← Gadis Tanpa Benang

Chapter Four

Pernikahan Pertama: Mempelai yang Salah Arah

POV: Evan

Pernikahan pertama dari dua belas jatuh pada hari Sabtu yang cerah, di sebuah rumah tua bergaya Belanda di Ciumbuleuit yang disewakan untuk acara. Halaman belakangnya luas dan landai, ditanami rumput jepang yang dipangkas rapi, dengan pohon beringin tua di ujungnya. Di bawah beringin itu, tim Kaela Wedding memasang pelaminan putih sederhana dengan rangkaian bunga baby’s breath yang jatuh seperti salju yang lupa mencair.

“Bukan lily?” tanyaku pada Lulu, yang sedang menghitung kursi tamu dengan bibir bergerak tanpa suara.

“Lily mahal dan bikin bersin, Mas.” Ia tidak menoleh. “Seratus delapan puluh empat. Kurang enam.”

“Kursinya?”

“Kursinya cukup. Yang kurang enam itu tamu yang sudah konfirmasi tapi saya yakin nggak akan datang. Saya sudah siapkan meja untuk sisa makanannya.” Ia mencentang sesuatu di clipboard. “Panti asuhan di Sukajadi. Mereka biasanya senang kalau dapat rendang.”

Aku menatapnya. Lulu mungkin manusia paling efisien yang pernah kutemui, dan aku pernah bertemu seorang ibu yang menyiapkan pernikahan tiga anaknya dalam satu hari.

Dodo muncul di belakangku dengan tripod di satu tangan dan tas lensa di tangan lain. Ia berhenti tepat di samping Lulu dan berdeham.

“Mbak Lulu.”

“Mas Dodo.”

“Saya bantu hitung kursinya?”

“Sudah selesai saya hitung.”

“Saya bantu hitung ulang? Biar yakin?”

Lulu akhirnya menoleh. Ia menatap Dodo dari ujung rambut, yang hari ini dioles pomade terlalu banyak sampai berkilau seperti aspal habis hujan, sampai ujung sepatu.

“Mas,” katanya, “saya sudah hitung tiga kali. Kalau Mas hitung lagi, itu hitungan keempat. Hitungan keempat itu bukan memastikan. Itu tidak percaya.”

Ia berbalik dan pergi.

Dodo menatap punggungnya. “Bang. Dia bilang saya nggak percaya sama dia.”

“Kamu memang menawarkan untuk mengecek ulang pekerjaannya.”

“Itu bentuk perhatian, Bang.”

“Itu bentuk ngerepotin.”

Dodo menghela napas dramatis. Lalu, dengan suara sangat pelan, “Bang, tadi waktu dia lewat, saya lihat clipboard-nya. Ada nama saya.”

“Di daftar apa?”

Dodo diam sebentar. “Judul kolomnya Ancaman, Bang.”

Aku menepuk bahunya. “Selamat. Kamu ancaman.”

“Itu bagus, kan, Bang? Itu artinya saya dianggap.”

Aku tidak sanggup menghancurkan harapannya.


Aku melihat bridesmaid itu pada jam pertama.

Bukan melihat benang. Detak jantungku tenang, delapan puluh satu, karena aku sengaja datang lebih awal dan tidak minum kopi Gayo yang ternyata sudah menunggu di meja vendor dengan sticky note bertuliskan untuk fotografer yang keras kepala. Aku melihatnya dengan cara biasa. Dengan cara fotografer.

Namanya Tiara. Sahabat pengantin perempuan sejak SD, menurut rundown Lulu. Ia cantik dengan cara yang lembut: rambut panjang lurus, wajah bulat, gaun bridesmaid berwarna sage yang serasi dengan dekorasi. Ia tertawa di saat yang tepat, memeluk pengantin perempuan di saat yang tepat, membetulkan veil pengantin perempuan dengan jari yang hati-hati.

Tapi setiap kali pengantin laki-laki lewat, matanya mengikuti.

Satu detik terlalu lama. Lalu ia membuang muka. Lalu matanya kembali lagi.

Aku sudah melihat tatapan itu ratusan kali melalui lensa. Tatapan seseorang yang sedang menonton sesuatu yang ia inginkan diberikan kepada orang lain, dan tersenyum sambil melakukannya.

Aku tidak perlu benang untuk tahu. Tapi aku fotografer, dan fotografer suka bukti.

Masalahnya, bukti itu baru bisa kudapat kalau detak jantungku di atas seratus dua puluh.

Dan aku tidak naik tangga.


Ternyata aku tidak perlu naik tangga.

