← Hari ke-731

Chapter Five

Ulang Tahun Palsu

— Haikal —

MV Margaret kembali ke Tanjung Perak dua belas hari kemudian dengan muatan baru dari Guangzhou: mesin jahit, panel surya, dan empat ratus kardus mainan plastik yang salah satunya bocor di palka sehingga lantai palka penuh bebek karet kuning. Kapten Lukas menghabiskan perjalanan pulang tanpa muntah sama sekali, dan mengumumkannya di grup Dermaga Ceria dengan huruf kapital sebanyak empat paragraf.

Aku turun dari kapal jam empat sore. Jam lima, ponselku berdering.

“Hal!” Suara Mr Jake terdengar terlalu ceria untuk laki-laki yang selama pelayaran mengeluh pinggang setiap pagi. “Makan malam di rumah. Jam tujuh. Wajib.”

“Saya harus menyelesaikan laporan pelayaran, Pak.”

“Laporannya bisa besok. Ini acara spesial.”

“Acara apa, Pak?”

Jeda. Jeda yang terlalu panjang.

“Ulang tahun Margaret,” kata Mr Jake.

Aku diam.

“Kenapa diam?”

“Bu Margaret ulang tahunnya bulan Maret, Pak. Sekarang bulan Agustus.”

Jeda lagi. Lebih panjang.

“Ulang tahun… pernikahan,” ralat Mr Jake. “Ulang tahun pernikahan saya dan Margaret. Very important. Very emotional. Kamu tidak mau orang tua yang kesepian ini makan sendirian di hari yang sangat emosional, kan, Hal?”

“Bapak menikah bulan November, Pak. Foto pernikahannya ada di ruang tamu Bapak, ada tanggalnya.”

Ketiga kalinya ada jeda. Kali ini aku bisa mendengar Mr Jake berbisik kepada seseorang di dekatnya. He knows the date. Why does he know the date? Who memorises the date on a wedding photo?

Lalu suara Mr Jake kembali, sekarang dengan nada orang yang sudah memutuskan untuk berhenti berpura-pura.

“Hal. Jam tujuh. Bu Sum masak rendang. Datang, atau saya potong gaji kamu.”

“Bapak tahu gaji saya hampir tidak pernah saya pakai, Pak.”

“Then I’ll cut Ucup’s.”

Aku datang jam tujuh kurang sepuluh.


Meja makan di rumah Mr Jake terbuat dari kayu jati tua berbentuk persegi panjang, cukup untuk dua belas orang. Malam itu, meja itu ditata untuk tiga orang, dengan lilin di tengah dan sebuah kue tar kecil berlapis krim putih yang di atasnya tertulis dengan selai stroberi:

Happy Birthday Margaret

Di sebelah tulisan itu ada tiga batang lilin kecil berbentuk angka. Angka 4, angka 0, dan, entah kenapa, angka 7.

Elena berdiri di ujung meja dengan tangan terlipat di dada. Malam itu dia memakai gaun rumah berwarna biru pudar dengan lengan pendek, rambutnya tergerai untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya. Rambut hitam itu jatuh lurus sampai bahu, berkilau di bawah lampu gantung ruang makan. Wajahnya bersih dari riasan, dan karena itu terlihat lebih muda. Dia cantik dengan cara yang membuat Bu Sum, yang mengantar rendang dari dapur, berhenti sebentar dan bergumam, “Masya Allah, Non Elena.”

Elena tidak mendengar pujian itu. Dia sedang menatap kue.

“Pa,” katanya. “Kenapa kuenya tulisannya ulang tahun?”

“Bu Sum yang tulis,” kata Mr Jake cepat.

“Saya cuma nulis yang Bapak suruh,” kata Bu Sum lebih cepat lagi, lalu mundur ke dapur.

“Kenapa lilinnya empat puluh tujuh?”

“Empat puluh tahun pernikahan,” kata Mr Jake. “Plus tujuh.”

“Tujuh apa?”

Mr Jake membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi.

“Tujuh tahun pacaran,” katanya akhirnya dengan bangga, seolah baru saja menemukan obat kanker.

“Papa sama Mama pacaran delapan bulan.”

“Margaret would’ve wanted seven.”

Elena menatap ayahnya lama. Lalu dia menatapku, yang masih berdiri di ambang pintu ruang makan dengan kantong plastik berisi sebungkus martabak manis yang kubeli di jalan karena aku tidak tahu apa yang harus dibawa ke perayaan ulang tahun pernikahan palsu.

Elena menghela napas panjang, berjalan ke arahku, dan mengambil kantong martabak itu dari tanganku.

