← Gadis Tanpa Benang

Chapter Twenty Eight

Pernikahan Kesembilan: Diagnosis Kedua

POV: Evan

Pernikahan kesembilan digelar di sebuah perkebunan teh di Pangalengan, dua jam ke selatan dari Bandung.

Pengantinnya, Yoga dan Rini, adalah pasangan petani teh generasi ketiga. Mereka tumbuh di dua perkebunan yang bersebelahan, bermusuhan sejak kecil karena sengketa batas kebun antara kakek-kakek mereka, dan baru berdamai lima tahun lalu ketika banjir bandang menghanyutkan pagar pembatas dan mereka berdua terjebak di gudang pengeringan teh yang sama selama dua hari.

“Mereka mau akad di tengah kebun,” kata Lulu di mobil, membacakan rundown. “Di tempat pagar pembatas dulu berdiri. Simbolis.”

“Romantis,” kata Dodo.

“Logistik mimpi buruk,” kata Lulu. “Tidak ada listrik. Tidak ada jalan aspal. Tamu harus jalan kaki sepuluh menit menanjak dari rumah keluarga.”

Ia melirikku dari kursi depan.

“Sepuluh menit menanjak, Mas.”

Aku menatap jendela. Kebun teh yang hijau terhampar di lereng-lereng bukit, berundak-undak seperti tangga raksasa yang dibuat dewa. Kabut tipis masih menggantung di lembah. Udara dingin masuk dari celah kaca mobil.

“Aku nggak apa-apa, Lu.”

Lulu tidak menjawab. Tapi ia mengeluarkan clipboard-nya dan menulis sesuatu.

Mikaela tidak ikut hari ini. Untuk pertama kalinya dalam sembilan pernikahan, ia tidak ada di venue. Papanya memburuk sejak dua hari lalu. Dokter memintanya tetap di rumah sakit. Tim B Kaela Wedding yang menangani pernikahan ini, dipimpin Lulu.

Mikaela meneleponku pukul lima pagi, sebelum aku berangkat.

“Hati-hati di jalan,” katanya. Suaranya serak dan lelah. “Pangalengan jalannya berkelok.”

“Iya.”

“Jangan naik tanjakan cepet-cepet.”

“Iya.”

“Evan.”

“Hm?”

Ia diam lama di ujung telepon. Aku mendengar monitor Papa berbunyi di belakangnya. Bip. Bip. Bip. Lebih lambat dari biasanya.

“Nggak,” katanya akhirnya. “Nggak apa-apa. Hati-hati.”

Aku tahu ia hampir mengatakan sesuatu. Aku tahu kalimat apa.

Aku tidak mendesaknya.


Sepuluh menit menanjak ternyata dua puluh menit untukku.

Jalan setapak dari rumah keluarga ke tengah kebun adalah jalan tanah merah yang licin karena embun pagi, menanjak dengan kemiringan yang membuat tamu-tamu berumur memegangi lengan anak-anak mereka. Di kiri dan kanan, perdu-perdu teh setinggi pinggang berbaris rapi seperti tentara yang sedang upacara.

Aku membawa tas kamera di bahu dan tripod di tangan. Dodo membawa dua tas lain di belakangku.

Di menit kelima, jantungku naik ke seratus sepuluh. Normal. Siapa pun akan naik di tanjakan seperti ini.

Di menit kedelapan, seratus dua puluh dua.

Kebun teh berubah warna. Benang-benang dari tamu-tamu yang berjalan di depanku dan di belakangku. Dari suami ke istri. Dari ibu ke anak. Dari nenek ke kakek yang sudah tidak ada, naik pelan ke langit pagi yang biru.

Aku berhenti. Menarik napas. Empat hitungan.

Jantungku tidak turun.

Seratus dua puluh delapan. Seratus tiga puluh lima.

Burung kecil di rusukku tidak mengepak lagi. Burung itu menabrak. Keras. Berulang-ulang. Seolah ingin menghancurkan sangkarnya.

“Bang?” Suara Dodo dari belakang. “Abang kenapa berhenti?”

Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa menjawab.

Seratus empat puluh dua.

Dadaku sesak. Bukan sesak karena lelah. Sesak seperti ada sesuatu yang berat diletakkan di atasnya. Seperti tangan raksasa yang menekan rusukku dari luar. Ujung-ujung jariku dingin. Kebun teh di sekelilingku, yang tadinya merah karena benang, mulai bergoyang. Berputar pelan. Seperti bianglala.

