← Gadis Tanpa Benang

Chapter Thirty Six

Pernikahan Kedua Belas: Tangga Darurat

POV: Mika

Pernikahan kedua belas digelar di atap.

Taman atap Gedung Wisma Prima, lantai sembilan, di Jalan Asia Afrika. Sebuah taman kecil yang dikelilingi pagar kaca setinggi dada, dengan rumput sintetis, pot-pot besar berisi pohon kamboja, dan pemandangan ke seluruh Bandung: Gedung Merdeka di bawah, Masjid Raya dengan dua menaranya, dan di kejauhan, gunung-gunung yang biru dan samar di balik kabut sore.

Pengantinnya, Gilbert dan Ayu, ingin menikah di tempat yang paling dekat dengan langit. Ayu bilang itu karena almarhum ayahnya pilot. Biar Bapak nggak usah turun jauh-jauh buat nonton.

Aku membaca kalimat itu di formulir konsultasi tiga bulan lalu, sebelum Papa sakit, dan menangis di mobil.

Sekarang aku berdiri di taman atap itu, di bawah langit sore yang mulai berwarna jingga, dan menatap ke atas.

Benang Papa ke aku. Naik. Ke langit. Terus turun lagi ke kamu.

Aku tidak bisa melihatnya. Aku tidak akan pernah bisa melihatnya.

Tapi aku menatap ke arah yang tepat.


Evan ada di lobi.

Fikri yang mengaturnya. Aku tahu karena Lulu memberitahuku pagi tadi, dengan clipboard di dada dan wajah yang terlalu datar.

“Bu. Laporan. Mas Evan akan memotret dari lobi dan lantai satu saja. Akad dan resepsi di atap akan dipotret Mas Dodo dan Mas Wawan.”

“Kenapa?”

“Instruksi dr. Fikri. Mas Evan dilarang naik lift lebih dari lantai tiga dan dilarang naik tangga sama sekali.” Lulu berhenti. “Mas Evan sudah konfirmasi jadwal operasi, Bu. Senin depan.”

Aku menatapnya.

“Dia konfirmasi?”

“Rabu malam. Jam sebelas lewat dua belas. dr. Fikri kirim pesan ke saya jam sebelas lewat lima belas. Isinya cuma ALHAMDULILLAH dalam huruf kapital.” Lulu menatapku dari balik kacamata. “Mas Evan belum bilang ke Ibu?”

Aku tidak menjawab.

Ia belum bilang. Tiga hari sejak malam di ruang depan studio. Sejak aku meletakkan jaket denim yang terlipat di sofa abu-abu dan berjalan keluar. Sejak ia berjalan di belakangku empat puluh menit ke Dago atas, lima puluh meter di belakang, tanpa bicara.

Ia mengirim pesan setiap pagi. Seperti sebelumnya. Aku minum obatnya. Satu kalimat. Tidak lebih.

Ia tidak bilang soal operasi.

“Bu,” kata Lulu. “Mungkin Mas Evan mau bilang langsung.”

“Mungkin.”

“Hari ini. Setelah pernikahan terakhir di kontrak.”

Aku menatap Lulu. Lulu menatapku balik dengan wajah datar. Tapi telinganya merah.

“Kamu tahu sesuatu,” kataku.

“Saya tidak tahu apa-apa, Bu.” Lulu membuka clipboard-nya dan menulis sesuatu. “Saya hanya mencatat.”


Aku melihatnya sekali, waktu aku turun ke lobi untuk mengecek kedatangan katering.

Ia berdiri di dekat pintu masuk, di bawah lampu kristal tua yang tergantung di langit-langit lobi Wisma Prima, dengan kamera Leica di tangan. Ia memakai kemeja biru. Yang selalu ia pakai kalau mengunjungi Papa. Rambutnya diikat setengah. Wajahnya pucat, tapi tidak sepucat minggu lalu.

Ia memotret tamu-tamu yang datang. Pelan. Hati-hati. Tanpa bergerak dari tempatnya.

Ia menoleh ketika aku keluar dari lift.

Kami saling menatap. Dari seberang lobi. Seperti di restoran di Sukajadi.

Lalu ia tersenyum.

Bukan senyum fotografer yang sopan. Senyum yang lain. Senyum kecil yang tidak sengaja. Senyum yang, kata Papa dulu, mirip senyum ayahnya.

Aku tidak tahu harus berbuat apa. Jadi aku mengangguk. Sekali. Kecil.

Seperti anak tiga belas tahun di ruang tamu panti, yang takut kalau ngangguknya kebesaran, orang di depannya akan berubah pikiran.

