Chapter Six
Kayla Anindya Putri
— Haikal —
Surel itu masuk hari Selasa, jam sembilan lewat empat belas menit pagi.
Aku sedang di kantor lantai tiga, di meja kerjaku yang menghadap ke dermaga Jamrud, membaca laporan kerusakan kontainer dari pelayaran Guangzhou. Tiga kontainer penyok di sudut, satu bocor di atap, dan empat ratus bebek karet kuning yang sekarang tersimpan di gudang tiga karena tidak ada yang tahu harus diapakan. Ucup sudah mengusulkan untuk menjualnya di depan pos jaga. Kapten Lukas mengusulkan untuk membakarnya. Mr Jake mengusulkan untuk mengirimnya ke panti asuhan Kasih Bunda. Usulan Mr Jake yang menang.
Notifikasi surel muncul di sudut kanan bawah layarku.
Dari: Kayla Anindya Putri (kayla.putri@arunikalogistics.co.id) Perihal: Proposal Kerja Sama Jalur Pengiriman Surabaya – Melbourne
Aku membaca nama pengirimnya.
Lalu aku membacanya lagi.
Lalu aku menunggu.
Aku menunggu sesuatu terjadi di dalam diriku. Jantung berdebar, tangan gemetar, dada sesak, napas tertahan. Apa pun yang biasanya terjadi pada manusia saat melihat nama adik kandung yang tidak pernah ia temui selama tujuh belas tahun, muncul begitu saja di kotak masuk surel kantornya di hari Selasa pagi.
Aku menunggu sepuluh detik. Dua puluh. Satu menit penuh.
Tidak ada.
Jantungku berdetak dengan kecepatan yang sama. Tanganku diam di atas mouse. Napasku teratur. Di luar jendela, crane nomor tiga mengangkat kontainer hijau dengan kecepatan yang sama seperti biasanya, dan Cak Tarno di dalam kabinnya mungkin sedang meminum kopi dari gelas bertuliskan namanya.
Aku tidak merasakan apa-apa.
Dan untuk pertama kalinya setelah sangat lama, itu membuatku takut.
Bukan takut pada nama itu. Bukan takut pada Kayla. Aku takut pada diriku sendiri. Aku takut pada ruang kosong di dadaku yang seharusnya, di titik ini, setidaknya berdenyut sedikit. Aku sudah tahu sejak lama bahwa aku tidak merasakan banyak hal, tapi aku selalu mengira, di suatu tempat yang dalam, masih tersisa sesuatu. Satu bara kecil yang tertimbun abu, yang akan menyala lagi kalau ada angin yang tepat.
Nama Kayla di kotak masuk surelku seharusnya menjadi angin itu.
Ternyata tidak ada bara. Ternyata yang ada cuma abu.
Aku mengeklik surel itu dan membacanya.
Yth. Bapak/Ibu Tim Operasional Willmore Maritime,
Perkenalkan, saya Kayla Anindya Putri, Branch Manager Arunika Logistics cabang Surabaya. Kami adalah perusahaan freight forwarding yang berbasis di Melbourne dan baru membuka kantor cabang di Indonesia dua tahun lalu…
Surelnya panjang, rapi, dan profesional. Di sana-sini terselip kalimat yang terlalu bersemangat untuk sebuah proposal bisnis. Kami sangat, sangat antusias untuk menjajaki kerja sama ini! Dan di paragraf terakhir: Mohon maaf kalau surel ini kepanjangan, saya memang suka nulis panjang hehe.
Hehe.
Di proposal resmi perusahaan.
Aku membaca kata itu dan teringat seorang anak perempuan sembilan tahun yang dulu menulis surat untuk Ibu di hari Ibu sepanjang empat halaman buku tulis, dan di akhir surat menulis maaf suratnya kepanjangan, aku lupa caranya berhenti.
Ingatan itu datang seperti informasi. Fakta. Tidak membawa apa-apa bersamanya.
Isi proposalnya: Arunika Logistics ingin bekerja sama dengan Willmore Maritime untuk membuka jalur pengiriman rutin Surabaya ke Melbourne. Mereka menangani pengiriman barang ekspor dari Jawa Timur ke Australia: furnitur kayu jati dari Jepara, kerajinan rotan, kopi, rempah. Mereka butuh mitra pelayaran yang bisa diandalkan. Mereka sudah mendengar reputasi Willmore. Mereka ingin bertemu.
Surabaya ke Melbourne.
Aku menatap tiga kata itu cukup lama.
Lalu aku mengeklik nama pengirimnya, dan foto profil kecil berbentuk lingkaran muncul di layar.
