← Gadis Tanpa Benang

Chapter Thirty

Benang yang Naik

POV: Evan

Papa pergi pukul empat lewat tiga belas menit pagi.

Tepat ketika azan subuh berkumandang dari masjid di seberang Jalan Juanda. Suaranya masuk melalui jendela kamar 512 yang sedikit terbuka, jauh dan pelan dan bergetar di udara dingin, seperti seseorang yang memanggil dari tempat yang sangat tinggi.

Allahu akbar, Allahu akbar.

Monitor di samping tempat tidur berbunyi satu kali lagi. Bip.

Lalu tidak lagi.

Hanya garis hijau yang lurus. Dan bunyi panjang yang tidak berhenti, yang memenuhi kamar seperti dengung lebah di kepala.

Mikaela tidak bergerak.

Ia duduk di kursi di samping tempat tidur, dengan tangan Papa di tangannya dan dahinya menempel di punggung tangan itu. Ia sudah di posisi itu sejak pukul tiga. Ia tidak mengangkat kepala ketika bunyi panjang itu dimulai. Ia tidak menjerit. Ia tidak menangis.

Ia hanya diam.

Bima yang menjerit. Laki-laki besar berewok yang berlutut di sisi lain tempat tidur, dengan tangan Papa yang satu lagi di tangannya. Ia menjerit satu kali, panjang, keras, seperti binatang yang terluka. Lalu menunduk dan menangis dengan seluruh tubuhnya. Teh Neneng memeluk punggungnya dari belakang.

Ibu menutup mulutnya dengan ujung kerudung oranye. Bi Iyah, yang berdiri di dekat jendela, jatuh terduduk di lantai dan mulai membaca doa dengan suara gemetar.

Perawat masuk. Dokter jaga masuk. Seseorang mematikan monitor. Bunyi panjang itu berhenti.

Dan kamar 512 menjadi sangat, sangat sunyi.

Hanya azan dari seberang jalan. Asyhadu alla ilaha illallah.

Mikaela masih tidak bergerak.

Aku berlutut di sebelahnya. Meletakkan tanganku di punggungnya.

Ia gemetar. Halus. Seperti daun yang ditiup angin yang tidak terlihat.

“Mika,” bisikku.

Ia tidak menjawab.

Aku menatap Papa. Wajahnya kuning pucat di bawah lampu kamar yang redup. Matanya tertutup. Mulutnya sedikit terbuka. Ia terlihat seperti sedang tidur. Seperti sedang tidur setelah mengisi teka-teki silang sampai larut, dengan kacamata baca yang melorot di ujung hidung.

Hanya saja tidak ada kacamata. Dan dadanya tidak naik turun.

Jantungku seratus tiga puluh delapan. Tanpa obat. Burung kecil di rusukku menabrak dan menabrak.

Dunia merah.

Dan aku melihatnya.


Benang Papa ke Mikaela.

Setebal tali tambang. Masih ada. Masih tenang. Masih lurus.

Tapi tidak lagi keluar dari dada Papa.

Benang itu keluar dari udara. Dari tempat di atas tempat tidur, setinggi dada orang berdiri, di mana dada Papa seharusnya berada kalau ia masih duduk di kursi goyangnya di ruang baca. Dari sana, benang itu naik. Pelan. Lurus. Seperti asap yang tidak ditiup angin. Menembus langit-langit kamar 512. Ke atas. Ke suatu tempat yang tidak bisa kulihat.

Dan dari langit-langit itu, dari tempat yang tidak bisa kulihat, benang itu turun lagi. Ke dada Mikaela.

Ke dada anak perempuannya, yang menempelkan dahinya di tangan yang sudah mulai dingin.

Benang itu tidak putus.

Benang itu tidak menipis.

Benang itu hanya pindah. Ujung yang satu tetap di Mikaela. Ujung yang lain sekarang di atas. Di langit. Di tempat azan subuh berasal.

Seperti benang Kakek ke Nenek, di pemakaman di Garut, di bawah hujan, ketika aku sembilan belas tahun.

Seperti benang Ibu ke Bapak, yang naik ke langit-langit warung soto setiap hari selama empat belas tahun.

Seperti benang Papa sendiri ke Ratna, perempuan di toko kain di Pasar Baru.

Aku menatap benang itu. Dan aku tidak bisa berhenti menangis.

