Chapter Sixteen
Bianglala
POV: Mika
Ide pasar malam datang dari Lulu, yang tidak pernah pergi ke pasar malam seumur hidupnya.
“Saya sudah riset, Bu,” katanya, berdiri di depan meja kerjaku di kantor Kaela Wedding hari Senin pagi, dengan tablet di tangan. “Setelah insiden Pak Arman...”
“Lulu, jangan sebut nama itu di sini.”
“Maaf, Bu. Setelah insiden yang tidak boleh disebut, Mas Evan menunjukkan gejala stres. Mas Dodo bilang Mas Evan mengedit foto pernikahan Pak Fikri tiga tahun lalu selama dua hari penuh. Foto yang sudah diedit. Dia mengeditnya ulang. Dua puluh tujuh kali.”
Aku diam.
Tiga hari setelah ulang tahun pernikahan Fikri dan Nadia, Evan memang berbeda. Tidak menghindar seperti setelah insiden payung. Ia membalas pesanku. Ia mengangkat teleponku. Ia datang ke rumah Papa hari Rabu untuk makan malam dan memberi Papa majalah teka-teki silang edisi lama yang ia temukan di toko buku bekas di Palasari.
Tapi matanya jauh. Seperti seseorang yang sedang berdiri di tepi jalan raya, menunggu kecelakaan yang ia tahu pasti akan terjadi.
Aku tidak tahu apa yang ia lihat malam itu. Aku hanya tahu bahwa itu tentang Nadia. Dan aku tahu, dari caranya menggenggam tanganku di antara pot-pot cabai, bahwa itu sesuatu yang sangat mirip dengan apa yang pernah menghancurkannya lima tahun lalu.
“Jadi,” lanjut Lulu, menggeser layar tabletnya, “saya rekomendasikan aktivitas yang menurunkan stres. Menurut tiga artikel kesehatan, aktivitas bermain dan tertawa menurunkan kortisol hingga empat puluh persen.”
“Pasar malam.”
“Pasar malam di Lapangan Gasibu. Buka sampai Minggu. Ada bianglala, ombak banyu, rumah hantu, lempar gelang, dan tembak bebek.” Lulu menatapku dari balik kacamatanya. “Dan, menurut artikel keempat, bianglala adalah wahana dengan tingkat keberhasilan ciuman pertama tertinggi di Asia Tenggara.”
Aku menatapnya.
“Artikel keempat dari mana?”
“Cosmopolitan, Bu.”
“Kamu harus berhenti baca Cosmopolitan.”
“Saya tidak bisa, Bu. Mereka selalu benar.” Lulu menurunkan tabletnya. “Saya juga sudah konfirmasi ke Mas Dodo. Mas Evan tidak pernah naik bianglala. Takut ketinggian. Detak jantungnya pasti naik.”
Ia berhenti. Lalu, dengan suara yang sedikit lebih pelan:
“Dan saya akan ikut. Sebagai pengawas. Mas Dodo juga ikut. Sebagai... gangguan yang dapat dikendalikan.”
Aku menatap Lulu lama. Telinganya memerah.
“Lulu,” kataku pelan. “Ini rencana untuk aku, atau untuk kamu?”
“Untuk Ibu,” katanya cepat. Terlalu cepat. “Seratus persen untuk Ibu.”
Ia keluar dari ruanganku sebelum aku bisa bertanya lagi.
Aku menghabiskan satu jam di depan cermin hari Sabtu sore, dan aku tidak menyesal satu detik pun.
Pasar malam artinya tanah becek, asap sate, kerumunan, dan wahana-wahana yang berdecit. Artinya aku tidak bisa memakai gaun panjang atau sepatu hak. Artinya aku harus terlihat cantik dengan cara yang tidak terlihat seperti aku berusaha terlihat cantik.
Itu jenis kecantikan yang paling sulit. Aku sudah belajar itu sejak umur lima belas.
