Chapter Twenty Nine
Malam Terakhir Hadi
POV: Evan
Aku tidak minum obatnya pagi itu.
Aku berdiri di dapur studio pukul enam pagi, dengan tablet putih kecil di telapak tangan dan segelas air di tangan lain, dan aku menatap tablet itu lama sekali.
Kemarin malam, setelah satu tablet, aku naik turun tangga tiga kali dan jantungku hanya mencapai seratus dua belas. Tidak ada benang. Tidak ada warna. Hanya tangga dan gelap dan napasku sendiri.
Hari ini aku akan ke rumah sakit. Hari ini Papa Mikaela ingin bicara denganku berdua.
Dan hari ini, mungkin, atau besok, atau lusa, benang Papa ke Mikaela akan naik ke langit.
Aku tidak tahu kenapa aku harus melihatnya. Aku tidak tahu apa yang akan berubah kalau aku melihatnya. Benang itu akan naik dengan atau tanpa mataku.
Tapi aku memikirkan Mikaela. Di sofa yang terlalu pendek. Dengan tangan Papa di tangannya. Tanpa bisa melihat apa pun.
Seseorang harus melihat. Seseorang harus tahu ke mana benang itu pergi, supaya bisa memberitahunya nanti. Supaya ia tahu bahwa benang itu tidak putus. Hanya naik.
Aku memasukkan tablet itu kembali ke bungkusnya. Menyimpannya di laci dapur, di belakang toples decaf.
Satu minggu, kataku pada diriku sendiri. Fikri bilang satu minggu. Setelah itu aku minum. Setelah itu aku operasi. Setelah itu aku buta.
Tapi minggu ini, aku masih bisa lihat.
Jam tanganku bergetar di pergelangan tangan. Notifikasi dari aplikasi yang tersambung ke ponsel Fikri. Aku membayangkan Fikri di ujung yang lain, menatap angka-angkaku.
Aku tidak peduli.
Kamar 512 berbeda hari itu.
Lebih sunyi. Lebih redup. Gorden jendela setengah ditutup, sehingga cahaya pagi yang masuk berwarna kelabu. Monitor di samping tempat tidur berbunyi lebih pelan. Bip... bip... bip... Dengan jeda yang lebih panjang dari kemarin.
Papa tidur. Wajahnya lebih kuning. Lebih tipis. Napasnya berat, dengan bunyi kecil di setiap tarikan, seperti air yang mengalir melalui pipa yang hampir tersumbat.
Mikaela duduk di kursi di sebelah tempat tidur, dengan tangan Papa di tangannya. Ia memakai kaus abu-abu kebesaran dan celana training. Rambutnya diikat asal. Tidak ada riasan sama sekali. Matanya merah dan bengkak, dengan lingkaran hitam yang dalam di bawahnya.
Ia mendongak ketika aku masuk.
Dan tersenyum.
Senyum kecil, lelah, yang hampir tidak ada. Tapi senyum.
Ia masih cantik. Bahkan sekarang. Bahkan dengan wajah polos dan mata bengkak dan rambut yang belum dicuci tiga hari. Cantik dengan cara yang tidak ada hubungannya dengan wajah. Cantik seperti seseorang yang sudah duduk di samping tempat tidur ini berhari-hari dan tidak pergi sekali pun.
“Kamu datang,” bisiknya.
“Aku janji.”
Aku berjalan ke arahnya. Mencium puncak kepalanya. Rambutnya bau rumah sakit dan sedikit bau keringat dan sedikit bau sampo yang sudah lama.
Ia menyandarkan kepalanya di perutku, masih duduk, masih memegang tangan Papa.
“Dia tidur dari subuh,” bisiknya. “Dokter bilang... dokter bilang dia mungkin nggak akan bangun lama lagi. Tapi dia bilang mau ngomong sama kamu. Semalam. Dia bilang jangan biarin Papa tidur sebelum Evan datang.”
