← Gadis Tanpa Benang

Chapter Eight

Pernikahan Ketiga: Payung

POV: Evan

Prakiraan cuaca bilang cerah berawan.

Prakiraan cuaca berbohong.

Pernikahan ketiga digelar di sebuah kebun di Lembang, di lereng bukit yang menghadap lembah dengan pemandangan Tangkuban Parahu di kejauhan. Konsepnya garden party: meja-meja panjang dari kayu pinus di atas rumput, lampu-lampu bohlam yang digantung di antara pohon cemara, dan pelaminan terbuka dari rangka bambu yang dililit bunga krisan putih dan daun pakis. Pengantinnya, Dimas dan Rara, sama-sama dokter hewan. Mereka bertemu waktu menyelamatkan seekor kambing yang terjebak di selokan Cisarua. Kambing itu sekarang tinggal di peternakan milik keluarga Rara, namanya Pak Kumis, dan ia hadir di pernikahan ini dengan dasi kupu-kupu merah di lehernya.

“Saya keberatan secara profesional,” kata Lulu, berdiri di sebelahku dengan clipboard dan payung lipat yang sudah ia pegang sejak pagi, padahal langit masih biru. “Kambing tidak ada di rundown.”

“Pengantinnya yang minta.”

“Saya tahu. Saya sudah tambahkan ke rundown. Tapi saya tetap keberatan.” Ia menatap Pak Kumis, yang sedang mengunyah rangkaian bunga di salah satu meja tamu. “Dia sudah makan dua centerpiece.”

Dodo muncul dari belakang kami, terengah-engah, dengan noda hijau di kemejanya dan sehelai daun krisan di rambut.

“Bang. Mbak Lulu. Kambingnya lepas lagi.”

“Kambingnya nggak lepas,” kata Lulu. “Kambingnya di situ. Lagi makan centerpiece ketiga.”

Dodo menoleh, melihat Pak Kumis, dan berlari ke arahnya sambil berteriak, “PAK KUMIS! PAK KUMIS, ITU BUKAN SAYUR!”

Pak Kumis menatap Dodo, mengunyah, lalu berlari ke arah berlawanan dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk kambing berdasi.

Lulu menulis sesuatu di clipboard-nya. Aku sempat melihat tulisannya: Mas Dodo, kambing, 14.07. Lucu (?).

Tanda tanyanya kecil sekali. Hampir tidak kelihatan.


Mikaela datang setengah jam sebelum akad, dan aku langsung tahu hari ini akan jadi masalah.

Ia memakai gaun panjang tanpa lengan berwarna kuning pucat, seperti mentega yang baru dikeluarkan dari kulkas, dengan rok yang jatuh lembut sampai mata kaki dan bergoyang setiap kali ia melangkah di atas rumput. Rambutnya dikepang longgar ke samping, dengan bunga krisan kecil yang diselipkan di antara jalinannya. Bahunya terbuka, dan kulitnya di bawah matahari Lembang yang miring terlihat seperti madu yang dituang pelan-pelan.

Ia tidak terlihat seperti wedding planner. Ia terlihat seperti seseorang yang tersesat dari lukisan impresionis dan tidak keberatan.

Aku mengangkat kamera untuk mengecek eksposur, dan lensaku, tanpa izinku, mengikutinya.

Klik.

“Itu bukan cek eksposur,” kata Lulu di sebelahku, tanpa menoleh.

“Itu cek eksposur.”

“Eksposur pakai objek perempuan bergaun kuning yang lagi tertawa sama kambing?”

Aku menurunkan kamera. Di kejauhan, Mikaela memang sedang tertawa sambil berjongkok di depan Pak Kumis, yang entah bagaimana sudah lolos lagi dari Dodo dan sekarang dengan tenang mengunyah ujung selendangnya.

“Cahayanya bagus,” kataku.

“Saya catat,” kata Lulu, dan menulis di clipboard.

Aku tidak berani melihat apa yang ia tulis.


Hujan datang tepat saat pengantin selesai mengucapkan ijab kabul.

