← Gadis Tanpa Benang

Chapter One

Seratus Tiga Puluh Empat

POV: Evan

Detak jantungku tujuh puluh dua.

Aku tahu karena jam di pergelangan tangan kiriku bergetar pelan setiap lima menit, mengirim angka kecil berwarna hijau ke layarnya. Tujuh puluh dua artinya aman. Delapan puluh juga masih aman. Sembilan puluh mulai patut dicurigai. Seratus sepuluh membuat jam itu berbunyi seperti alarm microwave, dan aku akan berhenti melakukan apa pun yang sedang kulakukan, lalu menarik napas empat hitungan, menahan tujuh, membuangnya delapan.

Di atas seratus dua puluh, dunia berubah warna.

Itulah sebabnya aku tidak minum kopi sungguhan. Tidak naik tangga darurat. Tidak menonton film horor, tidak makan sambal level tiga, tidak menyetir di atas enam puluh kilometer per jam. Tidak ikut lomba tujuh belasan, tidak main Uno dengan keponakan Dodo yang curang, tidak membuka grup WhatsApp alumni SMA setelah jam sepuluh malam.

Dan tidak jatuh cinta.

Yang terakhir itu paling gampang. Kamu cukup tidak melihat siapa-siapa terlalu lama.

“BANG! BANG EVAN! KUENYA, BANG!”

Detak jantungku delapan puluh enam.

Aku menurunkan kamera dari mata dan menoleh tepat saat Dodo, asistenku yang bertubuh kurus dan bernyawa sembilan, meluncur di lantai marmer gedung resepsi dengan kedua tangan terentang seperti kiper. Di depannya, kue pengantin tiga tingkat berlapis fondant putih sedang miring pelan-pelan di atas troli yang rodanya tersangkut kabel lighting.

Miring. Lebih miring.

“Jangan ditangkap,” kataku.

“Kenapa?!”

“Karena kamu nggak akan bisa.”

Dodo tidak mendengarkan. Dodo tidak pernah mendengarkan. Ia melompat, menangkap tingkat paling atas dengan kedua tangan, menangkap tingkat tengah dengan dada, dan tingkat paling bawah jatuh menimpa sepatunya dengan suara bluk yang lembut, seperti bantal yang menyerah.

Seluruh ballroom Grand Lembang Hall diam.

Dodo berdiri dengan kemeja hitam berlumur krim vanila, memeluk dua tingkat kue seperti memeluk bayi kembar, dan berkata pada empat ratus tamu yang menatapnya:

“Tenang, Bapak-Ibu. Ini konsep.”

Detak jantungku sembilan puluh satu. Aku tidak tertawa. Aku memotret.

Klik. Klik. Klik.

Sebagai fotografer pernikahan, kamu belajar satu hal penting: bencana adalah konten. Pengantin perempuan menangis karena maskaranya luntur? Foto. Pengantin laki-laki tersandung kain jarik? Foto. Om-om mabuk berdansa dengan tiang dekorasi? Foto, lalu sembunyikan dari album resmi, lalu jual ke tante-tante grup keluarga dengan harga khusus.

Tapi hari ini bencananya agak terlalu banyak.

Pernikahan Riko dan Shinta seharusnya ditangani oleh sebuah wedding organizer bernama Bahagia Selamanya Organizer. Ironis, karena pemiliknya kabur pagi tadi membawa uang muka tiga belas klien dan meninggalkan pesan suara berisi isak tangis dan lagu dangdut. Sejak itu, resepsi ini dijalankan oleh tiga kru panik, seorang MC yang belum pernah memandu acara pernikahan (spesialisasinya peresmian minimarket), dan ibu pengantin perempuan yang terus berteriak “SIAPA YANG PEGANG RUNDOWN?” ke arah siapa pun yang lewat.

Termasuk aku.

“Masnya! Masnya yang pegang rundown?”

“Saya fotografer, Bu.”

“Fotografer kan lihat semuanya! Jadi tahu rundown!”

Logika itu, sayangnya, tidak bisa kubantah.

Aku melirik jam. Sembilan puluh empat. Aku menarik napas. Empat hitungan. Tahan. Buang.

“Bu,” kataku, “sekarang harusnya sesi sungkeman. Tapi kursi orang tua belum ditata, sound system untuk lagu sungkemnya mati, dan MC-nya sedang di toilet sejak dua puluh menit lalu.”

Ibu itu menatapku seakan aku baru saja membacakan vonis hukuman mati.

