← Hari ke-731

Chapter Twenty Eight

Aku yang Milih

— Safrina —

Aku menulisnya seperti pembelaan penutup.

Enam halaman kertas memo hotel, bolak-balik, dengan pulpen hotel yang tintanya hampir habis. Jam dua pagi sampai jam lima pagi, di meja kecil di sudut kamar hotel dekat Tunjungan, di bawah lampu baca yang kuning.

Pembukaan: konteks. Kronologi. Bukti. Pengakuan. Penutup.

Aku sudah menulis puluhan pembelaan penutup dalam delapan tahun. Aku tahu strukturnya. Aku tahu di mana harus berhenti untuk memberi efek, di mana harus memperlambat, di mana harus menatap mata juri. Aku tahu kata-kata mana yang membuat hakim mengangguk dan kata-kata mana yang membuat terdakwa menunduk.

Jam lima pagi, aku membaca keenam halaman itu dari awal sampai akhir.

Lalu aku merobeknya. Satu per satu. Jadi potongan-potongan kecil, lalu lebih kecil lagi, sampai tidak ada satu kata pun yang masih utuh.

Karena ini bukan ruang sidang. Dan dia bukan juri.

Dia adikku.

Di meja di sebelah potongan-potongan kertas itu, buku tulis bersampul cokelat tergeletak tertutup. Aku belum membukanya lagi sejak di mobil kemarin. Sejak halaman pertama. Hari ke-1 nunggu Kak Safrina jemput.

Aku tidak sanggup membuka halaman kedua.


Kayla memberiku alamatnya kemarin malam, lewat pesan singkat tanpa salam pembuka. Hanya alamat, nomor tower, lantai dua puluh tiga, unit 2307. Lalu satu baris lagi:

Kayla: Kakak janji.

Aku naik lift ke lantai dua puluh tiga jam sepuluh pagi hari Minggu. Lift dengan dinding cermin di tiga sisinya. Aku tidak melihat ke cermin mana pun.

Aku mengetuk pintu 2307 tiga kali.

Lama tidak ada jawaban. Aku hampir berbalik. Lalu pintu terbuka.

Dia berdiri di sana. Memakai kaus abu-abu longgar dan celana training hitam. Kausnya dipilih yang longgar, aku langsung tahu, supaya kainnya tidak menempel di empat puluh tiga jahitan di punggungnya. Dia berdiri sedikit kaku. Bahunya tidak sepenuhnya tegak.

Wajahnya tidak terkejut melihatku. Wajahnya tidak apa-apa.

“Mbak,” katanya.

“Kal.” Suaraku kering. “Boleh aku masuk?”

Dia diam sebentar. Lalu mundur satu langkah dan membuka pintu lebih lebar.

Aku masuk.

Dan aku berhenti, persis seperti yang Kayla ceritakan di telepon dengan suara bergetar. Kak, apartemennya kosong. Kosong banget. Dia tidur di lantai.

Aku pengacara perlindungan anak. Aku sudah masuk ke ratusan rumah. Rumah-rumah yang berantakan, yang kotor, yang berbau, yang penuh botol kosong dan puntung rokok dan piring-piring yang tidak dicuci berminggu-minggu. Rumah-rumah tempat anak-anak tidur di atas kasur tanpa sprei, atau di lantai, atau di dalam lemari.

Aku belum pernah masuk ke rumah yang seperti ini.

Bersih. Sangat bersih. Lantai keramik putih yang berkilau. Dinding putih tanpa satu paku pun. Jendela besar yang menghadap ke kota. Dan tidak ada apa-apa. Tidak ada sofa, tidak ada meja, tidak ada televisi, tidak ada foto, tidak ada jam dinding, tidak ada kalender.

Rumah ini tidak berantakan. Rumah ini dikosongkan. Dengan sengaja. Dengan teliti. Seperti seseorang yang sudah memutuskan untuk tidak memiliki apa pun yang bisa diambil darinya.

Lalu aku melihat hal-hal kecil.

Di pojok ruang tamu, tumpukan kotak kado. Disusun rapi, yang terbesar di bawah, yang terkecil di atas. Dibungkus kertas kado yang berbeda-beda. Robot biru, dinosaurus, bola sepak, bintang-bintang. Kertasnya pudar, selotipnya menguning. Tidak satu pun yang dibuka.

Di dekat jendela, satu pot tanaman sirih gading dengan daun-daun hijau yang menjuntai. Dan di sebelahnya, di atas lantai, dua lilin kecil berbentuk angka. 2 dan 8.

Di pintu kulkas, satu kertas tempel kuning: ISI. INI PERINTAH CFO.

