← Gadis Tanpa Benang

Chapter Twenty Five

Pernikahan Kedelapan: Latihan Bicara

POV: Mika

Pengantin laki-laki pernikahan kedelapan gagap.

Namanya Rendi. Dua puluh sembilan tahun, programmer di perusahaan rintisan di Jalan Dipatiukur, dengan kacamata tebal dan senyum yang selalu terlihat minta maaf. Ia bisa menulis kode program yang rumitnya membuat Lulu terdiam kagum. Ia bisa menghafal seluruh dialog film Star Wars. Ia bisa memasak rendang yang, menurut calon ibu mertuanya, lebih enak dari rendang Padang asli.

Tapi ia tidak bisa mengucapkan kalimat lebih dari empat kata tanpa tersendat.

“Sa... saya t-takut, Mbak,” katanya padaku di konsultasi terakhir, dua minggu sebelum hari H. “I-ijab kabul. Harus s-satu napas. K-kalau saya gagap, harus d-diulang.”

Calon istrinya, Nisa, duduk di sebelahnya dan menggenggam tangannya di bawah meja.

“Dia udah latihan tiap malam, Mbak,” kata Nisa. “Di depan cermin. Di depan kucing. Di depan saya. Tiap kali latihan lancar. Tapi kalau udah di depan orang banyak...”

“S-saya nggak mau b-bikin Nisa malu,” kata Rendi.

Nisa menatapnya. “Kamu nggak pernah bikin aku malu.”

“T-tapi...”

“Ren.“

Rendi diam. Nisa menatapnya dengan mata yang membuatku harus menunduk ke catatanku.

Itu dua minggu lalu. Sebelum Ciater. Sebelum Kafe Lereng. Sebelum tujuh pesan WhatsApp dan tiga ratus meter tanpa sepatu dan bangku besi di taman rumah sakit pukul lima pagi.

Hari ini adalah hari H. Dan aku menatap Rendi di ruang tunggu pengantin pria di lantai sembilan Hotel Grand Pasundan, dengan beskap putih dan blangkon yang dipasang miring dan wajah yang sudah pucat sejak pagi, dan aku menyadari sesuatu yang membuat perutku turun ke lantai.

Aku tidak jauh berbeda dari dia.


Aku mulai latihan pagi itu.

Bukan di depan cermin. Bukan di depan kucing. Di depan Evan.

Ia menjemputku di apartemen pukul enam pagi. Sejak pagi di taman rumah sakit, empat hari lalu, ia menjemputku setiap pagi. Ke rumah sakit. Ke kantor. Ke venue. Ke mana pun. Kadang dengan kopi Gayo di tempat gelas mobil. Kadang dengan roti sobek isi cokelat dari toko di sebelah Kafe Lereng. Kadang hanya dengan dirinya sendiri, menungguku di lobi apartemen dengan rambut yang diikat setengah dan senyum yang belum sepenuhnya pulih dari malam itu.

Pagi ini, ia membawa kopi. Ia menyerahkannya padaku begitu aku masuk ke mobil.

Aku menerimanya. Menatapnya. Menarik napas.

Sekarang. Bilang sekarang.

“Evan.”

“Hm?”

“Aku...”

Ia menoleh. Menatapku. Menunggu.

Mata cokelat gelapnya. Bulu matanya yang panjang. Bekas luka kecil di dagunya. Lingkaran hitam di bawah matanya, yang belum benar-benar hilang sejak malam itu.

Kalimatnya sudah ada di tenggorokanku. Lima kata. Tidak, tiga. Aku cinta kamu. Tiga kata. Dua belas tahun.

“Aku... cinta...”

Ia berhenti bernapas. Aku melihatnya. Dadanya berhenti naik turun.

“...kopi ini,” kataku. “Enak. Banget. Gayo, kan?”

Hening.

Evan menatapku. Lalu menatap kopi di tanganku. Lalu menatapku lagi.

“Iya,” katanya pelan. “Gayo.”

“Enak.”

“Kamu udah bilang.”

“Enak banget.”

Ia diam sebentar. Lalu menyalakan mesin mobil dan menyetir tanpa berkata apa-apa. Tapi aku melihat sudut bibirnya. Naik sedikit. Satu milimeter.

