Chapter Eight
Kak Hal
— Haikal —
Hari Senin, aku sampai di ruang rapat lantai empat jam sembilan lewat dua puluh menit. Empat puluh menit sebelum jadwal.
Aku tidak pernah datang empat puluh menit lebih awal ke rapat mana pun. Biasanya sepuluh menit. Sepuluh menit cukup untuk menyalakan proyektor, merapikan dokumen, dan memastikan AC tidak terlalu dingin. Empat puluh menit tidak dibutuhkan untuk apa pun.
Tapi aku di sini. Duduk di kursi paling ujung, menghadap pintu kaca, dengan map berisi proposal Arunika Logistics yang sudah kubaca sebelas kali sejak Kamis.
Proyektor sudah menyala. Dokumen sudah rapi. AC sudah kuatur ke dua puluh enam derajat.
Kayla dulu selalu kedinginan. Dia selalu tidur dengan kaus kaki, bahkan di musim kemarau Semarang, dan selalu menarik selimut sampai ke dagu.
Aku tidak tahu apakah itu masih benar. Tujuh belas tahun bisa mengubah banyak hal. Tapi aku mengatur AC ke dua puluh enam derajat, untuk berjaga-jaga.
Di balik dinding kaca ruang rapat, di lorong, Dinda lewat sambil membawa map. Tiga detik kemudian dia lewat lagi ke arah sebaliknya, dengan map yang sama. Lima detik kemudian dia lewat lagi.
Kali keempat, Ucup ikut lewat di belakangnya. Ucup tidak punya alasan apa pun untuk berada di lantai empat. Ruang istirahat kru ada di lantai dasar, di sebelah gudang tiga. Ucup memakai rompi oranye dan helm proyek, membawa sebuah sapu, dan pura-pura menyapu lantai lorong yang sudah dipel bersih oleh petugas kebersihan setengah jam sebelumnya.
Aku menatap mereka melalui kaca. Mereka berhenti dan menatapku balik.
Ucup mengangkat jempol. Dinda menariknya pergi.
Jam sepuluh kurang dua menit, pintu lift di ujung lorong berdenting.
Aku mendengarnya sebelum melihatnya.
Langkah kaki di lantai lorong. Cepat, sedikit tergesa-gesa, dengan irama yang tidak rata: tuk, srek, tuk, srek, tuk, srek. Hak sepatu kanan mengetuk lantai dengan tegas, sementara kaki kiri sedikit terseret di setiap langkah, menimbulkan bunyi gesekan kecil seperti kertas amplas.
Kayla dulu selalu menyeret kaki kirinya kalau berjalan. Itu sebabnya tali sandal kirinya selalu putus duluan. Ibu sudah berkali-kali menegurnya. Kay, angkat kakinya, sayang. Jangan diseret kayak nenek-nenek. Kayla selalu bilang iya dan tidak pernah berubah.
Tuk, srek, tuk, srek.
Tujuh belas tahun. Lima belas tahun di Melbourne. Sepatu hak, blazer, gelar sarjana, jabatan branch manager.
Dan kaki kirinya masih terseret.
Seseorang mengetuk pintu kaca dua kali. Aku berdiri.
Pintu terbuka, dan Kayla masuk.
Dia lebih pendek dari yang kubayangkan dari foto profilnya. Mungkin seratus lima puluh delapan senti, dan itu dengan sepatu hak lima senti. Rambutnya yang panjang dan bergelombang diikat setengah ke belakang dengan jepit rambut besar berwarna kuning, sementara separuh sisanya tergerai di bahu. Blazer krem yang sama dengan yang di foto profil, kemeja putih, celana kain hitam. Tas laptop besar tergantung di bahu kanannya dan sebuah gelas kopi plastik di tangan kirinya.
Napasnya sedikit terengah-engah. Pipinya merah. Sepertinya dia berlari dari parkiran.