Di kamar yang pintunya terbuka, satu tikar pandan dan satu bantal.

Aku berdiri di tengah ruang tamu yang kosong itu dan tidak tahu harus berbuat apa dengan tanganku.


Bel pintu berbunyi.

Kami berdua menoleh.

Dia berjalan ke pintu, pelan, kaku, dan membukanya. Seorang laki-laki muda berdiri di sana. Kurus, berkulit sawo matang, dengan rambut yang disisir rapi pakai minyak rambut terlalu banyak. Di tangannya ada rantang empat susun berwarna hijau, dan di lehernya, digantung dengan tali rafia merah, sebuah ponsel.

Ponsel itu diikat. Dengan rafia. Di leher. Seperti kalung.

“Pak Hal!” katanya. “Ini titipan dari Bu Yati! Rawon, sayur asem, tempe goreng, sama sambel. Kata Bu Yati, Pak Hal harus makan yang banyak biar jahitannya cepet kering!”

Dia menyodorkan rantang itu. Lalu dia melihat melewati bahu Ikal, dan melihatku berdiri di tengah ruang tamu.

Wajahnya langsung berubah.

“Oh,” katanya. “Oh. Maaf, Pak. Ada tamu.”

“Nggak apa-apa, Cup,” kata Ikal. “Ini kakakku.”

Ucup, laki-laki yang di klinik kemarin menangis paling keras, menatapku. Matanya membulat. Dia menatap Ikal. Lalu menatapku lagi. Lalu dia membungkuk dalam-dalam ke arahku, begitu dalam sampai ponsel di lehernya berayun dan membentur rantang.

“Selamat pagi, Bu Kakak,” katanya dengan suara sangat sopan.

“Ponsel kamu kenapa diikat?” tanyaku sebelum bisa menahan diri.

Ucup menegakkan badan dan menyentuh ponsel di lehernya dengan bangga. “Biar nggak saya mainin, Bu. Kalau saya mau main HP, saya harus nunduk, dan talinya pendek, jadi leher saya sakit. Jadi saya nggak main. Ini ide Kapten Lukas.”

Aku menatapnya.

Ikal menatapnya.

“Cup,” kata Ikal pelan. “Itu nggak perlu.”

“Perlu, Pak. Kemarin Bapak dijahit empat puluh tiga kali gara-gara saya.” Mata Ucup tiba-tiba berkaca-kaca. “Saya pakai ini sampai jahitan Bapak kering. Itu sumpah saya.”

Ikal tidak menjawab. Dia menerima rantang itu dari tangan Ucup.

Ucup membungkuk lagi ke arahku, lalu ke arah Ikal, lalu berbalik dan berjalan ke lift dengan ponsel berayun di lehernya seperti bandul jam.

Ikal menutup pintu. Dia meletakkan rantang hijau itu di lantai dapur karena tidak ada meja.

Aku tidak tahu kenapa, tapi aku hampir tertawa. Atau hampir menangis. Aku tidak bisa membedakannya.


Dia mengambilkan aku air putih.

Dia mengambil gelas dari rak pengering, satu-satunya gelas di dapur itu, mengisinya dari dispenser galon di sudut, dan menyodorkannya kepadaku.

Aku menerima gelas itu, dan aku sadar bahwa kalau aku minum dari gelas ini, dia tidak punya gelas.

“Kamu?” tanyaku.

“Nanti, Mbak.”

Kami duduk di lantai. Tidak ada tempat lain untuk duduk.

Dia menurunkan tubuhnya ke lantai dengan sangat pelan, satu tangan bertumpu di dinding, punggung tetap tegak supaya jahitannya tidak tertarik. Dia duduk bersandar ke dinding dengan kaki bersila. Lalu dia menunjuk ke lantai di sebelah kanannya.

“Di sini, Mbak.”

Di sebelah kanannya. Supaya aku bicara ke telinga kanannya.

Aku duduk di sana. Lantai keramik dingin menembus celana kainku.

Gelas air di tanganku. Dia di sebelahku. Sinar matahari jam sepuluh pagi masuk lewat jendela besar, jatuh di lantai di antara kami.

Aku sudah merobek enam halaman pembelaan penutup jam lima pagi tadi. Aku tidak punya naskah. Aku tidak punya struktur. Aku tidak punya bukti nomor satu, dua, tiga.

Aku hanya punya kebenaran, dan kebenaran tidak pernah datang dengan struktur yang rapi.

“Kal,” kataku.

“Ya, Mbak.”

“Malam sebelum kita pergi. Malam sebelum Ibu dan Ayah tanda tangan surat cerai.”

