← Gadis Tanpa Benang

Chapter Twenty Seven

Potret Terakhir

POV: Mika

Kak Bima membawa bolu pisang percobaan kelima ke rumah sakit dalam kotak kue yang dihias pita merah, dan ia sudah memegangnya di lobi selama dua puluh menit tanpa berani naik.

“Kak,” kataku, berdiri di depannya di dekat mesin minuman. “Ayo.”

“Sebentar, Dek.”

“Kakak udah bilang sebentar tiga kali.”

“Saya lagi latihan napas.” Ia menarik napas panjang. Membuangnya. Kotak kue di tangannya bergetar sedikit. “Saya montir, Dek. Saya bisa bongkar mesin truk sendirian. Saya pernah dikejar anjing herder di Binjai. Saya pernah ditilang polisi tiga kali dalam sehari.”

“Terus?”

“Terus saya belum pernah ketemu bapak orang.” Ia menatapku dengan mata yang besar dan panik. “Apalagi bapak adik saya sendiri. Yang bukan bapak saya. Tapi bapak adik saya. Yang besarin adik saya. Waktu saya nggak ada.”

Aku menatap kakakku. Laki-laki besar berewok dengan kemeja batik cokelat yang baru dibeli tadi pagi di pasar Cimahi, karena katanya kemeja flanel nggak sopan buat ketemu orang tua. Kemeja batik itu kekecilan satu nomor. Kancing di bagian perutnya meregang.

Rambutnya disisir sangat rapi dengan minyak rambut yang terlalu banyak. Berewoknya dicukur sedikit di bagian pipi, tidak rata, seperti dicukur dengan tangan yang gemetar.

Ia terlihat seperti anak SMP yang dipanggil ke ruang kepala sekolah.

Aku meraih tangannya. Tangan besar yang kasar dan berbau sabun cuci piring, karena ia sudah mencuci tangannya empat kali di toilet lobi untuk menghilangkan bau oli.

“Kak,” kataku pelan. “Papa bakal suka sama Kakak.”

“Dari mana kamu tahu?”

“Karena Papa suka sama semua orang yang suka sama aku.”

Kak Bima menatapku lama. Matanya mulai basah. Ia selalu begitu. Aku sudah belajar dalam enam minggu ini bahwa kakakku menangis lebih sering daripada aku. Ia menangis waktu menonton video wisuda SMA-ku di ponsel. Ia menangis waktu aku bilang bolu pisangnya enak. Ia menangis waktu melihatku pertama kali di parkiran kafe di Cimahi, dua bulan lalu, sebelum kami bahkan berkata apa-apa.

“Oke,” katanya, mengusap matanya dengan lengan kemeja batik. “Oke. Ayo.”


Aku sudah memberi tahu Papa semalam.

Bukan semuanya. Hanya bahwa ada seseorang yang ingin bertemu. Seseorang yang penting. Seseorang yang aku temukan bulan lalu, waktu Papa sudah sakit, dan yang aku sembunyikan karena aku takut.

Papa menatapku lama dari tempat tidurnya, dengan selang oksigen di hidung dan tangan yang tidak diinfus terlipat di atas selimut.

“Takut apa, Mika?”

Aku tidak bisa menjawab.

Papa tersenyum. Senyum kecil yang lelah, yang sekarang menjadi satu-satunya senyum yang ia punya.

“Takut Papa ngerasa diganti?”

Aku menangis. Papa mengusap rambutku.

“Bawa dia besok,” katanya. “Papa mau lihat orang yang bikin anak Papa takut kayak gini. Pasti orangnya galak.”


Papa sudah duduk di kursi roda ketika kami masuk. Bi Iyah yang memaksanya pindah dari tempat tidur, karena katanya kalau ketemu tamu harus duduk tegak, nggak boleh tiduran kayak raja. Ia memakai kemeja batik biru yang dibawa Bi Iyah dari rumah, yang sekarang menggantung longgar di bahunya yang kurus. Selang oksigen masih di hidungnya. Kacamata bacanya di ujung hidung.