“Bang! BANG!”

Seratus lima puluh delapan.

Tripod jatuh dari tanganku.

Aku melihat langit. Biru. Dengan benang-benang merah yang melintang di atasnya, dari dada-dada yang tidak kukenal, ke arah yang tidak kutahu.

Lalu aku melihat tanah merah yang licin.

Lalu tidak ada apa-apa.


Aku bangun di ruang gawat darurat Rumah Sakit Hasan Sadikin.

Aku tahu itu Hasan Sadikin karena aku pernah ke sini sekali, dua tahun lalu, setelah pingsan di Sumedang. Langit-langitnya sama. Lampu neon yang sama. Bau antiseptik dan kopi sachet dari ruang perawat yang sama.

Dan Fikri, yang berdiri di samping tempat tidurku dengan jas putih dokter dan wajah yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

Bukan wajah sahabat. Bukan wajah yang bercanda dengan stetoskop di ulang tahun pernikahan. Bukan juga wajah yang patah di meja makan kosong di Antapani.

Wajah dokter. Wajah yang dingin, datar, dan sangat serius.

“Kamu bangun,” katanya.

“Fik...” Suaraku serak. Tenggorokanku kering. “Pangalengan...”

“Kamu pingsan di tengah kebun teh. Detak jantungmu seratus delapan puluh tujuh waktu dibawa ke puskesmas Pangalengan.” Ia menatap papan klip di tangannya. “Dodo gendong kamu dua puluh menit turun bukit. Sendiri. Lulu nyetir ke Bandung dengan kecepatan yang, menurut dia sendiri, tidak sesuai standar keselamatan lalu lintas.”

Aku memejamkan mata.

“Dodo...”

“Di luar. Lagi nangis sama Lulu. Udah tiga jam.” Fikri menurunkan papan klipnya. “Mika belum tahu. Lulu nanya aku harus bilang atau nggak. Aku bilang tunggu sampai aku ngomong sama kamu.”

Aku membuka mata. Menatapnya.

“Jangan bilang Mika.”

Fikri tidak menjawab. Ia menarik kursi plastik dari pojok ruangan, meletakkannya di samping tempat tidurku, dan duduk.

Lama ia diam.

“Van,” katanya akhirnya. “Aku udah lihat hasil EKG-mu. Ekokardiografi. Holter dua puluh empat jam yang aku pasang waktu kamu pingsan. Aku udah lihat semuanya.”

Ia menarik napas.

“Kamu punya jalur listrik tambahan di jantung. Namanya sindrom Wolff-Parkinson-White. Jalur itu bikin jantungmu bisa tiba-tiba lari kencang tanpa alasan. Itu kenapa kamu bisa tembus seratus dua puluh dari hal-hal kecil. Kopi. Tangga. Sambal.” Ia berhenti. “Perempuan.”

Aku menatap langit-langit.

“Kebanyakan orang dengan WPW bisa hidup normal,” lanjut Fikri. “Kalau dijaga. Kalau nggak dipaksa.” Ia menatapku. “Tapi kamu maksa, Van. Kamu maksa jantungmu tembus seratus dua puluh dengan sengaja. Berkali-kali. Bertahun-tahun.”

Aku tidak menjawab.

“Kenapa, Van?” Suaranya pecah sedikit. “Kenapa kamu naik turun tangga tiap pagi?”

Aku menutup mata.

“Buat lihat,” bisikku.

Hening.

“Empat bulan,” kataku. “Tiap pagi. Waktu Sasha. Aku naik turun tangga apartemen tiga kali, tiap pagi, buat ngecek benangnya.” Aku menelan ludah. “Terus lima tahun ini, setiap ada pengantin, setiap ada yang aku curigai. Terus sejak Mika...”

Aku berhenti.

Sejak Mika, aku tidak perlu naik tangga. Jantungku naik sendiri. Setiap kali ia menyentuhku. Setiap kali ia berbisik. Setiap kali ia bertanya sekarang berapa?

Fikri menatapku lama. Matanya basah.

“Jantungmu udah capek, Van,” katanya pelan. “Terlalu sering dipaksa lari. Dinding ototnya mulai melemah. Namanya kardiomiopati akibat takikardia.” Ia mengangkat papan klipnya. “Fraksi ejeksimu empat puluh persen. Normalnya di atas lima puluh lima. Kalau dibiarkan, bakal terus turun. Gagal jantung. Atau...”