Aku mengusap rambutnya.
“Aku di sini.”
Papa bangun pukul sebelas.
Pelan. Matanya terbuka setengah, berkabut, menatap langit-langit. Lalu bergerak. Mencari. Menemukan Mikaela. Lalu menemukan aku, berdiri di belakang Mikaela dengan tangan di bahunya.
“Nak Evan,” katanya. Suaranya hampir tidak terdengar. Serak. Basah.
“Saya di sini, Pak.”
“Mika.” Papa menoleh pelan pada putrinya. “Papa mau ngomong sama Nak Evan. Berdua.”
“Pa...”
“Sebentar aja, Nak. Kamu turun. Beli teh. Makan sesuatu. Kamu udah dua hari nggak makan.”
“Aku makan, Pa.”
“Bubur dari Lulu tiga sendok bukan makan.” Papa tersenyum lemah. “Turun. Lima belas menit. Papa nggak ke mana-mana.”
Mikaela menatap papanya lama. Lalu menatapku. Lalu, dengan berat, ia berdiri. Mencium dahi Papa. Berjalan ke pintu.
Di pintu, ia berhenti. Menatap Papa sekali lagi.
“Lima belas menit, Pa.”
“Lima belas menit, Mika nomor satu.”
Ia pergi.
Papa menatap pintu yang tertutup lama. Lalu menoleh padaku.
“Duduk, Nak.”
Aku duduk di kursi yang tadi diduduki Mikaela. Masih hangat.
Papa menatapku. Matanya yang berkabut tiba-tiba terlihat lebih tajam. Lebih jernih. Seperti seseorang yang mengumpulkan semua tenaga yang tersisa untuk satu percakapan terakhir.
“Bi Iyah,” katanya, sedikit lebih keras.
Pintu kamar mandi terbuka. Bi Iyah keluar. Aku tidak tahu ia ada di sana. Ia membawa sesuatu yang besar dan datar, dibungkus kain batik cokelat.
Ia meletakkannya di pangkuanku. Berat. Kaku. Seperti bingkai.
“Buka,” kata Papa.
Aku membuka kain batik itu. Pelan.
Bingkai kayu. Kayu jati tua yang dipelitur sampai mengilap seperti madu. Enam puluh kali sembilan puluh senti. Kaca bening yang baru dibersihkan.
Dan di dalamnya, sebuah foto.
Hitam-putih. Dicetak di kertas fiber. Kertas fiber yang tebal, yang tintanya lebih pekat dan bayangannya lebih dalam dari cetak ulang mana pun. Kertas yang dicetak oleh lab terbaik di Bandung, dua belas tahun lalu, untuk pameran pemenang lomba fotografi nasional untuk pelajar.
Seorang anak perempuan, kurus, berumur sekitar tiga belas tahun, duduk di undakan tangga semen. Rambutnya dipotong pendek asal-asalan. Ia memeluk lututnya. Menatap gerbang.
Di sudut kanan bawah, di atas kertas fiber, ada tanda tangan dengan pulpen hitam. Tulisan tangan anak SMA yang belum matang, yang terlalu miring dan terlalu besar.
Evan M.
Tanda tanganku. Umur tujuh belas.
Belum Ada yang Menunggu. Print asli. Yang kujual lima tahun lalu kepada pembeli anonim yang membayar dengan harga yang terlalu tinggi untuk foto karya anak SMA.
Aku menatap foto itu. Lama.
Lalu aku menatap Papa.
Papa tersenyum.
“Bingkainya kemarin lagi diperbaiki,” katanya. “Kayunya retak di sudut. Udah lima tahun dipajang di ruang baca. Kena matahari pagi tiap hari. Papa bawa ke tukang bingkai di Jalan Naripan. Baru selesai minggu lalu.”
Bingkai kosong di ruang baca. Enam puluh kali sembilan puluh senti. Tempat foto yang lagi diperbaiki. Foto yang penting.
