← Gadis Tanpa Benang

Chapter Seventeen

Resmi

POV: Evan

Di puncak bianglala, aku melihat sesuatu yang tidak mungkin.

Ketika ia menciumku, ketika bibirnya menyentuh bibirku dan detak jantungku melonjak ke angka yang belum pernah kulihat di layar jam tangan, benang setebal tali kapal itu tidak hanya bergetar.

Benang itu menyala.

Aku tidak punya kata lain untuk menjelaskannya. Dua belas tahun melihat benang, dan aku belum pernah melihat benang yang menyala. Bukan bercahaya seperti lampu. Lebih seperti bara api yang ditiup angin: warna merahnya jadi lebih terang, lebih hidup, dengan denyut yang sama dengan denyut di dadaku.

Dan benangku sendiri ke arahnya, yang lahir di bawah payung di Lembang, yang tumbuh di ruang tunggu pengantin di Pusdai, yang menebal di tangga darurat hotel Asia Afrika, juga menyala.

Dua benang. Saling. Menyala bersamaan di puncak bianglala di atas Lapangan Gasibu, di antara lampu-lampu warna-warni dan kota yang bertebaran seperti berlian di bawah kami.

Aku tidak tahu apakah semua orang yang berciuman benangnya menyala seperti itu. Aku tidak pernah menatap benang orang lain saat mereka berciuman. Itu terasa seperti mengintip.

Aku hanya tahu bahwa benangku dengan Sasha tidak pernah menyala seperti itu.

Tidak sekali pun. Dalam tiga tahun.


Fikri mengirim pesan keempat pukul enam pagi.

dr. Fikri Kardio: Van.
dr. Fikri Kardio: Saya kardiolog. Saya sudah lihat ribuan grafik jantung.
dr. Fikri Kardio: Grafikmu semalam jam 21.14 itu bukan grafik jantung manusia.
dr. Fikri Kardio: Itu grafik roket NASA.
dr. Fikri Kardio: 141 selama 3 menit 40 detik.
dr. Fikri Kardio: Lalu turun ke 118.
dr. Fikri Kardio: Lalu NAIK LAGI ke 139 selama 2 menit.
dr. Fikri Kardio: Van, kamu dicium dua kali?
dr. Fikri Kardio: JAWAB.

Aku menatap pesan-pesan itu dari tempat tidur, dengan Satu-Dua-Nol di sebelah bantal dan sinar matahari pagi yang masuk dari celah gorden.

Aku memikirkan benang Nadia yang tipis. Benang Nadia ke Arman yang tebal. Fikri dengan stetoskop di lehernya, berkata Nadia, Nadia, Nadia.

Aku mengetik.

Aku: Iya. Dua kali.
dr. Fikri Kardio: ALHAMDULILLAH.
dr. Fikri Kardio: NAD BANGUN. EVAN DICIUM.
dr. Fikri Kardio: Nadia bilang selamat. Dia lagi siap-siap ke kantor.
dr. Fikri Kardio: Hari Minggu?
dr. Fikri Kardio: Katanya ada deadline. Arsitek memang aneh.

Aku menatap pesan terakhir itu lama sekali.

Aku tidak membalas.


Aku memutuskan pukul sepuluh pagi, di depan dinding foto studio, dengan secangkir kopi Gayo di tangan.

Kopi asli. Bukan decaf. Aku sudah berhenti pura-pura.

Aku berdiri di depan foto anak perempuan di undakan tangga dan menatapnya lama. Anak perempuan dengan rambut dipotong gunting dapur dan tahi lalat kecil di bawah mata kiri, yang sekarang berumur dua puluh lima tahun dan memenangkan boneka beruang untukku dengan lemparan gelang ketujuh.

Aku masih takut. Itu tidak berubah. Ketakutan tidak hilang hanya karena satu ciuman di puncak bianglala. Aku masih membayangkan suatu pagi di mana aku menaikkan detak jantungku dan melihat benang setebal tali kapal itu menjadi tali sepatu, lalu benang jahit, lalu helai rambut. Aku masih membayangkan benang baru tumbuh ke arah lain. Aku masih membayangkan lemari kosong dan rekening kosong.

Aku membayangkannya setiap malam. Itu tidak akan berhenti.

