengah itu tiba-tiba sangat sunyi.
Aku bisa mendengar dengung kulkas di dapur. Bunyi klakson samar dari jalan Darmo di bawah sana. Detak jam dinding berbentuk bunga matahari di atas pintu.
Aku membuka mulut.
PRANG.
Gelas kaca jatuh dan pecah di lantai keramik dapur. Kami berdua menoleh.
Elena berdiri di dekat meja makan dengan tangan yang masih terangkat setengah, menatap pecahan kaca di kakinya dengan ekspresi terkejut yang sedikit terlalu sempurna.
“Ya ampun,” katanya. “Maaf, Kayla. Licin. Tanganku licin.”
“Duh, nggak apa-apa! Jangan dipegang, nanti kena!” Kayla langsung berlari ke dapur untuk mengambil sapu dan pengki. “Gelas itu memang licin. Gelas IKEA. Semua gelas IKEA licin. Itu konspirasi Swedia.”
Elena menatapku dari seberang ruangan, melewati bahu Kayla yang sedang menyapu pecahan kaca.
Satu tatapan. Hanya satu detik.
Lalu bel pintu berbunyi. Nasi Padang datang. Dan Kayla lupa pada pertanyaannya.
Kami makan di lantai ruang tengah, di atas karpet bermotif bunga matahari, karena meja makan Kayla penuh tumpukan dokumen kontrak dan buku-buku logistik. Nasi Padang dengan rendang, ayam pop, gulai nangka, dan sambal hijau. Kayla memindahkan rendang dari bungkusnya ke piring keramik dan menyajikannya dengan wajah serius, sambil bilang ini buatanku, ya, pokoknya buatanku.
Elena menghabiskan dua porsi. Kayla terkesan. Aku makan dengan pelan.
Setelah makan, Kayla bercerita.
Dia bercerita tentang Melbourne. Tentang rumah putih dengan halaman berumput di pinggiran kota bernama Box Hill, tempat mereka tinggal sejak dia sembilan tahun. Tentang musim dingin pertamanya, waktu dia mengira salju akan turun dan menunggu di jendela setiap pagi selama tiga bulan, dan ternyata Melbourne tidak pernah bersalju. Tentang trem yang selalu telat dan kopi yang selalu enak. Tentang Ibu yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit Box Hill, yang selalu pulang dengan kaki bengkak dan tetap memasak nasi goreng setiap malam karena anak-anak Ibu harus tetap makan nasi, ini Australia bukan berarti kita jadi bule.
Lalu dia bercerita tentang anjingnya.
“Bobo,” katanya dengan senyum yang langsung melebar. “Golden retriever. Ibu beliin waktu aku sepuluh tahun, biar aku nggak kesepian. Dia bego banget, sumpah. Dia takut sama kucing tetangga yang ukurannya setengah dia. Dia pernah makan satu loyang brownies yang Kak Safrina bikin buat tugas sekolah, terus muntah di sepatu Kak Safrina. Kak Safrina nggak ngomong sama dia tiga hari.”
Elena tertawa. Kayla tertawa.
“Bobo meninggal pas aku sembilan belas,” lanjut Kayla, suaranya sedikit pelan. “Tua. Udah sakit-sakitan. Aku nangis seminggu. Dia satu-satunya yang bisa bikin aku nggak kangen Kak Ikal waktu aku kecil. Tiap malam dia tidur di kaki ranjangku, kayak Kak Ikal dulu tidur di sebelahku.”
Dia terus bercerita. Tentang Bobo yang pernah tercebur ke kolam renang tetangga. Bobo yang takut petir dan selalu bersembunyi di bawah meja makan. Bobo yang memakai topi kerucut di setiap pesta ulang tahun.
Aku mendengarkan.
Dua puluh menit. Aku mendengarkan setiap ceritanya tentang Bobo, dengan kepala sedikit miring ke kanan, tanpa menyela sekali pun.
Aku tahu nama anjing itu.
Aku sudah pernah mendengar tentang Bobo sebelumnya. Dua puluh menit penuh, enam belas tahun lalu, dari layar komputer yang buram, dengan suara yang putus-putus karena sinyal internet yang jelek. Waktu itu Kayla sepuluh tahun dan Bobo masih anak anjing yang baru dibeli. Kayla mengangkat Bobo ke depan kamera berkali-kali, menunjukkan telinganya, ekornya, kakinya yang besar. Lihat, Kak! Lihat! Lucu, kan?
Aku melihat. Aku mendengarkan. Dua puluh menit.
Aku tidak akan menceritakan kenapa aku ingat percakapan itu dengan sangat jelas. Yang bisa kuceritakan: waktu itu, sama seperti sekarang, aku tidak menyela sekali pun.