“Pagi! Maaf, maaf, aku telat ya? Eh, belum telat, ya? Jam sepuluh kurang satu. Belum telat. Oke. Oke. Syukurlah.” Dia tertawa, menaruh gelas kopi di atas meja, mengulurkan tangan ke arahku. “Kayla. Kayla Anindya Putri, dari Arunika. Bapak pasti Pak Hal?”
Aku menatap tangannya. Kecil. Jari-jarinya pendek. Ada cat kuku berwarna hijau mint yang sedikit terkelupas di ujung jari telunjuk.
Kelingkingnya.
Aku menjabat tangannya.
“Hal,” kataku. “Silakan duduk, Bu Kayla.”
“Duh, jangan Bu.” Dia menarik kursi di seberangku dan duduk. Tas laptopnya meluncur dari bahu dan jatuh ke lantai dengan bunyi buk yang keras. “Aduh. Maaf. Panggil aku Kayla aja. Boleh pakai aku-kamu? Aku nggak betah formal-formalan. Lima belas tahun di Aussie bikin lidahku males bilang Bapak-Ibu, hehe. Kecuali kamu nggak nyaman, ya. Kalau nggak nyaman, aku bisa formal. Aku bisa kok formal. Aku pernah presentasi di depan Menteri Perdagangan Victoria pakai bahasa yang formal banget.”
“Aku-kamu nggak apa-apa,” kataku.
“Yes. Oke. Makasih.” Dia tersenyum lebar. Matanya menyipit sampai hampir hilang. Mata Ibu. “Terus aku manggil kamu apa? Hal aja? Kayak nggak sopan. Kamu kayaknya lebih tua dari aku. Pak Hal? Kayak bapak-bapak. Mas Hal? Kayak tukang ojek, eh, maaf, bukan maksudnya tukang ojek jelek, maksudnya…”
Dia berhenti, menarik napas, dan tertawa pada dirinya sendiri.
“Kak Hal,” putusnya. “Boleh? Kak Hal aja.”
Kak.
Aku tidak bergerak selama satu detik. Mungkin dua.
“Boleh,” kataku.
Kayla membuka laptopnya, menyalakannya, dan menyambungkannya ke proyektor. Dalam prosesnya, dia menjatuhkan pulpen.
Pulpennya menggelinding ke bawah meja. Dia menunduk mengambilnya, kepalanya terbentur pinggiran meja dengan bunyi duk yang cukup keras, lalu dia muncul lagi dengan pulpen di tangan dan wajah merah padam.
“Aku nggak apa-apa,” katanya cepat. “Itu sengaja. Itu… pemanasan.”
Dia mulai presentasi.
Dan dia ternyata bagus. Sangat bagus.
Begitu dia mulai bicara soal pekerjaannya, kecerewetannya berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang terarah dan tajam. Dia menjelaskan peta jaringan klien Arunika di Jawa Timur dan Jawa Tengah: pengrajin furnitur jati di Jepara, kelompok tani kopi di Ijen, eksportir rotan di Cirebon. Dia tahu angka-angkanya di luar kepala. Volume ekspor per bulan, kenaikan permintaan di pasar Australia lima tahun terakhir, biaya transshipment lewat Singapura yang ingin mereka pangkas dengan jalur langsung.
“Selama ini barang klien kami transit di Singapura dulu, terus dipindah kapal ke Melbourne,” jelasnya sambil menunjuk grafik. “Itu nambah delapan sampai dua belas hari, dan nambah biaya hampir dua puluh persen. Kalau Willmore bisa buka jalur langsung Surabaya–Melbourne, sebulan sekali aja dulu, kami bisa jamin minimal empat puluh kontainer per keberangkatan. Itu baru dari klien yang udah tanda tangan letter of intent. Kalau jalurnya udah jalan, aku yakin bisa jadi enam puluh.”
Dia menjatuhkan pulpennya untuk kedua kali di tengah kalimat itu. Pulpennya jatuh ke atas meja, memantul sekali, lalu berhenti di dekat tanganku. Aku mengambilnya dan menyodorkannya kembali. Dia menerimanya tanpa berhenti bicara, mengucapkan makasih di tengah kalimat tentang tarif bea masuk Australia untuk produk kayu olahan.
