← Gadis Tanpa Benang

Chapter Eighteen

Lampu Merah di Darkroom

POV: Evan

Dua minggu setelah syukuran, aku belajar hal-hal baru tentang diriku sendiri.

Aku belajar bahwa aku ternyata tipe laki-laki yang mengirim pesan sudah makan? tiga kali sehari. Aku tidak pernah menyangka. Dulu, waktu Dodo mengirim pesan seperti itu ke gebetannya, aku menyebutnya spam kasih sayang dan menyuruhnya berhenti. Sekarang aku mengirimnya pukul tujuh pagi, dua belas siang, dan enam sore, dan aku menunggu balasannya seperti menunggu hasil ujian.

Balasannya selalu datang. Kadang foto piring kosong. Kadang foto Lulu yang sedang makan dengan clipboard di sebelah piring. Kadang hanya satu kalimat: Sudah. Kamu? Dan entah kenapa, tiga kata itu membuatku tersenyum ke ponsel seperti orang bodoh di tengah sesi foto produk sepatu.

Aku belajar bahwa aku ternyata tipe laki-laki yang bisa duduk di sofa abu-abu studio selama dua jam, tidak mengedit apa pun, tidak memotret apa pun, hanya menonton seorang perempuan membaca buku di sebelahku dengan kaki ditumpangkan di pangkuanku. Aku tidak tahu apa yang ia baca. Aku tidak memperhatikan. Aku memperhatikan cara bibirnya bergerak tanpa suara ketika ia menemukan kalimat yang bagus. Cara ia mengerutkan dahi ketika tokohnya melakukan sesuatu yang bodoh. Cara ia menggigit ujung kukunya ketika ceritanya menegangkan, lalu menyadari ia sedang menggigit kuku, lalu berhenti, lalu menggigitnya lagi dua menit kemudian.

Aku belajar bahwa aku tidak lagi menaikkan detak jantungku untuk mengecek benangnya.

Aku tidak perlu. Detak jantungku naik sendiri setiap kali ia menyentuhku. Dan setiap kali naik, setiap kali dunia berubah warna, benang setebal tali kapal itu masih di sana. Dan benangku sendiri, yang dulu setipis benang jahit paling halus, sekarang sudah setebal tali sepatu.

Sama tebalnya dengan benang Fikri ke Nadia.

Aku berusaha tidak memikirkan perbandingan itu.


“Ajarin aku,” kata Mikaela suatu Kamis malam, berdiri di depan pintu darkroom di lantai atas studio.

“Ajarin apa?”

“Cuci foto. Pakai cara lama. Kamu bilang kamu masih punya negatif-negatif lama. Aku mau lihat caranya.”

Aku menatapnya dari ujung tangga. Ia memakai kemeja putih kebesaran yang kuyakini adalah kemejaku, yang hilang dari lemari studio tiga hari lalu, dengan lengan digulung sampai siku dan ujungnya dimasukkan asal ke celana jins. Rambutnya diikat ekor kuda tinggi. Wajahnya hampir polos, hanya pelembap dan lipstik tipis berwarna mawar.

“Itu kemejaku,” kataku.

“Ini kemeja yang kutemukan di lemari studio. Status kepemilikannya belum jelas.”

“Ada nama studio di sakunya.”

Ia menunduk, menatap saku kemeja yang dibordir Studio Mahendra dengan benang biru tua. Lalu mendongak lagi dengan wajah tidak bersalah sama sekali.

“Itu bisa berarti apa saja.”

“Itu berarti kemejaku.”

“Kamu mau ambil kembali?” Ia memegang kerah kemeja itu dengan dua jari. “Sekarang?”

Aku membuka mulut. Menutupnya lagi.

Mikaela tersenyum. Senyum yang sangat puas dengan dirinya sendiri.

“Ajarin aku,” ulangnya.


