Chapter Twenty Three
Jangan Telepon Lagi
— Haikal —
Kayla memilih restorannya.
Namanya Rumah Makan Semarangan, di sebuah ruko dua lantai di Jalan Kombes Pol. M. Duryat. Dinding dalamnya dicat hijau tosca. Di dindingnya tergantung foto-foto hitam putih Semarang zaman dulu: Lawang Sewu, Gereja Blenduk, Pasar Johar sebelum terbakar. Menunya ditulis kapur di papan hitam besar: lumpia, tahu gimbal, nasi ayam, soto bangkong, wingko babat.
Aku tahu kenapa Kayla memilih tempat ini. Dia tidak perlu menjelaskannya.
Waktu aku datang jam tujuh malam, mereka berdua sudah duduk di meja kayu di sudut. Kayla di satu sisi, memakai kemeja kuning dan jepit bunga matahari, melambai terlalu bersemangat. Safrina di sisi lain, masih memakai blazer hitam dari siang tadi, duduk tegak dengan dua tangan terlipat di atas meja seperti saksi di ruang sidang.
Ada satu kursi kosong. Di ujung meja. Menghadap ke pintu masuk.
Aku duduk di sana. Aku selalu duduk menghadap pintu.
Safrina memperhatikan aku melakukannya. Aku melihat matanya bergerak, cepat, dari kursiku ke pintu, lalu kembali ke wajahku. Dia tidak bilang apa-apa.
“Oke! Pesen!” Kayla menepuk meja dengan dua tangan, terlalu keras. “Aku udah liat menunya dari tadi. Aku mau lumpia, tahu gimbal, sama es dawet. Kakak mau apa? Kak Safrina? Kak Ikal?”
“Soto,” kata Safrina.
“Nasi ayam,” kataku.
“Ih, kalian berdua ngebosenin banget.” Kayla melambai ke pelayan. “Mas! Mas! Sini!”
Pelayannya laki-laki muda, kurus, dengan rambut berdiri kaku karena terlalu banyak gel dan buku catatan kecil di tangan. Di dadanya ada papan nama: ANDRI. Dia datang ke meja kami dengan senyum yang sangat ramah dan mata yang sangat tidak fokus.
“Selamat malam, Kak. Mau pesan apa?”
Kayla memesan. Lumpia dua, tahu gimbal satu, soto bangkong satu, nasi ayam satu, es dawet satu, es teh manis satu, teh tawar hangat satu.
Andri mencatat semuanya dengan sangat serius. Dia membacakannya ulang. “Lumpia dua, tahu gimbal satu, soto bangkong satu, nasi ayam satu, es dawet satu, es teh manis satu, teh tawar hangat satu. Betul, Kak?”
“Betul!”
Andri pergi.
Lalu sunyi.
Sunyi yang canggung, yang tebal, yang terasa seperti udara sebelum hujan. Kayla menatap Safrina. Safrina menatap taplak meja. Aku menatap pintu masuk.
“Jadi!” kata Kayla, terlalu keras lagi. “Jadi. Ehm. Kak Ikal kerja di Willmore udah dua belas tahun, Kak. Dari umur enam belas. Sekarang jadi direktur. Direktur operasional. Keren, kan, Kak?”
“Keren,” kata Safrina.
“Kak Ikal bisa bahasa Mandarin. Sama Arab. Sama Inggris. Kak Ikal negosiasi sama pangeran Arab, Pak Jake yang cerita. Kak Ikal nemuin kontainerku di antara ribuan kontainer dalam lima belas menit. Kak Ikal…”
“Kay,” kata Safrina pelan.
“Iya?”
“Biar dia yang cerita.”
Kayla menutup mulutnya. Lalu menatapku dengan mata penuh harap.
Aku tidak tahu harus cerita apa.
Makanan datang lima belas menit kemudian.
Andri meletakkan semangkuk soto bangkong di depan Kayla. Sepiring tahu gimbal di depanku. Nasi ayam di depan Safrina. Dua piring lumpia di tengah meja. Es teh manis di depan Safrina. Teh tawar hangat di depan Kayla. Es dawet di depanku.
Dia tersenyum lebar, membungkuk, dan pergi sebelum ada yang sempat bicara.
Kami bertiga menatap makanan di depan kami.
“Mas,” panggil Kayla. “Mas Andri. Sebentar.”
