Chapter Nine
Lari dari 120
POV: Mika
Hari pertama, aku pikir dia sibuk.
Hari kedua, aku pikir dia sakit. Hujan Lembang dan tanpa jaket. Masuk akal.
Hari ketiga, aku berhenti berpikir dan mulai menghitung.
Pesan yang kukirim: sembilan. Pesan yang dibalas: dua. Isi balasan pertama: Lagi editing. Isi balasan kedua: Iya. Tanpa titik. Tanpa emoji. Tanpa satu kata pun yang bisa kubaca sebagai Evan yang biasa, yang membalas Itu sabotase atau Aku nggak akan takut dengan nada yang bisa kudengar sampai ke apartemenku di lantai dua belas.
Telepon yang kulakukan: tiga. Diangkat: nol.
Kunjungan ke studio: satu. Hasilnya: Dodo di depan pintu, dengan wajah orang yang disuruh menjaga gerbang neraka.
“Abang lagi keluar, Mbak,” katanya. “Survei lokasi.”
“Lokasi apa? Jadwal pernikahan keempat masih dua minggu lagi. Survei lokasinya sudah kemarin, bareng aku.”
Dodo menelan ludah. “Lokasi... lain, Mbak.”
“Lokasi lain di mana?”
Dodo menatap langit. Menatap pohon flamboyan. Menatap sepatunya. “Di... toilet, Mbak.”
Aku menatapnya.
“Abang lagi survei toilet?”
“Abang bilang, kalau Mbak datang, saya harus bilang Abang lagi survei lokasi. Terus Abang masuk toilet.” Dodo menunduk dalam-dalam. “Saya nggak bisa bohong sama Ibu Negara, Mbak. Itu pengkhianatan konstitusional.”
Aku menatap pintu kaca studio. Di baliknya, di ujung lorong, aku bisa melihat pintu toilet yang tertutup rapat.
Aku tidak mengetuk.
“Mas Dodo,” kataku pelan. “Bilang ke dia aku datang. Bilang aku bawa kopi. Kopinya kutaruh di meja.”
Aku meletakkan gelas kopi Gayo di meja jati, di sebelah toples kaca berlabel DECAF — JANGAN DISENTUH yang sekarang punya label tambahan yang ditempel di bawahnya dengan selotip: SERIUS. JANGAN.
Lalu aku pergi.
Di mobil, di parkiran depan studio, aku duduk dengan tangan di setir dan mesin yang belum kunyalakan selama sepuluh menit.
Aku tidak menangis. Aku sudah bilang pada perempuan di cermin bahwa aku tidak akan menangis untuk hal seperti ini. Aku sudah dua belas tahun menunggu. Tiga hari bukan apa-apa.
Tiga hari bukan apa-apa.
Tiga hari bukan apa-apa.
Aku menyalakan mesin dan menyetir pulang. Di lampu merah perempatan Dago-Cikapayang, aku melihat pantulanku di kaca spion, dan perempuan di kaca spion matanya merah.
Pembohong.
“Bu,” kata Lulu, berdiri di depan pintu apartemenku pukul sembilan malam dengan laptop di satu tangan dan kantong plastik berisi seblak di tangan lain. “Saya bawa seblak level satu. Untuk menghibur tapi tidak menyakiti.”
“Aku nggak butuh dihibur.”
“Ibu sudah tiga hari nggak makan siang. Saya cek di aplikasi ojek, Ibu cuma pesan kopi.” Lulu masuk tanpa diundang, melepas sepatunya dengan rapi, dan menyusunnya sejajar dengan sepatuku di rak. “Itu tanda Ibu butuh dihibur. Dan seblak.”
Kami duduk di lantai ruang tengah, seperti malam-malam lain. Seblak di mangkuk plastik, laptop di meja kopi, lampu-lampu Bandung di balik jendela. Bedanya, malam ini aku tidak membuka spreadsheet apa pun.
