← Gadis Tanpa Benang

Chapter Thirty Four

Cinta yang Bisa Diawasi

POV: Evan

Dodo menyalakan lilin.

Dua belas lilin aromaterapi di gelas kaca kecil, berjajar di meja jati di ruang depan studio, di ambang jendela, di rak album contoh. Wanginya lavender dan vanila, bercampur jadi sesuatu yang manis dan agak memusingkan. Lampu ruangan dimatikan. Hanya lilin-lilin itu dan lampu jalan dari luar jendela.

“Dod,” kataku dari ambang pintu ruang editing.

“Suasana, Bang.”

“Ini bukan kencan.”

“Ini percakapan penting, Bang. Percakapan penting butuh suasana.” Dodo menyalakan lilin ketiga belas dan meletakkannya di atas lemari. “Saya baca di internet. Lilin menurunkan stres dan meningkatkan keintiman.”

“Kamu baca di mana?”

“Cosmopolitan. Mbak Lulu yang kirim linknya.”

Pintu depan terbuka. Lulu masuk dengan clipboard. Ia berhenti di ambang pintu. Menatap tiga belas lilin yang menyala.

Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia berjalan ke lilin terdekat dan meniupnya.

“Mbak!”

“Mas Evan pasien jantung, Mas.” Lulu meniup lilin kedua. “Asap lilin aromaterapi mengandung partikel halus. Tidak baik untuk pernapasan. Juga risiko kebakaran.” Lilin ketiga. “Dan lavender plus vanila menimbulkan sakit kepala pada empat puluh persen orang dewasa.”

“Itu dari mana, Mbak?”

“Jurnal kesehatan. Bukan Cosmopolitan.” Lilin keempat. “Saya kirim Cosmopolitan untuk Mas baca, bukan untuk Mas praktikkan.”

Dodo menatap Lulu yang meniup lilin satu per satu dengan wajah datar. Lalu menatapku dengan wajah orang yang baru saja kehilangan sesuatu yang berharga.

“Bang,” katanya pelan. “Suasananya.”

“Suasananya sudah dibatalkan, Dod.”

Lulu meniup lilin ketiga belas. Menyalakan lampu ruangan. Menatapku.

“Mas,” katanya. “Bu Mika sepuluh menit lagi. Saya dan Mas Dodo akan menunggu di luar. Di mobil. Di parkiran toko roti.” Ia berhenti. “Jaraknya cukup jauh untuk tidak mendengar. Cukup dekat untuk datang kalau ada keadaan darurat medis.”

“Lu...”

“Itu bukan permintaan, Mas. Itu protokol.” Ia menarik lengan Dodo. “Ayo, Mas Dodo.”

Dodo mengikutinya keluar. Di pintu, ia menoleh padaku.

“Bang,” katanya. “Jangan bodoh, ya.”

Pintu tertutup.

Aku berdiri di ruang depan studio yang sekarang bau asap lilin lavender, sendirian, dengan jantung enam puluh enam yang ditahan obat, dan menyadari bahwa aku tidak tahu apa yang akan ia minta.

Tapi aku tahu.

Aku tahu persis.


Ia datang pukul delapan tepat.

Dengan jaket denim tuaku di bahu. Di atas gaun hitam sederhana yang sama dengan pernikahan kesepuluh. Rambutnya digerai. Wajahnya polos, tanpa riasan sama sekali. Matanya merah dan bengkak, tapi tidak basah. Seperti seseorang yang sudah menangis cukup banyak dan memutuskan untuk berhenti.

Ia berdiri di ambang pintu. Menatapku.

Lalu ia mengendus udara.

“Kenapa bau lavender?”

“Dodo nyalain tiga belas lilin. Lulu tiup semua.”

Sudut bibirnya bergetar. Hampir senyum. Hampir.

Ia masuk. Menutup pintu di belakangnya. Lonceng kuningan di atasnya, yang sudah kupasang kembali setelah jatuh, berbunyi pelan.

Ia tidak duduk. Ia berdiri di tengah ruang depan, di depan dinding foto, di bawah tempat anak perempuan di undakan tangga menatap gerbang. Dengan tangan di dalam saku jaket denim. Dengan bahu yang tegak, seperti seseorang yang sudah menyiapkan diri untuk sesuatu yang berat.

“Aku mau minta sesuatu,” katanya.

“Aku tahu.”

“Kamu tahu aku nggak pernah minta apa-apa.”

“Aku tahu.”