Yang akhirnya kupakai: rok midi plisket berwarna krem yang bergoyang setiap kali aku berjalan, kaus rajut putih berlengan pendek yang dimasukkan rapi di pinggang, dan sneakers putih yang sudah kucuci semalam. Rambutku kukepang longgar ke samping, dengan anak-anak rambut dibiarkan lepas di sekitar wajah. Anting mutiara kecil. Lipstik warna mawar yang lembut, yang tidak akan meninggalkan bekas terlalu jelas.
Kalau-kalau.
Aku menatap perempuan di cermin.
Perempuan di cermin balas menatapku, dan untuk pertama kalinya, ia tidak terlihat seperti pembohong. Ia terlihat gugup. Ia terlihat seperti anak SMA yang mau kencan pertama.
Padahal ia dua puluh lima tahun, sudah mengatur dua ratus tiga belas pernikahan, dan pernah menegur menteri yang terlambat datang ke resepsi anaknya.
“Kamu konyol,” kataku padanya.
Ia tersenyum. Tidak membantah.
Lalu aku menyemprotkan parfum di pergelangan tangan. Di bagian dalam, di tempat nadi. Kebiasaan yang tidak bisa kuhentikan.
Evan menjemputku pukul tujuh. Ia memakai kaus hitam polos, celana jins, dan jaket bomber cokelat tua yang belum pernah kulihat.
“Jaket baru?” tanyaku.
“Jaket lama sudah dicuri orang.”
“Dicuri?”
“Dipinjam permanen. Sama perempuan yang nggak mau balikin.”
Aku tersenyum dan masuk ke mobilnya. Jaket denim tuanya tergantung di sandaran kursi makanku di apartemen, tempat ia bisa kulihat setiap pagi. Aku tidak akan pernah mengembalikannya. Kami berdua sudah tahu itu.
Ia menatapku sebentar sebelum menyalakan mesin. Matanya turun dari wajahku ke rambutku yang dikepang, ke kaus rajutku, ke rok plisketku. Lalu kembali ke wajahku.
“Kamu kelihatan...” Ia berhenti.
“Kelihatan apa?”
“...siap naik ombak banyu.”
Aku tertawa. Ia menyalakan mesin. Telinganya merah sepanjang jalan ke Gasibu.
Pasar malam di Lapangan Gasibu adalah lautan cahaya dan suara.
Lampu-lampu warna-warni digantung di antara tiang-tiang bambu. Musik dangdut koplo dari satu wahana bertabrakan dengan lagu anak-anak dari komidi putar di sebelahnya. Bau sate kambing, jagung bakar, kembang gula, dan tanah becek bercampur jadi satu. Ratusan orang berdesakan di antara stan-stan: keluarga dengan anak kecil di pundak, pasangan remaja yang bergandengan malu-malu, bapak-bapak yang mencoba memenangkan boneka untuk istrinya di stan lempar gelang.
Dan di tengah semua itu, berdiri setinggi gedung empat lantai, bianglala.
Lingkaran besi besar yang dicat merah dan kuning, dengan dua belas kabin berbentuk keranjang yang bergoyang pelan setiap kali bianglala berputar. Lampu-lampu kecil berkelip di sepanjang jari-jarinya, berubah warna dari merah ke biru ke hijau ke ungu.
Evan berhenti di depannya. Menatapnya ke atas.
Wajahnya pucat.
“Nggak,” katanya.
“Aku belum ngomong apa-apa.”
“Nggak.”
“Evan.”
“Itu besi tua yang dicat. Bautnya pasti karatan. Kabinnya goyang. Operatornya lagi main HP.” Ia menunjuk seorang laki-laki muda di panel kontrol, yang memang sedang main game di ponselnya sambil menekan tombol tanpa melihat. “Nggak.”
Di belakang kami, Dodo dan Lulu datang dengan dua gelas es kelapa muda.
“Bang! Abang mau naik bianglala?” Dodo menatap bianglala itu dengan mata berbinar. “Saya mau! Saya mau! Saya belum pernah naik bianglala sejak SD! Waktu itu saya muntah di kabin paling atas!”
