Chapter Forty
Pernikahan Ketiga Belas
POV: Evan
Aku tidak memotret pernikahan ini.
Itu yang paling aneh. Empat ratus dua belas pernikahan dalam tujuh tahun, dan aku selalu berdiri di balik kamera. Di belakang tripod. Di pinggir ruangan. Di tempat yang aman, di mana aku bisa melihat semuanya tanpa ada yang melihatku.
Hari ini aku berdiri di depan kamera.
Dan Dodo yang memotret.
“Bang,” katanya, pukul enam pagi, di kamar tamu lantai dua rumah Papa di Setiabudi. Ia memakai kemeja batik yang disetrika Lulu dan peci hitam yang sudah dijahit Ibu supaya tidak melorot lagi. Di lehernya, tergantung Leica tua milik ayahku. “Bang, saya gugup.”
“Kamu udah motret ratusan pernikahan, Dod.”
“Sebagai asisten, Bang. Bukan fotografer utama.” Ia memegang Leica itu dengan dua tangan, seperti memegang bayi yang baru lahir. “Dan bukan pakai kamera ini. Ini kamera keramat, Bang. Lebih keramat dari jaket.”
“Itu kamera Bapak.”
“Makanya, Bang.” Dodo menatapku dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Pukul enam pagi. “Bapak Abang ikut motret hari ini. Lewat saya. Saya nggak boleh salah.”
Aku menatapnya.
Lalu aku memeluknya.
Dodo menangis di bahuku. Pukul enam pagi. Di kamar tamu lantai dua rumah Papa. Dengan kemeja batik yang disetrika Lulu dan Leica tua di antara dada kami.
“Bang,” isaknya. “Abang nikah, Bang. Abang yang dulu sembunyi di toilet.”
“Iya, Dod.”
“Abang yang takut burung kenari.”
“Aku nggak takut burung kenari. Itu bagian dari rencana.”
“Abang yang ganti uang siomay lima belas ribu.”
“Dod...”
“Saya bangga, Bang.” Ia melepaskan pelukannya. Menyeka matanya dengan sapu tangan berinisial L. “Saya bangga banget. Saya mau nangis seharian. Tapi saya nggak boleh, karena saya pegang kamera Bapak.”
Lulu menjadi wedding organizer.
Tentu saja Lulu menjadi wedding organizer. Kaela Wedding, dengan pemiliknya sebagai pengantin, tidak bisa menangani pernikahan pemiliknya sendiri. Jadi Lulu mengambil alih. Dengan clipboard. Dengan tiga lapis rundown berwarna-warni. Dengan conditional formatting.
“Mas Evan,” katanya, berdiri di ambang pintu kamar tamu dengan blazer hitam dan kacamata yang baru dibersihkan. “Laporan. Akad pukul sembilan. Wali nikah: Mas Bima. Saksi: dr. Fikri dan Pak Darto. Penghulu sudah di jalan. Katering sudah di dapur. Bu Ratih sudah di dapur. Bu Ratih menolak keluar dari dapur.”
“Ibu masak?”
“Ibu masak soto untuk tiga ratus orang. Katering sudah ada. Ibu bilang katering nggak bisa bikin soto yang benar.” Lulu mencentang sesuatu. “Saya sudah negosiasi. Soto Ibu jadi menu utama. Katering jadi menu pendamping. Kepala katering menangis sedikit. Saya kasih dia tisu.”
Aku tertawa.
“Satu lagi, Mas.” Lulu menatapku dari balik kacamata. Telinganya merah. “Mas Dodo bilang dia mau ngomong sesuatu ke saya. Hari ini. Setelah resepsi. Di depan semua orang.”
Aku menatapnya.
“Saya tidak tahu apa yang mau dia bilang,” lanjut Lulu dengan suara datar. “Tapi saya sudah siapkan jawabannya. Di clipboard. Halaman terakhir.”
Ia membalik clipboard-nya. Halaman terakhir. Satu kata. Ditulis besar-besar dengan spidol hitam. Digarisbawahi tiga kali.
IYA.
Aku tidak bisa berhenti tertawa.
Akad dilangsungkan di halaman depan rumah Papa.