“Ke siapa pun. Dua puluh lima tahun. Bu Ningsih bilang aku nggak pernah minta. Papa bilang aku nggak pernah minta.” Suaranya pelan. Tenang. Terlalu tenang. “Ini pertama kalinya.”

Aku menunggu.

Mikaela menarik napas. Napas yang panjang dan gemetar.

“Operasi,” katanya. “Hari Senin. Fikri bilang ada slot lagi. Aku udah tanya.”

Aku diam.

“Aku minta kamu operasi, Evan.” Ia menatapku. Langsung. Tanpa berkedip. “Aku minta kamu ablasi. Aku minta kamu minum obatnya seumur hidup. Aku minta kamu hidup.”

Ruang depan studio sangat sunyi. Bau asap lilin lavender masih menggantung di udara. Dari luar, suara motor lewat di Jalan Dago.

“Itu permintaanku,” kata Mikaela. “Satu-satunya.”

Aku menatapnya.

Perempuan di depanku. Yang menunggu dua belas tahun. Yang tidak pernah meminta apa pun dari siapa pun. Yang berdiri di bawah foto dirinya sendiri waktu tiga belas tahun, dengan jaket yang ia curi dariku, meminta satu hal.

Satu hal.

Supaya aku hidup.

Aku harus bilang iya. Aku tahu aku harus bilang iya. Kata itu ada di tenggorokanku. Mudah. Satu kata. Dua huruf.

Yang keluar adalah:

“Aku nggak bisa.”


Hening.

Mikaela tidak bergerak. Wajahnya tidak berubah. Ia hanya menatapku, dengan mata yang merah dan bengkak, dan tidak berkedip.

“Apa?” katanya. Sangat pelan.

“Aku nggak bisa, Mika.”

“Kamu nggak bisa apa?”

“Ablasi. Obat seumur hidup. Aku...” Suaraku pecah. “Aku nggak bisa berhenti lihat.”

Mikaela menatapku.

“Aku minum obatnya,” kataku cepat. “Tiap hari sekarang. Kamu lihat pesanku. Aku minum. Jantungku enam puluhan. Aku nggak naik tangga. Aku nggak minum kopi. Aku jaga.”

“Tapi kamu nggak mau operasi.”

“Kalau aku operasi, jalurnya dibakar. Permanen. Kalau aku cuma minum obat...”

Aku berhenti. Aku tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.

Tapi Mikaela menyelesaikannya untukku.

“Kalau kamu cuma minum obat,” katanya pelan, “kamu bisa berhenti minum. Sekali-sekali. Kapan pun kamu mau. Buat lihat.”

Aku tidak menjawab.

Itu sudah cukup jadi jawaban.

Mikaela menatapku lama. Lalu ia tertawa. Tawa kecil yang tidak lucu. Tawa yang patah di ujung.

“Kamu mau nyimpen pintu darurat,” katanya. “Buat ngintip.”

“Mika...”

“Kenapa?” Suaranya naik sekarang. Sedikit. “Kenapa kamu harus lihat? Kenapa kamu nggak bisa berhenti?”

Aku menatapnya. Lalu menatap dinding foto di belakangnya. Foto anak perempuan di undakan tangga. Dan di sebelahnya, persegi panjang yang warnanya lebih terang dari dinding di sekitarnya. Bekas foto pernikahan Fikri dan Nadia.

“Karena kalau aku nggak bisa lihat,” kataku pelan, “aku nggak akan tahu kalau suatu hari benangmu menipis.”

Mikaela membeku.

“Aku nggak akan tahu kalau suatu pagi benangmu ke aku lebih tipis dari kemarin,” lanjutku. Suaraku bergetar. “Aku nggak akan tahu kalau ada benang baru tumbuh ke arah lain. Aku nggak akan tahu sampai suatu hari aku bangun dan lemarimu kosong.”

“Evan...”

“Kamu nggak tahu rasanya, Mika.” Air mataku mulai jatuh. “Kamu nggak tahu rasanya bangun dan lemari kosong. Tanpa tanda-tanda. Tanpa apa-apa. Semua orang bilang mereka nggak lihat itu datang. Fikri bilang dia lihat pakai mata biasa. Tapi dia tetap kaget. Dia tetap makan martabak sendirian di parkiran Indomaret.”

Aku menunjuk dadaku.

“Aku bisa lihat itu datang. Aku satu-satunya orang di dunia yang bisa lihat itu datang. Dan kamu minta aku buang itu?”


Mikaela menatapku.