Darkroom studio kecil. Mungkin dua meter kali tiga. Satu meja panjang yang ditempelkan ke dinding dengan tiga nampan plastik di atasnya: pengembang, penghenti, fiksasi. Enlarger tua di ujung meja, dengan lengan besi yang bisa dinaik-turunkan. Tali jemuran yang direntang di atas bak cuci, dengan penjepit-penjepit kayu yang menunggu kertas basah. Rak di dinding berisi botol-botol cairan kimia, kotak kertas foto, dan kotak sepatu berisi negatif-negatif lama.

Dan satu lampu. Lampu merah kecil di sudut langit-langit, satu-satunya lampu yang boleh menyala ketika kertas foto dikeluarkan dari kotaknya.

Aku menyalakannya. Mematikan lampu putih biasa.

Ruangan itu berubah jadi merah. Merah gelap, tenang, seperti bagian dalam jantung.

Mikaela berdiri di sebelahku di depan meja. Di bawah lampu merah, wajahnya berubah. Garis-garis wajahnya jadi lebih tegas. Bayangan di bawah tulang pipinya jadi lebih dalam. Matanya jadi lebih gelap, dan entah kenapa lebih besar. Bibirnya, yang di bawah lampu biasa berwarna mawar lembut, sekarang terlihat hampir hitam.

Ia terlihat seperti foto hitam-putih yang hidup.

Ia terlihat seperti sesuatu yang tidak boleh kulihat terlalu lama di ruangan sesempit ini.

“Oke,” kataku. Suaraku keluar sedikit lebih rendah dari biasanya. Aku berdeham. “Pertama, pilih negatif.”

Aku membuka kotak sepatu. Mengeluarkan beberapa lembar negatif lama dari amplop kertas minyak. Foto-foto SMA. Foto-foto kuliah. Foto-foto yang tidak pernah kucetak.

Mikaela memilih satu. Ia memegangnya di depan lampu merah dan menyipitkan mata.

“Ini apa?”

Aku mengambil negatif itu darinya. Memegangnya di depan lampu. Gambar terbalik: yang hitam jadi putih, yang putih jadi hitam.

“Bapak,” kataku pelan. “Di warung. Waktu aku umur lima belas. Foto pertama yang kuambil pakai Leica-nya.”

Mikaela diam.

“Mau dicetak?” tanyanya.

Aku menatap negatif itu lama. Bapak, terbalik, dengan celemek putih yang jadi hitam dan wajah yang jadi bayangan. Tersenyum ke kamera yang dipegang anaknya yang berumur lima belas tahun.

“Iya,” kataku.


Aku menunjukkan caranya. Memasang negatif di enlarger. Mengatur fokus. Menghitung waktu pencahayaan. Mengeluarkan selembar kertas foto dari kotaknya, dengan hati-hati, di bawah lampu merah.

“Kenapa harus lampu merah?” bisik Mikaela.

“Kertas foto nggak sensitif sama cahaya merah. Jadi kita bisa lihat tanpa merusak gambarnya.”

“Jadi lampu merah itu satu-satunya cahaya yang bisa dipakai buat lihat sesuatu yang belum jadi?”

Aku menoleh padanya.

Ia menatapku, di bawah lampu merah, dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca.

“Iya,” kataku pelan. “Kurang lebih.”

Ia tersenyum kecil. Lalu kembali menatap kertas foto di tanganku.

Aku menyalakan enlarger. Cahaya putih jatuh dari lensa ke atas kertas foto selama dua belas detik. Aku menghitungnya keras-keras. Mikaela menghitung bersamaku, berbisik, dengan suara yang membuat angka-angka biasa terdengar seperti sesuatu yang lain.

“...sebelas. Dua belas.”

Aku mematikan enlarger. Mengambil kertas foto itu, yang masih putih polos, tidak ada gambar apa pun. Mencelupkannya ke nampan pertama. Cairan pengembang.

“Lihat,” kataku.

Mikaela membungkuk di atas nampan. Bahunya menyentuh lenganku.