Di bawah pohon-pohon kemuning yang sedang berbunga, dengan bunga-bunga putih kecil yang wanginya menyergap begitu kamu melangkah masuk gerbang. Tim Kaela Wedding memasang tenda putih sederhana, dengan kursi-kursi kayu yang ditutup kain linen putih dan rangkaian baby’s breath di setiap ujung barisan. Bukan lily. Lily mahal dan bikin bersin.
Di tengah, meja akad dari kayu jati. Meja dari ruang baca Papa. Meja tempat Papa mengisi teka-teki silang dan selalu salah di mendatar nomor satu.
Tiga ratus tamu.
Aku mengenali hampir semuanya.
Pak Darmawan dan Bu Sumarni, yang datang dari Braga dengan tangan Bu Sumarni di lengan suaminya dan tidak gemetar sama sekali. Tiara, bridesmaid dari Ciumbuleuit, dengan pacar barunya. Dimas dan Rara, dokter hewan dari Lembang, dengan Pak Kumis yang memakai dasi kupu-kupu merah baru. Bagas, yang tidak pingsan hari ini, dan istrinya. Rendi dan Nisa. Yoga dan Rini dari Pangalengan. Dika dan Saras, dengan dua pemadam kebakaran yang membawa sirene kecil, yang Lulu sita di pintu masuk.
Gilbert dan Ayu. Dan Oma Lies. Di kursi roda. Dengan selang oksigen di hidungnya dan tabung oksigen portabel yang ia bawa sendiri. Biar nggak ngerepotin laki-laki itu lagi, katanya pada Lulu waktu masuk.
Ia menatapku dari kursi rodanya. Lalu menunjukku. Lalu menunjuk pipinya sendiri.
Aku berjalan ke arahnya. Membungkuk. Ia mencium pipiku. Dua kali. Kiri dan kanan.
“Laki-laki yang lari bawa tabung,” katanya. Suaranya serak. “Oma janji cium. Oma tepatin.”
Bu Ningsih dari Panti Kasih Ibu, dengan tongkat dan kebaya abu-abu, duduk di barisan depan dengan anak perempuan berkuncir dua dari tempat tidur nomor tujuh belas di pangkuannya.
Satpam Dedi dari Rumah Sakit Borromeus, dengan seragam dan peci, yang membawa termos teh manis dan memberikannya padaku di gerbang. Biar nggak masuk angin, Mas. Nikah itu capek.
Karyawan-karyawan percetakan Papa. Dengan seragam batik biru.
Bi Iyah, yang menangis sejak subuh.
Dan Fikri. Dengan jas hitam dan dasi yang miring. Duduk di kursi saksi di sebelah meja akad. Dengan Stetoskop, kucing oranye galak yang mirip Nadia, di dalam tas kucing di bawah kursinya, mengeong setiap lima menit.
“Fik,” kataku. “Kenapa kucingnya dibawa?”
“Dia nggak bisa ditinggal sendiri. Dia punya kecemasan perpisahan.” Fikri membetulkan dasinya yang miring. Gagal. “Mirip aku.”
Bima menjadi wali nikah.
Karena Papa sudah tidak ada. Karena ayah kandung Mikaela sudah meninggal dua puluh lima tahun lalu. Karena Bima, kakak kandung laki-laki, adalah wali yang sah menurut agama.
Ia duduk di seberangku di meja akad dari ruang baca Papa. Dengan beskap hitam yang dijahit khusus, karena tidak ada beskap ukuran standar yang muat di bahunya. Dengan blangkon yang dipasang Ibu dengan hati-hati. Dengan berewok yang dicukur rapi untuk pertama kalinya, memperlihatkan tahi lalat kecil di bawah mata kirinya. Persis di tempat yang sama dengan adiknya.
Tangannya, yang besar dan kasar dan masih ada noda oli samar di buku-buku jarinya, menggenggam tanganku di atas meja.
Gemetar.
Bukan gemetar sedikit. Gemetar seperti mesin motor yang baru dinyalakan di pagi yang dingin.
“Bang,” bisikku. “Bang, tarik napas.”
“Saya udah tarik napas dari subuh, Mas.”
“Tarik lagi.”
Bima menarik napas. Panjang. Gemetar.
Penghulu, bapak tua dengan peci hitam yang sudah pudar, menatapnya dengan sabar.
“Silakan, Pak Bima.”