Tapi semalam, di puncak bianglala, aku juga melihat sesuatu yang lain.

Aku melihat benangku sendiri menyala.

Dan aku menyadari bahwa selama lima tahun ini, aku tidak takut pada benang orang lain. Aku takut pada benangku sendiri. Aku takut kalau aku membiarkannya tumbuh, ia akan ditinggalkan lagi. Menggantung di udara tanpa ujung, seperti benang yang putus.

Tapi benang itu tumbuh juga. Tanpa izinku. Dan semalam benang itu menyala.

Aku tidak bisa menghentikannya. Aku sudah mencoba. Toilet. Operasi Menyebalkan. Decaf. Semua gagal.

Jadi mungkin, hanya mungkin, aku harus berhenti mencoba.

“Dod,” panggilku.

Dodo muncul dari ruang editing dengan kaos bertuliskan DINOSAURUS TIDAK PUNAH, MEREKA PINDAH KE BULAN. Wajahnya sudah tidak hijau lagi. Matanya bersinar seperti anak kecil yang tahu ada hadiah di bawah pohon Natal.

“Ya, Bang?”

“Aku butuh bantuanmu.”

“Apa pun, Bang. Apa pun untuk EvKa.”

“Jangan sebut itu.”

“Siap, Bang. Apa pun untuk... proyek rahasia.”


Aku mencetak foto itu di darkroom.

Foto yang kuambil di pernikahan kelima, di gedung yayasan di Sukajadi. Foto Mikaela dari samping, berdiri di dekat meja anak-anak panti, dengan gaun putih gading dan pita satin cokelat di rambut. Cahaya siang yang masuk miring dari jendela menyorot separuh wajahnya. Ia tidak menatap kamera. Ia menatap anak perempuan berkuncir dua yang sedang belajar menggigit kerupuk dari pengantin perempuan.

Di wajahnya ada sesuatu yang belum pernah kulihat di foto mana pun. Bukan senyum. Lebih dari senyum. Seperti seseorang yang sedang melihat dirinya sendiri di masa lalu, dan memaafkannya.

Aku mencetaknya ukuran besar, di kertas fiber terbaik yang kupunya. Tiga kali gagal. Keempat berhasil.

Lalu, di balik foto itu, dengan pulpen tinta hitam, aku menulis:

Mika,

Aku nggak pinter ngomong. Kamu tahu itu. Jadi aku tulis aja.

Aku masih takut. Mungkin aku akan selalu takut. Tapi aku capek lari.

Aku mau coba. Sama kamu. Kalau kamu mau.

Mau jadi pacarku?

☐ Ya
☐ Iya
☐ Tentu saja, Evan, kenapa kamu nanya lagi

— E.

P.S. Aku sudah minum kopi asli tiga hari berturut-turut. Fikri bilang aku butuh obat penenang.

Dodo membaca tulisan itu dari balik bahuku. Ia diam lama.

“Bang,” katanya akhirnya, dengan suara yang bergetar. “Ini puisi.”

“Ini bukan puisi.”

“Ini puisi, Bang. Pilihan jawabannya puisi. Tiga-tiganya iya. Itu sastra, Bang.” Ia menyeka matanya dengan lengan kaos dinosaurus. “Saya mau nangis.”

“Jangan nangis di darkroom. Cairannya.”

“Saya nangis di luar, Bang.”

Ia keluar. Aku mendengarnya terisak di tangga.


Aku menyerahkannya sore itu, di parkiran gedung Kaela Wedding di Jalan Riau, setelah rapat koordinasi untuk pernikahan ketujuh.

Aku tidak membungkusnya. Aku hanya memasukkannya ke dalam amplop cokelat besar, dan menyerahkannya padanya saat ia membuka pintu mobilnya.

“Apa ini?”

“Foto.”

“Foto apa?”

“Buka aja.”

Ia membuka amplop itu di sana, di parkiran, berdiri di samping mobilnya dengan rok plisket yang sama dengan semalam (aku tidak tahu kenapa ia memakainya lagi, dan aku tidak berani bertanya) dan rambut yang digerai.

Ia mengeluarkan fotonya. Menatapnya.

Aku melihat wajahnya berubah. Dari penasaran, ke kaget, ke sesuatu yang lembut sekali, seperti seseorang yang menemukan surat lama dari orang yang ia sayang.