Tidak ada peringatan. Tidak ada gerimis pembuka. Langit yang tadinya biru dengan awan putih seperti kapas tiba-tiba menghitam dari arah utara, seperti tinta yang tumpah di kertas, dan dalam waktu kurang dari dua menit, hujan turun seperti seseorang membalik ember raksasa di atas Lembang.

Seratus lima puluh tamu menjerit bersamaan.

Kursi-kursi terguling. Ibu-ibu menutup sanggul dengan tas tangan. Bapak-bapak melepas jas dan memayungkannya di atas kepala istri mereka, atau, dalam satu kasus yang kulihat jelas, di atas piring prasmanan. Lampu-lampu bohlam di antara pohon cemara berkedip-kedip. Pak Kumis mengembik panjang dan berlindung di bawah meja kue.

Dan di tengah kekacauan itu, Mikaela mengeluarkan ponselnya.

“Lulu. Tenda cadangan. Sekarang.”

“Sudah di jalan, Bu. Empat menit.”

“Tiga.”

“Tiga, Bu.”

Mikaela memasukkan ponselnya, mengangkat ujung gaun kuningnya dengan satu tangan, dan mulai bergerak. Ia memerintah kru katering memindahkan makanan ke paviliun kayu di ujung kebun. Ia menyuruh MC mengumumkan, dengan suara setenang mungkin, bahwa resepsi dilanjutkan di paviliun, mohon tamu tidak berlari karena rumputnya licin. Ia membantu nenek pengantin perempuan berdiri dari kursi, memayunginya dengan selendang yang tadi dikunyah Pak Kumis.

Ia basah kuyup dalam tiga puluh detik. Rambutnya menempel di pipi. Gaun kuningnya berubah jadi warna mentega yang lebih gelap, menempel di kulitnya. Bunga krisan di kepangannya jatuh satu per satu.

Dan ia tidak berhenti sedetik pun.

Aku berdiri di bawah pohon cemara terdekat, memeluk kamera di bawah kemeja supaya tidak basah, dan menyadari bahwa aku tidak sedang memotret. Aku sedang menonton.

Lalu aku melihat sesuatu.

Di tengah kebun, di depan pelaminan bambu yang sudah setengah roboh, Dimas dan Rara tidak berlari ke paviliun. Mereka berdiri di tengah hujan, basah kuyup dengan baju pengantin yang sudah tidak bisa diselamatkan, saling berpegangan tangan. Dan mereka tertawa.

Tertawa seperti dua orang yang baru saja menyadari bahwa hujan tidak bisa merusak apa pun yang benar-benar penting.

Lalu Dimas menarik Rara ke dalam pelukannya dan mereka mulai berdansa. Tanpa musik. Di atas rumput yang becek. Dengan sepatu yang tenggelam di lumpur.

Aku mengeluarkan kamera dari balik kemeja. Persetan dengan kamera basah.

Klik. Klik. Klik. Klik.

Itu akan jadi foto terbaik dari pernikahan ini. Mungkin dari seluruh tahun ini.


Tenda cadangan datang dalam tiga menit dua puluh detik. Lulu turun dari pikap dengan jas hujan kuning dan clipboard yang dibungkus plastik, dan dalam lima menit, kru Kaela Wedding sudah mendirikan tenda besar berwarna putih di sebelah paviliun.

Resepsi berlanjut. Basah, berantakan, tapi berlanjut. Grup akustik memainkan lagu-lagu di bawah tenda. Tamu-tamu berbagi handuk yang entah dari mana didapat Lulu. Pak Kumis tidur di pojok paviliun dengan dasi kupu-kupu yang sudah miring.

Dan aku, setelah semua tamu aman di bawah tenda, menyadari bahwa Mikaela tidak ada.

Aku mencarinya. Di tenda. Di paviliun. Di dapur katering.

Lalu aku melihatnya. Di ujung kebun, di dekat pelaminan bambu yang roboh, sedang berusaha menyelamatkan sesuatu dari tumpukan bunga krisan yang berserakan di lumpur.

Ia sendirian. Di bawah hujan yang belum berhenti.

Aku mengambil payung besar dari keranjang di pintu tenda, payung hitam dengan gagang kayu yang disiapkan untuk tamu VIP, dan berjalan ke arahnya.

