Chapter Twenty Two
Kamu Lihat Benangku ke Dia?
POV: Evan
Lonceng di atas pintu studio tidak berbunyi.
Lonceng itu jatuh.
Pintu kaca terbuka begitu keras sampai membentur dinding dan memantul kembali, dan lonceng kuningan kecil yang sudah tergantung di atasnya selama lima tahun terlepas dari kaitnya dan jatuh ke lantai dengan suara klontang yang nyaring, lalu menggelinding di bawah sofa abu-abu.
Mikaela berdiri di ambang pintu.
Ia terengah-engah. Dadanya naik turun cepat. Rambutnya, yang tadi diikat asal di Kafe Lereng, sudah lepas sama sekali, jatuh berantakan di bahu dan menempel di dahi yang berkeringat. Blus putihnya kusut dan basah di bagian punggung. Ia tidak memakai sepatu. Kakinya telanjang, kotor oleh debu trotoar, dengan goresan merah tipis di punggung kaki kiri.
Ia berlari. Tiga ratus meter. Di Jalan Dago. Tanpa sepatu.
Wajahnya merah. Basah. Matanya bengkak dan merah dan menatap lurus ke arahku, yang masih duduk di lantai ruang editing, bersandar ke kaki meja, dengan Dodo di sebelahku.
Aku belum pernah melihatnya seperti ini.
Aku belum pernah melihat siapa pun seperti ini.
“Mbak...” Dodo bangkit setengah.
“Mas Dodo.” Suara Mikaela serak dan bergetar. “Tolong keluar sebentar.”
Dodo menatapku. Menatap Mikaela. Menatapku lagi.
“Mas Dodo,” ulang Mikaela. “Tolong.“
Dodo keluar. Ia tidak lewat pintu depan. Ia naik ke lantai atas. Aku mendengar langkahnya di tangga, lalu berhenti. Di tengah tangga. Ia tidak benar-benar pergi.
Mikaela berjalan masuk ke ruang editing. Berhenti di depanku.
Aku tidak berdiri. Aku tidak bisa berdiri. Kakiku tidak punya tenaga.
Ia menatapku dari atas. Lama. Dengan dada yang masih naik turun dan air mata yang terus mengalir tanpa ia usap.
“Kamu putusin aku,” katanya. Suaranya pelan. Terlalu pelan. “Lewat WhatsApp.”
Aku tidak menjawab.
“Tujuh pesan. Kamu putusin aku pakai tujuh pesan.” Ia tertawa, tawa yang patah di tengah, yang lebih mirip isak. “Kamu nggak telepon. Kamu nggak datang. Kamu nggak nanya. Kamu lihat aku dari seberang jalan, dan kamu langsung...”
Ia berhenti. Menelan sesuatu.
“Kamu bahkan nggak nanya, Evan.”
“Aku nggak perlu nanya,” kataku. Suaraku keluar kasar. Serak. Seperti suara orang lain. “Aku udah lihat.”
“Lihat apa?”
“Kamu tahu lihat apa.”
“Nggak. Aku nggak tahu. Bilang. Kamu lihat apa?”
“Aku lihat kamu pegang tangannya. Aku lihat kamu peluk dia. Aku lihat kamu nangis di depan dia dan dia...”
“Bukan itu.”
Aku menatapnya.
Mikaela berlutut.
Di lantai ruang editing. Di depanku. Dengan lutut di atas lantai semen yang dingin dan kaki telanjang yang kotor. Wajahnya sekarang sejajar dengan wajahku. Sangat dekat. Aku bisa melihat setiap air mata yang jatuh dari bulu matanya yang panjang. Aku bisa melihat tahi lalat kecil di bawah mata kirinya, basah.
“Bukan itu yang kamu lihat,” katanya. Suaranya bergetar hebat sekarang. “Kalau cuma itu, kamu akan nanya. Kamu akan marah. Kamu akan datang ke kafe dan tanya siapa dia. Itu yang dilakukan orang normal kalau lihat pacarnya pelukan sama laki-laki lain.”
Ia menarik napas. Napas yang gemetar dan panjang.
“Tapi kamu nggak nanya. Kamu langsung pergi. Kamu langsung putusin aku. Kayak orang yang udah tahu jawabannya. Kayak orang yang udah lihat jawabannya.”