Ia menatap pintu begitu kami masuk.

Menatap Kak Bima, yang berdiri di ambang pintu dengan kotak kue berpita merah di dada dan kemeja batik yang kekecilan.

Lama.

Kak Bima tidak bergerak. Aku bisa mendengar napasnya. Berat. Cepat.

Lalu Papa tersenyum.

“Oh,” katanya pelan. “Matanya sama.”

Kak Bima membeku.

“Matanya sama kayak Mika,” kata Papa. Matanya mulai berkaca-kaca di balik kacamata. “Sipit di ujung. Kayak lagi nahan senyum. Sama tahi lalatnya. Di bawah mata kiri.”

Ia mengulurkan tangannya yang tidak diinfus. Tangan yang kurus, bertulang, dengan kulit yang kuning pucat.

“Sini, Nak. Papa mau lihat dari dekat.”

Kak Bima berjalan ke arahnya. Pelan. Dengan langkah berat yang tidak yakin. Berhenti di depan kursi roda. Lalu, tanpa diminta, ia berlutut.

Di lantai rumah sakit. Supaya matanya sejajar dengan mata Papa.

Persis seperti Papa berlutut di depan anak perempuan tiga belas tahun di ruang tamu panti, dua belas tahun lalu.

Aku menutup mulutku dengan tangan.

Papa menatap wajah Kak Bima dari dekat. Lama. Tangannya yang kurus naik, pelan, dan menyentuh pipi Kak Bima yang berewok. Ibu jarinya mengusap tahi lalat kecil di bawah mata kirinya, yang setengah tersembunyi di balik rambut wajah yang tebal.

“Kamu kakaknya,” kata Papa. Bukan pertanyaan.

“Iya, Pak,” jawab Kak Bima. Suaranya serak dan bergetar. “Saya Bima. Saya... saya kakaknya Mika. Saya baru nemu dia sebulan lalu. Saya cari dia enam tahun, Pak. Saya minta maaf saya telat. Saya minta maaf saya nggak ada waktu dia kecil. Saya minta maaf Bapak yang harus...”

“Sst,” kata Papa. Ia menepuk pipi Kak Bima pelan. “Jangan minta maaf. Kamu masih kecil juga waktu itu.”

“Tapi, Pak...”

“Kamu cari dia enam tahun?”

“Iya, Pak.”

“Pakai apa?”

“Motor, Pak. Motor butut. Tiap libur.”

Papa menatapnya. Lalu tertawa. Tawa kecil yang berubah jadi batuk. Aku sudah melangkah maju, tapi Papa melambaikan tangannya. Batuknya reda.

“Motor butut,” kata Papa. “Enam tahun. Semua panti di Bandung.”

“Iya, Pak.”

“Saya cuma butuh empat hari,” kata Papa. “Lihat koran, datang, berlutut. Selesai.” Ia tersenyum. “Kamu lebih susah. Kamu lebih hebat.”

Kak Bima menangis. Sungguh-sungguh menangis. Di lantai rumah sakit, dengan lutut di atas lantai yang dingin dan kotak kue berpita merah di pangkuannya. Bahunya yang lebar berguncang. Suaranya keluar dalam isakan-isakan besar yang tidak bisa ia tahan.

Papa mengusap kepalanya. Pelan. Seperti mengusap kepala anak kecil.

Seperti dulu mengusap kepalaku.

“Sudah, sudah,” kata Papa. “Laki-laki boleh nangis. Tapi jangan lama-lama. Nanti bolunya basah.”

Kak Bima tertawa di tengah tangisnya. Ia mengangkat kotak kue itu dengan dua tangan, seperti menyerahkan sesuatu yang suci.

“Ini bolu pisang, Pak. Saya bikin sendiri. Percobaan kelima. Gulanya udah saya kurangin.”

Papa menatap kotak itu. Lalu menatapku.

“Mika,” katanya. “Papa boleh makan bolu pisang?”

“Nggak boleh, Pa. Dokter bilang...”