Aku mendengarkan.
Aku mendengarkan semua angkanya dan semua rencananya. Aku mencatat poin-poin penting di kertas di depanku dengan tulisan tangan yang rapi.
Tapi di bawah semua itu, di bawah angka dan grafik dan tarif bea masuk, aku juga mendengarkan hal-hal lain.
Cara dia menyelipkan rambut ke belakang telinga kiri dengan jari tengah, bukan telunjuk, setiap kali selesai menjelaskan satu poin. Ibu juga begitu.
Cara dia tertawa sambil menutup mulut dengan punggung tangan, seolah malu pada giginya sendiri, padahal giginya rapi dan putih.
Cara dia mengucapkan hehe di akhir kalimat yang dia anggap terlalu serius, seperti meminta maaf karena sudah serius.
Cara dia mengeja huruf R di kata-kata bahasa Inggris dengan sangat jelas dan bulat, sementara di kata-kata bahasa Indonesia huruf R-nya sedikit cadel. Cadel yang sama yang dia punya waktu umur sembilan tahun, waktu dia selalu menyebut rambutan jadi lambutan dan marah kalau ditertawakan.
Dia sudah dua puluh enam tahun.
Dan dia masih Kayla.
Jam sebelas kurang seperempat, pintu ruang rapat diketuk.
Elena masuk dengan laptop di tangan dan kacamata baca berbingkai tipis yang jarang ia pakai. Hari itu dia memakai blus sutra berwarna hijau zaitun dan celana kain hitam. Rambutnya disanggul rapi untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, memperlihatkan leher yang jenjang dan anting mutiara kecil di kedua telinganya. Dia terlihat sangat profesional, sangat tenang, dan sangat cantik dengan cara yang membuat Kayla, yang sedang di tengah kalimat tentang volume kontainer, berhenti bicara dan menatapnya dengan mulut sedikit terbuka.
“Maaf mengganggu,” kata Elena sambil tersenyum sopan. “Saya Elena, dari divisi keuangan. Pak Hal minta saya bergabung untuk pembahasan struktur harga.”
Aku tidak ingat meminta itu.
Tapi aku tidak bilang apa-apa.
Kayla buru-buru berdiri, menjatuhkan pulpennya untuk ketiga kalinya, dan mengulurkan tangan. “Kayla! Dari Arunika! Senang ketemu, Bu! Eh, Kak! Eh, Mbak! Eh…”
“Elena aja,” kata Elena, menjabat tangannya.
“Elena.” Kayla menatapnya dengan kekaguman yang tidak disembunyikan sama sekali. “Kamu cantik banget, ya ampun. Maaf. Itu nggak profesional. Tapi beneran.”
Elena terlihat terkejut sedetik, lalu tertawa. Lesung pipinya muncul. “Makasih. Kamu juga.”
“Aku nggak,” kata Kayla sambil memungut pulpennya dari lantai. “Aku tadi kepentok meja.”
Elena duduk di kursi di sebelah kananku. Selama tiga puluh menit berikutnya, dia membahas struktur harga dengan Kayla: tarif per kontainer, komitmen volume minimum, skema diskon untuk kontrak jangka panjang. Dia tajam dan teliti, seperti biasa. Tapi aku memperhatikan bahwa setiap beberapa menit, matanya bergeser dari layar laptopnya ke wajah Kayla, lalu ke wajahku, lalu kembali ke layar. Cepat sekali. Seperti orang yang sedang membandingkan dua angka di dua kolom yang berbeda dan mencari selisihnya.
Aku tidak tahu apa yang sedang dia cari.
Aku berharap dia tidak menemukannya.
Menjelang akhir rapat, setelah semua angka disepakati untuk dibawa ke tahap berikutnya, Elena bertanya sambil membereskan laptopnya.
“Ngomong-ngomong, Kayla, kenapa Arunika buka cabang di Surabaya? Biasanya perusahaan forwarding Australia buka cabang di Jakarta dulu.”
Kayla tersenyum. Senyumnya berubah sedikit. Tidak hilang, tapi seperti ada sesuatu yang lewat di belakangnya.
