← Gadis Tanpa Benang

Chapter Twenty One

Yang Kedua Kalinya

POV: Evan

Aku mau ngenalin kamu sama seseorang.

Aku membaca pesan itu tujuh belas kali.

Aku tahu kamu lihat sesuatu di Ciater. Aku nggak tahu apa. Tapi apa pun itu, bukan seperti yang kamu pikir.

Tolong tunggu sampai besok. Satu hari aja.

Aku duduk di lantai ruang editing pukul sebelas malam, bersandar ke kaki meja, dengan ponsel di tangan dan Satu-Dua-Nol di pangkuan. Layar komputer di atas kepalaku masih menyala, menampilkan foto yang tidak bisa berhenti kutatap selama dua hari: Fikri dan Nadia di Gedung Sate, tiga tahun lalu. Nadia tertawa sampai matanya menyipit jadi garis. Fikri menatapnya seperti orang yang baru memenangkan lotre tapi takut tiketnya hilang.

Bukan seperti yang kamu pikir.

Aku tahu kalimat itu. Semua orang tahu kalimat itu. Itu kalimat yang diucapkan setiap orang yang tertangkap sedang melakukan persis seperti yang kamu pikir.

Aku mau ngenalin kamu sama seseorang.

Aku sudah mendengar versi kalimat itu juga. Dari Sasha. Tiga minggu sebelum lemari kosong. Van, nanti aku kenalin kamu sama teman kantorku, ya. Namanya Bram. Orangnya baik. Kamu pasti suka.

Aku tidak pernah bertemu Bram. Sasha tidak pernah mengenalkannya. Ia pergi sebelum sempat.

Tapi aku melihat benangnya. Setiap pagi. Tumbuh dari setipis helai rambut sampai setebal tali sepatu.

Aku menatap pesan Mikaela sekali lagi. Dua centang biru di bawahnya. Ia tahu aku sudah membacanya. Ia tahu aku tidak menjawab.

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Oke? Siapa? Jangan?

Aku sudah tahu?

Aku meletakkan ponsel di lantai, telungkup, dan menatap langit-langit.

Jantungku melompat. Lagi. Tanpa alasan. Seratus dua puluh tujuh, dalam keheningan ruang editing jam sebelas malam.

Ruangan berubah warna. Aku sendirian, jadi tidak ada benang lain kecuali benangku sendiri. Ke Ibu, tenang. Dan ke arah utara, ke arah Setiabudi, ke arah Rumah Sakit Borromeus di Jalan Juanda, ke arah perempuan yang tidur di sofa penunggu yang terlalu pendek: setebal tali sepatu, bergetar, bodoh.

Burung kecil di rusukku mengepak.

Aku menarik napas. Empat hitungan. Tahan tujuh. Buang delapan.

Lima kali sebelum jantungku mau turun.


Aku tidak berencana ke kafe itu.

Aku bersumpah aku tidak berencana. Aku bangun pukul enam pagi setelah tidur dua jam. Aku mandi. Aku minum decaf, karena aku sudah tidak percaya pada kopi asli. Aku mengedit foto pernikahan ketujuh sampai siang. Aku makan nasi bungkus dari warung Padang di ujung jalan yang dibawakan Dodo.

Dodo tidak banyak bicara hari itu. Itu sendiri sudah aneh. Ia duduk di komputer sebelah, mengedit foto, dan sesekali melirikku dengan wajah orang yang menyimpan sesuatu.

“Bang,” katanya, pukul tiga sore.

“Hm.”

“Abang nggak ke rumah sakit? Jenguk Pak Hadi?”

“Kemarin udah.”

“Abang cuma satu jam kemarin.”

“Pak Hadi butuh istirahat.”

Dodo diam. Lalu, pelan: “Bang. Mbak Lulu bilang Mbak Mika nangis di rumah sakit. Pagi tadi.”

Aku tidak menjawab. Aku menatap layar. Foto Gilang dan Sekar di tepi kolam renang di Ciater, dikelilingi baby’s breath.

“Bang,” kata Dodo lagi. “Abang tahu kan saya selalu di pihak Abang. Seratus persen. Saya bahkan rela digigit anjing tetangga waktu Abang lupa kunci studio.”

“Itu kamu yang nekat manjat pagar.”

“Demi Abang, Bang.” Ia berhenti. “Tapi kali ini... kali ini saya nggak ngerti. Abang sayang dia. Dia sayang Abang. Saya lihat sendiri di bianglala. Kenapa Abang kayak gini?”

Aku menatap layar.

Karena aku melihat benang baru, Dod. Karena aku melihat benang setipis rambut yang tumbuh dari dadanya ke laki-laki lain. Karena aku sudah melihat ini sebelumnya, dan aku tahu bagaimana ceritanya berakhir. Karena aku tidak mau menonton empat bulan lagi.