Aku menatap jendela dan ingin melompat keluar dari mobil yang sedang berjalan.


Lulu menemukanku di toilet perempuan lantai sembilan pukul delapan pagi, sedang menatap diriku di cermin dan bergumam aku cinta kamu, aku cinta kamu, aku cinta kamu seperti mantra.

Ia berdiri di pintu dengan clipboard di dada. Menatapku dari cermin. Tidak berkata apa-apa.

Aku berhenti bergumam.

“Lulu.”

“Bu.”

“Kamu dengar?”

“Dari koridor, Bu. Ibu cukup keras.”

Aku menutup wajahku dengan dua tangan.

Lulu masuk. Menutup pintu toilet di belakangnya. Berdiri di sebelahku di depan cermin wastafel, dengan clipboard di dada dan wajah datar.

“Bu,” katanya. “Boleh saya analisis?”

“Silakan.”

“Ibu sudah bilang ya, iya, tentu saja, aku udah nunggu, dan aku cuma mau kamu lihat.” Ia membuka clipboard-nya. “Saya catat semuanya. Dari Mas Dodo, yang dapat dari Mas Evan, yang curhat ke Mas Dodo semalam di studio sambil makan martabak.”

“Evan curhat ke Dodo?”

“Mas Dodo bilang Mas Evan bilang Ibu belum pernah bilang itu.” Lulu menatapku dari cermin. “Mas Evan bilang dia nggak keberatan. Dia bilang dia bisa nunggu. Tapi Mas Dodo bilang muka Mas Evan waktu ngomong itu kayak anak kucing yang ditinggal di kardus.”

Aku menatap Lulu dari cermin.

Lalu aku menatap diriku sendiri.

Perempuan di cermin memakai gaun midi berwarna lilac pucat dengan potongan A-line yang jatuh lembut dari pinggang, lengan pendek yang sedikit mengembang, dan kerah sabrina yang memperlihatkan tulang selangka. Rambutnya dikepang mahkota di atas kepala, dengan beberapa helai yang sengaja dibiarkan jatuh di sekitar wajah. Lipstiknya merah bata, yang sama dengan malam pertama di Lembang.

Aku memilih semuanya dengan sangat hati-hati pagi tadi. Gaun yang membuatku terlihat lembut tapi tidak rapuh. Rambut yang membuatku terlihat seperti seseorang yang bisa diandalkan. Lipstik yang mengingatkannya pada malam pertama.

Aku memakai baju perang untuk mengucapkan tiga kata.

Dan aku tetap tidak bisa.

“Lulu,” kataku pelan. “Kenapa aku nggak bisa?”

Lulu diam lama. Lalu menutup clipboard-nya.

“Bu,” katanya, dengan suara yang lebih pelan dari biasanya. “Saya bukan psikolog. Tapi menurut saya, Ibu nggak takut bilangnya.”

“Terus?”

“Ibu takut setelahnya.” Ia menatapku dari cermin. “Takut detik setelah Ibu bilang. Detik di mana Ibu nunggu balasan. Detik di mana Ibu nggak tahu apa yang akan dia bilang.”

Aku menatap Lulu.

Detik di mana aku nunggu.

Anak tangga ketiga. Ujung kiri. Menatap gerbang.

“Tapi Bu,” lanjut Lulu. “Ibu sudah tahu jawabannya. Mas Evan bisa lihat. Dan dia sudah bilang benangnya...”

Ia berhenti.

Aku menoleh padanya.

“Lulu,” kataku pelan. “Kamu tahu soal benang?”

Lulu menatapku. Wajahnya tetap datar. Tapi telinganya, pelan-pelan, berubah merah.

“Mas Dodo,” katanya.

“Dodo cerita?”

“Mas Dodo nggak cerita, Bu. Mas Dodo bersumpah dia nggak akan cerita ke siapa pun. Dia bersumpah di depan saya, sambil megang sapu tangan saya, di tangga darurat studio.” Lulu berhenti. “Tapi sumpahnya terlalu spesifik. Saya bersumpah nggak akan cerita soal benang merah yang Abang bisa lihat kalau jantungnya di atas seratus dua puluh. Itu bukan sumpah, Bu. Itu pengakuan.”

