← Gadis Tanpa Benang

Chapter Five

Hidup di Bawah 110

POV: Evan

Ada tujuh aturan dalam hidupku. Aku tidak pernah menuliskannya, tapi aku hafal seperti hafal nomor PIN.

Satu: tidak minum kopi sungguhan.

Dua: tidak naik tangga lebih dari satu lantai kalau ada lift.

Tiga: tidak menonton film horor, film perang, dan film tentang anjing yang mati di akhir cerita.

Empat: tidak makan sambal di atas level dua.

Lima: tidak menyetir di atas enam puluh kilometer per jam, kecuali dikejar debt collector, dan itu belum pernah terjadi.

Enam: tidak membuka kotak masuk email setelah jam sembilan malam.

Tujuh: tidak menatap siapa pun terlalu lama.

Dalam lima tahun, aturan-aturan itu menjagaku tetap di bawah seratus sepuluh hampir sepanjang waktu. Hidupku membosankan, tenang, dan aman. Seperti air di dalam gelas yang tidak pernah diguncang.

Dalam satu minggu sejak pernikahan di Ciumbuleuit, Mikaela Wirawan melanggar empat di antaranya.


Pelanggaran pertama: Senin.

Aku sedang menyeduh decaf di dapur studio pukul tujuh pagi, seperti biasa, dari toples kaca berlabel DECAF — JANGAN DISENTUH yang kutulis sendiri dengan spidol hitam. Aku menuang air panas, mengaduk, menunggu, menyesap.

Rasanya enak.

Terlalu enak.

Aku menatap cangkirku. Decaf-ku tidak pernah enak. Decaf-ku rasanya seperti kopi yang sudah menyerah pada hidup, cokelat datar tanpa karakter, seperti air bekas cucian piring yang dipanaskan. Tapi yang ini punya rasa asam tipis di ujung lidah, seperti buah beri yang jatuh di tanah setelah hujan.

Aku mengenal rasa itu.

Aku menurunkan cangkir dan menatap jam tanganku. Sembilan puluh tujuh. Lima menit kemudian, seratus satu. Sepuluh menit kemudian, seratus enam.

“DODO.”

Dodo muncul di pintu dapur dengan sikat gigi di mulut dan kaus bertuliskan ELVIS MASIH HIDUP DI GARUT. Ia menatap cangkir di tanganku, lalu toples di rak, lalu wajahku.

Dan ia tidak bertanya apa-apa. Itu cukup jadi pengakuan.

“Siapa,” kataku pelan, “yang menukar isi toples ini?”

Dodo mengeluarkan sikat gigi dari mulutnya. “Bang, saya mau cerita jujur, tapi Abang janji nggak marah dulu.”

“Aku nggak janji.”

“Ibu Negara, Bang.” Dodo mengangkat kedua tangan seperti tersangka. “Hari Sabtu, waktu Abang lagi beres-beres tripod di Ciumbuleuit, dia nanya ke saya, ‘Mas Dodo, decaf-nya Evan disimpan di mana?’ Saya jawab jujur, Bang. Di toples kaca, di rak kedua dari atas. Terus dia kasih saya satu kantong kopi Gayo dan bilang, ‘Tolong tukar ya, Mas. Ini rahasia negara.’”

“Dan kamu mau?”

“Bang.” Dodo menatapku dengan mata penuh penyesalan palsu. “Dia bilang ‘rahasia negara’. Saya warga negara yang baik.”

Aku menatap toples itu lama. Lalu aku menatap cangkirku. Lalu, karena aku laki-laki dewasa dengan harga diri, aku menuang sisa kopinya ke wastafel.

Lalu aku menyeduh satu cangkir lagi, karena sayang biji kopinya.

Ponselku bergetar.

Yang Bikin Repot: Pagi. 🙂
Yang Bikin Repot: Kopinya gimana?

Aku menyimpan nomornya dengan nama itu tiga hari lalu. Aku tidak menyesal.

Aku: Kamu menyuruh asistenku melakukan kejahatan.
Yang Bikin Repot: Aku menyuruh asistenmu menyelamatkan lidahmu.
Yang Bikin Repot: Itu tindakan kemanusiaan.
Aku: Itu sabotase.
Yang Bikin Repot: Deg-degan nggak?