“Bapak...” Suaraku tidak keluar. “Bapak yang beli?”
“Papa yang bayar,” koreksi Papa pelan. “Yang beli Mika.”
Aku tidak bisa bernapas.
Papa bercerita.
Pelan. Dengan jeda di antara kalimat untuk menarik napas yang berat dan basah. Monitor di sampingnya berbunyi pelan. Bip... bip... bip...
Lima tahun lalu. Mikaela dua puluh tahun. Masih kuliah di Singapura. Suatu malam ia menelepon Papa, menangis. Bukan menangis karena sedih. Menangis karena panik.
Pa, foto itu dijual. Foto aku. Yang di koran. Fotografernya jual. Di galeri online. Pa, kalau dibeli orang lain, aku nggak akan pernah lihat lagi.
“Papa tanya, kenapa fotografernya jual?“ kata Papa. “Mika bilang dia nggak tahu. Tapi dia bilang, Pa, dia pasti lagi susah. Dia nggak akan jual foto itu kalau nggak lagi susah. Itu foto pertamanya. Itu foto yang bikin dia jadi fotografer.“
Papa menatapku.
“Kamu lagi susah, Nak?”
Aku mengangguk. Tidak bisa bicara.
Tabungan nikah dua ribu tiga ratus empat puluh rupiah. Kontrakan yang harus dikosongkan. Jaket denim dan kamera Bapak.
“Mika minta Papa beli,” lanjut Papa. “Pakai harga berapa pun. Dia bilang, Pa, aku nggak pernah minta apa-apa sama Papa. Sekali ini aja. Beli foto itu. Bayar mahal. Biar dia nggak susah lagi.“
Papa tersenyum. Matanya basah.
“Dua belas tahun, Nak Evan. Dua belas tahun dia nggak pernah minta apa-apa sama Papa. Nggak mainan. Nggak baju. Nggak jalan-jalan. Nggak pernah.” Suaranya pecah. “Dan pertama kalinya dia minta, dia minta Papa bayar mahal buat foto dirinya sendiri. Supaya laki-laki yang motret dia nggak susah.”
Aku menunduk. Menatap foto di pangkuanku. Anak perempuan di undakan tangga. Air mata jatuh dari mataku ke kaca bingkai. Satu. Dua. Tiga.
“Papa bayar,” kata Papa. “Anonim. Mika yang minta anonim. Katanya, jangan sampai dia tahu, Pa. Nanti dia ngerasa utang. Aku nggak mau dia ngerasa utang sama aku.“
Ia mengulurkan tangannya yang tidak diinfus. Kurus. Bertulang. Kuning. Ia meletakkannya di atas tanganku, yang memegang pinggiran bingkai.
“Studio itu,” kata Papa pelan. “Studio Mahendra. Di Dago. Pakai uang itu, kan?”
Aku mengangguk.
Papa tersenyum. Senyum yang lebar sekali, untuk orang yang sudah hampir tidak punya tenaga.
“Anak Papa milih kamu sejak umur tiga belas, Nak Evan,” katanya. “Papa cuma tukang bayarnya.”
Aku tidak tahu berapa lama aku menangis.
Aku hanya tahu bahwa Papa tidak melepaskan tanganku. Tangannya yang kurus dan dingin dan ringan, di atas tanganku yang memegang foto anak perempuan yang membeli kembali dirinya sendiri, dengan uang ayahnya, supaya laki-laki yang memotretnya bisa membuka studio.
Studio tempat aku memotret empat ratus pernikahan.
Studio tempat aku menggantung cetak ulang foto itu di tengah dinding, di tempat paling terang, dan menatapnya setiap pagi selama lima tahun tanpa tahu.
Studio tempat ia datang membawa dua gelas kopi dan menatap foto itu lama sekali, dan bertanya siapa yang nunggu dia sekarang.