Lalu pintu ballroom terbuka.

Aku sudah memotret lebih dari empat ratus pernikahan. Aku tahu bagaimana sebuah ruangan bereaksi ketika pengantin perempuan masuk: dengung yang turun, kepala yang menoleh, ponsel yang terangkat serempak seperti bunga matahari mencari cahaya.

Ruangan itu bereaksi seperti itu sekarang. Padahal pengantin perempuannya sudah duduk di pelaminan sejak satu jam lalu.

Seorang perempuan berjalan masuk dengan langkah yang tidak tergesa, tapi juga tidak lambat. Langkah orang yang tahu persis ke mana ia pergi dan sudah memutuskan untuk sampai di sana sebelum siapa pun sempat bertanya.

Ia mengenakan blazer krem yang dipotong pas di pinggang, celana panjang berwarna sama, dan sepatu hak rendah berujung runcing. Rambutnya hitam, bergelombang besar, jatuh sampai punggung, diselipkan ke belakang satu telinga yang memakai anting mutiara kecil. Kulitnya cerah dengan rona hangat, seperti cahaya jam lima sore yang biasanya kutunggu-tunggu untuk sesi foto outdoor.

Wajahnya oval dengan dagu yang runcing. Matanya besar, sedikit sipit di ujung, dan entah bagaimana tampak seperti sedang menahan senyum bahkan ketika bibirnya diam. Bulu matanya panjang, bayangannya jatuh di tulang pipi. Ada tahi lalat kecil di bawah mata kiri, persis di tempat yang akan membuat fotografer mana pun ingin mengatur ulang lampu hanya untuk menangkapnya. Bibirnya penuh, dipoles merah bata yang tidak mencolok, tapi mustahil tidak dilihat.

Ia cantik.

Bukan cantik yang perlu dijelaskan dengan “menurut standar tertentu” atau “kalau dilihat dari angle ini”. Cantik yang membuat lensa 85mm-ku terasa tidak adil. Cantik yang membuat seorang bapak di meja tujuh lupa sedang menyuap rendang dan membiarkan sendoknya menggantung di udara.

Detak jantungku sembilan puluh delapan.

Itu wajar. Aku fotografer. Aku bereaksi pada komposisi.

Perempuan itu berhenti di tengah ballroom, menatap sekeliling satu kali, dan dalam satu tatapan itu ia seolah sudah membaca semuanya: kue di pelukan Dodo, kursi orang tua yang berantakan, sound system yang mati, MC yang hilang, dan ibu pengantin perempuan yang hampir pingsan.

Lalu ia mengeluarkan ponsel, menelepon seseorang, dan bicara dengan suara rendah yang entah kenapa terdengar sampai ke tempatku berdiri.

“Lulu. Grand Lembang Hall. Bawa tim B, genset kecil, dua wireless mic, rundown sungkeman versi adat Sunda, dan kue cadangan dari Dapur Mentari. Ya, yang tiga tingkat. Tiga puluh menit.” Jeda. “Dua puluh lima.”

Ia menutup telepon. Berjalan ke ibu pengantin perempuan. Menyentuh lengannya dengan lembut.

“Bu, saya Mikaela dari Kaela Wedding. Mulai sekarang, Ibu cukup duduk dan jadi ibu pengantin. Yang lain biar saya.”

Ibu itu menatapnya seperti menatap malaikat yang turun dari langit-langit ballroom, lengkap dengan lampu kristal.

“Tapi... kami belum bayar...”

“Nanti saja dibahas. Hari ini Ibu cuma punya satu tugas: menangis yang cantik waktu sungkeman.”

Ibu itu langsung menangis. Belum cantik, tapi niatnya ada.

Dodo berbisik di sebelahku, krim vanila menetes dari dagunya. “Bang. Bang. Siapa itu, Bang?”

“Nggak tahu.”

“Malaikat, Bang?”

“Wedding planner.”

“Sama aja, Bang. Di situasi kayak gini, sama aja.”

Dalam sepuluh menit berikutnya, aku menyaksikan sesuatu yang biasanya hanya kulihat di video dokumenter tentang semut: koordinasi sempurna dari kekacauan total. Perempuan bernama Mikaela itu menata ulang kursi orang tua dengan menunjuk dua sepupu pengantin laki-laki yang sedang main ponsel. Ia memeriksa sound system, menemukan colokan yang terlepas, dan memasangnya dengan ujung sepatunya tanpa membungkuk. Ia mengetuk pintu toilet laki-laki, berkata sesuatu yang tidak kudengar, dan MC peresmian minimarket itu keluar dua detik kemudian dengan wajah pucat dan dasi yang sudah lurus.