“Satu gigitan.”

“Pa...”

“Satu gigitan, Mika. Ini bolu dari anak Papa.”

Aku membeku.

Anak Papa.

Kak Bima juga membeku. Ia menatap Papa dengan mata yang basah dan mulut yang terbuka.

Papa tersenyum padanya. Lalu padaku.

“Apa?” katanya. “Kakaknya Mika berarti anak Papa juga. Itu matematika sederhana. Papa pengusaha percetakan. Papa jago hitung.”


Papa makan satu gigitan bolu pisang. Hanya satu. Kecil sekali. Tapi ia mengunyahnya lama, dengan mata terpejam, seperti sedang mencicipi masakan bintang lima.

“Kemanisan,” katanya akhirnya.

Kak Bima menunduk. “Maaf, Pak. Saya kurangin lagi.”

“Jangan.” Papa membuka mata. “Pas. Hidup Papa kurang manis belakangan ini.”

Lalu, tanpa diminta, ia mulai menginterogasi Kak Bima. Seperti ia menginterogasi Evan di makan malam pertama.

“Nak Bima. Kerja apa?”

“Montir, Pak. Bengkel motor di Cimahi.”

“Bengkel sendiri?”

“Sewa, Pak. Tapi saya lagi nabung buat beli.”

“Bagus. Dua poin.” Papa menatapnya. “Sudah menikah?”

“Belum, Pak.”

“Pacar?”

Kak Bima menggaruk tengkuknya. Wajahnya merah. “Ada yang lagi saya deketin, Pak. Tapi dia belum tahu.”

“Belum tahu?”

“Dia jualan lontong sayur di depan bengkel. Saya beli lontongnya tiap pagi. Udah dua tahun.” Kak Bima menunduk lebih dalam. “Saya belum berani ngomong.”

Papa menatapnya lama. Lalu menatapku. Lalu tertawa sampai batuk lagi.

“Ya Allah,” katanya, di antara batuk. “Kakak-adik sama aja. Nggak berani ngomong. Cuma bisa nunggu.”

Aku menatap Kak Bima. Kak Bima menatapku.

“Kamu juga?” tanyanya pelan.

Aku tidak menjawab. Wajahku panas.

Papa menepuk tangan Kak Bima di lengan kursi rodanya. “Dengar, Nak Bima. Papa kasih nasihat gratis. Papa udah enam puluh satu tahun. Papa udah lihat banyak orang nunggu. Termasuk Papa sendiri.”

Ia diam sebentar. Menatap jendela. Ke langit Bandung yang hari itu cerah, biru, dengan awan-awan putih yang bergerak pelan.

“Papa pernah nunggu juga,” katanya. Lebih pelan sekarang. “Dulu. Waktu muda. Ada perempuan. Namanya Ratna. Dia kerja di toko kain di Pasar Baru. Papa beli kain di tokonya tiap minggu. Dua tahun. Papa nggak pernah jahit kain itu. Papa nggak bisa jahit. Kainnya numpuk di kontrakan Papa sampai setinggi lemari.”

Aku tidak pernah mendengar cerita ini.

“Papa nggak pernah bilang,” lanjut Papa. “Papa nunggu waktu yang tepat. Nunggu Papa punya cukup uang. Nunggu Papa punya rumah. Nunggu Papa jadi orang yang pantas.” Ia tersenyum. Senyum yang sedih. “Suatu hari Papa datang ke toko, dan dia udah nggak ada. Pulang kampung. Dijodohin sama orang lain. Papa nggak pernah ketemu dia lagi.” Ia diam sebentar. “Sepuluh tahun lalu, Papa baca kolom berita duka di koran. Ada namanya. Kampungnya. Umurnya. Papa guntingin. Papa simpan di laci meja kerja. Sama kayak kamu nyimpen guntingan koran di dompet.”

Ruangan sunyi. Monitor berbunyi pelan. Bip. Bip. Bip.

“Papa nyesel?” tanyaku. Suaraku pecah.

Papa menatapku.