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

“Atau apa?” tanyaku.

Fikri menatapku. Tidak berkedip.

“Atau suatu hari jantungmu lari terlalu kencang, dan nggak balik lagi.”


Ia menjelaskan pengobatannya dengan suara dokter yang tenang dan sistematis.

Ablasi kateter. Prosedur untuk membakar jalur listrik tambahan di jantungku dengan kateter yang dimasukkan dari pembuluh darah di pangkal paha. Satu sampai tiga jam. Tingkat keberhasilan sembilan puluh lima persen. Setelah itu, jantungku tidak akan bisa tiba-tiba lari kencang lagi tanpa alasan.

Lalu obat. Beta-blocker. Seumur hidup. Untuk melindungi otot jantungku yang sudah lemah, supaya punya waktu untuk pulih. Supaya tidak dipaksa bekerja terlalu keras lagi.

“Dosisnya bakal tinggi,” kata Fikri. “Detakmu bakal ditahan. Istirahat di enam puluhan. Kalau olahraga, kalau kaget, kalau apa pun, paling tinggi seratus sepuluh. Mungkin seratus lima belas kalau kamu lari maraton.” Ia berhenti. “Kamu nggak akan pernah lewat seratus dua puluh lagi, Van.”

Aku menatapnya.

Aku tidak langsung mengerti.

Lalu aku mengerti.

Kamu nggak akan pernah lewat seratus dua puluh lagi.

Tidak ada benang lagi.

Tidak ada dunia yang berubah warna. Tidak ada benang setebal tali kapal dari dada Mikaela ke dadaku. Tidak ada benang yang menyala di puncak bianglala. Tidak ada cara untuk tahu, setiap pagi, setiap malam, setiap kali aku takut, apakah benangnya masih ada. Masih tebal. Masih ke arahku.

Aku akan buta.

Bukan buta mata. Buta yang lain. Buta yang dialami semua orang di dunia ini, kecuali aku, selama dua belas tahun.

Aku akan jadi seperti semua orang. Yang tidak tahu. Yang hanya bisa percaya.

“Kapan?” tanyaku. Suaraku keluar datar. Kosong.

“Secepatnya,” kata Fikri. “Minggu ini. Aku udah ngomong sama dr. Haris, ahli elektrofisiologi di sini. Dia bisa jadwalin hari Kamis.”

“Kamis.”

“Empat hari lagi.”

Aku menatap langit-langit. Lampu neon. Bercak air di plafon yang bentuknya seperti peta pulau yang tidak dikenal.

Empat hari.

Empat hari lagi aku bisa melihat.

Lalu tidak pernah lagi.

“Van,” kata Fikri. “Kamu dengar aku?”

“Aku nggak bisa, Fik.”

“Apa?”

“Aku nggak bisa hari Kamis.” Aku menoleh padanya. “Papanya Mika...”

Fikri menatapku.

“Papanya sekarat, Fik. Dokter bilang mungkin seminggu. Mungkin kurang.” Suaraku pecah. “Mika lagi di sana. Tiap hari. Tiap malam. Dia tidur di sofa yang terlalu pendek. Dia makan cuma bubur dari Lulu. Dia...”

“Van.”

“Aku nggak bisa bilang ke dia sekarang. Aku nggak bisa. Dia nggak bisa nanggung dua orang sekaligus.”

“Van.“

“Aku nggak bisa bilang ke dia, Mika, papamu sekarat, dan pacarmu juga harus operasi jantung minggu ini. Aku nggak bisa jadi beban tambahan, Fik. Nggak sekarang.”

Fikri menatapku lama. Wajahnya berubah. Dari dokter ke sahabat. Dari sahabat ke sesuatu yang marah.

“Kamu baru aja ngajarin aku,” katanya pelan. Sangat pelan. “Empat hari lalu. Di rumahku. Kamu duduk di kursi tempat Nadia minta cerai, dan kamu bilang semuanya. Soal benang. Soal Arman. Kamu bilang kamu nggak mau nyimpen rahasia lagi.”

Aku tidak menjawab.

“Kamu bilang ke aku kamu udah capek lihat sesuatu dan nggak bilang apa-apa.” Suaranya naik sedikit. “Dan sekarang kamu mau nyimpen rahasia yang ini? Dari Mika? Rahasia yang bisa bunuh kamu?”