Di bawah cairan bening, pelan-pelan, sesuatu muncul. Mula-mula hanya bayangan samar. Garis-garis abu-abu yang belum punya bentuk. Lalu bentuk-bentuk itu menajam. Sebuah meja. Panci. Dinding dengan kalender. Seorang laki-laki dengan celemek, tersenyum.

Bapak muncul dari kertas kosong, pelan-pelan, seperti hantu yang memutuskan untuk pulang.

Mikaela menahan napas.

“Ya ampun,” bisiknya. “Ini kayak sihir.”

“Ini kimia.”

“Sama aja.” Ia menatap foto itu di dalam nampan. Bapak yang tersenyum, dengan sendok sayur di tangan, di depan warung yang masih baru. “Dia mirip kamu.”

“Semua orang bilang gitu.”

“Senyumnya.” Mikaela menatapku dari samping. “Kalau kamu senyum beneran. Bukan senyum fotografer yang sopan. Senyum yang nggak sengaja. Itu senyum dia.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

Aku mengangkat foto itu dengan penjepit, memindahkannya ke nampan kedua, lalu ketiga. Lalu menjemurnya di tali di atas bak cuci, dengan penjepit kayu di kedua sudutnya. Bapak menggantung di sana, basah, meneteskan air, tersenyum ke kami berdua dari bawah lampu merah.

Dan ketika aku berbalik, Mikaela sudah sangat dekat.


Ia tidak bicara.

Ia hanya berdiri di depanku, di ruangan sempit yang merah, dengan punggungku menempel ke tepi meja dan tidak ada jalan untuk mundur.

Ia mengangkat satu tangan dan menyentuh kemejaku. Kemeja yang kupakai, bukan kemeja yang ia curi. Ujung jarinya menyentuh kancing paling atas. Lalu turun ke kancing kedua. Lalu berhenti.

“Kancingmu salah,” bisiknya.

Aku menunduk. Benar. Aku mengancingkan kemeja pagi tadi dengan terburu-buru, dan kancing ketiga masuk ke lubang keempat, membuat seluruh kemeja miring sedikit ke kiri. Aku tidak menyadarinya seharian.

Mikaela membukanya.

Pelan. Satu kancing. Kancing yang salah. Lalu kancing di bawahnya. Lalu memasangnya kembali di lubang yang benar, satu per satu, dengan jari-jari yang bergerak sangat lambat, terlalu lambat, sampai aku bisa merasakan setiap gerakan ujung jarinya di dadaku melalui kain tipis kemeja linen.

Ia tidak menatap kancing-kancing itu. Ia menatapku.

Di bawah lampu merah, matanya hampir hitam. Bibirnya sedikit terbuka. Napasnya, aku bisa mendengarnya, sedikit lebih cepat dari biasanya.

Kancing terakhir masuk ke lubangnya. Tangannya tidak turun. Tangannya tetap di dadaku, telapak terbuka, di atas jantung.

“Kenceng banget,” bisiknya.

“Apa?”

“Detakmu.”

Jam tanganku bergetar. Lalu berbunyi.

Tit. Tit. Tit.

Aku tidak menatapnya. Aku tidak perlu. Ruangan ini sudah merah. Aku tidak bisa membedakan benang dari cahaya lampu.

Dan untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun, aku tidak peduli.

Aku menciumnya.

Tidak seperti di bianglala. Di bianglala, ia yang memulai, dan ciuman itu lembut, ragu-ragu, seperti seseorang yang mengetuk pintu dan tidak yakin apakah boleh masuk. Ini berbeda. Aku yang memulai. Kedua tanganku menangkup wajahnya, pelan, seperti memegang negatif yang belum kering. Aku menunduk. Dan kali ini aku tidak mengetuk.

Ia mengeluarkan suara kecil, kaget.

Lalu ia membalas.

