Chapter Fifteen
Ulang Tahun Pernikahan Fikri
POV: Evan
Undangan itu datang dalam bentuk kartu ucapan berwarna biru muda, dengan gambar dua ekor kucing kartun yang saling berpelukan di atas tulisan emas: 3 Tahun Bersama! Fikri & Nadia mengundang kalian makan malam di rumah. Bawa perut kosong dan hati yang penuh. (Dress code: bebas, asal bukan kaos konspirasi.)
Kalimat terakhir jelas ditujukan untuk Dodo. Dodo tidak diundang, tapi entah kenapa merasa tersinggung.
“Bang,” katanya, memegang kartu undangan itu di ruang editing. “Saya merasa terdiskriminasi.”
“Kamu nggak diundang.”
“Tetap saja, Bang. Prinsip.”
Di bagian dalam kartu, Nadia menulis dengan tulisan tangan yang besar dan bulat:
Van! Bawa Mika. Wajib. Kalau nggak bawa, nggak usah datang. Aku udah penasaran banget sama cewek yang bikin grafik jantungmu kayak seismograf gempa Cianjur. XOXO, N.
Di bawahnya, tulisan tangan yang lebih kecil dan miring, milik Fikri:
Saya juga penasaran. Dari sudut pandang medis. — F.
Aku menjemput Mikaela di apartemennya pukul enam sore.
Ia turun dengan gaun selutut berwarna biru tua bermotif bunga kecil putih, berbahan sifon yang ringan dan bergoyang ditiup angin dari pintu lobi. Lengannya pendek dan sedikit mengembang. Rambutnya diikat setengah dengan pita satin putih, dan sisanya jatuh bergelombang di punggung. Lipstiknya warna peach yang lembut. Di tangannya ada kotak kue yang dibungkus kertas cokelat dan diikat tali rami.
Ia terlihat seperti seseorang yang akan datang ke makan malam keluarga dan langsung membuat semua tante bertanya kapan nikah.
“Kamu bawa kue?” tanyaku.
“Lapis legit. Bikinan Bi Iyah. Resep keluarga.” Ia masuk ke mobil, meletakkan kotak kue di pangkuannya, dan menatapku. “Kamu bawa apa?”
“Aku bawa kamu.”
Kalimat itu keluar sebelum aku memikirkannya.
Mikaela menatapku. Aku menatap setir. Mobil belum menyala. Telingaku mulai panas.
“Maksudku,” kataku cepat, “Nadia bilang wajib bawa kamu. Jadi itu... kontribusiku.”
“Hm.” Ia tersenyum, senyum kecil yang mengerikan karena ia jelas menikmati penderitaanku. “Jadi aku kado?”
“Bukan kado.”
“Bingkisan?”
“Bukan bingkisan.”
“Parsel Lebaran?”
“Mika.”
“Aku suka jadi parsel,” katanya, memasang sabuk pengaman dengan santai. “Asal yang bawa kamu.”
Aku menyalakan mesin dan menyetir ke Antapani dengan kecepatan tepat enam puluh kilometer per jam dan telinga yang merah sepanjang jalan.
Rumah Fikri dan Nadia malam itu lebih ramai dari biasanya.
Taman kecil di depan yang penuh tanaman cabai dihiasi lampu-lampu kecil yang digantung di pagar. Di teras, ada meja panjang yang ditutup taplak kotak-kotak, dengan piring-piring berisi sate ayam, nasi liwet, ikan asin, lalapan, dan tentu saja sambal. Tiga jenis sambal. Dengan label tulisan tangan: Level Aman, Level Rumah, dan Level Evan Jangan Coba.
Ada sekitar lima belas tamu. Teman-teman kuliah Fikri, sebagian berprofesi dokter. Teman-teman kantor Nadia, yang bekerja di sebuah firma konsultan arsitektur di Jalan Riau. Beberapa tetangga kompleks. Seorang bibi Nadia dari Tasik yang sejak awal sudah memegang piring berisi tiga tusuk sate.
Nadia menyambut kami di pagar dengan teriakan.
“AKHIRNYAAA!”
Ia memeluk Mikaela sebelum memelukku. Lalu melepaskan pelukannya, memegang bahu Mikaela dengan dua tangan, dan menatapnya dari jarak dekat.
“Ya ampun,” katanya. “Di foto Dodo kamu cantik. Aslinya lebih parah.”
“Lebih parah?”