“Ini aku,” katanya pelan. “Di Sukajadi.”

“Iya.”

“Kamu motret ini waktu aku nggak tahu.”

“Kamu tahu.”

Ia mendongak. Menatapku. Lalu tersenyum, senyum kecil dan bersalah.

“Iya. Aku tahu. Aku biarin.”

“Aku tahu kamu biarin.”

Ia tertawa kecil. Lalu kembali menatap foto itu. Lama.

“Balik,” kataku.

“Hm?”

“Fotonya. Balik.”

Ia membaliknya.

Aku melihatnya membaca. Matanya bergerak dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah. Berhenti di aku masih takut. Berhenti di aku capek lari. Berhenti di mau jadi pacarku.

Berhenti di tiga kotak pilihan.

Bahunya mulai bergetar.

Aku tidak tahu apakah ia tertawa atau menangis. Lalu ia menutup mulutnya dengan satu tangan, dan aku masih tidak tahu. Lalu ia membungkuk sedikit, memegang foto itu ke dadanya, dan bahunya bergetar lebih keras, dan aku akhirnya mendengar suaranya: tawa yang bercampur isak, yang keluar dari balik telapak tangannya seperti air dari bendungan yang retak.

“Kamu,” katanya, terengah-engah, “bodoh banget.”

“Aku tahu.”

“Tentu saja, Evan, kenapa kamu nanya lagi.”

“Itu pilihan yang valid.”

Ia menegakkan tubuh. Wajahnya basah. Maskaranya luntur sedikit. Matanya merah. Dan ia tersenyum dengan senyum paling lebar yang pernah kulihat, sampai lesung tipis di pipi kanannya terlihat dalam.

Ia mengeluarkan pulpen dari tasnya. Pulpen tinta celup berwarna hitam dengan ujung emas. Pulpen yang dulu ia sodorkan padaku untuk menandatangani kontrak dua belas pernikahan.

Ia meletakkan foto itu di atas atap mobilnya. Membuka tutup pulpennya. Dan mencentang.

Tidak satu kotak.

Ketiga-tiganya.

Lalu, di bawah tiga kotak itu, ia menulis sesuatu dengan huruf miring ke kanan yang rapi. Tulisan yang sama dengan di balik kartu nama malam pertama di Lembang.

Ia membalik foto itu dan menyerahkannya kembali padaku.

Aku membacanya.

Ya. Iya. Tentu saja.
Aku udah nunggu kamu nanya dari dulu.
— M.

Dari dulu.

Bukan aku cinta kamu. Aku memperhatikannya. Aku selalu memperhatikan.

Ia menulis ya, iya, tentu saja. Ia menulis aku udah nunggu. Ia tidak menulis kalimat yang paling sederhana di dunia, kalimat yang diucapkan jutaan orang setiap hari, kalimat yang hampir keluar dari mulutnya di tangga darurat hotel lalu dibelokkan jadi yang pernah kutunggu.

Aku menyimpan itu juga. Di tempat yang sama dengan kata-kata lain yang ia ucapkan seolah tidak berarti apa-apa.

Tapi hari itu, aku tidak memikirkannya terlalu lama.

Karena ia melompat ke pelukanku di parkiran gedung Jalan Riau, dan aku harus menangkapnya, dan foto itu hampir jatuh ke aspal, dan seorang satpam yang sedang patroli bertepuk tangan dari pos jaganya.


Ibu menggelar syukuran hari Minggu berikutnya.

Aku tidak tahu bagaimana ia tahu. Aku tidak memberitahunya. Mikaela bersumpah ia tidak memberitahunya.

Ternyata Dodo yang memberitahu. Lewat pesan suara berdurasi empat menit yang isinya sebagian besar tangisan.

“Syukuran kecil,” kata Ibu di telepon. “Cuma soto. Cuma keluarga.”

Syukuran kecil itu ternyata dihadiri tiga puluh dua orang.

Warung Soto Bu Ratih ditutup untuk umum dengan papan bertuliskan TUTUP — SYUKURAN ANAK IBU AKHIRNYA LAKU. Aku sudah memintanya mengganti tulisan itu. Ibu menolak.