Aku menatap pertanyaan itu. Lalu menatap jam tanganku. Seratus delapan.

Aku tidak membalas.

Yang Bikin Repot: Nggak dibalas berarti iya. 😌

Aku memasukkan ponsel ke laci meja dapur dan menutup lacinya keras-keras.


Pelanggaran kedua: Selasa.

Kami survei lokasi untuk pernikahan kedua, renewal ulang tahun ke-50 pernikahan pasangan Pak Darmawan dan Bu Sumarni, di sebuah gedung pertemuan tua di Jalan Braga. Acaranya di aula lantai empat, yang punya jendela-jendela besar menghadap jalan dan lantai kayu yang berkilat seperti madu.

Lift gedung itu sedang diperbaiki.

Aku berdiri di depan pintu lift dengan papan bertuliskan MAAF, SEDANG DALAM PERBAIKAN dan menatapnya seperti menatap batu nisan.

“Tangganya di sebelah sana,” kata Mikaela, menunjuk pintu besi bertuliskan TANGGA DARURAT di ujung lorong.

“Aku tahu.”

“Cuma empat lantai, kok.”

“Empat lantai itu delapan puluh delapan anak tangga.”

Ia menatapku. “Kamu menghitung?”

“Aku selalu menghitung.”

Sudut bibirnya naik. Pelan-pelan, ia berjalan mundur ke arah pintu tangga darurat, dengan tangan di belakang punggung dan mata tidak lepas dariku. Hari ini ia memakai celana kain warna khaki yang dipotong lebar di bagian kaki, kemeja putih yang dimasukkan rapi, dan sneakers putih. Rambutnya diikat ekor kuda tinggi yang bergoyang setiap kali ia melangkah.

Ia terlihat seperti iklan kampanye yang menjual sesuatu yang tidak bisa kubeli.

“Kalau gitu,” katanya, “aku tunggu kamu di atas.”

“Aku bisa tunggu di sini sampai liftnya selesai diperbaiki.”

“Montirnya bilang besok sore.”

“Aku sabar.”

“Evan.” Ia berhenti di depan pintu tangga, satu tangan di gagangnya. “Ini survei lokasi. Kamu fotografernya. Kamu harus lihat cahaya aula jam segini, karena acaranya jam segini. Kamu mau bilang ke Pak Darmawan dan Bu Sumarni, yang sudah menikah lima puluh tahun dan naik tangga ini setiap hari Minggu untuk latihan dansa, bahwa fotografer mereka nggak mau naik delapan puluh delapan anak tangga?”

Aku menatapnya. “Mereka latihan dansa di sini?”

“Setiap Minggu. Selama dua puluh tahun. Pak Darmawan umurnya tujuh puluh delapan. Lututnya sudah diganti dua-duanya.” Ia membuka pintu tangga darurat. “Aku tunggu di atas.”

Pintu tertutup di belakangnya. Aku mendengar langkah sneakers-nya di tangga, cepat dan ringan, menjauh ke atas.

Aku berdiri di lobi selama dua menit penuh.

Lalu aku membuka pintu tangga darurat.

Aku naik sangat pelan. Satu anak tangga. Tarik napas. Satu anak tangga. Buang napas. Di bordes lantai dua aku berhenti, bersandar ke dinding, dan menunggu jam tanganku turun dari seratus dua ke sembilan puluh lima. Di bordes lantai tiga aku berhenti lagi.

Di antara lantai tiga dan empat, aku mendengar suara dari atas.

“Kamu di lantai berapa?”

Suaranya bergema di tangga beton yang sempit. Aku mendongak. Di celah antara pegangan tangga, empat lantai di atas, aku melihat wajahnya menunduk menatapku. Ekor kudanya menggantung ke bawah seperti tali.

“Tiga setengah,” jawabku.

“Lama banget.”

“Aku nikmati pemandangannya.”

“Pemandangan apa? Ini tangga darurat. Isinya cuma tembok dan bau semen.”

“Itu pemandangan yang tenang.”