“Lebih cantik. Itu parah.” Nadia menoleh padaku. “Van. Kamu sadar nggak kalau kamu nggak pantas?”
“Terima kasih, Nad.”
“Sama-sama. Masuk, masuk! Fikri lagi bakar sate. Dia udah nunggu dari tadi. Dia bawa stetoskop, Mika. Stetoskop. Katanya mau dengerin jantung Evan langsung.”
Mikaela tertawa, dan Nadia menggandeng tangannya ke dalam seperti sudah berteman sepuluh tahun.
Aku berdiri di pagar sebentar, menatap mereka berdua.
Nadia memakai gaun panjang berwarna kuning mustard yang ia beli khusus untuk malam ini, katanya di pesan WhatsApp minggu lalu. Rambut pendeknya dirapikan dengan jepit mutiara. Ia tertawa keras seperti biasa. Bergerak cepat seperti biasa. Nadia yang kukenal sejak kuliah, yang dulu suka meminjam catatanku dan tidak pernah mengembalikannya, yang menangis paling keras waktu Fikri melamarnya di depan Gedung Sate.
Semuanya terlihat sama.
Tapi aku tidak bisa melupakan ponsel yang menelungkup di samping piringnya, tiga minggu lalu. Dan senyum kecil yang tidak ditujukan untuk siapa pun di meja itu.
Fikri benar-benar membawa stetoskop.
Ia berdiri di depan panggangan sate di samping rumah, memakai celemek bertuliskan KISS THE COOK (BUT NOT THE CARDIOLOGIST, HE’S MARRIED), dengan stetoskop melingkar di lehernya dan kipas bambu di tangan.
“Evan Mahendra,” katanya begitu melihatku, dengan nada dokter yang sedang menyambut pasien kronis. “Saya sudah menunggu konsultasi ini selama tiga minggu.”
“Fik, jangan.”
“Ini prosedur medis standar. Duduk.” Ia menunjuk kursi plastik di sebelah panggangan. “Mika, silakan duduk di sebelahnya. Saya perlu stimulus untuk mengukur respons.”
Mikaela, yang sudah dibawa Nadia ke samping rumah, menatapku dengan alis terangkat. Lalu ia duduk di kursi plastik di sebelah kursiku. Dekat. Sangat dekat. Bahunya menempel di lenganku.
“Dok,” katanya pada Fikri, dengan suara serius yang jelas dibuat-buat, “apa yang harus saya lakukan sebagai stimulus?”
“Nggak usah ngapa-ngapain. Duduk aja. Itu udah cukup.”
Fikri memasang stetoskop di telinganya. Menempelkan ujungnya di dadaku, di atas kemeja.
Aku menatap langit.
Fikri mendengarkan. Lima detik. Sepuluh detik.
Lalu wajahnya berubah. Dari bercanda ke serius. Dari serius ke kaget. Dari kaget ke sesuatu yang terlihat seperti kegembiraan murni.
“Ya Allah,” katanya. “Nad! NAD! SINI! DENGERIN INI!”
“Fik!”
Nadia berlari dari dapur, mengambil stetoskop dari leher suaminya, dan menempelkannya di dadaku. Mendengarkan. Matanya melebar.
“Ini,” kata Nadia, “kayak orang lagi lari maraton.”
“Seratus delapan belas,” kata Fikri, menatap ponselnya yang tersambung ke jam tanganku. “Duduk diam. Di kursi plastik. Di sebelah cewek.”
“Aku makan sambal tadi,” kataku.
“Kamu belum makan apa-apa, Van. Kamu baru dateng.”
“Aku makan sambal di jalan.”
“Sambal apa?”
“Sambal... mobil.”
Mikaela tertawa sampai harus memegang lenganku untuk menahan diri supaya tidak jatuh dari kursi. Dan ketika tangannya menyentuh lenganku, angka di ponsel Fikri naik ke seratus dua puluh dua.
Rumah Fikri berubah warna.
Aku tidak berencana melihat.
Aku bersumpah aku tidak berencana. Aku datang ke sini untuk makan sate, mengucapkan selamat ulang tahun pernikahan untuk sahabatku, dan memperkenalkan Mikaela pada orang-orang yang penting dalam hidupku. Aku tidak datang untuk mengecek benang siapa pun.
Tapi mataku sudah melihat sebelum aku sempat menutupnya.