“Sebenarnya itu permintaan aku,” katanya. “Kantor pusat mau Jakarta. Aku yang ngotot Surabaya. Aku sampai bikin presentasi tiga puluh halaman soal potensi Jawa Timur buat ngeyakinin bos aku.” Dia tertawa kecil. “Tapi jujur, alasan aslinya bukan bisnis.”
“Oh?”
“Aku lagi nyari seseorang.” Kayla memutar-mutar pulpen di jarinya. Pulpen yang sudah jatuh tiga kali. “Udah lama. Petunjuk terakhirnya di Surabaya, jadi ya… aku pindah ke sini. Ceritanya panjang. Nanti aja kalau kita udah akrab, hehe.”
Elena tidak bertanya lagi. Tapi aku merasakan matanya, untuk sedetik, ada di wajahku.
Aku menatap catatan di depanku. Tulisan tanganku yang rapi. Volume kontainer, tarif per TEU, jadwal keberangkatan.
Kayla berdiri, memasukkan laptop ke tasnya, menjatuhkan charger, memungutnya, dan menyampirkan tas di bahu. Di ambang pintu, dia berbalik.
“Oh iya, Kak Hal! Aku belum nanya dari tadi. Maaf ya, aku langsung nyerocos soal kontainer.” Dia tersenyum lebar. “Apa kabar?”
Pertanyaan sederhana. Basa-basi yang ditanyakan orang kepada siapa saja, ribuan kali sehari, di seluruh dunia, tanpa berpikir.
Adikku, yang terakhir kulihat sembilan tahun dengan ingus di atas bibir dan kelingking lengket karena permen, berdiri di ambang pintu ruang rapat lantai empat dan menanyakan kabarku.
“Aku baik,” kataku.
Kayla mengerutkan hidung. “Kok jawabnya kayak robot, sih.”
“Maaf.”
“Nggak apa-apa.” Dia tertawa. “Nanti aku ajarin cara jawab yang lebih manusiawi. Sampai ketemu, Kak Hal! Sampai ketemu, Elena!”
Tuk, srek, tuk, srek, tuk, srek.
Langkah kakinya menjauh di lorong. Pintu lift berdenting. Lalu sunyi.
Elena berdiri di sebelahku, memeluk laptopnya. Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia menatap pintu lift di ujung lorong yang sudah tertutup, lalu menatapku.
“Dia lucu,” katanya pelan.
“Iya.”
“Kamu kenal dia sebelumnya?”
Aku merapikan kertas catatanku. Volume kontainer, tarif per TEU, jadwal keberangkatan.
“Nggak, Bu,” kataku. “Baru hari ini.”
Itu kebohongan pertama yang kukatakan kepada Elena.
Jam dua belas, aku turun ke parkiran basement dan masuk ke mobilku.
Aku tidak menyalakan mesin.
Aku duduk di kursi pengemudi dengan kedua tangan di setir. Parkiran basement itu remang-remang, lampu neon di langit-langitnya berkedip-kedip di beberapa titik, dan udaranya pengap bercampur bau knalpot. Dua lantai di atasku, orang-orang sedang makan siang. Di dermaga, Cak Tarno mungkin sedang istirahat dengan kopinya. Ucup mungkin sedang memperbarui papan taruhan.
Aku menggenggam setir.
Kayla.
Tuk, srek, tuk, srek. Pulpen yang jatuh tiga kali. Rambut yang diselipkan dengan jari tengah. Hehe. Huruf R yang cadel. Kak Hal.
Apa kabar?
Aku menggenggam setir lebih erat. Buku-buku jariku memutih.
Aku menunggu.
Aku menunggu sesuatu pecah. Seharusnya ini saatnya. Kalau ada saat di mana sesuatu di dalam diriku seharusnya pecah, saat itu adalah sekarang, di mobil di parkiran basement ini, setelah satu setengah jam duduk di seberang adik kandungku yang tidak mengenaliku. Seharusnya air mata. Seharusnya teriakan. Seharusnya aku memukul setir atau membenturkan kepala ke kaca jendela atau menangis sampai sesak napas seperti orang-orang di film.