Dan di samping benang itu, dari dada Mikaela, ada benang lain. Tenang. Lurus. Ke arah Bima, yang menangis di sisi lain tempat tidur. Sudah bukan benang jahit lagi. Sudah hampir setebal tali sepatu. Tumbuh, dalam satu malam, dalam satu kamar, dalam satu kematian.

Dan dari dada Bima, benang yang sama, ke Mikaela. Sama tebalnya.

Dan dari dada Mikaela, ke arahku.

Setebal tali kapal. Bergetar. Hidup.

Bahkan sekarang. Bahkan di saat ini. Bahkan di subuh paling gelap dalam hidupnya.

Benang itu tidak bergetar karena bahagia. Benang itu bergetar seperti sesuatu yang sedang memegang erat. Seperti tangan yang mencengkeram tali di tengah badai. Seperti satu-satunya hal yang mencegahnya jatuh.


Mikaela akhirnya mengangkat kepala.

Pelan. Sangat pelan. Seperti seseorang yang bangun dari tidur yang sangat panjang.

Ia menatap Papa. Lama. Tangannya masih memegang tangan Papa.

Lalu ia meletakkan tangan Papa di atas selimut. Hati-hati. Seperti meletakkan sesuatu yang bisa pecah. Ia merapikan selimutnya, sampai ke dada. Seperti setiap malam. Ia membetulkan bantal di bawah kepala Papa. Seperti setiap malam.

Ia membungkuk dan mencium dahi Papa.

“Selamat tidur, Pa,” bisiknya.

Lalu ia berdiri. Berjalan ke jendela. Membuka gordennya sepenuhnya.

Langit di luar sudah mulai abu-abu. Lampu-lampu jalan di Jalan Juanda masih menyala, kuning pucat. Pohon-pohon besar di tepi jalan berdiri gelap dan diam. Azan sudah selesai. Dari masjid di seberang jalan, terdengar suara orang-orang yang mulai salat.

Mikaela berdiri di depan jendela. Menatap langit.

Tidak menangis. Tidak berkata apa-apa.

Hanya menatap ke atas.

Aku berdiri di belakangnya. Aku tidak menyentuhnya. Aku tidak tahu apakah ia mau disentuh.

“Evan,” katanya. Tanpa menoleh.

“Iya.”

“Kamu lagi lihat?”

Jantungku masih seratus tiga puluh lima. Dunia masih merah.

“Iya.”

“Benang Papa ke aku,” katanya. Suaranya sangat datar. Sangat tenang. Terlalu tenang. “Masih ada?”

Aku menatap benang setebal tali tambang yang turun dari langit-langit ke dadanya.

“Masih ada,” kataku.

“Di mana?”

“Di atas.” Suaraku pecah. “Naik. Ke langit. Terus turun lagi ke kamu.”

Mikaela tidak bergerak.

“Nggak putus?”

“Nggak putus, Mika. Nggak tipis. Sama tebalnya kayak kemarin. Kayak tadi malam. Kayak dua belas tahun.” Air mata jatuh dari mataku. “Cuma pindah. Ujungnya sekarang di atas.”

Ia diam lama.

Lalu bahunya mulai bergetar.

Pelan. Lalu lebih keras. Lalu ia membungkuk ke depan, tangannya menekan kaca jendela, dahinya menempel di kaca yang dingin, dan ia menangis.

Menangis seperti yang belum pernah kulihat. Seperti yang belum pernah kudengar. Isakan yang keluar dari tempat yang sangat dalam, dari tempat yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun. Isakan anak tiga belas tahun yang duduk di anak tangga ketiga setiap hari Minggu selama tujuh tahun, yang akhirnya dijemput, dan yang sekarang harus melepaskan orang yang menjemputnya.

Aku memeluknya dari belakang.

Erat. Sangat erat. Lenganku melingkari bahunya. Dadaku menempel di punggungnya. Aku bisa merasakan setiap isakan yang mengguncang tubuhnya.

“Papa nggak nunggu lagi,” isaknya di kaca jendela. “Papa nggak nunggu aku lagi.”

“Papa titip pesan,” bisikku di rambutnya. “Semalam. Waktu kamu di kantin.”

Isakannya berhenti sebentar.

“Papa bilang,” kataku, “bilang ke dia benangnya nggak putus. Bilang ke dia cuma naik. Bilang ke dia Papa masih sayang, dari atas. Dia nggak bisa lihat. Tapi kamu bisa. Jadi kamu yang bilang.“

Mikaela berbalik di pelukanku.

Wajahnya basah dan merah dan hancur. Ia menatapku dengan mata yang tidak bisa fokus.