“Duduk,” katanya. “Kita berdua udah kena. Mending makan aja.”


Rendang Bu Sum adalah rendang terbaik di Surabaya. Itu bukan pendapat, melainkan fakta yang diakui bahkan oleh Kapten Lukas, orang Batak yang mengklaim tidak ada makanan enak di dunia selain arsik ikan mas buatan ibunya.

Mr Jake makan dengan semangat sambil bercerita panjang tentang pertemuan pertamanya dengan Margaret di sebuah pub di Liverpool tahun 1983. Margaret melemparinya dengan sepatu karena dia tidak sengaja menumpahkan bir ke tas tangan Margaret. Ceritanya sudah kudengar sebelas kali. Elena mungkin sudah mendengarnya ratusan kali. Tapi kami berdua mendengarkan dengan sopan, dan setiap kali Mr Jake sampai di bagian and then she threw her shoe, matanya berkaca-kaca, dan dia menyesap air putihnya lama sekali.

Setelah makan, Mr Jake tiba-tiba berdiri sambil memegang pinggangnya.

“Aduh. Pinggang. Saya harus berbaring.” Dia berjalan ke arah tangga dengan langkah yang terlalu tegap. “Kalian berdua di sini saja. Habiskan kuenya. Ngobrol. Lihat bintang di balkon. Bintangnya bagus malam ini, saya sudah cek ramalan cuaca. Good night!”

Dia menghilang di lantai atas. Lima detik kemudian, terdengar bunyi pintu kamarnya menutup. Lalu terbuka sedikit lagi. Lalu menutup lagi, pelan, seperti ada yang sedang mengintip lalu sadar ketahuan.

Elena menutup wajah dengan kedua tangan.

“Maaf,” katanya dari balik telapak tangannya. “Sumpah. Maaf banget. Papa itu, Papa itu udah begini dari aku SMA. Tiap ada cowok yang lewat radius lima kilometer, Papa langsung bikin skenario.”

“Saya mengerti, Bu.”

“Kamu nggak ngerti.” Dia menurunkan tangannya. “Waktu aku kuliah, dia pernah pura-pura kena serangan jantung di depan anak dosen supaya anaknya nganterin aku pulang.”

“Berhasil?”

“Anaknya panik terus nelepon ambulans. Papa terpaksa diperiksa EKG di IGD Dr. Soetomo selama tiga jam.”

Aku menatapnya.

Dia menatapku.

Lalu, untuk pertama kalinya, aku mendengar suara yang aneh keluar dari tenggorokanku sendiri. Pendek, tertahan, dan sangat asing. Seperti mesin tua yang sudah bertahun-tahun mati lalu tiba-tiba terbatuk sekali.

Elena membelalak. “Kamu barusan ketawa?”

“Nggak.”

“Itu ketawa.”

“Itu batuk, Bu.”

“Itu ketawa. Aku denger. Pak Hal ketawa.” Dia menunjukku dengan garpu kue. “Ucup harus tahu ini. Ini masuk papan taruhan.”

“Itu batuk.”

Dia tertawa. Lesung pipinya muncul. Aku mengalihkan pandangan ke kue Happy Birthday Margaret dengan lilin empat puluh tujuh, dan mengambil potongan kedua.


Kami pindah ke balkon lantai dua yang menghadap ke halaman belakang. Mr Jake benar soal satu hal: bintang malam itu memang bagus. Langit di atas Surabaya bersih karena angin kemarau, dan meskipun lampu kota menenggelamkan sebagian besar bintang, beberapa yang paling terang masih terlihat jelas.

Elena duduk di kursi rotan dengan kaki terlipat di atas dudukan, memeluk lututnya. Aku duduk di kursi rotan lain, satu meter darinya, di sebelah kirinya, supaya dia berada di sisi kananku.

“Kamu tahu aku dari panti, kan?” katanya tiba-tiba, menatap halaman belakang yang gelap.

“Pak Jake pernah cerita sedikit.”

“Panti Kasih Bunda. Dekat Perak Barat. Dua puluh menit jalan kaki dari kantor kita sekarang.” Dia tersenyum tipis. “Lucu, ya. Aku sekarang kerja di gedung yang bisa kelihatan dari atap panti itu. Waktu kecil, aku suka naik ke atap jemuran, nontonin kapal-kapal masuk pelabuhan. Aku kira kapal-kapal itu bawa orang tua yang mau jemput anak-anak. Tiap ada kapal masuk, aku mikir, mungkin yang ini.”

Dia diam sebentar.

