← Gadis Tanpa Benang

Chapter Fourteen

Pernikahan Keenam: Uji Coba

POV: Evan

Benang itu menebal.

Di anak tangga ketiga Panti Kasih Ibu, dengan tangannya di dalam genggamanku, aku melihat benang setebal tali kapal itu bertambah tebal. Bukan banyak. Mungkin hanya beberapa helai. Tapi aku melihatnya, sejelas aku melihat retakan di ujung kiri anak tangga semen itu.

Setelah aku bilang aku bukan dia lagi. Setelah aku bilang aku takut. Setelah aku mengakui bahwa aku laki-laki penakut yang minum decaf dan sembunyi di toilet.

Benangnya menebal.

Itu tidak masuk akal. Dalam dua belas tahun, aku belum pernah melihat benang menebal karena seseorang mengakui kelemahannya. Benang menebal karena hadiah, karena kencan, karena ciuman, karena waktu yang dilewati bersama. Benang menebal karena hal-hal baik.

Benang tidak menebal karena seorang laki-laki bilang aku takut.

Kecuali kalau aku salah lihat.

Atau kecuali, dan ini yang membuatku tidak bisa tidur tiga malam berturut-turut, kecuali kalau yang ia cintai memang bukan anak tujuh belas tahun itu. Kalau yang ia cintai adalah sesuatu yang tidak kupahami.

Fotografer suka bukti. Aku butuh bukti.

Jadi aku menyusun rencana.


“Bang,” kata Dodo, menatap kertas yang kutempel di dinding ruang editing hari Kamis pagi. “Ini apa?”

“Rencana.”

“Rencananya kok judulnya Operasi Menyebalkan?”

“Karena itu yang mau kulakukan.”

Dodo membaca kertas itu dengan bibir bergerak. Daftar yang kutulis tangan semalam, dengan spidol hitam, dalam huruf kapital yang terlalu rapi untuk ukuran rencana jahat.

PERNIKAHAN #6. TUJUAN: MENJADI VERSI TERBURUK. LIHAT REAKSINYA.

1. Ketus. Jawab pendek. Jangan senyum.
2. Pelit. Jangan traktir apa pun. Minta bayar parkir patungan.
3. Pengecut. Hindari semua hal yang sedikit berbahaya.
4. Kritik dekorasi. (Dengan sopan, tapi kritik.)
5. Tolak kopi dari dia.
6. JANGAN BALAS FLIRT.

Nomor enam digarisbawahi dua kali.

Dodo menatapku. Lalu menatap kertas itu. Lalu menatapku lagi, dengan wajah orang yang baru saja diberitahu bahwa bumi ternyata memang bulat.

“Bang,” katanya pelan, “Abang mau bikin Ibu Negara benci sama Abang?”

“Aku mau lihat apa yang terjadi kalau dia lihat versi asliku.”

“Versi asli Abang nggak kayak gini, Bang.”

“Versi asliku penakut. Pelit. Ketus.”

“Versi asli Abang ngasih jaket keramat di bawah hujan, Bang. Versi asli Abang nangkep gelas pakai tangan kosong.” Dodo menggaruk kepala. “Versi asli Abang ngasih saya bonus Lebaran dua kali lipat padahal studio lagi bangkrut.”

“Itu... beda konteks.”

“Bang, saya cuma asisten. Saya cuma penggemar teori konspirasi. Tapi menurut saya ini rencana paling bodoh yang pernah saya lihat.” Ia berhenti. “Selain teori bahwa burung itu drone pemerintah. Itu lebih bodoh. Tapi dikit.”

“Kamu percaya teori itu.”

“Saya mempertimbangkan teori itu, Bang. Beda.”

Aku tidak menurunkan kertasnya.


Pernikahan keenam digelar di sebuah hotel bintang empat di Jalan Asia Afrika. Ballroom di lantai tiga, dengan karpet merah marun bermotif bunga, lampu kristal yang terlalu besar untuk langit-langitnya, dan dekorasi pelaminan bertema “Taman Eropa”: pilar-pilar Yunani palsu dari styrofoam, air mancur kecil dari plastik, dan sangkar burung emas berisi burung kenari sungguhan yang tidak berhenti berkicau.

Pengantinnya, Hendra dan Sinta, sama-sama akuntan. Mereka sangat tepat waktu, sangat rapi, dan sangat suka spreadsheet. Lulu, tentu saja, langsung jatuh cinta pada mereka.