“Papa bilang gitu?”

“Papa bilang gitu.”

“Papa tahu soal benang?”

“Aku yang bilang. Semalam.” Aku mengusap pipinya yang basah dengan ibu jariku. “Papa nggak kaget. Papa cuma bilang, pantas dia pegang nadi kamu terus.”

Mikaela menatapku. Lalu tertawa. Tawa yang pecah, yang berubah jadi isakan di tengah jalan, yang tenggelam di dadaku ketika ia membenamkan wajahnya di sana.

Ia menangis di dadaku sampai matahari terbit.


Pemakaman berlangsung pukul sepuluh pagi.

TPU Sirnaraga, di Jalan Pajajaran. Pemakaman umum yang luas dan rindang, dengan pohon-pohon kamboja tua yang bunganya putih dan kuning dan berjatuhan di atas nisan-nisan. Jalan setapak dari gerbang ke liang lahat menanjak sedikit, melewati deretan makam yang rapat.

Banyak yang datang. Lebih banyak dari yang kukira. Karyawan-karyawan percetakan Papa, puluhan orang dengan seragam batik biru. Teman-teman catur Papa dari lobi rumah sakit, termasuk Satpam Dedi, yang menangis di belakang barisan. Tetangga-tetangga dari Setiabudi. Bu Ningsih dari Panti Kasih Ibu, dijemput Lulu, yang berdiri di samping Mikaela dengan tongkat dan memegang tangannya.

Fikri datang. Ia berdiri agak jauh, di bawah pohon kamboja. Ia tidak menatap liang lahat. Ia menatapku.

Aku tahu ia melihat angkaku di ponselnya. Aku tahu ia melihat bahwa aku tidak minum obat sejak kemarin pagi. Aku tahu ia melihat seratus tiga puluh delapan pukul empat pagi. Seratus empat puluh dua pukul tujuh, waktu jenazah dimandikan.

Ia tidak mendekat. Belum.

Jenazah Papa diturunkan ke liang lahat. Dibungkus kafan putih. Bima, Pak RT Setiabudi, dan dua karyawan percetakan yang turun ke liang dan menerima jenazah dari atas. Bima menangis sepanjang waktu, dengan air mata yang jatuh ke kain kafan.

Mikaela berdiri di tepi liang lahat. Dengan kerudung hitam dan gamis hitam yang dipinjam dari Ibu, karena ia tidak punya baju hitam. Ia tidak menangis lagi. Matanya sudah habis.

Ia hanya menatap.

Aku berdiri di sebelahnya. Memegang tangannya.

Tanah mulai ditimbun. Suara sekop. Suara tanah yang jatuh ke atas papan kayu. Suara doa yang dibaca ustaz dengan suara bergetar.

Dan aku memutuskan.

Aku melepaskan tangan Mikaela sebentar. Berjalan ke jalan setapak yang menanjak di belakang kerumunan. Jalan setapak dari tanah yang licin, yang naik ke bukit kecil di ujung pemakaman.

Aku naik.

Cepat. Lebih cepat dari yang pernah kulakukan. Tanpa menghitung anak tangga. Tanpa menarik napas empat hitungan.

Jantungku melompat. Seratus dua puluh. Seratus tiga puluh. Seratus empat puluh lima.

Burung kecil di rusukku menabrak dinding sangkarnya dengan keras. Dadaku sesak. Ujung jariku dingin. Pemakaman di bawahku mulai bergoyang.

Aku tidak berhenti sampai aku di puncak bukit kecil itu.

Lalu aku berbalik. Menatap ke bawah.

Dan aku melihat.


TPU Sirnaraga penuh benang.

Dari ratusan makam, benang-benang naik ke langit. Tipis. Tenang. Tua. Dari makam-makam yang sudah berumur puluhan tahun, dengan nisan yang miring dan berlumut, benang-benang tipis setipis rambut naik pelan ke atas. Dari makam-makam yang lebih baru, benang-benang yang lebih tebal. Benang-benang dari orang-orang yang masih hidup, di rumah-rumah di seluruh Bandung, ke orang-orang yang terkubur di sini. Naik dari tanah. Menembus udara. Ke langit yang biru dan cerah dan tidak peduli.

Ratusan. Ribuan. Seperti hutan benang merah yang tumbuh dari tanah pemakaman, semua menuju ke arah yang sama.

Ke atas.