Jantungku melompat.
“Mika...”
“Bilang aku salah.”
Aku tidak bisa bicara.
Mikaela menatapku. Matanya merah dan basah dan menatap langsung ke dalam mataku, tanpa berkedip, tanpa ragu, dengan cara yang membuatku merasa ditelanjangi di lantai ruang editing.
Lalu ia mengucapkan kalimat yang menghancurkan dunia.
“Kamu lihat benangku ke dia, kan?”
Studio sunyi.
Komputer di atas kepalaku berdengung pelan. Dari luar, suara motor lewat di Jalan Dago. Dari tangga, tidak ada suara sama sekali. Dodo menahan napas.
Aku tidak bisa bergerak.
Aku tidak bisa bernapas.
Benang.
Ia bilang benang.
Dua belas tahun. Dua belas tahun aku tidak pernah memberitahu siapa pun. Tidak Ibu. Tidak Fikri. Tidak Dodo. Tidak Sasha, bahkan di malam-malam terbaik kami, bahkan di malam aku melamarnya di bawah pohon flamboyan. Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang tahu bahwa setiap kali detak jantungku melewati seratus dua puluh, dunia berubah warna dan aku bisa melihat ke mana hati semua orang pergi.
Tidak ada.
Dan perempuan ini, yang berlutut di depanku dengan kaki telanjang dan wajah basah, baru saja mengucapkannya. Dengan santai. Seolah itu fakta yang sudah lama ia ketahui. Seolah itu sesuatu yang biasa, seperti kamu minum decaf atau kamu takut tangga.
Kamu lihat benangku ke dia, kan?
Jantungku tembus seratus dua puluh tanpa izin.
Studio berubah warna.
Dan benang setebal tali kapal itu ada di sana. Satu jengkal di depanku. Dari dadanya ke dadaku. Bergetar dengan getaran yang keras dan kacau dan marah dan sedih sekaligus, seperti badai yang terperangkap di dalam tali.
“Bagaimana...” Suaraku pecah. “Bagaimana kamu...”
“Jawab dulu.” Mikaela tidak berkedip. “Kamu lihat, kan? Di Ciater. Di kafe tadi. Kamu lihat ada benang dari aku ke dia. Dan kamu pikir...”
Suaranya patah.
“Kamu pikir itu sama kayak Sasha.”
Aku tidak bisa menjawab. Aku tidak perlu menjawab. Wajahku sudah menjawab untukku.
Mikaela menutup matanya.
Air mata mengalir dari bawah kelopak matanya yang tertutup, turun ke pipinya, jatuh ke blus putihnya yang kusut. Bahunya bergetar. Tangannya, yang tadi di lututnya, mengepal begitu keras sampai buku-buku jarinya memutih.
“Dua belas tahun,” bisiknya, dengan mata masih tertutup. “Dua belas tahun aku tunggu kamu lihat. Dan waktu kamu akhirnya lihat, kamu lihat yang salah.”
“Mika, aku...”
“Kamu tahu apa yang paling sakit?” Ia membuka mata. Menatapku. “Bukan kamu putusin aku. Bukan kamu nggak nanya. Yang paling sakit itu, selama ini kamu bisa lihat semuanya. Kamu bisa lihat benangku ke kamu. Kamu bisa lihat setebal apa. Kamu bisa lihat itu nggak pernah tipis sekali pun, dari hari pertama di Lembang sampai tadi siang.”
Ia menunjuk dadaku. Jarinya gemetar.
“Kamu lihat itu. Setiap hari. Dan kamu tetap pilih percaya sama yang tipis.”
Kalimat itu menancap di dadaku seperti pisau.
Langkah kaki di luar pintu.
Berat. Terburu-buru. Sepatu bot yang menghentak trotoar.
Seseorang masuk ke studio. Melangkahi lonceng yang tergeletak di lantai. Berhenti di ambang pintu ruang editing.
Laki-laki berewok itu.
Ia terengah-engah juga, lebih parah dari Mikaela. Wajahnya merah. Kemeja flanel kotak-kotaknya basah keringat di dada dan ketiak. Rambutnya yang tadi disisir rapi sudah lepas dari ikatannya. Ia memegang dua hal di tangannya: amplop cokelat besar, dan sepasang sepatu flat perempuan berwarna krem.