Ia tertawa, dan tawanya bergema turun di sepanjang tangga, memantul dari dinding ke dinding sampai seolah-olah tangga itu sendiri yang tertawa. Jam tanganku naik ke seratus tujuh.

Aku sampai di lantai empat dalam waktu enam menit dua belas detik. Mikaela berdiri di depan pintu aula dengan stopwatch di ponselnya.

“Enam menit dua belas detik,” katanya. “Pak Darmawan dengan dua lutut palsu butuh empat menit.”

“Pak Darmawan punya motivasi. Dia mau dansa.”

“Kamu juga punya motivasi.”

“Apa?”

Ia menurunkan ponselnya dan menatapku. “Aku.”

Seratus sebelas.

Aku berjalan melewatinya, masuk ke aula, dan mulai memotret cahaya yang jatuh dari jendela tanpa bicara sepatah kata pun. Di belakangku, aku mendengarnya tertawa pelan.


Pelanggaran ketiga: Rabu.

Yang Bikin Repot: Jumat malam kosong?
Aku: Nggak.
Yang Bikin Repot: Bohong. Aku sudah cek jadwalmu.
Yang Bikin Repot: Ada film horor baru. Katanya serem banget. Ada adegan pocong di lift.
Aku: Aku nggak nonton horor.
Yang Bikin Repot: Kenapa?
Aku: Prinsip.
Yang Bikin Repot: Prinsip apa?
Aku: Prinsip untuk hidup tenang.
Yang Bikin Repot: Hidup tenang itu bosan, Evan.
Yang Bikin Repot: Ayo. Aku yang bayar. Aku juga yang pegang tanganmu kalau takut.
Aku: Aku nggak akan takut.
Yang Bikin Repot: Jadi kamu mau?
Aku: Nggak.
Yang Bikin Repot: Kamu nggak takut film horor, tapi kamu takut nonton film horor sama aku.
Yang Bikin Repot: Menarik. 🤔

Aku tidak membalas. Aku memotret empat ratus dua belas foto produk untuk katalog toko sepatu dan tidak membuka ponsel sampai sore.

Saat aku membukanya lagi, ada satu pesan baru:

Yang Bikin Repot: Tawarannya berlaku sampai kamu siap. Aku sabar.
Yang Bikin Repot: Aku sudah biasa nunggu.

Aku membaca kalimat terakhir itu tiga kali.

Aku sudah biasa nunggu.

Ia menulisnya dengan santai, tanpa emoji, di antara candaan tentang pocong dan lift. Seolah itu kalimat biasa. Seolah tidak ada apa-apa di baliknya.

Tapi kata menunggu itu menancap di kepalaku seperti duri kecil yang tidak terlihat. Kedua kalinya ia memakai kata itu. Aku sudah menunggu terlalu lama untuk ditolak. Aku sudah biasa nunggu.

Menunggu apa?

Menunggu siapa?


Pelanggaran keempat: Kamis malam.

Aku tidak bertemu Mikaela hari Kamis. Pelanggaran keempat dilakukan oleh orang lain, atas inspirasi Mikaela, dan korbannya adalah aku.

“Sambal level tiga,” kata Nadia, meletakkan mangkuk kecil berisi sambal merah menyala di depanku. “Resep baru. Coba.”

“Aku nggak makan level tiga.”

“Ini bukan level tiga warung. Ini level tiga rumahan. Lebih jinak.” Nadia duduk di seberangku, menopang dagu dengan kedua tangan. “Fikri bilang kamu lagi deket sama cewek yang bikin kamu minum kopi asli. Jadi kupikir, sekalian aja. Mumpung jantungmu lagi terbuka sama pengalaman baru.”

Aku menoleh ke Fikri, yang duduk di sebelah istrinya dengan wajah tidak bersalah sama sekali.

Rumah Fikri dan Nadia ada di kompleks perumahan di Antapani, rumah dua lantai bercat putih dengan taman kecil di depan yang penuh tanaman cabai, karena Nadia percaya bahwa cabai yang ditanam sendiri lebih pedas daripada cabai pasar. Aku makan malam di sini setiap Kamis, sudah tiga tahun, sejak mereka menikah. Tradisi. Seperti soto Ibu untuk kru.

