Chapter Thirty Two
Botol Obat
POV: Evan
Aku bangun di karpet ruang baca dengan leher yang kaku dan selimut wol Papa di badanku.
Aku tidak ingat menarik selimut itu. Seseorang yang menyelimutiku.
Cahaya pagi masuk dari jendela, kelabu dan dingin. Kursi goyang di sebelahku diam. Lampu berdiri sudah dimatikan. Di dinding, anak perempuan di undakan tangga menatap gerbang.
Mikaela tidak ada.
Aku duduk. Menatap sekeliling. Ponselku di karpet di sebelahku, layarnya menyala dengan notifikasi.
Dodo: Bang.
Dodo: Bang, Mbak Mika ke studio. Jam 5 subuh. Pakai kunci cadangan.
Dodo: Saya lagi tidur di sofa, Bang. Dia nggak bangunin saya. Dia langsung ke dapur.
Dodo: Bang dia buka laci.
Dodo: BANG DIA NEMU.
Dodo: Bang dia cuma berdiri di dapur. Nggak ngomong apa-apa. Udah 20 menit.
Dodo: Bang saya takut.
Dodo: Bang dia pergi. Bawa obatnya. Sama amplop dari RS.
Dodo: Dia telepon seseorang di mobil. Saya dengar dia bilang “dr. Fikri”.
Dodo: BANG BANGUN.
Pesan terakhir dikirim empat puluh menit lalu.
Aku menatap layar.
Lalu aku menatap jam tanganku. Enam puluh delapan. Tablet semalam masih bekerja.
Jantungku tidak bisa berlari. Bahkan sekarang. Bahkan ketika seluruh tubuhku ingin berlari.
Aku menemukannya di Rumah Sakit Hasan Sadikin.
Di lantai tiga. Di depan pintu ruang praktik dengan papan nama kecil di sampingnya: dr. Fikri Ramadhan, Sp.JP.
Ia duduk di kursi plastik di koridor. Sendirian. Dengan gamis hitam yang sama dengan kemarin malam, kusut. Kerudung hitam yang dipasang asal. Wajah polos yang pucat dan mata yang merah.
Di pangkuannya, satu kantong plastik bening dari apotek rumah sakit. Isinya strip-strip tablet putih. Empat strip. Tiga masih utuh, belum dibuka sama sekali. Satu sudah hilang dua tablet.
Dan satu amplop putih dengan logo Rumah Sakit Hasan Sadikin. Amplop yang terbuka. Isinya selembar kertas yang sekarang ia pegang dengan dua tangan.
Jadwal Tindakan Ablasi Kateter. Pasien: Evan Mahendra. Tanggal: Kamis, 14 November. Dibatalkan atas permintaan pasien. Dijadwalkan ulang: belum ditentukan.
Ia tidak mendongak ketika aku berhenti di depannya.
Ia menatap kertas itu.
“Kamis,” katanya pelan. Suaranya datar. Sangat datar. Terlalu datar. “Kamis kemarin. Hari Papa meninggal.”
Aku tidak menjawab.
“Kamu batalin,” katanya. “Hari Senin. Di hari kamu pingsan di Pangalengan. Di hari aku telepon kamu jam sebelas malam dan nanya kamu baik-baik aja?“ Ia akhirnya mendongak. Menatapku. “Dan kamu bilang aku baik-baik aja.”
“Mika...”
“Kamu pingsan, Evan.” Suaranya tidak naik. Tapi bergetar. “Di kebun teh. Dodo gendong kamu dua puluh menit turun bukit. Detak jantungmu seratus delapan puluh tujuh. Kamu dibawa ke IGD. Fikri bilang jantungmu udah lemah. Empat puluh persen. Fikri bilang kalau nggak dioperasi, kamu bisa...”
Ia berhenti. Menelan ludah.
“Dan kamu bilang aku baik-baik aja.”