Hujan memukul-mukul payung dengan suara seperti tepuk tangan. Rumput licin di bawah sepatuku. Udara dingin, bau tanah basah dan daun cemara.

“Kamu ngapain?” tanyaku, begitu sampai di sebelahnya.

Mikaela mendongak. Wajahnya basah, maskaranya luntur sedikit di bawah mata, dan bibirnya sudah tidak semerah tadi pagi. Rambutnya menempel di dahi dan pipi. Ia gemetar.

Ia masih cantik. Aku membenci fakta itu sedikit.

“Buku tamu,” katanya, mengangkat sesuatu dari lumpur. Buku tebal bersampul kulit putih, sekarang cokelat kehitaman di separuh sisinya. “Ketinggalan di meja penerima tamu waktu semua orang lari. Isinya tanda tangan tamu. Ucapan. Ada yang dari nenek Rara, yang tangannya sudah nggak bisa nulis lurus.” Ia memeluk buku itu ke dadanya. “Ini nggak bisa diganti.”

Aku memayunginya.

Hujan berhenti memukul kepalanya. Ia mendongak menatap payung di atasnya, lalu menatapku. Lalu tersenyum, senyum kecil yang gemetar karena dingin.

“Kamu basah,” katanya.

“Kamu lebih basah.”

“Aku wedding planner. Basah itu risiko kerja.”

“Aku fotografer. Kamera basah itu risiko kerja.” Aku menatapnya. “Kamu nggak perlu ngelakuin semuanya sendiri.”

Ia diam. Bibirnya, yang mulai sedikit membiru, terbuka seperti mau membantah. Lalu tertutup lagi.

Aku melepas jaketku.

Jaket denim tua, yang sudah kupakai sejak kuliah, dengan kancing logam yang sudah pudar dan satu robekan kecil di siku kiri yang tidak pernah kujahit. Jaket itu basah di bahu, tapi bagian dalamnya masih kering dan masih hangat dari badanku.

Aku memakaikannya di bahu Mikaela.

Ia membeku. Payung di atas kami, hujan di sekeliling kami, dan jaket denim tua di bahunya yang telanjang. Jaket itu terlalu besar untuknya. Bahunya tenggelam. Lengan jaketnya menggantung melewati ujung jarinya.

Ia menatapku dengan mata yang besar dan basah, dan aku tidak tahu apakah itu air hujan atau sesuatu yang lain.

“Evan,” katanya pelan.

“Pakai. Kamu gemetar.”

“Ini jaketmu.”

“Iya.”

“Kamu juga kedinginan.”

“Aku laki-laki.”

“Itu bukan argumen medis.”

“Itu argumen budaya.”

Ia tertawa. Tawa kecil yang serak, yang tenggelam di antara suara hujan. Lalu ia menarik jaket itu lebih rapat di tubuhnya, menenggelamkan dagunya di kerah, dan memejamkan mata sebentar.

“Hangat,” bisiknya.

Satu kata. Dan dadaku berdetak seperti genderang.

Jam tanganku bergetar di pergelangan tangan yang memegang payung. Aku tidak perlu melihat angkanya. Aku bisa merasakannya. Di telinga. Di tenggorokan. Di ujung-ujung jari.

Lalu aku melihatnya.

Hujan Lembang berubah warna.

Benang-benang muncul di udara yang basah, menembus tirai hujan seperti cahaya yang menembus kaca buram. Dari tenda putih di kejauhan, puluhan benang menjulur ke segala arah. Dari Dimas ke Rara, dua benang setebal tali sepatu, bergetar seperti sedang menari. Dari nenek Rara ke almarhum suaminya, sebuah benang tua yang naik pelan ke langit kelabu, menembus awan hujan.

Dan dari dada Mikaela, di bawah payungku, di balik jaket denimku, benang setebal tali kapal itu masih di sana. Merah tua, berdenyut, menancap ke dadaku dengan kehangatan yang hampir bisa kurasakan di kulit.

Tidak berubah. Tidak menipis. Seperti biasa.

Tapi kali ini ada yang lain.

Di samping benang itu, menjulur ke arah yang berlawanan, ada benang kedua.