“Aku capek, Dod,” kataku.

Dodo menatapku lama. Lalu kembali ke komputernya tanpa berkata apa-apa.

Pukul setengah empat, aku keluar untuk membeli roti.

Itu kebiasaan. Setiap sore, di toko roti kecil di Jalan Dago bagian atas, tiga ratus meter dari studio. Roti sobek isi cokelat untuk Dodo. Roti gandum untukku. Aku sudah membeli di sana setiap hari selama lima tahun.

Aku tidak berpikir tentang apa yang ada di sebelah toko roti itu.

Atau mungkin aku berpikir. Mungkin, di suatu tempat di belakang kepalaku, aku tahu persis. Mungkin aku membaca lokasi yang ia kirim, Kafe Lereng, Jalan Dago 312, dan mengenalinya sebagai kafe yang setiap hari kulewati. Mungkin aku tahu bahwa pukul empat sore, ia akan ada di sana.

Mungkin aku pergi membeli roti karena aku ingin melihat.

Fotografer suka bukti.


Kafe Lereng adalah kafe kecil dengan dinding kaca lebar yang menghadap jalan, meja-meja kayu bulat, dan tanaman gantung di langit-langit. Tempat mahasiswa ITB mengerjakan tugas dan pasangan muda berkencan. Aku sudah melewatinya ribuan kali.

Hari itu, aku berhenti di trotoar di seberangnya.

Di bawah pohon flamboyan yang bunganya mulai gugur. Dengan kantong plastik berisi roti di tangan. Dengan jantung yang berdetak terlalu keras untuk orang yang hanya berdiri diam.

Dan aku melihatnya melalui dinding kaca.

Mikaela duduk di meja di sudut, dekat jendela. Ia memakai blus putih yang kusut dan celana jins. Rambutnya diikat asal. Wajahnya, bahkan dari seberang jalan, terlihat pucat dan lelah, dengan mata yang sembab. Ia tidak berdandan. Ia datang langsung dari rumah sakit, aku tahu.

Di seberangnya, laki-laki berewok itu.

Ia tidak memakai jaket kulit hari ini. Ia memakai kemeja kotak-kotak flanel yang terlihat baru dibeli, dengan lipatan dari toko yang masih kelihatan di bagian dada. Rambutnya disisir rapi, diikat di belakang. Ia duduk dengan punggung tegak dan tangan di atas meja, seperti seseorang yang sedang wawancara kerja.

Di atas meja di antara mereka ada dua gelas minuman yang tidak disentuh. Dan sebuah amplop cokelat besar.

Mikaela sedang bicara. Aku tidak bisa mendengar apa yang ia katakan. Aku hanya melihat bibirnya bergerak, pelan, dan tangannya yang memegang amplop cokelat itu dengan erat.

Laki-laki itu mendengarkan. Mengangguk. Mengangguk lagi.

Lalu Mikaela berhenti bicara. Dan menunduk.

Bahunya bergetar.

Ia menangis.

Laki-laki itu menatapnya. Lama. Lalu tangannya yang besar, kasar, dengan noda oli samar di buku-buku jarinya, terulur melintasi meja. Pelan. Ragu-ragu.

Dan menggenggam tangan Mikaela.

Mikaela tidak menarik tangannya. Ia membalik tangannya, telapak menghadap ke atas, dan menggenggam balik. Erat. Dua tangan. Seperti seseorang yang sedang tenggelam dan menemukan sesuatu untuk dipegang.

Jantungku melompat.

Seratus dua puluh. Seratus tiga puluh. Seratus empat puluh.

Jalan Dago berubah warna.

Benang-benang bermunculan di udara sore yang keemasan. Dari pejalan kaki ke pejalan kaki. Dari penjual roti di toko sebelah ke istrinya di kasir. Dari mahasiswa-mahasiswa di dalam kafe ke pacar-pacar mereka, ke orang tua mereka, ke orang-orang yang jauh.

Dan dari dada Mikaela, di balik dinding kaca, dua benang.

Satu menjulur keluar jendela kafe, menyeberangi jalan, ke dadaku di bawah pohon flamboyan. Setebal tali kapal. Merah tua. Seperti biasa.

Satu lagi menjulur ke seberang meja. Ke dada laki-laki berewok itu.

Benang itu sudah tidak setipis rambut lagi.

Sudah setebal benang jahit.

Dalam tiga hari. Dari helai rambut di parkiran Ciater ke benang jahit di Kafe Lereng. Tumbuh. Menebal. Seperti tunas yang disiram setiap hari.

Dan dari dada laki-laki itu, benang yang sama tebalnya, kembali ke Mikaela.