Aku belum pernah melihat pemandangan ini. Dua belas tahun, dan aku tidak pernah naik ke bukit di pemakaman dengan detak jantung di atas seratus dua puluh.

Dan di tengah semuanya, di tepi liang lahat yang baru, ada satu benang yang paling tebal.

Dari dada Mikaela. Setebal tali tambang. Naik. Lurus. Tenang. Dari dadanya ke langit, ke suatu tempat yang sangat tinggi, di atas awan, di atas segala-galanya.

Ke Papa.

Dan dari langit itu, dari tempat yang tidak bisa kulihat, benang yang sama turun kembali. Ke dada Mikaela. Sama tebalnya. Sama tenangnya.

Dua benang. Saling.

Bahkan sekarang.

Dari puncak bukit kecil di TPU Sirnaraga, dengan detak jantung seratus empat puluh delapan dan dada yang terasa seperti akan meledak, aku melihat Mikaela berdiri di tepi liang lahat ayahnya, dengan benang yang naik ke langit dan benang yang turun dari langit, dan aku tahu.

Aku tahu bahwa Papa benar.

Benangnya tidak putus.

Cuma naik.


Dan di sebelah Mikaela, Bima, yang baru keluar dari liang lahat dengan tangan penuh tanah merah, berdiri dan menatap adiknya.

Dari dadanya, benang tenang ke dada Mikaela. Setebal tali sepatu. Tumbuh. Menebal. Di depan mataku, di bawah matahari pagi di pemakaman, benang itu bertambah tebal.

Mikaela menatap liang lahat yang sudah tertimbun. Tanah merah yang menggunduk. Papan nisan kayu sementara dengan nama yang ditulis spidol hitam: HADI WIRAWAN. Lahir 1965. Wafat 2026.

“Papa nggak nunggu lagi,” kata Mikaela. Pelan. Ke arah nisan. “Nggak ada yang nunggu aku di rumah.”

Bima menatapnya.

Lalu, dengan tangan yang masih penuh tanah merah, ia merangkul bahu adiknya. Menariknya ke sisinya. Ke dadanya yang lebar.

“Kakak nunggu,” katanya. Suaranya serak dan berat. “Kakak di sini, Dek. Kakak nunggu.”

Mikaela menatap kakaknya.

Lalu ia membenamkan wajahnya di dada Bima, di kemeja batik yang kekecilan dan penuh tanah, dan menangis lagi.

Benang di antara mereka menyala.

Bukan seperti bara api. Seperti lampu teras yang dinyalakan di malam hari. Hangat. Tenang. Tidak bergetar. Tapi menyala.

Seperti rumah.


Aku turun dari bukit dengan kaki yang gemetar.

Separuh jalan, kakiku tidak bisa lagi. Aku berhenti. Bersandar ke batang pohon kamboja. Napasku pendek. Seratus lima puluh dua. Burung kecil di rusukku tidak menabrak lagi. Burung itu menggelepar.

Dunia di sekitarku merah dan bergoyang.

Seseorang memegang lenganku.

Fikri.

Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya memegang lenganku dengan satu tangan dan menekan dua jari tangan lainnya di leherku. Di tempat nadi. Seperti Mikaela di ballroom Lembang.

Wajahnya pucat. Matanya merah.

“Seratus lima puluh dua,” katanya pelan. “Kamu nggak minum obatnya.”

Aku tidak menjawab.

“Kamu naik bukit. Dengan sengaja. Di pemakaman.”

“Aku harus lihat, Fik.”

“Lihat apa?”

“Benangnya.” Suaraku pecah. “Aku janji sama papanya. Aku harus lihat ke mana benangnya pergi. Supaya bisa bilang ke Mika. Supaya dia tahu.”

Fikri menatapku. Lama. Dengan mata yang merah dan rahang yang mengeras.

“Kamu bisa mati, Van,” katanya. Sangat pelan. “Di sini. Di pemakaman orang. Di depan Mika. Di hari dia kehilangan papanya.”

“Aku tahu.”

“Kamu tahu?”

“Aku tahu, Fik.” Air mata jatuh dari mataku. “Tapi aku harus lihat. Satu kali lagi. Sebelum aku nggak bisa lihat lagi.”

Fikri menatapku. Lalu menatap ke arah liang lahat, ke Mikaela yang menangis di pelukan kakaknya. Lalu kembali padaku.

Dan aku melihat sesuatu berubah di wajahnya. Dari marah ke sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih sedih.

“Kamu dapat lihat?” tanyanya pelan. “Benangnya?”

