Chapter Fourteen
Bisikan
— Kayla —
Aku masih kepikiran muka Kak Hal waktu niup lilin.
Udah tiga hari, dan aku masih kepikiran. Waktu aku nyuci piring, waktu aku mandi, waktu aku nungguin lampu merah di perempatan Darmo. Muka itu muncul terus di kepalaku kayak iklan YouTube yang nggak bisa di-skip.
Bukan muka sedih. Kak Hal nggak pernah kelihatan sedih. Kak Hal nggak pernah kelihatan apa-apa. Itu yang bikin aneh. Waktu dia nyondongin badan dan niup lilin angka 28 itu, mukanya kayak… kayak orang yang lagi ngeliat hantu. Bukan takut. Lebih kayak orang yang ngeliat sesuatu yang dia kira udah lama hilang, terus tiba-tiba muncul lagi di depan mata, dan dia nggak tahu harus ngapain.
Terus dia benerin lilinnya. Lilin yang kebalik. Dia cabut pelan-pelan, terus dia tancepin lagi dengan urutan yang bener, kayak itu hal paling penting sedunia.
Orang aneh. Orang aneh yang baik.
“Kak,” kataku ke foto Kak Ikal di dinding gabus malam itu, sambil makan sisa kue cokelat langsung dari kotaknya pakai sendok. “Tahun ini lilin Kakak ditiup sama orang aneh. Namanya Hal. Dia nggak ngerayain ulang tahunnya sendiri. Kayak Kakak, mungkin. Kakak sekarang ngerayain nggak, sih?”
Foto itu nggak jawab. Kak Ikal sebelas tahun tetep nengok ke samping, ngeliatin aku yang lagi nyolong kerupuk.
Hari Senin, kontainer pertama Arunika dikirim pakai kapal Willmore.
Ini bukan kontrak resmi. Kontraknya masih di tangan tim legal kedua perusahaan, masih bolak-balik revisi pasal. Ini pengiriman uji coba, istilahnya trial shipment. Satu kontainer empat puluh kaki berisi furnitur jati dari Jepara: dua meja makan, delapan kursi, satu lemari, satu bufet ukir. Pesanan dari restoran Indonesia di Fitzroy, Melbourne, yang pemiliknya temen SMA-ku.
Kalau pengiriman ini lancar, kontrak besarnya jalan. Kalau berantakan, bos Yunaniku di Melbourne bakal teriak sampai kacamatanya copot, terus kantor cabang Surabaya mungkin ditutup, terus aku harus pulang ke Melbourne, terus pencarian Kak Ikal…
Aku nggak mau mikirin itu.
Aku sampai di Tanjung Perak jam tujuh pagi, satu jam lebih awal dari jadwal, karena aku nggak bisa tidur. Kapal yang bakal ngangkut kontainerku namanya MV Sinar, kapal Willmore yang lebih baru dan lebih gede dari MV Margaret. Dermaganya di Jamrud Utara.
Masalahnya, aku nggak tahu Jamrud Utara di mana.
Aku tahu Jamrud. Aku pernah ke sana waktu kunjungan lapangan. Tapi ternyata Jamrud itu ada Utara, Selatan, sama Barat, dan semuanya kelihatan sama: aspal abu-abu, kontainer warna-warni, kapal-kapal gede, crane-crane yang kayak jerapah. Aku jalan dari parkiran ikutin papan petunjuk, terus papan petunjuknya habis, terus aku ikutin intuisi, dan intuisiku, seperti biasa, salah.
Dua puluh menit kemudian, aku berdiri di geladak sebuah kapal kargo raksasa bercat hitam dan merah, dikelilingi enam laki-laki berseragam coverall oranye yang ngeliatin aku dengan muka bingung.
“Hi,” kataku. “Is this MV Sinar?”
Mereka saling pandang.
“No, ma’am,” kata yang paling tua, dengan logat Filipina. “This is Pacific Dawn. Panama flag.”