Lalu ia berjalan ke arahku.

Detak jantungku seratus dua.

Aku menarik napas. Empat hitungan.

“Kamu fotografernya,” katanya. Bukan pertanyaan.

“Iya.”

“Evan Mahendra. Studio Mahendra, Dago.”

Itu juga bukan pertanyaan.

“...Iya.”

Ia berhenti tepat di depanku. Lebih dekat dari jarak yang biasa dipakai orang asing. Cukup dekat sampai aku bisa mencium wanginya: bukan parfum bunga yang manis, tapi sesuatu yang lebih bersih dan sedikit pahit, seperti kayu basah dan jeruk. Cukup dekat sampai aku harus menunduk sedikit untuk menatap matanya, karena meskipun tinggi untuk ukuran perempuan, ia masih sebatas daguku.

Tahan tujuh hitungan.

“Aku butuh foto sungkeman dari tiga sudut,” katanya. “Satu dari belakang kursi orang tua, satu frontal dari depan, satu candid dari samping kanan. Asistenmu bisa pegang yang frontal?”

Aku melirik Dodo, yang sedang menjilat krim dari ibu jarinya.

“Bisa,” kataku. “Setelah ganti baju.”

Sudut bibirnya naik sedikit. Hampir senyum. Lalu ia melakukan sesuatu yang tidak kuduga.

Ia meraih pergelangan tangan kiriku.

Jarinya dingin, ramping, dan sangat tenang. Ia menekan dua jarinya di bagian dalam pergelangan, tepat di bawah tali jam tanganku, di tempat nadi berdenyut. Seperti perawat. Seperti seseorang yang sudah melakukannya seribu kali.

Lalu ia mendongak, menatapku lurus, dan bertanya dengan suara yang hanya untukku:

“Detak jantungmu sekarang berapa?”

Ada beberapa hal di dunia ini yang dirancang untuk membunuh laki-laki. Peluru. Kolesterol. Pertanyaan “Kita ini sebenarnya apa?” pada jam dua pagi.

Dan seorang perempuan asing yang sangat cantik, yang memegang nadimu, menatap matamu, lalu bertanya berapa detak jantungmu, seolah ia benar-benar ingin tahu. Seolah jawabannya penting.

Jam tanganku bergetar. Lalu berbunyi.

Tit. Tit. Tit.

Seratus sepuluh.

Seratus delapan belas.

Aku melangkah mundur. Terlambat. Jarinya masih di pergelangan tanganku, dan ia tidak melepaskannya. Ia malah memiringkan kepala sedikit, seperti sedang mendengarkan sesuatu yang jauh, dan ujung bibirnya naik lagi.

Seratus dua puluh tiga.

Dan dunia berubah warna.

Selalu dimulai dari pinggiran pandanganku. Seperti seseorang menuangkan cat merah ke dalam air jernih: helai-helai tipis yang muncul dari udara, melayang, lalu mengencang dan menemukan arahnya. Dalam satu detik, ballroom Grand Lembang Hall dipenuhi benang merah.

Dari dada Shinta, si pengantin perempuan, menjulur benang setebal tali sepatu ke dada Riko. Bergetar halus, hangat, seperti sesuatu yang hidup. Dari dada Riko, benang yang sama tebalnya kembali ke Shinta. Dua benang. Saling. Bagus. Aku tidak perlu khawatir dengan album pernikahan ini.

Dari ibu pengantin perempuan, benang tenang yang lurus ke dada ayah pengantin perempuan. Lebih tipis dari tiga puluh tahun lalu, mungkin, tapi tidak putus. Dan satu benang lain, tenang dan tebal, ke anak laki-lakinya yang duduk di meja keluarga.

Dari bridesmaid berbaju lilac di dekat pelaminan, benang tipis dan bergetar ke arah best man, yang sama sekali tidak menyadarinya karena sedang sibuk memotret makanan prasmanan. Kasihan.

Dari seorang tante di meja sembilan, benang yang menjulur keluar jendela ballroom, ke suatu tempat yang jauh. Dari seorang om di meja dua belas, tidak ada benang sama sekali. Dari Dodo, benang setipis rambut yang menjulur... ke perempuan di bagian katering yang sedang menyendok sop buah. Dodo. Kamu baru kenal dia tiga jam.