Yang datang: Mikaela, tentu saja, dengan gaun putih sederhana dan kotak kue dari Bi Iyah. Lulu, dengan clipboard. Dodo, dengan kemeja batik pinjaman dan wajah orang yang menghadiri pernikahan anaknya sendiri. Bu Ningsih dari Panti Kasih Ibu, dijemput Lulu dengan mobil kantor, yang langsung memeluk Mikaela dan menangis. Tujuh tetangga warung. Penjual cireng sebelah. Pak RT. Bu RT. Tiga keponakan Ibu dari Garut yang kebetulan sedang di Bandung.

Papa Mikaela tidak bisa datang. Ia sedang kontrol ke rumah sakit. Tapi ia mengirim Bi Iyah dengan sekeranjang buah dan kartu ucapan bertuliskan, dengan huruf yang gemetar: Untuk Nak Evan. Selamat, kamu dapat 100 poin. Jaga anak saya. Kalau nggak, saya hantui. — Papa (sudah boleh panggil Papa sekarang).

Fikri datang sendiri.

“Nadia lembur,” katanya, menyalamiku di pintu warung. “Ada presentasi besok pagi. Dia titip salam. Dia titip kado juga.” Ia menyerahkan bingkisan kecil. “Ini dari dia. Katanya buat Mika.”

Aku menerima bingkisan itu. Menatap Fikri. Ia tersenyum, senyum biasa, senyum Fikri.

Tapi ada sesuatu di bawah matanya. Bayangan tipis. Seperti seseorang yang kurang tidur.

“Kamu nggak apa-apa, Fik?”

“Aku? Aku baik-baik aja. Kenapa?”

“Kamu kelihatan capek.”

“Jaga IGD tiga malam. Biasa.” Ia menepuk bahuku. “Hari ini bukan tentang aku. Hari ini tentang jantungmu yang akhirnya berguna.”

Ia masuk ke warung dan langsung disambut Ibu dengan mangkuk soto bergambar ayam jago.

Aku berdiri di pintu warung dengan bingkisan dari Nadia di tangan, dan memikirkan rumah di Antapani dengan tanaman cabai di depannya. Presentasi hari Senin. Deadline hari Minggu.

Aku tidak bilang apa-apa.


Syukuran itu ramai, berisik, dan sangat Sunda.

Ibu berpidato di depan panci soto tentang betapa ia sudah berdoa setiap Subuh selama lima tahun supaya anaknya nggak jadi bujang lapuk yang cuma nikah sama kamera. Bu Ningsih bercerita tentang anak soto yang menangis karena pancinya tumpah, dan seluruh warung tertawa. Dodo berdiri dan berpidato tanpa diminta, dimulai dengan kalimat Bapak-Ibu sekalian, hari ini adalah hari bersejarah bagi bangsa, dan diakhiri dengan tangisan yang begitu keras sampai penjual cireng sebelah menawarinya tisu.

Lulu tidak berpidato. Tapi ia berdiri di sebelah Dodo selama pidatonya, dan ketika Dodo mulai menangis, ia menyerahkan sapu tangan. Sapu tangan katun putih, terlipat rapi, dengan huruf L dijahit di sudutnya.

Dodo menatap sapu tangan itu seperti menatap cincin berlian.

Mikaela duduk di sebelahku di bangku panjang tanpa sandaran, dengan mangkuk soto ketiganya di depan, dan tidak melepaskan tanganku di bawah meja sepanjang acara.

Aku tidak menaikkan detak jantungku. Aku tidak perlu. Aku tidak mau melihat benang hari ini.

Hari ini aku hanya mau melihat dengan mata biasa.


Tapi detak jantungku naik sendiri, menjelang asar.

Bukan karena Mikaela. Karena Ibu.

Pintu warung terbuka, dan seorang laki-laki setengah baya masuk. Badannya tegap tapi perutnya sedikit membuncit. Rambutnya mulai memutih di pelipis, disisir rapi ke belakang. Ia memakai kemeja batik cokelat yang jelas baru disetrika, dan membawa kotak kardus kecil berisi... aku menyipitkan mata... freon AC.

“Bu Ratih,” katanya, dengan suara berat dan sopan. “Maaf telat. Tadi ada panggilan servis di Ciumbuleuit. AC rumah orang bocor.”