“Kenapa,” kataku akhirnya. Suaraku serak. “Kenapa Bapak cerita ke saya sekarang?”
Papa menatapku.
“Karena Papa mau kamu tahu,” katanya, “sebelum Papa nggak bisa cerita lagi.”
Ia menarik napas. Napas yang berat, yang berbunyi seperti air di pipa yang tersumbat.
“Mika nggak akan pernah cerita ini ke kamu. Kamu tahu kenapa?”
“Karena dia nggak mau saya ngerasa utang.”
“Karena dia nggak pernah bisa bilang apa yang dia rasain.” Papa menatapku. “Dia bisa ngelakuin apa aja buat orang yang dia sayang. Beli foto. Cari kamu dua belas tahun. Pulang dari Singapura. Pegang nadi kamu di depan empat ratus orang. Tapi dia nggak bisa bilang.”
Ia mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya.
“Papa udah coba ngajarin dia dua belas tahun. Papa gagal.” Ia tersenyum kecil. “Sekarang giliran kamu.”
Aku menatapnya.
“Jangan paksa dia bilang,” kata Papa. “Tapi jangan biarin dia berhenti nyoba. Ngerti?”
“Ngerti, Pak.”
Papa menatapku lama. Lalu matanya turun. Dari wajahku ke dadaku. Ke tanganku yang, tanpa kusadari, sudah naik ke dada kiri, menekan rusuk di atas jantung.
Burung kecil di dalam sana mengepak lagi. Sejak pagi. Sejak aku tidak minum obat.
“Kamu sakit juga ya, Nak,” kata Papa pelan.
Aku membeku.
“Papa lihat dari kemarin. Kamu pegang dada terus. Kamu pucat. Kamu keringetan padahal AC-nya dingin.” Papa menatapku. “Papa udah sakit tiga bulan, Nak Evan. Papa tahu mukanya orang sakit.”
“Saya nggak apa-apa, Pak.”
“Bohong.”
Aku tidak menjawab.
Papa menatapku dengan mata yang berkabut tapi tajam.
“Papa juga bohong ke Mika,” katanya pelan. “Tiga bulan. Papa bilang cuma maag. Papa bilang cuma kecapekan. Papa nggak mau dia pulang dari Singapura. Papa nggak mau dia ninggalin hidupnya buat ngurusin orang tua yang sekarat.”
Ia diam sebentar. Napasnya berat.
“Dia tahu dari Bi Iyah. Bi Iyah telepon dia diam-diam. Dan dia pulang dalam dua puluh empat jam. Dan dia marah sama Papa. Pertama kalinya dia marah sama Papa. Dua belas tahun.” Papa tersenyum, senyum yang sedih. “Dia bilang, Papa kira dengan nggak bilang, Papa ngelindungin aku? Papa cuma ngambil waktu aku. Tiga bulan yang harusnya aku di sini.“
Ia menatapku.
“Jangan ambil waktu dia, Nak Evan.”
Aku tidak bisa bicara.
“Apa pun sakitmu,” kata Papa, “bilang ke dia. Jangan ulangin kesalahan Papa.”
Jantungku tembus seratus dua puluh tanpa izin.
Tanpa obat yang menahan, burung kecil di rusukku melompat dan menabrak, dan dunia berubah warna di kamar 512 yang redup.
Dan aku melihat.
Dari dada Papa, benang ke arah pintu. Ke arah lorong. Ke arah kantin di lantai bawah, tempat Mikaela sedang membeli teh yang tidak akan ia minum.
Setebal tali tambang. Tenang. Lurus. Seperti biasa.
Tapi pangkalnya, di dada Papa, sudah tidak lurus lagi.
Pangkalnya naik.
Lebih dari kemarin. Jauh lebih dari kemarin. Benang itu tidak lagi keluar dari dadanya mendatar ke arah pintu. Benang itu keluar dari dadanya, naik ke atas dulu, melengkung di dekat langit-langit, baru turun lagi ke arah pintu. Seperti tali jemuran yang salah satu tiangnya mulai dicabut dan diangkat ke langit.