Saat sesi foto keluarga, ketika aku sedang membidik dari belakang tripod dengan mata menempel di viewfinder, sebuah suara berbisik tepat di telinga kiriku.

“Pengantin laki-lakinya miring dua derajat ke kiri.”

Napas hangat. Wangi kayu basah dan jeruk. Bibir yang begitu dekat sampai aku bisa merasakan setiap suku kata di kulit leherku.

Aku tidak menoleh. Aku tidak berani menoleh.

“Aku tahu,” kataku, dengan suara yang lebih serak dari seharusnya.

“Terus kenapa belum dibetulkan?”

“Karena aku lagi nunggu dia sadar sendiri.”

“Kamu nunggu orang sadar sendiri?” Mikaela tertawa pelan, dan tawanya juga jatuh di leherku. “Itu bisa lama sekali, Evan.”

Jam tanganku berbunyi.

Tit. Tit. Tit.

Seratus dua belas. Seratus delapan belas. Seratus dua puluh dua.

Halaman belakang rumah tua itu berubah warna.

Aku menahan napas dan, karena tidak ada pilihan lain, membiarkan mataku bekerja.

Dari pengantin perempuan, Anindya, benang setebal tali sepatu menjulur ke dada pengantin laki-laki, Raffi. Bergetar hangat. Dari Raffi, benang yang sama tebalnya kembali ke Anindya. Bagus. Saling. Pernikahan ini akan baik-baik saja.

Dari ibu Anindya, benang keluarga yang tenang ke anak laki-lakinya yang masih SMP, yang sedang mencuri kerupuk dari meja prasmanan.

Dan dari dada Tiara, si bridesmaid, sebuah benang setebal benang jahit, bergetar halus seperti senar gitar yang baru dipetik, menjulur melintasi halaman...

Ke dada Raffi.

Satu arah. Raffi tidak punya benang balik ke Tiara. Benang Raffi seluruhnya ke Anindya.

Benang cinta yang tidak dibalas selalu terlihat lebih menyakitkan daripada benang yang putus. Benang yang putus setidaknya sudah selesai. Benang yang tidak dibalas masih bergetar. Masih menunggu. Masih berharap ditarik dari ujung yang lain.

Lalu, tanpa bisa kucegah, mataku bergerak ke kiri.

Ke perempuan yang masih berdiri di dekat bahuku.

Benang itu masih di sana. Setebal tali kapal. Menjulur dari dada Mikaela ke dadaku, begitu dekat sekarang sehingga hampir tidak ada jarak yang perlu ditempuhnya, hanya beberapa senti udara di antara kami yang dipenuhi warna merah tua yang berdenyut.

Ia tidak tahu. Ia tidak mungkin tahu. Ia berdiri di sana dengan tangan bersedekap, menatap pengantin di depan kamera, sementara benang dari dadanya menjulur ke dadaku seperti seseorang yang sudah lama sekali menunggu di depan pintu.

“Evan?” Mikaela akhirnya menoleh. “Kamu nggak motret.”

Aku menekan tombol rana. Klik. Pengantin laki-laki masih miring dua derajat ke kiri.

“Bridesmaid-nya,” kataku, tanpa menurunkan kamera.

Hening sesaat.

“Kenapa bridesmaid-nya?”

“Pidatonya. Jangan dijadwalkan setelah potong kue.”

Aku menunggu Mikaela bertanya bagaimana aku tahu. Aku sudah menyiapkan jawabannya: aku fotografer, aku memperhatikan orang. Jawaban yang benar, tapi tidak lengkap.

Mikaela tidak bertanya. Ia malah tersenyum.

“Aku tahu,” katanya.

Aku menurunkan kamera dan akhirnya menatapnya. “Kamu tahu?”

“Lulu tahu dari minggu lalu. Bridesmaid-nya kirim pesan tiga kali minta pidatonya dipindah. Orang yang mau pidato setelah potong kue biasanya mau bilang sesuatu yang nggak bisa ditarik lagi.” Ia memiringkan kepala. “Yang menarik bukan aku tahu. Yang menarik itu kamu tahu. Tanpa Lulu. Tanpa pesan WhatsApp.”

Jam tanganku masih menunjukkan seratus dua puluh satu. Benang di antara kami masih berdenyut.

“Aku fotografer,” kataku. “Aku memperhatikan orang.”

“Hm.” Matanya menatapku lama, dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca. Lalu ia tersenyum lagi. “Itu jawaban yang bagus. Hampir benar.”

Ia berjalan pergi, ke arah rumah tua.