Bima membuka mulutnya.
“Saya nikahkan...”
Suaranya pecah.
Ia berhenti. Menunduk. Bahunya bergetar.
Tiga ratus tamu menahan napas.
“Maaf,” isaknya. “Maaf, Pak. Saya... saya baru ketemu adik saya empat bulan. Saya cari dia enam tahun. Dan sekarang saya harus... harus nyerahin dia...”
Ia menangis. Di meja akad. Dengan blangkon yang mulai miring dan tangan yang masih menggenggam tanganku.
Dari barisan belakang, aku mendengar seseorang terisak. Lalu orang lain. Lalu Ibu, dari pintu dapur, dengan suara yang bisa terdengar sampai ke Jalan Setiabudi.
Teh Neneng, dari barisan kedua, berdiri dan berjalan ke meja akad. Meletakkan tangannya di bahu Bima. Menepuknya pelan. Dua kali. Lalu kembali ke kursinya tanpa berkata apa-apa.
Bima menarik napas. Mengangkat kepalanya. Menyeka matanya dengan lengan beskap.
“Saya coba lagi, Pak,” katanya.
“Silakan, Pak Bima,” kata penghulu, dengan senyum yang sangat sabar.
“Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Evan Mahendra bin Hendra Mahendra...”
Suaranya bergetar. Tapi tidak berhenti.
“...dengan adik kandung saya, Mikaela Wirawan binti Haryanto Prasetya...”
Ia berhenti sebentar. Air matanya jatuh ke meja jati.
“...yang juga anak dari almarhum Bapak Hadi Wirawan, yang besarin dia waktu saya nggak ada...”
Penghulu menatapnya. Tidak menghentikannya. Itu bukan bagian dari lafaz ijab. Tapi penghulu itu tidak menghentikannya.
“...dengan mas kawin seperangkat alat salat dan satu cetakan foto berjudul Sudah Ada yang Menunggu, dibayar tunai.”
Ia menatapku. Matanya merah dan basah.
Aku menarik napas.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak menghitung. Tidak empat hitungan. Tidak tahan tujuh. Tidak buang delapan.
Aku hanya bicara.
“Saya terima nikah dan kawinnya Mikaela Wirawan binti Haryanto Prasetya dengan mas kawin tersebut, tunai.”
Satu napas. Lancar. Tidak tersendat sekali pun.
Penghulu menatap kedua saksi.
“Sah?”
Fikri menatapku. Lalu tersenyum. Senyum yang lebar sekali, yang membuatnya terlihat sepuluh tahun lebih muda, yang belum pernah kulihat sejak Gedung Sate tiga tahun lalu.
“SAH!“
Pak Darto, di sebelahnya, mengangguk dengan mata yang basah.
“Sah.“
Tiga ratus tamu bertepuk tangan. Takbir. Tangis. Seseorang membunyikan sirene kecil yang lolos dari sitaan Lulu. Pak Kumis mengembik. Stetoskop mengeong dari dalam tas kucing.
Dan Bima, di seberang meja akad, menangis paling keras.
Lebih keras dari Ibu. Lebih keras dari Bi Iyah. Lebih keras dari Dodo, yang memotret dengan Leica tua sambil terisak sampai bahunya berguncang.
Bima menangis seperti seseorang yang baru saja menemukan sesuatu dan menyerahkannya dalam empat bulan. Seperti seorang kakak yang mencari adiknya enam tahun dengan motor butut, dan sekarang harus melepaskannya ke laki-laki lain.
Tapi ia tidak melepaskan tanganku.
Ia meremasnya. Keras. Sampai buku-buku jariku berbunyi.
“Jaga dia, Mas,” isaknya. “Jaga adik saya.”
“Aku jaga, Bang.”
“Seumur hidup.”
“Seumur hidup.”
Bima mengangguk. Lalu, masih menangis, merogoh saku beskapnya. Mengeluarkan sesuatu. Meletakkannya di atas meja jati di depanku.
Kunci inggris.
Ukuran tiga puluh dua. Dari besi. Dengan pita merah kecil yang diikat di pegangannya.
“Hadiah,” katanya. Dengan suara yang masih bergetar. “Buat Mas. Biar Mas inget. Kalau Mas bikin dia nangis...”