“Nggak pernah ada yang dateng, tentu aja. Kapal bawa kontainer, bukan orang tua.”

“Ibu masuk panti umur berapa?”

“Nggak tahu. Bayi. Ada yang naruh aku di depan pintu panti, di dalam kardus air mineral, sama selimut handuk warna pink.” Dia tertawa kecil, tapi tidak ada yang lucu di tawa itu. “Aku nggak tahu siapa orang tuaku. Aku nggak tahu tanggal lahirku yang asli. Pengurus panti cuma kira-kira dari ukuran badanku waktu ditemuin. Tanggal lahir yang ada di KTP-ku sekarang itu tanggal aku ditemuin di depan pintu.”

“Jadi Ibu ngerayain hari ditemukan.”

“Mama yang mulai. Tahun pertama aku tinggal sama mereka, Mama bilang, Kita nggak tahu kapan kamu lahir, sayang, tapi kita tahu kapan kamu ditemukan. Dan itu lebih penting.” Elena menarik napas panjang. “Setiap tahun, sampai Mama meninggal, Mama selalu bikin kue di tanggal itu. Kue cokelat. Selalu yang gosong sedikit di pinggir, karena Mama nggak bisa masak.”

Aku menatap profilnya dalam cahaya redup dari lampu taman. Matanya basah. Dia tidak menangis. Tapi basah.

“Kamu sendiri ulang tahun kapan?” tanyanya.

Pertanyaannya sederhana. Pertanyaan yang ditanyakan orang kepada orang lain ribuan kali sehari di seluruh dunia, tanpa berpikir. Kapan ulang tahunmu, berapa umurmu, kamu lahir di mana.

“Aku nggak ngerayain,” jawabku.

“Bukan itu pertanyaanku.”

“Aku tahu, Bu.”

Dia menoleh, menatapku. Aku tetap menatap ke depan, ke halaman yang gelap.

Dia tidak bertanya lagi. Itu hal yang mulai kusadari tentang Elena: dia tahu kapan harus berhenti bertanya. Dia tahu batas pintu yang tidak boleh diketuk. Mungkin karena dia sendiri punya pintu-pintu seperti itu.


Hari keempat ratus enam puluh, kira-kira. Hari ulang tahunku yang ketiga belas.

Waktu itu, Ayah sudah memaksaku menelepon Ibu dan bilang jangan telepon lagi. Sudah tujuh bulan tidak ada telepon dari Melbourne. Ayah juga sudah memindahkan kami ke kontrakan lain di ujung gang yang sama, dan nomor telepon rumah kami sudah dicabut.

Tapi aku masih hafal nomor telepon rumah di Melbourne. Dua belas digit, dimulai dengan 61. Aku mengulanginya setiap malam sebelum tidur seperti orang lain mengulang doa.

Pagi itu, aku membawa uang receh hasil mengumpulkan botol plastik bekas selama tiga minggu ke warung Bu Warsih di depan rumah lama. Warung Bu Warsih punya satu pesawat telepon putih yang disewakan per menit, dengan argo kecil yang dipasang di sebelahnya. Telepon internasional mahal sekali. Uang receh tiga minggu itu cukup untuk empat menit.

Bu Warsih menatapku waktu aku menghitung koin-koin itu di atas etalase kacanya.

“Mau nelepon siapa, Le?”

“Adik saya, Bu. Di Australia.”

Bu Warsih tidak bertanya lagi. Dia memutar argonya ke nol dan menyerahkan gagang telepon.

Aku memutar nomornya. Dua belas digit. Bunyi sambungan internasional yang panjang dan bergema. Sekali. Dua kali. Lima kali. Delapan kali.

Lalu suara perempuan dalam bahasa Inggris, dengan logat asing yang belum pernah kudengar di film mana pun: Hi, you’ve reached the Pratiwi family. We can’t come to the phone right now…

Pesan suara. Mesin. Butuh bertahun-tahun sebelum aku tahu suara berlogat asing itu suara Kak Safrina.

Aku menutup telepon sebelum bunyi beep. Argo sudah menunjukkan satu menit.

Aku menunggu lima menit, lalu menelepon lagi. Delapan kali sambungan. Mesin lagi. Aku menutupnya lagi. Argo menunjukkan dua menit.

Aku menunggu sepuluh menit. Menelepon lagi. Mesin lagi.

Aku punya satu menit tersisa. Aku menggenggam gagang telepon putih itu, menatap argo, dan memutuskan untuk tidak menelepon lagi. Aku ingin menyimpan menit terakhir itu. Entah untuk apa. Mungkin untuk lain kali. Mungkin karena kalau aku menghabiskannya dan tetap tidak ada yang mengangkat, aku harus mengakui sesuatu yang belum siap kuakui.