Seorang perempuan muda, sekitar dua puluh enam tahun, tersenyum lebar ke arah kamera. Rambutnya panjang, bergelombang, dicat cokelat madu di bagian ujungnya. Pipinya sedikit tembam. Dia memakai blazer krem dan kemeja putih. Latarnya dinding kantor dengan logo Arunika berwarna oranye.
Matanya.
Matanya bulat, cokelat gelap, dengan kelopak mata yang sedikit turun di sudut luar, membuatnya selalu terlihat seperti sedang tersenyum bahkan saat tidak tersenyum.
Mata Ibu.
Aku tidak ingat wajah Ibu dengan jelas. Aku sudah bilang begitu. Tapi aku ingat mata itu. Aku ingat mata itu menatapku dari balik pintu kaca keberangkatan bandara Ahmad Yani tujuh belas tahun lalu, sebelum pintu itu menutup.
Aku menutup foto profil itu.
Aku menekan tombol balas.
Yth. Ibu Kayla Anindya Putri,
Terima kasih atas proposal kerja samanya. Kami tertarik untuk mendiskusikannya lebih lanjut. Apakah Ibu berkenan untuk bertemu di kantor kami pada hari Kamis, pukul 10.00 WIB?
Hormat saya, Hal Director of Operations, Willmore Maritime
Aku membaca balasan itu satu kali, memeriksa ejaannya, lalu menekan kirim.
Lalu aku kembali membaca laporan kerusakan kontainer dan empat ratus bebek karet kuning.
Jam sebelas, rapat Komite Margaret yang pertama.
“Komite” ini terdiri dari aku, Elena, dan sebuah papan tulis putih di ruang rapat kecil lantai empat. Mr Jake tidak hadir, karena menurutnya komite yang baik harus independen dari pengaruh pemilik perusahaan. Menurut Dinda, yang mengintip dari kaca pintu ruang rapat setiap sepuluh menit sambil pura-pura mengantar berkas, Mr Jake sebenarnya sedang duduk di ruang kerjanya di ujung lorong, menonton CCTV ruang rapat ini di layar laptopnya.
“Turbocharger,” kata Elena, menulis angka di papan tulis dengan spidol biru. “Harga dari Shanghai, setelah kamu negosiasi, empat koma dua miliar. Itu turun delapan ratus juta dari penawaran awal. Aku nggak tahu kamu ngapain sama mereka, tapi aku mau berterima kasih dan sekaligus khawatir.”
“Saya cuma bilang kita juga dapat penawaran dari Korea.”
“Kita dapat penawaran dari Korea?”
“Nggak, Bu.”
Elena berhenti menulis. Dia menoleh ke arahku dengan spidol biru masih terangkat.
“Kamu bohong ke vendor.”
“Saya bilang kita juga dapat penawaran dari Korea. Kata ‘juga’ membuat mereka berasumsi. Saya nggak pernah bilang angkanya.”
“Itu bohong, Hal.”
“Itu negosiasi, Bu.”
Dia menatapku lama. Lalu dia tertawa pendek dan menggeleng, menulis 4,2 M (hasil kebohongan) di papan tulis, lalu menggarisbawahinya dua kali.
Kami bekerja selama satu jam: menyusun jadwal dry dock, membandingkan tiga penawaran galangan kapal di Batam, menghitung ulang biaya kru selama kapal tidak beroperasi. Elena bekerja dengan cepat dan tajam, seperti selalu. Dia bisa menemukan angka yang salah di lembar Excel dua ratus baris dalam waktu kurang dari satu menit. Aku sudah lama tidak bekerja dengan seseorang yang bisa mengikuti kecepatanku tanpa aku harus melambat.
Di tengah rapat, dia berhenti menulis dan menatapku dengan alis berkerut.
“Kamu kenapa?”
“Kenapa apa, Bu?”
“Kamu salah tulis angka tiga kali hari ini. Tiga. Kamu nggak pernah salah tulis angka. Aku udah kerja sama kamu dua tahun, kamu belum pernah salah tulis angka satu kali pun.”
Aku melihat ke kertas di depanku. Dia benar. Di kolom biaya kru, aku menulis Rp 340.000.000 padahal seharusnya Rp 430.000.000. Di kolom jadwal, aku menulis bulan Oktober padahal seharusnya September. Di kolom galangan, aku menulis PT Batam Samudra padahal seharusnya PT Samudra Batam.
Aku tidak menyadarinya sama sekali.
“Maaf, Bu. Saya perbaiki.”
“Bukan itu poinnya.” Elena meletakkan spidolnya dan bersandar ke meja, menatapku dengan mata yang menyipit seperti sedang membaca laporan keuangan yang mencurigakan. “Kamu kenapa? Sakit?”