“Ini beda, Fik.”

“Gimana bedanya?“

“Karena aku nggak mau dia milih!” Suaraku keluar lebih keras dari yang kumaksud. Perawat di luar tirai menoleh. Aku menurunkan suaraku. “Aku nggak mau dia harus milih antara nungguin papanya atau nungguin aku di ruang operasi. Aku nggak mau dia duduk di dua kursi yang terlalu pendek di dua rumah sakit yang berbeda.”

Fikri menatapku.

“Satu minggu,” kataku. “Kasih aku satu minggu. Sampai... sampai papanya...”

Aku tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.

Fikri diam lama. Sangat lama. Tangannya mengepal di atas papan klip. Rahangnya mengeras.

“Kamu bodoh, Van,” katanya akhirnya.

“Aku tahu.”

“Kamu bodoh dan baik dan bodoh. Kebaikanmu itu yang bakal bunuh kamu.”

“Aku tahu, Fik.”

Fikri berdiri. Mengembalikan kursi plastik ke pojok ruangan. Berdiri di samping tempat tidurku, menatapku dari atas, dengan jas dokter putih dan mata yang merah.

“Satu minggu,” katanya. “Nggak lebih. Kamu minum obat yang aku kasih. Dosis tinggi. Mulai hari ini. Kamu nggak naik tangga. Kamu nggak minum kopi. Kamu nggak lari. Kamu nggak...”

Ia berhenti. Menatapku.

“Kamu nggak sengaja naikin jantungmu. Buat lihat benang. Buat apa pun. Ngerti?”

Aku tidak menjawab.

“Ngerti, Van?“

“Ngerti.”

“Dan aku nyalain lagi sinkronisasi jam tanganmu. Sekarang. Di depanmu.” Ia mengambil jam tanganku dari meja kecil di samping tempat tidur, mengutak-atik layarnya dengan ponselnya sendiri, lalu memasangnya kembali di pergelangan tanganku. Erat. “Kalau aku lihat seratus empat puluh lagi, aku sendiri yang bilang ke Mika. Nggak peduli papanya lagi apa.”

Ia berjalan ke tirai. Berhenti. Tidak menoleh.

“Satu lagi, Van.”

“Hm?”

“Kalau kamu mati,” katanya pelan, “Mika kehilangan dua orang dalam satu bulan. Pikirin itu. Tiap kali kamu mau bilang aku nggak mau jadi beban.”

Ia menyibak tirai dan pergi.


Dodo masuk lima menit kemudian.

Matanya merah dan bengkak sampai hampir menutup. Kaos LULU ITU NYATA-nya penuh tanah merah dari kebun teh Pangalengan. Ada goresan di lengannya. Ada bekas lumpur di pipinya.

Ia berdiri di samping tempat tidurku dan tidak berkata apa-apa.

Lalu ia menangis.

Bukan isakan dramatis yang biasa. Tangisan yang lain. Tangisan anak kecil yang baru saja ketakutan setengah mati dan sekarang tidak tahu harus berbuat apa dengan semua ketakutan itu.

“Bang,” katanya di antara isak. “Bang, saya gendong Abang dua puluh menit. Abang berat. Abang nggak gerak. Abang nggak gerak sama sekali, Bang.”

“Dod...”

“Saya pikir Abang mati.” Ia mengusap wajahnya dengan lengan yang penuh tanah. “Saya pikir Abang mati di kebun teh. Di depan pengantin. Di hari pernikahan orang.”

“Maaf, Dod.”

“Jangan minta maaf!” Ia hampir berteriak. “Jangan minta maaf, Bang! Abang harus bilang ke Mbak Mika! Abang harus...”

“Dod. Papanya sekarat.”

Dodo berhenti.

Ia menatapku. Mulutnya terbuka. Air matanya masih mengalir.

“Dia nggak bisa nanggung ini sekarang,” kataku pelan. “Satu minggu. Aku cuma minta satu minggu.”

Dodo menatapku lama.

Lalu Lulu masuk. Diam. Dengan clipboard di dada dan kacamata yang berembun. Ia berdiri di sebelah Dodo. Menatapku.

“Mas,” katanya. Suaranya datar. Tapi tangannya, yang memegang clipboard, gemetar. “Saya sudah dengar dari dr. Fikri. Di koridor.”