Lulu yang membukanya.
“Bu. Saya perlu lapor perkembangan.”
“Nggak ada perkembangan. Dia menghindariku.”
“Itu perkembangan.” Lulu menggulir layar. “Saya sudah analisis. Ini data yang saya kumpulkan dari Mas Dodo, dengan imbalan es teh.”
“Kamu menyogok Dodo pakai es teh?”
“Bukan menyogok, Bu. Barter informasi.” Lulu mendorong kacamatanya. “Dia yang beliin es tehnya. Saya cuma terima. Lalu dia cerita sendiri.”
Aku menatapnya. Lulu tidak menatapku balik. Telinganya sedikit merah.
“Lulu.”
“Ini tidak relevan, Bu. Fokus ke data.” Lulu menunjuk layar. Ada tabel baru di sana, dengan judul yang diketik rapi:
PERILAKU SUBJEK PASCA-INSIDEN PAYUNG
- Hari 1: Subjek tidak keluar studio. Mengedit foto pernikahan #3 selama 14 jam. Mas Dodo bilang subjek mengedit satu foto yang sama selama 3 jam. Foto: pengantin dansa di bawah hujan. (Catatan: bukan foto Ibu. Saya sudah konfirmasi dua kali.)
- Hari 2: Subjek minum decaf. Mas Dodo bilang subjek beli decaf baru, karena toples lama sudah “terkontaminasi”. Subjek juga membuang semua sisa kopi Gayo. Lalu memungutnya lagi dari tempat sampah. Lalu membuangnya lagi.
- Hari 3: Subjek bersembunyi di toilet waktu Ibu datang. Durasi: 47 menit. Mas Dodo bilang subjek keluar setelah Ibu pergi, langsung minum kopi Gayo yang Ibu tinggalkan. Lalu menatap dinding selama 20 menit.
“Dinding mana?” tanyaku.
“Dinding foto, Bu. Mas Dodo bilang foto yang hitam-putih.”
Aku diam.
“Kesimpulan saya,” lanjut Lulu, “subjek tidak menghindari Ibu karena tidak suka. Subjek menghindari Ibu karena terlalu suka. Ini pola yang umum terjadi pada laki-laki dengan riwayat trauma romantis. Saya sudah baca tiga jurnal psikologi untuk konfirmasi.”
“Tiga jurnal?”
“Dua jurnal dan satu artikel Cosmopolitan. Artikelnya ternyata yang paling akurat.” Ia menggulir lagi. “Dan ini update probabilitasnya.”
PROBABILITAS MAS EVAN MENYERAH: 73%
“Naik?” tanyaku. “Dia menghindariku dan angkanya naik?”
“Orang tidak kabur dari sesuatu yang tidak membuatnya takut, Bu.” Lulu menutup laptopnya separuh. “Dan orang tidak takut dari sesuatu yang tidak ia inginkan.”
Aku menatap Lulu lama. Lulu Anggraini, yang tidak pernah tertawa keras, tidak pernah terlambat, dan sekarang ternyata membaca artikel Cosmopolitan untuk membelaku.
“Kamu tahu,” kataku pelan, “kamu harusnya jadi psikolog.”
“Saya tahu, Bu. Tapi gaji wedding planner lebih bagus.”
Aku tertawa. Tawa pertama dalam tiga hari. Rasanya seperti membuka jendela di ruangan yang pengap.
Lulu menyuap seblak dengan wajah datar. Lalu, setelah lama diam, ia berkata dengan suara yang lebih pelan dari biasanya:
“Bu. Mas Dodo juga cerita satu hal lagi.”
“Apa?”
“Tentang jaket.” Ia tidak menatapku. “Mas Dodo bilang, jaket itu satu-satunya barang yang Mas Evan bawa waktu dia keluar dari kontrakan lama. Lima tahun lalu. Setelah mantannya pergi. Semua barang lain ditinggal. Cuma jaket itu sama kamera ayahnya.”