Andri kembali. “Ya, Kak?”
“Ini tukeran semua, Mas. Soto buat kakakku, tahu gimbal buat aku, nasi ayam buat kakakku yang satu lagi. Es dawet buat aku. Teh tawar buat kakakku yang ini. Es teh manis buat…” Kayla menatapku. “Kak Ikal, es teh manisnya buat Kakak?”
“Buat siapa aja.”
“Buat dia,” kata Kayla kepada Andri.
Andri mengangguk-angguk dengan sangat serius, lalu mulai menukar piring-piring dan gelas-gelas di atas meja. Dia memindahkan soto ke depan Safrina. Tahu gimbal ke depan Kayla. Nasi ayam ke depanku. Lalu dia mengambil teh tawar dari depan Kayla dan meletakkannya di depanku. Lalu dia mengambil es dawet dari depanku dan meletakkannya di depan Safrina.
Dia tersenyum puas, membungkuk, dan pergi.
Safrina menatap es dawet di depannya. Kayla menatap tidak ada minuman di depannya. Aku menatap teh tawar hangat dan es teh manis di depanku sekaligus.
“Mas Andri,” kata Kayla, suaranya bergetar karena menahan tawa.
Andri kembali.
Butuh tiga kali lagi sebelum semua makanan dan minuman berada di depan orang yang benar. Di kali ketiga, Kayla sudah tertawa sampai air matanya keluar dan harus memegang lengan Safrina supaya tidak jatuh dari kursi. Safrina tidak tertawa, tapi sudut bibirnya bergerak. Sedikit. Lalu kembali datar.
Aku memperhatikan sudut bibir itu.
Dulu Kak Safrina tertawa dengan cara yang sama. Diam-diam, tertahan, dengan sudut bibir yang bergerak sedikit lalu kembali datar, seolah tertawa adalah sesuatu yang memalukan. Dulu aku selalu mencoba membuatnya tertawa lebih keras. Dulu aku menyimpan lelucon-lelucon bodoh dari majalah anak-anak di perpustakaan sekolah untuk diceritakan kepadanya sepulang sekolah.
Aku tidak ingat satu pun lelucon itu sekarang.
Safrina mulai bertanya setelah Andri pergi untuk terakhir kalinya.
Dia bertanya seperti pengacara. Pertanyaan pendek, terukur, satu per satu, dengan jeda yang tepat di antaranya. Seperti dia sedang mengambil keterangan saksi.
“Kamu tinggal di mana?”
“Apartemen. Dekat Tunjungan.”
“Sejak kapan?”
“Enam tahun.”
“Kerja di Willmore sejak umur enam belas?”
“Iya.”
“Sekolah?”
“Paket C. Umur delapan belas. Pak Jake yang biayain. Terus kuliah malam. Manajemen logistik.”
“Lulus?”
“Lulus.”
“Kesehatan kamu?”
“Baik.”
“Kamu pernah sakit parah? Dirawat di rumah sakit?”
“Nggak.”
“Kamu punya dokter langganan?”
“Nggak.”
“Kamu pernah periksa telinga?”
Aku berhenti mengunyah.
Safrina menatapku. Matanya tajam, tenang, dan sangat, sangat waspada. Mata yang sudah terlalu sering melihat hal-hal yang orang lain lewatkan.
Kayla menoleh ke arah Safrina, bingung. “Telinga? Kenapa telinga, Kak?”
“Cuma nanya,” kata Safrina, tanpa melepaskan matanya dari wajahku.
“Nggak,” kataku. “Nggak pernah.”
Safrina mengangguk pelan. Dia tidak bertanya lagi soal telinga. Tapi aku melihat sesuatu di matanya mengeras, seperti seseorang yang baru saja mendapat konfirmasi dari sesuatu yang sudah dia curigai.
Dia tahu. Atau dia hampir tahu.
Dia pengacara perlindungan anak. Kayla menceritakannya di mobil pas hujan. Kakakku nanganin kasus anak-anak yang dipukul sama orang tuanya. Dia hampir nggak pernah kalah.
Tentu saja dia hampir tahu.
Waktu Safrina bertanya lagi, kamu masih suka main bola, kamu masih ngumpulin perangko, kamu masih takut gelap, aku menjawab. Nggak. Nggak. Nggak. Satu kata setiap jawaban, kadang dua.
Dan di tengah semua jawaban itu, tanpa diundang, sebuah ingatan datang.