Dan di samping benang itu, benang-benang lain. Dari dada Papa.
Satu ke arah langit-langit. Sudah naik sepenuhnya. Tipis. Tua. Tenang. Ke Ratna, perempuan di toko kain di Pasar Baru, yang namanya Papa gunting dari kolom berita duka dan simpan di laci meja kerja.
Tidak ada yang ke arahku. Tentu saja tidak. Benang hanya menghubungkan perempuan dan laki-laki. Dua belas tahun, aturan itu tidak pernah berubah.
Tapi Papa menatapku dengan mata yang membuatku merasa, untuk pertama kalinya, bahwa ada jenis sayang yang tidak bisa kulihat sama sekali. Sayang yang tidak punya benang. Sayang seorang laki-laki tua pada laki-laki muda yang dulu memotret anaknya, yang ia bayar diam-diam supaya tidak susah, yang ia beri poin di setiap makan malam.
Mataku bisa melihat semua cinta di dunia ini, kecuali yang seperti itu.
Papa menatapku. Ia tidak tahu apa yang kulihat. Tapi ia melihat wajahku.
“Kamu lagi lihat sesuatu, ya,” katanya pelan.
Aku menatapnya. Laki-laki yang sekarat di depanku. Yang benangnya mulai naik ke langit.
Dan untuk kedua kalinya dalam hidupku, aku memberitahu seseorang.
“Benang, Pak,” kataku. “Saya bisa lihat benang. Dari tiap orang ke orang yang dia sayang.”
Papa tidak terkejut. Ia hanya menatapku lama.
“Mika tahu?”
“Mika tahu. Dari dulu. Dari umur tiga belas.”
Papa tertawa kecil. Tawa yang berubah jadi batuk, lalu reda.
“Pantas,” katanya. “Pantas dia pegang nadi kamu terus.”
Ia menatapku.
“Benang Papa ke Mika,” katanya. “Masih ada?”
“Masih, Pak. Tebal sekali. Paling tebal yang pernah saya lihat.”
“Tapi?”
Aku tidak menjawab.
Papa tersenyum. Ia tahu. Ia selalu tahu.
“Naik, ya,” katanya pelan.
Aku mengangguk. Air mata jatuh lagi.
Papa menatap langit-langit kamar 512. Lama. Seperti mencari sesuatu di sana. Lalu menatapku lagi.
“Nak Evan,” katanya. “Nanti, kalau udah naik semua. Bilang ke Mika.”
“Bilang apa, Pak?”
“Bilang ke dia benangnya nggak putus.” Suara Papa sangat pelan sekarang. “Bilang ke dia cuma naik. Bilang ke dia Papa masih sayang, dari atas. Dia nggak bisa lihat. Tapi kamu bisa. Jadi kamu yang bilang.”
Aku menggenggam tangannya.
“Saya janji, Pak.”
Mikaela kembali dua puluh menit kemudian. Lebih lama dari lima belas. Matanya lebih merah dari tadi. Ia menangis di kantin, aku tahu.
Ia melihat foto di pangkuanku.
Ia berhenti di ambang pintu.
Wajahnya berubah. Dari lelah ke kaget. Dari kaget ke sesuatu yang lain. Ia menatap Papa.
“Pa,” bisiknya. “Papa bilang ke dia?”
“Papa bilang,” kata Papa. “Papa udah tua. Papa boleh bocor.”
Mikaela menatapku. Aku menatapnya. Foto anak perempuan di undakan tangga ada di antara kami, di pangkuanku, di dalam bingkai kayu jati.
Aku tidak berkata apa-apa. Aku tidak tahu harus berkata apa.
Jadi aku berdiri. Meletakkan foto itu di kursi. Berjalan ke arahnya. Dan memeluknya.