Tangannya, yang tadi di dadaku, menggenggam kerah kemejaku, seperti takut aku berubah pikiran. Rambutku yang diikat setengah terlepas entah karena apa, jatuh di sekeliling wajah kami. Nampan-nampan plastik di belakangnya bergoyang pelan karena meja tersenggol, cairan di dalamnya beriak.

Ciuman itu berubah.

Lebih dalam. Lebih lama. Bukan lagi pertanyaan, tapi jawaban. Dua minggu menahan diri, dua belas tahun tidak berani, semuanya tumpah di satu tempat, di ruangan sempit yang hanya diterangi lampu merah.

Aku tidak memikirkan apa pun. Tidak memikirkan benang. Tidak memikirkan angka. Tidak memikirkan Sasha, atau tangga darurat, atau semua alasan yang dulu kususun untuk tidak pernah jatuh lagi. Yang ada cuma dia. Ibu jariku di pipinya. Jari-jarinya yang gemetar di kerahku. Jantungnya, yang entah bagaimana bisa kurasakan dari jarak sedekat ini. Cepat. Sama cepatnya dengan jantungku.

Dua jantung. Berdetak di ruangan merah yang sempit.

Ia menarik napas di sela ciuman. Napasnya gemetar. Ia menyebut namaku, pelan, hampir tidak terdengar.

“Evan...”

Aku menciumnya lagi sebelum ia bisa menyelesaikan apa pun yang akan ia katakan.

Di atas bak cuci, Bapak menggantung di tali jemuran dengan penjepit kayu di kedua sudutnya, meneteskan air pelan-pelan, tersenyum ke arah kami di bawah lampu merah.

Aku tidak tahu berapa lama. Satu menit. Lima. Sepuluh. Waktu di darkroom selalu terasa berbeda. Tidak ada jendela. Tidak ada jam selain jam di pergelangan tanganku, yang terus bergetar dan berbunyi dan bergetar lagi, sampai aku melepaskan satu tangan dari pipinya cukup lama untuk menekan tombol bisu tanpa melihat.

Akhirnya kami berhenti. Bukan karena mau. Karena kami berdua harus bernapas.

Dahiku bersandar di dahinya. Rambutku yang lepas jatuh di sekeliling wajah kami seperti tirai. Napas kami sama-sama berantakan.

Ia membuka mata. Matanya, di bawah lampu merah, basah dan gelap dan menatapku seperti seseorang yang baru saja turun dari bianglala yang berputar terlalu cepat.

“Kamu,” bisiknya, terengah-engah, “belajar dari mana?”

“Nggak belajar.”

“Bohong.”

“Dua minggu ini aku banyak mikirin.”

“Mikirin ini?”

“Mikirin kamu.” Aku menelan ludah. “Ini... efek sampingnya.”

Ia tertawa. Tawa yang serak dan geli. Ia menyandarkan dahinya di bahuku dan tertawa sampai bahunya berguncang.

“Efek samping,” gumamnya di bahuku. “Kamu bilang ciuman kita efek samping.”

“Efek samping yang bagus.”

“Kamu harus belajar ngomong yang romantis, Evan Mahendra.”

“Aku fotografer. Aku nggak pinter ngomong.”

“Aku tahu.” Ia mengangkat kepalanya. Menatapku. Tangannya naik ke wajahku, ibu jarinya mengusap bibir bawahku, pelan, di tempat lipstik mawarnya yang sekarang pasti sudah berpindah. “Kamu pinternya lihat.”

Ponselku bergetar di saku celana.

Tidak berhenti. Satu kali. Dua. Tiga. Empat.

Mikaela menatap sakuku. Lalu menatapku. Satu alisnya naik.

Aku mengeluarkan ponselku. Layarnya menyala, penuh notifikasi.

dr. Fikri Kardio: VAN.
dr. Fikri Kardio: VAN 168.
dr. Fikri Kardio: 168 SELAMA 9 MENIT.
dr. Fikri Kardio: KAMU MASIH HIDUP???
dr. Fikri Kardio: Saya lagi jaga IGD dan perawat di sebelah saya nanya kenapa saya teriak.
dr. Fikri Kardio: Saya harus jawab apa???
dr. Fikri Kardio: Van serius ini saya harus panggil ambulans atau penghulu???