“Aku lihat, Fik.”

“Gimana?”

Aku menatap ke arah Mikaela. Ke benang setebal tali tambang yang naik ke langit dari dadanya. Ke benang yang turun kembali.

“Nggak putus,” kataku. “Cuma naik. Sama tebalnya.”

Fikri diam lama.

Lalu, pelan, ia melepaskan nadiku. Meraih bahuku. Dan memelukku. Di bawah pohon kamboja, di tengah pemakaman, dengan bunga-bunga putih dan kuning yang berjatuhan di sekitar kami.

“Bodoh,” bisiknya di bahuku. Suaranya pecah. “Kamu bodoh banget, Van.”

“Aku tahu.”

“Tiga hari,” katanya. “Kamu punya tiga hari lagi dari janji satu minggu. Setelah itu aku nggak peduli. Aku bilang ke Mika. Aku seret kamu ke ruang ablasi sendiri.”

Aku tidak menjawab.

Fikri melepaskan pelukannya. Menatapku. Lalu mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya. Satu strip tablet putih. Beta-blocker.

Ia menekan satu tablet keluar dari stripnya. Meletakkannya di telapak tanganku. Lalu mengeluarkan botol air mineral kecil dari tas selempangnya. Membuka tutupnya. Menyerahkannya padaku.

“Minum,” katanya. “Sekarang. Di depanku.”

Aku menatap tablet di telapak tanganku.

Kecil. Putih. Bulat.

Satu tablet ini, dan dunia tidak akan berubah warna lagi hari ini. Tidak ada benang. Tidak ada merah. Tidak ada benang setebal tali kapal dari dada Mikaela ke dadaku.

Aku menatap ke arah Mikaela sekali lagi. Ia sudah melepaskan diri dari pelukan Bima. Ia berdiri di depan nisan ayahnya, dengan Ibu di satu sisi dan Bu Ningsih di sisi lain. Ia menatap nisan itu. Lalu, pelan, ia mendongak. Menatap langit.

Ke tempat benangnya pergi.

Ia tidak bisa melihatnya. Tapi ia menatap ke arah yang tepat.

Lalu ia menoleh. Mencari sesuatu di antara kerumunan. Mencari seseorang.

Menemukanku. Di bawah pohon kamboja. Dengan Fikri di sebelahku dan tablet putih di telapak tanganku.

Ia menatapku dari kejauhan. Matanya bengkak dan merah. Wajahnya hancur.

Dan ia tersenyum.

Kecil. Sangat kecil. Hampir tidak ada.

Tapi senyum.

Dan dari dadanya, benang setebal tali kapal menjulur melintasi pemakaman, melewati nisan-nisan dan pohon-pohon kamboja dan benang-benang yang naik ke langit, ke dadaku.

Bergetar. Hidup. Menyala.

Aku menatap benang itu lama. Mengingat setiap detailnya. Ketebalannya. Warnanya. Getarannya. Cara benang itu menyala di bawah matahari pagi di TPU Sirnaraga, di antara ribuan benang tipis yang naik ke langit.

Lalu aku memasukkan tablet itu ke mulutku. Dan minum.

Fikri menghembuskan napas panjang. Sangat panjang. Seperti seseorang yang sudah menahannya selama berhari-hari.

Dua puluh menit kemudian, di parkiran TPU Sirnaraga, jantungku turun ke sembilan puluh dua.

Dunia kembali normal.

Tidak ada benang. Tidak ada merah. Hanya pemakaman yang hijau dan rindang, dengan bunga kamboja yang berjatuhan dan orang-orang berbaju hitam yang berjalan pulang.

Mikaela berjalan ke arahku dari gerbang pemakaman. Dengan gamis hitam dan kerudung hitam dan mata yang bengkak.

Ia berhenti di depanku. Menatapku.

Aku tidak bisa melihat benangnya.

Untuk pertama kalinya sejak ballroom Lembang, aku menatap Mikaela Wirawan dan tidak tahu setebal apa benangnya ke arahku.

Aku hanya bisa melihat wajahnya.

Dan wajahnya, hancur dan lelah dan basah, menatapku seperti seseorang yang menemukan satu-satunya hal yang masih berdiri di tengah reruntuhan.

“Pulang,” katanya pelan. “Bawa aku pulang.”

Aku menggenggam tangannya.

Aku tidak perlu melihat benang untuk tahu apa yang ia rasakan.

Tapi aku ingin.

Aku sangat, sangat ingin.