Sumpitku berhenti di udara.
“Mas Dodo bilang, Mas Evan nggak pernah minjemin jaket itu ke siapa pun. Bukan karena pelit.” Lulu akhirnya menatapku. “Tapi karena itu satu-satunya barang dari hidupnya yang lama yang nggak ada hubungannya sama mantannya. Itu yang Mas Evan bilang ke Mas Dodo, waktu mabuk kopi susu di ulang tahun studio.”
Aku menatap jaket denim tua yang tergantung di sandaran kursi makan. Sudah kucuci. Sudah kusetrika. Sudah kugantung di sana selama tiga hari, di tempat yang bisa kulihat dari tempat tidur.
Aku belum mengembalikannya.
Aku tidak berniat mengembalikannya.
“Mas Dodo bilang,” lanjut Lulu, “Mas Evan kasih jaket itu ke Ibu tanpa mikir. Kayak refleks. Dan itu yang bikin dia takut.”
Lulu pulang pukul sebelas. Di pintu, ia berhenti sebentar dengan satu sepatu sudah terpasang dan satu masih di tangan.
“Bu.”
“Hm?”
“Saya tahu Ibu nggak cerita semuanya ke saya. Tujuannya. Kenapa harus Mas Evan. Kenapa harus ‘supaya dia lihat’.” Ia memasang sepatu keduanya. “Saya nggak tanya. Saya nggak akan tanya. Tapi kalau Ibu butuh saya untuk sesuatu yang bukan spreadsheet, saya ada.”
Ia pergi sebelum aku bisa menjawab.
Aku berdiri di depan pintu yang tertutup lama sekali.
Setelah Lulu pergi, aku membuka laci meja rias.
Laci paling bawah, yang biasanya berisi barang-barang yang tidak kupakai: kotak perhiasan kosong, charger lama, buku catatan dari Singapura yang belum habis. Di bawah semuanya, ada sebuah amplop cokelat berukuran A4.
Amplop dengan logo laboratorium di pojok kiri atas, dan nama yang dicetak di label putih di tengahnya.
Namaku.
Aku tidak membukanya. Aku sudah membukanya sebulan lalu, di Singapura, di kamar mandi apartemenku, duduk di lantai keramik yang dingin sambil membaca satu angka berkali-kali sampai angka itu tidak terlihat seperti angka lagi. Aku sudah membacanya cukup banyak sampai aku hafal setiap kata di halaman itu, termasuk catatan kaki dan nomor registrasi labnya.
Aku hanya menyentuh amplop itu. Dengan ujung jari. Sama seperti aku menyentuh guntingan koran di dompetku.
Di ponselku, ada satu percakapan yang belum kubuka hari ini. Nomor yang kusimpan dengan satu huruf saja. K. Pesan terakhirnya dikirim tadi sore:
K: Dek. Minggu depan bisa ketemu lagi? Saya libur hari Rabu. Saya bawain bolu pisang. Kata orang di sini, adek-adek suka bolu pisang. Saya nggak tahu kamu suka apa. Maaf.
Aku membaca pesan itu tiga kali. Lalu mengetik balasan, menghapusnya, mengetik lagi.
Aku: Bisa. Rabu. Aku suka bolu pisang.
Aku tidak tahu apakah aku suka bolu pisang. Aku tidak pernah benar-benar memikirkannya. Tapi aku ingin suka, karena dia yang bawa.
Aku memasukkan amplop itu kembali ke laci paling bawah, di bawah charger lama dan buku catatan dari Singapura.
Belum, kataku pada diriku sendiri. Belum sampai aku yakin dia mau.
Belum sampai Papa siap.