“Papa nggak nyesel, Mika,” katanya. “Kalau Papa nikah sama Ratna, Papa nggak akan lihat foto kamu di koran. Papa nggak akan datang ke panti. Papa nggak akan jadi papamu.” Ia mengulurkan tangannya padaku. Aku meraihnya. “Tapi Papa nyesel nggak pernah bilang. Dia pergi tanpa tahu. Dan itu yang Papa bawa sampai sekarang. Bukan dia pergi. Tapi dia nggak tahu.”

Ia menatap Kak Bima. Lalu menatapku. Lalu kembali ke Kak Bima.

“Jadi, Nak Bima. Besok pagi, waktu kamu beli lontong, bilang.”

Kak Bima menatapnya dengan mata besar.

“Bilang apa, Pak?”

“Bilang apa aja. Bilang lontongnya enak. Bilang saya suka beli di sini. Bilang saya suka kamu. Apa aja. Yang penting dia tahu.” Papa tersenyum. “Jangan tunggu sampai kamu pantas. Kamu nggak akan pernah ngerasa pantas. Nggak ada yang pernah ngerasa pantas.”

Lalu ia menoleh padaku.

Dan tidak berkata apa-apa.

Tapi aku tahu. Aku tahu persis apa yang ia katakan dengan matanya.

Kamu juga, Mika.


Evan datang pukul empat sore.

Ia masuk dengan kamera Leica di leher dan tas kamera di bahu. Ia memakai kemeja biru, yang selalu ia pakai kalau mengunjungi Papa. Wajahnya pucat. Lebih pucat dari kemarin. Ada keringat tipis di pelipisnya, padahal di luar tidak panas.

Ia berhenti di pintu ketika melihat Kak Bima duduk di kursi di sebelah tempat tidur Papa, dengan kotak bolu pisang yang sudah setengah dimakan di pangkuannya.

“Bang,” katanya.

“Mas Evan,” kata Kak Bima. Ia berdiri. Menjabat tangan Evan dengan erat. Terlalu erat. Evan meringis sedikit. “Bapak udah tahu. Bapak nggak marah. Bapak bilang saya anak Bapak juga.”

Evan menatap Papa. Papa mengangkat bahu dari kursi rodanya.

“Matematika sederhana,” kata Papa.

Evan tersenyum. Tapi senyumnya tidak sampai ke matanya. Ada sesuatu yang lain di sana. Sesuatu yang lelah.

“Nak Evan,” kata Papa. “Kamu bawa kamera?”

“Selalu, Pak.”

“Bagus.” Papa menatapku. Lalu menatap jendela. Lalu menatap Evan lagi. “Papa mau difoto.”

“Difoto, Pak?”

“Sama Mika. Berdua. Di taman di bawah. Selagi masih ada matahari.” Papa tersenyum. “Papa belum pernah difoto sama anak Papa pakai fotografer beneran. Selama ini cuma pakai kamera HP Bi Iyah yang buram. Papa mau yang bagus. Yang bisa dibingkai.”

Ia diam sebentar.

“Yang bisa dipajang,” katanya pelan. “Nanti.”

Aku membeku.

Nanti.

Evan menatap Papa. Lama. Aku melihat rahangnya mengeras. Aku melihat sesuatu bergerak di matanya.

“Oke, Pak,” katanya akhirnya. Suaranya serak. “Saya fotoin.”


Taman Rumah Sakit Borromeus di sore hari dipenuhi cahaya keemasan. Matahari pukul setengah lima turun miring dari arah barat, menembus dedaunan pohon trembesi dan jatuh di rumput dalam bercak-bercak terang. Angin sore bertiup pelan, membawa bau rumput basah dan bunga kamboja dari pohon di dekat pintu masuk.

Kak Bima mendorong kursi roda Papa. Aku berjalan di sebelahnya. Bi Iyah mengikuti di belakang dengan tabung oksigen portabel di troli kecil.

Evan sudah menunggu di bawah pohon trembesi yang paling besar. Pohon yang sama dengan bangku besi yang ia duduki empat jam pada pukul satu pagi.