Ia mengangguk balik.

Lalu aku masuk ke lift dan naik ke lantai sembilan, dan jantungku sendiri, yang tidak pernah kuhitung, berdetak terlalu keras sepanjang jalan.


Nenek Ayu bernama Oma Lies. Delapan puluh tujuh tahun. Duduk di kursi roda di sudut taman atap, di bawah pohon kamboja, dengan selang oksigen tipis di hidungnya yang tersambung ke konsentrator oksigen listrik di sebelah kursi rodanya.

Ia istri seorang pilot. Ibu seorang pilot. Dan ia bersikeras naik ke atap meskipun dokternya melarang.

“Saya mau lihat cucu saya menikah dekat langit,” katanya padaku waktu ia tiba, dengan suara yang serak tapi tegas. “Suami saya di atas sana. Anak saya juga. Mereka harus lihat.”

Aku memeriksa konsentrator oksigennya dua kali. Aku meminta teknisi gedung memastikan stopkontaknya tersambung ke jalur genset. Aku menyuruh Lulu menyiapkan tabung oksigen cadangan di mobil van, untuk berjaga-jaga.

Akad dimulai pukul empat sore.

Langit di atas Bandung berwarna jingga keemasan. Angin bertiup pelan, menggoyangkan bunga-bunga kamboja dan kerudung pengantin. Gilbert mengucapkan ijab kabul dengan aksen Manado yang kental. Ayu menangis di balik tirai. Oma Lies menatap langit dengan mata yang basah dan bibir yang bergerak pelan, seperti sedang bicara dengan seseorang di atas sana.

Sah.

Tepuk tangan. Takbir. Tangis.

Dan pukul empat lewat dua puluh tiga menit, listrik di seluruh Gedung Wisma Prima padam.


Tidak ada peringatan.

Lampu-lampu hias di pagar kaca mati. Sound system mati, memotong lagu Kemesraan di tengah reff. Dari dalam gedung, terdengar suara-suara kaget, teriakan, dan bunyi alarm darurat yang meraung pelan sebelum ikut mati.

Lalu genset menyala. Aku mendengarnya. Dengung mesin dari ruang bawah tanah, jauh di bawah, merambat melalui dinding beton.

Lampu darurat di tangga menyala. Sound system tidak.

Dan konsentrator oksigen Oma Lies tidak.

Aku sudah berlari ke sudut taman sebelum aku berpikir. Teknisi gedung bilang stopkontak itu tersambung ke genset. Teknisi gedung bohong. Atau salah. Lampu kecil di konsentrator oksigen itu mati. Kipas di dalamnya berhenti berputar.

Oma Lies menatapku dengan mata yang melebar.

“Neng,” katanya. Suaranya sudah mulai pendek. “Neng, kok... kok sesak...”

“Oma, tenang. Oma tenang, ya. Napas pelan-pelan.”

Aku mencabut selang oksigen dari konsentrator yang mati. Tidak ada gunanya. Tidak ada yang keluar.

Oma Lies menarik napas. Napas yang berbunyi. Seperti air yang mengalir di pipa yang hampir tersumbat.

Aku membeku.

Bunyi itu.

Bip... bip... bip...

Kamar 512. Napas Papa yang berat dan basah. Jeda yang makin panjang di antara setiap tarikan.

“Lulu!” Aku menekan ponselku ke telinga. Tanganku gemetar sangat keras sampai aku hampir menjatuhkannya. “Lulu, tabung oksigen. Sekarang. Di van. Lantai sembilan.”

“Bu, lift mati.” Suara Lulu dari ujung telepon. Tenang. Tapi terlalu cepat. “Semua lift mati. Lift nomor dua macet di lantai lima. Mas Dodo di dalamnya, Bu. Sama tujuh tamu. Sama kue pengantin.”

“Tangga...”

“Saya sudah di tangga, Bu. Saya bawa tabungnya. Saya di lantai dua.” Lulu terengah. “Tabungnya berat, Bu. Enam kilo. Saya... saya lambat.”

Oma Lies menarik napas lagi. Bunyinya lebih keras sekarang. Wajahnya mulai pucat. Bibirnya mulai membiru di ujung.

Tamu-tamu di sekelilingku mulai menyadari. Seseorang berteriak minta dokter. Seseorang lain berteriak bahwa ponselnya tidak ada sinyal. Ayu keluar dari balik tirai, dengan kebaya pengantin dan siger di kepala, dan menjerit memanggil omanya.