Aku menatap Lulu.

Lalu aku tertawa. Di toilet perempuan lantai sembilan Hotel Grand Pasundan. Sampai harus berpegangan pada wastafel.

“Dodo,” kataku di antara tawa. “Ya Allah, Dodo.”

“Saya sudah catat, Bu,” kata Lulu dengan wajah datar. “Di kolom Mas Dodo: Kemampuan Menyimpan Rahasia. Nilainya nol.”


Upacara akad dimulai pukul sepuluh.

Aula di lantai sembilan Hotel Grand Pasundan penuh. Dua ratus tamu. Kursi-kursi berlapis kain putih dengan pita lilac. Pelaminan sederhana dengan rangkaian bunga anggrek ungu dan putih. Jendela-jendela besar yang menghadap ke kota Bandung, dengan langit biru dan awan putih yang bergerak pelan.

Rendi duduk di depan meja akad, berhadapan dengan ayah Nisa dan penghulu. Wajahnya pucat. Tangannya, yang memegang tangan ayah Nisa, gemetar.

Aku berdiri di sisi aula, di dekat meja vendor. Evan berdiri di sisi lain, di belakang tripod, dengan kamera terangkat.

Ia menatapku sebentar dari balik kamera. Lalu kembali ke viewfinder.

Penghulu mulai membaca. Ayah Nisa mengucapkan ijab. Suaranya berat, mantap, bergetar sedikit di akhir.

Lalu giliran Rendi.

“S-saya...”

Ia berhenti.

Aula sunyi. Dua ratus orang menahan napas.

Rendi menunduk. Menatap tangannya yang menggenggam tangan ayah Nisa. Bahunya naik turun. Aku melihat bibirnya bergerak tanpa suara, seperti sedang berdoa.

“Sa... saya t-t...”

Ia berhenti lagi.

Seseorang di barisan belakang berbisik. Seseorang lain berdeham. Ibu Rendi, di barisan depan, memejamkan mata dan menggenggam tasbihnya.

Dan aku melihat Nisa.

Ia duduk di balik tirai tipis di samping pelaminan, seperti adat di keluarganya, dengan kebaya putih dan siger Sunda di kepalanya. Ia tidak menatap Rendi. Ia menatap lantai, dengan bibir yang bergerak pelan.

Aku membaca gerakan bibirnya.

Kamu bisa. Kamu bisa. Kamu bisa.

Rendi menarik napas panjang. Mengangkat kepalanya. Menatap ke arah tirai tipis tempat Nisa duduk.

Dan ia mengucapkannya.

“Saya terima nikah dan kawinnya Nisa Aulia binti Haryanto dengan mas kawin tersebut, tunai.“

Satu napas. Lancar. Tidak tersendat sekali pun.

Penghulu menatap para saksi. “Sah?”

“SAH!“

Aula meledak. Tepuk tangan, tangis, takbir. Ibu Rendi menangis tersedu-sedu sambil memeluk tasbihnya. Ayah Nisa menepuk punggung Rendi berkali-kali. Rendi menunduk, dengan bahu bergetar, dan aku melihat air mata jatuh dari balik kacamata tebalnya ke beskap putih.

Dan di balik tirai, Nisa menangis dengan tangan menutup mulut.

Aku menangis juga. Di sisi aula. Di dekat meja vendor.

Rendi, yang gagap, yang tidak bisa mengucapkan kalimat lebih dari empat kata tanpa tersendat, baru saja mengucapkan kalimat paling penting dalam hidupnya dalam satu napas.

Karena ada seseorang di balik tirai yang berbisik kamu bisa.

Dan aku, yang bisa bicara di depan empat ratus orang, yang bisa menegur menteri, yang bisa menyuruh MC keluar dari toilet dalam dua detik, tidak bisa mengucapkan tiga kata.

Aku menatap Evan di seberang aula. Ia sudah menurunkan kameranya. Ia menatapku. Bukan menatap pengantin. Menatapku.

Matanya lembut. Tidak menuntut. Tidak menunggu.

Hanya melihat.


Pada pukul dua siang, lift Hotel Grand Pasundan mati.