Ia berhenti. Menatap kunci inggris itu. Lalu menatapku. Lalu menangis lagi.
“...saya nangis juga,” katanya akhirnya. “Kayak sekarang.”
Mikaela keluar dari pintu rumah setelah akad.
Seperti adat di keluarganya. Seperti Nisa di balik tirai, seperti Ayu, seperti Saras. Pengantin perempuan menunggu di dalam sampai suaminya sah. Lalu keluar.
Ia berdiri di ambang pintu rumah Papa.
Dan seluruh halaman diam.
Ia memakai kebaya putih. Kebaya yang dijahit dari kain yang Papa beli di toko kain di Pasar Baru, dua puluh tahun lalu. Kain dari tumpukan setinggi lemari di kontrakan Papa. Kain yang Papa beli setiap minggu selama dua tahun, untuk perempuan bernama Ratna, dan tidak pernah dijahit. Bi Iyah menemukannya di gudang, di dalam peti kayu, dibungkus plastik dan kapur barus. Masih utuh. Masih putih. Ibu yang menjahitnya, dengan tangan yang penuh bekas luka bakar minyak goreng, selama tiga minggu.
Siger Sunda di kepalanya. Melati di sanggulnya. Anting mutiara kecil. Lipstik merah bata, yang sama dengan malam pertama di ballroom Lembang.
Dan di lehernya, dengan rantai emas tipis, sebuah liontin kecil. Bundar. Dari kaca.
Di dalamnya, sepotong kecil kertas koran. Yang sudah sangat lunak. Lebih mirip kain daripada kertas.
Ia berdiri di ambang pintu rumah Papa, dengan kebaya dari kain yang tidak pernah dijahit untuk perempuan lain, dan menatapku.
Matanya terlihat seperti sedang menahan senyum.
Lalu ia berhenti menahannya.
Ia tersenyum. Lebar. Dengan lesung tipis di pipi kanannya. Dengan tahi lalat kecil di bawah mata kirinya yang ikut terangkat.
Dan ia cantik dengan cara yang membuat Dodo menurunkan Leica tua itu dari matanya, menatapnya tanpa lensa, dan lupa menekan tombol rana.
Cantik dengan cara yang tidak ada hubungannya dengan kebaya, atau siger, atau lipstik.
Cantik seperti seseorang yang sudah berhenti menunggu.
Ia berjalan ke arahku. Menuruni tiga anak tangga teras rumah Papa. Pelan. Tidak tergesa. Tidak lambat.
Langkah orang yang tahu persis ke mana ia pergi.
Ia berhenti di depanku. Di samping meja akad. Di bawah pohon kemuning yang menggugurkan bunga-bunga putih kecil di rambut kami.
Penghulu menyerahkan buku nikah. Kami menandatanganinya. Tanganku gemetar. Tangannya tidak.
Lalu, seperti adat, ia mencium tanganku.
Dan aku mencium dahinya.
Dan seluruh halaman bertepuk tangan lagi, dan Ibu menangis dari pintu dapur, dan Bima menangis di kursi wali, dan Dodo menangis di balik Leica, dan Lulu menulis sesuatu di clipboard dengan tangan yang gemetar.
Resepsi dimulai pukul satu siang.
Di halaman yang sama. Di bawah tenda yang sama. Dengan soto Ibu sebagai menu utama dan katering sebagai menu pendamping. Kepala katering, setelah mencicipi soto Ibu, meminta resepnya. Ibu menolak.
Pelaminannya sederhana. Dua kursi kayu dari ruang tamu Papa, ditutup kain putih, di depan latar belakang yang dibuat Lulu dan tim Kaela Wedding semalaman.
Latar belakangnya tali-tali jemuran. Seperti di halaman panti. Puluhan tali yang direntang dari tiang ke tiang, dengan foto-foto yang tergantung dengan penjepit kayu.
Dan di tengahnya, satu tali merah.
Di ujung tali merah itu, dua foto. Berdampingan.
Yang kiri: anak perempuan tiga belas tahun di anak tangga ketiga. Menatap gerbang. Belum Ada yang Menunggu.
Yang kanan: perempuan dua puluh lima tahun di anak tangga ketiga. Menatap kamera. Tersenyum. Sudah Ada yang Menunggu.