“Pak Darto!” Ibu berdiri dari kursinya dengan kecepatan yang belum pernah kulihat sejak ia mengejar kucing yang mencuri ayam goreng tiga tahun lalu. “Nggak apa-apa, Pak! Sini, sini! Masih ada soto!”

Pak Darto. Tukang servis AC langganan warung. Aku mengenalnya. Ia sudah datang ke warung ini sejak bertahun-tahun lalu, setiap kali AC tua di dapur Ibu rusak, yang terjadi kira-kira sebulan sekali. Duda, kalau tidak salah. Istrinya meninggal waktu melahirkan anak kedua mereka, lima belas tahun lalu.

Aku tidak tahu ia diundang.

“Pak Darto bawa apa?” tanya Ibu.

“Freon, Bu. Buat AC dapur. Kemarin Ibu bilang dinginnya kurang.”

“Ya Allah, Pak. Ini acara syukuran. Masa bawa freon.”

“Saya nggak tahu harus bawa apa, Bu.” Pak Darto tersenyum malu. “Saya pikir, ya, yang Ibu butuhin aja.”

Ibu tertawa.

Dan aku mendengar tawanya. Tawa yang berbeda. Lebih tinggi. Lebih lembut. Tawa yang sudah lama sekali tidak kudengar.

Tawa yang terakhir kudengar waktu Bapak masih hidup.

Jam tanganku bergetar.

Seratus enam belas. Seratus dua puluh. Seratus dua puluh tiga.

Warung soto Ibu berubah warna.

Mikaela, di sebelahku, menggenggam tanganku lebih erat. Ia merasakan sesuatu. Ia selalu merasakan sesuatu.

Tapi mataku sudah tidak melihatnya.

Mataku melihat Ibu.

Dari dada Ibu, benang ke arahku. Tenang, lurus, setebal tali sepatu. Seperti biasa.

Dari dada Ibu, benang tua yang naik ke langit-langit warung. Ke Bapak. Tipis, setipis yang kulihat di Ciumbuleuit, tapi tidak putus. Empat belas tahun, dan benang itu tidak berubah sedikit pun. Tenang. Seperti tiang kecil yang menancap di tanah dan menolak dicabut.

Dan dari dada Ibu, sebuah benang ketiga.

Tipis. Sangat tipis. Setipis benang jahit paling halus. Tapi bergetar.

Bergetar.

Benang asmara.

Menjulur dari dada Ibu, melintasi warung yang penuh orang, melewati panci soto dan mangkuk bergambar ayam jago, ke dada seorang laki-laki setengah baya dengan kemeja batik cokelat dan kotak freon di tangan.

Aku tidak bisa bernapas.

Aku menatap benang itu. Lalu menatap benang Ibu ke Bapak, yang naik ke langit-langit. Lalu menatap benang tipis ke Pak Darto lagi.

Bapak. Bapak yang membuka warung ini dengan pinjaman koperasi. Bapak yang tersenyum di bingkai foto di atas meja kerupuk, dengan celemek dan sendok sayur. Bapak yang membeli tiga mangkuk bergambar ayam jago di Pasar Baru tahun sembilan puluh tiga. Bapak yang kameranya selalu kubawa ke mana-mana, supaya beliau ikut.

Empat belas tahun.

Dan sekarang, ada benang lain.

Sesuatu yang panas dan pahit naik ke tenggorokanku. Aku tidak tahu namanya. Marah, mungkin. Atau sedih. Atau sesuatu yang lebih buruk dari keduanya, sesuatu yang terasa seperti dikhianati, atas nama seseorang yang sudah tidak bisa merasa dikhianati.

“Evan.” Suara Mikaela, pelan, di telingaku. “Kamu meremas tanganku.”

Aku melepaskannya. Aku tidak sadar.

“Maaf.”

“Kamu lihat apa?”

Aku tidak menjawab. Aku menatap Ibu, yang sedang menuangkan kuah soto ke mangkuk untuk Pak Darto, dengan tangan yang sedikit gemetar, dan senyum yang sudah lama tidak kulihat.