“Di sini, Pak,” katanya. “Cahayanya paling bagus.”

Papa menatap bangku besi itu. Lalu menatap Evan. Lalu tersenyum.

“Di bangku ini?”

Evan berhenti. “Bapak tahu?”

“Satpamnya cerita. Satpam Dedi. Dia teman catur Papa di lobi tiap sore.” Papa terkekeh. “Katanya ada laki-laki aneh duduk di sini dari jam satu pagi sampai subuh. Meluk boneka beruang. Satpam Dedi sampai kasih teh.”

Evan menutup wajahnya dengan satu tangan.

Kak Bima, di belakang kursi roda, tertawa sampai harus memegang pegangan kursi roda supaya tidak jatuh.

Aku tidak tertawa. Aku menatap Evan, yang wajahnya merah sampai ke telinga, dan merasakan sesuatu di dadaku yang hangat dan sakit sekaligus.

“Ayo, ayo,” kata Papa. “Papa nggak punya banyak waktu. Mataharinya keburu turun.”

Kak Bima memindahkan Papa dari kursi roda ke bangku besi. Pelan. Hati-hati. Seperti memindahkan sesuatu yang bisa pecah. Papa ringan sekali di pelukannya. Lebih ringan dari bolu pisang, mungkin.

Aku duduk di sebelah Papa.

Papa meraih tanganku. Meletakkannya di pangkuannya, di atas kemeja batik biru. Menepuk punggung tanganku dua kali.

Evan mengangkat kameranya. Leica tua milik ayahnya. Dengan cat yang mengelupas di sudut-sudut.

“Bapak mau senyum?” tanyanya.

“Papa mau natural,” kata Papa. “Kayak foto anak di panti itu. Yang bikin Papa datang. Nggak pose. Nggak senyum ke kamera. Cuma... ada.”

Evan menurunkan kamera sedikit. Menatap Papa. Lama.

“Oke, Pak,” katanya pelan.

Lalu ia mengangkat kameranya lagi.

Papa menoleh padaku. Menatapku. Tangannya masih di atas tanganku.

“Mika,” katanya pelan, seolah tidak ada kamera, seolah tidak ada Evan atau Kak Bima atau Bi Iyah. Hanya kami berdua di bangku besi di bawah pohon trembesi.

“Ya, Pa?”

“Sekarang ada yang nunggu kamu,” katanya. “Selain Papa.”

Aku menatapnya. Mataku panas.

“Ada kakakmu. Ada fotografermu. Ada ibunya fotografermu yang suka masak soto kebanyakan. Ada Lulu yang bawa clipboard ke mana-mana. Ada Dodo, yang Papa nggak ngerti dia ngomong apa, tapi Papa suka.” Papa tersenyum. “Banyak, Mika. Sekarang banyak yang nunggu kamu.”

“Pa...”

“Dulu, waktu Papa lihat foto kamu di koran, judulnya Belum Ada yang Menunggu.” Papa menatap mataku. “Papa pengen bilang ke fotografernya, salah. Ada. Saya. Saya yang nunggu.“

Ia diam sebentar. Napasnya berat.

“Sekarang Papa mau bilang ke kamu,” katanya. “Sudah banyak. Sudah banyak yang nunggu. Papa boleh istirahat sedikit.”

Aku tidak bisa menahannya lagi.

Aku memeluk Papa. Di bangku besi. Di bawah pohon trembesi. Di cahaya sore yang keemasan. Aku memeluknya dan menangis di bahunya yang kurus, di kemeja batik biru yang longgar, dan Papa memelukku balik dengan tangan yang lemah dan ringan, dan mengusap rambutku pelan-pelan, seperti dulu, seperti setiap malam di ruang baca.

Aku mendengar suara rana kamera. Pelan. Satu kali.

Klik.

Lalu tidak ada lagi.

Evan menurunkan kameranya. Ia tidak mengambil foto kedua. Ia tidak perlu.