Aku tidak tahu waktu itu bahwa di Melbourne, hari itu Sabtu. Kayla sedang menginap di rumah temannya untuk pesta ulang tahun teman sekelasnya. Ibu sedang shift jaga di rumah sakit. Kak Safrina sedang les persiapan ujian akhir. Rumah kosong. Tidak ada yang sengaja. Tidak ada yang lupa. Itu cuma hari Sabtu biasa di belahan dunia lain, dan telepon di ruang tamu berdering tiga kali di rumah yang kosong.

Aku baru tahu semua itu jauh, jauh kemudian.

Hari itu, aku hanya tahu bahwa tidak ada yang mengangkat.

Aku pulang ke kontrakan. Ayah sedang duduk di kursi plastik di teras dengan botol di tangan, dan Bu Warsih, yang tidak tahu apa-apa, sudah menyapanya dengan ramah di jalan: “Anakmu tadi nelepon ke luar negeri, Mas. Pinter yo, wis iso nelpon dhewe.”

(Anakmu tadi nelepon ke luar negeri, Mas. Pintar ya, sudah bisa nelepon sendiri.)

Aku tidak akan menceritakan apa yang terjadi malam itu.

Yang bisa kuceritakan: itu terakhir kalinya aku menelepon Melbourne. Menit terakhir di argo Bu Warsih tidak pernah kupakai.


Waktu aku kembali dari ingatan itu, Elena sudah tertidur.

Dia masih meringkuk di kursi rotan, lutut terlipat, kepala bersandar miring ke sandaran kursi. Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajahnya. Napasnya pelan dan teratur. Udara malam di balkon mulai dingin, dan dia hanya memakai gaun rumah berlengan pendek.

Aku berdiri, masuk ke ruang keluarga di lantai dua, dan mengambil selimut rajut berwarna krem dari sandaran sofa. Selimut buatan tangan Margaret; Mr Jake pernah cerita, dan dia memperlakukannya seperti barang museum. Aku kembali ke balkon dan membentangkan selimut itu di atas tubuh Elena, pelan-pelan, mulai dari kaki sampai ke bahu.

Dia bergerak sedikit dalam tidurnya, menarik selimut itu lebih dekat ke dagunya, dan menggumamkan sesuatu yang tidak jelas.

Aku berdiri di sana beberapa detik lebih lama dari yang perlu.

Lalu aku turun ke bawah. Di lantai satu, di kaki tangga, aku menemukan Mr Jake sedang berdiri dengan piyama bergaris dan ponsel di tangan. Dia jelas tidak sedang berbaring karena sakit pinggang.

Kami saling menatap.

“Saya… cari air minum,” kata Mr Jake.

“Dapurnya di sebelah sana, Pak.”

“Yes. Thank you. Very helpful.” Dia tidak bergerak dari tempatnya. Matanya melirik ke atas tangga, ke arah balkon. “Dia tidur?”

“Iya, Pak.”

“Kamu selimuti?”

Aku diam.

Mr Jake tersenyum. Bukan senyum jahil seperti biasanya. Senyum yang lebih tenang, lebih tua, dan entah kenapa sedikit sedih.

“That’s Margaret’s blanket,” katanya pelan.

“Maaf, Pak. Saya nggak tahu harus ambil yang mana.”

“No. No, no. It’s perfect.” Dia menepuk bahuku dua kali dan berjalan ke arah dapur, akhirnya, untuk mengambil air yang tidak benar-benar ia butuhkan. Di ambang pintu dapur, dia berhenti tanpa menoleh.

“Hal.”

“Ya, Pak?”

“She asked you when your birthday is, didn’t she?”

Aku tidak menjawab.

Mr Jake mengangguk pelan, seolah diamku sudah merupakan jawaban, dan menghilang ke dalam dapur.

Aku menyetir pulang ke apartemenku. Sirih gading di dekat jendela masih hidup, daunnya hijau dan segar. Kuncinya masih dipegang Elena. Aku belum memintanya kembali. Aku tidak tahu kenapa.

Aku berbaring di atas tikar dan menatap langit-langit.

Satu menit di argo telepon warung Bu Warsih. Satu menit yang tidak pernah kupakai.

Kadang aku bertanya-tanya, apa yang akan terjadi seandainya hari itu aku menelepon sekali lagi. Seandainya di menit terakhir itu, seseorang mengangkat.

Aku tidak pernah sampai pada jawaban apa pun. Aku tertidur sebelum sampai.