Pak Darto menerima mangkuk itu dengan dua tangan. Ia mengucapkan terima kasih. Ia menatap Ibu sebentar, dengan mata yang ramah dan lelah, dan dari dadanya juga ada benang ke arah Ibu. Sama tipisnya. Sama barunya.

Dua benang. Saling. Baru.

Seperti dua tunas yang tumbuh di samping pohon tua yang belum mati.

Aku berdiri.

“Aku keluar sebentar,” kataku. “Cari angin.”

Aku tidak menunggu jawaban. Aku keluar dari warung, ke gang yang sempit dan panas, dan berdiri di depan gerobak cireng yang sudah tutup. Menarik napas. Empat hitungan. Tahan tujuh. Buang delapan.

Detak jantungku turun. Benang memudar.

Tapi aku sudah melihatnya. Dan aku tidak bisa berhenti melihatnya.


Mikaela keluar lima menit kemudian. Ia tidak bertanya apa-apa. Ia hanya berdiri di sebelahku, di depan gerobak cireng, dan menunggu.

Lama.

“Pak Darto,” kataku akhirnya. Suaraku keluar lebih kasar dari yang kumaksud.

Mikaela diam sebentar. “Tukang servis AC?”

“Iya.”

“Dia baik?”

“Aku nggak tahu. Aku nggak kenal dia.” Aku menatap gang. “Dia datang sebulan sekali. Benerin AC. Ibu kasih dia soto gratis. Aku nggak pernah merhatiin.”

“Terus?”

Aku tidak menjawab.

Mikaela menatap profilku. Lama. Lalu menatap pintu warung, dari mana suara tawa Ibu masih terdengar, lebih tinggi dan lebih lembut dari biasanya.

“Ibumu ketawa,” katanya pelan. “Beda.”

Aku menoleh padanya.

“Aku dengar,” katanya. “Waktu Pak Darto datang. Ketawanya beda. Kayak... kayak anak gadis.”

Aku menatapnya. Ia tahu. Ia selalu tahu, tanpa perlu melihat apa yang kulihat.

“Bapak meninggal empat belas tahun lalu,” kataku.

“Aku tahu. Ibumu cerita.”

“Bapak orang baik. Bapak bangun warung ini dari nol. Bapak...” Suaraku pecah. “Ibu nggak boleh...”

Aku berhenti. Aku tidak tahu kalimat itu harus diselesaikan bagaimana. Ibu nggak boleh suka orang lain? Ibu nggak boleh bahagia lagi? Ibu nggak boleh melupakan Bapak?

Tapi Ibu tidak melupakan Bapak. Aku melihat benangnya. Benang ke Bapak masih ada. Masih naik ke langit. Tidak menipis sedikit pun dari yang kulihat di Ciumbuleuit, padahal benang baru itu sudah tumbuh di sebelahnya.

Benang yang baru itu tumbuh di sampingnya. Bukan menggantikannya.

Aku tidak mengerti. Dalam dua belas tahun, aku belum pernah melihat itu. Benang baru selalu berarti benang lama menipis. Selalu. Sasha. Nadia. Jam pasir. Air dari satu gelas ke gelas lain.

Tapi benang Ibu ke Bapak tidak menipis.

“Evan,” kata Mikaela. Ia meraih tanganku. Pelan. “Aku nggak tahu apa yang kamu lihat. Tapi aku tahu satu hal.”

“Apa?”

“Ibumu udah sendiri empat belas tahun. Dia buka warung tiap jam lima subuh. Dia masak soto buat orang lain. Dia antar soto ke panti. Dia nunggu kamu pulang.” Mikaela menatapku. “Dia juga boleh ditunggu sama seseorang.”

Aku menatapnya.

Dia juga boleh ditunggu.

Kalimat itu menancap di suatu tempat di dadaku. Di tempat yang sama dengan semua kalimat lain yang ia ucapkan seolah tidak berarti apa-apa.

Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa.

Tapi aku membiarkannya menggenggam tanganku, dan kami kembali ke dalam warung bersama-sama, dan aku duduk di bangku panjang tanpa sandaran, dan aku menatap Ibu tertawa dengan tawa yang lebih tinggi dan lebih lembut dari biasanya.

Aku tidak bisa menyalami Pak Darto hari itu.

Belum.

Tapi aku juga tidak mengusirnya.

Mungkin itu awalnya.