Erat. Di ambang pintu kamar 512.
Ia tidak membalas pelukanku langsung. Ia berdiri kaku, dengan tangan di sisi tubuhnya.
Lalu pelan-pelan, tangannya naik. Ke punggungku. Mencengkeram kemejaku.
“Kamu nggak boleh ngerasa utang,” bisiknya di dadaku. “Itu bukan utang.”
“Aku tahu.”
“Aku yang mau. Aku yang minta Papa.”
“Aku tahu, Mika.”
“Aku cuma nggak mau kamu susah.”
Aku memeluknya lebih erat.
Di belakangku, Papa terkekeh pelan dari tempat tidurnya.
“Bi Iyah,” katanya. “Foto. Pakai HP. Papa mau lihat anak Papa dipeluk.”
Malamnya, semua orang datang.
Kak Bima, dari Cimahi, dengan kemeja batik yang kekecilan dan bolu pisang percobaan keenam, yang gulanya sudah benar. Ia membawa seorang perempuan muda berkerudung biru dengan wajah malu-malu. Teh Neneng. Penjual lontong sayur di depan bengkelnya.
“Saya bilang, Pak,” kata Bima pada Papa, berlutut di samping tempat tidur dengan mata basah. “Tadi pagi. Waktu beli lontong. Saya bilang saya suka kamu. Dia bilang saya juga, dari dulu, Bang, kenapa lama banget.”
Papa tertawa. Tawa yang hampir tidak ada suaranya. Hanya bahunya yang bergetar sedikit.
“Bagus,” bisiknya. “Sepuluh poin.”
Ibuku datang. Dengan panci soto yang tidak bisa dimakan siapa pun, dan kerudung oranye menyala. Ia duduk di sebelah Mikaela dan menggenggam tangannya dan tidak melepaskannya sepanjang malam.
Lulu dan Dodo duduk di kursi plastik di lorong, di luar pintu, bergandengan tangan. Dodo tidak memakai kaos konspirasi. Ia memakai kemeja batik yang disetrika Lulu.
Fikri datang pukul sembilan. Ia tidak masuk. Ia berdiri di ambang pintu, menatap Papa sebentar, lalu menatapku. Lama. Lalu ia menatap jam tanganku dari jauh, seolah bisa membaca angkanya dari sana.
Aku tidak menatapnya balik.
Papa bangun beberapa kali malam itu. Setiap kali bangun, ia bicara. Kadang pada kami. Kadang pada orang-orang yang tidak ada di ruangan.
Pukul sepuluh, ia bicara pada Ratna. Kainnya numpuk, Ratna. Saya nggak bisa jahit. Saya cuma mau ketemu kamu.
Pukul sebelas, ia bicara pada seseorang di Sukabumi. Bu, saya udah gede. Saya udah punya rumah. Ibu nggak usah nunggu saya lagi di gerbang.
Pukul dua belas, ia bicara pada Mikaela. Mikaela yang sungguhan, yang duduk di sebelahnya.
“Mika.”
“Pa. Aku di sini.”
“Mika nomor satu.”
“Iya, Pa.”
“Sekali-sekali minta, ya.” Suaranya hampir tidak ada. “Minta sama orang yang sayang kamu. Mereka nggak akan pergi.”
Mikaela menangis tanpa suara, dengan dahi menempel di tangan Papa.
Pukul satu, ia bicara pada Bima.
“Nak Bima.”
“Pak.”
“Jaga adikmu.”
“Saya jaga, Pak. Seumur hidup.”
“Dan bolu pisangnya. Gulanya jangan dikurangin lagi. Biar manis.”
Bima menangis tersedu-sedu di samping tempat tidur, dan Teh Neneng mengusap punggungnya.
Pukul dua, ia bicara padaku.
“Nak Evan.”
Aku mendekat. Berlutut di samping tempat tidur, di sebelah Mikaela.