“Mereka mengirim rundown versi sendiri,” bisik Lulu padaku dengan suara yang hampir terdengar emosional. “Dengan conditional formatting, Mas. Warna-warni. Saya hampir menangis.”

Mikaela datang dengan gaun midi berwarna merah marun.

Aku berhenti bernapas sebentar.

Gaun itu dari bahan satin yang mengilap lembut di bawah lampu kristal, dengan potongan leher V yang tidak terlalu dalam tapi cukup untuk memperlihatkan tulang selangkanya, dan tali tipis di bahu yang dilapisi bolero transparan berwarna senada. Rambutnya digerai, bergelombang, jatuh di satu sisi bahu. Lipstiknya merah tua yang sama persis dengan warna gaunnya. Anting mutiaranya diganti anting emas tipis berbentuk tetes air.

Ia terlihat seperti seseorang yang tahu persis efek yang ditimbulkannya, dan memutuskan untuk menimbulkannya dengan sengaja.

Dodo, di sebelahku, menjatuhkan tutup lensa.

“Bang,” bisiknya. “Bang, nomor enam. Ingat nomor enam.”

“Aku ingat.”

“Abang mangap, Bang.”

Aku menutup mulutku.

Mikaela berjalan ke arah kami dengan langkah yang tidak tergesa. Ia berhenti di depanku, cukup dekat untuk membuat Dodo mundur satu langkah dengan sopan, dan tersenyum.

“Pagi, Evan.”

Rencana nomor satu. Ketus. Jawab pendek. Jangan senyum.

“Pagi.”

Satu kata. Tanpa senyum. Aku bangga.

Mikaela memiringkan kepala. Matanya, yang hari ini dirias lebih gelap dari biasanya, menatapku dari atas ke bawah, lalu ke atas lagi.

“Kamu kenapa?”

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Kamu jawab pendek.”

“Hemat energi.”

“Kamu juga nggak senyum.”

“Lagi nggak mood.”

Ia menatapku lebih lama. Lalu ia mengulurkan tangannya, dengan segelas kopi Gayo V60 yang masih mengepul, seperti setiap pernikahan.

“Kopi?”

Rencana nomor lima.

“Nggak usah. Aku bawa decaf sendiri.”

Aku mengangkat termos kecilku. Termos berisi decaf yang kuseduh pagi tadi, dengan rasa air cucian piring yang dipanaskan.

Mikaela menatap termos itu. Lalu menatapku. Lalu, pelan-pelan, sangat pelan, sudut bibirnya naik.

“Oke,” katanya.

Ia tidak tersinggung. Ia tidak bertanya lagi. Ia hanya menyerahkan gelas kopinya pada Dodo, yang menerimanya dengan dua tangan seperti menerima piala, dan berjalan pergi ke arah pelaminan.

Tapi waktu ia lewat di sebelahku, aku mendengarnya bergumam sesuatu.

Sangat pelan. Hampir tidak terdengar.

Seperti tawa yang ditahan.


Jam pertama berjalan sesuai rencana.

Waktu Mikaela bertanya pendapatku tentang dekorasi pelaminan, aku bilang pilar-pilar Yunani palsunya terlalu banyak, air mancurnya terlihat murahan, dan burung kenarinya berisik. Dengan sopan. Tapi kritik.

Mikaela menatap pelaminan. Lalu menatapku.

“Kamu benar,” katanya. “Pilarnya kebanyakan. Pengantinnya yang minta. Aku udah usulin dua, mereka mau enam.” Ia mengangguk. “Kamu punya mata yang bagus.”

Itu bukan reaksi yang kuharapkan.

Waktu ia memintaku membantu memindahkan sangkar burung kenari karena terlalu dekat dengan sound system, aku menolak.

“Aku takut burung.”

Itu bohong. Aku tidak takut burung. Tapi itu rencana nomor tiga.

Mikaela menatapku lama. Lalu menatap burung kenari kecil berwarna kuning, yang sedang berkicau riang di dalam sangkarnya.

“Kamu takut,” katanya pelan, “sama burung kenari.”

“Iya.”

“Yang beratnya dua puluh gram.”

“Iya.”

“Yang lagi nyanyi lagu Cucak Rowo.”

Burung itu memang sedang berkicau dengan irama yang, kalau didengarkan dengan seksama, memang mirip Cucak Rowo.

“Burung itu tidak bisa diprediksi,” kataku.

Mikaela menutup mulutnya dengan punggung tangan. Bahunya bergetar.