Benang setebal tali kapal dari dada Mikaela ke dadaku, sangat dekat, hampir tidak ada jarak. Benangku ke arahnya, setebal benang jahit, bergetar.
Dan dari dada Fikri, sahabatku, yang sedang menyeringai lebar di depanku dengan stetoskop di lehernya dan celemek konyol dan kipas bambu, sebuah benang setebal tali sepatu menjulur ke dada istrinya. Hangat. Bergetar. Sama seperti tiga tahun lalu di Gedung Sate. Mungkin bahkan sedikit lebih tebal.
Dan dari dada Nadia, yang berdiri di sebelah suaminya dengan stetoskop di telinga dan tawa di wajah, sebuah benang menjulur kembali ke dada Fikri.
Benang itu setipis benang jahit.
Bukan tali sepatu. Bukan seperti tiga tahun lalu. Benang jahit. Tipis. Masih bergetar, masih hangat, masih ada. Tapi tipis. Jauh lebih tipis dari benang Fikri ke arahnya.
Aku menatap benang itu dan merasa perutku turun ke lantai.
Lalu mataku bergerak sendiri. Seperti selalu. Mencari ke mana sisanya pergi.
Dari dada Nadia, ada benang kedua.
Benang ini lebih tebal. Hampir setebal tali sepatu. Bergetar dengan getaran yang sama hangatnya dengan benang yang dulu ia punya untuk Fikri.
Benang itu menjulur melintasi taman kecil yang penuh lampu, melewati meja panjang berisi sate dan sambal, ke arah teras.
Ke seorang laki-laki yang berdiri di dekat meja minuman, memakai kemeja putih bersih dan kacamata berbingkai tipis, sedang menuang es teh ke gelas plastik sambil tertawa bersama teman-teman kantor Nadia.
Aku tidak mengenalnya. Aku belum pernah melihatnya.
Dan dari dada laki-laki itu, sebuah benang menjulur kembali.
Ke Nadia.
Dua benang. Saling.
“Van?”
Suara Mikaela. Dekat. Tangannya masih di lenganku.
“Van, kamu kenapa? Kamu pucat banget.”
Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa menjawab. Aku menatap dua benang yang bergetar di antara Nadia dan laki-laki berkacamata itu, melintasi taman yang penuh lampu, melintasi meja makan ulang tahun pernikahan yang ketiga.
Seperti jam pasir.
Seperti seseorang memindahkan air dari satu gelas ke gelas lain di depan mataku.
“Fik,” kata Nadia, mengembalikan stetoskop ke leher suaminya. “Kayaknya Evan beneran mau pingsan. Ambilin air.”
“Waduh. Bentar, Van. Bentar.”
Fikri berlari ke dapur. Nadia menatapku dengan wajah khawatir, dan benangnya ke laki-laki di teras bergetar dengan tenang, tidak terganggu, seperti sesuatu yang sudah terbiasa ada.
“Kamu kenapa, Van? Kamu sakit?”
“Nggak.” Suaraku keluar serak. “Cuma... pusing. Kebanyakan asap sate.”
Fikri kembali dengan segelas air. Aku meminumnya dalam tiga tegukan. Air dingin, dan detak jantungku pelan-pelan turun. Seratus delapan belas. Seratus sepuluh. Seratus dua.
Benang-benang memudar.
Tapi aku sudah melihatnya. Tidak ada yang bisa membuatku tidak melihatnya.
Laki-laki berkacamata itu bernama Arman.
Nadia memperkenalkannya padaku dua puluh menit kemudian, di meja makan, dengan nada yang sangat biasa. Terlalu biasa.
“Van, ini Arman. Rekan kerja di kantor. Dia yang desain renovasi rumah ini. Arman, ini Evan. Sahabat Fikri dari SMA. Fotografer pernikahan kami.”
Arman menjabat tanganku. Jabat tangan yang kuat dan sopan. Ia tersenyum ramah. Ia tidak terlihat seperti orang jahat. Ia terlihat seperti laki-laki baik-baik yang memakai kemeja disetrika dan kacamata berbingkai tipis dan mungkin membantu ibunya mencuci piring setiap Lebaran.
Itu yang paling menyakitkan.
Bram juga terlihat seperti laki-laki baik-baik.
“Foto pernikahan Fikri sama Nadia bagus banget,” kata Arman. “Yang di Gedung Sate. Nadia pasang di meja kerjanya di kantor.”
“Terima kasih.”