Aku memegang tangan Oma Lies. Tangan yang kurus. Bertulang. Dingin.

Seperti tangan Papa.

“Oma,” bisikku. “Oma, tunggu. Tolong tunggu. Sebentar lagi.”

Oma Lies menatapku. Matanya yang tua dan berkabut menatapku dengan tenang. Terlalu tenang.

“Neng,” katanya, di antara napas yang berbunyi. “Kalau Oma... kalau Oma pergi di sini... nggak apa-apa. Dekat langit.”

“Nggak.“

Suaraku keluar lebih keras dari yang kumaksud. Pecah. Basah.

“Nggak, Oma. Jangan. Jangan di depan aku. Aku nggak bisa...” Napasku sendiri mulai tersengal. Dadaku sesak. Pandanganku buram. “Aku nggak bisa kehilangan orang lagi di depan mataku. Nggak bisa. Dua minggu. Baru dua minggu...”

Aku tidak tahu aku masih memegang ponsel. Aku tidak tahu teleponnya masih tersambung.

Aku tidak tahu siapa yang mendengar.


Belakangan, Lulu menceritakan semuanya padaku.

Ia di lantai dua, di tangga darurat, terengah-engah dengan tabung oksigen enam kilo di pelukannya, ketika seseorang menyusulnya dari bawah.

Evan.

Ia mendengar. Lulu menelepon dengan pengeras suara menyala, supaya kedua tangannya bisa memegang tabung. Evan berdiri di lobi, di sebelah tangga darurat, dan mendengar semuanya. Suara Oma Lies yang berbunyi. Suaraku yang pecah.

Aku nggak bisa kehilangan orang lagi di depan mataku.

“Mas, jangan,” kata Lulu, waktu Evan mengambil tabung itu dari tangannya. “Mas, dr. Fikri bilang...”

“Aku tahu.”

“Mas, sembilan lantai...”

“Aku tahu, Lu.”

“Mas, jantung Mas...”

Evan menatapnya. Lulu bilang wajahnya pucat, tapi matanya sangat jernih. Seperti seseorang yang sudah memutuskan sesuatu jauh sebelum saat itu.

“Dia nggak bisa lihat orang pergi lagi, Lu,” katanya. “Nggak hari ini.”

Lalu ia berlari.


Aku tidak tahu ia di tangga. Aku tidak tahu apa-apa.

Aku hanya tahu Oma Lies makin sesak. Seorang tamu, dokter gigi, katanya, berlutut di sebelahku dan membuka kancing kebaya Oma Lies di leher dan menyuruhnya duduk tegak. Ayu menangis di sebelah kursi roda, memegang tangan omanya. Gilbert berteriak ke ponselnya, mencoba menelepon ambulans.

Dan aku berlari ke pintu tangga darurat di sudut taman atap.

Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku tidak bisa diam. Mungkin karena aku ingin melihat apakah Lulu sudah dekat. Mungkin karena aku perlu melakukan sesuatu, apa saja, selain berdiri di samping orang yang tidak bisa bernapas dan menonton.

Aku membuka pintu besi berat itu. Masuk ke bordes tangga darurat lantai sembilan.

Gelap. Hanya lampu darurat hijau pucat di setiap bordes, berkedip-kedip. Bau semen dan debu. Dan suara.

Suara langkah kaki dari bawah. Cepat. Berat. Terengah.

Aku membungkuk di atas pegangan tangga. Menatap ke bawah, melalui celah sempit di antara pegangan-pegangan tangga yang berputar turun, sembilan lantai, ke kegelapan.

Dan aku melihatnya.

Jauh di bawah. Di bawah lampu hijau pucat. Seseorang berlari menaiki tangga. Dengan sesuatu yang besar di pelukannya. Tabung. Berwarna hijau.

Kemeja biru.

Rambut yang diikat setengah, sudah lepas di satu sisi.

Aku berhenti bernapas.

Pak Darmawan dengan dua lutut palsu butuh empat menit.

Aku tunggu kamu di atas.

Kamu di lantai berapa?

Tangga darurat Gedung Braga. Lantai empat. Enam menit dua belas detik. Aku menunduk di atas pegangan tangga waktu itu, dengan ekor kuda yang menggantung ke bawah seperti tali, dan ia mendongak menatapku dari lantai tiga setengah.

Ia selalu menghitung anak tangga. Ia selalu naik pelan. Ia selalu berhenti di setiap bordes untuk menarik napas.

Sekarang ia tidak berhenti.

“EVAN!“

Suaraku bergema di tangga beton yang sempit. Memantul dari dinding ke dinding. Turun ke bawah, ke kegelapan.