Tamu-tamu datang ke pelaminan. Bersalaman. Memberi doa. Berfoto.
Ibu datang dengan Pak Darto. Ibu memeluk Mikaela begitu lama sampai antrean tamu di belakangnya mulai berbisik. Lalu Ibu memelukku. Lalu Ibu berbisik di telingaku.
“Bapakmu nonton, Van.”
“Aku tahu, Bu.”
“Benangnya. Masih ada?”
Aku tidak bisa melihat. Aku tidak akan pernah bisa melihat lagi.
“Masih ada, Bu,” kataku. “Aku percaya.”
Ibu menatapku. Lalu tersenyum. Senyum yang membuatnya terlihat seperti anak gadis.
“Pinter,” katanya. “Anak Ibu pinter. Udah belajar.”
Fikri datang dengan Stetoskop di gendongan. Kucing oranye itu mendesis padaku. Lalu mendengus pada Mikaela. Lalu, entah kenapa, mendengkur ketika Mikaela menggaruk dagunya.
“Pengkhianat,” gumam Fikri pada kucingnya.
Lalu ia menatapku. Meletakkan dua jari di pergelangan tanganku. Di bawah tali jam tangan.
“Delapan puluh empat,” katanya. “Di hari pernikahan. Di pelaminan. Dengan pengantin perempuan yang cantiknya keterlaluan di sebelahmu.”
“Obatnya bekerja.”
“Obatnya bekerja.” Fikri tersenyum. “Selamat, Van. Jantungmu bakal hidup lama.”
Pukul empat sore, setelah semua tamu bersalaman, Lulu naik ke panggung kecil di sebelah pelaminan dengan mikrofon dan clipboard.
“Hadirin,” katanya, dengan suara datar yang bergema dari sound system. “Sesuai rundown, sekarang adalah sesi pidato.”
Ia menatap clipboard-nya.
“Pidato pertama dari Mas Dodo. Durasi maksimal tiga menit. Saya akan potong kalau lewat.”
Dodo naik ke panggung. Dengan Leica di leher dan sapu tangan berinisial L di tangan. Mengambil mikrofon dari Lulu. Jari mereka bersentuhan. Lulu menarik tangannya cepat-cepat. Telinganya merah.
Dodo berdeham.
“Bapak-Ibu sekalian,” katanya. “Hari ini adalah hari bersejarah bagi bangsa.”
Seluruh halaman tertawa.
Dodo bercerita. Tentang ballroom Lembang dan kue tiga tingkat. Tentang Ibu Negara dan Menteri Pertahanan. Tentang toples decaf yang ditukar. Tentang drone yang nyasar di balkon Braga. Tentang jaket keramat. Tentang toilet.
“Abang saya sembunyi di toilet empat puluh tujuh menit,” katanya, “karena Ibu Negara datang bawa kopi.”
Tiga ratus orang tertawa. Mikaela menutup wajahnya dengan tangan. Aku menatap langit.
Lalu Dodo menunjukkan foto. Di layar proyektor yang dipasang Lulu di samping panggung.
Foto aku. Di hotel Asia Afrika. Membentur meja prasmanan. Dengan wajah kesakitan dan mangkuk sup jagung yang bergoyang di latar belakang.
“Ini Abang saya,” kata Dodo, “waktu lagi pura-pura nggak suka Ibu Negara.”
Halaman meledak.
Dodo bicara empat menit tiga puluh detik. Lulu tidak memotongnya.
Di akhir pidatonya, Dodo menatapku. Matanya basah.
“Bang,” katanya, ke mikrofon. “Abang ngajarin saya satu hal. Waktu Abang lagi hancur. Di lantai ruang editing. Abang bilang, jangan kayak aku. Tanya.“
Ia menurunkan mikrofon. Berbalik. Menatap Lulu, yang berdiri di samping panggung dengan clipboard di dada.
“Mbak Lulu,” katanya. Tanpa mikrofon. Tapi cukup keras untuk didengar seluruh halaman. “Saya mau tanya. Di depan semua orang.”
Lulu membeku.
Dodo berlutut. Di atas panggung kecil. Dengan Leica tua di leher dan sapu tangan berinisial L di tangan.
“Mbak mau nikah sama saya?”
Halaman sunyi.