Papa yang setiap malam bertanya gimana fotografermu dengan suara yang makin pelan. Papa yang berat badannya turun dua kilo minggu ini. Papa yang berlutut di depan anak perempuan tiga belas tahun di ruang tamu panti dan berkata boleh saya jadi papamu, dan sampai sekarang masih takut, aku tahu, jauh di dalam, bahwa suatu hari anak perempuan itu akan menemukan seseorang yang lebih asli dari dirinya.
Aku tidak akan membuat Papa merasa diganti. Tidak sekarang. Tidak waktu ia sedang menghitung pagi.
Aku menutup laci.
Aku tidak bisa tidur.
Pukul satu pagi, aku duduk di ambang jendela dengan jaket denim Evan di bahu. Kancing logamnya dingin di kulitku. Robekan kecil di siku kirinya, yang tidak pernah dijahit, terasa kasar di bawah ibu jariku.
Wanginya masih ada. Sedikit, di bagian kerah, meskipun sudah kucuci dua kali. Sabun, kertas foto, dan sesuatu yang hangat seperti roti.
Aku menarik kerah jaket itu ke hidungku dan memejamkan mata.
Hari itu, di bawah payung, sesuatu terjadi padanya. Aku melihatnya. Aku melihat wajahnya berubah dari khawatir ke kaget, dari kaget ke takut. Seperti seseorang yang tiba-tiba menyadari sesuatu tentang dirinya sendiri, sesuatu yang tidak ia undang.
Dan aku melihat ia menunduk, menatap dadanya sendiri, seperti orang yang baru saja dikhianati jantungnya.
Lalu ia memalingkan wajah. Lalu ia bilang ayo ke tenda dengan suara yang kasar. Lalu ia lari. Tiga hari. Ke toilet.
Dia lihat sesuatu, pikirku. Dia sudah lihat. Makanya dia lari.
Aku tahu persis apa yang ia temukan di sana. Aku tidak perlu bertanya.
Dan itu yang membuatku ingin menangis dan tertawa sekaligus, duduk di ambang jendela jam satu pagi dengan jaket laki-laki yang bersembunyi di toilet dari aku.
Karena itu artinya berhasil.
Dua belas tahun. Dan akhirnya, berhasil.
Tapi berhasil tidak sama dengan selesai. Aku tahu itu juga. Aku tahu bahwa melihat tidak sama dengan menerima. Bahwa laki-laki yang pernah melihat sesuatu yang ia cintai pelan-pelan hilang di depan matanya, tidak akan dengan mudah membiarkan dirinya melihat sesuatu yang baru tumbuh.
Dia akan lari.
Dan aku harus membiarkannya lari, tanpa berhenti menunggu di ujung jalan.
Aku mengambil ponselku. Membuka percakapan dengan Yang Melihat. Sembilan pesan dariku, dua dari dia. Aku mengetik pesan kesepuluh.
Lalu menghapusnya.
Aku mengetik lagi. Kalimat yang sudah kulatih ratusan kali, di depan cermin di Singapura, di mobil, di kamar mandi dengan suara pelan. Kalimat pendek. Tiga kata. Kalimat yang paling sederhana di dunia, yang diucapkan jutaan orang setiap hari tanpa berpikir dua kali.
Aku menatap tiga kata itu di layar. Kursor berkedip di ujungnya.
Jempolku melayang di atas tombol kirim.
Aku bisa bilang apa saja ke siapa saja. Aku bisa bilang ke klien bahwa kue pengantin mereka jelek. Aku bisa bilang ke vendor bahwa harga mereka tidak masuk akal. Aku bisa bilang ke MC yang bersembunyi di toilet bahwa kalau ia tidak keluar dalam lima detik, aku akan menelepon ibunya. Aku bisa bilang ke laki-laki asing di depan empat ratus orang, detak jantungmu sekarang berapa, sambil memegang nadinya.
Kecuali satu kalimat itu.
Karena satu kalimat itu adalah satu-satunya kalimat yang kalau tidak dibalas, aku akan kembali jadi anak perempuan di undakan tangga semen. Yang duduk sendirian. Yang tidak berlari ke gerbang karena tahu tidak ada yang datang.