“Oke,” katanya, dengan suara yang tidak stabil. “Aku yang pindahin. Kamu... tunggu di sini. Jauh dari bahaya.”

Ia mengangkat sangkar burung itu sendiri, membawanya ke sudut ruangan, dan aku bisa melihat bahunya masih bergetar sepanjang jalan.

Lulu, yang berdiri tidak jauh dariku, menulis sesuatu di clipboard.

“Kamu nulis apa?” tanyaku.

Lulu tidak mendongak. “Mas Evan takut burung kenari. 10.47.“

“Kenapa dicatat?”

“Untuk arsip, Mas. Saya rasa ini akan berguna di pidato pernikahan.” Ia berhenti. “Pernikahan siapa pun.”


Saat makan siang, aku menerapkan rencana nomor dua.

Mikaela membeli dua bungkus siomay dari pedagang kaki lima di depan hotel. Ia selalu melakukan itu, di setiap pernikahan, karena katanya makanan hotel tidak pernah mengenyangkan. Ia menyerahkan satu bungkus padaku.

“Berapa?” tanyaku.

Ia berkedip. “Apa?”

“Siomaynya. Berapa? Aku ganti.”

Mikaela menatapku seperti aku baru saja tumbuh tanduk.

“Lima belas ribu,” katanya akhirnya.

Aku mengeluarkan dompet. Mengambil uang sepuluh ribu dan lima ribu. Menyerahkannya padanya.

Ia menerimanya. Menatap uang itu di telapak tangannya. Lalu menatapku.

“Kamu,” katanya pelan, “ganti uang siomay.”

“Iya.”

“Lima belas ribu.”

“Biar adil.”

“Evan, kamu menolak kopi seharga empat puluh ribu tapi ganti siomay lima belas ribu.”

Aku tidak punya jawaban untuk itu. Aku tidak memikirkan matematikanya waktu menyusun rencana.

Mikaela melipat uang itu dengan rapi. Memasukkannya ke dompetnya, di balik foto KTP, di sebelah guntingan koran yang sekarang aku tahu persis ada di sana.

“Aku simpan,” katanya. “Uang siomay pertama dari Evan Mahendra. Ini bersejarah.”

“Itu bukan...”

“Bersejarah,” ulangnya, sambil membuka bungkus siomaynya dan mulai makan dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan.


Rencana nomor enam paling sulit.

Mikaela tidak berhenti menggodaku. Tidak sekali pun, sepanjang hari.

Waktu aku memotret sesi foto keluarga, ia berdiri di belakangku dan berbisik, “Kamu kelihatan seksi kalau lagi serius.”

Aku tidak membalas. Aku menatap viewfinder dengan sangat fokus. Jam tanganku bergetar. Aku mengabaikannya.

Waktu aku duduk di kursi di pojok ballroom untuk mengganti baterai, ia duduk di sebelahku, menyilangkan kakinya dengan gerakan yang membuat ujung gaun merah marunnya tersingkap sampai lutut, dan berkata, “Kamu tahu, gaun ini aku pilih buat kamu.”

Aku tidak membalas. Aku mengganti baterai dengan tangan yang sedikit gemetar. Baterainya terbalik. Aku harus memasangnya dua kali.

Waktu aku membungkuk untuk memungut tutup lensa yang jatuh, ia membungkuk juga, pada saat yang sama, dan wajah kami bertemu di bawah meja prasmanan. Sangat dekat. Hidungnya hampir menyentuh hidungku.

“Halo,” bisiknya.

Aku tidak membalas. Aku memungut tutup lensa, berdiri terlalu cepat, dan kepalaku membentur pinggiran meja prasmanan dengan suara dug yang keras.

Seisi meja prasmanan bergetar. Mangkuk sup jagung bergoyang. Seorang pelayan menjerit kecil.

Mikaela, yang masih berjongkok di bawah meja, tertawa sampai harus memegangi kaki meja supaya tidak jatuh.

Dan selama semua itu, aku melakukan sesuatu yang tidak ada di rencana tertulis.

Aku menaikkan detak jantungku dengan sengaja. Setiap jam. Dengan naik-turun tangga darurat hotel. Untuk mengecek benangnya.

Itu bagian rencana yang tidak kutulis di kertas. Bagian yang terlalu memalukan untuk ditempel di dinding ruang editing.

Jam sepuluh pagi, setelah aku menolak kopinya: benang setebal tali kapal. Seperti biasa.

Jam sebelas, setelah aku bilang takut burung kenari: benang itu... lebih tebal.