“Nadia sering cerita tentang kamu. Katanya kamu satu-satunya orang yang bisa bikin Fikri berhenti ngomongin jantung.”
Nadia tertawa. Arman tertawa. Fikri, dari ujung meja, berteriak, “ITU FITNAH!” dan semua orang tertawa lagi.
Aku tersenyum. Aku tidak tahu bagaimana wajahku bisa tersenyum.
Sepanjang makan malam, aku memperhatikan.
Aku tidak menaikkan detak jantungku lagi. Aku tidak perlu. Aku sudah melihat semua yang perlu kulihat. Sekarang aku melihat dengan mata biasa, mata fotografer, dan itu ternyata cukup.
Aku melihat Nadia duduk di sebelah Fikri dan menuangkan sambal Level Rumah ke piring suaminya. Gerakan kebiasaan. Tiga tahun. Tangannya tahu persis berapa sendok yang Fikri suka.
Aku melihat Nadia tertawa keras waktu Fikri bercerita tentang pasien yang menelan cincin kawin istrinya.
Aku melihat Nadia, di tengah tawa itu, melirik ke arah Arman di ujung meja.
Hanya sekali. Hanya sepersekian detik.
Dan aku melihat Arman meliriknya balik.
Aku fotografer. Aku sudah memotret lebih dari empat ratus pernikahan. Aku tahu tatapan itu. Aku tidak butuh benang untuk mengenalinya.
Tatapan dua orang yang menyimpan sesuatu bersama.
Fikri memotong kue ulang tahun pernikahan pukul sembilan malam.
Kue cokelat dua tingkat dari toko kue langganan Nadia, dengan tulisan 3 Tahun, Masih Betah di atasnya dengan krim putih. Semua tamu berkumpul di sekeliling meja. Ada yang menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan lirik yang diubah jadi selamat ulang tahun pernikahan.
Fikri memeluk Nadia dari belakang. Dagunya di bahu istrinya. Tangannya di atas tangan Nadia di gagang pisau kue. Seperti di pernikahan mereka tiga tahun lalu.
“Pidato! Pidato!” teriak salah satu teman kuliah Fikri.
Fikri, yang tidak pernah bisa menolak panggung, mengangkat gelas es tehnya.
“Oke, oke. Pidato singkat.” Ia berdeham. “Tiga tahun lalu, saya nikahin cewek paling berisik, paling galak, dan paling suka nyiksa tamu pakai sambal se-Bandung Raya.”
Semua tertawa.
“Dan tiga tahun kemudian,” lanjut Fikri, suaranya sedikit melembut, “saya masih bangun tiap pagi dan mikir, ya Allah, kok bisa dia mau sama saya.” Ia menatap istrinya. “Nad. Saya nggak pinter ngomong. Saya pinternya dengerin jantung orang. Jadi saya cuma mau bilang satu hal dari sudut pandang medis.”
Ia menempelkan stetoskopnya ke dadanya sendiri. Lalu menempelkan ujung lainnya ke telinga Nadia.
“Dengerin,” katanya. “Itu bunyinya Nadia, Nadia, Nadia. Udah tiga tahun. Nggak pernah ganti lagu.”
Semua orang bersorak. Beberapa perempuan menjerit kecil. Bibi Nadia dari Tasik menangis sambil memegang tusuk sate kelima.
Nadia tertawa. Matanya basah. Ia memeluk Fikri, dan Fikri memeluknya balik dengan erat.
Dan dari tempatku berdiri, di ujung kerumunan, aku melihat mata Nadia, dari balik bahu suaminya, sekali lagi melirik ke arah Arman.
Hanya sekali. Sepersekian detik.
Lalu ia memejamkan mata dan memeluk Fikri lebih erat. Seperti seseorang yang sedang meminta maaf pada sesuatu, tanpa kata-kata.
Aku keluar ke taman depan.
Tidak ada yang memperhatikan. Semua orang sibuk dengan kue. Aku berdiri di antara pot-pot tanaman cabai Nadia, di bawah lampu-lampu kecil yang berkedip di pagar, dan menarik napas panjang. Empat hitungan. Tahan tujuh. Buang delapan.
Tidak berhasil.
Bilang.
Jangan bilang.
Bilang ke Fikri. Dia sahabatmu. Dia berhak tahu. Kamu lihat sendiri. Kamu nggak salah lihat. Dua benang. Saling.