Dan aku melihat sesuatu di wajahnya. Sesuatu yang pelan-pelan mengeras, seperti air yang membeku di musim dingin. Bukan marah. Lebih buruk dari marah.

Kecewa.

“Jadi,” katanya pelan. Sangat pelan. Setiap kata seperti batu yang diletakkan hati-hati. “Kamu cuma mau cinta yang bisa kamu awasi.”

Kalimat itu menancap di dadaku.

“Bukan...”

“Kamu cuma mau cinta yang bisa kamu cek tiap pagi.” Suaranya bergetar. “Kayak kamu cek Sasha. Naik tangga tiga kali. Lihat benangnya. Ukur tebalnya. Pastiin masih ada. Pastiin aku nggak ke mana-mana.”

“Mika, bukan gitu...”

“Terus apa?” Ia melangkah maju. Satu langkah. “Apa bedanya, Evan? Kamu mau minum obat setengah-setengah, supaya sekali-sekali bisa berhenti, naik tangga, lihat benangku, cek aku masih cinta kamu atau nggak. Dan kalau masih, kamu minum obat lagi. Dan seminggu kemudian, kamu berhenti lagi, dan cek lagi.”

Ia menatapku dengan mata yang mulai basah.

“Itu bukan cinta. Itu pengawasan. Kamu bukan pacarku. Kamu satpam.”

“Aku takut, Mika!”

Suaraku keluar lebih keras dari yang kumaksud. Bergema di ruang depan studio yang sempit.

Mikaela tidak mundur.

“Aku juga takut!” balasnya. Sama kerasnya. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, ia berteriak padaku. “Kamu pikir cuma kamu yang takut? Aku takut kamu mati! Aku takut suatu pagi aku bangun dan kamu nggak ada! Aku takut aku harus berdiri di samping liang lahat lagi, dua minggu setelah Papa!”

Air matanya jatuh sekarang. Banyak. Tanpa ia usap.

“Aku nggak punya mata ajaib, Evan! Aku nggak bisa lihat benang! Aku nggak bisa cek kamu tiap pagi! Aku cuma bisa percaya! Dua belas tahun aku cuma bisa percaya! Tanpa lihat apa-apa!”

Aku tidak bisa menjawab.

“Kamu tahu apa yang aku lakuin dua belas tahun?” Suaranya pecah. “Aku percaya sama anak laki-laki yang bilang nanti ada yang nungguin kamu. Aku nggak tahu kalau dia beneran bisa lihat benang. Aku nggak tahu kalau dia gila atau demam atau bohong. Aku cuma percaya. Karena itu satu-satunya hal yang bisa aku lakuin.”

Ia menunjuk dadaku. Jarinya gemetar.

“Dan sekarang aku minta kamu ngelakuin hal yang sama. Satu kali. Percaya. Tanpa lihat. Kayak semua orang lain di dunia ini. Kayak aku.”

Ia menarik napas. Napas yang patah.

“Dan kamu bilang nggak bisa.”


Hening.

Panjang.

Aku berdiri di ruang depan studio. Mikaela berdiri di depanku. Jarak di antara kami hanya dua langkah. Tapi rasanya seperti jarak antara dua sisi gerbang.

“Aku udah minta, Evan,” katanya. Pelan sekarang. Sangat pelan. Semua tenaga sudah habis dari suaranya. “Pertama kalinya dalam hidupku. Aku minta.”

Ia menatapku.

“Dan kamu bilang nggak.”

Aku melihat wajahnya.

Dan aku melihat sesuatu di sana yang membuatku ingin berlutut di lantai dan memohon ampun.

Aku melihat anak perempuan tiga belas tahun. Di anak tangga ketiga. Ujung kiri. Menatap gerbang yang tidak terbuka.

Anak perempuan yang tidak pernah meminta karena takut ditolak. Yang tidak pernah berlari ke gerbang karena tahu tidak ada yang datang. Yang belajar, selama tujuh tahun, bahwa meminta hanya akan membuatnya lebih sakit.

Dan pertama kali ia memberanikan diri untuk meminta, kepada orang yang paling ia percaya di dunia, orang itu bilang nggak bisa.

Aku baru saja mengonfirmasi ketakutan terbesarnya.

“Mika,” bisikku. “Mika, aku...”

Ia menggeleng. Pelan.

“Papa bilang ke aku,” katanya. “Malam terakhir. Sekali-sekali minta, ya. Minta sama orang yang sayang kamu. Mereka nggak akan pergi.“

Ia tersenyum. Senyum yang paling sedih yang pernah kulihat.