“Oh.” Aku ngeliat sekeliling. Ada bendera Panama di tiang belakang. Gede banget. Kok bisa aku nggak liat. “Sorry. Wrong ship.”
“Are you the new cook?” tanya yang paling muda dengan penuh harap.
“What? No. I’m…”
“We’ve been waiting for the new cook for three weeks,” kata yang paling tua dengan suara sedih. “Our current cook only makes adobo. Every day. Breakfast, lunch, dinner. Adobo.”
“I’m sorry about the adobo,” kataku dengan tulus. “But I’m not a cook. I’m a logistics manager. I’m looking for…”
“WOI! NONA! NONA MELBOURNE!”
Suara yang menggelegar dari bawah dermaga. Aku nengok ke bawah lewat pagar geladak. Kapten Lukas berdiri di dermaga dengan dua tangan di pinggang, kumisnya bergerak-gerak, mukanya merah karena teriak.
“ITU KAPAL PANAMA, NONA! KAPAL KITA DI SEBELAH SANA! TIGA DERMAGA KE KIRI!”
Keenam ABK Filipina itu ngeliatin Kapten Lukas, terus ngeliatin aku.
“Your husband?” tanya yang paling muda.
“NO.”
Aku turun dari Pacific Dawn lewat tangga gang yang sempit dan goyang-goyang, dengan muka merah sampai ke kuping. Kapten Lukas nungguin di bawah, geleng-geleng kepala kayak bapak yang anaknya ketahuan bolos.
“Nona,” katanya, “Nona ini sudah dua puluh tahun di luar negeri, tapi naik kapal masih salah. Kayak Ucup.”
“Maaf, Kapten.”
“Pak Hal nyariin Nona dari tadi. Dia bilang Nona nggak angkat telepon.”
Aku ngecek ponselku. Tiga panggilan tak terjawab dari Kak Hal. HP-ku dalam mode senyap.
“Kontainer Nona,” lanjut Kapten Lukas, mukanya tiba-tiba serius, “nggak ada di blok yang dijadwalkan.”
Jantungku jatuh ke perut.
Kak Hal berdiri di ujung dermaga Jamrud Utara dengan tablet di tangan dan helm proyek putih di kepala. Dia nggak kelihatan panik. Kak Hal nggak pernah kelihatan panik. Tapi dia juga nggak kelihatan santai.
“Kak Hal, kontainerku…”
“Udah ketemu,” katanya, sebelum aku sempat nyelesaiin kalimat.
Aku berhenti. “Hah?”
“Truk dari Jepara salah taruh. Harusnya di blok C-14, ditaruh di blok F-14. Petugas lapangannya salah baca huruf.” Dia nunjukin tablet. Ada foto kontainer biru dengan nomor seri yang kukenal. “Aku udah suruh reach stacker pindahin. Sepuluh menit lagi sampai.”
“Kak Hal nemuin kontainerku di antara…” Aku ngeliatin lapangan penumpukan di belakang kami. Ada ribuan kontainer di sana, ditumpuk lima tingkat, warna-warni kayak Lego raksasa. “Di antara semua itu?”
“Lima belas menit.”
“Gimana caranya?”
Dia ngangkat bahu sedikit. “Aku hafal sistem bloknya.”
“Kamu hafal… sistem blok… seluruh lapangan penumpukan Tanjung Perak?”
“Yang punya Willmore aja.”
Aku ngeliatin dia. Dia ngeliatin tablet.
Aku nggak tahu harus ketawa atau nangis. Jadi aku dua-duanya. Sedikit. Ketawa yang agak pecah di tengah, karena tadi aku beneran takut, dan sekarang takutnya hilang tiba-tiba kayak balon yang dilepasin.
“Kamu tadi panik,” katanya. Bukan pertanyaan. Pernyataan.
“Sedikit,” kataku. “Banyak. Banget.”
“Udah aman.”
Dua kata. Datar, kayak biasa. Tapi entah kenapa, aku langsung percaya.