Benangnya ikut memanjang di belakangnya.


Aku mengikutinya lima menit kemudian, dengan alasan perlu memotret detail ruang rias pengantin.

Itu alasan yang setengah benar. Separuhnya lagi, aku ingin tahu apa yang akan ia lakukan.

Ruang rias pengantin ada di lantai dua rumah tua itu. Untuk mencapainya, aku harus menaiki tangga kayu yang berderit. Satu lantai. Dua puluh dua anak tangga. Aku menaikinya sangat pelan, berpegangan pada pegangan tangga, menarik napas di setiap anak tangga ketujuh. Jam tanganku bertahan di sembilan puluh empat.

Pintu ruang rias sedikit terbuka. Aku berhenti di lorong, di luar jangkauan pandangan, dan mendengar dua suara perempuan.

“...aku cuma mau bilang sekali, Mbak. Satu kali aja. Habis itu aku pergi. Aku janji.”

Suara Tiara. Pelan, gemetar, seperti seseorang yang sudah menangis cukup lama.

“Aku tahu,” kata Mikaela. Suaranya tenang. Lembut. Bukan suara yang ia pakai untuk mengatur katering atau menegur MC. “Tapi coba pikirkan dulu. Kalau kamu bilang hari ini, di depan seratus delapan puluh orang, di hari pernikahan sahabatmu, apa yang kamu dapat?”

Hening.

“Kamu nggak dapat dia, Tiara. Dia sudah memilih. Lihat cara dia menatap Anindya. Kamu bisa lihat sendiri, kan?”

Isakan kecil.

“Kalau kamu bilang hari ini,” lanjut Mikaela, “kamu nggak dapat dia. Kamu cuma kehilangan sahabatmu. Dan dia akan ingat hari pernikahannya sebagai hari sahabatnya bikin semuanya hancur. Itu bukan cinta. Itu cuma sakit yang dipindahkan ke orang lain.”

Aku bersandar di dinding lorong. Detak jantungku naik sedikit. Seratus dua. Bukan karena Mikaela ada di dekatku. Tapi karena kalimat itu.

Itu cuma sakit yang dipindahkan ke orang lain.

Lima tahun lalu, seseorang memindahkan sakitnya ke aku. Dengan senyum. Dengan “kamu terlalu curigaan”. Dengan rekening yang tiba-tiba kosong.

“Terus aku harus gimana, Mbak?” bisik Tiara. “Aku udah suka dia dari SMA. Dari SMA. Dia kenal Anin juga gara-gara aku yang kenalin.”

“Kamu simpan,” kata Mikaela. “Bukan buang. Simpan. Ada perasaan yang nggak harus diucapkan untuk jadi nyata. Kamu nggak harus bilang ke dia supaya perasaanmu berarti. Perasaanmu sudah berarti. Kamu sudah mencintai seseorang dengan baik selama bertahun-tahun, tanpa menyakiti siapa pun. Itu bukan kekalahan, Tiara. Itu kemampuan yang jarang dimiliki orang.”

Hening lama.

Lalu, dengan suara yang sedikit lebih ringan, Mikaela berkata, “Sekarang sini. Maskaramu luntur. Kamu harus kelihatan cantik waktu pidato.”

“Pidato?”

“Pidatomu. Untuk sahabatmu. Yang isinya tentang betapa beruntungnya Anindya punya sahabat yang sudah kenal dia sejak SD.” Suara tisu ditarik dari kotaknya. “Aku sudah tulis ulang draft-nya dua halaman. Kamu boleh pakai, boleh juga nggak. Tapi pidatonya sebelum potong kue. Bukan sesudah.”

Tiara tertawa. Tawa yang masih basah, tapi tawa.

Aku mundur pelan, menuruni dua puluh dua anak tangga kayu yang berderit, dengan detak jantung yang tidak mau turun di bawah seratus.


Pidato Tiara jadi bagian paling indah dari seluruh acara.

Ia berdiri di depan pelaminan dengan mikrofon di tangan yang masih sedikit gemetar, dan bercerita tentang Anindya kelas tiga SD yang membagi bekal nasi gorengnya karena Tiara lupa membawa bekal. Tentang Anindya SMP yang membela Tiara di depan geng kakak kelas. Tentang Anindya SMA yang menangis di bahunya karena putus dengan pacar pertama.

Ia tidak menyebut Raffi sama sekali, kecuali di kalimat terakhir.

“Raffi,” katanya, menatap pengantin laki-laki dengan senyum yang hanya aku, dan mungkin Mikaela, yang tahu harganya. “Jaga dia. Dia orang paling baik yang kukenal. Kalau kamu bikin dia nangis, aku tahu rumahmu.”