Pintu ruang praktik terbuka. Fikri keluar. Dengan jas putih dokter dan wajah yang lelah. Ia menatapku. Lalu menatap Mikaela. Lalu menatapku lagi.
“Satu minggu, Van,” katanya pelan. “Habis tadi malam.”
“Kamu bilang ke dia.”
“Dia yang nanya ke aku. Jam satu pagi. Dia rasain jantungmu waktu kamu tidur.” Fikri menatapku. “Dia bilang jantungmu lompat-lompat. Dia bilang ada jeda lama. Dia bilang sempat seratus dua puluh tujuh waktu kamu tidur.”
Aku menatap Mikaela.
Ia tidak tidur. Semalaman. Dengan tangan di dadaku. Menghitung.
“Dia nanya ke aku, itu beneran cuma kecapekan?“ lanjut Fikri. “Aku nggak bisa bohong ke dia, Van. Aku nggak bisa. Aku tahu rasanya dibohongi orang yang aku sayang.”
Aku tidak bisa menjawab.
Fikri menatap kami berdua. Lalu menunjuk pintu ruang praktiknya.
“Masuk,” katanya. “Dua-duanya. Aku jelasin semuanya sekali. Dengan benar. Habis itu kalian ngomong sendiri.”
Fikri menjelaskan.
Dengan gambar jantung di papan tulis kecil di ruang praktiknya. Dengan hasil ekokardiografi yang ditunjukkan di layar komputer. Dengan suara dokter yang tenang dan sistematis, yang tidak memberi ruang untuk salah paham.
Sindrom Wolff-Parkinson-White. Jalur listrik tambahan. Takikardia yang bisa muncul tiba-tiba, tanpa pemicu. Dan kardiomiopati, otot jantung yang melemah karena terlalu sering dipaksa berlari terlalu cepat terlalu lama.
“Fraksi ejeksinya empat puluh persen,” kata Fikri. “Normal di atas lima puluh lima. Dengan ablasi dan obat, bisa pulih. Mungkin nggak seratus persen. Tapi bisa jauh lebih baik.” Ia berhenti. “Tanpa ablasi, terus turun. Dan suatu hari, jantungnya lari terlalu cepat, dan nggak balik.”
Mikaela duduk di kursi di depan meja Fikri. Diam. Tangannya mengepal di pangkuan, di atas kantong obat.
“Kenapa jantungnya bisa kayak gitu?” tanyanya pelan. “Dari lahir?”
“Jalur tambahannya dari lahir,” kata Fikri. “Tapi kerusakannya...”
Ia menatapku.
Aku tidak menjawab.
Fikri menghela napas. “Kerusakannya karena dipaksa, Mika. Bertahun-tahun. Dia sengaja naikin detak jantungnya. Naik turun tangga. Berkali-kali. Tiap hari. Selama bertahun-tahun.”
Mikaela tidak bergerak.
Aku melihat wajahnya. Dari samping. Aku melihat sesuatu terjadi di sana, pelan-pelan, seperti es yang retak di permukaan danau.
Ia mengerti.
Ia tidak perlu dijelaskan kenapa. Ia sudah tahu kenapa. Ia sudah tahu dua belas tahun.
Jantungku kenceng banget, terus tiba-tiba semuanya merah.
Ia menoleh padaku. Pelan.
“Buat lihat,” bisiknya.
Aku tidak bisa menjawab.
“Kamu naik turun tangga,” katanya, “buat lihat benang.”
“Mika...”
“Sasha.” Suaranya bergetar. “Empat bulan. Kamu bilang kamu lihat dia berubah setiap hari. Kamu naik tangga tiap pagi buat lihat itu, kan?”
Aku menunduk.
“Dan pengantin-pengantin. Dan Nadia. Dan...” Ia berhenti. Napasnya terputus. “Dan aku.”
Hening.