“Itu bukan cerita yang bikin aku mau naik, Dod.”
“Tapi waktu itu saya kebanyakan makan cilok, Bang. Sekarang saya cuma minum es kelapa.”
Lulu, di sebelahnya, menatap bianglala dengan wajah datar. Lalu menatap clipboard-nya. Ia membawa clipboard ke pasar malam. Tentu saja ia membawa clipboard ke pasar malam.
“Menurut jadwal,” katanya, “bianglala adalah aktivitas nomor empat. Sebelumnya: lempar gelang, ombak banyu, dan rumah hantu.”
“Kamu bikin jadwal untuk pasar malam?” tanya Evan.
“Saya bikin jadwal untuk semuanya, Mas.”
Lempar gelang berjalan dengan baik.
Maksudnya, berjalan dengan baik untukku. Aku memenangkan boneka beruang cokelat setinggi lutut dengan lemparan ketujuh, setelah enam lemparan yang sengaja kuarahkan ke tempat yang salah supaya penjaganya tidak curiga.
Evan menatapku dengan mulut sedikit terbuka.
“Kamu,” katanya, “jago lempar gelang.”
“Aku jago banyak hal.”
“Kamu pernah latihan?”
“Di panti ada lempar gelang dari kaleng susu dan karet ban. Tiap tujuh belasan.” Aku menyerahkan boneka beruang itu kepadanya. “Ini buat kamu.”
Ia menatap boneka itu. Lalu menatapku.
“Buat aku?”
“Hadiah. Karena kamu udah berani datang ke pasar malam yang banyak besi tuanya.”
“Biasanya cowok yang menangin boneka buat cewek.”
“Biasanya cowok nggak takut burung kenari.”
Dodo, di belakang kami, tertawa sampai es kelapanya tersembur dari hidung. Lulu menyodorkan tisu kepadanya tanpa menoleh. Dodo menerimanya. Jari mereka bersentuhan. Lulu menarik tangannya cepat-cepat dan menulis sesuatu di clipboard.
Evan memeluk boneka beruang itu dengan satu tangan, canggung, seperti memeluk bayi orang lain.
“Aku kasih nama apa?” tanyanya.
“Terserah kamu.”
Ia menatap boneka itu lama. Lalu menatapku.
“Seratus Dua Puluh,” katanya.
Aku tidak bisa bernapas sebentar.
“Namanya... Seratus Dua Puluh?”
“Panggilannya Satu-Dua-Nol.” Ia tersenyum kecil, malu, ke boneka beruang di pelukannya. “Kayak kode rahasia.”
Aku memalingkan wajah ke arah stan sate kambing, karena kalau aku menatapnya sekarang, ia akan melihat mataku berkaca-kaca di tengah pasar malam, di depan boneka beruang seharga sepuluh lemparan gelang.
Ombak banyu adalah bencana.
Lebih tepatnya, Dodo adalah bencana.
Ombak banyu adalah wahana berupa lingkaran kayu besar dengan kursi-kursi di sekelilingnya, yang diayunkan maju-mundur dan berputar oleh tiga laki-laki bertelanjang dada yang mendorongnya dengan kaki dan tangan. Penumpang duduk berhimpitan, berpegangan pada besi melingkar, dan menjerit setiap kali lingkaran itu berayun terlalu tinggi.
Evan menolak naik. Ia duduk di bangku di luar pagar, memeluk Satu-Dua-Nol, dengan wajah orang yang sedang menunggu hasil biopsi.
Aku naik bersama Dodo dan Lulu.
Dua menit pertama, Dodo menjerit kegirangan.
Menit ketiga, Dodo diam.
Menit keempat, Dodo mulai berwarna hijau.
Menit kelima, Lulu menatapnya dengan wajah datar, lalu dengan gerakan sangat tenang dan sangat cepat, mengeluarkan kantong plastik dari tas selempangnya dan memegangnya di depan wajah Dodo.