Tiga ratus orang menatap Lulu.
Lulu tidak menjawab dengan kata-kata. Lulu tidak pernah menjawab dengan kata-kata.
Ia membuka clipboard-nya. Membalik ke halaman terakhir. Mengangkatnya tinggi-tinggi. Menghadap Dodo. Menghadap tiga ratus tamu.
Satu kata. Ditulis besar-besar dengan spidol hitam. Digarisbawahi tiga kali.
IYA.
Halaman meledak lagi. Lebih keras dari ijab kabul. Seseorang membunyikan sirene. Pak Kumis mengembik. Stetoskop mengeong.
Dan Lulu, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, tertawa keras. Tawa yang lepas, yang serak, yang membuatnya membungkuk dan menutup mulut dengan clipboard.
Dodo memeluknya. Mengangkatnya dari panggung. Clipboard jatuh.
Lulu tidak memungutnya.
Pukul lima sore, ketika matahari mulai turun dan cahaya keemasan menembus daun-daun kemuning, giliran Mikaela.
Ia berdiri di depan pelaminan. Dengan kebaya putih dari kain yang tidak pernah dijahit. Dengan mikrofon di tangan yang tidak gemetar.
Ia menatapku.
“Aku nggak bisa ngomong,” katanya. Ke mikrofon. Suaranya bergema di halaman. “Dua belas tahun. Semua orang yang kenal aku tahu. Aku bisa ngatur empat ratus tamu. Aku bisa marahin vendor. Aku bisa suruh MC keluar dari toilet dalam dua detik. Tapi aku nggak bisa bilang satu kalimat.”
Beberapa orang tertawa pelan. Mereka tahu.
“Dua belas tahun, aku bikin dia lihat,” kata Mikaela. “Aku pegang nadinya. Aku tanya sekarang berapa. Aku bikin jantungnya naik, supaya dia bisa lihat sesuatu yang aku nggak bisa bilang.”
Ia diam sebentar. Menatapku.
“Dia udah nggak bisa lihat lagi,” katanya. “Jadi aku harus bilang.”
Ia menarik napas.
Dan ia mengatakannya. Tanpa tersendat. Tanpa berbelok. Tanpa kopi ini atau kamu bawa payung.
“Evan Mahendra. Aku cinta kamu.”
Satu napas. Lancar.
“Aku cinta kamu dari anak tangga ketiga. Aku cinta kamu dari guntingan koran yang jadi kain. Aku cinta kamu dari ballroom Lembang, dari bianglala, dari darkroom, dari bangku besi, dari delapan lantai tangga darurat.” Suaranya tidak bergetar. “Aku cinta kamu waktu kamu bisa lihat semuanya. Dan aku cinta kamu sekarang, waktu kamu nggak bisa lihat apa-apa, tapi tetap milih percaya sama aku.”
Ia tersenyum.
“Aku janji bilang ini tiap hari. Seumur hidup. Tiap pagi, waktu kamu tanya hari ini setebal apa. Aku janji jawab. Pakai suara. Supaya kamu nggak perlu lihat.”
Ia menurunkan mikrofon.
“Itu janjiku.”
Aku berdiri dari kursi pelaminan.
Aku tidak punya pidato. Aku tidak menyiapkan apa pun. Aku sudah bicara di anak tangga ketiga Panti Kasih Ibu, sebulan lalu, dengan cincin di tangan dan Dodo di balik pohon jambu air dengan drone yang tersangkut.
Aku tidak perlu bicara lagi.
Aku hanya berjalan ke arahnya.
Dan di bawah pohon kemuning, di depan pelaminan, di depan tiga ratus orang, di depan dua foto anak perempuan di anak tangga ketiga yang tergantung di tali merah, di depan Ibu dan Pak Darto dan Bima dan Teh Neneng dan Fikri dan Stetoskop dan Dodo dan Lulu dan Bu Ningsih dan Oma Lies dan Pak Kumis, dengan matahari jam lima sore yang keemasan menembus daun-daun dan bunga-bunga putih kecil yang jatuh di rambut kami...
Aku menciumnya.
Bukan ciuman di dahi. Bukan ciuman sopan untuk foto.
Aku menciumnya seperti di darkroom. Seperti di bawah lampu merah. Dengan kedua tangan menangkup wajahnya, hati-hati supaya sigernya tidak bergeser. Tanpa mengetuk.