Benang di mana-mana. Melintang di atas meja, menembus lampu kristal, bersilangan di udara seperti jaring laba-laba yang dirajut oleh seribu tangan. Merah, tebal, tipis, tenang, bergetar, putus-putus, mengencang, mengendur.

Aku sudah melihat pemandangan ini ratusan kali sejak umur tujuh belas. Aku masih membencinya.

Karena yang paling kubenci dari benang-benang ini bukan bahwa mereka ada. Tapi bahwa mereka tidak pernah berbohong.

Lalu aku menunduk.

Dan napasku berhenti.

Dari dada perempuan bernama Mikaela, yang jarinya masih menekan nadiku, menjulur sebuah benang.

Ke dadaku.

Bukan benang setipis rambut. Bukan benang jahit, bukan tali sepatu. Benang itu setebal tali kapal. Setebal tali tambang yang dipakai untuk menambatkan perahu nelayan di Pangandaran. Merah tua, nyaris gelap, bergetar dengan dengung halus yang hampir bisa kudengar, menancap di dadaku begitu dalam, seperti sudah berada di sana sejak lama.

Aku pernah melihat benang setebal itu. Sekali. Di pernikahan emas pasangan kakek-nenek dari Garut yang sudah bersama lima puluh empat tahun. Benang mereka setebal itu.

Lima puluh empat tahun.

Dan perempuan ini, yang baru kutemui tujuh menit lalu, yang bahkan belum kuketahui nama belakangnya, punya benang setebal itu. Ke aku.

Seratus tiga puluh empat.

“Seratus tiga puluh empat,” kata Mikaela pelan, membaca layar jam tanganku. Lalu ia melepaskan pergelangan tanganku, mundur selangkah, dan tersenyum sungguhan untuk pertama kalinya.

Senyum itu membuat tahi lalat kecil di bawah matanya ikut terangkat sedikit.

“Kamu harus olahraga lebih banyak, Evan Mahendra,” katanya. “Nadi segitu bahaya buat orang yang cuma berdiri.”

Lalu ia berbalik dan berjalan pergi ke arah pelaminan, dengan langkah yang sama tidak tergesanya.

Benang itu ikut memanjang di belakangnya. Mengikuti. Tidak mengendur sedikit pun.


Aku bersembunyi di toilet laki-laki selama enam menit.

Ini bukan kebanggaan. Ini statistik. Aku duduk di atas kloset yang tertutup, kamera di pangkuan, mata terpejam, dan menghitung napas sampai jam tanganku menunjukkan sembilan puluh. Benang-benang di dinding toilet (ada dua: dari seseorang di bilik sebelah ke istrinya di ballroom, dan dari seseorang yang sedang mencuci tangan ke... seseorang yang sepertinya bukan istrinya, aku tidak mau tahu) memudar seperti asap rokok yang ditiup angin.

Lalu hilang.

Dunia kembali abu-abu, putih, krem, cokelat. Warna-warna normal. Warna yang aman.

Oke. Oke. Berpikir rasional.

Pilihan satu: aku salah lihat. Ini tidak mungkin, karena dalam dua belas tahun aku tidak pernah salah lihat. Benang tidak berbohong, dan mataku tidak pernah menipuku soal benang.

Pilihan dua: kami pernah bertemu sebelumnya dan aku lupa. Ini mungkin. Aku bertemu ratusan orang setiap bulan. Tapi perempuan dengan wajah seperti itu? Perempuan yang membuat bapak-bapak lupa menelan rendang? Aku mungkin pelupa, tapi aku bukan buta.

Pilihan tiga: ia salah orang. Ia mencintai seseorang yang mirip aku, dan benangnya kebingungan.

Sayangnya, benang tidak pernah bingung. Benang tahu persis ke mana ia harus pergi. Itu satu-satunya hal yang benar-benar bisa diandalkan di dunia ini.

Ponselku bergetar.

dr. Fikri Kardio: Bro.
dr. Fikri Kardio: 134 jam 19.42.
dr. Fikri Kardio: Kamu lagi diapain?
dr. Fikri Kardio: Kedip dua kali kalau diculik.