Mikaela membaca pesan-pesan itu dari balik bahuku.

Lalu ia tertawa begitu keras sampai harus berpegangan pada tali jemuran, yang membuat foto Bapak bergoyang dan meneteskan air ke lantai, dan aku harus menangkapnya sebelum kami berdua jatuh ke bak cuci.


Ia pulang pukul sepuluh malam. Dengan kemejaku yang dicuri, karena katanya sekarang status kepemilikannya sudah jelas, dan foto Bapak yang sudah kering, terbungkus kertas minyak, di dalam tasnya.

“Aku pinjem,” katanya di pintu studio. “Aku mau bingkai. Buat ibumu.”

“Ibu udah punya fotonya Bapak.”

“Yang ini beda. Yang ini kamu yang ambil. Umur lima belas.” Ia tersenyum. “Ibumu belum pernah lihat Bapak dari matamu.”

Aku tidak bisa menjawab.

Ia berjinjit, menciumku sekali lagi di pipi, cepat dan ringan, lalu berjalan ke mobilnya dengan langkah yang tidak tergesa dan ekor kuda yang sudah setengah lepas.

Aku berdiri di pintu studio sampai lampu belakang mobilnya hilang di tikungan Dago.

Lalu aku masuk. Mengunci pintu. Mematikan lampu.

Dan semuanya dimulai lagi.


Selalu begini. Selalu di malam hari. Selalu ketika semuanya tenang, ketika aku sendirian, ketika kebahagiaan masih hangat di bibirku seperti sisa teh manis.

Aku berbaring di kasur kamar lantai atas studio, menatap langit-langit yang retak, dengan Satu-Dua-Nol di sebelah bantal.

Dan aku ingat.

Pagi itu. Lima tahun lalu. Selasa. Jam enam lewat sepuluh.

Aku bangun di kontrakan kecil di Sekeloa. Kontrakan dua kamar dengan dapur sempit dan kamar mandi yang airnya selalu dingin. Kontrakan yang kami sewa bersama selama setahun terakhir pacaran, karena katanya latihan sebelum nikah.

Sisi tempat tidur di sebelahku kosong. Biasanya kosong. Sasha selalu bangun lebih awal untuk lari pagi.

Aku turun dari tempat tidur. Seperti setiap pagi selama empat bulan terakhir, aku berjalan ke tangga di luar pintu kontrakan, naik ke lantai tiga, turun lagi, naik lagi, turun lagi. Tiga kali. Sampai detak jantungku tembus seratus dua puluh. Sampai dunia berubah warna.

Untuk mengecek.

Setiap pagi selama empat bulan, aku mengecek. Dan setiap pagi, benangnya ke arahku sedikit lebih tipis. Dari tali sepatu ke benang jahit tebal. Dari benang jahit tebal ke benang jahit biasa. Dari benang jahit biasa ke benang jahit halus. Dan setiap pagi, benangnya ke arah lain sedikit lebih tebal. Ke arah Bram. Ke arah kantor di Jalan Asia Afrika tempat mereka bekerja di lantai yang sama.

Setiap pagi aku bertanya. Kamu kenapa? Ada yang beda?

Setiap pagi ia menjawab sambil tersenyum, sambil memegang tanganku. Kamu terlalu curigaan, Van. Aku nggak ke mana-mana.

Pagi itu, aku masuk kembali ke kontrakan dengan detak jantung seratus dua puluh tiga, dan dunia masih merah.

Lemarinya terbuka.

Kosong.

Gantungan-gantungan baju bergoyang pelan, kosong, seperti tulang rusuk. Laci-lacinya terbuka. Kosong. Meja rias di sudut kamar, yang biasanya penuh botol parfum dan bedak dan lipstik dan jepit rambut, bersih. Hanya ada lingkaran-lingkaran samar di permukaan kayunya, bekas botol-botol yang terlalu lama diletakkan di tempat yang sama.