Hari kedua ratus lima puluh. Kira-kira.
Hari Minggu sore. Seperti biasa, telepon rumah berdering jam empat. Seperti biasa, aku tahu itu Ibu.
Tapi sore itu berbeda. Sore itu, sebelum telepon berdering, Ayah sudah duduk di sebelah meja telepon. Menunggu. Dengan botol di satu tangan dan sesuatu di matanya yang membuatku tidak berani bergerak.
Waktu telepon berdering, Ayah mengangkatnya. Dia bicara sebentar dengan Ibu. Suaranya normal, bahkan ramah. Lalu dia menekan tombol speaker dan menyodorkan gagangnya kepadaku.
Dan dengan tangan yang lain, dia mencengkeram lengan atasku.
Tidak terlalu keras. Tidak sampai sakit. Cukup untuk mengingatkan. Jari-jarinya yang besar dan kasar melingkar di lenganku yang kurus, seperti borgol yang hangat.
“Ikal? Sayang? Halo?”
Suara Ibu, keluar dari speaker, bergema di ruang depan yang sunyi.
Ayah mendekatkan mulutnya ke telingaku. Telinga kiri. Waktu itu telinga kiriku masih bisa mendengar. Dia berbisik. Napasnya panas dan berbau anggur murah.
Bilang sesuai yang Ayah ajarin.
Ayah sudah mengajarkannya semalam. Berkali-kali. Sampai aku hafal. Sampai aku bisa mengucapkannya tanpa suaraku bergetar.
“Bu,” kataku ke arah telepon.
“Iya, sayang?”
“Ibu jangan telepon lagi.”
Hening di speaker. Panjang. Aku bisa mendengar suara samar dari Melbourne. Mungkin televisi. Mungkin Kayla tertawa di ruang lain.
“Ikal? Maksudnya apa, sayang?”
Cengkeraman di lenganku mengencang sedikit.
“Aku mau sama Ayah,” kataku. “Aku nggak mau ke Melbourne. Aku nggak mau ditelepon tiap minggu. Aku… aku capek. Ibu jangan telepon lagi.”
Hening lagi. Lalu suara Ibu. Pecah. Basah.
“Ikal… Ikal, sayang, Ibu ada salah apa? Kenapa? Ibu kangen kamu, Nak. Ibu tiap hari…”
“Aku mau sama Ayah, Bu.”
Kalimat itu keluar sekali lagi. Persis seperti yang diajarkan. Datar. Tanpa getar.
Itu pertama kalinya aku belajar mengucapkan sesuatu tanpa merasakannya. Pertama kalinya aku memisahkan mulutku dari dadaku. Seperti mencabut kabel dari stopkontak. Mulutku terus bicara, dan dadaku diam saja, gelap, tidak tersambung.
Ternyata aku sangat pandai melakukannya. Ternyata itu sangat mudah. Ternyata, sekali kabelnya dicabut, kita tidak perlu mencolokkannya lagi.
Ayah mengambil gagang telepon dari tanganku. “Kamu dengar sendiri, Ratna,” katanya ke arah telepon, dengan suara yang tenang dan sedih. “Anakmu sendiri yang bilang. Hormati keinginan dia.”
Lalu dia menutup telepon.
Cengkeraman di lenganku lepas. Ayah menepuk kepalaku dua kali. Pelan. Seperti menepuk kepala anjing yang sudah melakukan trik dengan benar.
“Anak pinter,” katanya.
Malam itu aku tidak menulis apa pun di buku tulis bersampul cokelat. Untuk pertama kalinya sejak hari pertama, aku melewatkan satu hari. Besoknya aku menulis dua angka sekaligus.
Telepon rumah tidak pernah berdering di hari Minggu sore lagi.
“Kal.”
Suara Safrina. Aku kembali ke Rumah Makan Semarangan. Ke dinding hijau tosca, ke foto Lawang Sewu, ke nasi ayam di depanku yang belum kusentuh separuhnya.
“Ya, Mbak?”
Safrina menatapku. Dia belum menyentuh sotonya sama sekali. Mangkuknya masih penuh, kuahnya sudah dingin dan berminyak di permukaan. Dari tadi dia hanya memegang sendok tanpa mengangkatnya.
Dia tidak makan.
