← Gadis Tanpa Benang

Chapter Forty One

Epilog — Sekarang Berapa?

POV: Mika

Setahun kemudian, dinding studio punya foto baru.

Di sebelah foto anak perempuan di undakan tangga. Di tempat yang dulu ditempati foto pernikahan Fikri dan Nadia, di persegi panjang yang warnanya sedikit lebih terang dari dinding di sekitarnya.

Foto itu sekarang menutupi bekasnya dengan sempurna. Ukurannya sama. Enam puluh kali sembilan puluh senti. Bingkainya kayu jati tua, dipelitur sampai mengilap seperti madu. Bingkai yang dulu tergantung di ruang baca Papa.

Di dalamnya, foto hitam-putih. Diambil dengan Leica tua milik ayah Evan. Dicetak di darkroom lantai atas, di bawah lampu merah, di kertas fiber terbaik.

Dua orang di pelaminan. Di bawah pohon kemuning. Dahi bersandar di dahi. Mata tertutup. Bunga-bunga putih kecil di rambut mereka.

Dodo yang memotretnya. Di tengah tangis. Dengan tangan yang gemetar. Dengan bahu yang berguncang.

Fokusnya sedikit meleset. Bagian pinggirnya sedikit kabur. Ada bayangan jari Dodo di sudut kanan atas, karena ia lupa memindahkan tangannya dari depan lensa.

Evan bilang itu foto paling sempurna yang pernah ia lihat.

Di bawahnya, plakat kuningan kecil.

Tidak Perlu Dilihat.
Ridho Firmansyah, 27 tahun.


Pagi ini, aku bangun pukul enam.

Bukan di apartemen lantai dua belas. Bukan di rumah Papa di Setiabudi. Di rumah kecil kami di Dago atas, di ujung jalan yang menanjak, empat puluh menit jalan kaki dari studio. Di bawah lampu jalan yang sama, tempat aku berhenti dan menoleh ke belakang, setahun lalu, dan menemukan laki-laki yang berjalan lima puluh meter di belakangku dalam gelap.

Rumah dengan satu ruang baca kecil. Dengan kursi goyang kayu jati yang berderit. Dengan bingkai di dinding, enam puluh kali sembilan puluh senti, berisi print asli anak perempuan di undakan tangga. Dengan tanda tangan anak SMA di sudut kanan bawah.

Gantung lagi. Di rumah kalian. Biar dia tahu. Ada yang nunggu dia sekarang.

Kami menggantungnya di hari pertama pindahan. Evan berdiri di atas kursi. Aku memegangi kursinya. Kami tidak berkata apa-apa.

Kursi goyang Papa berderit ketika aku bersandar di sana.

Lagu Papa ada di sini.


Evan sudah bangun. Ia selalu bangun lebih dulu.

Ia berdiri di dapur kecil kami, dengan kaos abu-abu dan celana training, menyeduh kopi Gayo dengan V60 yang ia beli di toko peralatan kopi di Braga. Satu gelas. Untuknya. Dan satu cangkir teh untukku, karena aku masih menepati janji: kalau ia hanya boleh satu gelas kopi sehari, aku juga.

Di pergelangan tangan kirinya, jam tangan yang sama. Layarnya menyala hijau setiap kali ia menggerakkan tangan.

68.

Ia tidak pernah melihat angka itu lagi. Fikri yang melihat. Dari aplikasi di ponselnya, yang masih tersambung. Fikri bilang fraksi ejeksi jantung Evan sudah naik ke lima puluh dua persen. Hampir normal. Fikri bilang dalam setahun lagi, mungkin bisa normal sepenuhnya.

Fikri bilang itu dengan senyum lebar, di ruang praktiknya, dengan Stetoskop yang tidur di atas tumpukan rekam medis.

Dan dengan seorang perempuan yang duduk di kursi di sudut ruangan. Perawat ICU dari Rumah Sakit Santosa. Teman Saras. Yang dikenalkan Saras di pernikahan Bu Ratih dan Pak Darto, empat bulan lalu.

Fikri bilang itu bukan apa-apa. Fikri bilang mereka cuma teman.

Evan bilang, setelah kunjungan itu, di mobil, dengan senyum kecil yang tidak sengaja: Aku nggak bisa lihat benangnya. Tapi aku lihat Fikri nyengir kayak orang bodoh selama lima belas menit.


Evan membawakan teh ke meja makan kecil di dekat jendela. Duduk di seberangku. Menyesap kopinya.

Di luar jendela, Bandung masih berkabut. Pohon-pohon pinus di lereng bukit seperti bayangan-bayangan abu-abu. Lampu-lampu kota di bawah sana belum sepenuhnya padam.

Ponselku bergetar di meja. Pesan-pesan pagi.

Lulu: Bu. Laporan. Saya hamil.
Lulu: Tiga bulan.
Lulu: Mas Dodo pingsan waktu saya kasih tahu. Pingsan sadar. Sudah bangun.
Lulu: Mas Dodo sudah bikin kaos. Tulisannya “SAYA AKAN JADI AYAH. INI BUKAN KONSPIRASI.”
Lulu: Saya sudah larang dia pakai ke venue.
Lulu: Dia tetap pakai.
Lulu: Ini tidak ada hubungannya dengan apa pun. Saya cuma mau Ibu tahu.

Aku tertawa sampai teh tumpah sedikit ke meja.