“Aku nggak bilang ‘deket’,” kata Fikri. “Aku bilang ‘ada cewek yang bikin detak jantungnya tembus 134 di resepsi pernikahan orang’.”

“Kamu juga bilang dia minum kopi asli,” kata Nadia.

“Itu laporan dari Dodo.”

“Kamu ngobrol sama Dodo?” tanyaku.

“Dodo yang ngobrol sama aku. Dia DM aku di Instagram. Panjang banget. Ada fotonya juga.” Fikri mengeluarkan ponsel dan menyodorkannya padaku. Di layar ada foto yang diambil diam-diam dari kejauhan: aku dan Mikaela di pernikahan Ciumbuleuit, berdiri di depan pelaminan, dan tangannya di kerah kemejaku.

Di bawah foto itu, Dodo menulis: Dok, ini darurat. Tolong pantau jantung Abang. Saya takut dia meledak.

Aku menyerahkan kembali ponselnya tanpa berkata apa-apa.

Nadia merebut ponsel itu dari tangan suaminya, menatap fotonya, dan bersiul pelan.

“Wah,” katanya. “Ini sih bukan cewek. Ini masalah.”

“Masalah?”

“Masalah besar. Cantik kayak gini, berani pegang kerah cowok di depan umum.” Nadia mengembalikan ponselnya pada Fikri. “Kamu nggak akan selamat, Van.”

“Aku baik-baik saja.”

“Fik, tunjukin grafiknya.”

“Grafik apa?”

Fikri, dengan senyum orang yang sudah menunggu momen ini sepanjang minggu, membuka sebuah aplikasi di ponselnya. Aplikasi yang tersambung dengan jam tanganku. Aplikasi yang ia pasang dua tahun lalu setelah aku pingsan di sebuah resepsi di Sumedang karena detak jantungku tembus seratus enam puluh tanpa alasan yang jelas. Serangan panik, kataku waktu itu. Fikri tidak percaya, tapi ia tidak memaksa. Ia hanya memasang aplikasi itu dan berkata, Kalau kamu nggak mau cerita, setidaknya biar aku yang lihat angkanya.

Ia memutar ponselnya ke arahku.

Di layar ada grafik detak jantungku selama tiga puluh hari terakhir. Garis hijau yang datar, tenang, membosankan, dari tanggal satu sampai tanggal dua puluh. Seperti garis horizon di laut yang tidak berangin.

Lalu, di tanggal dua puluh satu, garis itu melonjak. Seratus tiga puluh empat. Dan sejak itu, garisnya tidak pernah benar-benar datar lagi. Bergerigi. Naik turun. Seratus tiga, seratus sebelas, seratus delapan, seratus dua puluh enam, seratus tujuh.

“Ini,” kata Fikri, menunjuk lonjakan pertama, “Sabtu dua minggu lalu. Resepsi di Lembang.” Jarinya bergeser. “Ini Minggu pagi. Di studio. Ini Sabtu kemarin, di Ciumbuleuit. Ini Senin pagi, katanya gara-gara kopi. Ini Selasa siang, di Braga. Ini...” Ia menyipitkan mata. “Ini Rabu jam tiga sore. Kamu lagi ngapain jam tiga sore hari Rabu?”

Rabu jam tiga sore. Aku membaca pesan aku sudah biasa nunggu.

“Motret sepatu,” kataku.

“Sepatu bikin seratus empat?”

“Sepatunya mahal.”

Nadia tertawa sampai harus memegangi perut. Fikri menyeringai lebar.

“Van,” katanya, dengan nada dokter yang sedang memberikan diagnosis. “Sebagai kardiolog, aku punya satu kesimpulan medis.”

“Apa?”

“Kamu kena.”

Aku mengambil sesendok nasi, menaruh sambal level tiga rumahan di atasnya, dan memasukkannya ke mulut, hanya supaya aku tidak perlu menjawab.

Tiga detik kemudian, aku menyesal.

Sambal itu bukan level tiga rumahan. Sambal itu level neraka. Sambal itu dibuat dari cabai rawit setan yang ditanam sendiri dengan dendam pribadi. Lidahku terbakar, mataku berair, keringat langsung muncul di pelipis, dan jam tanganku berbunyi keras di atas meja makan.