Sepatu Mikaela. Yang ia tinggalkan di kafe.
Ia menatap Mikaela yang berlutut di lantai. Lalu menatapku.
Dan aku, dari lantai ruang editing, dengan detak jantung seratus tiga puluh dua dan dunia yang masih merah, menatapnya balik.
Benang tipis itu ada. Dari dadanya ke Mikaela. Dari Mikaela ke dadanya. Setebal benang jahit, seperti di kafe tadi.
Tapi sekarang, dari jarak dua meter, di dalam ruangan tanpa dinding kaca yang memantulkan cahaya, aku bisa melihatnya dengan jelas.
Benang itu tidak bergetar.
Benang itu tenang. Lurus. Diam. Seperti tali jemuran yang menghubungkan dua rumah. Seperti benang Hadi ke Mikaela. Seperti benangku ke Ibu.
Benang keluarga.
Benang yang baru lahir, masih tipis, masih muda. Tapi tenang.
Tidak bergetar.
Tidak pernah bergetar.
Aku menatap benang itu. Lalu menatap laki-laki itu. Lalu menatap Mikaela.
Mataku turun ke wajah laki-laki berewok itu. Ke matanya. Mata yang besar, sedikit sipit di ujungnya. Mata yang entah kenapa terlihat seperti sedang menahan senyum, bahkan sekarang, bahkan ketika wajahnya merah dan berkeringat dan bingung.
Dan di bawah mata kirinya, setengah tersembunyi di balik berewok yang tebal, ada titik kecil. Hitam. Bulat.
Tahi lalat.
Laki-laki itu menatapku. Menatap Mikaela yang berlutut di lantai dengan wajah basah. Menatapku lagi. Dan ketika ia bicara, suaranya berat, kasar, bergetar, dengan aksen Medan yang kental.
“Saya kakaknya.”
Dunia tidak hancur dengan suara keras.
Dunia hancur dengan pelan. Dalam keheningan. Seperti es yang retak di permukaan danau, satu garis halus demi satu garis halus, sampai tiba-tiba seluruh permukaannya pecah dan kamu jatuh ke air yang dingin tanpa sempat berteriak.
Saya kakaknya.
Aku menatap laki-laki itu. Kakak. Kakak Mikaela.
Mikaela, yang tidak punya keluarga. Yang orang tuanya meninggal. Yang dititipkan di panti waktu bayi. Yang duduk di anak tangga ketiga setiap hari Minggu selama tujuh tahun karena tidak ada yang tercatat. Tidak ada yang datang.
Mikaela, gadis tanpa benang.
Punya kakak.
“Namanya Bima,” kata Mikaela pelan. Ia masih berlutut. Ia tidak menoleh ke laki-laki itu. Ia terus menatapku. “Bima Prasetya. Tiga puluh satu tahun. Montir di Cimahi. Dia dibawa nenek kami ke Medan waktu orang tua kami meninggal. Aku masih bayi. Nenek nggak sanggup bawa dua anak. Jadi aku ditinggal di panti.”
Ia menelan ludah.
“Nenek meninggal tujuh tahun lalu. Sebelum meninggal, dia bilang ke Bima, kamu punya adik perempuan. Di Bandung. Cari dia. Bima cari. Enam tahun. Dia nggak punya uang buat detektif. Dia cuma punya motor tua dan hari libur. Dia datang ke semua panti di Bandung. Satu per satu. Semua bilang nggak ada catatan.”
Laki-laki itu, Bima, berdiri di ambang pintu dengan sepatu flat di satu tangan dan amplop di tangan lain. Matanya basah.
“Tahun lalu,” lanjut Mikaela, “dia ikut tes DNA online. Yang murah. Yang iklannya di Instagram. Dia nggak berharap apa-apa. Dia cuma... nyoba.”
“Dan kamu?” Suaraku hampir tidak keluar.
“Aku juga ikut.” Mikaela tersenyum, senyum yang patah. “Sebulan sebelum aku pulang. Setelah dokter bilang Papa stadium empat. Aku duduk di kamar mandi apartemen di Singapura dan aku mikir, kalau Papa pergi, aku sendiri lagi. Aku nggak punya siapa-siapa lagi. Jadi aku ikut tes itu. Cuma buat tahu. Cuma buat tahu apakah ada satu orang lagi di dunia ini yang sedarah sama aku.”