Dia tidak bergerak.

“Aku bangun jam satu pagi buat minum air,” kataku. “Lampu dapur nyala. Ibu sama Ayah di dapur. Mereka nggak tahu aku bangun. Aku berdiri di balik pintu kamar mandi, di lorong yang gelap, dan aku denger.”

Aku menatap gelas air di tanganku.

“Ayah bilang, kalau kamu bawa semua anak, aku lawan di pengadilan sampai kamu nggak dapet satu pun. Ayah bilang dia punya kenalan di pengadilan agama. Ayah bilang dia bisa bikin proses ceraian ini jalan tiga tahun, lima tahun, dan selama itu nggak ada yang boleh keluar negeri. Visa Ibu bakal hangus. Kerjaan Ibu di Melbourne bakal hilang. Kita bakal terjebak di rumah itu sama dia.”

Napasku mulai tidak teratur.

“Terus Ayah bilang, tapi kalau Ikal tinggal, aku tanda tangan besok pagi. Anak laki-laki ikut bapaknya. Itu adil.”

Hening.

Di luar jendela, sebuah pesawat melintas jauh di atas kota. Suaranya samar.

“Ibu nangis,” lanjutku. “Ibu bilang, aku nggak bisa ninggalin Ikal. Ibu bilang dia mau lawan. Ibu bilang dia nggak peduli tiga tahun atau lima tahun. Ayah ketawa. Ayah bilang, silakan. Kita liat siapa yang capek duluan.”

Aku menelan ludah. Tenggorokanku kering sekali. Aku meminum air dari gelas itu. Satu-satunya gelas.

“Ayah waktu itu belum pernah mukul kita, Kal. Kamu inget? Ayah cuma minum. Kadang marah-marah. Sekali dorong Ibu ke tembok, aku liat. Tapi belum pernah mukul anak-anak. Ibu nggak tahu. Ibu nggak tahu Ayah bakal jadi kayak gitu. Nggak ada yang tahu.”

Aku menatap jendela. Aku tidak bisa menatapnya.

“Aku lima belas tahun. Aku takut banget. Aku takut kita bakal terjebak di rumah itu lima tahun. Aku takut Ayah bakal dorong Ibu ke tembok lagi, lebih keras. Aku udah dapet beasiswa sekolah di Melbourne. Aku udah bayangin hidup di sana. Aku udah… aku udah pengin pergi dari rumah itu dari lama.”

Suaraku mulai pecah. Aku menahannya.

“Jadi aku masuk ke kamar kamu.”


Aku tidak menatapnya. Tapi aku merasakan dia, di sebelah kiriku, sangat diam.

“Jam setengah dua pagi,” kataku. “Kamu udah tidur. Kayla tidur di sebelah kamu, di sebelah kiri kamu, kayak biasa. Aku bangunin kamu pelan-pelan. Aku bilang, Kal, Kakak mau ngomong.”

Aku ingat semuanya. Setiap detail. Kamar sempit dengan dua ranjang. Jendela di dekat ranjangnya, dengan tirai bermotif bintang yang sudah pudar. Kayla mendengkur pelan, memeluk guling. Ikal membuka mata, bingung, setengah tertidur.

“Aku bilang, Ayah bakal sendirian, Kal. Ayah sedih banget. Kamu liat kan tadi Ayah nangis di dapur?” Suaraku bergetar sekarang, tidak bisa kutahan. “Itu bohong. Ayah nggak nangis. Ibu yang nangis. Tapi aku bilang Ayah nangis. Aku bilang, Ayah butuh kamu. Kamu anak laki-laki. Kamu jagoan. Kamu mau jagain Ayah, kan?”

Aku memejamkan mata.

“Kamu bilang, tapi aku mau ikut Ibu, Kak. Kamu bilang gitu. Aku masih inget suara kamu. Kamu sebelas tahun. Suara kamu masih kecil.”

Hening yang sangat panjang.

“Aku bilang, cuma sebentar, Kal. Setahun aja. Nanti Kakak jemput. Kakak janji. Nanti Ibu udah punya uang, Kakak yang jemput kamu sendiri.”

Aku membuka mata. Air mata sudah mengalir di pipiku. Aku tidak menyekanya.

“Paginya, kamu bangun pagi-pagi banget. Sebelum Kayla. Kamu ke dapur, ke Ibu, dan kamu bilang, Bu, aku mau tinggal sama Ayah dulu. Kasihan Ayah sendirian.”

Suaraku habis. Aku menarik napas. Napasku tersengal.