Bukan rusak. Mati. Listrik di seluruh gedung padam selama tujuh menit karena gardu induk di Jalan Pasundan kelebihan beban. Genset hotel menyala setelah lima belas detik, cukup untuk lampu darurat dan sound system di aula. Tapi tidak untuk lift.

Dan di dalam lift nomor tiga, terjebak di antara lantai enam dan tujuh, ada dua orang.

Dodo dan Lulu.

Aku tahu karena Lulu mengirim pesan dari dalam lift. Tentu saja Lulu mengirim pesan dari dalam lift.

Lulu: Bu. Laporan. Lift nomor 3 macet. Antara lantai 6 dan 7.
Lulu: Saya bersama Mas Dodo.
Lulu: Kami membawa tiga kotak kue cadangan.
Lulu: Teknisi bilang 30-45 menit.
Lulu: Mas Dodo sedang panik. Saya sedang menenangkan Mas Dodo.
Lulu: Mas Dodo sudah makan satu kotak kue.
Lulu: Saya akan laporkan kerugiannya.

Aku menunjukkan pesan-pesan itu pada Evan. Ia membacanya, lalu menutup mulutnya dengan tangan dan berbalik ke dinding.

“Kenapa?” tanyaku.

“Nggak.” Bahunya bergetar. “Nggak apa-apa.”

“Kamu ketawa.”

“Aku nggak ketawa.”

“Evan.”

Ia berbalik. Wajahnya merah. Matanya berair. “Dodo bilang ke aku semalam, dia mau nanya ke Lulu. Hari ini. Aku bilang ke dia jangan kayak aku. Tanya.”

Aku menatapnya. Lalu menatap ponselku. Lalu menatapnya lagi.

“Di lift?”

“Aku nggak bilang di lift. Aku bilang tanya.”

Ponselku bergetar lagi.

Lulu: Bu. Mas Dodo sudah berhenti makan kue.
Lulu: Mas Dodo sedang menatap saya.
Lulu: Mas Dodo bilang dia mau tanya sesuatu.
Lulu: Saya akan laporkan nanti.

Lalu sunyi. Lima menit. Sepuluh. Lima belas.

Aku tidak bisa berhenti menatap ponselku. Evan juga. Kami berdiri berdampingan di koridor lantai sembilan, di depan pintu lift nomor tiga yang tertutup, dengan kepala tertunduk menatap layar ponselku seperti dua orang yang menunggu hasil ujian nasional.

Dua puluh menit.

Ponselku bergetar.

Lulu: Bu.
Lulu: Saya perlu bantuan.
Aku: Kenapa?? Kamu nggak apa-apa??
Lulu: Saya baik-baik saja.
Lulu: Mas Dodo bertanya apakah saya suka dia.
Lulu: Saya tidak tahu cara menjawabnya dengan kata-kata.

Aku menatap pesan itu. Evan, di sebelahku, menahan napas.

Aku: Kamu suka dia?
Lulu: Saya tidak tahu cara menjawabnya dengan kata-kata, Bu. Itu masalahnya.

Aku menatap pesan itu lama sekali.

Saya tidak tahu cara menjawabnya dengan kata-kata.

Lulu. Lulu yang bisa menulis laporan sepuluh halaman dalam satu jam. Lulu yang bisa membuat spreadsheet untuk segala hal di dunia. Lulu yang tidak pernah kehabisan kata-kata untuk menegur vendor, klien, atau Dodo.

Lulu tidak bisa mengucapkan satu kata.

Sama seperti aku.

Aku mengetik.

Aku: Lulu. Kalau kamu nggak bisa pakai kata-kata, tunjukin aja.
Aku: Kamu punya clipboard. Tunjukin.

Lima menit.

Lalu, dari dalam lift nomor tiga, terdengar suara.

Suara Dodo. Teredam oleh pintu besi dan dua lantai di antara kami. Tapi jelas.

Suara Dodo berteriak. Bukan teriakan panik. Teriakan yang lain. Teriakan seperti seseorang yang baru saja memenangkan undian umrah, mobil, dan rumah sekaligus.

“YA ALLAH! YA ALLAH! MBAK! INI SEMUA TENTANG SAYA?!“

Evan menatapku. Aku menatap Evan.