Aku menunggu.
Lima menit. Sepuluh menit.
Tidak ada yang pecah.
Dada yang kosong. Mata yang kering. Tangan yang menggenggam setir terlalu erat, tapi hanya karena aku menyuruhnya, bukan karena ia ingin. Seperti mencoba memeras handuk yang sudah kering bertahun-tahun di bawah matahari. Seberapa keras pun diperas, tidak ada air yang keluar. Hanya serat-serat kaku yang berderak.
Aku melepaskan setir.
Telapak tanganku meninggalkan bekas lembap di kulit setirnya. Keringat. Hanya keringat.
Aku menyalakan mesin, memundurkan mobil, dan keluar dari basement menuju terik matahari Surabaya jam dua belas siang.
Ponselku bergetar di dasbor. Satu surel baru.
Dari: Kayla Anindya Putri Perihal: Makasih banyak, Kak Hal!!
Makasih banyak buat waktunya hari ini! Aku seneng banget bisa ketemu. Kamu orangnya serius banget ya, tapi baik. Aku bisa ngerasain. Semoga kerja samanya lancar! Ditunggu kabar selanjutnya ya, Kak! 😊
P.S. Maaf soal pulpennya. Aku memang ceroboh dari kecil. Kakakku dulu sering bilang aku harus diikat biar nggak jatuh-jatuhan terus, hehe.
Aku memarkir mobil di bahu jalan Perak Barat, menyalakan lampu hazard, dan membaca surel itu.
Kakakku dulu sering bilang.
Aku memang sering bilang begitu. Aku ingat. Aku bilang begitu waktu dia jatuh dari pohon jambu di belakang rumah dan lututnya berdarah, dan aku menggendongnya pulang di punggung sambil mengomel, dan dia menangis di leherku sampai kerah bajuku basah.
Kamu harus diikat, Kay, biar nggak jatuh-jatuhan terus.
Dia ingat.
Tujuh belas tahun, dan dia masih ingat kalimat bodoh yang kuucapkan sambil menggendongnya pulang dengan lutut berdarah.
Aku membaca surel itu sekali lagi.
Lalu aku mematikan lampu hazard, menyalakan sein kanan, dan kembali ke jalan.
Di dalam dadaku, di tempat yang seharusnya ada sesuatu, angin berembus melewati ruang yang kosong, dan tidak menemukan apa pun untuk digerakkan.
- 1 Aku Baik
- 2 Mesin Fotokopi
- 3 Biar Ada yang Hidup di Sini
- 4 Kontainer
- 5 Ulang Tahun Palsu
- 6 Kayla Anindya Putri
- 7 Audit Perasaan
- 8 Kak Hal reading
- 9 Papan Pencarian
- 10 Telur Dadar
- 11 Kelingking
- 12 Foto di Ponsel
- 13 Sabar Ya
- 14 Bisikan
- 15 Haikal Ramadhan
- 16 Kue Tiga Tingkat
- 17 Laporan Detektif
- 18 Oh. Iya, Aku Tahu
- 19 Aku ke Sana
- 20 Tujuh Belas Kotak
- 21 Tanggal
- 22 Mbak Safrina
- 23 Jangan Telepon Lagi
- 24 Jatuh dari Sepeda
- 25 Punggung
- 26 Bangku Warung
- 27 Surat yang Dibuka
- 28 Aku yang Milih
- 29 Rasi Bintang
- 30 Dilihat 23.47
- 31 Kamu Juga Tahu?
- 32 Berhenti Bilang Baik
- 33 Nggak Ada yang Keluar
- 34 Namanya Bobo
- 35 Tabungan ke Melbourne
- 36 Hati-Hati
- 37 Don’t Be Me
- 38 Kapan Nyusul
- 39 Asal Kakak Masih Hidup
- 40 Telat Nyusul
- 41 Ibu
- 42 Hari ke-1
- 43 Epilog: Yang Kanan