Sepuluh menit kemudian, kontainer biruku muncul, diangkat sama reach stacker kuning yang bergerak pelan kayak gajah besi. Kontainernya ditaruh di dermaga, di bawah crane nomor lima yang udah siap ngangkatnya ke atas MV Sinar.
Crane itu mulai bergerak.
Bunyinya luar biasa. Dengung mesin hidrolik yang dalam, derit kabel baja yang ditarik, desis rem angin, dentang besi ketemu besi. Ditambah klakson truk-truk trailer yang lalu-lalang di belakang kami, peluit petugas lapangan, dan teriakan-teriakan dalam bahasa Jawa yang aku cuma ngerti setengahnya. Dermaga itu jadi kayak orkestra yang semua pemainnya mainin lagu beda-beda dengan volume maksimal.
Kak Hal berdiri di sebelahku, ngeliatin crane itu dengan kepala sedikit miring ke kanan, kayak biasa. Aku perhatiin dia selalu begitu. Kalau ngedengerin orang ngomong, kepalanya miring ke kanan. Kalau ada yang ngomong dari sebelah kirinya, dia muter seluruh badannya. Mungkin itu gaya dia. Gaya cool. Kayak tokoh detektif di film-film.
Kontainerku naik pelan-pelan, lepas dari dermaga, ngegantung di udara, dua puluh meter, tiga puluh meter, berayun sedikit kena angin laut.
Aku ngeliatin kontainer biru itu terbang di atas kepalaku, dan tiba-tiba mataku panas lagi.
Itu kontainer pertama. Kalau ini lancar, jalur Surabaya–Melbourne buka. Kalau jalurnya buka, kantor cabang Surabaya aman. Kalau kantor cabangnya aman, aku bisa tetap di sini. Dan kalau aku bisa tetap di sini, aku bisa terus nyari Kak Ikal.
Kontainer biru itu pelan-pelan turun ke palka MV Sinar.
Aku nengok ke Kak Hal. Dia berdiri di sebelah kananku. Muka datarnya diterangi matahari pagi, helm putihnya sedikit miring.
Aku pengin bilang makasih. Tapi dermaganya terlalu berisik. Crane-nya terlalu keras. Kalau aku ngomong biasa, suaraku pasti tenggelam.
Jadi aku melakukan sesuatu tanpa mikir.
Aku jalan dua langkah ke kiri dia. Aku jinjit. Aku nempelin tangan ke samping mulutku, terus nempelin mulutku deket ke telinga kirinya.
Dan aku bisikin.
“Makasih ya, Kak Hal. Rahasia: tadi aku hampir nangis.”
Aku nunggu.
Dia nggak gerak. Sama sekali. Matanya tetep ngeliatin crane. Kepalanya tetep miring ke kanan. Mukanya tetep datar, nggak ada reaksi apa pun, kayak aku nggak pernah ngomong apa-apa. Kayak aku bisikin tembok.
Aku turun dari jinjitku.
Dia tetep nggak gerak.
Mukaku langsung panas. Panas dari leher sampai ke ubun-ubun. Aku mundur dua langkah, balik ke sebelah kanannya, terus ketawa. Ketawa yang terlalu keras dan terlalu cepet, yang dipake orang buat nutupin rasa malu.
Kak Hal nengok ke arahku. Ke kanan. Alisnya sedikit naik.
“Kenapa?” tanyanya.
“Nggak,” kataku cepet. “Nggak apa-apa. Debu. Ada debu.”
Dia ngeliatin aku dua detik lagi. Terus balik ngeliatin crane.
Aku berdiri di sebelahnya sampai kontainerku masuk ke palka dengan selamat dan crane-nya berhenti berbunyi. Aku senyum. Aku bilang makasih, kali ini dengan suara normal, dari sebelah kanannya. Dia bilang sama-sama. Aku pamit. Aku jalan ke parkiran.
Tuk, srek, tuk, srek.