Ia menunjuk amplop cokelat di tangan Bima.
“Hasilnya datang empat minggu kemudian. Kecocokan: saudara kandung. 99,8 persen.“
Studio sunyi lagi. Dari tangga, aku mendengar isakan tertahan. Dodo.
“Aku nggak bilang ke Papa,” kata Mikaela. “Papa lagi sakit. Papa udah dua belas tahun jadi satu-satunya keluargaku. Aku takut Papa ngerasa diganti. Aku takut Papa ngerasa... sekarang dia punya keluarga asli, dia nggak butuh aku lagi.” Suaranya bergetar. “Papa nggak pernah bilang itu. Tapi aku tahu Papa takut itu. Dari dulu.”
“Dan kamu nggak bilang ke aku,” kataku pelan.
“Aku mau bilang. Hari ini. Di kafe.” Mikaela menatapku. “Aku mau ketemu Kak Bima dulu. Aku mau tanya dia siap atau nggak. Siap ketemu kamu. Siap ada orang lain yang tahu sebelum Papa tahu. Dia bilang siap. Aku nangis karena dia bilang siap. Aku peluk dia karena dia bilang siap. Lalu aku telepon kamu.”
Ia menarik napas yang gemetar.
“Empat kali.”
Aku menutup mataku.
Empat panggilan. Aku menolak yang keempat. Aku mematikan ponselku. Aku mengirim tujuh pesan.
Aku nggak mau dengar penjelasan. Aku udah pernah dengar semua penjelasan.
“Waktu aku baca pesanmu,” bisik Mikaela, “Kak Bima nanya, kenapa, Dek? Dan aku nggak bisa jawab. Aku cuma lari. Aku nggak tahu kenapa aku lari. Aku cuma tahu aku harus sampai ke sini sebelum...”
Ia berhenti.
“Sebelum apa?” tanyaku.
Ia menatapku lama. Lalu menunduk menatap dadaku. Lalu dadanya sendiri. Lalu kembali ke wajahku.
“Sebelum kamu lihat benangku tipis,” katanya. Sangat pelan. “Karena aku takut. Aku takut kalau kamu nggak lihat lagi, kalau kamu matiin jam tanganmu dan berhenti lihat, benangku ke kamu bakal tetap ada, setebal apa pun, dan kamu nggak akan pernah tahu.”
Aku runtuh.
Bukan pingsan. Bukan menangis. Sesuatu yang lain. Sesuatu di dalam diriku yang selama lima tahun berdiri tegak, kaku, dengan tujuh aturan dan alarm di angka seratus sepuluh dan decaf setiap pagi, tiba-tiba kehilangan tulangnya.
Aku menunduk. Menatap tanganku sendiri di atas lantai semen. Tangan yang gemetar.
Benang setipis helai rambut. Yang tidak bisa dibedakan. Benang keluarga yang baru lahir dari seorang kakak yang mencari adiknya selama enam tahun dengan motor tua.
Dan aku melihatnya, dan aku memutuskan cinta paling tebal yang pernah kulihat seumur hidupku.
Karena benang setipis helai rambut.
Yang tidak kutanyakan.
Aku menatap benang setebal tali kapal di antara kami. Benang yang tidak pernah menipis sekali pun. Dari ballroom Lembang. Dari bianglala. Dari darkroom. Dari tangga darurat hotel, ketika aku sengaja menjadi versi terburukku. Dari parkiran Ciater, ketika aku melepaskan tangannya. Dari rumah sakit, ketika aku tidak menatapnya selama satu jam.
Dari tujuh pesan WhatsApp yang memutuskannya.
Benang itu tidak menipis.
Bahkan sekarang. Bahkan setelah semuanya. Benang itu masih setebal tali kapal, bergetar dengan badai di dalamnya, menancap di dadaku seperti jangkar.
Kamu lihat itu. Setiap hari. Dan kamu tetap pilih percaya sama yang tipis.
“Maaf,” kataku.
Suaraku tidak keluar. Aku mencoba lagi.
“Maaf, Mika. Maaf. Maaf.”
Aku tidak tahu berapa kali aku mengatakannya. Aku hanya tahu aku tidak bisa berhenti. Seperti seseorang yang terus menekan tombol yang sama, berharap kali ini mesinnya akan bekerja.