Elena menatapku dari seberang karpet. Dia tidak tertawa lagi. Dia menatapku dengan mata yang tidak bisa kubaca, dan di bawah karpet bunga matahari, ujung kakinya menyentuh ujung kakiku. Sebentar. Hanya sebentar. Seperti seseorang yang mengetuk pintu untuk memastikan masih ada orang di dalam.
Kami pamit jam sepuluh malam. Kayla memeluk Elena lama di pintu, lalu memelukku sebentar. Kali ini dengan dua tangan, tidak canggung lagi.
“Makasih udah dateng, Kak Hal,” bisiknya. “Maaf rendangnya gagal. Maaf aku nyerocos soal Bobo. Maaf dindingku serem.”
“Nggak apa-apa.”
“Nanti aku tanya lagi soal anak di kontainer itu, ya. Aku lupa tadi gara-gara gelas.”
Aku tidak menjawab.
Di dalam lift yang turun dari lantai sembilan, Elena berdiri di sebelah kananku. Kami berdua menatap angka-angka yang menyala di panel, turun satu per satu. Delapan. Tujuh. Enam.
“Hal,” katanya pelan.
“Ya.”
“Kamu baik-baik aja?”
Pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang sudah kujawab ribuan kali dalam tujuh belas tahun, dengan jawaban yang sama, yang keluar otomatis seperti air dari keran.
Aku membuka mulut untuk menjawabnya.
Lima. Empat.
“Nggak tahu, El,” kataku.
Elena menoleh ke arahku dengan cepat.
Aku juga terkejut. Kata-kata itu keluar sendiri. Bukan aku baik. Untuk pertama kalinya dalam tujuh belas tahun, bukan aku baik.
Tiga. Dua.
Elena tidak bilang apa-apa. Dia hanya mengulurkan tangan dan memegang lengan kemejaku, di bagian siku. Tidak menarik, tidak meremas. Hanya memegang.
Satu.
Pintu lift terbuka. Dia melepaskan lenganku. Kami berjalan ke parkiran tanpa bicara.
Malam itu, di atas tikar di apartemenku, aku tidak bisa tidur.
Bukan karena kue tiga tingkat, atau Bobo, atau dinding gabus dengan foto anak sebelas tahun yang tidak kukenali.
Karena satu kertas tempel kuning dengan tulisan tangan berhuruf a bulat sempurna.
Kayak anak yang biasa dipukul. — NGGAK MUNGKIN. Kak Ikal nggak pernah dipukul. Kak Ikal sendiri yang bilang.
Aku yang bilang. Setiap Minggu sore, di telepon, dengan Ayah berdiri di belakangku. Aku baik, Bu. Ayah baik. Ayah udah berhenti minum.
Dan Kayla percaya. Tujuh belas tahun, dia percaya. Dia masih percaya sampai sekarang, sampai detektifnya sendiri membawa bukti yang berkata sebaliknya, dan dia menulis NGGAK MUNGKIN dengan huruf kapital dan garis bawah dua kali.
Karena aku yang bilang.
Aku berbaring di atas tikar dan menatap langit-langit.
Pin merah kecil di peta Tanjung Perak. Willmore?
Dia hampir sampai.
Dan aku tidak tahu, sungguh tidak tahu, apakah aku ingin dia sampai atau tidak.
- 1 Aku Baik
- 2 Mesin Fotokopi
- 3 Biar Ada yang Hidup di Sini
- 4 Kontainer
- 5 Ulang Tahun Palsu
- 6 Kayla Anindya Putri
- 7 Audit Perasaan
- 8 Kak Hal
- 9 Papan Pencarian
- 10 Telur Dadar
- 11 Kelingking
- 12 Foto di Ponsel
- 13 Sabar Ya
- 14 Bisikan
- 15 Haikal Ramadhan
- 16 Kue Tiga Tingkat reading
- 17 Laporan Detektif
- 18 Oh. Iya, Aku Tahu
- 19 Aku ke Sana
- 20 Tujuh Belas Kotak
- 21 Tanggal
- 22 Mbak Safrina
- 23 Jangan Telepon Lagi
- 24 Jatuh dari Sepeda
- 25 Punggung
- 26 Bangku Warung
- 27 Surat yang Dibuka
- 28 Aku yang Milih
- 29 Rasi Bintang
- 30 Dilihat 23.47
- 31 Kamu Juga Tahu?
- 32 Berhenti Bilang Baik
- 33 Nggak Ada yang Keluar
- 34 Namanya Bobo
- 35 Tabungan ke Melbourne
- 36 Hati-Hati
- 37 Don’t Be Me
- 38 Kapan Nyusul
- 39 Asal Kakak Masih Hidup
- 40 Telat Nyusul
- 41 Ibu
- 42 Hari ke-1
- 43 Epilog: Yang Kanan