Aku menatapnya.

“Saya tidak akan bilang ke Bu Mika,” kata Lulu. “Karena Mas yang minta. Dan karena dr. Fikri bilang satu minggu.”

“Terima kasih, Lu.”

“Jangan berterima kasih.” Lulu menatapku dari balik kacamata yang berembun. “Saya tidak setuju. Saya sudah tulis di clipboard. Tidak setuju. Digarisbawahi tiga kali.”

Ia membalik clipboard-nya ke arahku. Benar. TIDAK SETUJU, dengan tiga garis tebal di bawahnya.

Lalu, di bawahnya, dengan tulisan yang lebih kecil dan sedikit gemetar:

Tapi saya mengerti.


Aku pulang ke studio malam itu dengan sekantong obat dan jam tangan yang sudah tersinkronisasi lagi.

Pukul sebelas, Mikaela meneleponku.

“Gimana Pangalengan?” tanyanya. Suaranya lelah.

Aku menatap kantong obat di meja editing. Beta-blocker. Tablet putih kecil yang akan membuat dunia berhenti berubah warna.

“Bagus,” kataku. “Pengantinnya akad di tengah kebun. Di tempat pagar pembatas dulu.”

“Romantis.”

“Logistik mimpi buruk. Kata Lulu.”

Ia tertawa kecil. Tawa yang lelah, tapi tawa.

“Papa gimana?” tanyaku.

Ia diam lama.

“Dokter bilang... dokter bilang mungkin beberapa hari lagi.” Suaranya pecah. “Papa udah nggak banyak bangun. Kalau bangun, dia ngomong sama orang yang nggak ada. Sama Ratna. Sama nenek di Sukabumi. Sama... sama aku waktu umur tiga belas.”

“Mika...”

“Besok kamu ke sini?”

“Aku ke sana.”

“Papa nanya kamu terus. Dia bilang mau ngomong sesuatu. Sama kamu. Berdua.”

Aku menatap kantong obat.

“Besok,” kataku. “Aku datang besok.”

“Evan.”

“Hm?”

Ia diam. Lama sekali. Aku mendengar napasnya di ujung telepon. Aku mendengar monitor Papa di belakangnya. Bip. Bip. Bip. Lebih lambat. Jauh lebih lambat dari minggu lalu.

“Kamu baik-baik aja?” tanyanya akhirnya. Pelan.

Aku menatap jam tanganku. Delapan puluh dua. Obat pertama sudah bekerja.

“Aku baik-baik aja,” kataku.

Ia diam lagi.

“Oke,” katanya. “Selamat tidur.”

“Selamat tidur, Mika.”

Ia menutup telepon.

Aku duduk di kursi editing yang punggungnya sudah menyerah, menatap layar komputer yang gelap, dan menyadari bahwa itu pertama kalinya aku berbohong padanya dengan sengaja.

Aku baik-baik aja.

Kamu terlalu curigaan, Van. Aku nggak ke mana-mana.

Aku menatap pantulan diriku di layar komputer yang gelap.

Laki-laki yang membenci kebohongan lebih dari apa pun di dunia.

Baru saja berbohong pada satu-satunya orang yang tidak pernah berbohong padanya.

Demi melindunginya.

Persis seperti yang dilakukan Sasha. Bedanya, Sasha berbohong untuk pergi. Aku berbohong supaya bisa tetap tinggal.

Aku tidak tahu apakah itu membuatnya lebih baik.

Aku tidak tahu apakah itu membuatnya lebih buruk.

Malam itu aku tidak tidur. Aku duduk di depan dinding foto dalam gelap, dengan detak jantung tujuh puluh empat yang ditahan obat, dan untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun, aku mencoba menaikkan detak jantungku dan tidak bisa.

Aku naik turun tangga studio tiga kali. Seratus tiga. Seratus tujuh. Seratus dua belas.

Tidak ada benang.

Hanya tangga, gelap, dan napasku yang tersengal.

Obatnya bekerja.

Dan aku duduk di anak tangga paling atas, di depan pintu darkroom, dan menangis seperti anak kecil yang mainannya diambil.

Bukan karena takut mati.

Karena aku tahu, sejak malam itu, bahwa setiap kali aku melihat benang setebal tali kapal dari dada Mikaela ke dadaku, mungkin itu yang terakhir.