Dodo muntah ke dalam kantong itu. Tepat sasaran. Tidak ada setetes pun yang tumpah.
Ombak banyu berhenti. Kami turun. Dodo duduk di tanah dengan kepala di antara lutut. Lulu berdiri di sebelahnya, memegang kantong plastik yang sudah diikat rapi, dan menepuk-nepuk punggung Dodo dengan gerakan kaku seperti robot yang baru belajar menghibur manusia.
“Mbak,” gumam Dodo dari balik lututnya. “Mbak bawa kantong plastik ke pasar malam?”
“Saya selalu bawa kantong plastik, Mas. Untuk keadaan darurat.”
“Mbak udah prediksi saya bakal muntah?”
Lulu diam sebentar.
“Mas sudah cerita soal cilok dan bianglala waktu SD,” katanya akhirnya. “Saya mencatatnya.”
Dodo mengangkat kepalanya pelan-pelan. Wajahnya masih hijau. Matanya menatap Lulu dengan ekspresi orang yang baru saja menyaksikan matahari terbit di atas gunung.
“Mbak,” katanya serak. “Mbak mencatat cerita saya?”
Lulu tidak menjawab. Ia menatap kantong plastik di tangannya. Telinganya merah padam.
“Saya mencatat semuanya, Mas,” katanya pelan. “Itu kebiasaan.”
Aku menarik tangan Evan dan menjauh dari mereka secepat mungkin, sebelum aku tertawa atau menangis atau melakukan keduanya sekaligus.
Kami melewati rumah hantu. Maksudnya, Evan menolak masuk dengan argumen yang sangat panjang tentang prinsip hidup nomor tiga, dan aku membiarkannya menang karena aku tidak mau kencan pertama kami berakhir dengan ia pingsan di depan pocong yang terbuat dari karung beras.
Lalu kami sampai di bianglala lagi.
Evan menatapnya. Bianglala menatapnya balik, dengan dua belas kabin yang bergoyang dan lampu-lampu yang berkelip.
“Mika,” katanya. “Aku beneran nggak...”
“Aku tahu.”
“Itu tinggi.”
“Aku tahu.”
“Detak jantungku pasti naik.”
Aku menatapnya. Lama.
“Aku tahu,” kataku pelan.
Ia diam.
Aku mengulurkan tanganku. Tidak menarik. Tidak memaksa. Hanya mengulurkan, telapak menghadap ke atas, di antara kami.
“Aku pegangin,” kataku. “Satu putaran. Kalau kamu takut, kamu boleh pegang tanganku sampai remuk.”
Evan menatap tanganku.
Di sekeliling kami, pasar malam terus berputar. Dangdut koplo. Lagu anak-anak. Jeritan dari ombak banyu. Bau jagung bakar. Lampu-lampu warna-warni yang membuat wajahnya berubah warna setiap beberapa detik: merah, biru, hijau, ungu.
Ia memindahkan Satu-Dua-Nol ke tangan kirinya.
Lalu tangan kanannya menggenggam tanganku.
Kabinnya kecil. Keranjang besi bercat kuning dengan dua bangku yang saling berhadapan dan pintu kecil yang dikunci dengan grendel sederhana. Cukup untuk dua orang dewasa dan satu boneka beruang, kalau dua orang dewasa itu duduk sangat berdekatan.
Evan duduk di bangku sebelah kanan. Aku duduk di sebelahnya. Bukan di seberangnya. Di sebelahnya.
Satu-Dua-Nol duduk di bangku seberang, sendirian, menatap kami dengan mata kancing hitamnya.
Bianglala mulai berputar.
Kabin kami naik. Pelan. Berdecit. Bergoyang setiap kali kabin lain di bawah kami diisi penumpang baru. Pasar malam di bawah menyusut, jadi titik-titik cahaya dan suara yang menjauh.
Evan menggenggam tanganku begitu erat sampai jari-jariku kesemutan.
Aku tidak keberatan.
“Kamu napas,” kataku.
“Aku napas.”
“Kamu nahan napas dari tadi.”