Papa menatapku dengan mata yang hampir tertutup.
“Fotonya,” bisiknya. “Gantung lagi. Di ruang baca. Di tempatnya.”
“Iya, Pak.”
“Tapi nanti. Nanti kalau kalian udah punya rumah sendiri.” Ia tersenyum, sangat kecil. “Bawa. Gantung di rumah kalian. Biar dia tahu. Ada yang nunggu dia sekarang.”
Aku menggenggam tangannya. Dan Mikaela menggenggam tangannya yang lain.
Papa memejamkan mata.
Napasnya berubah. Lebih lambat. Lebih dalam. Dengan jeda yang lebih panjang di antara setiap tarikan.
Monitor di sampingnya berbunyi. Bip...... bip...... bip......
Jantungku seratus tiga puluh. Tanpa obat. Tanpa izin.
Dunia merah di kamar 512 yang gelap.
Dan aku melihat benang Papa ke Mikaela. Pangkalnya sudah naik hampir sepenuhnya. Benang itu sekarang keluar dari dada Papa lurus ke atas, ke langit-langit, menembus langit-langit, ke suatu tempat di atas yang tidak bisa kulihat. Lalu turun lagi dari sana, dari langit-langit, ke dada Mikaela. Seperti jembatan yang dibangun ulang dengan bentuk yang berbeda.
Masih setebal tali tambang. Masih tenang. Masih lurus.
Hanya jalurnya yang berubah.
Aku menatap benang itu sampai mataku buram. Sampai jam tanganku bergetar dengan notifikasi dari ponsel Fikri, yang mungkin sedang duduk di lorong rumah sakit, menatap angkaku.
Aku tidak peduli.
Aku menatap benang itu.
Seseorang harus melihat.
Seseorang harus tahu ke mana benang itu pergi.
Supaya nanti, ketika semuanya selesai, ada yang bisa memberitahu perempuan di sebelahku, yang tidak bisa melihat apa-apa, bahwa ayahnya tidak pergi.
Hanya naik.
- 1 Seratus Tiga Puluh Empat
- 2 Kontrak
- 3 Strategi
- 4 Pernikahan Pertama: Mempelai yang Salah Arah
- 5 Hidup di Bawah 110
- 6 Pernikahan Kedua: Lima Puluh Tahun
- 7 Benang yang Tidak Bergetar
- 8 Pernikahan Ketiga: Payung
- 9 Lari dari 120
- 10 Pernikahan Keempat: Pengantin Pingsan
- 11 Pernikahan Kelima: Pagar Panti
- 12 Belum Ada yang Menunggu
- 13 Dua Belas Tahun
- 14 Pernikahan Keenam: Uji Coba
- 15 Ulang Tahun Pernikahan Fikri
- 16 Bianglala
- 17 Resmi
- 18 Lampu Merah di Darkroom
- 19 Pernikahan Ketujuh: Benang Baru
- 20 Amplop
- 21 Yang Kedua Kalinya
- 22 Kamu Lihat Benangku ke Dia?
- 23 Gadis Tanpa Benang
- 24 Kunci Inggris
- 25 Pernikahan Kedelapan: Latihan Bicara
- 26 Aku Udah Tahu
- 27 Potret Terakhir
- 28 Pernikahan Kesembilan: Diagnosis Kedua
- 29 Malam Terakhir Hadi reading
- 30 Benang yang Naik
- 31 Kali Ini Aku yang Tanya
- 32 Botol Obat
- 33 Pernikahan Kesepuluh: Jaket
- 34 Cinta yang Bisa Diawasi
- 35 Pernikahan Kesebelas: Benang Ibu
- 36 Pernikahan Kedua Belas: Tangga Darurat
- 37 Seratus Dua Puluh Satu
- 38 Kopi Asli
- 39 Sudah Ada yang Menunggu
- 40 Pernikahan Ketiga Belas
- 41 Epilog — Sekarang Berapa?