“Ibu nangis. Ibu peluk kamu. Ibu bilang kamu anak yang baik. Ibu bilang setahun lagi Ibu jemput. Ayah tanda tangan siang itu. Kita berangkat tiga hari kemudian.”

Aku menoleh ke arahnya. Akhirnya.

Dia masih duduk bersandar ke dinding. Matanya menatap lantai di depannya, ke sinar matahari yang jatuh di keramik putih. Wajahnya tidak bergerak.

“Di bandara,” kataku, “aku peluk kamu. Aku bilang, kamu jagoan, Kal. Jagain Ayah ya. Nanti Kakak jemput.”

Aku menangis sekarang. Sungguh-sungguh menangis. Untuk pertama kalinya dalam tujuh belas tahun, di depan seseorang, aku menangis dengan wajah terbuka dan suara yang pecah.

“Aku yang suruh kamu tinggal, Kal,” kataku. “Bukan Ibu. Bukan kamu. Aku. Aku denger Ayah malam itu, dan aku tukar kamu. Aku tukar kamu sama kebebasanku. Sama Melbourne. Sama beasiswaku. Sama Ibu dan Kayla.”

Aku menatapnya. Aku memaksa diriku menatapnya.

“Umurku lima belas,” kataku, “dan aku milih.”


Lama tidak ada yang bicara.

Matahari bergerak sedikit di lantai. Sebuah mobil membunyikan klakson jauh di bawah sana, di jalanan kota. Daun sirih gading di dekat jendela bergoyang pelan karena embusan AC.

Aku menunggu.

Aku menunggu dia marah. Aku menunggu dia berdiri dan menyuruhku keluar. Aku menunggu dia berteriak, memaki, melempar gelas di tanganku ke dinding. Aku sudah bersiap untuk semua itu. Aku sudah bersiap sejak jam lima pagi tadi. Sejak tujuh belas tahun lalu.

Dia tidak bergerak.

Lalu, pelan, dia bicara.

“Aku tahu, Mbak.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Aku tahu,” ulangnya. Suaranya datar. Tenang. Seperti melaporkan data cuaca. “Aku udah nebak dari lama.”

“Kamu… dari kapan?”

Dia diam sebentar.

“Malam itu Mbak masuk kamarku,” katanya. “Mata Mbak merah. Mbak nggak pernah masuk kamarku malam-malam. Mbak nggak pernah bilang Ayah sedih. Mbak selalu bilang Ayah nyebelin.”

Dia menatap sinar matahari di lantai.

“Waktu Ayah mulai mukul, aku inget muka Mbak malam itu. Mata Mbak yang merah. Suara Mbak yang gemeteran. Aku nggak ngerti waktu itu. Tapi aku inget.” Dia berhenti. “Lama-lama aku ngerti. Mbak tahu sesuatu malam itu. Sesuatu yang bikin Mbak takut. Dan Mbak butuh aku tinggal.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Kenapa kamu nggak bilang?” Suaraku keluar seperti bisikan. “Kenapa kamu nggak bilang ke Ibu? Di telepon? Kenapa kamu nggak bilang, Kak Safrina yang nyuruh aku tinggal, Ayah mukul aku, jemput aku?”

Dia menatapku untuk pertama kalinya sejak aku mulai bicara.

“Mbak lima belas,” katanya.

Tiga kata.

Tiga kata yang tidak menuduh, tidak menghakimi, tidak membela. Tiga kata yang hanya menyatakan fakta, seperti nomor kontainer. Seperti tanggal di kalender.

Mbak lima belas.

Dan di dalam tiga kata itu, aku mendengar sesuatu yang membuatku ingin merangkak keluar dari kulitku sendiri. Aku mendengar anak dua belas tahun yang sedang dipukul ayahnya di rumah kontrakan di ujung gang, dan masih sempat berpikir bahwa kakaknya yang lima belas tahun tidak boleh disalahkan.

Dia melindungiku.

Selama tujuh belas tahun, dia melindungiku.


“Marahin aku,” kataku.

Dia menatapku.

“Marahin aku, Kal. Tolong.” Aku menangis begitu keras sekarang sampai kata-kataku terpotong-potong. “Kamu berhak. Kamu punya semua alasan. Aku pengacara, aku tahu, ini… ini kasus yang sempurna. Bukti lengkap. Motif jelas. Pengakuan langsung dari terdakwa. Kamu berhak marah. Kamu berhak benci aku. Kamu berhak nyuruh aku keluar dan nggak pernah ketemu aku lagi.”

Dia diam.

“Bilang aku jahat,” kataku. “Bilang aku egois. Bilang aku nuker kamu kayak barang. Bilang apa aja. Tolong.”