Tipis. Sangat tipis. Setipis benang jahit yang paling halus, yang biasa dipakai untuk menjahit kancing kemeja. Merah muda pucat, hampir transparan, hampir tidak terlihat di antara titik-titik hujan. Tapi bergetar. Bergetar halus, hangat, hidup.

Dan benang itu tidak keluar dari dada Mikaela.

Benang itu keluar dari dadaku.

Ke arahnya.

Aku berhenti bernapas.

Dua belas tahun aku melihat benang orang lain. Ribuan benang. Benang yang menebal, benang yang menipis, benang yang putus, benang yang naik ke langit. Dan selama dua belas tahun itu, setiap kali aku menunduk melihat dadaku sendiri, aku hanya menemukan satu benang tenang. Ke Ibu. Lurus, setebal tali sepatu, tidak bergetar. Benang anak laki-laki ke ibunya, yang sudah ada di sana sejak aku pertama kali bisa melihat.

Lima tahun terakhir, tidak ada satu pun benang asmara yang keluar dari dadaku. Tidak ada satu pun.

Aku memastikannya. Aku menjaganya. Aku membangun tujuh aturan hidup untuk memastikan itu tidak pernah terjadi lagi.

Dan sekarang, di bawah payung hitam di tengah hujan Lembang, dengan seorang perempuan bergaun kuning yang basah kuyup memakai jaketku, sebuah benang tumbuh dari dadaku tanpa izin.

Tipis. Baru. Tapi ada.

Benangku sendiri berkhianat.

“Evan?”

Mikaela menatapku dari balik kerah jaket. Alisnya berkerut sedikit.

“Kamu kenapa? Kamu pucat.”

“Nggak apa-apa.”

“Kamu kayak lihat hantu.”

Aku menatap benang tipis yang menjulur dari dadaku ke dadanya. Benang yang tidak pernah kuinginkan. Benang yang tidak bisa kupotong, tidak bisa kusembunyikan, tidak bisa kukendalikan.

Aku menatap perempuan di ujung benang itu, yang tidak tahu apa-apa, yang memeluk buku tamu berlumpur dan jaketku, dengan bibir membiru dan mata yang khawatir.

Lebih buruk dari hantu.

“Ayo ke tenda,” kataku. Suaraku keluar lebih kasar dari yang kumaksud. “Kamu bisa sakit.”

Aku berbalik dan berjalan ke arah tenda, memegang payung tinggi-tinggi di atas kepala kami berdua. Mikaela berjalan di sebelahku, bahunya menyentuh lenganku di setiap langkah. Kami tidak bicara.

Benang tipis itu ikut berjalan bersamaku. Memendek setiap kali bahunya menyentuh lenganku. Memanjang setiap kali ia menjauh sedikit.

Detak jantungku tidak mau turun. Seratus dua puluh sembilan sepanjang jalan ke tenda.


Di tenda, Lulu menyambut kami dengan dua handuk dan wajah datar yang sedikit, sangat sedikit, terlihat puas.

“Bu. Mas Evan.” Ia menyerahkan handuk. Matanya berhenti di jaket denim yang membungkus bahu Mikaela. Lalu di bajuku yang basah kuyup tanpa jaket. Lalu di wajahku.

Ia mengambil clipboard-nya, yang masih dibungkus plastik, dan menulis sesuatu.

Aku tidak perlu melihat. Aku tahu angkanya naik.

Dodo muncul dari belakang Lulu, basah kuyup, dengan Pak Kumis di pelukannya. Kambing itu terlihat tenang, bahkan puas, seperti sedang dipeluk anaknya sendiri.

“Bang! Bang, saya nangkep Pak Kumis!” Ia berhenti. Menatap aku. Menatap Mikaela. Menatap jaket. Menatap aku lagi.

Wajahnya pelan-pelan berubah. Dari bangga, ke bingung, ke pemahaman, ke kegembiraan yang tidak bisa disembunyikan.

“Bang,” bisiknya. “Bang. Itu jaket keramat. Abang nggak pernah minjemin jaket itu ke siapa-siapa. Saya pernah minjem pas kehujanan di Cimahi, Abang bilang mending saya pakai karung beras.”

“Dodo.”