“Aku pegang nadimu,” katanya, dengan suara yang hampir tidak keluar. “Di Lembang. Aku tanya sekarang berapa. Aku ganti decaf-mu sama kopi asli. Aku tantang kamu naik tangga di Braga. Aku bisik-bisik di telingamu waktu kamu motret. Aku cium kamu di bianglala.”
Air matanya mulai jatuh. Satu. Dua. Ke kantong obat di pangkuannya.
“Aku sengaja, Evan. Aku sengaja bikin jantungmu naik. Setiap kali. Karena aku mau kamu lihat.” Ia menutup mulutnya dengan tangan. “Aku yang...”
“Bukan kamu.”
“Aku yang bikin...”
“Bukan kamu, Mika.“ Aku meraih tangannya. Menariknya dari mulutnya. Menggenggamnya. “Fikri bilang bertahun-tahun. Bertahun-tahun sebelum kamu. Sasha. Pengantin-pengantin. Aku yang naik tangga. Aku yang maksa. Aku yang nggak bisa berhenti lihat.”
Ia menatapku dengan mata yang merah dan basah.
“Tapi aku nambahin.”
“Kamu nggak nambahin apa-apa.” Suaraku pecah. “Kamu satu-satunya alasan jantungku naik yang nggak bikin aku takut.”
Fikri berdeham pelan. Ia berdiri. Mengambil jas dokternya yang tergantung di kursi.
“Aku keluar sebentar,” katanya. “Kalian ngomong.”
Ia berhenti di pintu. Menatapku.
“Van. Jadwal ablasi berikutnya yang kosong hari Senin. Empat hari lagi. Aku udah tahan slotnya. Kamu harus konfirmasi hari ini.”
Ia keluar. Pintu tertutup.
Ruang praktik Fikri kecil. Meja kayu dengan tumpukan rekam medis. Rak berisi buku-buku kardiologi tebal. Model jantung plastik di sudut meja, yang bisa dibongkar seperti mainan. Jendela kecil yang menghadap ke parkiran rumah sakit.
Mikaela menatap model jantung itu lama.
“Empat hari,” katanya.
“Iya.”
“Kamu bakal konfirmasi?”
Aku tidak langsung menjawab.
Ia menoleh padaku. Menatapku. Dan aku melihat wajahnya berubah, ketika ia melihat wajahku.
“Evan.”
“Aku...”
“Kamu bakal konfirmasi, kan?”
Aku menatap tanganku. Tangan yang masih menggenggam tangannya. Lalu menatap jam tanganku. Enam puluh tujuh.
“Fikri bilang,” kataku pelan, “setelah ablasi, aku harus minum obat seumur hidup. Dosis tinggi. Supaya jantungku nggak dipaksa lagi.”
“Terus?”
“Terus jantungku nggak akan pernah lewat seratus dua puluh lagi.”
Hening.
Aku melihatnya memproses kalimat itu. Pelan. Satu kata demi satu kata. Aku melihat matanya melebar sedikit, ketika ia sampai di ujungnya.
“Kamu nggak akan bisa lihat lagi,” bisiknya.
“Nggak akan pernah.”
Mikaela menatapku lama.
Lalu ia menarik tangannya dari genggamanku.
Pelan. Tidak kasar. Tapi menarik.
“Itu sebabnya kamu batalin,” katanya. Suaranya datar. “Bukan karena Papa. Bukan karena kamu nggak mau aku nanggung dua orang sekaligus.”
“Itu juga.”
“Tapi bukan cuma itu.”
Aku tidak menjawab.
“Kamu nggak mau berhenti lihat,” katanya.
Aku menatapnya.
Aku tidak bisa berbohong lagi. Aku sudah berbohong padanya sekali. Aku baik-baik aja. Sekali sudah terlalu banyak.
“Aku nggak mau berhenti lihat,” kataku.
Mikaela berdiri. Mundur satu langkah dari kursinya. Kantong obat jatuh dari pangkuannya ke lantai. Strip-strip tablet putih berserakan di lantai ruang praktik.
Ia tidak memungutnya.