Mikaela tidak menjawab.
Ia hanya menatapku. Lama. Dengan mata yang merah dan basah, dengan rambut yang berantakan, dengan kaki telanjang yang kotor oleh debu trotoar Jalan Dago.
Lalu ia berdiri.
Pelan. Seperti seseorang yang sangat, sangat lelah.
“Aku harus balik ke rumah sakit,” katanya. Suaranya datar. Kosong. “Papa sendirian.”
“Mika...”
“Aku nggak bisa sekarang, Evan.” Ia mengambil sepatu flatnya dari tangan Bima. Tidak memakainya. Hanya memegangnya. “Aku udah nunggu dua belas tahun. Aku bisa nunggu lagi. Tapi nggak sekarang. Sekarang aku capek.”
Ia berjalan ke pintu. Melewati Bima. Berhenti di ambang pintu, di atas lonceng kuningan yang tergeletak di lantai.
Ia tidak menoleh.
“Kamu tahu,” katanya pelan, ke arah jalan di luar, “dua belas tahun lalu, ada anak laki-laki yang bilang ke aku sesuatu. Di tangga panti. Satu kalimat. Aku simpan kalimat itu dua belas tahun.”
Aku menatap punggungnya.
“Kamu nggak ingat,” katanya. “Aku tahu kamu nggak ingat. Kamu nggak ingat kamu pernah bilang ke aku soal benang.”
Dan ia pergi.
Bima tidak langsung menyusulnya.
Ia berdiri di ambang pintu ruang editing, dengan amplop cokelat di tangan dan kemeja flanel yang basah, menatapku yang masih duduk di lantai.
Lama.
Lalu ia berjalan masuk. Berjongkok di depanku, dengan lutut berderak dan napas berat. Wajahnya yang berewok sekarang sejajar dengan wajahku.
Dari dekat, ia benar-benar mirip Mikaela. Matanya. Bentuk alisnya. Tahi lalat kecil di bawah mata kiri, setengah tersembunyi berewok. Seperti seseorang mengambil wajah Mikaela, membesarkannya, menambahkan janggut dan tiga puluh satu tahun kerja keras di bengkel motor, dan membiarkannya terbakar matahari Medan.
“Mas,” katanya. Suaranya berat dan pelan. “Saya nggak ngerti soal benang. Saya nggak tahu apa yang kalian omongin.”
Aku tidak menjawab.
“Tapi saya tahu satu hal.” Ia menatapku. “Adik saya lari tiga ratus meter tanpa sepatu buat nyamperin Mas. Saya kejar dia. Saya nggak bisa ngejar. Dia kencang banget. Saya montir, Mas. Saya nggak pernah olahraga.”
Ia tertawa, tawa berat yang tidak lucu.
“Saya baru kenal dia sebulan. Tapi saya tahu dia nggak lari kayak gitu buat orang yang nggak penting.”
Ia berdiri. Lututnya berderak lagi.
“Saya harus nyusul dia. Dia nggak bawa mobil. Mobilnya di kafe.” Ia menatapku sekali lagi dari atas. “Mas jangan pingsan, ya. Mukanya pucat banget. Saya nggak bisa gendong dua orang sekaligus.”
Lalu ia pergi. Melangkahi lonceng kuningan di lantai. Berlari, dengan langkah berat dan sepatu bot yang menghentak trotoar, ke arah jalan yang dilewati Mikaela.
Dodo turun dari tangga lima menit kemudian.
Matanya bengkak. Wajahnya basah. Sapu tangan berinisial L di tangannya sudah kusut tak berbentuk.
Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya duduk di lantai di sebelahku, bersandar ke kaki meja yang sama, dengan bahu yang menempel di bahuku.
Lama kami diam.
“Bang,” katanya akhirnya. Pelan. Serak. “Benang?”
Aku tidak menjawab.
“Abang bisa lihat benang?”
Aku menatap langit-langit. Lalu, untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun, aku mengatakannya keras-keras kepada orang lain.
“Benang merah,” kataku. “Dari tiap orang ke orang yang mereka cintai. Kalau jantungku di atas seratus dua puluh.”
Dodo diam lama.
“Jadi itu kenapa Abang naik turun tangga terus,” katanya pelan. “Jadi itu kenapa Abang minum decaf.”
“Iya.”