“Kamu nggak pergi,” katanya. “Tapi kamu juga nggak ngasih.”

Ia melepas jaket denim tua dari bahunya.

Pelan. Melipatnya. Dua kali. Rapi. Seperti melipat bendera di upacara.

Ia meletakkannya di sofa abu-abu. Di sebelahku.

“Aku balikin,” katanya.

Aku menatap jaket itu.

Jaket keramat. Satu-satunya barang dari hidupku yang lama yang tidak dikotori siapa pun. Yang kuberikan padanya di bawah hujan di Lembang tanpa berpikir. Yang ia curi. Yang ia bilang tidak akan pernah ia kembalikan. Yang ia peluk di ambang jendela apartemen jam satu pagi. Yang ia pakai di rumah sakit, di tahlilan, di ruang baca Papa.

Dilipat rapi. Di sofa abu-abu.

“Mika...”

“Aku nggak bisa jadi orang yang kamu awasi, Evan.” Ia menatapku. Air matanya masih jatuh. Tapi suaranya tenang sekarang. Tenang dengan cara yang lebih menakutkan dari berteriak. “Aku udah dua belas tahun nunggu dilihat. Aku nggak mau sisa hidupku diawasi.”

Ia berjalan ke pintu.

“Aku cuma mau dipercaya,” katanya di ambang pintu. Tanpa menoleh. “Satu kali. Sama orang yang bisa lihat semuanya, tapi milih untuk percaya.”

Lonceng di atas pintu berbunyi.

Pintu tertutup.


Aku berdiri di ruang depan studio sangat lama.

Bau asap lilin lavender. Jaket denim terlipat di sofa abu-abu. Anak perempuan di undakan tangga, di dinding, menatap gerbang.

Jantungku enam puluh tujuh.

Aku tidak bisa melihat apa-apa.

Aku tidak tahu apakah benangnya ke arahku masih ada. Apakah masih setebal tali kapal. Apakah sudah menipis setelah malam ini. Setelah aku menolak permintaan pertamanya dalam dua puluh lima tahun.

Aku tidak tahu.

Untuk pertama kalinya sejak ballroom Lembang, aku benar-benar tidak tahu.

Dan ketidaktahuan itu terasa seperti jatuh dari bianglala tanpa ada yang menangkap.

Aku berjalan ke dapur. Membuka laci di belakang toples decaf. Mengeluarkan strip obat. Menatap tablet-tablet putih kecil di dalamnya.

Aku sudah minum satu pagi ini.

Kalau aku tidak minum besok pagi. Kalau aku menunggu sampai siang. Kalau aku naik turun tangga studio tiga kali. Jantungku mungkin bisa sampai seratus dua puluh. Mungkin. Kalau obatnya sudah habis efeknya.

Dan aku bisa lihat.

Aku bisa lihat apakah benangnya masih ada.

Aku menatap strip obat itu lama sekali.

Kamu cuma mau cinta yang bisa kamu awasi.

Itu bukan cinta. Itu pengawasan.

Aku cuma mau dipercaya. Satu kali.

Aku meletakkan strip obat itu kembali ke laci.

Aku tidak memutuskan apa-apa. Aku hanya terlalu lelah untuk memutuskan.


Pintu depan terbuka sepuluh menit kemudian. Lonceng berbunyi.

Dodo dan Lulu masuk. Diam. Mereka melihatku duduk di lantai dapur, bersandar ke lemari, dengan kepala di antara lutut.

Mereka melihat jaket denim terlipat di sofa abu-abu.

Dodo berhenti. Menatap jaket itu.

“Bang,” bisiknya. “Jaket keramat.”

Aku tidak menjawab.

Lulu tidak berkata apa-apa. Ia berjalan ke dapur. Duduk di lantai di sebelahku. Clipboard di pangkuannya. Ia tidak membukanya.

Lama ia diam.

“Mas,” katanya akhirnya. “Bu Mika lewat depan mobil kami. Lima menit lalu. Jalan kaki.”

Aku mengangkat kepala.

“Dia nggak lihat kami,” lanjut Lulu. “Dia jalan ke arah atas. Ke arah Dago Pakar.”

“Jalan kaki?”

“Jalan kaki, Mas. Mobilnya masih di depan studio.”

Aku menatap Lulu.

“Dia nangis,” kata Lulu. “Saya lihat dari kaca mobil. Dia jalan sambil nangis. Tapi dia nggak lari. Dia jalan pelan. Kayak orang yang nggak tahu mau ke mana.”