Aku mengetik balasan dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

Aku: Kue jatuh.
dr. Fikri Kardio: Kue jatuh nggak bikin 134.
dr. Fikri Kardio: Kue jatuh bikin 95. Max 100.
dr. Fikri Kardio: 134 itu kalau kuenya jatuh ke mantan.
dr. Fikri Kardio: Atau kalau ada cewek.
dr. Fikri Kardio: ADA CEWEK?
Aku: Nggak ada.
dr. Fikri Kardio: Aku dokter jantung, Van. Aku tahu kapan jantung bohong.

Aku memasukkan ponsel ke saku tanpa membalas.


Sisa resepsi berjalan sempurna. Itu yang paling mengerikan.

Dua puluh tiga menit setelah telepon itu, sebuah van putih bertuliskan Kaela Wedding dengan huruf emas tipis berhenti di depan Grand Lembang Hall. Dari dalamnya turun lima orang berbaju hitam, satu genset kecil, dua wireless mic, satu kue tiga tingkat yang lebih cantik dari kue sebelumnya, dan seorang perempuan berkacamata dengan clipboard di dada yang berjalan seperti pasukan khusus.

“Lulu,” kata Mikaela, tanpa menoleh. “Kamu dua menit lebih cepat.”

“Saya potong lewat jalan tikus Cikole, Bu.”

“Bagus. Kue di meja utama. Mic satu untuk MC, satu untuk sesi sambutan. Rundown sungkeman di tangan MC sebelum lima menit.”

“Sudah saya print tiga rangkap, Bu.”

“Bagus.”

Lulu mengangguk, berbalik, dan tanpa sengaja bertatapan dengan Dodo yang sudah berganti kemeja putih, kemeja cadangan milik salah satu pelayan katering yang kebesaran dua nomor.

Lulu menatap Dodo dari ujung kepala sampai kaki. Lalu menulis sesuatu di clipboard-nya.

“Itu nulis apa?” bisik Dodo padaku.

“Mungkin namamu.”

“Buat apa?”

“Daftar orang yang harus dijauhi.”

Dodo menelan ludah. Lalu, dengan rasa percaya diri yang tidak pernah bisa kupahami, ia berjalan ke arah Lulu dan berkata, “Mbak, saya Dodo. Tadi saya yang nyelamatin kue.”

Lulu tidak mendongak. “Saya tahu. Kuenya tetap hancur.”

“Tapi dua tingkat selamat, Mbak.”

“Dua tingkat yang sudah menempel di dada Mas. Itu bukan selamat. Itu dipeluk sampai mati.”

Dodo kembali padaku dengan wajah orang yang baru jatuh cinta.

“Bang,” katanya. “Kayaknya saya mau nikah.”

“Sama siapa?”

“Mbak Lulu.”

“Kamu baru ditolak.”

“Itu bukan penolakan, Bang. Itu foreplay intelektual.”

Aku tidak menanggapi. Aku sibuk memotret sungkeman, dari tiga sudut, persis seperti yang diminta. Pengantin perempuan bersimpuh di depan ibunya. Ibunya menangis, kali ini cantik sekali. Pengantin laki-laki mencium tangan ayah mertuanya, dan ayah mertuanya menepuk punggungnya dengan dua tepukan yang berarti jaga anakku atau kubunuh kau.

Aku tidak menaikkan detak jantungku. Aku tidak perlu melihat benang untuk tahu momen ini indah.

Tapi dari sudut mataku, aku terus melihat Mikaela.

Ia ada di mana-mana. Di dekat pelaminan, membetulkan selendang pengantin perempuan. Di meja prasmanan, menegur katering yang kehabisan es buah dengan senyum yang membuat kepala katering itu berterima kasih padanya karena ditegur. Di dekat panggung, menepuk bahu MC yang gemetar dan berbisik sesuatu yang membuat MC itu mendadak berdiri tegak dan memandu acara seperti host Indonesian Idol.

Ia bergerak di antara empat ratus tamu seperti tahu persis di mana semua orang berada. Dan setiap kali ia lewat, kepala-kepala menoleh. Laki-laki dan perempuan. Tua dan muda. Seorang anak kecil bahkan menarik ujung blazer ibunya dan berkata keras-keras, “Ma, itu kakak itu putri ya, Ma?”

Dan setiap kali, aku tahu, tanpa perlu menaikkan detak jantungku, bahwa benang setebal tali kapal itu masih ada di sana. Tidak terlihat. Tapi ada. Menjulur dari dadanya ke dadaku, melintasi ballroom, melintasi meja-meja dan lampu kristal dan pengantin yang berbahagia.

Aku tahu karena aku tahu cara kerja benang. Benang tidak hilang hanya karena aku tidak melihatnya.