Aku menyipitkan mata. Mencoba melihat getarannya. Benang setebal benang jahit seharusnya sudah cukup tebal untuk memperlihatkan getarannya. Seharusnya aku bisa membedakan.

Tapi jarak terlalu jauh. Dinding kaca memantulkan cahaya sore. Dan mataku, mataku sendiri, mulai buram.

Aku tidak bisa melihat getarannya.

Aku hanya bisa melihat benang yang menebal.

Seperti Sasha.

Seperti Nadia.

Di dalam kafe, Mikaela berdiri dari kursinya. Laki-laki itu juga berdiri. Mereka berdiri berhadapan di samping meja di sudut dekat jendela.

Lalu Mikaela memeluknya.

Tidak ragu-ragu. Tidak canggung. Ia melingkarkan kedua lengannya di leher laki-laki besar itu dan memeluknya erat, dengan wajah tenggelam di bahunya yang lebar. Dan laki-laki itu, setelah satu detik yang membeku, memeluknya balik. Tangan besarnya di punggung Mikaela. Pelan. Hati-hati. Seperti memeluk sesuatu yang bisa pecah.

Seratus empat puluh tiga.

Kantong plastik berisi roti jatuh dari tanganku ke trotoar.


Aku ingat.

Aku tidak mau ingat. Tapi aku ingat.

Pagi terakhir sebelum lemari kosong. Senin. Satu hari sebelum Selasa itu.

Aku naik-turun tangga di luar kontrakan Sekeloa tiga kali, seperti setiap pagi selama empat bulan. Aku kembali ke kamar dengan detak jantung seratus dua puluh tiga.

Sasha sedang duduk di depan meja rias. Menyisir rambutnya. Memakai lipstik warna nude yang selalu ia pakai ke kantor. Bersenandung pelan, lagu yang tidak kukenal.

Aku menatap benangnya ke arahku.

Tinggal sehelai.

Bukan setipis rambut. Lebih tipis. Setipis sarang laba-laba. Setipis sesuatu yang bisa putus kalau ditiup. Merah pucat, hampir transparan, dan tidak bergetar lagi. Benang itu sudah berhenti bergetar. Hanya menggantung di udara di antara dadanya dan dadaku, lemas, seperti tali jemuran yang sudah putus di salah satu ujungnya tapi belum jatuh.

Dan benangnya ke arah Bram, ke arah kantor di Jalan Asia Afrika, sudah setebal tali sepatu. Bergetar hangat. Hidup.

Ia menoleh dari cermin dan tersenyum padaku.

“Pagi, Sayang. Kamu dari mana? Lari?”

“Tangga.”

“Kamu sekarang rajin olahraga, ya.” Ia berdiri. Berjalan ke arahku. Mengecup pipiku, cepat, seperti setiap pagi. Bibirnya dingin. “Nanti malam aku lembur, ya. Ada deadline.”

“Sasha.”

“Hm?”

“Kamu masih sayang aku?”

Ia menatapku. Lama. Dengan mata yang selalu kupikir bisa kubaca.

Lalu ia tertawa. Tawa kecil yang ringan, yang dulu membuatku jatuh cinta di kantin kampus.

“Kamu tuh terlalu curigaan, Van,” katanya. Ia mengusap pipiku dengan ibu jarinya. “Aku nggak ke mana-mana.”

Ia mengambil tasnya dan pergi ke kantor.

Dan aku berdiri di tengah kamar kontrakan, dengan detak jantung seratus dua puluh tiga, menatap benang setipis sarang laba-laba yang memanjang mengikutinya keluar pintu, makin tipis, makin pucat, sampai aku tidak bisa melihatnya lagi.

Besok paginya, lemarinya kosong.


Aku tidak ingat berjalan kembali ke studio.

Aku hanya ingat duduk di lantai ruang editing, bersandar ke kaki meja, dengan tangan yang gemetar. Dodo berdiri di depanku, panik, menanyakan sesuatu yang tidak kudengar. Kantong roti tidak ada. Aku meninggalkannya di trotoar.

Jantungku tidak mau turun.

Seratus tiga puluh delapan. Seratus empat puluh. Burung kecil di rusukku tidak mengepak lagi. Burung itu menabrak-nabrak dinding sangkarnya, keras, berulang-ulang, seperti ingin keluar.

“BANG! BANG, NAPAS!”

Aku napas. Empat hitungan. Tahan tujuh. Buang delapan.

Lagi.

Lagi.

Lagi.

Dodo berlutut di depanku, memegang bahuku dengan dua tangan. Wajahnya pucat. Matanya merah.

“Bang, saya telepon dr. Fikri. Saya telepon sekarang.”

“Jangan.”

“Bang...”

“Jangan, Dod.”

Dodo menatapku. Tangannya di bahuku bergetar.

Pukul empat empat puluh, ponselku bergetar di saku.