Seluruh tamu tertawa. Anindya menangis. Raffi mengangguk dengan serius, seperti sedang bersumpah di depan hakim.

Aku memotret Tiara dari samping kanan, candid, saat ia menurunkan mikrofon dan menunduk sebentar. Wajahnya setengah tersenyum, setengah sesuatu yang lain.

Foto itu nanti akan masuk album. Dan Anindya tidak akan pernah tahu artinya.

Mikaela berdiri di dekat meja vendor, beberapa meter dariku. Ketika Tiara selesai, ia bertepuk tangan dengan semua orang. Lalu ia menoleh dan menatapku.

Aku tidak tahu kenapa, tapi aku mengangkat kamera dan memotretnya juga.

Klik.

“Bagaimana kamu tahu harus bilang apa?” tanyaku nanti, saat kami berdiri berdampingan di dekat meja prasmanan yang mulai kosong.

Mikaela tidak langsung menjawab. Ia mengambil segelas es buah dari meja dan memutarnya pelan di tangannya.

“Aku perempuan,” katanya akhirnya. “Aku tahu cara perempuan menatap laki-laki yang bukan miliknya.”

Ia menyesap es buahnya.

“Dan aku tahu rasanya menyimpan kalimat yang nggak boleh diucapkan.”

Aku menoleh padanya. Ia tidak menatapku. Ia menatap pelaminan, tempat pengantin sedang berfoto dengan rombongan tante-tante bersanggul.

Aku ingin bertanya kalimat apa. Kepada siapa. Sejak kapan.

Tapi sebelum aku sempat membuka mulut, sebuah suara yang sangat kukenal menggelegar dari arah gerbang samping rumah.

“VAN! EVAN! INI SOTONYA! TANGANNYA IBU PEGEL INI!”


Ibuku, Ratih Mahendra, lima puluh enam tahun, pemilik Warung Soto Bu Ratih di Cihampelas, masuk ke halaman belakang dengan dua panci besar di tangan, satu tas plastik berisi mangkuk sekali pakai di lengan, dan kerudung oranye menyala yang bisa terlihat dari satelit.

Ini tradisi. Sejak aku memotret pernikahan pertamaku tujuh tahun lalu, Ibu selalu mengirim soto untuk kru. Kru fotografer itu kerja paling capek tapi makan paling akhir, katanya. Ibu nggak mau anak Ibu makan nasi kotak dingin.

Biasanya ia menitipkannya ke ojek online. Hari ini ia datang sendiri.

Aku tahu kenapa. Dodo pasti sudah melaporkan sesuatu.

“Bu,” kataku, setengah berlari ke arahnya untuk mengambil panci. “Kenapa datang sendiri?”

“Ojeknya nggak ada yang mau. Sotonya kebanyakan, katanya takut tumpah.” Ibu menyerahkan panci ke tanganku tanpa melihatku. Matanya sudah menyapu seluruh halaman seperti radar. “Mana?”

“Mana apa?”

“Jangan pura-pura bodoh. Dodo bilang ada wedding planner cantik yang bikin jantungmu...”

“Bu.“

“...apa itu namanya, Dod? Jebol? Jebol katanya, Van.”

Aku menoleh ke Dodo, yang sedang membongkar tripod beberapa meter dari situ. Dodo tiba-tiba sangat sibuk memeriksa sekrup tripod.

Dan sebelum aku bisa menyembunyikan apa pun, sebelum aku bisa mengarahkan Ibu ke dapur atau ke parkiran atau ke Jawa Timur, Mikaela muncul di sebelahku.

“Selamat sore, Bu,” katanya, dengan senyum yang membuat matahari sore Ciumbuleuit terasa terlalu redup. “Saya Mikaela. Panggil Mika saja. Ibu pasti ibunya Evan.”

Ibu menatapnya.

Aku melihat semuanya terjadi dalam slow motion. Aku melihat mata Ibu bergerak dari wajah Mikaela, ke rambutnya yang hari ini dikepang longgar di satu sisi bahu, ke gaun linen putihnya yang sederhana tapi jatuh dengan cara yang membuat tukang jahit mana pun ingin mempelajari polanya, kembali ke wajahnya. Ke mata yang selalu terlihat menahan senyum. Ke tahi lalat kecil di bawah mata kiri.

Mulut Ibu terbuka.

“Ya Allah,” katanya. “Geulis pisan.”

“Bu...”