Itu yang paling menakutkan dari semuanya.


Pukul sepuluh malam, ballroom kosong. Kru Kaela Wedding membongkar dekorasi dengan efisiensi pasukan pembongkar bom. Dodo menenteng tripod sambil terus melirik Lulu. Lulu menenteng clipboard sambil sama sekali tidak melirik Dodo.

Aku sedang memasukkan lensa ke dalam tas kamera ketika suara langkah sepatu hak rendah berhenti di belakangku.

Tidak tergesa. Tidak lambat.

“Fotomu bagus,” kata Mikaela.

Aku tidak berbalik. “Kamu belum lihat.”

“Aku lihat dari layar kameramu. Tadi, waktu kamu review di dekat pintu. Foto ibu Shinta yang menangis sambil memegang selendang. Itu bukan foto pernikahan.” Ia diam sebentar. “Itu foto orang yang takut kehilangan.”

Tanganku berhenti di atas resleting tas.

Aku berbalik. Ia berdiri dua langkah dariku, kali ini tidak terlalu dekat, dengan blazer yang sudah dilepas dan disampirkan di lengan. Di bawahnya ia memakai blus satin berwarna gading dengan kerah rendah. Rambutnya sedikit lebih berantakan dari tadi, beberapa helai jatuh di dekat pelipis. Dan entah kenapa, dengan wajah yang sedikit lelah dan lipstik yang sudah memudar di bagian tengah bibir, ia terlihat lebih cantik daripada saat ia masuk ballroom tadi.

Ini tidak adil. Secara fotografis, ini tidak masuk akal.

“Kita pernah ketemu?” tanyaku.

Pertanyaan itu keluar begitu saja. Aku tidak berencana menanyakannya. Tapi benang setebal tali kapal itu terus berdenyut di kepalaku, dan aku perlu tahu. Aku perlu jawaban yang masuk akal.

Mikaela memiringkan kepala. Matanya, yang selalu terlihat sedang menahan senyum, menatapku lama. Terlalu lama. Seperti sedang memutuskan sesuatu.

“Menurutmu?” tanyanya.

“Kalau aku tahu, aku nggak akan nanya.”

“Hm.” Ia tersenyum. “Itu jawaban yang sangat jujur untuk laki-laki.”

“Itu bukan jawaban.”

“Memang bukan.”

Ia berjalan mendekat. Satu langkah. Dua. Sampai jaraknya kembali terlalu dekat. Lalu ia mengambil sesuatu dari saku blazer di lengannya: sebuah kartu nama berwarna krem dengan huruf emas tipis. Ia menyelipkannya ke saku kemeja linenku, di dada kiri, tepat di atas jantung, dan menepuknya dua kali dengan ujung jari.

Tepat di tempat benang itu menancap.

“Besok jam sepuluh pagi,” katanya. “Aku ke studiomu. Ada tawaran kerja.”

“Aku belum bilang mau.”

“Kamu belum dengar tawarannya.”

“Aku tetap bisa bilang nggak.”

Mikaela tersenyum lagi. Kali ini lebih lebar, dan aku melihat ada lesung tipis di pipi kanannya yang tadi tidak kulihat. Sial. Ada lesung juga.

“Boleh,” katanya. “Bilang nggak besok. Di depan mukaku. Sambil lihat mataku.” Ia mendekatkan wajahnya sedikit, cukup untuk membuatku menahan napas. “Kalau kamu sanggup.”

Lalu ia berbalik dan pergi, membawa wangi kayu basah dan jeruk bersamanya.

Aku berdiri di ballroom kosong itu lama sekali.

Jam tanganku bergetar.

dr. Fikri Kardio: 127 jam 22.04.
dr. Fikri Kardio: Kuenya jatuh lagi?

Aku tidak menjawab. Aku mengeluarkan kartu nama itu dari saku kemejaku dan membacanya di bawah lampu kristal yang setengah dimatikan.

Mikaela Wirawan
Founder & Lead Planner — Kaela Wedding

Di baliknya, ditulis tangan dengan tinta hitam, rapi dan miring ke kanan, ada satu kalimat pendek:

Jangan minum decaf besok. Kamu butuh tenaga untuk menolakku.

Aku menatap kalimat itu.

Bagaimana dia tahu aku minum decaf?

Detak jantungku seratus sembilan belas.

Aku menarik napas. Empat hitungan. Tahan tujuh.

Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, hitungan itu tidak berhasil.