Lalu kami berdua tertawa sampai harus bersandar ke dinding koridor.


Lift nomor tiga terbuka pukul tiga lewat sepuluh di lantai tujuh, setelah teknisi memutarnya secara manual.

Dodo keluar pertama. Wajahnya merah. Matanya merah. Kemeja batiknya penuh remah kue. Di tangannya, ia memegang clipboard Lulu dengan dua tangan, di depan dadanya, seperti memegang kitab suci.

Lulu keluar di belakangnya. Wajahnya datar. Kacamatanya miring. Telinganya merah seperti tomat.

Tangan kirinya menggenggam tangan kanan Dodo.

Mereka berjalan melewati kami tanpa berkata apa-apa. Dodo menatap clipboard itu sepanjang koridor, seperti membaca surat cinta. Lulu menatap lurus ke depan, seperti sedang berbaris di upacara bendera.

Tapi mereka tidak melepaskan tangan.

Aku melihat clipboard itu sebentar ketika mereka lewat. Halaman yang terbuka. Halaman yang penuh tulisan tangan Lulu yang rapi dan kecil. Ratusan baris. Dengan judul di atasnya, digarisbawahi dua kali:

MAS DODO

Dan di bawah judul itu, baris pertama:

Hari pertama. Grand Lembang Hall. Menangkap kue dengan dada. Bodoh. Berani. Lucu (?).

Dan baris terakhir, ditulis dengan tinta yang berbeda, dengan tulisan yang sedikit gemetar, mungkin baru ditulis dua puluh menit lalu di dalam lift yang gelap:

Saya tidak mencatat orang yang tidak saya suka.


Malamnya, setelah resepsi selesai dan Rendi dan Nisa berpamitan dengan senyum paling lebar yang pernah kulihat, Evan mengantarku ke rumah sakit.

Papa sudah tidur. Aku duduk di sofa penunggu yang terlalu pendek. Evan duduk di sebelahku. Lampu kamar redup. Monitor Papa berbunyi pelan. Bip. Bip. Bip.

Aku menatap tanganku di pangkuan. Ia menatap tangannya di pangkuannya.

Lama kami diam.

“Rendi,” kataku akhirnya. Pelan, supaya tidak membangunkan Papa. “Dia gagap. Dia nggak bisa ngomong lebih dari empat kata tanpa tersendat. Tapi tadi dia bisa. Satu napas.”

“Aku lihat.”

“Karena Nisa bilang kamu bisa. Dari balik tirai.”

“Aku lihat juga.”

Aku menarik napas.

“Lulu juga nggak bisa ngomong,” kataku. “Jadi dia nunjukin clipboard.”

“Dodo udah kirim fotonya ke aku. Empat belas kali. Dalam satu jam.”

Aku tertawa kecil. Lalu berhenti.

“Evan,” kataku.

“Hm.”

“Aku mau bilang sesuatu.”

Ia menoleh padaku. Menunggu.

Aku menatapnya. Di bawah lampu kamar rumah sakit yang redup. Matanya yang lembut. Rambutnya yang diikat setengah. Lingkaran hitam di bawah matanya.

Kalimat itu ada di tenggorokanku. Sangat dekat. Lebih dekat dari sebelumnya. Aku bisa merasakan bentuk setiap hurufnya di lidahku.

“Aku...”

Ia tidak bernapas.

“...cinta...”

Tanganku gemetar di pangkuan. Detak jantungku sendiri, yang tidak pernah kuhitung, yang tidak pernah kupedulikan, berdetak di telingaku seperti genderang.

“...kamu...”

Ia menatapku.

“...bawa payung?”

Hening.

Evan berkedip.

“...Apa?”

“Kamu bawa payung?” Suaraku keluar tinggi dan aneh. “Tadi. Di mobil. Soalnya kayaknya mau hujan. Langitnya mendung. Aku cuma... penasaran. Kamu bawa payung atau nggak.”

Evan menatapku lama.

Lalu ia menunduk. Bahunya bergetar.

Ia tertawa. Tanpa suara, supaya tidak membangunkan Papa. Ia tertawa sampai harus menutup wajahnya dengan dua tangan dan membungkuk ke depan di sofa yang terlalu pendek.