“Nggak, Bu.”
“Kurang tidur?”
“Tidur saya seperti biasa, Bu.”
“Ada masalah di dermaga?”
“Nggak ada, Bu.”
Dia diam. Lalu, tiba-tiba, dia mencondongkan badan sedikit, dan matanya berpindah ke wajahku, ke bagian atas, di dekat alis kiriku.
“Itu dari mana?”
“Apa, Bu?”
Dia mengangkat jari telunjuknya dan menunjuk, tanpa menyentuh, ke bekas luka kecil di alis kiriku. Garis pendek dan pucat, sepanjang satu ruas jari, yang membelah alisku menjadi dua bagian tidak sama besar.
“Itu. Bekas luka di alis kamu. Aku baru sadar.”
“Jatuh dari sepeda,” kataku.
Jawabannya keluar begitu cepat dan begitu lancar, seperti air keran yang dibuka. Kalimat itu sudah kuucapkan ratusan kali sejak umur dua belas. Kepada guru, kepada teman sekelas, kepada tetangga, kepada pemilik warung, kepada Cak Tarno, kepada tukang cukur di Kembang Jepun. Kalimat itu sudah begitu sering diucapkan sampai terdengar benar, bahkan di telingaku sendiri.
Elena menatapku. Lama.
“Jatuh dari sepeda,” ulangnya pelan.
“Iya, Bu.”
“Umur berapa?”
“Dua belas.”
“Sepedanya warna apa?”
Aku diam.
Pertanyaan itu tidak pernah ditanyakan siapa pun sebelumnya. Semua orang menerima jatuh dari sepeda sebagai jawaban akhir. Tidak ada yang pernah bertanya warna sepedanya, karena tidak ada yang pernah cukup peduli untuk bertanya lebih jauh.
Aku tidak punya sepeda waktu umur dua belas. Aku tidak pernah punya sepeda.
“Merah,” kataku.
Elena menatapku dua detik lagi. Lalu dia mengangguk, sekali, dan kembali menghadap papan tulis. Dia mengambil spidol biru dan melanjutkan menulis angka biaya kru yang benar.
“Oke,” katanya tanpa menoleh. “Sepeda merah.”
Dia tidak percaya. Aku tahu dia tidak percaya. Dan dia tahu aku tahu dia tidak percaya.
Tapi dia tidak bertanya lagi.
Jam empat sore, grup WhatsApp Direksi & Manajer Willmore, grup paling serius di seluruh perusahaan yang hanya berisi tujuh orang termasuk Mr Jake, Elena, dan aku, menerima satu pesan baru.
Dari Ucup.
Ucup tidak seharusnya ada di grup itu. Ucup ditambahkan ke grup itu tiga bulan lalu oleh Mr Jake secara tidak sengaja, waktu Mr Jake bermaksud menambahkan Pak Usman dari bagian keuangan, dan sejak itu tidak ada yang tahu cara mengeluarkannya, karena Mr Jake satu-satunya admin dan Mr Jake tidak tahu cara menggunakan fitur admin.
Pesan dari Ucup berupa stiker bergambar kucing oranye gemuk yang sedang menari dengan tulisan besar: ODDS NAIK!! PAK HAL SALAH TULIS ANGKA 3X, DINDA BILANG GARA-GARA DUDUK DEKET BU ELENA!!!
Grup itu diam selama empat puluh tujuh detik.
Lalu Pak Usman dari keuangan membalas: Ini grup apa?
Lalu Ucup membalas: MAAF PAK SALAH GRUP
Lalu Ucup membalas lagi: TOLONG HAPUS PAK
Lalu Ucup membalas lagi: PAK HAL MAAF
Lalu Ucup membalas lagi: BU ELENA MAAF
Lalu Ucup membalas lagi: MR JAKE TOLONG KELUARIN SAYA DARI GRUP INI
Lalu Mr Jake membalas dengan stiker kucing yang sama persis, yang sedang menari, tanpa teks tambahan.
Lalu Kapten Lukas, yang entah bagaimana juga ada di grup itu, membalas: UCUP KAU SUDAH MATI.
Dari kaca ruang kerjaku, aku melihat ke arah dermaga. Di bawah sana, Ucup sedang berlari dari arah ruang istirahat menuju gudang tiga, mungkin untuk bersembunyi di antara empat ratus bebek karet kuning.
Di lantai empat, di ruang kerjanya, Elena pasti sedang membaca pesan yang sama. Aku tidak tahu wajahnya seperti apa saat membacanya. Aku sadar bahwa aku ingin tahu.