“Diam kamu, Van.” Ibu menyerahkan tas plastik berisi mangkuk ke tanganku yang sudah penuh panci, lalu meraih kedua tangan Mikaela. “Neng. Neng Mika. Neng orang mana?”

“Bandung, Bu. Tapi lama di Singapura.”

“Singapura! Pinter berarti. Neng sudah makan? Ibu bawa soto. Sotonya Ibu yang bikin, dagingnya Ibu pilih sendiri di Pasar Kosambi. Neng suka soto?”

“Suka sekali, Bu.”

“Neng sudah punya pacar?”

“BU.“

Seluruh halaman menoleh. Tante-tante bersanggul di pelaminan menoleh. Pengantin menoleh. Bahkan anak SMP yang mencuri kerupuk menoleh, dengan kerupuk menggantung di mulutnya.

Mikaela tertawa. Tawa lepas yang serak di ujung, yang sama dengan tawa di studioku tempo hari. Ia tidak melepaskan tangan Ibu.

“Belum, Bu,” jawabnya. Lalu ia melirikku. Sekilas saja. Cukup lama untuk membuat jam tanganku bergetar. “Lagi usaha.”

Ibu menoleh padaku dengan mata yang berbinar seperti lampu hias tujuh belasan.

“Van,” katanya pelan, dengan nada orang yang baru saja menyaksikan mukjizat. “Ini yang Ibu doain tiap Subuh.”

“Bu, Ibu baru kenal dia dua menit.”

“Doa Ibu nggak pakai durasi.”

Aku menyerah. Aku membawa panci soto ke meja kru, menata mangkuk, dan membiarkan Ibu dan Mikaela bertukar nomor ponsel, resep sambal, dan (aku mendengarnya dengan jelas dari jarak lima meter) foto-fotoku waktu bayi yang entah kenapa tersimpan di galeri ponsel Ibu.

“Bang,” bisik Dodo, muncul di sebelahku dengan mangkuk soto di tangan. “Saya minta maaf.”

“Kamu nggak minta maaf.”

“Saya minta maaf secara formal, Bang. Secara hati, saya bangga.”


Menjelang magrib, sebelum sesi foto penutup bersama seluruh keluarga, aku berdiri di depan pelaminan untuk mengatur posisi. Tiga baris. Orang tua di tengah. Anak-anak di depan, duduk di rumput. Kakek-nenek di kursi.

Mikaela datang dari samping, berdiri di depanku. Dekat. Sangat dekat.

“Kerahmu,” katanya.

“Kenapa kerahku?”

Ia tidak menjawab. Ia mengangkat kedua tangannya dan membetulkan kerah kemeja linenku yang terlipat ke dalam di satu sisi. Pelan. Hati-hati. Ujung-ujung jarinya menyentuh sisi leherku, sebentar saja, dua kali. Satu di kiri. Satu di kanan.

Di depan seratus delapan puluh orang. Di depan pengantin. Di depan ibuku, yang mengeluarkan suara seperti ceret mendidih dari meja kru.

Mikaela merapikan kerahku, menepuknya pelan dengan telapak tangan, lalu mendongak menatapku. Matanya hangat. Bibirnya, yang hari ini dipoles merah muda yang lebih lembut, melengkung sedikit di satu sudut.

“Nah,” katanya. “Fotografer harus rapi. Kamu juga ada di foto, Evan. Di pantulan mata mereka.”

Aku tidak sanggup bicara.

Jam tanganku berbunyi.

Seratus dua puluh enam.

Benang setebal tali kapal itu berdenyut di antara kami. Begitu dekat sampai rasanya aku bisa menyentuhnya. Begitu hangat sampai dadaku terasa seperti ditempeli botol air panas.

Dan di belakang Mikaela, di halaman yang mulai keemasan, ibuku berdiri dengan kedua tangan di dada dan mata berkaca-kaca. Aku melihat benang keluarga Ibu ke arahku, tenang dan setebal tali sepatu, seperti biasa.

Dan untuk pertama kalinya, aku juga melihat benang tipis lain dari dada Ibu. Benang tua yang tenang, yang tidak menuju siapa pun di halaman itu.

Benang itu naik. Pelan. Lurus. Ke arah langit sore yang mulai berwarna jingga.

Ke Bapak.

Aku memalingkan wajah, mengangkat kamera, dan memotret keluarga itu. Klik. Klik. Klik.

Mikaela berdiri di sampingku sampai sesi foto selesai. Ia tidak bicara lagi. Tapi ia juga tidak pergi.

Dan benangnya tidak mengendur sedikit pun.