“Kamu batalin operasi yang bisa nyelametin nyawamu,” katanya. Suaranya naik sekarang. Sedikit. Bergetar. “Karena kamu nggak mau berhenti lihat benang.”
“Mika, dengar...”
“Kamu nggak minum obatnya.” Ia menunjuk strip-strip di lantai. “Tiga strip utuh, Evan. Fikri kasih kamu obat hari Senin. Kamu cuma minum dua. Dua tablet. Dalam empat hari.”
“Aku harus lihat Papa...”
“Papa?” Suaranya pecah. “Kamu nggak minum obat supaya bisa lihat benang Papa?”
“Aku janji sama dia! Aku janji aku bakal bilang ke kamu benangnya nggak putus. Aku harus lihat buat bisa bilang!”
Mikaela menatapku.
Lama sekali.
Dan aku melihat sesuatu di wajahnya yang belum pernah kulihat. Bukan marah. Bukan sedih. Sesuatu yang lebih dalam dari keduanya. Sesuatu yang terlihat seperti seseorang yang baru saja menyadari bahwa orang yang paling ia percaya di dunia telah melakukan hal yang paling ia takutkan.
“Kamu tahu apa yang kamu lakuin?” bisiknya. “Kamu tahu apa yang kamu lakuin ke aku?”
“Mika...”
“Tiga bulan Papa bohong ke aku.” Air matanya jatuh. “Papa bilang maag. Papa bilang kecapekan. Papa bilang jangan pulang, Mika. Papa pikir dia ngelindungin aku. Papa cuma ngambil tiga bulan dari aku. Tiga bulan yang harusnya aku di sini. Di sebelah dia.”
Ia menatapku.
“Dan kamu ngelakuin hal yang sama.”
“Aku nggak...”
“Kamu bilang aku baik-baik aja.” Suaranya pecah sepenuhnya sekarang. “Di telepon. Jam sebelas malam. Habis kamu pingsan. Kamu dengar suaraku. Kamu dengar aku lagi di rumah sakit sama Papa yang sekarat. Dan kamu bilang aku baik-baik aja.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
“Kamu yang bisa lihat semuanya, Evan.” Mikaela menatapku dengan mata merah dan basah dan hancur. “Kamu yang bisa lihat benang semua orang. Kamu yang tahu siapa cinta siapa, siapa bohong, siapa pergi. Kamu yang bisa lihat ke dalam hati semua orang di dunia ini.”
Ia menunjuk dadaku. Jarinya gemetar.
“Tapi kamu yang sembunyi.”
Ia pergi.
Tidak berlari kali ini. Tidak tanpa sepatu. Ia berjalan keluar dari ruang praktik Fikri dengan langkah yang pelan dan berat, seperti seseorang yang membawa sesuatu yang terlalu besar di punggungnya.
Aku tidak mengejarnya.
Jantungku enam puluh sembilan. Aku tidak bisa berlari bahkan kalau aku mau.
Aku berlutut di lantai ruang praktik. Memungut strip-strip tablet putih yang berserakan. Satu. Dua. Tiga. Empat. Memasukkannya kembali ke kantong plastik.
Pintu terbuka. Fikri masuk. Ia menatapku yang berlutut di lantai. Ia tidak berkata apa-apa. Ia berjongkok, membantuku memungut tablet terakhir yang menggelinding ke bawah meja.
“Dia marah,” kataku. Bukan pertanyaan.
“Dia takut, Van,” kata Fikri. “Itu beda. Orang yang takut kehilangan kelihatan kayak orang marah.”
Aku menatap kantong obat di tanganku.
“Senin,” kata Fikri. “Kamu konfirmasi?”
Aku tidak menjawab.
Fikri menatapku lama. Lalu berdiri. Menghela napas panjang.
“Aku udah tahan slotnya sampai jam lima sore,” katanya. “Setelah itu aku kasih ke pasien lain. Ada tiga orang di daftar tunggu.”