Tit. Tit. Tit.

Seratus delapan belas. Seratus dua puluh. Seratus dua puluh tiga.

Ruang makan rumah Fikri berubah warna.

Aku tidak sempat menahannya. Aku sedang sibuk meraih gelas air sambil batuk-batuk, dan mataku sudah melihat sebelum otakku sempat menutupnya.

Dari dada Fikri, benang setebal tali sepatu ke dada Nadia. Hangat. Bergetar. Masih sama seperti tiga tahun lalu.

Dari dada Nadia, benang ke dada Fikri.

Sama tebalnya? Aku menyipitkan mata yang berair.

Hampir. Mungkin. Sedikit lebih tipis, mungkin, dari tali sepatu yang kuingat di Gedung Sate. Atau mungkin mataku yang berair membuat semuanya kabur. Atau mungkin aku salah ingat. Tiga tahun itu lama. Aku tidak mengukur benang dengan penggaris.

Lalu ponsel Nadia, yang tergeletak menelungkup di samping piringnya, bergetar.

Nadia melirik ponsel itu. Tidak mengambilnya. Hanya melirik. Lalu ia tersenyum kecil, senyum yang tidak ditujukan pada siapa pun di meja itu, dan menggeser ponsel itu sedikit lebih jauh dari piringnya.

Benangnya ke Fikri tidak berubah. Aku menatapnya lama, dengan mata yang masih berair karena sambal, dan benang itu tetap di sana. Tali sepatu. Mungkin sedikit lebih tipis. Mungkin tidak.

Detak jantungku turun. Seratus lima belas. Seratus sepuluh. Benang-benang memudar.

“Van! Van, minum! Ya Allah, ini air, minum!” Nadia menyodorkan gelas besar padaku sambil tertawa-tawa. “Maaf, maaf! Ternyata cabainya jadi lebih pedas dari minggu lalu!”

Aku minum. Air dingin membasuh api di lidahku.

Fikri menatap ponselnya, menatap grafik yang baru saja melonjak lagi, dan tersenyum puas.

“Bagus,” katanya. “Satu data poin lagi. Berarti jantungmu masih sehat buat ngerespons stimulus. Nanti Mika kukasih tahu.”

“Kamu kenal Mika?”

“Belum. Tapi Dodo bilang dia mau kenalan sama aku, soalnya aku yang pegang grafik jantungmu.” Fikri mengedip. “Katanya, ‘Aku perlu tahu data mentahnya.’”

Aku meletakkan gelas, menatap sahabatku, lalu menatap istrinya, yang sekarang sedang menyuap nasi dengan ponsel menelungkup jauh dari piringnya.

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Mungkin aku salah lihat. Mataku berair. Tiga tahun itu lama.

Aku menyuap nasi tanpa sambal dan berbicara tentang cuaca.


Aku kembali ke studio hampir pukul sepuluh malam. Lampu ruang editing menyala.

Aku tidak meninggalkannya menyala.

Aku membuka pintu pelan-pelan, dan menemukan Mikaela duduk di atas meja editingku. Bukan di kursi. Di atas mejanya. Dengan kaki yang menggantung dan ujung sneakers putih yang bergoyang pelan, seperti anak kecil di bangku taman.

Di layar monitor di belakangnya, folder hasil pernikahan Ciumbuleuit terbuka. Dan di tengah layar, dalam ukuran penuh, ada foto yang kuambil sore itu, setelah pidato Tiara.

Foto Mikaela. Berdiri di dekat meja vendor, bertepuk tangan, menoleh ke arah kamera. Cahaya sore yang miring menyorot separuh wajahnya. Matanya menatap langsung ke lensa, dengan ekspresi yang tidak pernah bisa kudeskripsikan meskipun sudah kutatap berkali-kali di layar ini selama empat hari terakhir.

Seperti seseorang yang baru saja menemukan barang yang lama hilang.