Aku tahu siapa. Aku tidak perlu melihat.

Bergetar. Berhenti. Bergetar lagi. Berhenti.

Dodo melirik layarnya dari saku celanaku. Yang Bikin Repot. Tiga panggilan tidak terjawab.

“Bang,” bisik Dodo. “Itu Ibu Negara.”

Aku mengeluarkan ponsel. Menatap layarnya.

Panggilan keempat masuk. Yang Bikin Repot.

Ia meneleponku sekarang. Setelah memeluk laki-laki itu. Setelah menggenggam tangannya. Ia meneleponku untuk mengenalkanku pada seseorang. Pada laki-laki yang membawakannya bolu pisang. Pada laki-laki yang benangnya tumbuh dari helai rambut ke benang jahit dalam tiga hari.

Aku mau ngenalin kamu sama seseorang.

Aku tidak tahu ia mau mengatakan apa. Mungkin ini teman lamaku. Mungkin ini orang yang penting buatku. Mungkin maaf, Evan, aku nggak bermaksud.

Mungkin kamu terlalu curigaan.

Aku tidak mau mendengarnya. Aku tidak sanggup mendengarnya. Aku sudah mendengarnya empat bulan, setiap pagi, dengan senyum dan ibu jari di pipiku. Aku tidak sanggup mendengarnya sekali lagi, dari bibir yang menciumku di puncak bianglala.

Aku menolak panggilan itu.

Lalu aku mengetik.

Tanganku gemetar sangat keras sampai aku harus menghapus dan mengetik ulang tiga kali. Dodo menatap layar dari sebelahku dan menahan napas.

Aku: Mika.
Aku: Aku nggak bisa.
Aku: Aku lihat kamu tadi. Di Kafe Lereng. Sama dia.
Aku: Aku nggak mau dengar penjelasan. Aku udah pernah dengar semua penjelasan.
Aku: Aku pernah lihat ini sekali. Empat bulan. Aku nggak sanggup lihat ini dua kali.
Aku: Kita berhenti di sini aja.
Aku: Maaf.

Kirim.

Satu centang. Dua centang.

Dua centang biru. Hampir seketika.

Lalu: Yang Bikin Repot sedang mengetik...

Berhenti.

Sedang mengetik...

Berhenti.

Sedang mengetik...

Aku mematikan ponsel. Menekan tombol daya sampai layarnya hitam. Melemparkannya ke sofa di ruang depan.

Dodo menatapku. Mulutnya terbuka. Matanya basah.

“Bang,” bisiknya. “Bang, apa yang Abang lakuin?”

Aku tidak menjawab.

Aku menunduk menatap dadaku. Jantungku masih seratus tiga puluh. Dunia masih merah.

Benangku ke arahnya masih ada.

Setebal tali sepatu. Menjulur keluar pintu studio, ke arah jalan, ke arah Kafe Lereng tiga ratus meter dari sini. Bergetar. Mencari.

Bodoh. Bodoh. Bodoh.

Aku baru saja memutuskannya. Lewat pesan WhatsApp. Tanpa bertanya. Dan benangku sendiri tidak menipis sedikit pun.

Benang yang tidak dibalas selalu terlihat lebih menyakitkan daripada benang yang putus.

Aku tahu itu.

Aku tahu itu sejak lima tahun lalu.

Dan aku baru saja memilih untuk melihatnya keluar dari dadaku sendiri, sekali lagi, dengan sukarela.


Lalu aku melihat sesuatu yang lain.

Di ambang batas penglihatan, di tempat benangnya seharusnya menjulur dari arah Kafe Lereng ke dadaku, sesuatu bergerak.

Benang setebal tali kapal itu.

Masih ada. Masih menjulur dari luar pintu studio, dari arah jalan, ke dadaku. Masih merah tua.

Tapi tidak tenang lagi.

Benang itu bergetar. Bukan getaran hangat yang biasa. Getaran yang lain. Getaran yang keras, kacau, berulang-ulang, seperti senar gitar yang dipetik dengan marah. Seperti sesuatu yang ditarik dari ujung yang lain. Ditarik dengan seluruh tenaga.

Ditarik ke arahku.

Seolah perempuan di ujung benang itu sedang berlari.

Aku menatap benang itu. Tidak mengerti.

Jantungku turun. Seratus dua puluh dua. Seratus dua puluh. Seratus delapan belas.

Benang-benang memudar sebelum aku sempat mengerti apa yang sedang kulihat.

Dunia kembali normal. Ruang editing yang sunyi. Komputer yang menampilkan foto pernikahan di Ciater. Dodo yang menangis tanpa suara di sebelahku, dengan sapu tangan berinisial L di tangannya.

Dan di luar, di Jalan Dago, suara langkah kaki yang berlari.

Makin dekat.

Makin dekat.