Ia berjalan ke mejanya. Duduk. Mengambil rekam medis dari tumpukan.
“Van,” katanya tanpa menoleh. “Aku mau tanya satu hal. Sebagai sahabat. Bukan dokter.”
“Apa?”
“Kenapa?” Ia akhirnya menatapku. “Kenapa kamu lebih takut nggak bisa lihat benang daripada takut mati?”
Aku menatapnya.
Aku tidak tahu jawabannya.
Aku memikirkannya sepanjang perjalanan pulang ke studio. Sepanjang siang. Sepanjang sore, sambil menatap jam dinding yang bergerak dari pukul dua ke pukul tiga ke pukul empat.
Pukul empat lewat lima puluh, aku masih belum tahu jawabannya.
Aku tidak menelepon Fikri.
Pukul lima, slot itu diberikan pada orang lain.
Malamnya, Dodo duduk di sebelahku di lantai ruang editing. Tidak bicara. Tidak memakai kaos konspirasi. Hanya kaos putih polos.
Lulu duduk di sofa di ruang depan. Dengan clipboard di pangkuan. Juga tidak bicara.
Aku tidak tahu kenapa mereka di sini. Mereka tidak bilang.
Pukul sepuluh, Lulu berdiri dan berjalan ke ruang editing. Berdiri di ambang pintu. Menatapku.
“Mas,” katanya.
Aku mendongak.
“Bu Mika di rumahnya. Di Setiabudi. Sendirian. Bi Iyah pulang kampung tiga hari.” Lulu berhenti. “Saya baru telepon dia. Dia angkat. Tapi dia nggak ngomong apa-apa. Saya cuma dengar dia napas. Lima menit. Lalu dia tutup.”
Aku menatap Lulu.
“Saya tidak tahu apa yang terjadi hari ini, Mas,” lanjut Lulu. “Saya tidak akan tanya. Tapi saya tahu satu hal.”
Ia membuka clipboard-nya. Membalik beberapa halaman. Berhenti di satu halaman. Menunjukkannya padaku.
Halaman dengan judul yang ditulis tangan: BU MIKA — CATATAN HARIAN (TIDAK UNTUK DIBACA BU MIKA).
Di bawahnya, ratusan baris. Tanggal-tanggal. Jam-jam. Catatan-catatan kecil.
Lulu menunjuk satu baris. Tanggal tiga tahun lalu. Di Singapura.
02.14. Bu Mika menangis di kamar mandi apartemen. Saya dengar dari kamar sebelah. Saya tidak masuk. Pagi harinya, Bu Mika bilang dia baik-baik saja. Saya tahu dia bohong. Saya tidak bilang apa-apa. Penyebab (dugaan): artikel majalah tentang fotografer di Bandung. Foto profil. Mata yang sedih.
Aku menatap baris itu.
Lulu menunjuk baris lain. Dua tahun lalu.
Bu Mika minta saya cari tahu: apakah fotografer itu masih minum decaf. Apakah pakai jam tangan detak jantung. Apakah menghindari tangga. Saya tanya kenapa. Bu Mika bilang: “Karena kalau dia masih begitu, berarti jantungnya masih bahaya. Dan aku harus pulang sebelum terlambat.”
Aku membaca baris itu tiga kali.
Aku harus pulang sebelum terlambat.
“Mas,” kata Lulu pelan. “Bu Mika tidak pulang ke Bandung hanya karena Pak Hadi. Bu Mika tidak pulang hanya karena mau Mas melihat.”
Ia menutup clipboard-nya.
“Bu Mika pulang karena dia takut Mas mati sebelum dia sempat bilang.”
Aku tidak bisa bernapas.
Lulu menatapku. Telinganya merah. Matanya, di balik kacamata, basah.
“Saya sudah melanggar privasi Bu Mika dengan menunjukkan ini,” katanya. “Saya akan catat pelanggaran ini di kolom Dosa Lulu. Saya akan minta maaf ke Bu Mika besok.”