“Saya cuma bilang fakta, Bang.”

Mikaela menatapku dari balik handuk yang sedang ia pakai untuk mengeringkan rambut. Satu alisnya terangkat.

“Jaket keramat?”

“Dodo berlebihan.”

“Abang nggak pernah minjemin,” ulang Dodo, dengan nada orang yang sedang bersaksi di pengadilan. “Mbak Lulu, catat. Ini bukti.”

Lulu, tanpa ekspresi, menulis di clipboard.

Pak Kumis mengembik setuju.


Resepsi berakhir pukul delapan malam. Hujan sudah reda jadi gerimis tipis. Pengantin, yang masih memakai baju pengantin yang basah dan berlumpur, mengucapkan terima kasih ke semua orang dengan wajah yang paling bahagia yang pernah kulihat sepanjang minggu ini.

Rara memeluk Mikaela lama sekali ketika Mikaela menyerahkan buku tamu yang sudah dikeringkan dengan hair dryer pinjaman dari perias.

“Mbak,” katanya, menangis. “Mbak nyelametin buku nenek.”

“Nggak semua halaman, Ra. Halaman terakhir masih luntur.”

“Nggak apa-apa. Yang penting tanda tangan nenek selamat.” Rara menghapus air matanya. “Mbak tahu nggak, nenek tadi bilang apa waktu lihat Mbak lari ke kebun pakai jaket Mas fotografer?”

Mikaela menggeleng.

Rara tersenyum, melirikku sekilas, lalu berbisik di telinga Mikaela. Aku tidak mendengar apa yang ia katakan. Tapi aku melihat wajah Mikaela berubah merah. Merah sampai ke telinga. Merah seperti yang belum pernah kulihat, bahkan tidak di balkon Braga.

Ia tidak menoleh ke arahku sampai kami di parkiran.

Di samping mobilnya, ia berhenti. Ia masih memakai jaketku. Ia tidak menawarkan untuk mengembalikannya, dan aku tidak memintanya.

“Evan,” katanya, tanpa menoleh.

“Hm.”

“Tadi, di bawah payung. Kamu kayak lihat sesuatu.”

Aku diam.

“Kamu lihat apa?”

Aku menatap punggungnya. Rambutnya yang setengah kering dan sudah lepas dari kepangan. Jaket denim tua yang menelan bahunya. Gaun kuning yang sudah cokelat di bagian bawah karena lumpur.

Aku lihat benangku sendiri. Ke kamu. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun.

“Kamu bisa sakit,” kataku. “Itu yang kulihat.”

Ia akhirnya menoleh. Matanya mencari wajahku di bawah lampu parkiran yang redup. Lama. Lalu ia tersenyum, senyum kecil yang anehnya terlihat sedih.

“Oke,” katanya. “Kalau gitu jaketnya kubawa pulang. Biar aku nggak sakit.”

“Jaketnya...”

“Kamu mau aku sakit?”

“...Bawa.”

“Terima kasih.” Ia membuka pintu mobil. “Aku nggak janji balikin.”

“Itu jaket keramat.”

“Makanya.” Ia masuk ke mobil, menurunkan kaca jendela, dan menatapku dengan dagu tenggelam di kerah jaketku. “Sekarang punyaku.”

Mobilnya pergi. Lampu belakangnya menghilang di tikungan jalan kebun yang gelap.

Aku berdiri sendirian di parkiran yang becek, kedinginan, tanpa jaket, dengan jantung yang masih berdetak terlalu cepat.

Dan di dadaku, tidak terlihat karena detak jantungku sudah turun, aku tahu benang tipis itu masih ada. Masih menjulur. Masih mengikuti mobil yang sudah tidak kelihatan, ke arah jalan menuju Bandung.

Benang tidak hilang hanya karena aku tidak melihatnya.

Itu yang selalu paling menakutkan.

Ponselku bergetar.

dr. Fikri Kardio: Bro.
dr. Fikri Kardio: 129. Konstan. 47 menit.
dr. Fikri Kardio: Itu bukan detak jantung, Van. Itu lagu dangdut.
dr. Fikri Kardio: Siapa?

Aku tidak menjawab.

Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak menghapus pesannya juga.