Langkahnya tidak berhenti. Tapi ia mendongak. Dari celah di antara pegangan tangga. Wajahnya, di bawah lampu hijau pucat, basah keringat dan pucat sekali.

Ia melihatku.

“JANGAN NAIK!“ teriakku. “EVAN, JANGAN! JANTUNGMU!“

Ia tidak berhenti.

“Kamu di lantai berapa?” teriakku. Suaraku pecah. Sama seperti di Braga. Persis sama. “Kamu di lantai berapa?!“

Ia mendongak lagi. Masih berlari. Napasnya terdengar sampai ke atas, berat, kasar, seperti orang yang tenggelam.

“Tujuh,” katanya.

Lalu, beberapa detik kemudian, dari bordes berikutnya:

“Delapan.”

Lalu ia berhenti.


Bukan berhenti seperti orang yang beristirahat.

Berhenti seperti mesin yang mati.

Aku melihatnya dari atas. Di bordes lantai delapan. Satu lantai di bawahku. Ia berdiri di sana, dengan tabung oksigen di pelukan, dan tiba-tiba lututnya lemas.

Ia tidak jatuh ke depan. Ia jatuh ke samping. Bahunya membentur dinding beton. Tubuhnya merosot pelan, seperti pohon yang ditebang, sampai ia duduk di lantai bordes dengan punggung bersandar ke dinding.

Tabung oksigen menggelinding dari pelukannya. Berhenti di anak tangga pertama menuju lantai sembilan.

Aku sudah berlari turun sebelum aku sadar kakiku bergerak.

Sepuluh anak tangga. Belokan. Delapan anak tangga lagi.

Ia di sana. Duduk bersandar di dinding. Kepalanya miring ke samping. Matanya setengah terbuka. Dadanya naik turun dengan cepat dan dangkal, seperti burung yang terperangkap.

Tangannya di dada. Mencengkeram kemeja biru.

“Evan.”

Aku berlutut di depannya. Meraih wajahnya dengan dua tangan.

Kulitnya dingin. Basah. Pucat seperti kertas.

“Evan. Evan, lihat aku.”

Matanya bergerak. Pelan. Menemukan wajahku. Fokus. Lalu buram lagi. Lalu fokus lagi.

“Tabung,” bisiknya. Napasnya terputus-putus. “Oma... tabungnya...”

Aku menoleh. Tabung oksigen di anak tangga. Hijau. Enam kilo.

Aku tidak mau melepaskannya. Aku tidak mau meninggalkannya di bordes gelap ini, sendirian, dengan jantung yang berdetak seperti burung yang sekarat.

“Bawa,” bisiknya. Tangannya mendorongku. Lemah. “Mika. Bawa. Aku... nggak apa-apa...”

“Bohong.”

“Bawa...”

Aku menatapnya. Lalu menatap tabung itu. Lalu menatap ke atas, ke pintu besi di lantai sembilan, tempat Oma Lies sedang berjuang menarik napas di bawah pohon kamboja dekat langit.

Aku mengambil tabung itu.

Aku berlari ke atas. Delapan belas anak tangga. Membuka pintu besi dengan bahu. Berlari menyeberangi taman atap. Menyerahkan tabung itu ke dokter gigi yang berlutut di samping Oma Lies.

Aku tidak menunggu melihat apakah tabungnya bekerja.

Aku berlari kembali ke tangga.


Ia masih di sana. Di bordes lantai delapan. Bersandar ke dinding.

Matanya tertutup sekarang.

“EVAN!“

Aku berlutut. Meraih pergelangan tangan kirinya. Mencari nadinya. Di bawah tali jam tangan. Di tempat yang sudah kusentuh ratusan kali.

Dua jari. Bagian dalam pergelangan. Seperti perawat. Seperti seseorang yang sudah melakukannya seribu kali.

Ada.

Cepat. Terlalu cepat. Sangat, sangat cepat. Seperti seseorang yang berlari di dalam dadanya dan tidak bisa berhenti. Lalu tiba-tiba lambat. Lalu cepat lagi. Lalu jeda.

Jeda.

Jeda.

Aku menahan napas.

Datang lagi. Cepat.

Layar jam tangannya menyala hijau di bawah jariku.

184.

“Evan.” Suaraku keluar sebagai bisikan. “Evan, buka mata. Tolong buka mata.”

Matanya terbuka. Sedikit. Celah sempit.

Ia menatapku.

Dan aku melihat sesuatu di matanya. Di tengah keringat dingin dan napas yang terputus dan wajah yang pucat seperti mayat.