“Dodo kasih kunci cadangan,” kata Mikaela, sebelum aku sempat bertanya. “Dia bilang kamu biasanya lembur sampai jam dua belas, dan kamu lupa makan malam.” Ia mengangkat kantong plastik di sebelahnya. “Aku bawa nasi goreng. Nggak pakai sambal. Lulu bilang kamu lagi di rumah dr. Fikri, dan Nadia terkenal suka nyiksa tamu pakai sambal.”

“Kamu kenal Nadia?”

“Aku riset semua orang di sekitarmu.” Ia memiringkan kepala ke arah layar. “Termasuk riset diriku sendiri, ternyata. Dari folder ini.”

Aku menutup pintu di belakangku. Aku tidak mendekat.

“Itu foto kerja,” kataku.

“Folder ini ada empat ratus tiga puluh dua foto. Aku ada di tujuh belas.” Ia tersenyum. “Pernikahan orang lain, Evan. Pengantinnya bukan aku.”

“Kamu ada di frame.”

“Tujuh belas kali.”

“Kamu sering ada di frame.”

“Di foto ini aku bukan ada di frame.” Ia menunjuk layar dengan jempol, tanpa menoleh. “Di foto ini aku frame-nya. Fokusnya di mataku. Bokeh di belakang. Kamu sengaja.”

Aku tidak menjawab. Tidak ada jawaban yang bisa menyelamatkanku.

Mikaela turun dari meja. Pelan. Ia berjalan ke arahku dengan langkah yang tidak tergesa, sampai ia berdiri tepat di depanku, cukup dekat untuk membuatku bersandar ke pintu di belakangku.

Lalu, seperti malam pertama di ballroom itu, ia meraih pergelangan tangan kiriku.

Jarinya tidak dingin lagi. Hangat sekarang. Dua jarinya menekan bagian dalam pergelanganku, di bawah tali jam tangan, dan aku bisa merasakan nadiku berdetak melawan ujung-ujung jarinya, keras, cepat, memalukan.

Ia mendongak. Matanya, di bawah lampu ruang editing yang kuning, terlihat lebih gelap. Lebih dalam.

“Sekarang berapa?” bisiknya.

Aku tahu ia bisa melihat layar jam tanganku. Aku tahu ia tidak perlu bertanya.

Tapi ia bertanya. Dan ia menunggu. Seolah jawabannya harus keluar dari mulutku, bukan dari layar.

“Seratus dua puluh dua,” kataku.

Ruang editing berubah warna. Benang setebal tali kapal menyala di antara kami, merah tua, berdenyut, begitu dekat sekarang sampai rasanya hanya ada satu jengkal udara yang tersisa untuk menampungnya.

Mikaela tersenyum.

Bukan senyum menggoda yang biasa. Senyum yang lebih kecil, lebih tenang, dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Persis senyum yang ia berikan di depan foto anak perempuan di undakan tangga itu. Senyum seseorang yang baru saja mendengar jawaban yang sudah lama ia tunggu.

“Bagus,” katanya pelan.

Ia melepaskan pergelangan tanganku. Mundur selangkah. Mengambil tas dari kursi editing dan berjalan melewatiku ke pintu.

Di ambang pintu, ia berhenti.

“Nasi gorengnya dimakan,” katanya tanpa menoleh. “Jangan cuma dilihat.”

Lalu ia pergi.

Aku berdiri di ruang editing yang sunyi, dengan punggung masih bersandar ke dinding dan kantong plastik berisi nasi goreng di atas meja. Di layar, Mikaela masih menatapku dari dalam foto, dengan ekspresi seseorang yang baru menemukan barang yang lama hilang.

Jam tanganku pelan-pelan turun. Seratus lima belas. Seratus delapan. Sembilan puluh tujuh.

Benang memudar.

Tapi untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun, aku tidak merasa lega ketika benang-benang itu hilang.

Aku merasa seperti baru saja kehilangan sesuatu.

Aku duduk di kursi editing yang punggungnya sudah menyerah, membuka kantong plastik itu, dan makan nasi goreng tanpa sambal sambil menatap foto perempuan yang melanggar empat dari tujuh aturan hidupku dalam satu minggu.

Tiga aturan tersisa.

Dan aku sudah tidak yakin yang ketujuh masih bisa kupertahankan.