Aku berdiri di tengah kamar. Detak jantungku masih di atas seratus dua puluh. Dunia masih merah.

Dan aku menunduk menatap dadaku.

Benangnya sudah tidak ada.

Tidak setipis rambut. Tidak setipis apa pun. Tidak ada. Hanya udara kosong di tempat benang itu dulu menjulur, tiga tahun, dari dadanya ke dadaku.

Benangku sendiri ke arahnya masih ada. Setebal tali sepatu. Menjulur keluar pintu kontrakan, ke arah jalan, ke arah mana pun ia pergi. Menggantung di udara. Bergetar. Mencari ujung yang sudah tidak ada.

Benang yang tidak dibalas selalu terlihat lebih menyakitkan daripada benang yang putus.

Aku tahu itu karena aku melihatnya keluar dari dadaku sendiri.

Siangnya, aku pergi ke bank untuk menarik uang sewa kontrakan bulan depan dari rekening bersama. Rekening yang kami buka dua tahun sebelumnya, waktu aku melamarnya di bawah pohon flamboyan di Jalan Dago. Rekening yang kami isi sedikit demi sedikit setiap bulan. Untuk gedung. Untuk katering. Untuk cincin. Untuk rumah kecil di pinggir kota, nanti, kalau sudah cukup.

Saldo: dua ribu tiga ratus empat puluh rupiah.

Teller bank menatapku dengan iba ketika aku tidak bisa berhenti menatap layar.

Aku tidak menangis waktu itu. Aku tidak menangis selama berminggu-minggu. Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan. Aku keluar dari kontrakan. Aku menjual semua barang yang bisa dijual. Aku membawa dua barang: jaket denim yang kubeli sendiri waktu kuliah, sebelum aku mengenalnya. Dan kamera Bapak.

Lalu aku menjual print asli Belum Ada yang Menunggu.

Lalu aku membuka studio.

Lalu aku menyusun tujuh aturan.

Lalu aku berhenti melihat siapa pun terlalu lama.


Aku memejamkan mata di kasur lantai atas studio.

Di bibirku masih ada rasa teh manis. Di kemejaku masih ada wangi kayu basah dan jeruk. Di kepalaku masih ada lampu merah darkroom dan suara kecil yang ia keluarkan ketika aku menciumnya dan tangannya yang menarik ikatan rambutku sampai lepas.

Aku bahagia. Aku tahu aku bahagia. Lebih bahagia dari yang pernah kurasakan dalam lima tahun. Mungkin lebih bahagia dari yang pernah kurasakan dengan Sasha.

Dan itulah yang membuatku tidak bisa tidur.

Karena kebahagiaan adalah tempat paling tinggi. Puncak bianglala. Dan semakin tinggi kamu naik, semakin jauh kamu jatuh.

Aku membuka mata. Menatap Satu-Dua-Nol di sebelah bantal. Boneka beruang seharga sepuluh lemparan gelang, yang menatapku balik dengan mata kancing hitamnya.

“Dia beda,” bisikku pada boneka itu. Seperti orang gila. “Dia beda, kan?”

Satu-Dua-Nol tidak menjawab.

Aku memeluknya. Menutup mata lagi. Menarik napas empat hitungan. Tahan tujuh. Buang delapan.

Detak jantungku turun.

Benang-benang, kalau ada, memudar dalam gelap.

Aku tidak tahu apakah benang setebal tali kapal itu masih menjulur dari suatu tempat di Bandung, melewati jalan-jalan dan atap-atap rumah, ke dadaku yang sedang ketakutan di kamar lantai atas studio di Dago.

Aku tidak bisa melihatnya.

Dan untuk pertama kalinya dalam dua minggu, ketidakmampuan itu membuatku sangat, sangat takut.