Dan di mobil, aku nutupin muka pakai dua tangan, terus jerit tanpa suara ke dalam telapak tanganku.
Kenapa aku bisikin dia?
Aku nanyain itu ke diriku sendiri sepanjang jalan pulang. Di lampu merah Perak Barat. Di macet Jalan Kebon Rojo. Di tikungan Jalan Pemuda yang selalu bikin aku hampir nabrak becak.
Aku nggak pernah bisikin orang. Itu bukan kebiasaanku. Di Melbourne, kalau aku mau ngomong di tempat berisik, aku teriak. Atau aku chat. Atau aku nunggu sampai tempatnya sepi.
Aku cuma pernah bisikin satu orang. Seumur hidupku, cuma satu.
Kak Ikal.
Waktu kecil, hampir tiap malam, setelah Ibu matiin lampu, aku turun dari ranjangku, jalan jinjit-jinjit ke ranjang Kak Ikal di deket jendela, manjat, terus tidur di sebelah kirinya. Terus aku bisikin rahasia-rahasiaku ke telinga kirinya. Rahasia-rahasia bodoh. Aku nyolong kerupuk. Aku naksir anak kelas sebelah yang tasnya Power Rangers. Aku takut boneka porselen Eyang.
Sst. Rahasia, ya, Kak. Cuma telinga kiri Kakak yang boleh tahu.
Kak Ikal nggak pernah ketawa. Kak Ikal nggak pernah ngeledek. Kak Ikal cuma dengerin, terus bisikin balik, iya, Kay, Kakak simpen, terus dia narik selimut sampai ke daguku karena aku selalu kedinginan.
Dan tadi, di tengah dermaga paling berisik sedunia, tanpa mikir, aku jinjit dan bisikin rahasia ke telinga kiri Kak Hal.
Persis kayak dulu.
Aku nggak tahu kenapa. Mungkin karena aku lagi kangen Kak Ikal. Mungkin karena Kamis kemarin ulang tahun Kak Ikal, dan Kak Hal yang niup lilinnya, dan aku masih kebawa perasaan. Mungkin karena Kak Hal tadi nemuin kontainerku, dan aku ngerasa aman, dan rasa aman itu ngingetin aku sama satu-satunya orang yang dulu bikin aku ngerasa aman.
Atau mungkin aku memang aneh. Itu juga mungkin.
Malam itu, aku duduk di lantai ruang tengah dengan buku catatan bunga matahariku di pangkuan.
Aku nulis:
Analisis Kejadian di Dermaga Jamrud Utara, Senin.
1. Aku bisikin Kak Hal “makasih” di telinga kiri. 2. Kak Hal nggak bereaksi sama sekali. 3. Kak Hal nengok ke kanan waktu aku ketawa, padahal aku udah pindah ke kanan.
Kemungkinan: a. Kak Hal nggak denger karena crane-nya terlalu berisik. (Tapi aku bisikin deket banget.) b. Kak Hal denger, tapi pura-pura nggak denger karena canggung. c. Kak Hal denger, terus ilfil, karena klien bisik-bisik di telinga itu nggak profesional banget. d. Kak Hal nggak suka aku.
Aku ngeliatin poin d lama banget.
Terus aku nulis di bawahnya, kecil-kecil:
Kayaknya Kak Hal nggak suka aku.
Aku tutup buku catatannya. Aku nggak tahu kenapa itu bikin aku sedih. Kak Hal cuma klien. Rekan bisnis. Orang yang baru kukenal dua minggu. Dia nggak harus suka aku.
Tapi tetep aja. Rasanya kayak… kayak dicuekin sama orang yang kamu kira bakal dengerin.
Ponselku bunyi. Pak Bonar.
“Dek Kayla! Ada kemajuan!”
Aku jauhin ponsel dari kuping. “Kemajuan apa, Pak?”