Ia menghembuskan napas. Panjang. Gemetar.
Kabin kami terus naik. Lantai tiga. Lantai empat. Angin malam Bandung bertiup lebih dingin di ketinggian, membawa bau tanah becek dan asap sate yang sudah samar. Di kejauhan, aku bisa melihat Gedung Sate yang disorot lampu kuning, berdiri gagah di ujung lapangan. Lampu-lampu kota menyebar ke segala arah seperti seseorang menumpahkan berlian di atas kain beludru hitam.
“Lihat,” kataku. “Bandung.”
Evan membuka mata. Aku tidak sadar ia menutupnya.
Ia menatap kota di bawah kami. Lama. Tangannya masih menggenggam tanganku, tapi tidak seerat tadi.
“Bagus,” katanya pelan.
“Kamu fotografer. Kamu nggak pernah motret dari atas?”
“Nggak pernah. Aku selalu motret dari bawah. Dari tanah. Dari tempat yang aman.”
Kabin kami berhenti.
Di puncak.
Bianglala berhenti berputar, seperti biasa, supaya penumpang di bawah bisa turun dan naik. Kabin kami bergoyang pelan di titik paling tinggi, sendirian di udara, di atas seluruh pasar malam, di atas seluruh Bandung.
Sunyi. Suara dangdut dari bawah hanya terdengar seperti gumaman.
Aku menoleh padanya.
Ia sudah menatapku.
Lampu-lampu kecil di jari-jari bianglala berubah warna di sekeliling kami. Merah. Wajahnya merah. Biru. Wajahnya biru. Hijau. Ungu. Matanya menatapku di bawah semua warna itu, tidak bergerak, tidak berkedip.
Aku menggeser jari-jariku di genggamannya. Pelan. Dari menggenggam tangannya, ke pergelangan tangannya. Ke bawah tali jam tangan. Ke tempat nadinya berdenyut.
Cepat. Sangat cepat. Lebih cepat dari yang pernah kurasakan.
Aku mendongak.
“Sekarang berapa?” bisikku.
Ia tidak melihat jam tangannya.
Ia menatapku. Hanya menatapku. Dengan mata yang melebar sedikit, seperti seseorang yang baru saja melihat sesuatu yang tidak bisa dipercaya. Matanya bergerak, dari wajahku, turun ke dadaku, lalu ke dadanya sendiri, lalu kembali ke wajahku. Napasnya pendek.
“Mika,” katanya. Suaranya hampir tidak terdengar.
Aku tidak menunggunya menjawab.
Dua belas tahun aku menunggu.
Dua belas tahun di anak tangga ketiga. Dua belas tahun dengan guntingan koran di dompet. Dua belas tahun membaca wawancara di kamar mandi apartemen Singapura jam dua pagi. Dua belas tahun melatih kalimat di depan cermin. Dua belas tahun menunggu angka itu.
Aku tidak mau menunggu lima detik lagi.
Aku mendekat. Mengangkat tanganku yang bebas, menyentuh sisi wajahnya, merasakan rahangnya yang hangat dan sedikit kasar karena bekas cukuran tadi pagi. Ia tidak mundur. Ia tidak lari. Matanya turun ke bibirku.
Dan aku menciumnya.
Pelan. Lembut. Hanya sentuhan bibir di bibir, ringan seperti sayap kupu-kupu.
Bibirnya hangat. Sedikit kering karena angin malam. Diam sesaat, kaget, seperti seseorang yang tidak tahu harus melakukan apa.
Lalu ia membalas.
Tangannya, yang tadi menggenggam tanganku dengan ketakutan, sekarang terangkat ke tengkukku. Pelan. Ragu-ragu. Ujung jarinya menyentuh anak-anak rambut di belakang telingaku, di bawah kepangan. Ia menarikku sedikit lebih dekat. Bibirnya bergerak pelan di bibirku, canggung dan manis dan gemetar.
Satu detik.
Anak tangga ketiga. Ujung kiri. Hari Minggu jam sepuluh sampai jam dua.