Aku berdiri. Terlalu cepat. Kepalaku pening.

“Mas, jangan...”

“Aku harus...”

“Mas, jantung Mas.” Lulu berdiri juga. Memegang lenganku. “Mas nggak boleh lari.”

“Aku nggak lari. Aku jalan.”

“Mas...”

“Aku jalan, Lu.” Suaraku pecah. “Aku cuma mau jalan di belakang dia. Dari jauh. Nggak ngomong apa-apa. Cuma... jalan. Supaya dia nggak sendirian di jalan.”

Lulu menatapku lama.

Lalu ia melepaskan lenganku.

“Mas Dodo,” katanya, tanpa menoleh. “Ambil mobil. Ikutin Mas Evan dari belakang. Pelan. Lampu hazard.”

“Siap, Mbak.”

Aku keluar dari studio.

Malam Dago dingin. Lampu-lampu jalan kuning. Pohon flamboyan menjatuhkan bunga merah ke trotoar. Jalan menanjak ke arah utara, ke arah Dago Pakar, gelap dan berkelok.

Jauh di depan, di bawah lampu jalan ketiga, aku melihat sosok perempuan berbaju hitam. Berjalan pelan. Sendirian. Dengan bahu yang membungkuk dan tangan memeluk dirinya sendiri.

Aku berjalan di belakangnya.

Pelan. Sangat pelan. Supaya jantungku tidak naik. Supaya aku tidak pingsan di trotoar Dago.

Aku tidak mendekat. Aku tidak memanggil namanya. Aku hanya berjalan, lima puluh meter di belakangnya, dengan tangan di saku dan mata yang tidak lepas dari punggungnya.

Di belakangku, mobilku merayap pelan dengan lampu hazard yang berkedip-kedip. Dodo di balik setir. Lulu di sebelahnya dengan clipboard.

Kami berjalan seperti itu selama empat puluh menit. Menanjak. Melewati kafe-kafe yang sudah tutup. Melewati rumah-rumah tua dengan pagar tinggi. Melewati Kafe Lereng, yang lampunya sudah mati.

Mikaela tidak menoleh sekali pun.

Ia tidak tahu aku di sini.

Atau mungkin ia tahu. Mungkin ia mendengar langkahku. Mungkin ia melihat lampu hazard yang berkedip di belakang.

Aku tidak tahu.

Aku tidak bisa melihat benangnya.

Aku hanya bisa berjalan di belakangnya, dalam gelap, tanpa tahu apakah ia masih mencintaiku.

Dan untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun, aku menyadari bahwa ini, persis ini, berjalan di belakang seseorang dalam gelap tanpa tahu, adalah yang dilakukan semua orang di dunia setiap hari.

Setiap orang yang mencintai seseorang.

Tanpa melihat.

Hanya percaya bahwa ketika mereka menoleh, orang itu masih di sana.

Pukul sembilan lewat lima puluh, di bawah lampu jalan di depan sebuah gerbang perumahan di Dago atas, Mikaela berhenti.

Ia berdiri di sana lama. Menatap jalan di depannya yang menanjak dan gelap.

Lalu, pelan, ia menoleh.

Ke belakang.

Ke arahku. Lima puluh meter di belakangnya. Di bawah lampu jalan yang lain. Dengan tangan di saku dan wajah yang basah.

Kami saling menatap. Dari jarak lima puluh meter. Dalam gelap.

Aku tidak bisa melihat benangnya.

Ia tidak bisa melihat benangku.

Kami hanya bisa melihat satu sama lain.

Ia tidak berjalan ke arahku. Aku tidak berjalan ke arahnya.

Tapi ia tidak berbalik pergi juga.

Ia hanya berdiri di sana. Menatapku. Lama sekali.

Lalu Dodo memarkir mobil di sebelahnya, dan Lulu turun, dan memeluknya, dan menuntunnya masuk ke kursi belakang.

Mobil itu berbalik. Melewatiku. Turun ke arah kota.

Di kaca belakang, aku melihat wajahnya. Menatapku melalui kaca. Dengan mata yang merah dan basah.

Ia mengangkat satu tangan. Menempelkannya ke kaca.

Lalu mobil itu menghilang di tikungan.

Aku berdiri sendirian di bawah lampu jalan di Dago atas, dengan jantung enam puluh delapan dan napas yang tersengal karena tanjakan empat puluh menit.

Aku tidak tahu apa artinya tangan di kaca itu.

Aku tidak bisa melihat.

Aku harus memilih untuk percaya.