Ketika aku akhirnya mengangkat kepala dari bahu Papa, aku melihat Evan berdiri di bawah pohon trembesi dengan kamera di tangan, menatap kami. Matanya basah. Dadanya naik turun cepat.

Dan ia tidak menatap Papa. Ia tidak menatapku.

Ia menatap sesuatu di antara kami. Di udara di antara dada Papa dan dadaku. Dengan mata yang melebar, basah, dan sangat, sangat sedih.

Aku tahu ia sedang melihat.

Aku tidak bertanya apa yang ia lihat.

Aku tidak mau tahu.


Malamnya, setelah Papa tidur dan Kak Bima pulang ke Cimahi dengan janji akan bilang ke Teh Neneng soal lontong besok pagi, aku menemukan Evan di koridor lantai lima.

Ia duduk di kursi plastik di depan kamar 512. Bersandar ke dinding. Kepalanya menunduk. Kamera Leica di pangkuannya.

Aku duduk di sebelahnya.

Lama kami diam.

“Kamu lihat apa tadi?” tanyaku akhirnya. Pelan.

Ia tidak langsung menjawab.

“Benangmu ke Papa,” katanya. “Benang Papa ke kamu.”

“Gimana?”

Ia menarik napas. Napas yang gemetar.

“Tebal,” katanya. “Setebal tali tambang. Benang keluarga paling tebal yang pernah aku lihat. Tenang. Lurus. Kayak tiang jembatan.” Ia menelan ludah. “Dua-duanya.”

Aku menunggu. Aku tahu ada lagi.

“Tapi benang Papa ke kamu,” lanjutnya, sangat pelan, “mulai miring.”

“Miring?”

“Ke atas.” Suaranya pecah. “Sedikit. Sedikit banget. Ujungnya masih di kamu. Tapi pangkalnya... mulai naik.”

Aku tidak mengerti. Lalu aku mengerti.

Cinta pada yang sudah wafat tetap ada, tapi benangnya naik ke atas.

Ia pernah menceritakannya padaku. Di balkon Braga. Tentang kakeknya. Kayak ada sesuatu yang keluar dari dadanya Kakek. Dan pelan-pelan, sesuatu itu naik. Ke atas. Ke langit.

Benang Papa ke aku. Mulai naik.

Aku menutup mulutku dengan dua tangan.

Evan meraihku. Memelukku. Di koridor rumah sakit, di kursi plastik yang keras, di bawah lampu neon yang putih dan tidak mengampuni.

Aku menangis di dadanya. Dan aku merasakan jantungnya berdetak di bawah pipiku.

Cepat. Terlalu cepat. Lalu pelan. Lalu cepat lagi. Seperti burung yang mengepak, berhenti, lalu mengepak lagi dengan panik.

Aku mengangkat kepala. Menatapnya.

“Evan. Jantungmu...”

“Aku nggak apa-apa,” katanya cepat. Terlalu cepat. “Aku cuma sedih.”

“Itu bukan detak orang sedih.”

“Mika...”

“Kamu udah ke Fikri? Beneran?”

Ia menatapku. Lama. Dan aku melihat sesuatu di matanya. Sesuatu yang ia sembunyikan. Sesuatu yang berat.

“Udah,” katanya. “Kecapekan. Kurang tidur.”

Aku menatapnya.

Aku tahu ia bohong. Aku tidak bisa melihat benang, tapi aku bisa melihat wajahnya, dan wajahnya adalah wajah seseorang yang sedang berbohong untuk melindungi orang lain.

Tapi Papa sedang tidur di balik pintu itu dengan benang yang mulai naik ke langit.

Dan aku tidak punya tenaga untuk satu ketakutan lagi.

Jadi aku memilih percaya.

Aku menyandarkan kepalaku kembali di dadanya. Dan aku mendengarkan jantungnya yang tidak teratur, yang berdetak seperti burung yang terperangkap, sampai aku tertidur di koridor rumah sakit dengan tangannya di rambutku.

Itu kesalahan pertamaku.

Aku tidak tahu waktu itu.