Ia sedang melihat.

Bukan melihatku. Melihat sesuatu di antara kami. Di udara di antara dadaku dan dadanya. Matanya bergerak, pelan, dari dadaku ke dadanya sendiri. Lalu kembali ke wajahku.

Dan ia tersenyum.

Kecil. Sangat kecil. Hampir tidak ada.

“Masih ada,” bisiknya.

Lalu matanya tertutup lagi.


Fikri yang pertama datang. Lalu Kak Bima. Lalu petugas ambulans dengan tandu.

Aku tidak tahu bagaimana Fikri bisa sampai secepat itu. Belakangan aku tahu: Fikri menyetir dari Hasan Sadikin ke Asia Afrika dalam sembilan menit, begitu ia melihat angka di aplikasi ponselnya melonjak ke seratus tujuh puluh. Ia menelepon ambulans di jalan. Ia berlari menaiki delapan lantai tangga darurat dengan jas dokter putih yang berkibar-kibar.

Kak Bima datang karena Lulu meneleponnya. Ia sedang di Cimahi, dua puluh lima kilometer jauhnya. Ia sampai dalam dua puluh dua menit, dengan motor butut yang knalpotnya mengeluarkan asap hitam dan Teh Neneng di boncengan.

Aku tidak ingat semua itu.

Aku hanya ingat tanganku di nadinya. Tidak pernah lepas. Dari bordes lantai delapan, ke tandu, menuruni delapan lantai tangga yang gelap, ke ambulans, ke jalan raya Asia Afrika yang macet dengan sirene yang meraung, ke Rumah Sakit Hasan Sadikin.

Tidak pernah lepas.

Aku menghitung. Sepanjang jalan. Setiap denyut. Setiap jeda.

Seperti dua belas tahun lalu di anak tangga ketiga.

Menunggu.


IGD Rumah Sakit Hasan Sadikin. Pukul enam sore.

Ia di balik tirai. Dengan selang-selang dan kabel-kabel dan monitor yang berbunyi terlalu cepat. Dokter-dokter dan perawat-perawat bergerak di sekelilingnya dengan bahasa yang tidak kumengerti. Takikardia. WPW. Kardioversi. Siapkan.

Aku berdiri di luar tirai. Kak Bima di sebelah kiriku, dengan tangan besar di bahuku. Lulu di sebelah kananku, dengan clipboard yang tidak dibuka. Dodo, yang baru saja dikeluarkan dari lift macet setelah satu jam terjebak bersama tujuh tamu dan kue pengantin, berdiri di belakang kami dengan kemeja penuh krim dan wajah yang basah.

Ibu Evan datang dengan Pak Darto. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya memelukku dari belakang dan tidak melepaskan.

Fikri keluar dari balik tirai pukul enam lewat dua puluh.

Ia melepas masker. Wajahnya pucat. Matanya merah. Jas putihnya kotor oleh debu tangga darurat.

Ia menatapku.

“Dia stabil,” katanya. “Untuk sekarang. Kami kardioversi. Kejut listrik. Jantungnya balik ke irama normal.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Tapi,” kata Fikri.

Aku menunggu.

“Jalur tambahannya masih ada,” kata Fikri. Suaranya pelan. Tenang. Suara dokter. “Kalau nggak diablasi, ini bisa terjadi lagi. Kapan aja. Malam ini. Besok. Dan lain kali, mungkin nggak bisa dikembalikan.”

Ia menatap kami semua. Lalu kembali menatapku.

“Nggak ada pilihan lagi,” katanya. “Nggak bisa nunggu Senin. Malam ini. Dr. Haris udah di jalan. Ruang kateterisasi lagi disiapin.”

Kak Bima meremas bahuku.

“Malam ini,” ulang Fikri. “Dua jam lagi.”

Aku menatap tirai di belakang Fikri. Tirai hijau pucat yang memisahkanku dari laki-laki yang berlari menaiki delapan lantai tangga darurat dengan tabung oksigen enam kilo, karena ia mendengar suaraku pecah di telepon.

Dia nggak bisa lihat orang pergi lagi. Nggak hari ini.

“Boleh aku masuk?” bisikku.

Fikri menatapku lama.

“Dia nanya kamu,” katanya. “Dari tadi. Waktu sadar.” Ia menyibak tirai. “Lima menit, Mika. Lalu kami bawa dia ke ruang kateterisasi.”

Aku melangkah masuk.

Dan untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun, aku tidak menunggu di anak tangga.

Aku berlari ke gerbang.