Itu juga hal baru.
Malam itu, di apartemenku, aku duduk di atas tikar dengan laptop terbuka di pangkuan.
Surel balasan dari Kayla sudah masuk sore tadi. Kamis jam 10 bisa banget, Pak! Terima kasih banyak sudah dibalas cepat! Saya excited sekali!! Dua tanda seru. Lalu, di bawahnya, di baris terpisah, seolah dia tidak bisa menahan diri: Btw nama Bapak keren, Hal, kayak nama AI di film Space Odyssey hehe. Maaf kalau nggak sopan.
Aku membaca surel itu. Lalu aku membuka lagi foto profilnya.
Kayla. Dua puluh enam tahun. Rambut cokelat madu, blazer krem, senyum lebar, mata Ibu.
Terakhir kali aku melihatnya, dia sembilan tahun. Dia memakai sandal kuning bergambar bebek dengan tali kiri yang hampir putus, dan dia mengulurkan kelingkingnya yang lengket karena permen.
Kak Ikal janji ya. Nanti Kakak nyusul.
Aku tidak menyusul.
Ada satu hal lagi yang kuingat tentang Kayla kecil, hal yang selama bertahun-tahun tidak pernah kuizinkan muncul ke permukaan.
Dulu, kami tidur di kamar yang sama. Ranjangku di dekat jendela, ranjangnya di dekat pintu. Hampir setiap malam, setelah Ibu mematikan lampu, Kayla akan turun dari ranjangnya, berjingkat melintasi lantai yang dingin dengan kaus kakinya, lalu memanjat ke ranjangku dan berbaring di sebelah kiriku. Selalu di sebelah kiri. Lalu dia akan menempelkan mulutnya ke telinga kiriku dan berbisik.
Rahasia. Rahasia anak sembilan tahun: dia yang mencuri kerupuk dari kaleng di dapur. Dia naksir anak laki-laki di kelas sebelah yang punya tas Power Rangers. Dia takut pada boneka porselen di lemari kaca ruang tamu Eyang. Dia sayang Kakak Ikal lebih dari Kak Safrina, tapi jangan bilang Kak Safrina.
Sst. Rahasia, ya, Kak. Cuma telinga kiri Kakak yang boleh tahu.
Telinga kiriku menyimpan semua rahasia itu.
Telinga kiriku tidak bisa mendengar apa-apa lagi sejak aku empat belas tahun.
Aku menatap foto itu sampai layar laptopku meredup sendiri karena tidak disentuh. Di pantulan layar yang gelap, aku melihat wajahku sendiri: bekas luka di alis kiri, kepala sedikit miring ke kanan.
Sirih gading di dekat jendela bergoyang pelan tertiup angin dari celah jendela yang terbuka sedikit.
Hari Kamis. Jam sepuluh.
Aku mencoba merasakan sesuatu tentang itu. Gugup, takut, rindu, marah. Apa pun.
Abu. Hanya abu.
Aku menutup laptop, berbaring, dan menatap langit-langit sampai pagi.
Aku tidak tidur malam itu.
Itu juga hal baru.
- 1 Aku Baik
- 2 Mesin Fotokopi
- 3 Biar Ada yang Hidup di Sini
- 4 Kontainer
- 5 Ulang Tahun Palsu
- 6 Kayla Anindya Putri reading
- 7 Audit Perasaan
- 8 Kak Hal
- 9 Papan Pencarian
- 10 Telur Dadar
- 11 Kelingking
- 12 Foto di Ponsel
- 13 Sabar Ya
- 14 Bisikan
- 15 Haikal Ramadhan
- 16 Kue Tiga Tingkat
- 17 Laporan Detektif
- 18 Oh. Iya, Aku Tahu
- 19 Aku ke Sana
- 20 Tujuh Belas Kotak
- 21 Tanggal
- 22 Mbak Safrina
- 23 Jangan Telepon Lagi
- 24 Jatuh dari Sepeda
- 25 Punggung
- 26 Bangku Warung
- 27 Surat yang Dibuka
- 28 Aku yang Milih
- 29 Rasi Bintang
- 30 Dilihat 23.47
- 31 Kamu Juga Tahu?
- 32 Berhenti Bilang Baik
- 33 Nggak Ada yang Keluar
- 34 Namanya Bobo
- 35 Tabungan ke Melbourne
- 36 Hati-Hati
- 37 Don’t Be Me
- 38 Kapan Nyusul
- 39 Asal Kakak Masih Hidup
- 40 Telat Nyusul
- 41 Ibu
- 42 Hari ke-1
- 43 Epilog: Yang Kanan