“Saya udah dapat daftar perusahaan pelayaran yang tahun 2014 punya lapangan penumpukan kontainer tua di Tanjung Perak. Empat belas perusahaan, Dek. Saya mau datengin satu-satu, tanya-tanya ke buruh lama, siapa tahu ada yang inget anak gelandangan umur enam belasan yang tidur di kontainer waktu itu.”
“Empat belas,” ulangku. “Perusahaan apa aja, Pak?”
Pak Bonar membacakan daftarnya. Nama-nama yang sebagian nggak kukenal, sebagian udah tutup. Samudera Indah Lines. Pelayaran Bahari Nusantara. Tirta Jaya Shipping.
Lalu:
“Willmore Maritime.”
Aku ketawa. “Willmore? Itu klienku, Pak. Aku baru dari sana tadi pagi.”
“Oh ya? Kebetulan.”
“Iya. Nanti aku tanya langsung aja ke direktur operasionalnya. Kak Hal namanya. Dia udah lama di sana. Kayaknya dia tahu semua hal soal pelabuhan itu, termasuk nomor blok kontainer.” Aku senyum sendiri. “Kalau ada anak gelandangan di lapangan kontainer Willmore dua belas tahun lalu, Kak Hal pasti tahu.”
“Bagus, Dek. Tanyain.”
Aku nutup telepon, terus nulis di buku catatan bunga matahariku, di halaman baru:
Tanya Kak Hal: dua belas tahun lalu, ada anak laki-laki umur 16 tidur di kontainer Willmore?
Aku gambar tanda tanya besar di sebelahnya. Terus aku gambar hati kecil, nggak tahu kenapa.
Sebelum tidur, aku berdiri di depan dinding gabus.
“Kak,” kataku ke foto Kak Ikal. “Hari ini aku bisikin orang di telinga kiri. Kayak dulu ke Kakak. Dia nggak denger. Atau pura-pura nggak denger. Malu banget.” Aku diem sebentar. “Kakak dulu selalu denger. Selalu.”
Foto itu tetep nengok ke samping.
Aku matiin lampu.
Di kegelapan, aku nggak bisa lihat foto itu lagi. Tapi aku tahu dia ada di sana, di tengah-tengah benang wol merah yang nyambung dari Semarang ke Surabaya, dari Tanjung Emas ke Tanjung Perak.
Dan sekarang, ada satu pin baru yang kutancepin di peta Tanjung Perak sore tadi, di titik yang kutulisi pakai spidol merah kecil-kecil:
Willmore?
- 1 Aku Baik
- 2 Mesin Fotokopi
- 3 Biar Ada yang Hidup di Sini
- 4 Kontainer
- 5 Ulang Tahun Palsu
- 6 Kayla Anindya Putri
- 7 Audit Perasaan
- 8 Kak Hal
- 9 Papan Pencarian
- 10 Telur Dadar
- 11 Kelingking
- 12 Foto di Ponsel
- 13 Sabar Ya
- 14 Bisikan reading
- 15 Haikal Ramadhan
- 16 Kue Tiga Tingkat
- 17 Laporan Detektif
- 18 Oh. Iya, Aku Tahu
- 19 Aku ke Sana
- 20 Tujuh Belas Kotak
- 21 Tanggal
- 22 Mbak Safrina
- 23 Jangan Telepon Lagi
- 24 Jatuh dari Sepeda
- 25 Punggung
- 26 Bangku Warung
- 27 Surat yang Dibuka
- 28 Aku yang Milih
- 29 Rasi Bintang
- 30 Dilihat 23.47
- 31 Kamu Juga Tahu?
- 32 Berhenti Bilang Baik
- 33 Nggak Ada yang Keluar
- 34 Namanya Bobo
- 35 Tabungan ke Melbourne
- 36 Hati-Hati
- 37 Don’t Be Me
- 38 Kapan Nyusul
- 39 Asal Kakak Masih Hidup
- 40 Telat Nyusul
- 41 Ibu
- 42 Hari ke-1
- 43 Epilog: Yang Kanan