Dulu Kak Safrina juga begitu. Kalau dia sedang cemas, kalau besok ada ujian, kalau dia bertengkar dengan teman, dia tidak makan. Dia akan duduk di meja makan dengan sendok di tangan dan menatap piringnya sampai nasi dingin, dan Ibu akan mengomel, dan dia tetap tidak makan.
Dan aku, dulu, akan mengambil sepotong tempe goreng dari piringku dan menaruhnya di piringnya, tanpa bilang apa-apa. Dan dia akan menatap tempe itu, lalu menatapku, lalu memakannya. Pelan. Dan setelah tempe itu habis, dia akan mulai makan nasinya.
Tanganku bergerak sebelum aku memutuskannya.
Aku mengambil satu lumpia dari piring di tengah meja, yang paling besar, yang kulitnya paling renyah, dan meletakkannya di pinggir mangkuk soto Safrina.
“Mbak belum makan dari tadi,” kataku.
Safrina menatap lumpia itu.
Lama.
Aku melihat jari-jarinya yang memegang sendok mulai memutih. Aku melihat dagunya bergerak, sedikit, sekali, seperti seseorang yang menelan sesuatu yang sangat besar. Aku melihat matanya yang tajam dan waspada itu tiba-tiba kehilangan ketajamannya, menjadi basah, menjadi lembut, menjadi mata anak perempuan lima belas tahun berjaket abu-abu dengan resleting yang macet di tengah.
Kayla berhenti mengunyah. Dia menatap lumpia itu. Lalu menatap Safrina. Lalu menatapku.
Safrina meletakkan sendoknya. Dia mengambil lumpia itu dengan dua jari. Dia menggigitnya. Pelan.
Dia mengunyahnya dengan mata terpejam.
Waktu dia membuka matanya lagi, matanya merah. Tapi dia tidak menangis. Dia tidak akan menangis. Dia Kak Safrina.
Dia mulai makan sotonya.
“Kal,” katanya setelah beberapa suap, tanpa menatapku. Suaranya pelan.
“Ya, Mbak?”
“Kamu… bahagia?”
Pertanyaan itu jatuh ke tengah meja seperti piring yang terlepas dari tangan Andri.
Kayla menahan napas.
Aku menatap Safrina. Dia sudah mengangkat wajahnya. Matanya menatapku lurus, tanpa kedip, dengan semua ketajaman pengacaranya kembali, tapi juga sesuatu yang lain di bawahnya. Sesuatu yang memohon.
Aku membuka mulut.
Kabelnya sudah lama dicabut. Sudah tujuh belas tahun. Mulutku tahu apa yang harus dikatakan tanpa perlu bertanya kepada dadaku.
“Aku baik, Mbak,” kataku.
Safrina tersentak. Kecil. Hampir tidak terlihat. Seperti seseorang yang tertusuk jarum di bawah meja.
Kayla menatap Safrina. Lalu menatapku. Lalu, pelan, dengan suara yang kecil dan ragu-ragu:
“Kak Ikal dulu manggil Kak Safrina Kak,” katanya. “Bukan Mbak.”
Hening.
Di dapur restoran, sesuatu jatuh berdentang. Mungkin panci. Mungkin Andri.
Safrina menunduk. Dia menatap sisa sotonya. Lalu, dengan suara yang sangat pelan, sangat kecil, yang hampir tidak sampai ke telinga kananku:
“Dulu kamu manggil aku Kak.”
Aku menatapnya.
Aku ingat. Tentu saja aku ingat. Kak Safrina, ajarin PR matematika. Kak Safrina, Kayla nyolong kerupuk lagi.
Kak, jemput aku.
Aku tidak tahu kapan Kak berubah menjadi Mbak. Aku tidak memutuskannya. Seperti telur dadar, seperti jas hujan, seperti lumpia, mulutku memilih sendiri. Tapi kali ini ia memilih yang sebaliknya. Kali ini ia memilih jarak.
“Maaf, Mbak,” kataku.
Safrina memejamkan mata. Hanya sebentar.
Lalu dia membukanya lagi, dan wajahnya kembali tegak, kembali rapi, kembali menjadi wajah pengacara yang tidak pernah berkeringat dan tidak pernah gugup.
“Nggak apa-apa,” katanya.
Dia berbohong. Aku tahu dia berbohong. Kami bertiga tahu.