Ia membalas. Tangannya menggenggam ujung beskapku, erat. Ada rasa asin di sana, air mata yang entah milik siapa.
Lebih dalam. Lebih lama.
Seperti seseorang yang sudah menunggu dua belas tahun, dan tidak mau menunggu satu detik lagi.
Halaman meledak. Tepuk tangan. Siulan. Teriakan. Seseorang, mungkin Fikri, berteriak JANTUNGMU, VAN! Seseorang lain, pasti Dodo, berteriak EVKA! EVKA! EVKA! Ibu menjerit dari pintu dapur. Bima menangis lagi.
Aku tidak mendengar apa pun.
Aku hanya merasakan dia. Tangannya yang gemetar di beskapku. Air matanya di ibu jariku. Dan jantungku sendiri, yang berdetak seolah ingin ikut menyalami tamu.
Jam tanganku bergetar.
Aku tidak menatapnya.
Aku tidak perlu tahu angkanya.
Aku tidak bisa melihat benang. Aku tidak akan pernah bisa melihat benang lagi. Dunia tidak akan pernah berubah warna. Aku tidak akan pernah tahu setebal apa benangnya ke arahku, hari ini, atau besok, atau sepuluh tahun lagi.
Aku menarik bibirku sedikit. Dahiku bersandar di dahinya. Napas kami bercampur.
Ia membuka mata. Menatapku dari jarak yang sangat dekat. Dengan mata yang besar, sedikit sipit di ujung, yang tidak lagi menahan senyum.
“Kamu lihat apa?” bisiknya.
Aku tersenyum.
“Kamu,” kataku.
“Cuma aku?”
“Cuma kamu.”
Ia tertawa. Basah. Bahagia.
“Nggak ada benang?”
“Nggak ada benang.”
“Nggak apa-apa?”
Aku menatapnya. Perempuan di depanku. Dengan kebaya dari kain yang tidak pernah dijahit untuk perempuan lain. Dengan guntingan koran di liontin di lehernya. Dengan bunga kemuning di rambutnya. Dengan tahi lalat kecil di bawah mata kirinya.
Gadis yang dulu tidak punya benang.
Istriku.
“Aku nggak perlu lihat,” kataku.
Dan aku menciumnya lagi.
- 1 Seratus Tiga Puluh Empat
- 2 Kontrak
- 3 Strategi
- 4 Pernikahan Pertama: Mempelai yang Salah Arah
- 5 Hidup di Bawah 110
- 6 Pernikahan Kedua: Lima Puluh Tahun
- 7 Benang yang Tidak Bergetar
- 8 Pernikahan Ketiga: Payung
- 9 Lari dari 120
- 10 Pernikahan Keempat: Pengantin Pingsan
- 11 Pernikahan Kelima: Pagar Panti
- 12 Belum Ada yang Menunggu
- 13 Dua Belas Tahun
- 14 Pernikahan Keenam: Uji Coba
- 15 Ulang Tahun Pernikahan Fikri
- 16 Bianglala
- 17 Resmi
- 18 Lampu Merah di Darkroom
- 19 Pernikahan Ketujuh: Benang Baru
- 20 Amplop
- 21 Yang Kedua Kalinya
- 22 Kamu Lihat Benangku ke Dia?
- 23 Gadis Tanpa Benang
- 24 Kunci Inggris
- 25 Pernikahan Kedelapan: Latihan Bicara
- 26 Aku Udah Tahu
- 27 Potret Terakhir
- 28 Pernikahan Kesembilan: Diagnosis Kedua
- 29 Malam Terakhir Hadi
- 30 Benang yang Naik
- 31 Kali Ini Aku yang Tanya
- 32 Botol Obat
- 33 Pernikahan Kesepuluh: Jaket
- 34 Cinta yang Bisa Diawasi
- 35 Pernikahan Kesebelas: Benang Ibu
- 36 Pernikahan Kedua Belas: Tangga Darurat
- 37 Seratus Dua Puluh Satu
- 38 Kopi Asli
- 39 Sudah Ada yang Menunggu
- 40 Pernikahan Ketiga Belas reading
- 41 Epilog — Sekarang Berapa?