Dia menatapku dengan mata yang tidak berisi apa pun.

“Aku nggak marah, Mbak,” katanya.

Itu bukan pengampunan.

Aku tahu bedanya. Aku sudah mendengar ratusan korban bicara di ruang sidang. Aku tahu suara orang yang memaafkan. Suara yang hangat, yang bergetar, yang mengandung sesuatu. Ini bukan itu. Ini suara rumah yang dikosongkan. Suara lantai keramik putih tanpa apa pun di atasnya.

Dia tidak memaafkanku. Dia tidak marah padaku.

Dia tidak punya apa pun untukku sama sekali.

Dan aku, pengacara yang sudah memenangkan empat puluh tiga kasus anak-anak yang dipukul orang tuanya, baru mengerti, di lantai apartemen kosong itu, apa yang dilakukan lima tahun di rumah kontrakan di ujung gang kepada seorang anak.

Rumah itu tidak hanya mengambil kulit di punggungnya. Rumah itu mengambil semua yang ada di dalam dadanya, sampai tidak ada yang tersisa untuk marah. Bahkan kepada orang yang paling berhak dia marahi.

Bahkan kepadaku.


Aku tidak ingat bagaimana aku berdiri. Aku tidak ingat bagaimana aku berjalan ke pintu.

Aku ingat dia berdiri juga. Pelan, kaku, satu tangan di dinding, karena jahitan di punggungnya. Aku ingat dia mengantarku ke pintu. Aku ingat dia membukakan pintu untukku, sopan, seperti mengantar klien yang selesai rapat.

Aku ingat aku berbalik di ambang pintu dan menatapnya sekali lagi.

Dan aku ingat tangannya.

Tangan kanannya, yang memegang daun pintu. Gemetar. Halus, pelan, terus-menerus.

Aku melihat tangan itu. Aku sudah melihatnya dua kali sekarang. Di lorong lantai empat Willmore, waktu dia menjabat tanganku. Dan sekarang.

Aku tidak tahu apa artinya. Aku tidak berani berharap itu artinya sesuatu.

“Hati-hati, Mbak,” katanya.

Pintu menutup.


Aku tidak ingat perjalanan kembali ke hotel. Aku tidak ingat taksinya, atau sopirnya, atau jalan yang dilewati.

Aku ingat kamar hotel. Pintu yang kututup dan kukunci. Tas kulit yang jatuh dari bahuku ke lantai.

Aku ingat aku berdiri di tengah kamar dan tidak bisa berhenti gemetar.

Bukan menangis. Aku sudah selesai menangis. Air mataku sudah habis di lantai apartemen itu. Ini sesuatu yang lain. Seluruh tubuhku bergetar. Tangan, bahu, lutut, rahang. Gigiku bergemeletuk meskipun AC kamar hotel tidak terlalu dingin. Aku duduk di tepi ranjang, memeluk tubuhku sendiri, dan gemetar seperti orang yang baru diangkat dari air es.

Di meja kecil di sudut kamar, di samping tumpukan potongan kertas memo yang kurobek tadi pagi, buku tulis bersampul cokelat itu masih tergeletak.

Tertutup. Tipis. Lusuh. Sudut-sudutnya menggulung.

Hari ke-1 nunggu Kak Safrina jemput.

Aku menatap buku itu dari tepi ranjang.

Aku sudah mengaku. Aku sudah bilang semuanya. Ancaman Ayah. Kamar jam setengah dua pagi. Nanti Kakak jemput. Aku sudah mengaku semuanya.

Semuanya, kecuali satu.

Satu hal yang tidak kusebutkan di apartemen tadi. Satu hal yang tidak kutulis di enam halaman kertas memo. Satu hal yang sudah kukubur begitu dalam selama empat belas tahun sampai kadang-kadang, di hari-hari yang baik, aku bisa meyakinkan diriku sendiri bahwa itu tidak pernah terjadi.

Sebuah pesan. Di layar komputer. Di kamarku di rumah Box Hill. Hampir jam tiga pagi, di sebuah malam di bulan Mei, waktu aku tujuh belas tahun dan sedang belajar untuk ujian akhir.

Aku tidak pernah memikirkannya. Aku tidak mengizinkan diriku memikirkannya.

Tapi buku tulis bersampul cokelat itu ada di meja di depanku. Satu baris per hari. Kalimat yang sama. Hanya angkanya yang berubah.

Dan aku pengacara.

Aku tahu, lebih dari siapa pun, bahwa bukti yang paling ditakuti terdakwa bukanlah bukti yang dibacakan jaksa di ruang sidang.

Melainkan bukti yang tanggalnya cocok.