Ia berbalik dan berjalan ke pintu.
Di ambang pintu ruang depan, ia berhenti.
“Mas Evan,” katanya, tanpa menoleh. “Bu Mika takut Mas mati sebelum dia bilang. Dan Mas sekarang batalin operasi.”
Ia pergi.
Dodo, di sebelahku, meletakkan tangannya di bahuku. Tidak berkata apa-apa.
Aku menatap pintu yang tertutup.
Lalu menatap dinding foto, dalam gelap. Ke tempat anak perempuan di undakan tangga menatap gerbang.
Dua belas tahun. Ia mengikutiku dari jauh. Membaca wawancaraku di kamar mandi apartemen jam dua pagi. Menangis untuk mata sedih di foto profil majalah. Mencari tahu apakah aku masih minum decaf, apakah aku masih memakai jam tangan, apakah aku masih menghindari tangga.
Bukan untuk tahu kebiasaanku.
Untuk tahu apakah jantungku masih dalam bahaya.
Ia tahu. Dari kalimatku di bawah tangga. Jantungku kenceng banget, terus tiba-tiba semuanya merah. Ia tahu bahwa melihat benang ada harganya.
Dan ia pulang.
Bukan supaya aku melihat.
Supaya aku tidak terus-terusan memaksa diriku melihat sendirian.
Kamu yang bisa lihat semuanya. Tapi kamu yang sembunyi.
Aku menutup wajahku dengan dua tangan.
Dan untuk pertama kalinya, aku mencoba menjawab pertanyaan Fikri dengan jujur.
Kenapa kamu lebih takut nggak bisa lihat benang daripada takut mati?
Karena kalau aku tidak bisa melihat, aku harus percaya.
Dan percaya adalah satu-satunya hal yang tidak pernah bisa kulakukan sejak pagi itu di kontrakan Sekeloa, dengan lemari kosong dan benang yang menggantung keluar pintu.
Aku tidak takut mati.
Aku takut percaya.
- 1 Seratus Tiga Puluh Empat
- 2 Kontrak
- 3 Strategi
- 4 Pernikahan Pertama: Mempelai yang Salah Arah
- 5 Hidup di Bawah 110
- 6 Pernikahan Kedua: Lima Puluh Tahun
- 7 Benang yang Tidak Bergetar
- 8 Pernikahan Ketiga: Payung
- 9 Lari dari 120
- 10 Pernikahan Keempat: Pengantin Pingsan
- 11 Pernikahan Kelima: Pagar Panti
- 12 Belum Ada yang Menunggu
- 13 Dua Belas Tahun
- 14 Pernikahan Keenam: Uji Coba
- 15 Ulang Tahun Pernikahan Fikri
- 16 Bianglala
- 17 Resmi
- 18 Lampu Merah di Darkroom
- 19 Pernikahan Ketujuh: Benang Baru
- 20 Amplop
- 21 Yang Kedua Kalinya
- 22 Kamu Lihat Benangku ke Dia?
- 23 Gadis Tanpa Benang
- 24 Kunci Inggris
- 25 Pernikahan Kedelapan: Latihan Bicara
- 26 Aku Udah Tahu
- 27 Potret Terakhir
- 28 Pernikahan Kesembilan: Diagnosis Kedua
- 29 Malam Terakhir Hadi
- 30 Benang yang Naik
- 31 Kali Ini Aku yang Tanya
- 32 Botol Obat reading
- 33 Pernikahan Kesepuluh: Jaket
- 34 Cinta yang Bisa Diawasi
- 35 Pernikahan Kesebelas: Benang Ibu
- 36 Pernikahan Kedua Belas: Tangga Darurat
- 37 Seratus Dua Puluh Satu
- 38 Kopi Asli
- 39 Sudah Ada yang Menunggu
- 40 Pernikahan Ketiga Belas
- 41 Epilog — Sekarang Berapa?