Dua detik.
Guntingan koran di dompet. Lima kali pindah dompet. Kertas yang berubah jadi kain.
Tiga detik.
Kamar mandi di Singapura. Lantai keramik yang dingin. Foto profil majalah dengan mata yang terlalu tua.
Empat detik.
Ballroom di Lembang. Jarinya di nadinya. Seratus tiga puluh empat.
Lima detik.
Sekarang.
Dua belas tahun dalam lima detik. Dan semuanya, setiap Minggu yang kosong, setiap malam yang panjang, setiap kalimat yang tidak berani kuucapkan, terasa seperti satu tarikan napas panjang yang akhirnya, akhirnya, bisa dihembuskan.
Aku melepaskan bibirnya.
Tidak jauh. Hanya beberapa senti. Dahiku bersandar di dahinya. Napas kami bercampur, cepat dan hangat, di udara dingin di puncak bianglala.
Aku membuka mata. Matanya sudah terbuka. Menatapku dari jarak yang sangat dekat, dengan ekspresi yang tidak pernah kulihat di wajah siapa pun.
“Seratus empat puluh satu,” bisiknya.
Aku tertawa. Tawa kecil yang basah, yang bergetar, yang keluar bersamaan dengan air mata yang tidak bisa kutahan lagi.
“Bahaya,” kataku. “Itu bahaya buat orang yang cuma duduk.”
“Aku tahu.”
“Kamu harus olahraga lebih banyak.”
“Aku tahu.”
“Evan...”
Ia menciumku lagi.
Kali ini ia yang memulai. Kali ini tidak ragu-ragu. Masih lembut, masih pelan, tapi tidak lagi canggung. Tangannya di tengkukku. Tanganku di dadanya, di atas kausnya, di tempat jantungnya berdetak seperti genderang yang dipukul terlalu keras.
Bianglala mulai berputar lagi. Kabin kami bergoyang. Turun pelan-pelan dari puncak.
Kami tidak berhenti.
Di bawah, Dodo dan Lulu menunggu di depan pagar bianglala.
Dodo masih sedikit hijau. Ia duduk di bangku dengan botol air mineral di tangan. Lulu berdiri di sebelahnya dengan clipboard di dada.
Ketika kabin kami sampai di bawah dan operator yang main game membuka grendel pintu, mereka berdua menatap kami.
Menatap wajahku, yang aku tahu masih merah. Bibirku, yang lipstik mawarnya sudah tidak ada sama sekali. Rambutku, yang kepangannya sudah longgar di bagian belakang, di tempat tangan Evan tadi berada.
Menatap wajah Evan, yang lebih merah dari wajahku. Kausnya, yang kusut di bagian dada. Bibirnya, yang entah kenapa sedikit berwarna mawar.
Satu-Dua-Nol, di pelukan Evan, menatap mereka dengan mata kancing hitamnya seperti saksi yang tidak bisa bicara.
Hening.
Lalu Dodo berdiri pelan-pelan. Meletakkan botol airnya. Membuka mulutnya.
“Bang,” katanya, dengan suara yang bergetar penuh emosi. “Bang. EvKa sudah berlayar.“
Ia bertepuk tangan. Keras. Sendirian. Di depan pagar bianglala, di tengah pasar malam, dengan wajah yang masih hijau dan mata yang berkaca-kaca.
Lulu, di sebelahnya, tidak bertepuk tangan. Ia membuka clipboard-nya. Menulis sesuatu. Lalu menutupnya lagi.
Lalu, dengan wajah datar, ia mengangkat satu tangan dan menepuk punggung Dodo dua kali. Pelan.
Itu bentuk tepuk tangan versi Lulu. Aku tahu.
Malamnya, Lulu mengirimiku tangkapan layar spreadsheet.
PROBABILITAS MAS EVAN MENYERAH: ~~74%~~ SUDAH MENYERAH
Catatan: Bianglala, kabin nomor 7, puncak, 21.14. Konfirmasi visual: lipstik Ibu berpindah. Artikel Cosmopolitan terbukti akurat.