Tapi bagaimana caranya? Apa yang mau kamu bilang? “Fik, aku bisa lihat benang merah cinta dan istrimu punya benang ke rekan kerjanya”? Dia akan tertawa. Atau lebih buruk: dia akan pikir kamu gila. Atau lebih buruk lagi: dia akan percaya, dan kamu akan menghancurkan sesuatu yang mungkin masih bisa diselamatkan.
Benangnya ke Fikri belum putus. Masih ada. Tipis, tapi ada. Mungkin ini cuma fase. Mungkin benang ke Arman akan layu sendiri. Mungkin...
Kamu tahu itu bohong. Kamu lihat sendiri dengan Sasha. Benang yang menipis nggak pernah menebal lagi.
Tapi Fikri bahagia. Kamu lihat dia tadi. Stetoskop. “Nadia, Nadia, Nadia.” Kamu mau jadi orang yang merusak itu? Kamu mau jadi orang yang bilang, padahal kamu nggak punya bukti apa-apa selain mata anehmu?
Kamu mau Fikri ngalamin empat bulan neraka yang sama kayak kamu? Atau kamu mau dia nggak tahu sama sekali, sampai suatu pagi dia bangun dan lemarinya kosong?
Aku tidak punya jawaban. Untuk pertanyaan apa pun.
“Kamu lihat sesuatu.”
Mikaela berdiri di pintu pagar, dengan dua piring kecil berisi kue cokelat di tangan.
Bukan pertanyaan. Pernyataan.
Aku tidak menjawab.
Ia berjalan mendekat. Meletakkan piring-piring kue di atas tembok pagar yang rendah. Lalu berdiri di sebelahku, di antara pot-pot cabai, menatap ke arah yang sama denganku: rumah yang terang dan ramai, dengan suara tawa dan nyanyian yang mengalir keluar dari jendela.
“Waktu di samping panggangan,” katanya pelan. “Kamu tiba-tiba pucat. Kamu lihat ke arah Nadia. Lalu ke arah teras. Lalu ke Nadia lagi.”
Aku menatapnya.
“Aku nggak tahu kamu lihat apa,” katanya. “Tapi aku lihat kamu. Kamu kelihatan kayak orang yang baru lihat kecelakaan.”
Jam tanganku diam. Detak jantungku sembilan puluh empat. Tidak ada benang. Hanya Mikaela, di bawah lampu-lampu kecil yang berkedip, dengan gaun biru tua bermotif bunga dan mata yang menatapku dengan khawatir.
“Mika,” kataku. Suaraku pecah. “Kalau kamu tahu sesuatu tentang orang yang kamu sayang. Sesuatu yang bisa nyakitin dia. Tapi kamu nggak punya bukti. Kamu cuma... tahu. Kamu bilang atau nggak?”
Mikaela diam lama.
“Itu tentang Fikri?”
Aku tidak menjawab. Itu sudah cukup jadi jawaban.
Ia menatap rumah yang terang di depan kami. Menatap jendela ruang makan, tempat Fikri sedang menyuapi Nadia kue cokelat dengan sendok, seperti di pernikahan mereka, dan Nadia tertawa dengan mulut penuh.
“Aku nggak tahu,” katanya akhirnya. Jujur. “Aku nggak tahu jawaban yang benar.”
Ia menoleh padaku.
“Tapi aku tahu satu hal. Kalau aku jadi Fikri, aku mau tahu. Aku lebih milih sakit karena tahu, daripada bahagia karena dibohongi.” Ia berhenti. “Tapi aku bukan Fikri. Dan kamu bukan aku. Dan kadang, orang yang paling kita sayang adalah orang yang paling susah kita lukai, bahkan pakai kebenaran.”
Aku menatap jendela itu. Fikri menyuapi Nadia. Nadia tertawa.
Benangnya ke Fikri masih ada. Tipis. Tapi masih ada.
“Aku nggak bisa,” kataku akhirnya. Pelan sekali. “Nggak malam ini. Nggak di hari ulang tahun pernikahannya.”
Mikaela tidak membantah. Ia tidak menghakimi. Ia hanya mengangguk, pelan, lalu mengulurkan tangannya dan menggenggam tanganku. Jari-jarinya menyelip di antara jari-jariku, sama seperti di anak tangga ketiga Panti Kasih Ibu.
Kami berdiri di sana, di taman kecil yang penuh tanaman cabai, sampai kue di atas tembok pagar dikerubungi semut.
Aku tidak bilang apa-apa ke Fikri malam itu.