Aku mengantar mereka pulang. Kayla dulu, ke Darmo. Dia memelukku di depan lobi towernya, kali ini dengan dua tangan, lama. Dia tidak bilang apa-apa. Dia hanya memeluk, lalu masuk, lalu melambai dari balik pintu kaca, dan Pak Sutris, yang berdiri di dekat meja satpam, menatapku dengan mata menyipit penuh curiga.
Lalu Safrina, ke hotelnya dekat Tunjungan.
Selama dua puluh menit di mobil, dia tidak bicara. Dia duduk di kursi penumpang dengan tas kulit di pangkuan dan menatap jalanan malam Surabaya lewat jendela. Lampu-lampu jalan melintas di wajahnya, kuning, putih, kuning, putih.
Di depan lobi hotel, dia tidak langsung turun.
“Kal,” katanya, menatap lurus ke depan, ke kaca depan mobil.
“Ya, Mbak?”
“Ada yang mau aku omongin. Sama kamu. Berdua.”
Aku menunggu.
“Bukan sekarang.” Dia menarik napas. Napasnya bergetar sedikit. “Aku… butuh waktu. Aku butuh nyusun kata-katanya. Aku pengacara, aku harus nyusun kata-katanya dulu.”
Dia tertawa. Pendek, kering, tanpa humor sama sekali.
“Iya, Mbak,” kataku.
Dia membuka pintu mobil. Dia keluar. Dia berdiri di trotoar, di bawah lampu lobi hotel yang terang, dengan blazer hitam dan tas kulit cokelat, dan untuk sesaat dia terlihat sangat kecil. Lebih kecil dari yang kuingat. Lebih kecil dari anak perempuan lima belas tahun di bandara.
Dia menunduk ke jendela mobil.
“Makasih lumpianya,” katanya.
Lalu dia berbalik dan berjalan masuk ke lobi tanpa menoleh.
Aku duduk di mobil dengan mesin menyala. Tanganku di setir. Tangan kanan. Gemetar.
Sudah dua minggu, dan tangan itu masih gemetar.
Ada yang mau aku omongin.
Aku tidak tahu apa yang ingin dia bicarakan.
Tapi aku ingat suara di telepon jam dua pagi. Sabar ya, Kal. Aku ingat tujuh digit nomor telepon warung Bu Warsih yang kuucapkan dua kali supaya dia tidak salah catat. Iya, iya. Kakak catat.
Dan aku ingat satu kata kecil berwarna abu-abu di pojok layar komputer Galaxy Net.
Aku memasukkan gigi, menyalakan sein, dan menyetir pulang ke apartemen kosongku, ke tikarku, ke sirih gading dan dua lilin angka dan tujuh belas kotak yang belum dibuka.
Malam itu, untuk pertama kalinya, aku mencoba mengingat lelucon dari majalah anak-anak yang dulu kusimpan untuk Kak Safrina.
Aku tidak berhasil mengingat satu pun.
- 1 Aku Baik
- 2 Mesin Fotokopi
- 3 Biar Ada yang Hidup di Sini
- 4 Kontainer
- 5 Ulang Tahun Palsu
- 6 Kayla Anindya Putri
- 7 Audit Perasaan
- 8 Kak Hal
- 9 Papan Pencarian
- 10 Telur Dadar
- 11 Kelingking
- 12 Foto di Ponsel
- 13 Sabar Ya
- 14 Bisikan
- 15 Haikal Ramadhan
- 16 Kue Tiga Tingkat
- 17 Laporan Detektif
- 18 Oh. Iya, Aku Tahu
- 19 Aku ke Sana
- 20 Tujuh Belas Kotak
- 21 Tanggal
- 22 Mbak Safrina
- 23 Jangan Telepon Lagi reading
- 24 Jatuh dari Sepeda
- 25 Punggung
- 26 Bangku Warung
- 27 Surat yang Dibuka
- 28 Aku yang Milih
- 29 Rasi Bintang
- 30 Dilihat 23.47
- 31 Kamu Juga Tahu?
- 32 Berhenti Bilang Baik
- 33 Nggak Ada yang Keluar
- 34 Namanya Bobo
- 35 Tabungan ke Melbourne
- 36 Hati-Hati
- 37 Don’t Be Me
- 38 Kapan Nyusul
- 39 Asal Kakak Masih Hidup
- 40 Telat Nyusul
- 41 Ibu
- 42 Hari ke-1
- 43 Epilog: Yang Kanan