Catatan kedua: Mas Dodo muntah di ombak banyu. Saya sudah prediksi. Kantong plastik berguna.
Catatan ketiga: Mas Dodo bilang terima kasih karena saya mencatat ceritanya. Saya bilang itu kebiasaan. Dia bilang dia mau jadi kebiasaan saya. Saya tidak tahu harus menjawab apa. Saya tidak menjawab. Saya sedang memikirkannya. Ini tidak ada hubungannya dengan apa pun.
Aku membaca catatan ketiga empat kali dan tertawa sampai perutku sakit.
Lalu aku berbaring di tempat tidur, di bawah selimut, dengan jaket denim tua milik Evan di pelukanku, dan menyentuh bibirku dengan ujung jari.
Ponselku bergetar.
Yang Melihat: Satu-Dua-Nol sudah tidur. Di sebelah bantal.
Yang Melihat: Aku belum.
Aku: Kenapa belum?
Yang Melihat: Detak jantungku belum turun.
Yang Melihat: Fikri sudah kirim pesan tiga kali.
Yang Melihat: Yang terakhir isinya cuma “???????????” sebelas tanda tanya.
Aku: Kamu jawab apa?
Yang Melihat: Belum kujawab.
Yang Melihat: Aku nggak tahu cara jelasinnya ke dia.
Yang Melihat: Aku nggak tahu cara jelasinnya ke diriku sendiri.
Aku menatap pesan itu lama.
Aku: Kamu nggak perlu jelasin apa-apa.
Aku: Kamu cukup lihat.
Satu menit. Dua menit.
Yang Melihat: Aku lihat, Mika.
Yang Melihat: Dari tadi aku lihat.
Yang Melihat: Selamat tidur.
Aku memeluk jaket denim itu lebih erat dan memejamkan mata.
Aku tidak tahu apa yang ia lihat. Aku tidak akan bertanya.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun, aku tidur tanpa menyentuh guntingan koran di dompetku.
Aku tidak perlu.
- 1 Seratus Tiga Puluh Empat
- 2 Kontrak
- 3 Strategi
- 4 Pernikahan Pertama: Mempelai yang Salah Arah
- 5 Hidup di Bawah 110
- 6 Pernikahan Kedua: Lima Puluh Tahun
- 7 Benang yang Tidak Bergetar
- 8 Pernikahan Ketiga: Payung
- 9 Lari dari 120
- 10 Pernikahan Keempat: Pengantin Pingsan
- 11 Pernikahan Kelima: Pagar Panti
- 12 Belum Ada yang Menunggu
- 13 Dua Belas Tahun
- 14 Pernikahan Keenam: Uji Coba
- 15 Ulang Tahun Pernikahan Fikri
- 16 Bianglala reading
- 17 Resmi
- 18 Lampu Merah di Darkroom
- 19 Pernikahan Ketujuh: Benang Baru
- 20 Amplop
- 21 Yang Kedua Kalinya
- 22 Kamu Lihat Benangku ke Dia?
- 23 Gadis Tanpa Benang
- 24 Kunci Inggris
- 25 Pernikahan Kedelapan: Latihan Bicara
- 26 Aku Udah Tahu
- 27 Potret Terakhir
- 28 Pernikahan Kesembilan: Diagnosis Kedua
- 29 Malam Terakhir Hadi
- 30 Benang yang Naik
- 31 Kali Ini Aku yang Tanya
- 32 Botol Obat
- 33 Pernikahan Kesepuluh: Jaket
- 34 Cinta yang Bisa Diawasi
- 35 Pernikahan Kesebelas: Benang Ibu
- 36 Pernikahan Kedua Belas: Tangga Darurat
- 37 Seratus Dua Puluh Satu
- 38 Kopi Asli
- 39 Sudah Ada yang Menunggu
- 40 Pernikahan Ketiga Belas
- 41 Epilog — Sekarang Berapa?