Aku menyipitkan mata di tangga darurat. Mungkin aku salah lihat.

Jam satu siang, setelah aku mengganti uang siomay: lebih tebal lagi.

Jam tiga sore, setelah aku membentur meja prasmanan: benang itu sekarang bergetar dengan cara yang belum pernah kulihat. Bukan getaran halus. Getaran yang hampir terlihat seperti tawa. Seolah benang itu sendiri sedang geli.

Rencanaku gagal total.

Semakin menyebalkan aku, semakin tebal benangnya.


Menjelang magrib, setelah resepsi selesai dan pengantin akuntan itu berterima kasih pada Lulu dengan mata berkaca-kaca karena semua berjalan tepat sesuai rundown sampai ke menit, aku duduk di tangga darurat hotel lantai tiga.

Sendirian. Dengan termos decaf yang sudah dingin, dan kepala yang masih berdenyut di bagian yang membentur meja.

Pintu tangga darurat terbuka.

Mikaela masuk. Gaun merah marunnya sedikit kusut setelah seharian bekerja. Sepatunya sudah dilepas dan ditenteng di satu tangan. Rambutnya mulai lepas dari ikatannya. Lipstik merah tuanya sudah memudar di tengah bibir.

Ia duduk di sebelahku. Di anak tangga yang sama. Tanpa bertanya.

Lama kami diam.

“Kamu lagi ngetes aku, ya?” katanya akhirnya.

Aku menatap termos di tanganku.

“Nggak.”

“Bohong.” Ia tidak terdengar marah. Ia terdengar geli. “Kamu ketus. Kamu nolak kopi. Kamu ganti uang siomay. Kamu bilang takut burung kenari. Kamu nggak balas satu pun gombalanku, padahal hari ini aku keluarin yang terbaik.” Ia menyenggol bahuku dengan bahunya. “Dodo cerita soal kertas di dinding.”

Aku menutup mata. “Dodo...”

“Dia nggak cerita banyak. Cuma bilang, Mbak, Abang lagi bikin rencana bodoh, tolong maafin dia duluan.“

Aku tertawa. Tawa yang lelah, yang tidak bisa kutahan.

“Kenapa?” tanya Mikaela pelan. “Kenapa kamu ngetes aku?”

Aku membuka mata. Menatap anak tangga di depan kami, yang turun ke lantai dua dalam gelap.

“Aku mau tahu,” kataku, “apa yang terjadi kalau kamu lihat versi asliku. Bukan anak SMA itu. Bukan fotografer yang kamu baca di wawancara. Aku yang sebenarnya. Yang penakut. Yang pelit. Yang ketus kalau lagi takut.”

“Terus? Hasilnya apa?”

Aku menoleh padanya.

Hasilnya, semakin menyebalkan aku, semakin tebal benangmu. Hasilnya, aku tidak mengerti sama sekali. Hasilnya, aku menghabiskan sepanjang hari naik-turun tangga darurat seperti orang gila, melihat sesuatu yang tidak bisa kujelaskan padamu.

“Hasilnya nggak jelas,” kataku.

Mikaela tersenyum. Ia mengangkat tangannya dan menyentuh dahiku, di bagian yang membentur meja prasmanan. Pelan. Dengan ujung jari. Ada benjolan kecil di sana, aku bisa merasakannya.

“Mau aku kasih hasilnya?” tanyanya.

“Hm?”

“Versi aslimu,” katanya, masih mengusap benjolan di dahiku dengan ujung jari, “lucu.”

Aku menatapnya.

“Lucu kayak kucing ngambek,” lanjutnya. “Yang pura-pura nggak mau dielus, tapi ekornya goyang-goyang.”

“Aku bukan kucing.”

“Kamu takut burung kenari, Evan. Kamu jelas kucing.”

Aku tidak bisa menahan tawa. Ia tertawa juga. Tawa kami bergema di tangga darurat yang sempit, memantul dari dinding beton ke dinding beton, sampai seolah-olah seluruh gedung ikut tertawa.

Lalu tawanya mereda. Tangannya turun dari dahiku, ke pipiku. Berhenti di sana. Hangat.

“Aku nggak cinta anak SMA itu,” katanya pelan.

Jantungku berhenti.

Ia mengatakan kata itu. Cinta. Di dalam kalimat negatif, nggak cinta anak SMA itu, tapi kata itu ada. Pertama kalinya kata itu keluar dari mulutnya.