Aku tidak bilang apa-apa ke Fikri minggu itu.
Aku memilih diam. Karena aku sayang dia. Karena aku tidak punya bukti selain mata yang tidak bisa kujelaskan. Karena aku takut menjadi orang yang menghancurkan sesuatu yang mungkin, mungkin saja, masih bisa diselamatkan.
Dan karena aku pengecut. Aku sudah tahu itu sejak umur tujuh belas.
Di perjalanan pulang, Mikaela tertidur di kursi penumpang.
Kepalanya bersandar ke jendela. Pita satin putih di rambutnya sudah melorot. Kotak kue lapis legit yang kosong ada di pangkuannya, karena Nadia memaksanya membawa pulang kotaknya untuk dikembalikan ke Bi Iyah.
Di lampu merah Jalan Supratman, aku menatapnya.
Ia tidur dengan mulut sedikit terbuka. Bulu matanya yang panjang menyentuh pipinya. Tahi lalat kecil di bawah mata kirinya terlihat lebih gelap di bawah lampu jalan yang kuning. Napasnya pelan dan teratur.
Ia terlihat sangat damai. Sangat cantik. Sangat mudah dilukai.
Dan aku memikirkan Nadia. Nadia, yang dulu juga punya benang setebal tali sepatu. Nadia, yang menangis paling keras waktu Fikri melamarnya. Nadia, yang tiga tahun kemudian menuangkan sambal ke piring suaminya dengan tangan yang hafal, sambil melirik laki-laki lain di ujung meja.
Benang menipis. Selalu. Itu satu-satunya hal yang pasti di dunia ini.
Aku menatap perempuan yang tertidur di sebelahku.
Benang setebal tali kapal. Dua belas tahun. Tidak pernah menipis sejak aku pertama kali melihatnya. Malah menebal. Setiap kali aku menyebalkan. Setiap kali aku takut. Setiap kali aku mengecewakannya.
Belum, bisik suara di kepalaku. Belum menipis. Nadia juga belum menipis tiga tahun lalu.
Lampu berubah hijau.
Aku menyetir pulang dengan kecepatan enam puluh kilometer per jam, dengan perempuan yang tertidur di sebelahku, dengan sahabat yang sedang tertawa di rumah yang terang tanpa tahu apa-apa, dan dengan ketakutan yang lebih besar dari sebelumnya.
Bukan takut Mikaela pergi.
Takut bahwa suatu hari aku akan melihatnya pergi, dan aku tidak akan bisa berbuat apa-apa selain melihat.
- 1 Seratus Tiga Puluh Empat
- 2 Kontrak
- 3 Strategi
- 4 Pernikahan Pertama: Mempelai yang Salah Arah
- 5 Hidup di Bawah 110
- 6 Pernikahan Kedua: Lima Puluh Tahun
- 7 Benang yang Tidak Bergetar
- 8 Pernikahan Ketiga: Payung
- 9 Lari dari 120
- 10 Pernikahan Keempat: Pengantin Pingsan
- 11 Pernikahan Kelima: Pagar Panti
- 12 Belum Ada yang Menunggu
- 13 Dua Belas Tahun
- 14 Pernikahan Keenam: Uji Coba
- 15 Ulang Tahun Pernikahan Fikri reading
- 16 Bianglala
- 17 Resmi
- 18 Lampu Merah di Darkroom
- 19 Pernikahan Ketujuh: Benang Baru
- 20 Amplop
- 21 Yang Kedua Kalinya
- 22 Kamu Lihat Benangku ke Dia?
- 23 Gadis Tanpa Benang
- 24 Kunci Inggris
- 25 Pernikahan Kedelapan: Latihan Bicara
- 26 Aku Udah Tahu
- 27 Potret Terakhir
- 28 Pernikahan Kesembilan: Diagnosis Kedua
- 29 Malam Terakhir Hadi
- 30 Benang yang Naik
- 31 Kali Ini Aku yang Tanya
- 32 Botol Obat
- 33 Pernikahan Kesepuluh: Jaket
- 34 Cinta yang Bisa Diawasi
- 35 Pernikahan Kesebelas: Benang Ibu
- 36 Pernikahan Kedua Belas: Tangga Darurat
- 37 Seratus Dua Puluh Satu
- 38 Kopi Asli
- 39 Sudah Ada yang Menunggu
- 40 Pernikahan Ketiga Belas
- 41 Epilog — Sekarang Berapa?