Aku menghapus tiga kata itu. Satu huruf demi satu huruf.
Lalu aku mengetik sesuatu yang lain.
Aku: Jaketmu sudah kucuci.
Aku: Wanginya masih ada sedikit. Di kerah.
Aku: Aku nggak akan balikin.
Aku: Selamat tidur, Evan. Kamu nggak perlu balas. Aku cuma mau kamu tahu aku masih di sini.
Kirim.
Aku meletakkan ponsel di ambang jendela, telungkup, dan memeluk lututku di dalam jaket yang terlalu besar.
Satu menit. Dua menit. Lima.
Ponselku bergetar.
Aku tidak langsung membaliknya. Aku menunggu, dengan jantung yang berdetak seperti pukulan palu di dalam dada, karena aku takut. Takut isinya Iya lagi. Takut isinya tidak ada apa-apa, hanya notifikasi dari aplikasi belanja.
Aku membaliknya.
Yang Melihat: Itu jaket keramat.
Lalu, satu menit kemudian:
Yang Melihat: Kopinya enak. Yang tadi siang.
Yang Melihat: Maaf soal toilet.
Lalu, tiga menit kemudian, setelah aku sudah berhenti berharap ada pesan lagi:
Yang Melihat: Aku juga masih di sini.
Aku membaca pesan terakhir itu dan, untuk kedua kalinya dalam satu minggu, melanggar janji pada perempuan di cermin.
Tapi kali ini, aku tidak keberatan.
Pukul dua pagi, sebelum akhirnya tidur, aku membuka spreadsheet Lulu di laptop. Kolom probabilitas. Angka tujuh puluh tiga persen dalam font tebal.
Aku menghapus angka itu dan mengetik angka baru.
74%
Lalu, di kolom catatan di sebelahnya, aku menambahkan satu kalimat kecil, untuk Lulu temukan besok pagi:
Satu persen dari toilet.
- 1 Seratus Tiga Puluh Empat
- 2 Kontrak
- 3 Strategi
- 4 Pernikahan Pertama: Mempelai yang Salah Arah
- 5 Hidup di Bawah 110
- 6 Pernikahan Kedua: Lima Puluh Tahun
- 7 Benang yang Tidak Bergetar
- 8 Pernikahan Ketiga: Payung
- 9 Lari dari 120 reading
- 10 Pernikahan Keempat: Pengantin Pingsan
- 11 Pernikahan Kelima: Pagar Panti
- 12 Belum Ada yang Menunggu
- 13 Dua Belas Tahun
- 14 Pernikahan Keenam: Uji Coba
- 15 Ulang Tahun Pernikahan Fikri
- 16 Bianglala
- 17 Resmi
- 18 Lampu Merah di Darkroom
- 19 Pernikahan Ketujuh: Benang Baru
- 20 Amplop
- 21 Yang Kedua Kalinya
- 22 Kamu Lihat Benangku ke Dia?
- 23 Gadis Tanpa Benang
- 24 Kunci Inggris
- 25 Pernikahan Kedelapan: Latihan Bicara
- 26 Aku Udah Tahu
- 27 Potret Terakhir
- 28 Pernikahan Kesembilan: Diagnosis Kedua
- 29 Malam Terakhir Hadi
- 30 Benang yang Naik
- 31 Kali Ini Aku yang Tanya
- 32 Botol Obat
- 33 Pernikahan Kesepuluh: Jaket
- 34 Cinta yang Bisa Diawasi
- 35 Pernikahan Kesebelas: Benang Ibu
- 36 Pernikahan Kedua Belas: Tangga Darurat
- 37 Seratus Dua Puluh Satu
- 38 Kopi Asli
- 39 Sudah Ada yang Menunggu
- 40 Pernikahan Ketiga Belas
- 41 Epilog — Sekarang Berapa?