Aku menunggu kalimat berikutnya. Kalimat yang logis. Aku cinta kamu.

Kalimat itu tidak datang.

Mikaela menatapku. Bibirnya terbuka. Aku melihat sesuatu bergerak di tenggorokannya, seperti kata-kata yang mendesak untuk keluar. Matanya bergetar. Tangannya di pipiku menegang sedikit.

Lalu ia menutup mulutnya. Menunduk. Menarik tangannya dari pipiku dan meletakkannya di pangkuan, mengepal.

“Kamu bisa ngetes aku sebanyak yang kamu mau,” katanya, dengan suara yang sedikit lebih pelan. “Kamu bisa jadi versi terburukmu. Tiap hari. Ketus. Pelit. Takut burung kenari.” Ia tersenyum kecil, tanpa menatapku. “Aku tetap di sini.”

Aku menatap profilnya di bawah lampu darurat yang hijau pucat. Bulu matanya yang menunduk. Tahi lalat kecil di bawah mata kirinya. Bibirnya yang mengatup rapat seperti menahan sesuatu.

Ia hampir mengatakannya. Aku melihatnya. Kalimat itu ada di ujung lidahnya, dan ia menelannya kembali.

Kenapa?

Jam tanganku bergetar.

Aku menunduk. Seratus dua puluh tujuh.

Tangga darurat berubah warna.

Benang setebal tali kapal dari dadanya ke dadaku. Lebih tebal dari tadi pagi. Lebih tebal dari kemarin. Bergetar hangat, hidup, seperti sedang tertawa dan menangis sekaligus.

Dan di sampingnya, benangku sendiri ke arahnya.

Sudah bukan benang jahit halus lagi. Sudah setebal benang jahit biasa. Mungkin lebih. Bergetar dengan cara yang sama dengan benangnya. Seperti dua senar gitar yang disetem dengan nada yang sama, dan yang satu ikut bergetar ketika yang lain dipetik.

Rencanaku gagal dua kali hari ini.

Pertama, benangnya tidak menipis.

Kedua, benangku sendiri tidak berhenti tumbuh.

“Mika,” kataku.

“Hm.”

Aku ingin bilang sesuatu. Sesuatu yang penting. Sesuatu yang mungkin akan mengubah segalanya.

Tapi yang keluar dari mulutku hanya:

“Siomaynya enak.”

Ia menoleh. Menatapku. Lalu tertawa lagi, tawa yang serak di ujung, sambil menutup wajahnya dengan dua tangan.

“Kamu,” katanya di balik tangannya, “laki-laki paling menyebalkan yang pernah kutunggu.”

Kutunggu.

Bukan kata yang kuharapkan. Bukan kata yang mungkin ia maksudkan. Aku melihatnya: sepersekian detik sebelum kata itu keluar, bibirnya membentuk sesuatu yang lain. Sesuatu yang dimulai dengan huruf yang berbeda. Lalu ia membelokkannya, seperti orang yang membanting setir di tikungan terakhir.

Aku tidak memintanya mengulang.

Tapi aku menyimpan kata itu. Di tempat yang sama dengan aku sudah biasa nunggu dan aku sudah menunggu terlalu lama untuk ditolak. Kumpulan kata-kata yang ia ucapkan seolah tidak berarti apa-apa, padahal setiap kata itu berat seperti batu.


Malam itu, di studio, aku mencabut kertas Operasi Menyebalkan dari dinding ruang editing.

Dodo, yang sedang mengedit foto di komputer sebelah, menatapku.

“Gagal, Bang?”

“Gagal total.”

“Syukurlah.” Dodo kembali ke layarnya. Lalu, setelah beberapa detik, “Bang, ini foto Abang kejedot meja prasmanan. Saya potret pakai kamera kedua. Mau saya masukin album klien atau album pribadi?”

“Hapus.”

“Saya masukin album pribadi, Bang. Buat pidato pernikahan nanti.”

“Pernikahan siapa?”

Dodo tidak menjawab. Ia hanya nyengir ke layar.

Aku meremas kertas Operasi Menyebalkan dan membuangnya ke tempat sampah.

Lalu, karena aku memang bodoh, aku memungutnya lagi, meluruskannya, dan menyimpannya di laci meja editing. Di bawah buku catatan dan kabel-kabel yang kusut.

Bukti pertama dalam hidupku bahwa sebuah benang bisa menebal karena kebodohan.

Aku tidak tahu harus menyebutnya apa.

Tapi aku tidak mau membuangnya.