Aku menutup wajahku juga. Dengan dua tangan. Dan aku tidak tahu apakah aku tertawa atau menangis. Mungkin keduanya.

“Payung,” gumamnya di balik tangannya. “Kamu bawa payung.“

“Diam.”

“Dua belas tahun, dan yang keluar payung.”

“Evan.“

Ia menurunkan tangannya. Wajahnya merah karena menahan tawa. Matanya berair.

Lalu ia meraih tanganku. Menarik tanganku dari wajahku. Pelan.

“Mika,” katanya. Suaranya lembut sekarang. Tidak tertawa lagi. “Nggak usah dipaksa.”

Aku menatapnya.

“Aku nggak perlu kamu bilang,” katanya. “Aku bisa lihat. Tali kapal. Ingat?”

Aku menatapnya. Dan sesuatu di dadaku sakit. Sakit dengan cara yang tidak kumengerti.

Karena dua belas tahun, ini yang aku inginkan. Ini persis yang aku rencanakan. Ia melihat. Ia tahu. Aku tidak perlu bilang.

Rencanaku berhasil.

Jadi kenapa rasanya seperti kehilangan sesuatu?

“Aku tahu kamu bisa lihat,” kataku pelan. “Tapi aku mau kamu dengar.”

Ia diam.

“Nggak sekarang, ternyata,” kataku. Suaraku pecah. “Ternyata aku belum bisa. Tapi aku mau. Aku mau bilang ke kamu. Dengan suaraku. Bukan cuma dengan... yang kamu lihat.”

Evan menatapku lama. Lalu ia mengangkat tanganku yang ia genggam, menempelkannya ke dadanya. Di atas jantungnya. Aku bisa merasakannya berdetak. Cepat.

“Oke,” katanya. “Kalau gitu aku tunggu.”

“Kamu nggak pinter nunggu.”

“Aku belajar.” Ia tersenyum kecil. “Empat jam di bangku besi. Aku punya sertifikat dari satpam.”

Aku tertawa. Basah. Dan menyandarkan kepalaku di bahunya.

Di tempat tidur, Papa membuka satu mata. Menatap kami berdua di sofa yang terlalu pendek. Lalu menutup matanya lagi dengan senyum kecil di balik selang oksigen.

Bip. Bip. Bip.

Di luar jendela, hujan mulai turun di atas Jalan Juanda.

Evan tidak bawa payung.

Tapi malam itu, kami tidak perlu pergi ke mana-mana.


Pukul sebelas, setelah ia tertidur di bahuku dengan napas yang pelan dan teratur, aku menatap wajahnya dari dekat.

Pucat. Lebih pucat dari biasanya. Ada keringat dingin di pelipisnya, padahal kamar ber-AC.

Aku meletakkan tanganku di dadanya. Pelan, supaya tidak membangunkannya.

Jantungnya berdetak di bawah telapak tanganku.

Tidak teratur.

Cepat. Lalu pelan. Lalu cepat lagi. Seperti seseorang yang berlari, berhenti, lalu tiba-tiba berlari lagi tanpa alasan. Seperti burung kecil yang terperangkap dan mengepak-ngepakkan sayapnya ke dinding sangkar.

Aku ingat kata Lulu. Mas Evan pegang dada. Hampir pingsan. Detak jantungnya tinggi tanpa alasan.

Aku ingat kata Evan, dua hari lalu, waktu aku bertanya: Udah ke Fikri. Kecapekan aja. Kurang tidur.

Aku menatap wajahnya yang tertidur.

Lalu aku menatap jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Layarnya menyala sebentar ketika tanganku menyentuh dadanya.

Seratus dua puluh sembilan.

Dalam tidur.

Ia tidur, dan jantungnya berdetak seratus dua puluh sembilan.

Aku tidak bergerak. Aku tidak membangunkannya. Aku hanya duduk di sana, dengan tangan di dadanya dan kepalanya di bahuku, menatap angka di layar jam tangan itu sampai layarnya meredup.

Dan untuk pertama kalinya, angka di atas seratus dua puluh tidak membuatku bahagia.

Untuk pertama kalinya, angka itu membuatku sangat, sangat takut.