“Jadi itu kenapa Abang nggak pernah pacaran lima tahun.”
“Iya.”
Dodo menatap lantai. Menatap sapu tangan di tangannya. Lalu, dengan suara yang sangat kecil:
“Bang. Saya punya benang ke Mbak Lulu?”
Aku menoleh padanya. Wajahnya yang basah dan bengkak dan penuh harapan. Kaosnya yang bertuliskan BUMI DIKENDALIKAN KUCING.
Aku tidak perlu menaikkan detak jantungku. Aku sudah melihatnya. Di ombak banyu. Di syukuran. Di pernikahan ketujuh, ketika Lulu bilang yang itu sudah nggak masuk hitungan.
“Punya,” kataku. “Setebal tali sepatu.”
Dodo menutup wajahnya dengan sapu tangan. Bahunya bergetar.
“Mbak Lulu punya ke saya?”
“Itu bukan hakku buat bilang, Dod.”
“Bang...”
“Tanya dia sendiri.” Suaraku pecah. “Jangan kayak aku. Tanya.”
Dodo menurunkan sapu tangan dari wajahnya. Menatapku. Lalu, pelan, ia meletakkan tangannya di bahuku.
Kami duduk di lantai ruang editing sampai matahari terbenam dan studio jadi gelap. Lonceng kuningan masih tergeletak di bawah sofa abu-abu. Jejak kaki Mikaela masih tertinggal di lantai semen, samar dan berdebu, dari pintu sampai ke tempat ia berlutut di depanku.
Dan di dinding, di tempat paling terang, anak perempuan di undakan tangga menatap gerbang yang tidak pernah didatangi siapa pun.
Ia salah.
Ada yang datang. Ada yang selalu datang.
Kakaknya, dengan motor tua, enam tahun, semua panti di Bandung.
Dan aku.
Aku datang dua belas tahun lalu. Dan hari ini, aku mengusirnya.
Kamu nggak ingat kamu pernah bilang ke aku soal benang.
Aku menatap foto itu dalam gelap. Dan untuk pertama kalinya, aku mencoba mengingat. Bukan wajahnya. Bukan tangga semen. Bukan gerbang.
Suaraku sendiri. Umur tujuh belas. Dengan detak jantung yang menggila untuk pertama kalinya dalam hidupku.
Apa yang kukatakan padanya?
Aku tidak ingat.
Aku tidak ingat sama sekali.
- 1 Seratus Tiga Puluh Empat
- 2 Kontrak
- 3 Strategi
- 4 Pernikahan Pertama: Mempelai yang Salah Arah
- 5 Hidup di Bawah 110
- 6 Pernikahan Kedua: Lima Puluh Tahun
- 7 Benang yang Tidak Bergetar
- 8 Pernikahan Ketiga: Payung
- 9 Lari dari 120
- 10 Pernikahan Keempat: Pengantin Pingsan
- 11 Pernikahan Kelima: Pagar Panti
- 12 Belum Ada yang Menunggu
- 13 Dua Belas Tahun
- 14 Pernikahan Keenam: Uji Coba
- 15 Ulang Tahun Pernikahan Fikri
- 16 Bianglala
- 17 Resmi
- 18 Lampu Merah di Darkroom
- 19 Pernikahan Ketujuh: Benang Baru
- 20 Amplop
- 21 Yang Kedua Kalinya
- 22 Kamu Lihat Benangku ke Dia? reading
- 23 Gadis Tanpa Benang
- 24 Kunci Inggris
- 25 Pernikahan Kedelapan: Latihan Bicara
- 26 Aku Udah Tahu
- 27 Potret Terakhir
- 28 Pernikahan Kesembilan: Diagnosis Kedua
- 29 Malam Terakhir Hadi
- 30 Benang yang Naik
- 31 Kali Ini Aku yang Tanya
- 32 Botol Obat
- 33 Pernikahan Kesepuluh: Jaket
- 34 Cinta yang Bisa Diawasi
- 35 Pernikahan Kesebelas: Benang Ibu
- 36 Pernikahan Kedua Belas: Tangga Darurat
- 37 Seratus Dua Puluh Satu
- 38 Kopi Asli
- 39 Sudah Ada yang Menunggu
- 40 Pernikahan Ketiga Belas
- 41 Epilog — Sekarang Berapa?