Kak Bima: Dek. Teh Neneng nanya, kamu mau bolu pisang atau bolu kukus buat syukuran tujuh bulanan Mbak Lulu?
Kak Bima: Saya bilang bolu pisang. Percobaan ke-47. Gulanya udah pas banget.
Kak Bima: Teh Neneng bilang saya terobsesi.
Kak Bima: Saya nggak terobsesi. Saya cuma mau adik saya makan bolu yang enak.

Ibu: Neng, Pak Darto benerin AC rumah kalian hari Sabtu ya. Katanya bunyinya kayak kambing.
Ibu: Ibu ikut. Bawa soto.
Ibu: Jangan nolak.

Aku meletakkan ponsel. Menatap Evan.

Ia sedang menatapku. Dari balik gelas kopinya. Dengan mata cokelat gelap yang tenang dan hangat.

“Lulu hamil,” kataku.

“Dodo udah telepon. Jam lima subuh. Nangis.”

“Dodo pingsan.”

“Pingsan sadar.”

Kami tertawa.

Lalu ia meletakkan gelas kopinya. Menatapku. Dan aku tahu apa yang akan ia tanyakan. Ia menanyakannya setiap pagi. Tiga ratus enam puluh lima pagi.

“Hari ini setebal apa?”

Aku berpikir. Lama. Dengan dahi berkerut, seperti biasa. Menatap sekeliling dapur kecil kami. Mencari sesuatu yang belum pernah kupakai.

Tiga ratus enam puluh lima pagi. Aku sudah memakai hampir semua benda di rumah ini. Kabel charger. Selang air. Gulungan kertas foto. Tali jemuran. Tali sepatu Evan. Tali sepatu Dodo, yang lebih tebal. Kabel televisi. Tali tambang derek motor Kak Bima. Tali sling kamera. Pipa paralon di kamar mandi, yang membuat Evan tersedak kopinya.

“Setebal...” kataku pelan.

Aku menatap jendela. Pohon-pohon pinus di lereng bukit. Kabut yang mulai terangkat.

Lalu aku menatapnya.

“Setebal kemarin,” kataku. “Ditambah satu hari.”

Ia menatapku lama.

Lalu tersenyum. Senyum kecil yang tidak sengaja. Senyum yang, kata Papa dulu, mirip senyum ayahnya.

“Itu jawaban terbaik sejauh ini,” katanya.

“Lebih bagus dari pipa paralon?”

“Jauh lebih bagus dari pipa paralon.”


Setelah sarapan, sebelum ia berangkat ke studio, aku berdiri di depannya di ambang pintu.

Ia memakai kemeja linen. Rambutnya diikat setengah. Leica tua milik ayahnya tergantung di lehernya, dengan bahu yang sedikit miring ke kiri karena beratnya.

Aku meraih pergelangan tangan kirinya.

Dua jari. Bagian dalam pergelangan. Di bawah tali jam tangan. Di tempat nadi berdenyut.

Seperti di ballroom Lembang, dua tahun lalu. Ketika tanganku gemetar dan aku menyembunyikannya dengan sangat baik.

Tanganku tidak gemetar lagi.

Aku mendongak. Menatapnya.

“Sekarang berapa?” tanyaku.

Ia tidak menatap jam tangannya.

Ia menatapku. Dengan mata yang tidak lagi mencari benang di udara di antara dada kami. Dengan mata yang hanya melihat wajahku.

“Nggak tahu,” katanya. “Nggak penting.”

Ia mengangkat tanganku yang tidak memegang nadinya. Meletakkannya di dadanya. Di atas jantungnya. Yang berdetak pelan dan teratur dan kuat, di bawah telapak tanganku.

“Aku di sini,” katanya.


Dulu, aku gadis tanpa benang.

Duduk di anak tangga ketiga. Ujung kiri. Setiap hari Minggu, dari jam sepuluh sampai jam dua. Tujuh tahun. Tiga ratus enam puluh empat hari Minggu. Menatap gerbang yang tidak pernah terbuka untukku.

Lalu seorang anak laki-laki dengan kamera pinjaman melihatku. Dan berkata nanti ada yang nungguin kamu. Dan menoleh dua kali di gerbang.

Dan dari dadaku, untuk pertama kalinya, tumbuh sesuatu. Tipis. Lebih tipis dari rambut. Merah.

Ke arahnya.

Aku tidak tahu itu ada. Ia tidak ingat itu ada. Dua belas tahun, benang itu tumbuh dalam gelap, tanpa dilihat siapa pun. Dari guntingan koran di dompet. Dari wawancara majalah di kamar mandi apartemen Singapura jam dua pagi. Dari setiap kali aku menyentuh lipatan kertas yang berubah jadi kain dan berbisik nanti.

Sekarang ia tidak bisa melihatnya lagi.

Aku tidak pernah bisa melihatnya sama sekali.

Tapi kami berdua tahu benang itu ada.

Setebal kemarin. Ditambah satu hari.

Setiap hari.

Ia menunduk dan mencium dahiku. Lalu berjalan ke mobil. Membuka pintunya. Berhenti.

Dan menoleh.

Lalu masuk ke mobil. Menyalakan mesin. Mobilnya mulai bergerak menuruni jalan yang menanjak.

Di tikungan pertama, sebelum menghilang di balik pohon-pohon pinus, mobilnya berhenti sebentar.

Kaca jendela turun.

Dan ia menoleh lagi.

Dua kali.

Aku berdiri di ambang pintu rumah kecil kami di Dago atas, dengan tangan di dada dan teh yang mulai dingin di dapur, dan tersenyum ke arah tikungan yang sekarang kosong.

Aku tidak perlu dilihat lagi untuk tahu ada yang menungguku.

Aku sudah tahu.

Dari sini.

— TAMAT —